Pages of My Letters

Chapter 3

"Uh," Sehun menghentikan apa yang sedang dilakukannya, ia pun menaruh pena yang digenggamnya lalu berdecak kesal untuk kesekian kali di hari itu, "Kau sama sekali tidak membantuku mengerjakan tugas."

"… Yep."

"Dan kau tidak menjawabku."

Kai yang kini sedang sibuk dengan sebuah pensil dan buku catatan kecil itu pun ikut menghentikan aksinya, menengadahkan kepala, menatap Sehun di wajah manisnya. "Aku tadi menjawabmu, Sun Tzu adalah seorang filosofis dari—"

"Bukan, maksudku …," Sehun menarik napasnya dalam-dalam, ia diam sejenak untuk merangkai kalimat yang akan diucapkannya, "Kai, atau Kim Kai, atau mantan kekasihku—oh! semua ini sungguh membingungkan!"

Sehun menyingkirkan tumpukan kertas berisi hafalan untuk ujian semester ini yang ada di sekelilingnya, ia kemudian mengacak rambutnya tak keruan, memperlihatkan bagaimana tertekannya ia saat ini.

"Aku Kai,"

"Ya, kau sudah menjelaskannya berulang kali."

"Uhm," Kai membenarkan posisi duduknya, sehingga isi dari buku catatan yang kini terletak di atas pahanya itu pun dapat terlihat; sebuah sketsa wajah Sehun, namun raut wajah Sehun di gambar itu memberikan aura yang berbeda, seperti bukan Oh Sehun. "Anggaplah aku ini Kai, manusia tampan yang hidup di dunia ini."

"Ew."

Kai hanya tersenyum menanggapi ketidaksetujuan dari Sehun, dan ia tetap melanjutkan, "Dan Kim Kai adalah …, entahlah, seorang Penguasa?"

"Seorang Penguasa?"

"Aku makhluk-Nya, dan Kim Kai adalah Penguasaku."

"Oh."

"Okay …," kata Kai, ia menutup buku catatannya, "apa kau sudah selesai dengan tugasmu?"

"Kau ini pemuja setan?"

Pertanyaan konyol itu pun membuat Kai tertawa terbahak-bahak secara spontan, ia tertawa sangat keras hingga orang-orang di sekitar taman kampus itu menolehkan kepalanya ke arah mereka. Sinar matahari di pagi itu membuat wajah tampan Kai semakin terlihat serupa dengan wajah Jongin yang dirindukan Sehun.

Padahal hanya selang tiga minggu dari kejadian di koridor kampusnya di mana Sehun melihat kawanan mahasiswa mengenakan pakaian seperti Jongin kemudian menemui Kai di perpustakaan, Sehun merasa seperti ia begitu dekat dengan Kai. Entah apa ini karena mereka akan selalu bertemu di pagi hari—untuk melakukan belajar bersama—telah menjadi sebuah rutinitas, ataukah ini karena Kai yang menyebabkan Sehun dapat merasa seperti ditemani oleh Jongin lagi.

Namun yang jelas, untuk saat ini, Sehun pandangi senyum merekah Kai yang menyejukkan hatinya itu. Sehun senang mendengar Kai tertawa, terkadang ia juga memancing Kai untuk tertawa dengan membuat lelucon yang sebenarnya sama sekali tidak lucu sehingga Kai akan tertawa pada Sehun karena telah membuat lelucon yang benar-benar payah.

"Oh, God." Kai akhirnya berucap di sela-sela tawanya, napasnya terengah. "Kali ini leluconmu benar-benar lucu. You got me good."

"Ugh, ini bukan lelucon!"

Kai masih tertawa hingga menyadari bahwa raut wajah Sehun berubah jadi sangat serius. Ia pun menarik napasnya dalam-dalam, merasa kelelahan telah tertawa terlalu banyak dan lama. "Maafkan aku, Sehunie."

"Maafmu tidak akan diterima kalau kau tidak menjelaskan yang sebenarnya!" Sehun berbicara dengan nada yang tinggi karena masih merasa kesal, pipinya terlihat … memerah?

"Fine," Kai melirik ke samping kanannya sekilas, ia pun kemudian berkata dengan hati-hati, "Kim Jongin adalah kekasihmu yang sudah tidak ada,"

Sehun masih diam.

"Aku adalah aku, Kai."

Sehun mengernyitkan keningnya, kedua alisnya hampir bertaut.

"Dan Kim Kai, adalah seseorang di balik semua hal aneh yang terjadi padamu." Kai memberi jeda untuk berucap, "Intinya, kami adalah orang yang berbeda." dengan diakhiri sebuah senyum kecil, senyum kecil yang lagi-lagi membuat pipi Sehun merona.

"Lalu, apa hubungannya dengan kau muncul di hadapanku, dan Kim Kai yang menunjukkan banyak hal aneh padaku, juga ada apa dengan Jongin?!"

"Aku lebih baik tidak menjelaskannya padamu."

"Oh, for God's sake!" Sehun bangkit dari duduknya, ia merapikan catatan-catatan yang berceceran di sekitarnya, memasukkannya ke dalam tasnya. Sehun siap pergi dari tempat, namun niatnya itu sempat terhentikan oleh Kai yang berkata padanya,

"Sehun," dipanggil seperti itu, Sehun pun menoleh pada Kai dan menatapnya di manik mata. Sehun sepertinya sudah benar-benar terbiasa dengan kejadian aneh nan menyeramkan yang terjadi padanya akhir-akhir ini, sehingga ia pun tidak mempertanyakan Kai mengapa manik mata yang seingatnya berwarna coklat mahogani itu kini berubah menjadi abu kelam. "Menurutmu … apa itu Tuhan?"

.

Sehun bukanlah tipikal mahasiswa rajin yang akan mempelajari kembali apa yang telah dipelajarinya demi menghadapi ujian semester. Namun Sehun juga bukanlah seorang aktivis yang lebih senang dengan bergaul bersama teman-temannya dalam organisasi.

Sehun adalah tipe seseorang yang … tidak pintar, namun tidak juga bodoh. Prestasinya tidak menjulang, namun Sehun cukup terkenal di kalangan universitasnya. Ia termasuk golongan mahasiswa yang populer karena keindahan parasnya.

Sering kali Sehun menguping orang-orang membicarakannya, mereka memberikan Sehun dengan sebutan-sebutan menggelikan seperti, "Maksudmu Oh Sehun yang manis itu?" atau, "I know right, Oh Sehun benar-benar seksi!"

Ugh, Sehun seharusnya tidak memikirkan hal-hal tidak penting seperti itu. Di hari Minggu ini, hari yang biasanya Sehun gunakan untuk bermalas-malasan, Sehun gunakan hari ini dengan merapikan isi kamarnya yang sudah sangat tidak keruan. Mulai dari mengganti seprai, membersihkan debu yang bersarang di meja belajarnya, dan foto-foto indah dirinya bersama Jongin yang sebagian masih tertempel di dinding.

Sehun bersihkan kaca jendela kamarnya yang sepertinya sudah cukup lama tidak disentuh. Awalnya fokus pandangannya masih tertuju pada kaca jendela tersebut, namun kemudian perhatiannya teralihkan pada pemandangan di balik jendelanya; "Sehun-ah!" seruan riang itu pun membuat Sehun sedikit tersentak karena merasa terkejut, ia menoleh ke arah sumber suara. Pemandangan Kai yang sedang melambaikan tangan dengan riang menyambut pengelihatan Sehun. Kai membawa beberapa kantung plastic berisi makanan. Untuk pertama kalinya, Sehun tersenyum karena kehadiran Kai. Sehun membalas lambaian tangan itu, ia segera turun ke lantai dasar untuk menghampiri Kai.

"Kau membawa makanan? Great!" belum sempat Kai merespon pada kalimat sambutan dari Sehun, kantung plastik yang dibawanya itu segera Sehun rebut dari genggamannya. Kai terkekeh melihat tingkah lucu itu.

"Kakakmu ada di rumah?"

"Tidak."

"Hm …, bagus."

Sehun yang sedang melihat-lihat isi dari kantung plastik di genggamannya segera membeku, ia menatap Kai, menjatuhkan kantung plastik tersebut, dan memeluk tubuhnya sendiri—seolah sedang melindungi diri dari Kai.

Sehun pun memekik dan berseru, "Apa yang akan kaulakukan?!" kedua tangannya masih berusaha menutupi dadanya.

Kai mengernyitkan keningnya, raut wajah kebingungannya perlahan berubah menjadi ekspresi aneh yang tidak dapat dibaca oleh Sehun. Jantung Sehun berdebar kencang ketika Kai berjalan mendekatinya, perlahan-lahan, memerangkapnya ke sebuah dinding. Sebenarnya dari bahasa tubuh yang Kai perlihatkan sehari-hari pada Sehun, sungguh terlihat jelas bahwa Kai memang memiliki ketertarikan pada Sehun. Namun karena pikiran Sehun masih dibayangi oleh kisah kasih dirinya dengan Jongin di masa lalu, Sehun jadi merasa tidak begitu ingin mengurusi asmaranya.

Bukannya Sehun tidak ingin lagi memiliki kekasih, ia hanya saja … sedang tidak tertarik. Atau berusaha untuk tidak tertarik. Sehun yang keras kepala memang sering kali berusaha menghindarkan dirinya dari pesona Kai.

"Sehun-ah," Kai kini berdiri di hadapan Sehun sangat dekat, mereka dapat merasakan deru napas masing-masing, "aku menunggu saat-saat ini."

Ugh, Kai…? "A-apa yang kaulakukan—"

"Aku,"

"Kai!"

"Kalau kita sedang sendiri begini,"

"Kai, stop!"

Ketegangan di antara mereka pun buyar begitu saja oleh tawa geli Kai yang menggema di sana. Kai masih tertawa hingga perutnya terasa sakit, ia menangis ketika melihat raut wajah Sehun yang konyol. Tawanya pun berubah jadi tawa yang tak bersuara, Kai menarik napas dalam-dalam untuk menghentikan tawanya.

"Oh, God. Kau benar-benar mengharapkannya?" tanya Kai yang diselingi tawa kecil, ia kemudian membawa plastic berisi makanan yang sempat dijatuhkan oleh Sehun. "Jadi kau ternyata menyukaiku."

"Eh? Tidak!" Sehun menolaknya tegas, ia ikuti Kai yang dengan santainya masuk ke dalam rumah Sehun seolah semuanya sudah biasa. Padahal ini baru kali ketiga Kai mengunjungi rumah Sehun, dan kunjungan yang sebelumnya dilakukan atas dasar belajar kelompok. "Kau jangan berharap yang aneh-aneh dariku, aku tidak akan pernah menyukaimu!"

"Yeah, right." Kai segera duduk di ruang televisi, ia meletakkan kantung plastiknya di atas coffee table. Sehun kemudian ikut duduk di samping Kai, tidak terlalu berdekatan karena ia tidak ingin mengambil risiko kalau-kalau Kai berubah jadi seorang pervert yang nyata. "Apa yang akan kita tonton hari ini?"

"Aku tidak pernah mengajakmu menonton di rumahku."

"Well, anggap saja kau mengajakku dan aku menyutujuinya," tutur Kai, ia kemudian mengambil remote televisinya, "jadi, apa yang akan kita tonton?"

Tidak menjawab pertanyaan tersebut, Sehun malah berdecak kesal. Ia beranjak dari duduk, kemudian berjalan ke arah dapur. Tepatnya ke lemari es, ia mengambil sekaleng cola. Sehun merunduk dalam untuk meraih kotak berisi jelly favoritnya.

Dapur di dalam rumah Sehun menembus ke ruang televisi, sehingga apa yang dilakukannya masih dapat dilihat oleh Kai. Dan pandangan Kai berusaha untuk tidak terpaku pada lekuk tubuh Sehun yang menggoda itu. Kai berdehem, ia kemudian kembali menatap televisi untuk mengalihkan pikirannya yang mulai melayang ke mana-mana.

"Apa kau suka science-fiction?" tanya Kai dengan nada tinggi agar dapat didengar, ia kembali menghadap Sehun.

"Uh?" Sehun merunduk lebih dalam, kulit tubuh indahnya dapat sedikit terlihat, "Ya, apa pun. Lagi pula kau yang ingin menonton film."

"O-okay." Kai menampar wajahnya sendiri, ia mengumpat dalam hati setelah melihat pemandangan indah yang seharusnya tidak dilihatnya.

"Aku membuat jelly, hehe." Sesungguhnya Sehun tanpa sadar sudah dibuat nyaman oleh Kai, maksudnya Kai dapat meruntuhkan sisi kaku dari Sehun. Entah karena pertemuan sering yang dilakukan untuk belajar kelompok, atau hanya sekadar berpapasan kemudian berbincang panjang. Apa pun akan mereka bicarakan, entah itu mengenai video games terbaru yang bagus, atau mengenai kafe baru di ujung jalan, atau apa pun. Apa pun yang dapat mengalihkan Sehun dari bayangan akan Jongin.

"Terakhir kali aku mencicipi agar-agarmu itu rasanya asin."

"Ugh, maaf aku masih belum bisa membedakan garam dan gula."

"Maka dari itu aku bawa makanan."

"Jerk."

Pada akhirnya Kai memilih sebuah film action yang isinya tipikal film action zaman sekarang; kejar-kejaran, sedikit pertengkaran, gunshots, mobil-mobil mewah yang hancur, dan hal sejenisnya. Namun belum sampai pada akhir dari film, Sehun merasa mengantuk, ia bersandar pada sofa yang didudukinya terlalu nyaman. Sehun sudah menguap berkali-kali sepanjang film, rasa kantuknya terus menggoda untuk segera memejam mata, tetapi kantuk tersebut hilang seketika saat adegan dalam film memperlihatkan sebuah mobil yang hancur menabrak kendaraan lainnya yang juga melaju kencang. Orang-orang yang panik di sekitar mobil tersebut terlihat begitu nyata hingga Sehun hanyut ke dalam adegan filmnya.

Sehun sepertinya tidak bernapas ketika layar kaca televisinya jelas-jelas memperlihat wajah Jongin sebagai pengemudi yang baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas di dalam film tersebut. Sehun masih diam meski sekujur tubuhnya terasa lemas. Keringat dingin mulai bercucuran. Ia pun jadi menyadari bahwa mobil yang dikendarai di dalam film tersebut adalah mobil milik Jongin yang membawanya ke dalam kecelakaan maut.

Sehun menoleh ke sampingnya, dan melihat kalau Kai tetap menikmati film yang ada. Raut wajahnya sama seriusnya dengan Sehun, namun Sehun tidak menemukan kejanggalan di raut wajah tersebut. Jadi Sehun pun tetap diam, ia kembali menyaksikan filmnya.

"Kai,"

"Hmm?"

"Aku tidak suka film ini."

"Yeah, agak membosankan memang. Jagoan dalam film ini mati begitu saja, sayang sekali."

Terasa air mata yang mulai menggenang siap akan jatuh ke pipi, Sehun mengepal tangannya erat-erat. So, it's Kim Kai again, huh? Apa yang kauinginkan dariku?!

Sehun tiba-tiba saja berdiri dari tempat, ia segera berlari meninggalkan Kai yang jadi kebingungan. Namun kebingungan itu segera terjawab oleh pemandangan Sehun yang masuk ke toilet terburu-buru. Kai pun berseru, "Kau seharusnya tidak boleh menahannya meski sedang menonton film!"

Sehun memang mulai terbiasa dengan hal-hal aneh yang ada di sekitarnya, mulai dari surat-surat berisi kalimat aneh yang diterimanya, kemudian kejadian supranatural lainnya. Namun tidak yang seperti ini, yang kembali melibatkan Jongin.

Sehun tatap bayangan dirinya di sebuah cermin di sana. Ia terlihat tidak sekacau dahulu semenjak Kai datang pada hidupnya, ia terlihat membaik. Tetapi tetap saja Sehun tidak dapat hidup dalam ketenangan. Sehun ingin terlepas dari bayang-bayang Jongin, dan mungkin dapat berpindah hati menggantikan Jongin. Kai misalnya.

Air mata yang sudah berbulir-bulir mengkhiasi pipinya segera Sehun hapus. Ia menarik napas dalam-dalam, meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan berakhir dengan sendirinya dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

"Oh Sehun, kau harus bisa melupakan Jongin!" Kata Sehun sangat pelan agar hanya dirinya yang dapat mendengarnya. Ia tatap kembali bayangan dirinya di cermin; bayangan dirinya yang kemudian berkedip padanya.

Jantung Sehun berdebar kencang, ia kembali merasa panik. Seingat Sehun seluruh manusia di muka bumi ini tidak dapat melihat bayangannya di cermin berkedip. Jadi Sehun pun coba berkedip lagi, namun kali ini ia tidak dapat melihat bayangannya di cermin berkedip. Tetapi setelah beberapa detik kemudian, bayangannya berkedip padanya.

Tangan Sehun digerak-gerakan, bayangannya mengikutinya, tidak ada yang aneh.

Sehun memejam matanya erat-erat, ia harus benar-benar melupakan Jongin agar tidak dihantui oleh hal-hal aneh di sekitarnya. Sambil masih memejam matanya erat, Sehun pun berbisik pada dirinay sendiri sebagai penyemangat, "Aku harus bisa melupakannya, jangan pikirkan hal yang aneh-aneh, aku pasti bisa, aku pasti bisa, Oh Shixun, kau harus bi—"

Sehun menutup mulutnya rapat-rapat seketika setelah sadar apa yang baru saja diucapkannya. Oh Shixun.

Sehun perlahan menengadahkan kepalanya, menatap cermin di hadapannya sejajar. Dan betapa terkejutnya ketika Sehun di hadapkan pada pemandangan dirinya dalam jubah indah yang terlihat mewah. Rambutnya ditata begitu rapi, warnanya pirang. Sehun terlihat begitu elegan. Raut wajah Sehun dalam bayangan di cermin itu begitu arogan namun pada saat yang sama memperlihatkan kesedihan. Ia terlihat sungguh indah, namun tentunya tetap membuatnya merasa ketakutan.

Masih tidak bergerak karena terkejut, tubuhnya bergetar hebat, Sehun benar-benar ingin berteriak, tetapi tidak bisa. Bibirnya malah bergerak, mengucap, "Siapa kau?"

"Siapa kau?" kata bayangan Sehun di cermin bersamaan.

"Aku Oh Sehun." Jawab Sehun yang kembali diikuti oleh bayangannya di cermin.

"Aku sudah tahu." Kata bayangan Sehun di cermin tiba-tiba, dan ini bukan karena mengikuti Sehun yang nyata. "Kau adalah hadiah dari kekasihku, jadi aku sudah tahu semuanya mengenai dirimu."

"Stop it!"

"Apa yang kaulihat, apa yang terjadi di sekitarmu, seumur hidupmu telah Kim Kai persembahkan padaku."

"Aku bukan mainan!"

"Oh, tentu saja bukan."

"Sehun-ah?" percakapan di antara mereka berdua terhentikan seketika oleh suara Kai dari luar toilet. Pintu itu diketuk berulang kali. "Kau tidak apa-apa?"

"Oh Sehun," Kata bayangan Sehun di cermin, ia menaikkan sudut bibirnya, tersenyum mencemooh kemudian melanjutkan,

"Are you living in the real world?"

.

to be continued


super duper unedited dan cuma 2.2k kata... maafin... [kemudian dibash]