'Siapa bilang gue mau mengeluarkan bankai? Gue masih ngambek tauk!' kata Senbonzakura tiba-tiba dari inner world Byakuya, menyadarkannya kembali bahwa sang zanpakutou sedang tidak mau diajak kompromi dan bekerja sama.

Ishida bersiap untuk melepaskan anak panahnya, dengan 1200 tembakan dalam satu detik.

"Bankai. Tensha Zangetsu," kata Ichigo merelease bentuk bankai zanpakutounya.

'Mati gue!' kata Byakuya dalam hati.

.

.

Disclaimer

Bleach and It's Characters is Tite Kubo's

but this story is mine

Genre : Family/Humor

Rated : T (aman-aman dan dijamin halal).

Warning : masih dengan kata-kata emas saya "OOC Tingkat Tinggi!!! Tapi tidak sampai tingkat super seperti kemaren. Humor tapi juga ada konflik. Kalimat cetak miring dengan tanda petik satu buah berarti berkata dalam hati. Selamat membaca !!

.

.

.

Adikku Sayang, Kakakku Malang

( by shiNomori naOmi )

Chapter 3 : Hadapilah Aku !!!

"Ni-sama jahat sekali. Kenapa dia meninggalkanku sendirian di dunia yang kejam ini? Hiks… hiks… selamat tinggal, ni-sama," kata Rukia memandang ke arah keramaian kota Karakura di bawahnya. Rambut hitam sebahunya berkibar indah tertiup angin sepoi-sepoi yang berhembus di senja hari kota Karakura.

"Hisana nee, aku merindukanmu," lanjutnya sambil menutup mata, bersiap untuk melompat dari atas atap gedung pencakar langit setinggi 75 meter. "Kita akan segera bertemu, nee-chan."

"Rukiaaaa! Hosh… hosh… Berhenti! Apa yang akan kau lakukan, hah?" seru Ichigo di belakang Rukia.

Rukia membatalkan niatnya, ia kemudian membalikkan badannya, matanya terbelalak kaget. "I-Ichigo?" katanya.

Ichigo berjalan mendekati Rukia dengan mata sendu. Sambil mengulurkan tangan kanannya, ia berkata,"Rukia… turunlah! Jangan seperti ini, dasar bodoh! Jangan membuatku merasa kehilangan lagi! Kumohon, Rukia!"

"Ta-tapi Ichigo. Hisana-nee pasti sangat merindukanku. Aku ingin sekali menjenguknya," kata Rukia memalingkan wajahnya dari Ichigo, menatap jauh pada langit senja kota Karakura.

"Kau tau, Rukia…," kata Ichigo menurunkan tangannya dan kemudian menatap langit senja yang indah itu. "Lihatlah bintang yang paling cerah di langit itu! Mungkin… Hisana-nee sudah bahagia di atas sana," katanya sambil menunjuk bintang alpha-centaury A di langit selatan.

"Ichigo… benarkah itu?" tanya Rukia lirih, yang juga menatap bintang paling cemerlang itu. Rukia masih tetap berdiri di tepi atap gedung itu, tidak bergeming sedikitpun dari posisinya.

"Ya, aku yakin itu. Walaupun, aku belum pernah memahami sosoknya, ia pasti tidak ingin membuatmu sedih. Oleh karena itu, ia selalu tersenyum sebagai sosok bintang di langit sana, dan kasih sayangnya akan selalu di hatimu," kata Ichigo sambil menyentuhkan tangan kanannya ke dada kirinya.

Rukia tersenyum dan kemudian mengangguk. "Terima kasih, Ichigo," katanya.

" Jadi Rukia… kumohon turunlah! Hisana-nee pasti tidak akan senang bila kau berbuat seperti itu," kata Ichigo yang kemudian mengulurkan tangan kanannya lagi ke arah Rukia.

Rukia menerima uluran tangan Ichigo dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih memeluk boneka chappy superjumbonya. Ichigo menarik tangan Rukia, dan kemudian memeluknya. Rukia terisak, "Ichigo… terima kasih. Terima kasih banyak."

"Hm… sudahlah," kata Ichigo menenangkan.

"Ehem… ehem," Ishida berdehem. Ia merasa jengah dengan adegan sok romantis itu. Bukannya apa-apa, tapi dia sebel aja kalo dari tadi ia cuma berdiri saja seperti kambing congek. Mukanya sudah merah padam melihat Ichigo dan Rukia saling berpelukan.

Rukia yang mendengar suara deheman yang lumayan keras itu, otomatis mendorong tubuh Ichigo ke belakang dan kemudian menengok ke arah Ishida.

"I-Ishida? A-ano… i-itu," kata Rukia terbata-bata dengan wajah yang mirip kepiting rebus, menunduk malu. Matanya melirik-lirik galau ke segala arah.

'Sial… gangguin orang aja. Padahal lagi romantis-romantisnya juga,' batin Ichigo kesal.

"Jadi Rukia, apa yang kau lakukan di sini? Tadi Byakuya mencarimu?" tanya Ishida agak canggung, masih teringat dengan peristiwa beberapa detik yang lalu.

"Ni-sama? Ichigo… kau bertemu dengan ni-sama? Dimana?" tanya Rukia antusias, mengalihkan pandangannya dari Ishida kepada Ichigo.

'Huh… gue dicuekin lagi. Yang tanya gue, kenapa yang dapet respon Ichigo? Grrrr… dasar nyebelin,' geram Ishida dalam hati.

"Hm… iya, tadi sewaktu kami, aku dan Ishida jalan-jalan di taman," jawab Ichigo.

'Jalan-jalan katanya? Berdua sama Ichigo? Enak aja, gue masih normal tau'! Loe aja yang tadi nyeret-nyeret gue buat nyari Kon. Salahin adek loe tuh si Karin yang buang Kon! Loe cuma manfaatin gue 'kan, karena insting gue nyari reiatsu tajem,' kata Ishida dalam hati, super sewot. Dalam imaginasinya, Ishida sedang ngacungin pentungan ke Ichigo trus melemparnya tepat mengenai kepala Ichigo, dan Ishida tersenyum puas, gak nyadar kalo di dunia nyata ia cekikikan gak jelas, membuat dua makhluk bergender berbeda yang tadi nyuekin dia kini memusatkan perhatian penuh padanya.

"Eh? Ishida? Woi… kenapa loe?" tanya Ichigo sambil melambai-lambaikan tangan kanannya di depan muka Ishida, namun Ishida tetap saja tak bergeming, masih cekikikan dan tersenyum setan(?)

"Hah," Ichigo menghela napas dan mendekatkan mulutnya ke telinga kanan Ishida sedangkan kedua tangannya membentuk corong. "WOY… Ishidaaaaaa! BANGUUUNN!!! Dah maghrib nihhhh!" teriak Ichigo. Kelelawar pun sampai beterbangan, saking kerasnya suara cempreng Ichigo, sedangkan Rukia menjatuhkan boneka chappy kesayangannya kemudian dengan cepat menutup kedua telinganya.

Ngiiiinnnnggggggg… telinga Ishida berdenging.

"Aww! Pelanin dikit napa? Sakit tauk!" ujar Ishida sewot banget sambil menutup telinganya yang sekarang berdarah-darah.

"Makanya jangan tidur saat mata terjaga," kata Ichigo santai sambil memasukkan kedua tangan ke saku jeans hitamnya.

"Maksudmu?" kata Ishida dengan nada suara tinggi, kacamatanya berkilat-kilat.

"Ah sudahlah," kata Ichigo, padahal sebenarnya ia ingin mengelak karena gak ngerti maksud kata-kata yang baru saja ia lontarkan tadi.

'Ugghh… dasar orang ini! Bilang aja kalo sebenarnya loe gak ngerti barusan udah ngomong apa!' geram Ishida dalam hati, kedua tangannya terkepal erat.

"Ah… iya. Kuchiki, apa yang kau lakukan di sini? Sedang ada misi?" tanya Ishida kemudian setelah berhasil meredam amarahnya yang bergelora.

"Hn? Tidak, sebenarnya hari ini aku lagi jalan-jalan dengan ni-sama," kata Rukia menggeleng. "Eh… lihat-lihat! Boneka chappy ini, ini pemberian ni-sama loh waktu di taman ria tadi," katanya antusias sambil menunjukkan boneka putih yang tadi sempat terlepas dari pelukannya.

"What?! Bya-Byakuya ke taman ria?" pekik Ichigo kaget, benar-benar gak nyangka orang sedingin Byakuya mau merendahkan martabatnya untuk memasuki dunia nista (menurut versi Byakuya) yang bernama 'taman ria.'

"Hm…," Rukia mengangguk. "Ni-sama keren banget waktu memperebutkan boneka ini, padahal sebagian dari mereka adalah anak-anak dan para gadis remaja," lanjutnya dengan mata berbinar-binar.

Ichigo cengo, sedangkan kacamata Ishida sudah retak di sana-sini mendengar pernyataan yang hampir mustahil tentang kelakuan seorang pria sedingin Kuchiki Byakuya itu.

"Kau… serius?" tanya Ishida yang tidak percaya.

"Tentu saja. Aku punya foto kami berdua saat kami menaiki biang lala dan permainan lain," kata Rukia seraya membuka tas selempangnya untuk mengambil beberapa lembar fotonya dan Byakuya saat di taman ria, kemudian memberikannya pada Ichigo.

Ishida dan Ichigo memperhatikan satu persatu foto-foto tersebut dengan muka shock. Foto Byakuya saat sedang makan es krim dan memakai bando telinga kelinci, saat di colek-colek bencong, saat sedang duduk manyun nungguin Rukia yang lagi asik main sama badut kelinci, saat beraksi memperebutkan obralan chappy superjumbo yang kini ada di pelukan Rukia layaknya seorang ibu-ibu, dan masih banyak lagi.

"Aku tidak percaya, ia bisa melakukan hal seperti ini. Seperti bukan seorang Kuchiki Byakuya saja," kata Ishida setelah selesai mengamati foto-foto nista Byakuya.

"Tak kusangka, orang yang menjunjung tinggi kehormatan suatu klan seperti dia bisa berbuat hal bodoh semacam ini," kata Ichigo mendramatisir suasana.

Lalu beberapa detik kemudian, "Bwahahahahahaha! Byakuya, dikejar bencong! Hwahahahaha… li-lihat foto-foto ini!" tawa Ichigo meledak seketika sedangkan Ishida hanya berdehem menahan tawa.

"Apa katamu, Ichigo?" tanya Rukia dingin.

"Hahaha… a-aku… hahaha… ti-tidak percaya, orang seperti dia bisa seperti ini, hmph…bwahahaha," kata Ichigo masih dengan tawanya yang meledak-ledak, perutnya sampai sakit akibat tawanya yang hebat itu.

"Jangan. Berani-berani. Menghina. Kakakku!" kata Rukia yang kini telah berwujud shinigami, menghunuskan ujung pedang zanpakutounya ke dagu Ichigo.

"Rukia… Rukia, sudahlah aku cuma bercanda kok," kata Ichigo sambil menyingkirkan katana Rukia dari dagunya dengan kedua jari tangan kirinya.

"Mae Sode no Shirayuki!" Rukia merelease bentuk shikai zanpakutounya. "Tsugi no mae Hakuren!" Kabut putih dingin menyembur keluar dari ujung katana Rukia, membekukan setiap benda yang mengenainya.

"Huwaaaaaa!" Ichigo berteriak menghindari serangan tiba-tiba itu.

"Dan kau!" Pandangan Rukia beralih kepada Ishida yang berada disamping kanannya. "Hadou 4 Byakuchi!"

Kilat petir putih menyambar dari jari telunjuk kanan Rukia, mengenai dada Ishida yang kurang waspada karena terlalu shock dengan peristiwa yang menimpa Ichigo. Ishida terpental beberapa meter ke belakang. BUK!! Benturan yang cukup keras terjadi antara punggung Ishida dengan pintu darurat yang ada di atap gedung itu.

"Ugh!" Ishida mengerang kesakitan."A… apa-apaan ini?" tanyanya sedikit bingung.

"Hey Rukia! Apa yang kau lakukan hah?" tanya Ichigo dengan nada tinggi, sedikit geram juga karena tiba-tiba -tanpa tau masalahnya- diserang begitu saja oleh Rukia, yang notabene adalah rekan sekaligus partnernya selama ini.

"Karena kau, telah menghina ni-sama ku," kata Rukia dingin.

"Oke-oke, aku kan cuma bercanda. Anggap saja aku tak pernah mengatakannya," kata Ichigo berusaha menenangkan emosi Rukia.

"Kata-kata yang telah diucapkan, tidak bisa ditarik lagi. Itulah prinsip, seorang shinigami," kata Rukia dengan nada dan tatapan sedingin es. "Oleh karena itu, pecundang sepertimu harus dihukum." Rukia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan telapak tangannya ke Ichigo."Hadou no san juu ichi, Sakahou!" serunya.

Ichigo hanya bisa diam mematung sambil membelalakkan matanya, memandang nanar pada bola api merah yang melesat ke arahnya. BLAARRRR!!! Bola api kidou milik Rukia menghantam telak tubuh Ichigo, membuat tubuh Ichigo kini nyaris menghitam, gosong dan luka di mana-mana.

"Ru-Rukia… uhuk…," kata Ichigo terbatuk. Darah segar merembes dari sudut mulutnya.

'Cih… apa boleh buat kalau begini, walau aku tak tahu dia kenapa,' batin Ishida sambil membidik Rukia dengan busur panahnya yang besar. Panah itupun akhirnya terlepas dari busurnya, melesat dengan cepat ke arah Rukia yang berdiri sekitar 30 meter di depannya.

TRANGGG!!! Sebuah pedang beradu, menangkis anak panah itu sehingga gagal untuk mencapai targetnya.

"Ni-sama?" kata Rukia setelah melihat sang malaikat penolongnya.

Byakuya berdiri membelakangi Rukia, menatap dingin pada Ishida. Siapapun yang berani menggores kulit Rukia sedikitpun, maka ia harus mati di tangannya. Itulah prinsip dan janji yang dipegang teguh oleh Byakuya. Janji yang ia ucapkan kepada istri tercintanya sebelum ajal menjemput satu-satunya wanita yang berhasil meluluhkan hatinya yang sedingin es.

Byakuya mencabut katananya, bershunpo, melesat ke arah Ishida sedangkan Ishida sudah bersiap-siap dengan membidikkan anak panahnya. Slaassshh! Byakuya mengayunkan katananya, Ishida menarik busur panah Ginrei Kujaku-nya. Trang! Tiba-tiba Ichigo sudah berdiri di antara Byakuya dan Ishida. Zangetsu yang besar beradu dengan Senbonzakura yang ramping.

"Kurosaki Ichigo, menyingkir dari hadapanku!" desis Byakuya.

"Lawanmu adalah aku, Byakuya! Tak 'kan kubiarkan siapapun menyakiti teman-temanku,"kata Ichigo dengan seringainya.

"Kurosaki!" seru Ishida.

"Kau bukan lawannya Ishida. Setidaknya aku pernah berpengalaman bertarung dengannya," kata Ichigo datar, masih tetap pada posisi semula.

'Grrrr… dia meremehkan gue ternyata. Lama-lama ni duren busuk makin nyebelin aja,' geram Ishida dalam hati. "Tapi… Kurosaki. Setidaknya, aku juga ingin bertarung dengannya," katanya.

"Tidak, Ishida," kata Ichigo sambil mendorong dengan kuat zanpakutounya, membuat Byakuya mundur beberapa meter ke belakang. Ichigo memanggul Zangetsunya, menatap Ishida dan berkata,"Aku punya bankai, dan bisa shunpo, kau tau kan? Kalo dia mereleasekan bentuk shikai atau mencapai bankai, kau akan kesulitan bila menghadapinya sendiri," kata Ichigo.

Ishida menaikkan kacamatanya yang melorot, kemudian menatap Byakuya. " Kau pikir aku tidak tahu itu? Ginrei Kujaku milikku bisa menembakkan 1200 anak panah dalam satu detik dan aku juga bisa melakukan shunpo. Jadi, bukan alasan bagimu untuk melarangku bertarung dengannya," kata Ishida datar sambil mengarahkan busurnya ke Byakuya.

"Kau ini! Dikasih tau malah tambah sok hebat!" seru Ichigo sedikit emosi.

"Asal kalian tahu, perbedaan kekuatan kita bagaikan langit dan bumi. Jadi, majulah kalian berdua!" kata Byakuya dingin dan datar.

"Hm… begitu?" tanya Ichigo. Ishida hanya sedikit tersenyum mendengar tantangan itu.

'Siapa bilang gue mau mengeluarkan bankai? Gue masih ngambek tauk!' kata Senbonzakura tiba-tiba dari inner world Byakuya, menyadarkannya kembali bahwa sang zanpakutou sedang tidak mau diajak kompromi dan bekerja sama.

Ishida bersiap untuk melepaskan anak panahnya, dengan 1200 tembakan dalam satu detik.

"Bankai. Tensha Zangetsu," kata Ichigo merelease bentuk bankai zanpakutounya.

'Mati gue!' kata Byakuya dalam hati.'

.

To Be Continue

.

Pojok Shinigami(?)

Uwaaaa full of IchiRuki! Maap chappie ini full of Rukia yang stress jadi sedikit banget humornya dan sepertinya fic ini akan menjadi panjang deh. Apakah Byakuya akan mati? Tunggu chapter berikutnya!

Rukia : Dasar author gak konsisten! Katanya mau selesai dalam 2-3 chapter!

Author : Ya gimana ya… abis idenya banyak sih, tuangin aja daripada mubazir tapi… sudahlah sekarang saatnya mengulas beberapa repiu yang masuk dari chapter kemarin. Sen… Byaku dimulai sekarang!

Sen n Byaku : Okey, Siap Bos.

Senbonzakura : pertama2 dari Nanakizawa l'Noche. Lah gue kan emang tumbuhan, otomatis biar seger musti dikasih pupuk n disiram pake air. Eh? Nanakizawa-chan baru tau toh kalo si Byaku itu sebenarnya sok jaim gitu, padahal ya ada sisi bego2nya dikit. Kalau pernah baca yang manga-omake bleach ada loh, trus yang di shinigami illustration book juga. Cuma emang gak terlalu keliatan kalo dia juga ada sisi itunya juga. Makasih dah repiu.

Byakuya : Eh? Loe berani banget menghina gue ya? Master loe yang cakep ini?

Senbonzakura : Ah sudahlah.Selanjutnya dari Toshihiro Fumi, namanya juga "Super Ultra High Level OOC Tingkat Tinggi". Iya tuh authornya udah pikun kali ya… namanya Reiraku toh?

Byakuya : Halah… loe juga gak tau, sok banget sih. Yah… masa' author suruh ganti rugi sih. Ntar gimana nasib gue di fic ini? *nangis* Sen… dapet salam tuh dari Fumi?

Senbonzakura : Huh? Ogah… gue masih ngambek. Gak bersedia terima tamu.

Byakuya : (deathglare)

Senbonzakura : Uh… iya-iya. Hai… halo fumi-chan. O genki desu ka? Hai… selanjutnya DeiDeichan. CaptainOfTheHell

Byakuya : Wah panjang nian namamu. Peluk-peluk dei-dei (dapet deathglare dari Sen-chan n Sasori no Danna). Ma-maksudnya… bukan Deidara 'kan? (panik mode) Kalo ntar author meluk Deidara kan dosa, bukan muhrim sih *dibom*.

Senbonzakura : Jiah alesan ajah loe. Eh gak ada humornya? Pasti karena summary-nya 'kan? Hohoho… jangan liat buku dari covernya hehehe… hahaha… hihihi… *dilempar batok kelapa ma kuntilanak karena nyuri trademark* Makanya summary chappie ini diganti. Makasih repiunya.

Byakuya : selanjutnya MikidaCAT. To-toshirou? Anakkuuu!!! Uwaaahh author munculin dong ya… ya… ya!

Author : Iya-iya… ntar gue munculin. Gue kan juga naksir ma shiro.

Byakuya : (nangis terharu)… hiks sroot… Eh apa?? Sutralah. Selanjutnya RabicHan kawaii. na. Iya sama-sama. Ugh… silau, dari kemaren ada puppy eyes no jutsu melulu. Lah mbok dikasih coklat-ice brownies no jutsu dongk (?), 'kan lebih enak hehehe. Ichiruki? Tuh sudah ada… chappie ini full of Ichiruki. Makasih repiunya.

Lalu dari Kuchiki Rukia- taichou. Eh… Rukia? Kamu kemana aja sih? Akang cariin kamu tau'! Akang kangen banget huhuhuuuu.

Senbonzakura : (ngelus dada) Sabar-sabar. Orang sabar di sayang Jashin(?)

Byakuya : Ishi n Ichi tuh emang suka banget bertengkar kok. Ishi yang grusa-grusu dan Ichi yang super hati2. Udah liat bleach episode 144 kan? Keliatan banget bedanya Ichi n Ishi. Selanjutnya dari Ni- chan d'Sora Yuki. Hmm… di-diterusin? Ma-maksudnya?

Author : maksud dia, gue disuruh nerusin penderitaan loe sebagai seorang kakak. Salah sendiri sister complex.

Byakuya : APA??? Tega sekali kau jadi author!

Author : Sesuka aku, fanfic 'kan emang ada untuk memutar balikkan karakter. Mau dibunuh silakan atau sekedar bikin orang kayak loe itu jadi super OOC. Sudahlah terusin aja deh repiune.

Senbonzakura : Okedari MayonAka- nO- shadOw- GirL. Tauk tuh, dasar author gila. Eh psst… psst Byaku tuh emang dari dulu jaim kok, hehehe. Sok banget dingin n cuek sama Rukia padahal dia sayang banget n overprotektif gitu. Makasih repiunya ya.

Author : sekarang giliran gue dong yang ngomong! *nodongin samehada* dari Ruki_ya_cH. Uwaaa… iya bener seperti itu tulisannya *sorak autis.* Senbonzakura dan Byakuya tuh sebenarnya saling membutuhkan loh kalau saya tarik kesimpulan dari animenya. Shinigami tidak akan menjadi kuat tanpa zanpakutou dan zanpakutou tidak akan dapat mengembangkan kekuatannya tanpa komando dan latihan dari masternya (sok tau). Ugh… entah kenapa, Tite Kubo menciptakan chara Muramasa yang membuat para zanpakutou jadi pengkhianat gitu… Makasih repiunya.

Byakuya : fiuh terakhir dari BinBin-Mayen. Kuchiki. Huehehehe… yang bikin penawarnya Unohana ntar juga ada Mayuri nya juga kok. Dasar author stress, masa ganteng2 gini cuma bencong yang mau goda gue? Huh… sebel.

Senbonzakura : Eh Byaku… emangnya adik loe tuh sebenarnya berapa sih? Rukia apa Mayen? *bingung mode*

Byakuya : Hm… Rukia. Tapi… kalo Mayen mau daftar jadi adik gue juga boleh. Gue bisa punya adek banyak truz kan kulindungi dengan sepenuh jiwaku (berapi-api dengan background gunung meletus).

Senbonzakura : dasar sister complex stadium 4! Hadoohh… bisa-bisanya gue punya master kayak gini! (geleng-geleng kepala).

Byakuya : Apa loe bilang?

Senbonzakura : Eh… e-enggak kok. Ya udah deh ngucapin makasih aja buat yang bersedia baca apalagi yang ngasih repiu. Truz kasih pesan, kalo tertarik lagi mau repiu arahkan buntut "tikus" ke kotak ijo di bawah ini ya !!! Salam manis dari naOmi juga. Eh?? Author dimana loe?

Author : (mendengkur di bawah selimut)… iya-iya, gue disini. Sampai jumpa chapter depan. Oyasuminasai… hoahm!