Title: Redamancy
Disclaimer: Joker Game by Yanagi Kouji
Warning: AU, BL, ficlet, OOC, typo(s), dan kekurangan lain yang tak terjabarkan.
Hope you like it~
.
.
.
"Kenapa kaumenerima pernyataanku setengah tahun yang lalu, Miyoshi?"
Miyoshi sontak menurunkan buku sketsanya, sebelah alisnya naik menyuarakan tanya. "Memang aneh aku menerimamu?"
"Bagaimana, ya ...," Sakuma mengacak rambut jelaganya, bingung setengah mati bagaimana menjabarkannya pada kekasihnya. "Aneh saja. Kau itu berbeda denganku."
"Beda darimana? Kita sama-sama laki-laki."
"Bukan begitu," Sakuma menyela cepat, lalu menggerutu kala didapatinya Miyoshi justru terkikik melihatnya salah tingkah. "Jalan pikiran kita berbeda, cara kita memandang sesuatu juga bertolak belakang. Bukannya aneh ternyata kita jadi pasangan?" tanyanya.
"Jadi Sakuma-san ingin kita putus?"
"Duh," Sakuma kali ini benar-benar membuang napas keras karena terpaksa kembali memutar otak. "Aku ingin tahu, kenapa kau menerimaku?" tanyanya.
"Sakuma-san pernah dengar bahwa pasangan itu harusnya saling melengkapi ibarat tengah menyatukan puzzle?" Miyoshi balik bertanya.
"Aku yakin kau tidak percaya istilah itu," Sakuma berkilah.
"Memang." Miyoshi terkekeh pelan sembari meletakkan buku sketsa dan pensilnya di sebelahnya, lalu menatap Sakuma yang duduk di sebelahnya tanpa bersalah. "Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu, hm?"
Sakuma membuang muka, berdehem agar suaranya tak terkesan seorang kekasih otoriter yang tengah cemburu buta. "Hanya ingin tahu," sahutnya.
"Memang Sakuma-san pikir orang yang cocok untukku itu seperti apa?" Miyoshi balas bertanya.
Sakuma menimbang, agak lama, sebelum menjawab, "Cerdas, mengerti semua teori yang kautahu, mengerti pola pikirmu—"
"Kau menyuruhku menjalin hubungan dengan diriku sendiri?"
"Miyoshi!" Sakuma memprotes.
"Orang yang Sakuma-san sebutkan hanya akan membuatku cepat bosan," cetus Miyoshi diiringi kedikan bahu. "Aku butuh orang yang cerdas untuk teman debat, orang yang mengerti semua teori yang kutahu agar sebagai teman yang sepemikiran, dan orang yang mengerti pola pikirku untuk bertukar pandangan." Kalimat itu terputus, dan Sakuma menunggu.
"Tetapi, untuk tetap jadi diriku sendiri, yang kubutuhkan cuma kau, Sakuma-san," Miyoshi mengakhiri kalimatnya, lengkap dengan menatap sepasang netra jelaga Sakuma yang sedikit melebar kala mendengar kalimat terakhirnya.
Sakuma harus mengaku bahwa ia sempat kehilangan suaranya selama beberapa detik dan hanya bisa berbisik lirih, "Aku tetap tak mengerti, Miyoshi."
Miyoshi tak segera menjawab dengan rangkaian kata, hanya memberi Sakuma seulas senyum miringnya yang khas. Kemudian, tanpa diminta, lelaki berambut coklat kemerahan itu memajukan tubuhnya, mencium singkat bibir lelaki yang telah memiliki hatinya sebelum Sakuma bahkan sadar apa yang tengah terjadi.
"Sama. Aku juga tak mengerti kenapa harus Sakuma-san orangnya," Miyoshi memamerkan senyum menggoda yang sama.
.
.
.
