Erika kembali membawa fic gaje iniiii! Gomen ya, sebelumnya Erika kasih tahu dulu nih! Erika bilang yang banyak pertarungan chapter 3 kan? Ini kan chapter 2, jadi jangahn tanya lagi ya… *ditimpuk readers* ittaaaaii! Ikh! Sakit tahu! Ya sudahlah, cekidoooots!

DISCLAIMER:

BLEACH punya TITE KUBO, lho

Pinjam OC:

Hanabi Kaori dan

Gisella Sartika Gumilang

WANTED:

Real Chara agak OOC,

tapi yang OOC ya emang OC!

READ AND REVIEW!

Dark Moon and The New Gotei 13

Chapter 2

Memories at The Past

Toushiro dan Hinagiku tengah mendengarkan Ochi-sensei menjelaskan biologi tentang 'Bioteknologi Pangan'. Karena akan ada tugas praktek per kelompok, maka mereka menyimak pelajaran dengan seksama (contoh yang harus ditiru. Jangan kayak Erika, lagi pelajaran malah ol XD).

"Bioteknologi dibagi dua, konvensional dan modern. Kalau konvensional dibuat dengan sederhana, kalau modern, dibuat dengan peralatan canggih." ucap Ochi-sensei. "Sampai sini, ada yang tidak mengerti?"

"SAYA! ! !" Hinagiku segera mengangkat tangannya. Erika lupa bilang, Hinagiku itu orang yang sangat jago masak (sudah menjadi hobi) dan dia adalah cookaholic alias gila masak. Setelah Ochi-sensei memperbolehkan Hinagiku bertanya, gadis cantik itu dengan semangat bertanya banyak hal. " Tanaman apa yang kira-kira bisa dipakai untuk teknologi? Apa bunga Sakura bisa dijadikan bioteknologi non pangan? Bagaimana dengan anggur? Atau mungkin strawberry?"

Sepertinya Hinagiku justru menanyakan benda-benda yang mirip dengan image-nya.

Bunga Sakura: Elemen dan auranya.

Anggur: Warna Rambutnya.

Strawberry: Semanis wajahnya

Toushiro, Rukia, Inoue, Chad dan Ishida bengong. Sedangkan Renji ingin tertawa karena Ichigo (strawberry) disebut-sebut. Ichigo cemberut.

Setelah menjelaskan bermenit-menit panjang lebar, akhirnya Hinagiku puas dan tidak lagi bertanya. Ochi-sensei hanya bisa menghela napas setelah Hinagiku kembali duduk dengan tenang. Ini peringatan untuk para guru dimana pun. Jangan sampai membahas pelajaran yang berhubungan dengan masak kalau Hinagiku ada di sana. Gak mau migren dadakan gara-gara banyak ditanyain kan?

*~*~Erika-chan Kaoru*~*~

Teng!

Teng!

Teng!

Bel pulang berbunyi. Semua murid segera keluar dari kelas masing-masing. Hinagiku yang kebagian piket harus pulang belakangan, sedangkan Toushiro menemaninya (karena mereka tinggal di apartemen dekat apartemen Inoue dalam satu ruang *satu ruang ada dua kamar*). Sambil sesekali melirik Hinagiku yang masih bersih-bersih dengan riangnya, Toushiro mengecek keamanan daerah sekitar sekolah, takutnya ada hollow.

Sementara itu di Soul Society, Hana mulai kerepotan karena tak kunjung menemukan Sakura no Mai. Ia jadi kesal sendiri. "Iiiiiiiiiiiikkkhhhh ! ! ! Sakura no Mai-sama mana sih ! ! !"

Kasian, dia tidak tahu kalau yang ia cari sedang berada di inner world.

Kembali ke Toushiro dan Hinagiku yang sekarang tengah berjalan pulang ke apartemen bersama Inoue dan Ichigo juga Rukia. Semuanya diam, tak ada yang angkat bicara. Suasana di antara mereka tegang. Saat melewati lapangan sepak bola, terdapat bunga sakura yang tengah mekar. Hinagiku yang melihat hal itu langsung saja berlari menuju pohon tersebut dengan riang.

Toushiro, Ichigo dan Rukia agak terkejut dengan sikap Hinagiku yang seperti itu. Tapi begitu melihat Hinagiku menyentuh pohon sakura, mereka memaklumi sesuatu tanpa disadari.

"Entah kenapa… aku berpikir bahwa pohon ini adalah tempat asalku… ada sesuatu yang membuatku rindu dengan pohon sakura mana pun. Seperti ada yang membuatku terpanggil untuk menyentuhnya…" ucap Hinagiku sambil memeluk pohon itu. "Kau kesepian ya, pohon sakura?" tanyanya sendiri pada pohon itu. Mendadak, pohon itu menjatuhkan banyak helai sakura. Hinagiku yang melihatnya tersenyum.

"Seperti tarian…" gumamnya. "Kau akan kuberi nama… pohon SAKURA NO MAI…"

Pohon itu berhenti menjatuhkan bunga. Hinagiku yang menyadari hal itu membelai lembut ranting terpendek pohon sakura dan tersenyum senang, "Sepertinya kau sudah ceria ya? Kalau begitu sampai besok! Aku akan kembali lagi!" ucapnya sambil menuju Toushiro cs yang menunggunya tak jauh dari tempat itu.

"Hinagiku… kau…" ucap Toushiro tercekat. Hinagiku memandangnya seperti Hinagiku yang biasa. Ia rindu dengan tatapan itu. Sayang, yang bersamanya sekarang adalah Hinagiku yang bahkan tak mengenal dirinya sendiri. Rukia memandang sendu keduanya dan Ichigo menatap keduanya bersalah.

"Sudahlah, ini sudah sore. Ayo kita pulang," Ichigo terdiam. "Aku pun… tidak mau dihajar oleh ayahku."

Toushiro mengangguk. Rukia pun sama, "Kau benar. Paman pasti akan mencari kita." Hinagiku menatap ketiganya datar, lalu menutup matanya.

'Sampai kapan aku akan membuat mereka berwajah sedih seperti itu?'

*~*~Erika-chan Kaoru*~*~

Esoknya, hari Sabtu, Toushiro bersiap menuju rumah Ichigo. Sedangkan Hinagiku sedang mencoba membuat tugas praktek bioteknologi. Ya, ia satu kelompok dengan Toushiro (1 kelompok dua orang). "Hinagiku, kau benar-benar mau dirumah saja?" tanya Toushiro. Hinagiku mengangguk. Toushiro hanya mendengus, ia tahu kalau Hinagiku tidak akan menjawab kalau sudah berurusan dengan hal yang berbau masak memasak.

Ia memakai segera sepatunya dan memakai topi berwarna biru laut. "Aku pergi dulu!"

Dari dalam terdengar suara Hinagiku menyahut, "Yaaaaaaaaaaa!"

Toushiro pun segera berlari menuju tempat Ichigo secepat mungkin. Karena memang, sebenarnya ia harus datang ke rumah Ichigo untuk membahas masalah hilangnya ingatan gadis tersebut. Apalagi, para komandan except Yamamoto sudah berkumpul disana. Saat sedang di tikungan, tak sengaja ia menabrak Karin. "Kau itu ya, Toushiro, kalau jalan hati-hati dong!" kesal Karin. Toushiro segera membantunya berdiri.

"Apakah para komandan sudah berada di tempat Kurosaki?" tanya Toushiro langsung.

"Sudah, mereka berkumpul di kamar Kak Ichi. Makanya aku, Yuzu dan ayah segera keluar dari rumah. Reiatsu mereka membuatku sesak napas." Jelas Karin. Toushiro manggut-manggut.

"Kalau begitu, sampai nanti." Toushiro segera berlari menuju rumah Ichigo. Karin yang melihatnya hanya angkat bahu tak peduli dan pergi menuju lapangan bola tempat teman-temannya biasa bermain.

Tak lama, Toushiro sampai dan segera masuk ke dalam rumah Ichigo. Begitu melihat Kon dkk yang sedang berada di tubuh dan majikan masing-masing, ia segera meminum soul candy-nya, King. Setelah keluar, ia segera bershunpo menuju kamar Ichigo.

DUAAAKKKHH!

Kini giliran Ichigo yang menabraknya. "Adududuh…. Toushiro, kau itu bagaimana sih? Jalan lihat-lihat dong!"

Toushiro mendelik sebal, "Diam JeDur (jeruk duren)! Dan panggil aku komandan Hitsugaya!"

"Iya, iya… aku tahu kok. Sori deh. Semuanya sudah menunggu, lho."

Tosuhiro mengangguk. Saat mereka masuk ke kamar Ichigo, hampir semua komandan sudah berada di sana. Soi Fon yang duduk di jendela segera berdiri melihat Toushiro masuk bersama Ichigo. Gadis berkepang itu mendekati Toushiro dengan tatapan dinginnya. "Kau sudah tahu apa yang akan dibahas oleh kita semua, kan, komandan Hitsugaya?"

Toushiro mengangguk, "Ya, aku tahu."

"Kalau begitu cepatlah bercerita, agar dari cerita yang kau katakan, aku bisa membuat kapsul berisi ingatannya!" ketus Mayuri. Toushiro mendengus sebal.

"Bukannya lebih baik memakai jurus 'omoide ga ochiru' (kenangan jatuh)? Kelompok kidou pasti bisa kan?" tanya Ukitake. Unohana pun mengangguk.

"Silahkan para komandan dan Kuchiki-san mengaktifkan jurus itu saat saya telah menyentuh dahi komandan Hitsugaya. Untuk Kurosaki-san, peganglah pundak komandan Hitsugaya." Jelasnya. Semuanya mengangguk. Unohana pun membisikkan mantra dan menyentuh dahi Toushiro pas saat Ichigo menyentuh pundak Toushiro. Serentak semua segera membaca mantra (ini cuma jurus buatan Erika kok. Jangan di copas yaaa XD).

"Selimut bintang mengitari dunia. Jaring laba-laba putih membaluti gulungan nada. Wahai dunia dibawah kesadaran, bukalah pintumu menuju basis ingatan! Jurus pembaca kenangan! OMOIDE GAOCHIRU!"

Sekelebat cahaya pun muncul menerangi kamar Ichigo.

FLASHBACK, 103 tahun yang lalu…

Ichigo membuka matanya dan melihat sebuah bangunan besar dengan banyak orang-orang yang memakai seragam merah, biru ataupun ungu tua. Ia melihat ke sana kemari, tak terlihat adanya para komandan dan Rukia. Ichigo pun berteriak. "Rukiaaaa…! Hei, kalian semua ada dimana! ?"

"Berisik, Kurosaki! Jangan berteriak di ingatanku!" mendadak suara Toushiro muncul di pikirannya. "Memang begini jadinya kalau membaca ingatan, takkan bisa melihat orang lain yang membaca ingatan orang yang sama! Jadi diam dan lihat!"

Ichigo pun mengangguk paham, "Jadi… ini dimana?"

"Itu adalah Akademi Shinou, sekolah untuk para calon shinigami. Dari sinilah aku belajar jurus-jurus shinigami dan langsung menjadi komandan setelah lulus!"

Ichigo kembali mengangguk. Ia pun mencoba menuju tempat orang-orang itu berkumpul, yaitu di aula utama tempat penerimaan murid. Ia tahu bahwa dirinya tak terlihat karena ia sedang melihat sebuah ingatan. Mendadak Ichigo mendengar banyak suara laki-laki yang sedang menggodai sesuatu. Ichigo menoleh ke belakang. Ia melebarkan mata musim gugurnya.

Ya, ia melihat Hinagiku yang masih sangat muda dan berambut sepunggung bersama Shiro, adik Hinagiku di kala hidup di kelilingi banyak lelaki. 'Dia sangat terkenal di kalangan perempuan dan laki-laki ya?' pikir Ichigo. Hnagiku menanggapi hal itu dengan senyum, beda dengan Shiro yang memeluknya takut. Saat salah satu murid baru akan mencolek Hinagiku, mendadak sebuah tangan menangkap tangan itu. Ichigo kembali terkejut, orang itu adalah Senna, wakil komandan Hinagiku! 'Dia malah tidak ada yang berubah, gayanya sama saja…' pikir Ichigo lagi. 'Tapi kenapa dia sudah menjadi shinigami?'

"Jangan sentuh Hinagiku-sama dengan tangan kotormu!" ketus Senna pada murid itu. Murid itu langsung kabur begitu melihat seragam Senna (shihakushou hitam). "Dan kalian, beraninya membuat putri kedua bangsawan besar Fujisaki, Shiro-sama ketakutan! Pergi sana!" bentaknya. Serentak semua pun kabur.

"Sumimasen, Hinagiku-sama! Saya sudah lancang dengan muncul secara tiba-tiba di hadapan anda tanpa memberi hormat! Padahal saya kepala keluarga Kioku, keluarga yang melayani dengan setia keluarga Fujisaki sejak zaman Ichiryou Fujisaki, kakek buyut anda!" ucap Senna membungkuk. Hinagiku tersenyum dan membantu Senna berdiri.

"Aku tidak keberatan dengan sikapmu barusan, tapi sebaiknya kau jangan terlalu galak pada mereka, Senna." Sahut Hinagiku. Senna tersenyum. Tanpa sadar, Ichigo pun ikut tersenyum.

Saat pemberitahuan masuk kelas diumumkan, Hinagiku menyuruh Senna untuk menunggunya di rumah. Senna pun kembali ke mansion Fujisaki. Ichigo mengikuti Hinagiku masuk ke kelas, namun matanya melihat orang yang ia kenal. Toushiro! Ia berbalik mengikuti Toushiro yang dengan malas-malasan menuju kelas 1-1.

Setelah sampai di kelas 1-1, semuanya di absen berurutan sesuai dengan peringkat kelulusan mereka. Yang membuat Ichigo tercengang, walau ia tahu kelas 1-1 adalah kelas paling unggul…

"Saya absen dari peringkat pertama yang merupakan murid baru dengan nilai terbaik sepanjang sejarah! TOUSHIRO HITSUGAYA!" ucap wali kelas 1-1. Toushiro mengangkat tangannya malas. Akhirnya absen kembali dilanjutkan. Saat peringkat dua, nama Soujiro Kusaka disebutkan. Ichigo berdecak kesal, 'sahabat Toushiro yang telah membuatnya menderita!'

Saat peringkat empat… "Lalu absen keempat belas, HINAGIKU FUJISAKI-sama!"

Wuiiih? Peringkat empat belas dari lebih dari tiga ratus orang murid baru? Gak disangka! Hinagiku menaikan tangannya dengan senyum, kelas 1-1 terdiam, terhanyut dengan senyum Hinagiku except Toushiro yang malah tiduran di mejanya. Absen dilanjutkan dan saat peringkat dua puluh satu, nama Shiro disebut.

Beberapa bula kemudian, saat ada anak yang mengejek Toushiro, Toushiro yang mudah emosi mengeluarkan reiatsunya dan menciptakan badai salju di luar akademi. Untungnya hal itu bisa di atasi para guru. Sejak saat itu Kusaka dan Hinagiku mendekatinya. Mereka bersahabat akrab sampai harus Toushiro dan Kusaka bertarung demi menjadi majikan Hyourinmaru dan menjadi seorang shinigami. Saat kematian Kusaka, Toushiro sangat bersalah dan Hinagiku dan Shiro menjadi lebih akrab dengannya.

Setelah mereka bersama-sama menjadi shinigami, dari situlah insiden besar terjadi. Antara Toushiro, Hinagiku, Shiro, Soi Fon, Ukitake, Aizen, Hinamori dan Matsumoto dalam tragedi berdarah yang merenggut nyawa Shiro, adik tersayang Hinagiku dan bawahan setia Toushiro.

Next chapter will FULL dengan pertarungan! Perebutan merebut ingatan Hinagiku dan mengambil kembali Hinagiku!

TO BE CONTINUED

Cuma mau bilang… tolong RnR? ?