Abstract Fantasia

Hetalia © Himaruya Hidekaz

Summary : Sebuah kisah fantasi tidak jelas yang mengisahkan tentang petualangan menuju kepulauan tanpa nama untuk mencari harta karun terpendam hingga berusaha untuk bertahan hidup disana.

Warning : human names, OOC, OC, OOT, GaJe, typo, garing, bahasa kadang ringan kadang berat, De El El!


.

Abstract Fantasia

.


"Haaaah…. Membosankan…."

Sosok pria albino itu sedang menatap bosan lautan di sisi kapal. Pagi ini memang cukup cerah, angin laut juga terasa segar, tetapi ketenangan seperti ini bukanlah yang ia harapkan.

"West…. Apa tidak ada hal yang lebih seru lagi, seperti bertarung, badai, atau melawan monster?"

Pria berparas tegas itu hanya berdiri di haluan dengan wajah sedatar papan lantai kapal yang mereka injak ini.

"Bruder, kalau kau inginkan hal-hal seperti itu, aku akan melemparkanmu ke tengah-tengah lautan di saat badai terjadi dan kupastikan kau menjadi orang Europa gosong ketika pulang nanti." Pria itu menantap si albino dengan tatapan seriusnya. "Cukup menyenangkan, bukan?"

Sesaat si albino sempat merinding mendengar kata-kata saudaranya itu. Manik kemerahannya pun teralihkan kembali ke pemandangan laut.

"Ka-kau ini benar-benar tidak bisa diajak bicara, West. Enggak asik."

Ludwig hanya menghela nafas memaklumi sikap Gilbert yang terlihat lebih kekanak-kanakan darinya. Kedua mata sapphire-nya teralih pada sosok pemuda yang memakai Yukata tengah mengendalikan kemudi kapal dengan tatapan kosong. Padahal tatapannya biasa-biasa saja, tapi kesan orang yang baru bertemu dengannya pasti menganggap bahwa pemuda itu sedang dalam mode kesurupan. Ada yang bilang kalau melamun bisa bikin seseorang mudah kesurupan (?)

"Kiku, kau masih ingat jalan menuju kepulauan tanpa nama, kan?" tanya Ludwig pada pemuda dengan tatapan kosong ala orang kesurupan tersebut.

"Tentu, Ludwig-san," jawabnya singkat.

Setelah pembicaraan singkat itu, tiada suara lagi selain suara semilir angin laut dan suara burung-burung camar yang sempat lewat. Merasa suasana mulai terasa canggung, Gilbert mulai mencoba sedikit berbasa-basi.

"Eeem…. West, bekerja sebagai keamanan laut seperti ini benar-benar membosankan. Kau yakin kita bertiga bisa menangkap kedua perompak aneh itu?"

Ludwig menatap saudaranya dengan sebelah alisnya dinaikkan. "Kita ada berempat, Bruder. Dan sudah tugas kita untuk menangkap mereka sebelum mereka sampai di kepulauan tanpa nama."

"Berempat?"

Gilbert celingukan melihat-lihat ke arah sekitarnya, mencari satu anggota mereka yang dimaksud Ludwig. Dia hanya menemukan sosok Kiku dan Ludwig, ditambah lagi dirinya jadi bertiga. Lalu siapa lagi orang satunya?

Seakan-akan tahu isi kebingungan Gilbert, Ludwig menjawab, "Satunya lagi sedang mencari keberadaan dua kapal perompak yang kita cari."

Gilbert menatap Ludwig kembali dengan tatapan bertanya. Masih bingung kemana sosok satunya lagi karena dicari-cari lagi dia tidak ada dimana-mana. Ludwig pun menjawab dengan jari telunjuknya menunjuk ke bawah. Gilbert melihat ke lantai kapal, tetapi ia tidak melihat sosok yang dimaksud. Kembali menatap Ludwig, Ludwig masih menunjuk ke bawah.

"Hah?"

Gilbert akhirnya mengerti maksud Ludwig walau ia masih merasa kebingungan, ternyata yang dimaksud Ludwig adalah permukaan laut. Gilbert mulai melihat ke arah permukaan laut, tepatnya di samping bawah kapal layar mereka.

"Vee~"

"KYAAAAAAAAAHHHHHH! WEST, ADA MAYAT DUYUNG NGAPUNG! MUKANYA KAGAK AWESOME SEKALEH!"

Gilbert langsung panik, berteriak-teriak aneh sambil berlarian tanpa arah yang jelas. Melihat saudaranya panik begitu membuat Ludwig kesal sendiri. Jadi, Ludwig memasukkan kepala Gilbert ke dalam ember kosong lalu memberi aba-aba ke Kiku.

"MAIDEY! MAIDEY! SIAGA DUA! SIAGA DUA!"

Mengerti dengan aba-aba itu, Kiku buru-buru menghampiri Ludwig yang masih sibuk memasukan kepala si pria albino ke dalam ember, lalu Kiku memukul-mukul ember itu menggunakan sendok sayur.

TONGTONGTONGTONGTONGTONGTONGGLUDEKGLUDEKDONG!

Setelah dipukul, kepala Gilbert dibebaskan dari dalam ember, kemudian wajahnya disembur air dari mulut Kiku.

"KALIAN BENAR-BENAR TIDAK AWESOME SEKALEH! AKU CUMA KAGET KARENA ORANG ITU, KALIAN MALAH BERBUAT SEPERTI INI PADAKU! SAMA SEKALI TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN YANG TIDAK AWESOME!" omel Gilbert begitu kesalnya. "DAN UNTUK APA PAKAI DISEMBUR SEGALA?!"

Kiku menyeka mulutnya yang basah setelah menyembur wajah Gilbert. "Di negeri Asyan, salah satu cara untuk menenangkan orang panik seperti itu," kata Kiku dengan wajah papannya.

"TAPI ENGGAK SEGITUNYA JUGA!"

"Vee~ Apakah aku boleh memasak pasta?"

Ketiga pria tadi langsung melihat sosok pria yang telah mengagetkan Gilbert dengan dirinya yang mengapung di permukaan laut.

"Belum, Feliciano. Kau belum boleh memasak pasta jika kau belum menemukan kedua kapal perompak itu," ucap Ludwig tegas. "Cari kembali!"

"Vee~"

Feliciano kembali mengapung begitu saja di permukaan laut. Anehnya, Feliciano mengapung begitu cepat menjauhi kapal dengan sendirinya walau air laut terlihat tenang.

"We-West…. Kenapa dia bisa mengapung secepat itu….?" tanya Gilbert yang sempat mangap ketika melihat keanehan pada Feliciano.

Ludwig hanya menjawab, "Perhatikan ketiak kirinya."

Gilbert menyipitkan kedua mata kemerahannya ketika fokus melihat bagian ketiak kiri Feliciano. Dia menemukan sebuah sirip dan samar-samar Gilbert juga melihat punggung seekor hewan laut. Alis si albino pun berkedut dan persimpangan imajiner muncul di kepalannya.

"Te-ternyata lumba-lumba, ya?"


.

Abstract Fantasia

.


Arthur dan Matthew berjalan melewati lorong bagian bawah kapal mereka menuju ke suatu ruang kurungan. Suasana pada lorong itu cukup gelap karena tidak ada jendela yang dapat membiarkan sinar matahari menyinarinya. Suara langkah kaki mereka terdengar menggema dan juga terdengar beberapa kali suara decitan hasil dari beberapa bagian kerangka kapal.

"ARGH! INI MENYEBALKAN!"

Semakin jelas terdengar suara orang yang mereka kurung berarti semakin dekat mereka pada ruang kurungan. Ketika langkah Arthur hendak terhenti di depan pintu kurungan….

SYUUUUT….

…. Sebuah tangan dengan jari-jemari lentik dan kuku-kukunya yang panjang keluar menembus sela-sela jeruji besi yang ada pada pintu. Refleks Arthur menghindar dari kemunculan tangan tersebut yang kelihatannya hendak mencakarnya. Syukurlah cuma beberapa helai rambut pirangnya yang kena cakar.

"Bloody hell! Kalau orang lagi lewat, jangan main sembarang cakar!" omel Arthur pada seorang gadis yang berada di balik pintu dengan jeruji besi itu.

Gadis berambut hitam panjang itu mencengkram jeruji besi pintu sambil melototi sang kapten kapal.

"Kau pasti kapten dari kapal perompak ini, bukan?!" tanya sang gadis.

"Iya."

"Kau jelek sekali dengan alis setebal itu!"

Tiba-tiba muncul perempatan imajiner di kepala Arthur yang menandakan bahwa ia kembali naik pitam. Sudah cukup baginya ketika melihat kelakuan Alfred dan Jett yang sedeng itu, mengetahui bahwa Francis sebagai orang paling menyebalkan dalam hidupnya ada di kapalnya tanpa sebab, ditambah lagi ia lupa bahwa dia punya satu awak kapal lagi, dan sekarang alis kebanggaannya dijelek-jelekkan oleh seorang gadis yang bahkan tidak mengenalnya sama sekali.

"ARGH! APA MASALAHMU HINGGA MENGEJEK ALIS SEKSIKU?!"

"ALIS SEKSI KATAMU?! HAH! MASA ALIS SETEBAL PANTAT GORILA SEPERTI ITU DISEBUT SEKSI?!"

"JANGAN SAMAKAN ALISKU DENGAN PANTAT GORILA!"

"KALAU BEGITU AKAN KUSAMAKAN WAJAHMU DENGAN PANTAT GORILA!"

"NGACA, SONO! BIBIRMU ITU LEBIH TEBAL DARIPADA BIBIR GORILA!"

"APA?! SETIDAKNYA BIBIRKU LEBIH SEKSI DARIPADA ALISMU!"

"OH, YEAH?! COBA KITA BUKTIKAN PUNYA SIAPA YANG PALING SEKSI! ALISKU ATAU BIBIRMU YANG DOER ITU!"

"OOOH! TENTU SAJA BIBIRKU JAUH LEBIH SEKSI!"

Matthew yang sedang memeluk Kumajiro hanya bisa memperhatikan Arthur dan gadis bernama Nesia itu saling adu mulut dengan topik yang tidak jelas. Pria berkacamata tersebut berusaha untuk melerai mereka, tetapi karena suaranya terlalu pelan dan hampir tidak kedengeran maka dia diabaikan begitu saja. Karena tidak enak dengan pertengkaran yang kemungkinan tidak ada habisnya ini, akhirnya Matthew menginjak kaki Arthur.

DHUAK!

"AW! MATTHEW! SEJAK KAPAN KAU ADA DISINI DAN KENAPA KAU BERANI MENGINJAK KAKIKU?!" teriak Arthur histeris sambil mengelus kakinya yang kena injak.

"Ma-maaf, Kapten Arthur!" Matthew membungkuk meminta maaf beberapa kali kepada Arthur. "Bukannya Anda ingin bertemu dengan Lady Nesia untuk membicarakan tentang hal yang jauh lebih penting ketimbang berdebat soal…. Yaaah…. Soal tadi. Dan…. Dari tadi saya ikut bersama Anda."

Sejenak Arthur berpikir tentang yang dikatakan Matthew. Arthur benar-benar merasa bodoh bisa bersikap kekanak-kanakan seperti itu disaat ia hendak membicarakan hal yang serius.

"Baiklah. Ekhem! Lady Nesia…. Maafkan aku yang bersikap sangat tidak sopan pada wanita sepertimu," ucap Arthur berubah 180 derajat dari sebelumnya.

"Ya…. Sekarang kau berusaha bersikap lebih sopan padaku, Kapten alis tebal?" tanya Nesia berusaha untuk memanas-manasi kembali, tetapi itu tidak berpengaruh apa-apa lagi baginya.

"Dengar ya, aku tak mau bertengkar denganmu hanya gara-gara masalah konyol seperti tadi." Kali ini tatapan dari kedua manik emerald-nya memancarkan aura keseriusan dan lebih mengintimidasi ketika menatap langsung Nesia. "Aku hanya ingin bertanya tentang arah jalan menuju kepulauan tanpa nama. Kau pasti tahu, kan?"

"Hah! Sudah kuduga kalian sama saja seperti para perompak lainnya yang juga menginginkan keberadaan kepulauan itu." Nesia berbalik membelakangi mereka dari balik pintu itu dengan kedua tangannya di silangkan di depan dadanya. "Aku tidak akan memberitahukan arahnya dan takkan pernah."

Arthur menyunggingkan seringainya sambil terkekeh pelan. Matthew yang tahu dari dulu reaksi sang kapten yang seperti itu langsung kabur meninggalkan mereka sambil membawa Kumajiro. Maaf saja, Matthew masih sayang nyawa.

"Hehe…. Jadi, kau tidak mau memberitahukannya padaku, begitu?"

"LEPASKAN AKU DARI SINI, KAPTEN ALIS TEBAL SIALAN!"

Kini Nesia semakin mengamuk ketika tubuhnya diikat pada cabang tiang layar kapal dengan posisi terbalik. Berterimakasihlah Arthur kepada Jett yang tadi tidak sengaja bergelantungan secara terbalik gara-gara kakinya tersangkut tali tiang layar, insiden memalukan bagi Jett itu telah memberikan Arthur sebuah ide untuk menghukum Nesia.

Alfred, Jett, Matthew, Michelle, dan Francis sempat speecheless melihat Nesia digantung terbalik begitu. Perlahan mereka berlima menatap horror sang kapten yang tengah terkekeh ngeri.

"A-Artie mon ami…. Setega itukah kau menghukum seorang wanita tak berdaya seperti Mademoiselle Nesia?" tanya Francis dengan nada melankolisnya dan Arthur hanya meresponnya dengan melempar panci kotor ke kepala Francis hingga sang korban terkapar di lantai geladak kapal.

"Kapten Iggy, apa tidak apa-apa dia digantung begitu?" tanya Alfred masih memandang Nesia yang terus mengamuk dengan tubuhnya yang bergelantungan terbalik.

"I-iya, Kapten. Apa tindakan itu tidak terlalu kasar?" tanya pula Michelle.

"Hah?!" Arthur membuang muka sambil bersedekap. "Wanita tanpa sopan santun layak untuk diperlakukan lebih kasar agar dia mau buka mulut."

"Buka mulut seperti itu, Kapten?" tanya Jett sambil menunjuk Nesia.

Mereka melihat Nesia bergelantungan terbalik dengan mulut terbuka yang ditahan oleh beberapa potongan ranting pohon. Mereka pada syok berat.

"BUKAN BUKA MULUT SEPERTI ITU! DAN SEJAK KAPAN KAU SUMPAL MULUTNYA PAKAI POTONGAN RANTING POHON?! AMBIL POTONGAN RANTING ITU KEMBALI ATAU KUBAKAR HIDUNGMU!"

Dan akhirnya Jett menuruti perintah sang kapten.

Arthur kembali mengajukan pertanyaan lagi dengan disaksikan oleh para awak kapalnya, Francis yang masih pingsan setelah dilempari panci, Michelle yang sedang merajut syal, Matthew yang terus-menerus menjawab pertanyaan beruntun Kumajiro yang selalu bilang "Who are you?" padanya, Alfred yang sudah bosan hidup *digampar Alfred* maksudnya bosan menyimaknya, dan Jett yang jongkok di cabang tiang layar menunggu perintah Arthur selanjutnya terhadap Nesia.

"Baiklah, Lady Nesia. Aku tanya sekali lagi. Kemana arah jalan menuju kepulauan tanpa nama?"

Nesia buang muka. "Aku takkan pernah menunjukkannya, sampai mati pun takkan pernah!"

Arthur memutar kedua manik emeraldnya lalu menyeringai sesaat. "Oh, yeah? Sampai mati? Bagaimana kalau baru mau mati?"

Arthur memberi aba-aba pada Jett yang langsung dimengerti olehnya. Jett langsung berayun menggunakan tali tiang menuju Nesia yang masih digantung terbalik.

"Sorry, Lady Nesia."

Jett langsung menendang cabang tiang kapal membuat tiangnya berputar beberapa derajat dengan ujungnya keluar dari area kapal. Nesia yang terikat terbalik di ujung tiang dapat melihat sendiri dimana beberapa ikan hiu bermunculan di bawah laut dekat kapal mereka. Seketika Nesia langsung pucat, keberaniannya hilang, dan ia mulai diterpa panik.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA! HIUUUUUU! AKU BAHKAN BELUM MAHIR BERENANG! ASEM KAU, KAPTEN ALIS TEBAL SIALAN! KAU INGIN AKU MATI TENGGELAM LALU DIMANGSA OLEH PARA HIU ITU?! ALIS TEBAL! LEPASIN GUAAAAA!" teriak Nesia sejadi-jadinya ketika tali yang mengikatnya berayun semakin kencang.

"Aku akan selamatkan nyawamu jika kau memberitahukan arah menuju kepulauan tanpa nama," kata Arthur dengan bangganya karena ia menang banyak.

Demi masa depan Nesia yang enggan mati konyol dalam momen absurd seperti ini, terpaksa Nesia memberitahukannya.

"Pergi saja ke arah barat! Jalan selanjutnya aku kurang ingat, kecuali kau terus berjalan ke arah barat! Jika sampai di lautan yang terasa familiar bagiku, aku akan memberitahukan langkah selanjutnya!" teriak Nesia lagi.

Arthur hanya mengangguk-angguk sambil berpikir sejenak. Merasa jawaban itu agak meyakinkan Arthur kembali angkat bicara.

"Oke, tapi janji beritahukan langkah selanjutnya!"

"Aku janji! Sekarang, LEPASKAN AKU DARI SINI!"

Arthur berjalan ke bawah Nesia yang masih bergelantungan. Ia lesatkan belati hingga memotong tali yang menggantung Nesia kemudian Nesia terjatuh dan ditangkap oleh Arthur sehingga ia mengangkat gadis itu ala bridal style.

"Cieee~ Kapten Iggy nyari kesempatan," goda Alfred sambil menaik-turunkan alisnya.

Merasa jengkel, Arthur melempar Nesia hingga gadis itu menimpa Alfred. Mereka berdua saling mengaduh.

"Aduh…. Kapten sialan! Tidak bisakah kau lebih sopan sedikit terhadap wanita sepertiku?!" teriak Nesia untuk kesekian kalinya masih terduduk menindih punggung Alfred.

"Kapten Iggy mah emang kayak gitu orangnya. Tega!" ucap Alfred berlinang air mata buaya (?)

"Heh? Emang dia orang?"

Akibat pertanyaan Nesia, Arthur kembali melempar Matthew dan Kumajiro ke arah mereka berdua, sehingga Nesia dan Alfred pingsan seketika setelah ditimpa kedua makhluk itu.

"Salah saya apa, Kapten~?" tanya Matthew pasrah akan nasibnya.

"Who are you?"


.

Abstract Fantasia

.


Di dalam sebuah rumah kayu yang kental akan nuansa melayunya, Maya terus-menerus mondar-mandir tanpa henti sambil menggigit jari telunjuknya berusaha meluapkan segala emosi pada telunjuk lentik tanpa dosanya. Andai jari itu mampu berekspresi, sang jari pasti menangis sambil mengaduh karena digigit terus.

Ahmad yang melihatnya sambil duduk di kursi bambu bersama Maria agak pusing dibuat saudarinya yang mondar-mandir kayak setrika kegosongan (?) Maya dibuat kebakaran jenggot oleh fakta bahwa saudari tertua mereka diculik oleh perompak. Tunggu dulu, Maya seorang perempuan dan tidak mungkin punya jenggot *plak!*

Oke, mari kembali ke cerita.

"Akak…. Akak tak pusing kah mondar-mandir terus? Papan yang akak injak makin rata tuh," kata Ahmad sambil menunjuk lantai papan rumah mereka.

"Kau tidak sadar kalau papan itu sudah rata dari sononya?" tanya Maria yang merasa bahwa otak Ahmad sudah mulai konslet.

"…." Raihan cuma diam seribu bahasa sambil membaca buku. Tak menghiraukan kecemasan Maya saat ini.

Maya semakin mengacak-acak rambut sebahunya hingga kerudung yang ia pakai terlepas.

"ARGH! Ini menyebalkan! Kenapa harus si Indon yang diculik?! Kan masih ada banyak orang Asyan lainnya yang tahu letak kepulauan tanpa nama," sembur Maya emosi.

Raihan menyahut, "Cuma beberapa orang yang tahu, Akak…. Tepatnya satu perbanding seribu dari penduduk kepulauan Asyan yang tahu letak kepulauan tanpa nama itu." Kemudian ia kembali membaca buku berjudul 'Tuyul Keselek e*k Babi Ngepet.' "Kenapa kau secemas itu sih mencemaskan Akak Nesia. Kalian 'kan selalu bertengkar."

"Ada kalanya orang yang sering saling berantem itu ngangenin. Khihihik….," goda Maria sambil cekikikan lalu ia mendapat hadiah berupa deathglare dari Maya.

"Aku ingat Akak Maya tsundere, lah. Ahahahahaha…." Ahmad pun ngakak mengingat sifat saudarinya yang satu itu.

BRAK!

Pintu kayu tak berdosa tak bernyawa pula ditendang oleh seseorang tak berperikepintuan (?) Keempat bersaudara itu bengong seketika ketika melihat sosok Yao memasuki ruangan dengan dua wajan menutupi bagian belakang dan depan tubuhnya, panci di kepalanya, dan sendok sayur di tangannya, jangan lupa ia berpakaian seperti itu dengan tampang serius. Melihatnya saja Raihan tak sengaja membanting buku yang ia baca, jika menjatuhkan itu sudah terlalu biasa.

"Kuya Yao….?" Panggil heran Maria sambil menunjuk 'pakaian' yang dikenakan Yao.

"Abang Yao….! Apa yang kau lakukan dengan peralatan masak itu?" tanya Maya berusaha menahan emosinya, pasalnya alat-alat masak yang dikenakan Yao adalah milik keempat bersaudara itu.

"Tentu saja aku mau menyelamatkan adik kecilku Nesia, aru!"

"Kau mau menyelamatkan Akak Nesia atau mau masak berjamaah buat acara syukuran sama para perompak?" tanya Raihan.

"Tentu saja menyelamatkan Nesia, aru!" jawab Yao, "Aku memakai ini karena kita tidak punya baju zirah, aru."

"Lah, mang melawan para perompak perlu pakai baju zirah juga? Kayak perang Medieval aja," ucap Ahmad heran.

"Aiya~ 'Kan buat jaga-jaga biar enggak terluka parah pas bertarung dengan para perompak, aru. Sebenarnya, tanpa pengaman pun aku bisa mengalahkan para perompak itu dengan jurus kung fu milikku, aru. Hiyaaa….! Hiyaaaa….!"

Dengan perabotan memasak sebagai pakaian bertarungnya, Yao memperagakan teknik-teknik kung fu yang selama ini ia pelajari. Yao tinju sana, tinju sini, tendang sana, tendang sini. Keempat saudara melayu itu dibuat kewalahan menghindari segala serangan Yao, seperti Maria yang berusaha untuk menghindar tapi karena tidak sanggup ia langsung lari ke sudut ruangan, Ahmad berusaha menangkis serangan Yao menggunakan kain sarung tapi sarungnya malah bolong setelah kena tendang Yao, Raihan santai-santai saja menghindarinya sambil balik baca buku, toh Raihan juga pernah belajar kung fu juga, Maya juga berusaha menghindarinya sampai-sampai menghindar pakai gaya matrix tapi gagal dan alhasil pinggangnya langsung encok.

Dan ketika Yao mengeluarkan jurus tendangan naga mabok laut (?), sepatunya langsung mental dan….

Syuuuuuuuuuuttttt….!

BHOK!

"Astaga!"

"Abang Yao!"

"Astagfirullah!"

"…."

"…. Aiya?!"

Ternyata sepatunya masuk ke dalam mulut seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Seketika seisi ruangan langsung merinding dengan aura-aura mengerikannya, siapa lagi kalau bukan Ivan.

Ivan langsung membuang sepatu Yao dengan kerasnya ke lantai hingga lantainya bolong, luar binasah! Pria bertubuh paling besar itu langsung tersenyum mengerikan, sangat mengerikan. Keempat bersaudara tadi langsung sembunyi di belakang Yao sambil mendorong-dorong saudara tertua mereka.

"A-ano, aku…. Aku…." Yao kelihatannya kesulitan berbicara saking takutnya.

"Abang Yao pengen menyelamatkan Akak Nesia. Kau tak ikut?" kata Raihan berharap pertolongannya yang satu ini bisa menyelamatkan nyawa abang mereka.

Mendengar kata-kata Raihan membuat tampang mengerikan Ivan langsung berubah menjadi antusias.

"Kenapa kau tidak ajak-ajak aku?! Aku 'kan juga pengen menyelamatkan Nesia!" kata Ivan sebegitu antusiasnya ingin menyelamatkan sahabat paling dekatnya itu.

Mereka berlima sweatdrop sesaat hingga keempat bersaudara kembali ke posisi semula dari sembunyi mereka di belakang Yao dan Yao tetap berdiri di depan Ivan. Akhirnya mereka dapat bernafas lega setelah berhasil lolos dari amukan beruang jadi-jadian itu. Berterima kasihlah pada Raihan yang punya IQ tinggi untuk menyelamatkan mereka.

Yao yang berhasil menghilangkan rasa paniknya tadi mulai bicara pada Ivan, "Bukannya mulai hari ini kau akan kembali bertugas di laut Europa, aru?"

Sebagai komandan keamanan laut, Ivan tentu saja harus kembali bertugas setelah berlibur di negeri mereka. Tetapi situasi ini sangatlah penting bagi Ivan. Dia dan Nesia sudah lama berteman akrab, Ivan sudah terlanjur nyaman bersama Nesia. Jadi dia tidak mungkin tidak ikut menyelamatkan Nesia.

"Tugas bisa ditunda, yang penting aku ikut menyelamatkan Nesia, da!" kata Ivan dengan semangatnya.

Kalau soal Nesia, Ivan benar-benar harus terlibat.

"Ivan, kau tidak ikut kami pulang?"

Dua orang wanita ikut masuk ke dalam ruangan. Satunya wanita berambut pirang pendek dengan dadanya yang besar dan satunya lagi wanita berambut pirang platina panjang dengan muka juteknya yang tidak kalah mengerikannya dari Ivan.

"Eh, Yekaterina, Natalya?" panggil Yao kepada kedua saudari Ivan.

"Ada apa ini? Kok ramai begini?" tanya Yekaterina mulai kepo dengan keadaan ruangan saat ini.

Ivan pun menjawab, "Begini, aku tidak bisa kembali bertugas karena ada masalah penting yang harus diselesaikan. Dan aku harus ikut terlibat juga."

"Memangnya masalah apa, Kak?" tanya Natalya.

"Akak Nesia diculik!" ucap Maya yang terlihat kembali panik.

"Hah? Diculik siapa?" tanya Yekaterina.

"Diculik oleh para perompak!" ucap Maria ikutan panik juga.

Mendengar jawaban mereka membuat Yekaterina ikutan didera panik. Tentu saja ia ikut panik, pasalnya ia juga memiliki hubungan sangat baik dengan Nesia semenjak ia tahu bahwa Nesia adalah teman dekat Ivan selain Yao. Yekaterina sudah menganggap Nesia sebagai saudarinya sendiri.

"Apa?! Adik iparku diculik oleh para perompak?!"

Krik…. Krik…. Krik….

Syuuuuuuuuttttt….

Yao mangap, Natalya syok, Ivan blushing, keempat bersaudara terkejut setelah mendengar salah satu kata antik yang mereka dengar.

Yekaterina bilang Nesia adik iparnya?

Mereka langsung menatap Ivan yang kelihatannya berusaha menutup wajahnya yang memerah menggunakan tangan serta syalnya. Belum pernah mereka melihat Ivan seperti ini, bahkan menurut mereka kesan Ivan yang kelihatan malu-malu kayak gitu terlihat menggelikan. Mengerikan maupun menggelikan tetap saja hasilnya bikin merinding orang-orang sekitar.

"Kakak, apa maksudmu menyebut Nesia sebagai adik iparmu?" tanya Natalya yang tentu saja tidak terima dengan klaim sang kakak tertua.

"Lah? Memang kenapa? Aku memang ingin sekali punya adik ipar macam Nesia."

"Itu berarti kau ingin Ivan dan Nesia menikah, aru?" tanya Yao.

"Tentu saja!" jawab Yekaterina dengan bangganya. "Dan aku juga pengen punya banyak keponakan.

Yao bersama keempat saudaranya benar tidak bisa membayangkan bagaiman jika Nesia menikah dengan beruang mengerikan jadi-jadian macam Ivan. Rasanya mereka tak sudi jika merelakan Nesia bersamanya. Begitu juga dengan Natalya yang selalu terobsesi akan cintanya pada saudara kandungnya itu hingga rela terang-terangan melamar Ivan, dia juga tidak rela.

"Kalau begitu, kami juga ikut!"

"Apa? Kita?" Natalya terlihat tidak sudi. "Aku tidak mau! Nesia pasti bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari para perompak itu."

"Baik!" Yekaterina mencengkram pinggangnya, "Kalau begitu, Yao, aku, dan juga Ivan yang akan menyelamatkan Nesia!"

Mendengar nama Ivan ikut dalam misi penyelamatan Nesia membuat Natalya tidak punya pilihan lain selain ikut juga. Setidaknya jika Natalya ikut, dia bisa mengawasi kedekatan antara kakak tercintanya dengan Nesia, dan jika bisa ia harus mencegahnya.

Yekaterina tersenyum setelah menerima anggukan setuju dari adik bungsunya. "Da! Kita akan bersiap-siap untuk berangkat!" ucap Yekaterina semangat.

Yao menatap keempat saudaranya yang terlihat mulai cemas. "Jangan khawatir, kami akan menyelamatkan Nesia. Kalian tetaplah disini, aru."


.

Abstract Fantasia

.


Huuuaaaaaaaaaa…! Maafkan Author Anzel yang kelamaan posting kelanjutan fanfic ini. Saya kena sibuk ama tugas kuliah ditambah lagi berbagai macam acara yang harus dihadiri di akhir tahun kemaren. Huhuhu…. Jadi merasa bersalah T_T Maaf juga jika fanficnya agak mengecewakan, ya. Anzel bakal berusaha untuk melanjutkan fanfic ini.

Adios….