PELUK

Harry Potter kepunyaan JK Rowling.

The Serial kepunyaan ambu XD

Didasarkan pada Pulang. James Sirius Potter baru berusia sekitar lima tahun

Dalam waktu tak tentu, biasanya ada kumpul-kumpul keluarga. Baik yang direncanakan maupun tidak. Tetapi selalu saja ramai. Keluarga Harry saja jumlahnya lima orang, plus Severus. Keluarga Ron. Keluarga Bill, keluarga George, keluarga Remus, kadang bahkan keluarga Percy ikut serta.

Tapi suasananya selalu seperti ini, ramai. Anak-anak menjerit-jerit berlarian berkejaran. Salahsatu atau salahdua mengadu pada orangtuanya tentang si anu yang begitu begini. Dan orangtuanya hanya bisa menahan tawa. Sambil mereka mengobrolkan hal-hal sepele maupun hal-hal 'penting' lainnya. Sambil menghabiskan hidangan. Ibu-ibu bertukar resep makanan maupun tips dapur. Bapak-bapak bertukar gosip 'politik'.

Dan ia biasanya mencari tempat menyendiri, di sudut. Dengan secangkir kopi. Oya, tentu saja mereka sudah makan bersama, duduk melingkari meja, bercakap gembira. Selesai hidangan utama, biasanya mereka mulai berdiri, mengambil kopi, mengelompok dan meneruskan pembicaraan.

Biasanya tak akan ada yang protes kalau ia menyendiri. Toh ia sudah bergabung dengan mereka saat makan bersama tadi, sudah ikut bercakap, kadang ikut tertawa kecil pada humor-humor mereka. Kalau sesudahnya ia menyendiri, semua sudah mafhum.

Bahwa ia tak terbiasa bercakap banyak. Bahwa ia tak biasa tertawa keras-keras dan spontan, seperti George dan anak-anak kecil itu. Tapi semua juga mafhum bahwa ia tak terganggu atas semua itu.

Jadi biasanya ia dibiarkan. Tentu, tidak untuk waktu lama. Molly akan datang mengganggu dengan pie jenis baru, yang harus dicobanya. Anak-anak bergantian minta tolong atas sesuatu. Atau anak-anak datang mengadukan hal-hal yang tidak dihiraukan orangtua mereka—dan last resort mereka adalah Grandpa tentu saja.

Ada rasa sesak di dada yang tidak ia ketahui darimana datangnya.

Rasa sesak yang jauh berbeda dengan apa yang dulu pernah ia rasa. Yang familiar. Yang sudah terbiasa ia rasakan. Rasa yang ia pikir, akan selalu bersamanya, selama-lamanya.

Saat ayahnya selalu mengucapkan kata-kata kotor, kata-kata kasar, mengucapkan penghinaan, merendahkan mengecilkan. Dadanya selalu sesak oleh amarah.

Saat di sekolah, tak terhitung kata-kata penghinaan, ejekan, sindiran. Kau tahu dari siapa. Belum lagi jika kau bercakap-cakap dengan sesama Slytherin, yang tak pernah jauh dari kata-kata negatif. Semua memicu amarah. Suasananya selalu penuh angkara. Yang sebagian besar hanyalah bisa ia pendam, ia kubur dalam-dalam. Sesak.

Bertambah sesak saat ia mulai meniti karir di Pelahap Maut. Semakin tinggi posisinya, semakin sesak dadanya. Semakin banyak yang harus ia simpan, semakin banyak yang tak bisa ia keluarkan.

Apalagi saat Lily—

Tak ada yang bisa ia jadikan pelimpahan. Ia hanya bisa menyimpan semua dalam-dalam, berharap bisa menggali tanah lebih dalam, dan menyimpan beban lebih banyak. Dan semakin sesak. Dan semakin sesak. Dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan.

Menjadikannya semakin terbiasa. Menggali dan menyimpan. Dan bertambah sesak. Bertambah pedih. Bertambah perih.

Ia semakin tak tahu artinya lega.

Apalagi saat ia mulai dituntut aktif di Pelahap Maut. Menyaksikan sendiri apa saja yang menjadi kegiatan sehari-hari. Belum lagi 'menikmati' santapan rutin, Crucio, atau sejenisnya. Semakin gelap hari-harinya, semakin banyak tumpukan sesaknya. Membuatnya terbiasa. Bisa dibilang kebal, walau ia tahu rasa itu masih ada.

Ia percaya, bahwa jalannya memang gelap. Ia percaya bahwa kehidupan memang kelam. Ia hanya tahu bahwa pilihan hanya terdiri hal-hal kejam. Semua hal dalam kehidupan ini hanya terdiri dari unsur penambah sesak.

Dan klimaksnya, ia percaya bahwa tibalah akhir itu untuknya. Segala berakhir. Tamat. Semuanya gelap, semuanya sesak, diakhiri dengan ketiadaan—

.

.

.

.

—ia benar-benar tidak terbiasa.

Ia seakan tak percaya bahwa dunia juga terdiri dari cahaya, dari udara bersih untuk bernapas, terdiri dari kelegaan.

Ia masih tak percaya bahwa ini semua kepunyaannya juga. Ia masih percaya bahwa miliknya hanyalah kelam, hanyalah gelap, hanyalah sesak.

Ia masih tak percaya bahwa terang juga untuknya, lega juga untuknya. Jeritan gembira anak-anak berkejaran, juga untuknya. Tawa lepas itu juga untuknya. Peluk bahagia itu juga untuknya.

Ia masih tak mengerti, bahwa ia punya rasa yang berbeda. Ada rasa sesak setiap kali ia melihat semua suasana saat ini. Rasa sesak yang berbeda, berbeda dengan rasa sesak yang dulu ia simpan dalam-dalam.

Yang dulu ia hindari untuk mengeluarkannya.

Tapi kali ini, ia tak kuasa menghindari.

Dua butir mutiara cairan itu membentuk, dan meluncur turun menelusuri wajahnya—

.

.

.

"—Grandpa?"

Cepat-cepat Severus memalingkan muka, menyeka airmata yang turun. Dan menghadapi balita banyak tanya ini—

"Ada apa, James?"

Cekatan balita ini menaiki tangan kursi, naik ke ambang jendela dekat Severus, sehingga tingginya menjadi sama dengan Severus. Lebih tinggi malah. Kepala Severus berada tepat di dada bocah mungil ini—

—dan ia memeluknya erat.

Terheran-heran, Severus balas memeluknya.

"Mum bilang, kalau aku menangis, tapi bukan karena terjatuh dan kakimu luka, peluk saja begini—"

Dan James mengeratkan pelukannya.

Detak jantung kecil itu terdengar jelas di telinga Severus. Harmoni yang merdu. Menenangkan.

Severus balas mengeratkan pelukannya.

Sesak itu tak ada lagi.

Lega.

FIN