"Berjanjilah…untuk tidak mati, Corporal!"

DUAR!

Langkah Eren dan para tentara yang sedang mengawalnya pun berhenti setelah mendengar suara tembakan dari arah belakang mereka. Sontak Eren membalik badan dan melihat Levi seperti didekap oleh pria bertopi itu. Sosok berat yang mendekapnya itu kemudian merosot turun sampai jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri. Kini tinggal Levi yang berdiri sambil menggenggam pistol di kedua tangannya.

"Keh…tidak adil, bukan?" gumamnya lirih sebelum kemudian dia terbatuk memuntahkan darah segar. Dia pun ambruk di tanah.

"Corporal!" seru Eren kemudian berkutat lepas dari para tentara itu dan berlari kembali menghampiri Levi. "Demi Tuhan, Corporal! Buka matamu!"

Gunther yang ikut berlutut di dekat Eren langsung memeriksa keadaan pemimpinnya yang sudah tidak berdaya ini. 3 luka tembak pertama sudah melumpuhkannya, sekarang ditambah lagi luka robek di perutnya yang cukup panjang dan dalam. Pria bertopi itu menusuknya dengan sebilah pisau. Darah segar mengalir keluar dari perutnya. Dilanda kepanikan, dia menyuruh anak buahnya menghubungi petugas medis untuk menyembuhkan luka Levi. Namun kemudian laki-laki berambut hitam itu mencegahnya, "Tidak usah, Gunther…"

"Tapi Anda sekarat, Corporal!" balas Gunther.

"Corporal!" seru Eren sambil menggenggam erat tangan Levi. "Kau berjanji tidak akan mati, kan? Kau bilang akan segera menyusulku, kan? Tapi kenapa…uuukh…!"

Nafas Levi tersengal, denyut jantungnya semakin melemah. Dengan tenaga yang tersisa, Levi mengangkat satu tangannya dan memegang wajah Eren. Dia berkata, "Maafkan aku, Eren. Rasanya aku tidak bisa memenuhi janji itu."

And I've lost who I am, and I can't understand

Why my heart is so broken rejecting your love?

"Tidak, Corporal! Kau tidak boleh mati! Demi Tuhan, aku tidak ingin melihatmu mati!"

Levi mencoba tertawa dan berkata, "Tapi aku senang kau tetap hidup, Eren. Aku sudah memenuhi janji kepada kedua orangtuamu untuk menyelamatkanmu, sekali lagi…"

"Aku juga ingin kau selamat dari maut, Corporal! Aku mohon…bertahanlah…" air mata Eren kini sudah tidak bisa ditahan. Dia mengisak sejadi-jadinya. Hati Levi terasa jauh lebih sakit melihat Eren seperti ini ketimbang luka robek di perutnya. "Hey Eren…" katanya lirih. "Lihat sini, lihatlah mataku. Dengarkan aku…"

Eren menatap kedua mata kelabu Levi dalam-dalam, tidak peduli pandangannya dikaburkan oleh air matanya. Levi melanjutkan, "Seorang tentara tidak boleh meneteskan air mata, di atas semua penderitaan dan rasa sakit. Kau bilang ingin menjadi seorang tentara seperti aku, kan? Tidak peduli seberapa sakit luka yang kau dapat, kau harus tetap tegar dan kuat berdiri dengan kedua kakimu. Dengan begitu, kau tidak akan pernah terkalahkan. Kau mengerti, Eren?"

"Iya…iya…uuuurgh…aku mengerti, Corporal…" jawab Eren masih mengisak.

"Anak baik…" kata Levi masih mencoba menggerakkan jari-jarinya yang dingin di pipi Eren. "Menemukanmu hidup di bawah runtuhan bangunan sekolah itu adalah sebuah keajaiban. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana denyut jantungmu kemudian kembali terdengar saat aku memompa dadamu. Kau…sumber kekuatanku…Eren…"

"Sudah cukup, Corporal. Jangan bicara lagi, kumohon…"

"Hey, Gunther. Dengarkan perintah terakhirku," kata Levi kemudian beralih kepada Gunther.

"Saya mendengar Anda dengan jelas, Corporal," jawab Gunther mencoba menahan tangisnya.

"Pimpinlah pasukan kita sampai akhir pertikaian menyebalkan ini. Jauhkan para warga dari ketakutan dan segala ancaman. Perjuangan kita belum berakhir."

"Anda…adalah satu-satunya pemimpin kami, Sir."

"Kau akan menjadi satu-satunya sekarang, Gunther. Bawa pasukan kita ke baris depan. Aku percayakan semuanya padamu…"

"Y-yes, Sir!" kali ini Gunther menjawab dengan tegas, tidak peduli air matanya sudah tidak lagi bisa dibendung di kelopak matanya.

"Hey Eren," Levi kembali beralih kepada Eren. "Kau tahu? Aku…ukh!" Levi terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Nafasnya sudah terputus-putus, tetapi dia masih mencoba berbicara sebisanya. "Aku…sungguh mencintaimu, Eren…"

Kata-kata Levi ini membuat air mata Eren kembali berderai. Dia bahkan tidak bisa membalas apa pun. Hatinya hancur lebur mendengar kesungguhan Levi mengatakan hal itu padanya. "Maafkan aku tidak bisa terus mendampingimu sampai kau tumbuh dewasa. Aku hanya ingin kau berjanji kalau kau tidak akan melupakanku, Eren."

"Aku tidak akan melupakanmu, Corporal," balas Eren. "Sungguh, aku tidak akan pernah melupakanmu! Karena aku juga mencintaimu!"

Levi kembali terbatuk dan kini seperti tersedak. Di ujung lelahnya, dengan kekuatan seadanya, dia berkata, "Terima kasih, Eren. Terima kasih, Gunther. Terima kasih…semuanya…"

All is lost, hope remains

And this war is not over…

-000-

Setahun sejak peristiwa berdarah itu, situasi kota Shigansina berangsur kondusif. Para warga yang mengungsi ke kota sebelah pun sudah kembali ke rumah mereka. Perbaikkan pun dilakukan di semua tempat, terutama fasilitas umum seperti gedung sekolah, rumah sakit, dan pasar. Sistem pemerintahan negeri itu pun sudah kembali normal. Setelah mencapai kesepakatan pada perdebatan alot para wakil rakyat, akhirnya mereka memutuskan untuk mempunyai pemimpin baru. Kelompok bersenjata anti-pemerintah pun sudah berhasil diamankan. Tidak akan ada lagi teror lain yang mengancam perdamaian negeri ini.

Aktifitas warga pun sudah kembali berjalan seperti biasa. Begitu pula dengan Eren yang pagi ini harus berangkat ke sekolah. Dia nyaris lupa membawa bekalnya karena hampir terlambat. "Aku berangkat dulu, Bu!" serunya sambil berjalan keluar dari rumah setelah pamit dengan ibunya.

Di luar rumah, dia sudah ditunggu oleh 2 teman sekolahnya, Jean dan Marco. Ketiganya berjalan kaki pergi ke sekolah.

"Cobalah untuk belajar bangun pagi, Eren," keluh Jean yang sudah menunggu Eren selama kurang lebih 15 menit.

"Aku sudah bangun pagi kok!" balas Eren tidak terima. "Tapi setelah mematikan alarm dan cuci muka, aku tidur lagi di depan TV."

"Dasar bodoh, itu sama saja dengan kau tidak bisa bangun pagi kan?"

"Ya ya, terserah apa katamu, Jean."

"Jean juga tidak bisa bangun pagi kok, Eren," kata Marco. "Karena rumahnya terletak di depan rumahku, aku bisa mendengar ibunya marah kalau Jean masih tidur."

Eren tertawa, "Jangan menceramahiku kalau kau tidak bisa bangun sendiri, Muka Kuda!"

"Kau bilang apa, Eren?" balas Jean tidak mau kalah.

"Ayolah, teman-teman. Ini masih pagi. Simpan energi kalian untuk pelajaran olahraga hari ini."

Butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk mereka berjalan kaki ke sekolah. Saat sudah hampir tiba di sekolah, Eren menghentikan langkahnya dan melihat ke seberang gedung sekolah. "Kalian masuklah dulu ke kelas," katanya.

"Kau mau apa, Eren? 30 menit lagi bel pelajaran pertama akan dibunyikan," cegah Jean.

"Aku ingin mengunjungi seseorang…" dengan hati-hati, Eren menyeberang jalan ke sebuah pemakaman kecil. Oleh warga setempat, yang dimakamkan di situ adalah para tentara yang gugur di peperangan melawan kelompok bersenjata anti-pemerintah. Berkat kegigihan dan keberanian mereka, kota Shigansina berangsur kembali aman dan damai. Makam kecil itu tidak hanya berisi deretan batu nisan, melainkan hiasan macam-macam bunga juga ada di sana. Langkah Eren berhenti di sebuah nisan bertuliskan Levi Ackerman. Sempat memandangi nisan itu cukup lama, Eren lalu duduk bersila di depan nisan itu dan berkata, "Selamat pagi, Corporal. Senang bisa bertemu denganmu lagi…"

Dari dalam tasnya, dia mengeluarkan rangkaian bunga baby's breath yang dibentuk melingkar. Setahun yang lalu, dia sudah pernah membuatkan rangkaian bunga yang sama dan akan diberikan kepada orang yang kini terkubur di bawah nisan itu. Saat itu Levi menyuruhnya menyimpannya terlebih dulu. Dia berjanji akan mengambilnya setelah selesai berperang. Sayangnya, di tengah peperangan, Levi gugur dan tidak bisa memenuhi janjinya. Karena kota Shigansina dalam situasi genting saat itu, Eren dan semua penduduk pun mengungsi ke kota lain sampai situasinya benar-benar kondusif. Kira-kira 2 bulan yang lalu, dia kembali ke kota ini. Baru sekarang dia bisa mengunjungi makam Levi.

"Maaf tidak mengunjungimu dalam waktu lama, Corporal. Kota ini baru aman beberapa bulan setelah peperangan itu berakhir. Seperti yang kau minta, aku menyimpan baik-baik karangan bunga baby's breath ini di kamarku. Hanya saja sekarang sudah mengering meski bentuknya masih terlihat bagus. Aku harap kau suka, Corporal. Paling tidak, bisa menjadi hiasan sederhana di tempat peristirahatanmu ini."

Eren meletakkan karangan bunga itu di atas nisan. Dia memejamkan mata dan memanjat doa. Tak lama dia membuka matanya, Jean dan Marco menghampirinya. Mereka berdiri di dekat Eren.

"Siapa dia, Eren?" tanya Jean.

"Dia…pahlawanku, Jean," jawab Eren sedikit lesu. "Aku menjadi saksi atas kematiannya di peperangan itu."

"Lance Corporal Levi Ackerman," kata Marco membaca tulisan yang tertera di batu nisan. "Dia mempunyai pangkat tinggi di militer. Bagaimana kau bisa kenal dengannya, Eren?"

"Dia pernah menyelamatkanku dari reruntuhan puing bangunan sekolahku yang dibom oleh para pemberontak. Jika dia tidak menemukanku saat itu, mungkin aku sudah mati, Marco. Sejak saat itu, dia jadi sering berkunjung ke rumah kalau sedang mendapat giliran bertugas patroli. Siang atau malam, dia pasti akan datang."

Jean mengangguk paham. Dia berkata, "Kau bilang kalau kau menjadi saksi atas kematiannya. Bagaimana mungkin kau bisa berada di dekatnya saat itu, Eren?"

Sedikit sulit menghapus kengerian atas kejadian itu, Eren kemudian menjawab, "Saat aku dan keluargaku hendak mengungsi, rumah kami dibom. Corporal Levi datang bersama anak buahnya untuk menyelamatkanku dan keluargaku. Di tengah jalan, kami dihadang oleh salah satu pemberontak yang kemudian menusuk perut Corporal hingga tewas."

"Tidak mungkin…" gumam Marco terkejut. "Pasti sangat mengerikan, Eren. Maksudku, aku tahu bagaimana perasaanmu saat itu."

"Memang sangat memngerikan," kata Eren. "Rasanya seperti kehilangan satu kakiku. Butuh waktu cukup lama untukku menerima kematiannya."

"Apa dia berpesan padamu sebelum mati, Eren?" tanya Jean kemudian berjongkok sambil memegang batu nisan Levi.

"…Ya, dia banyak berpesan padaku. Sampai di ujung lelahnya, dia masih mencoba menasehatiku. Dia…memintaku untuk tetap hidup dan tumbuh menjadi orang yang kuat."

Dada Eren sedikit sesak saat mencoba mengingat pesan terakhir Levi. Dia melanjutkan, "Aku harus tetap tegar dan kuat untuk berdiri di atas kedua kakiku sendiri. Kita sudah melewati masa-masa mengerikan itu. Kita terbebas dari rasa takut berkat jasa-jasa mereka, benar? Pesan terakhirnya adalah aku tidak boleh melupakannya. Sedikit pun kenangan yang kudapat darinya akan selalu kuingat sampai kapan pun."

Marco menepuk bahu Eren dan berkata, "Pesan itu sepertinya bukan hanya untukmu saja, Eren. Tetapi untuk semua orang yang saat ini masih menjalani hidupnya seperti biasa."

"Aku bisa mengerti mengapa dia menginginkanmu bertahan hidup, Eren," sambung Jean kemudian berdiri menghadap Eren. "Karena dia sangat menyayangimu. Sebagai apa pun yang berharga di dunia ini."

"Jean benar. Corporal Levi sangat menyayangimu, Eren. Meski dia tidak berada di sini sekarang, aku yakin perasaannya tidak akan pernah hilang untukmu."

"Jean, Marco…" gumam Eren sambil memandang wajah kedua sahabatnya. "Ah, kalian ini bicara apa sih? Hahahaha…!"

"Kau selalu terlihat sendu, bodoh! Makanya bersemangat sedikit lah!" kata Jean sambil meninju pelan lengan Eren.

"Apa sih, Jean?" balas Eren juga meninju lengan Jean.

"Ah, sebentar lagi bel berbunyi! Ayo cepat kembali ke sekolah!" kata Marco mengajak keduanya berlari kembali ke gedung sekolah.

Tiba di depan gerbang, Eren kembali membalik badannya menghadap makam kecil itu. Dari posisi dia berdiri, dihalangi bayangan batang pohon, dia seperti melihat sosok Corporal Levi sedang berdiri menghadap padanya. Sosok itu mengangkat rangkaian bunga yang diletakkan di batu nisannya dan mengenakannya di atas kepalanya. Dia melambaikan tangannya sebelum kemudian menghilang dibalik beberapa kendaraan yang melintas di jalanan.

There's a light, there's the sun, taking all shattered ones

To the place we belong and His love will conquer all…

-the end-


A/N : helloooooo! Balik lagi saya di fandom SnK. Hihihihi…sekali lagi saya nulis tentang Levi/Eren. Kali ini rating super aman kok! Jadi siapa aja boleh baca. Kecuali yang gak suka dengan pairing ini, juga tema ceritanya, kalo gak suka ya jangan baca, OK?

Oh ya, karena saya lagi suka banget sama lagunya Trading Yesterday dg judul Shattered, akhirnya saya bikin fanfic ini dengan menyelipkan bagian lirik lagunya. Mau baca cerita ini biar dapet feelnya, bisa lho sambil dengerin lagunya XD

Comment/review please! No FLAME! Thank you ^^