Sekarang jooyeon sedang berjalan kearh kafe di belakang halte tempat ia dan chanyeol akan membuka ponselnya yang barusan bergetar sambil menggerak gerakan bahunya yang agak pegal.
"hei nam, aku akan menjemputmu dihalte, tunggu aku disana 15 menit dari sekarang!"
"baiklah, aku berada di cafe belakang mau sesuatu?"
"espresso satu."
Ia kemudian menutup ponselnya dan segera masuk kedalam.
Jooyeon membuka pintu, dan berjalan masuk sambil menghirup dalam dalam aroma kopi bercampur vanila. Warna coklat dan kuning gading melayang layang didalam cafe tersebut.
"satu espresso dan satu choco frappe-"
Jooyeon tercekat saat ia melihat siapa yang berdiri di belakang meja kasir,
"O..oppa"
Pemuda bertopi coklat itu mengangkat sedikit kepalanya agar ia bisa mengenali wajah itu, matanya membulat sempurna saat ia telah mengenali perempuan yang berada tepat didepannya.
"Jooyeonie~" lirihnya pelan.
*
Jooyeon mengecap minuman cup ukuran large miliknya sambil menunggu kedatangan chanyeol yang katanya akan datang dalam waktu 15 menit.
Dasar lelaki penuh wacana.
Mencoba menepis pikirannya tetang chanyeol, jooyeon kemudian melirik laki laki didepannya.
Oppanya tidak banyak berubah, tapi agak lebih tirus dari terakhir kali mereka berdua bertemu. Tepatnya 3 tahun yang lalu.
"Bagaimana keadaan ibu dan ayah?" Jooyeon mulai mencoba memecahkan keheningan.
Lelaki didepannya tertunduk sedikit dan kembali menatap jooyeon setelah ia yakin dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya
" sudah bercerai beberapa tahun yang lalu." Jelasnya.
Ada sedikit rasa tertohok didada jooyeon saat mendengar kedua orang tuanya telah bercerai,ia tau bahwa keluarganya tidak akan pernah utuh.
Jooyeon menarik napasnya dan menggenggam tangan oppanya.
"Nam joo hyuk~ssi" panggilnya.
Ia menatap oppanya dalam dalam.
"Aku tau kita dilahirkan dikeluarga yang tidak harmonis,aku dan kau,bahkan kita semua tidak mengharapkan terlahir dikeluarga yang seperti ini. Tapi oppa, kau bukan lah diriku yang ditinggalkan oleh mereka. Aku tau kau sanggup melewati ini semua."
"Kau benar jooyeon harusnya tidak seperti ini. Aku lah yang mengacau kan hidupku sendiri,aku hanya merindukan keluarga kau lihat kan betapa lemahnya aku tanpa kalian."
Jooyeon tersenyum,"aku akan selalu ada untuk mu,oppa."
Memang, beberapa saat setelah jooyeon di buang oleh orang tuanya, ia harus bertahan hidup sendiri di dunia luar, ia harus mengetahui betapa beratnya hidup di usia menginjak 6 tahun. Dan ia sudah cukup mengerti bahwa orang tuanya tidak menginginkan dia. Kecuali oppanya.
Oppanya selalu datang dan memberinya makanan dan minuman dan merawatnya dari jauh tanpa diketahui oleh ayah dan ibunya. Ini salah satu alasan mengapa jooyeon sangat menyayangi oppanya.
Drrrttt..
Ponsel jooyeon sedikit bergetar karena ada pesan yang masuk.
Ia segera membukanya.
"Kau dimana nam? Aku sudah didepan halte."
"Baiklah aku kesana sekarang."
"Tampaknya gadis kecil ini sekarang sudah punya kekasih ya?" Ujar oppanya yang membuat semburat dipipinya muncul.
"Ti-tidak, itu bukan pacar ku, dia hanya mengajakku untuk mencari bahan untuk praktik besok." Jelas jooyeon yang membuat oppanya semakin tersenyum.
"Baiklah, hati hati dijalan, adik kecil ku."
Sementara jooyeon keluar sambil melambaikan tangan kepada oppanya.
Jooyeon mengedarkan pandangannya kesegala arah untuk mencari mobil sport warna merah milik ia menemukannya, ia segera menyeberang jalan dan menghampiri si pemilik mobil yang berada didalamnya.
"Hei!cepat masuk!" Suruh chanyeol sambil menyalakan mobilnya.
Tanpa disuruh pun jooyeon memang berniat masuk kedalam mobil.
"Kau telat 10 menit." Ujar jooyeon sambil memberikan pesanan chanyeol kepada pemiliknya.
"10 menit kan tidak membuat mu tua ditempat." Balas chanyeol membela dirinya.
"Baiklah,kau menang." Ucap jooyeon mengakhiri perdebatannya dengan chanyeol.
Jooyeon mengamati warna yang sedang berterbangan disekeliling chanyeol dan mendominasi warna yang sudah ada didalam mobilnya dari tadi.
Ia mengernyit kan dahinya.
"Ada apa?" Tanya chanyeol yang mengetahui ada yang mengganggu pikiran jooyeon.
"Kau ganti parfum?" Tanya jooyeon sambil mengamati warna apa yang sedang ia lihat sekarang.
"Ya,sebelum kesini aku membeli nya. Tapi bagaimana kau tau?" Sekarang giliran chanyeol yang mengernyitkan dahinya.
Jooyeon melirik sedikit kearah chanyeol yang sekarang sedang menyesap espresso-nya.
"kan sudah kubilang aku akan menjadi parfumer."
"Mm..baiklah.." jawab chanyeol sekedarnya.
Ia masih penasaran,jawaban yang jooyeon berikan tidak membuatnya puas, tapi ia tidak melanjutkan pertanyaannya.
"Kau belum kembali kerumah?" Tanya chanyeol mengganti topik yang hanya dibalas dehem-an oleh jooyeon.
"Memangnya kau habis dari mana?" Tanya chanyeol yang berusaha memperpanjang topik pembicaraan.
"Menyelamatkan dunia." Balas jooyeon singkat.
Chanyeol melirik sekilas kearah jooyeon yang sedang sibuk menyedot minuman ditangannya.
Dan tanpa disadari pemiliknya,ujung bibir chanyeol terangkat sedikit demi sedikit membentuk yang berbeda dari senyumnya yang biasa.
"jawaban macam apa itu." protes chanyeol sambil diiringi oleh kekehannya.
Jooyeon terlihat kesusahan dengan semua barang bawaannya.
Chanyeol yang berjalan dibelakangnya langsung mengambil alih belanjaan jooyeon dari tangan jooyeon dan membawakannya.
"Berikan semua padaku." Ujar chanyeol.
Jooyeon pun menurut karena tangannya sudah kaku karena membawa kantung belanja dari tadi.
"Kenapa kau mengganti parfummu?" Tanya jooyeon sambil mensejajarkan jalannya dengan chanyeol.
"Kau cepat bosan ya?" Lanjutnya lagi.
"Memang apa pentingnya kalau aku mengganti parfum ku?" Chanyeol melirik jooyeon sekilas.
"Parfum itu melambangkan dirimu, aku lebih suka wangi parfum mu yang lama."
"Kenapa?"
"Ya karena itu sangat melambangkan dirimu." Jawab jooyeon singkat.
Chanyeol menghela napasnya berat, ia berpikir kalau jooyeon akan menyukai parfum barunya.
"Tapi aku suka saja jika kau yang memakainya, kurasa kau cocok untuk segala jenis parfum."
Kalimat barusan.
Membuat senyum yang tak biasa itu datang lagi,sekarang dengan kesadaran penuh pemiliknya.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan mengganti parfumku setiap hari." Chanyeol benar benar bersemangat. Seperti jerapah sedang jatuh cinta.
Kalian tau wujud jerapah sedang jatuh cinta seperti apa? Ya seperti chanyeol saat ini, berjalan kesana kemari,menebar senyum tiga -tidak- LIMA jarinya. Sekali lagi ku katakan. Benar benar senyum lima jari.
Jooyeon menarik ujung hoodie yang dipakai chanyeol.
"heh jerapah gila! Apa kau tak lelah berjingkrak jingkrak seperti itu?" jooyeon membulatkan matanya saat melihat chanyeol didepannya sudah bergelayutan di tiang ayunan.
Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 , tapi jooyeon dan chanyeol masih berada di tengah tengah taman bermain untuk anak anak.
Jooyeon tidak tahu bahwa kalimat yang ia lontarkan saat belanja tadi menjadi semacam pemacu hormon endorfin bagi chanyeol.
"Chanyeol. Ayo kita beli es krim." tanpa perlu balasan dari chanyeol, jooyeon langsung menarik chanyeol ke toko kelontong yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Mereka kembali membawa es krim ditangan mereka masing masing, dan duduk bersebelahan di ayunan.
"Terkadang aku merasa kau punya kekuatan untuk melihat macam macam wangi parfum."
Mendengar ucapan chanyeol barusan, dengan spontan jooyeon menjadi tersedak.
"A-apa maksudnya? Aku tidak mengerti." sanggah jooyeon yang masih tersengal sengal sisa dari tersedak barusan.
"Ya aneh saja, habisnya kau bisa tau parfum apa yang aku pakai, kapan aku ganti parfum, atau semacamnya. Jangan jangan kau menguntit ku yaa?!" tuduh chanyeol tiba tiba.
"kita kan baru bertemu hari ini. Kau bodoh atau apa sih?!" balas jooyeon sebal.
Jooyeon berpikir chanyeol akan mencurigainya atau menatapnya dengan intens sambil menginterogasinya,sampai sampai tersedak, ternyata hanya seperti ini.
Dasar park GILA chanyeol
"Ayo kita pulang." jooyeon bangkit dari duduknya dan menarik chanyeol dari posisinya untuk berdiri.
"tunggu!" cegah chanyeol sambil menarik jooyeon kearahnya.
Demi apapun wajah chanyeol sangat indah bila dilihat dari dekat. Kalian harus merasakannya benar dekat. Jooyeon bisa mengamati lekukan lekukan wajah chanyeol yang sempurna dari dekat.
" Ada sisa es krim di bibirmu." ujar chanyeol sambil menyeka pangkal bibir jooyeon.
Deg!
Dengan seketika detak jantungnya memacu dengan cepat, dan tiba tiba saja lututnya melemas.
Dalam hati jooyeon memaki maki chanyeol yang berbuat sedemikian rupa pada kenapa juga ia harus salah tingkah sih! benar benar memalukan!
Perjalanan cinta jooyeon akan dimulai sebentar lagi,.
.
.
.
.
.
hai guys,thanks udah sempetin baca. plis banget kasih review.
gue mau liat pendapat kalian tentang ff ini.
sampai ketemu di chapter selanjutnya.
