A/N:
Sebelumnya mohon maaf jika reader sekalian nggak nyaman membaca bagian prolog. Ada kesalahan sedikit waktu saya mempublish ff ini. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah bisa saya perbaiki.
.
CHAPTER 2
Pakaian berserakan di lantai, kertas-kertas bekas yang membentuk gundukan, mainan anak-anak dan kepingan DVD tersebar di berbagai tempat, bungkus-bungkus makanan bercecer, dan potongan pizza yang menempel di langit-langit (untuk yang satu ini, Kyuhyun bahkan tak habis pikir bagaimana benda itu bisa berada di sana) adalah pemandangan mengerikan yang ada di kamar seorang Lee Donghae. Ruangan luar biasa luas itu juga terasa pengap dan lembab. Dan hal tersebut tidaklah mengherankan, mengingat jendela lebar yang ada di sana hampir tak terlihat karena tertutup oleh gunungan baju kotor.
"Bagaimana? Kau bisa membersihkan ini semua, Cho ahjussi?" tanya sang tuan muda. Ia tengah menyandarkan punggungnya pada ambang pintu.
Jadi ini tugas pertama untukku? Membersihkan neraka ini? Kyuhyun hanya tersenyum kecut. Ia harus merelakan sepatu kerjanya menginjak ceceran pudding basi di karpet. Pasti butuh waktu yang tidak sebentar untuk membereskan semua pakaian itu, menata mainan-mainan yang jumlahnya sama sekali tak bisa dibilang sedikit, ataupun mengepel lantai dan dinding dari noda bekas makanan. Dan tentu saja, membuat ruangan itu harum kembali dari bau makanan basi yang bisa membuat siapapun memelintirkan hidung.
"Saat aku kembali nanti, kamarku harus bersih seperti semula, Cho Hyujun ahjussi."
"Ah, pastikan semua mainanku tertata rapi, agar aku mudah mencarinya!"
"Juga jangan membuang barangku sembarangan! Yak, kenapa diam saja? Kau mendengarkanku atau tidak, huh?!" nada suara Donghae meninggi ketika ia menyadari Kyuhyun tak bergeming sembari membelakangi dirinya.
Donghae hendak mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu Kyuhyun, namun sebelum ia sempat melakukannya, sang bodyguard telah bertindak cepat. Kyuhyun membalikkan tubuhnya dengan gerakan mendadak, mengunci pergelangan tangan Donghae, kemudian mendorongnya hingga membentur dinding. Donghae hanya memelototkan matanya dengan horror, ia tidak berteriak karena terlalu terkejut.
"A-apa yang–"
"Sssht…" Kyuhyun berdesis, menyentuhkan jari telunjuknya ke bibir Donghae, memberi isyarat agar pemuda itu diam, "sepertinya ada beberapa kesalahpahaman di sini, tuan muda Lee Donghae. Sebelum aku menjalankan tugas, kau harus mendengar apa yang akan kukatakan."
Sang brunette berusaha untuk melepaskan diri dari kungkungan itu, namun Kyuhyun tentu saja tidak membiarkannya. Ia semakin mendekatkan tubuhnya, memenjarakan Donghae di antara dirinya sendiri dan dinding kamar. Kedua mata Kyuhyun menatap pemuda di hadapannya dengan tajam, seolah ia adalah singa yang siap menelan mangsa bulat-bulat. Mau tidak mau Donghae merasa terintimidasi, namun ia tetap mempertahankan wajah kerasnya.
" Pertama," Kyuhyun berucap dengan suara lirih, namun mengerikan, "aku adalah bodyguard, bukan baby sitter-mu, aku bertugas untuk melindungi dan menjagamu, tapi tentu saja bukan membereskan semua keributan yang sudah kau buat ini. Kedua, soal panggilan ahjussi yang kau berikan. Hell, usiaku dua puluh tiga tahun, bahkan aku lebih muda satu tahun darimu. Bagaimana mungkin kau memanggilku dengan ahjussi, huh? Dan yang ketiga, namaku adalah Cho Kyuhyun, bukan Cho Hyujun! Kau sudah sebesar ini tapi tidak bisa melafalkan nama orang dengan benar?"
"Kau… kau hanya seorang bodyguard, kenapa kau tidak diam dan menuruti segala perintahku saja?" Donghae masih berkeras.
Evil smirk itu menghiasi bibir Kyuhyun, seiring dengan cengkeramannya di lengan Donghae yang kian menguat. Masih berusaha melawan, Kyuhyun berpikir, ia tertawa kecil dan kembali berucap, "kau sudah dewasa, tuan muda. Tapi sikapmu tidak ada bedanya dengan anak yang masih duduk di sekolah dasar. Dan, oh… bahkan anak SD pun masih bisa diatur. Jadi mungkin sikapmu ini hampir sama seperti seorang balita. Itu sangat memalukan, kau tahu?"
Wajah Donghae tampak memerah, seiring dengan kedua matanya yang mulai melotot horror. Ini adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima selama hidupnya. Tak ada siapapun yang bisa berkata sekasar itu padanya. Ia seperti pangeran di rumah itu, semua orang tunduk dan tak berani membantah apapun yang ia inginkan. Tapi bagaimana mungkin, seorang bodyguard seperti Kyuhyun –dengan sangat tidak sopan– memerangkapnya di dinding dan bersikap begitu keterlaluan?
"Well, sepertinya di sini aku harus mengajarimu banyak hal. Terutama bagaimana kau harus bersikap pada orang lain. Kau harus menghargai setiap orang dan hentikan sikap egoismu yang sangat konyol itu!" lanjut Kyuhyun tanpa berhenti memandang Donghae dengan penuh aura gelap.
Donghae tertawa sarkas mendengarnya, "sepertinya kau ingin membalas kelakuanku pada teman-teman bodyguard-mu ya? Mereka tidak terima dengan perbuatanku saat itu? Kau tahu, mereka bisa datang ke rumah ini untuk menuntut ganti rugi. Aku akan memberi sebanyak yang mereka mau!"
"Kau pikir kau bisa mengobati hati orang lain dengan uang?"
"Uang selalu bisa membeli segalanya, itulah yang dikatakan oleh Ayahku selama ini!"
Cengkeraman Kyuhyun di pergelangan tangan Donghae menguat seiring dengan rasa marahnya yang mulai memuncak, hingga sang brunette mengernyitkan dahinya menahan sakit. Namun alih-alih menyudahi perdebatan itu dan menuruti apa yang diinginkan Kyuhyun, Donghae justru semakin menantang. Ia memandang kedua mata Kyuhyun dengan tajam, tanpa ada sedikitpun rasa takut.
"Kau memintaku untuk menghargai orang lain?" Donghae kembali berkata, "jangan konyol, tuan bodyguard. Apa kau pikir dengan menghargai orang lain aku bisa membuat mereka memperhatikan diriku? Apakah semua orang tak akan pergi begitu saja? Apakah mereka akan memahamiku walaupun hanya sedikit?! Jawab aku!"
Lidah Kyuhyun mendadak kaku. Tanpa sadar ia mengendurkan sedikit cengkeramannya pada pergelangan tangan Donghae, membuat pemuda brunette itu kembali berusaha untuk lepas dari kungkungannya. Ia terpaku bukan karena tidak bisa memikirkan jawaban atas pertanyaan Donghae, ia hanya bingung melihat sosok di hadapannya yang mulai gemetar. Iris caramel itu masih menatapnya tajam, namun kini Kyuhyun bisa melihat genangan cairan bening di sana.
"Jawabannya tidak! Bahkan aku sudah lelah mencobanya, aku sudah lelah bersikap baik pada orang lain! Bagaimanapun juga tak ada satupun yang peduli lagi padaku!" Donghae berteriak keras, kemudian kedua tangannya mendorong tubuh Kyuhyun dengan paksa.
Sang bodyguard terhuyung, namun dengan cepat ia menjaga keseimbangannya hingga ia tak perlu salah menginjak bekas taco yang jatuh di lantai (makanan itu sudah berjamur dan terlihat mengerikan). Ia kembali menatap Donghae yang tengah berusaha untuk mengatur nafasnya. Cairan bening yang beberapa saat lalu sempat muncul di mata Donghae sudah menghilang, hingga Kyuhyun berpikir ia hanya salah melihat.
"Bersihkan tempat ini atau kau akan berakhir seperti bodyguard yang lain!" perintahnya sebelum berjalan mundur menuju pintu. Ia membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan tempat itu.
Kyuhyun hanya mematung di tempatnya berdiri, memandang bingung sosok yang tengah tergesa-gesa menuruni tangga, tak peduli dengan teriakan para pelayan yang tak sengaja ditabraknya.
Dia menangis, pikir Kyuhyun, kenapa dia menangis?
…
"Aku minta maaf, sebenarnya Anda tidak perlu melakukan semua ini…"
Kyuhyun menghentikan sejenak gerakan tangannya menggosok lantai marmer itu dari saos tomat kering. Ia mendapati sang butler tengah berdiri tak jauh dari pintu masuk, kepalanya tertunduk, barangkali karena merasa bersalah atas kelakuan tuan mudanya. Ya, karena Kyuhyun memilih untuk memenuhi perintah Donghae, membereskan kamar (well, Kyuhyun sebenarnya lebih suka menyebut tempat itu sebagai neraka bau) miliknya dan segala kekacauan yang telah ia buat.
"Tak apa, lagipula dia ingin aku membersihkannya," jawab Kyuhyun. Ia mengernyit jijik ketika menemukan sekotak pizza yang telah mengeras di kolong tempat tidur.
Sungmin mendesah, kemudian ia berjongkok di sisi Kyuhyun, menyingsingkan lengan kemejanya, dan ikut membantu memasukkan sampah-sampah ke dalam kantong plastik, "tuan muda selalu melarang kami untuk masuk ke dalam kamarnya. Pernah sekali kami mencoba untuk membersihkan tempat ini, tapi secara tak sengaja salah seorang pelayan menghilangkan mainan kesayangan tuan muda. Sejak saat itulah dia tidak memperbolehkan siapapun menginjakkan kaki di sini."
Mainan? Kyuhyun mengerling ke arah setumpuk boneka yang sudah tampak kotor dan usang. Kumpulan boneka kain berbagai ukuran itu telah siap dimasukkan ke dalam kantong sampah, mengingat bentuk mereka tak layak lagi untuk disimpan. Kyuhyun tak habis pikir sang client yang telah tumbuh dewasa masih suka memiliki mainan seperti itu.
"Aku tak percaya bagaimana dia bisa hidup di tempat mengerikan begini. Apakah setiap hari dia hanya tinggal di kamarnya?"
Sang kepala pelayan menggelengkan kepala, "tuan muda Donghae hanya berada di kamarnya untuk tidur. Dia suka melakukan banyak hal di luar rumah, terutama berbelanja." Sungmin mengulurkan tangannya, menunjuk sebuah pintu yang terletak di salah satu sudut, "itu terhubung dengan ruangan pribadi tuan muda yang lain. Di sanalah dia menyimpan semua belanjaannya, mulai dari pakaian, perhiasan, dan peralatan elektronik. Tuan muda itu memiliki kebiasaan membeli semua barang di sebuah department store dalam sekali belanja."
Kedua mata Kyuhyun membulat sempurna, "lalu… seperti apa ruangan di dalam sana? Mungkinkah lebih mengerikan dari kamar ini?"
"Oh, tidak," jawab Sungmin tertawa. "Ruangan itu selalu tertata rapi. Kami membersihkannya setiap kali tuan muda menginginkan. Lagipula… sepertinya tuan muda tak pernah menyentuh barang-barang yang dibelinya."
Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian ia kembali sibuk memilah-milah mainan yang berserakan, memasukkannya dalam sebuah kotak kardus untuk ditata ulang nanti.
"Dulu… tuan muda Donghae tidak bersikap seperti sekarang," tutur Sungmin yang membuat pandangan Kyuhyun teralih padanya, "dia sangat manis, manja, dan juga penurut. Semua orang menyayanginya, terutama nyonya besar. Meskipun tuan muda Donghae bukanlah putra kandungnya, tapi beliau tetap merawatnya dengan sangat baik, sama seperti beliau memperlakukan tuan muda Jongwoon."
Kyuhyun mendongakkan kepalanya cepat, "jadi, tuan muda Donghae dan kakaknya berbeda ibu?"
"Benar. Sepertinya tuan besar memiliki isteri simpanan, tapi tak ada yang mengetahui keberadaannya. Tuan muda Donghae lahir dari isteri simpanan tersebut. Namun tuan besar dan nyonya selalu menutupinya dari anggota keluarga yang lain," jelas Sungmin. "Kudengar dari ayahku, tuan muda Donghae dibawa kemari saat dia bayi, masih begitu merah bahkan tali pusarnya belum terputus. Semua orang mengira dia adalah anak yang baru dilahirkan oleh nyonya Lee."
"Lalu, apakah hingga sekarang tak ada yang mengetahuinya?"
Sungmin tampak menggigit bibir bawahnya, pandangannya berubah menjadi sendu, "semua orang mengetahuinya setelah nyonya besar meninggal. Aku tak tahu pasti bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Tapi di suatu malam delapan belas tahun yang lalu, nyonya tewas tertembak di kamarnya sendiri. Selang beberapa bulan kemudian, rumah ini dikirimi surat kaleng. Isinya adalah bukti-bukti bahwa tuan muda Donghae bukanlah anak dari perkawinan sah tuan dan nyonya. Sejak saat itulah anggota keluarga lain mulai membenci tuan muda Donghae."
"…bagaimanapun juga tak ada satupun yang peduli lagi padaku!"
Kalimat itu terngiang di dalam kepala Kyuhyun. Mungkinkah Donghae berkata demikian karena sikap anggota keluarganya?
"Aku masih ingat, dulu, tuan muda Donghae, tuan muda Jongwoon, dan aku sering bermain bersama. Saat ayahku masih menjadi kepala pelayan di rumah ini, aku ditugaskan untuk menemani mereka setiap hari. Tuan muda Jongwoon sangat menyayangi dongsaeng nya, tapi setelah ibu beliau meninggal, beliau selalu bersikap dingin pada tuan muda Donghae. Mereka tak pernah bicara satu sama lain." lanjut Sungmin.
"Lalu, apakah kasus pembunuhan nyonya besar sudah terungkap?"
"Tuan besar tidak pernah melaporkan kasus itu ke polisi," jawaban Sungmin hanya membuat Kyuhyun tersentak, "beliau mengatakan hal itu akan membuat reputasi Lee corporation menurun. Hingga sekarang, publik hanya mengetahui nyonya Lee dibunuh oleh perampok yang mengincar barang berharganya. Padahal… tuan muda Jongwoon berpikir, pembunuhan itu mungkin dilakukan oleh orang yang dekat dengan nyonya."
Kyuhyun mengerutkan alisnya, "kau tahu apa yang membuatnya berpikir seperti itu?"
"Entahlah, beliau tidak pernah mengatakan alasannya padaku," jawab Sungmin.
Kyuhyun hanya mendesah, menyayangkan sikap Presdir Lee yang tidak peduli pada kasus pembunuhan isterinya. Bagaimanapun pelaku pembunuhan itu masih berkeliaran dengan bebas sekarang dan tak menutup kemungkinan anggota keluarga yang lain sedang diincar.
"Sebenarnya tuan muda Donghae akan mewarisi Lee corporation kelak. Tapi, anggota keluarga yang lain tentu saja menolak keras. Mereka beralasan tuan muda Donghae bukanlah anak yang sah, perusahaan itu sudah seharusnya diberikan kepada tuan muda Jongwoon. Karena itulah–"
"Banyak yang mengincar nyawa tuan muda Donghae?" Kyuhyun memotong, ia melihat Sungmin mengangguk membenarkan.
"Ah, bagaimanapun sikap tuan muda Donghae sekarang, aku berharap kau bisa sedikit memahaminya, Tuan Cho. Percayalah padaku, sebenarnya dia sangat baik," ucap Sungmin sembari memberikan sebuah senyuman.
"Cukup Kyuhyun saja," sahut Kyuhyun yang membuat sang kepala pelayan mengangkat alisnya bingung, "panggil aku Kyuhyun, Sungmin Hyung."
Wajah Sungmin terlihat memerah, sebelum kemudian ia menunduk sembari mengusap tengkuk dengan sedikit canggung, "aku… dulu tuan muda Donghae juga memanggilku Hyung. Rasanya senang sekali ada yang memanggilku begitu setelah sekian lama."
Pemuda berambut ikal itu bangkit dari posisi jongkoknya, mungkin untuk sedikit meregangkan kaki yang kaku, "yah, mulai sekarang kau adalah Sungmin Hyung," ia berucap, membuat Sungmin tertawa. Kyuhyun kemudian beralih pada tumpukan boneka kain usang yang telah berjejal di dalam kantong plastik. "Lalu, ini semua harus diapakan Hyung? Kelihatannya mereka sudah tidak mungkin disimpan lagi. Apakah kita harus membuangnya?"
"Entahlah," jawab Sungmin bingung, "tuan muda sangat menyayangi mainannya. Tapi untuk yang sudah kotor ini, aku rasa tuan muda sudah tidak menginginkannya lagi."
"Jadi, lebih baik kubawa ke tempat pembuangan sampah," sahut Kyuhyun.
"Oh, tunggu," Sungmin menahan sang bodyguard, "biar aku saja. Aku akan turun sebentar untuk memeriksa beberapa pekerjaan di bawah. Aku bisa membawanya."
Kyuhyun terdiam sejenak, kemudian ia hanya menganggukkan kepala. Itu lebih baik, ia berucap dalam hati sembari memutar pandangan menatap kamar milik client nya. Paling tidak sekarang tempat itu sudah sedikit layak huni. Hanya tersisa pakaian kotor yang belum disingkirkan, tak ada lagi bekas makanan busuk dan sampah. Kyuhyun mendengar Sungmin mengatakan padanya bahwa ia bisa turun untuk makan siang, setelah itu sang kepala pelayan pun pergi.
…
"Aku ingin membeli semua yang ada di tempat ini!"
Perhatian semua pengunjung dan pelayan di department store teralih begitu mendengar suara lantang tersebut. Mereka bertanya-tanya siapa orang yang memiliki begitu banyak uang hingga ingin membeli semua barang mewah yang berada di sana. Mungkin seorang milionair tua dengan lipatan lemak di perutnya, itulah yang mereka bayangkan. Namun ratusan pasang mata segera terbelalak ketika mendapati seorang pemuda tengah berdiri di ambang pintu, lengkap dengan asisten-asisten pribadinya yang semua memakai jas berwarna hitam.
Pemuda brunette berwajah manis itu tampak mencibir, kedua tangannya terlipat di depan dada. Sementara matanya menatap ke sekeliling dengan gaya arogan. Ia mengetuk-ngetukkan satu kakinya yang terbalut sepatu kets ke lantai seolah sedang tidak sabar.
"Yak, kenapa semuanya hanya diam? Sudah kubilang aku ingin membeli semua yang ada di sini!" ia kembali berteriak, kali ini lebih keras daripada sebelumnya.
Seorang wanita pelayan menghampiri pemuda itu dan memberikannya tampang mengejek. "Aku rasa Anda tidak serius, tuan. Semua barang yang ada di department store ini berkualitas, sehingga harganya tidak main-main. Apakah Anda bisa membelinya? Aku rasa itu tidak mungkin." Ia tertawa mengejek.
Tanpa memberikan respon, kecuali seringaian kecil yang tampak samar, pemuda itu merogoh saku jaketnya. Ia mengulurkan sebuah kartu kredit berwarna keemasan kepada sang pelayan. Wanita yang semula mengejeknya kini ternganga, seiring dengan kedua matanya melotot horror. Tangannya yang gemetaran meraih kartu kredit tersebut setelah memastikan dirinya tak salah membaca nama yang terukir di sana.
"A-anda… L-Lee D-Donghae… putra pemilik Lee C-Corporation…?" ia tergagap.
"Sekarang apa yang ingin kau katakan, hm?" Donghae tersenyum sinis. "Aku bisa membeli seluruh gedung ini, sekaligus dengan tanahnya. Bahkan aku juga memiliki kuasa untuk menuntut ke pengadilan atas etika kurang sopanmu, dasar jalang!"
"M-maafkan s-saya… saya t-tidak segera m-mengenali anda, t-tuan…" wanita itu membungkukkan badannya berkali-kali, seperti orang yang memohon ampun pada rajanya, "a-aku akan mengepak semua barang yang Anda inginkan! Tolong maafkan saya tuan muda Lee Donghae!"
Wanita itu bergegas pergi, kemudian ia memberitahukan segalanya kepada pelayan yang lain. Mereka langsung shock sekaligus panik, namun tak lama semuanya terlihat sibuk mengemas barang. Bahkan para pengunjung yang lain terpaksa harus pergi dari sana, mengingat tak ada lagi yang bisa mereka beli. Desahan kecewa dan kesal sesekali terdengar, meski begitu tak satupun yang berani menghalangi keinginan seorang Lee Donghae.
"Maafkan aku, tuan. Tapi karena Anda tidak membelinya, kami harus mengambil jam tangan itu…"
Seorang pemuda berambut merah yang semula hanya memandangi keributan yang terjadi tampak terkejut. Ia melihat pelayan di outlet itu dengan hati-hati mengambil sebuah jam tangan yang tengah dipegangnya, kemudian hendak memasukkannya ke dalam sebuah kotak transparan. Ia tampaknya baru menyadari ratusan jam tangan yang semula terpajang di etalase telah lenyap.
"T-tunggu dulu, jam itu–"
"Mohon maaf, tapi tuan muda Lee Donghae menginginkannya. Lagipula benda ini sangat mahal dan kelihatannya tabungan Anda belum cukup," wanita itu berusaha untuk berucap sesopan mungkin.
Sang pemuda berambut merah tampak kecewa, "tidak bisakah Anda menyimpannya untukku? Aku janji akan datang lagi, tiga–ah, tidak dua hari lagi! Tolong simpan hingga dua hari lagi, Nona!" ia berucap, sembari kedua mata berkelopak satunya memandang penuh permohonan.
"Maaf, tuan. Kami tidak bisa!"
"Tapi, itu hadiah untuk seseorang! Aku benar-benar menginginkannya!"
Wanita pelayan itu tidak peduli. Ia tersenyum manis sekali lagi, sebelum memasukkan jam tangan mewah tersebut ke dalam kotak dan membungkusnya serapi mungkin. Sang pemuda mengerang frustasi. Ia memandangi jam tangan yang sangat diinginkannya, tak bisa merelakan benda itu menjadi milik orang lain. Namun ia memang tak bisa berbuat apapun, seperti yang dikatakan si pelayan, ia belum memiliki uang untuk membelinya.
Ia menghembuskan napasnya kasar, sebelum kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Bisa dilihatnya sang milionair muda yang tengah menunggu para asistennya mengangkut semua barang belanjaan. Ia menggigit bibir bawahnya dengan penuh rasa kesal, kakinya hendak kembali melangkah pergi, namun kemudian sebuah suara yang sangat familiar membuat pemuda berambut merah itu membeku.
"Eunhyuk? Eunhyuk kau kah itu?"
Donghae, ia yang nyatanya memanggil. Ia melangkah perlahan, menatap punggung kurus yang membelakangi dirinya. Sementara pemilik punggung tersebut masih terdiam tak bergerak.
"Benar, kau Eunhyuk! Eunhyuk, ini aku, Donghae!"
Eunhyuk, sang pemuda berambut merah tampak menegang. Namun ia tak berniat sedikitpun untuk membalikkan tubuhnya. Hal itu membuat Donghae menjadi tidak sabar. Ia berlari kecil, kemudian berdiri di hadapan Eunhyuk. Seketika kedua matanya berkilat senang saat ia bisa melihat wajah berahang tegas yang sangat dikenalnya.
"Ah! Eunhyuk! Aku sangat merindukanmu!" Donghae berseru, dan tanpa berpikir panjang ia memeluk tubuh pemuda itu dengan erat. "Kenapa kau pergi begitu saja, pabbo? Selama ini kau meninggalkanku kemana, hm? Aku tak punya teman lain selain dirimu…" tuturnya sembari menenggelamkan wajah di bahu Eunhyuk.
Selama beberapa detik, Eunhyuk hanya terdiam. Ia tak melakukan apapun, tak membalas pelukan sang brunette. Namun tanpa sadar kedua tangannya mulai menggenggam kuat. Dan kemudian ia mendorong tubuh Donghae menjauh darinya.
"K-kenapa?" tanya Donghae dengan bingung, "apa kau marah padaku?"
Eunhyuk tak menjawab dan hendak kembali berjalan, namun Donghae menggenggam lengannya. Ia menoleh sedikit, memandangi Donghae yang tengah mendongak ke arahnya, menatap dengan sepasang mata yang terlihat berkaca-kaca, sementara bibirnya menyunggingkan sebuah senyum teramat polos. Dan itu membuat hati Eunhyuk seperti dicengkeram kuat. Rasa benci yang entah berasal darimana tiba-tiba memenuhi kepalanya.
"Lepaskan aku," ucap Eunhyuk lirih.
"Hyukkie…" Donghae mulai menyadari seseorang di hadapannya tak menyukai apa yang ia lakukan. "Hyukkie… kau ingat padaku?"
"Tentu saja aku ingat padamu, Lee Donghae. Sekarang lepaskan aku, karena kau adalah orang yang kubenci."
Donghae tersentak mendengarnya dan tanpa sadar ia melepaskan cengkeramannya pada lengan Eunhyuk. Hal itu membuat Eunhyuk terbebas dan kembali berjalan keluar. Sang brunette hendak memanggilnya, namun kemudian ia teringat mungkin Eunhyuk ingin membeli sesuatu di tempat itu. Saat seorang pelayan lewat di depannya, ia kemudian bertanya.
"Ah, pemuda yang tadi… sepertinya dia sangat ingin membeli sebuah jam tangan, tuan muda."
"Jam tangan? Jam tangan yang mana?" tanya Donghae tergesa.
Wanita itu mengeluarkan sebuah kotak, kemudian memberikannya kepada Donghae. Ia bisa melihat sebuah jam tangan yang sederhana, namun indah berada di dalamnya. Jam itu memiliki tali pengikat berwarna perak, beberapa berlian merah nan mungil terdapat di bawah kedua belas angka penunjuk waktu, sementara masing-masing jarumnya merupakan emas putih. Ah, dia ingin membeli jam yang bagus ini, Donghae berpikir.
Ia lantas berlari keluar dari department store itu begitu saja, sembari menggenggam kotak berisi jam tersebut. Bisa dilihatnya sosok Eunhyuk yang sedang berjalan, sesekali pemuda itu menggerakkan kepala untuk mengusir salju yang jatuh di atas rambutnya. Donghae meringis lebar, sebelum kemudian ia berlari menyusul teman lamanya.
"Eunhyuk!" mendengar panggilan itu sang rambut merah hanya terdiam. Ia tak ingin berhenti, namun entah kenapa kakinya mendadak seperti terpaku di tanah. Bisa didengarnya suara napas Donghae yang sedikit terengah semakin mendekat. Seiring kemudian sepasang tangan mungil melingkari lengannya.
"Eunhyuk, ini…" Donghae mengulurkan sebuah kotak berwarna hitam, membuat kedua mata Eunhyuk melebar sedikit. "Kau menginginkannya, kan? Aku membelikan ini untukmu, Eunhyuk. Cha, ambillah!"
"Tidak usah," ucap Eunhyuk sembari menyentakkan tangan Donghae. "Aku tak menginginkan itu."
"Tapi–"
"Jangan mendekatiku lagi, kau anak haram!" Eunhyuk menggertak.
Donghae tersentak mendengar panggilan tersebut. Ia menggigit bibir bawahnya yang mulai gemetar. Sementara itu Eunhyuk hanya memandangnya dengan tatapan dingin dan penuh kebencian. Ia terlihat seperti orang lain di mata Donghae. Seperti mereka tak pernah mengenal.
"Hyukkie… kenapa…? Apa kau membenciku…?"
Sebuah tawa sarkas keluar dari bibir Eunhyuk, ia kemudian mencengkeram kedua bahu Donghae dengan kasar, "ya! Aku sangat membencimu dan juga keluargamu! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku, Lee Donghae! Aku berharap aku tak pernah mengenalmu! Karena keluargamu Ibuku–" ia berhenti, seolah apa yang akan ia ucapkan berikutnya terlalu menyakitkan.
Dengan sekali sentakan Eunhyuk mendorongnya, membuat Donghae terhuyung dan jatuh. Beruntung salju yang menumpuk membuat permukaan trotoar itu menjadi lembut, sehingga Donghae tidak merasa sakit saat tubuhnya terbentur di sana. Ia mendongak, menatap wajah Eunhyuk yang masih diselimuti kemarahan.
"Aku bukan temanmu, anak haram. Jangan bersikap seolah kita pernah berteman!"
Kemudian Eunhyuk membalikkan badannya, meninggalkan Donghae yang masih terpaku. Dari ujung matanya, ia bisa melihat beberapa asisten Donghae berlari-lari untuk menolong sang tuan muda. Secara tak sengaja, ia juga sempat mendengar Donghae memanggili namanya lirih.
"Tuan muda, Anda baik-baik saja? Siapa orang itu?"
Pertanyaan asistennya diacuhkan oleh Donghae. Ia hanya berjalan dengan sedikit terhuyung menuju mobilnya, sembari kedua tangannya mencengkeram erat kotak jam tangan yang seharusnya dimiliki oleh Eunhyuk. Ia mendudukkan diri di kursi penumpang, menunggu sang sopir untuk membawanya pergi dari tempat itu.
"Anak haram, huh…?" Donghae menggumam lirih, cairan bening meleleh dari salah satu sudut matanya, "bahkan sekarang… semua orang memanggilku begitu…"
T.B. C
Gimana? Haha… silakan cek chapter tiga, ada hadiah tahun baru dari saya. Thanks untuk yang sudah mereview. ;)
