I'm sorry minna, baru bisa update sekarang (udah hampir 2 minggu sejak terakhir kali update T.T). Kalau begitu tanpa panjang lebar, silahkan dinikmati chapter ini :)
Disclaimer: Naruto is Masashi Kishimoto's and this story is mine
Chapter 3
Me, a Princess!?
"Sakura, ada pesanan dari kerajaan. Tolong kau antarkan, ya." Perintah Obaa-san kepada Sakura ketika ia sedang berjualan buah seperti biasa.
"Oke Obaa-san. Tugas segera dilaksanakan!" Jawab Sakura memberi hormat layaknya seorang prajurit kepada komandannya setengah bercanda. Ia lalu segera mengumpulkan beberapa buah yang dipesan kedalam keranjang lalu beranjak pergi setelah member salam kepada Obaa-san.
"Berhenti. Apa urusanmu kemari?" Seru penjaga gerbang kerajaan menghadang Sakura ketika melihatnya yang berjalan mendekat.
"Begini, saya bekerja di toko buah Hana. Ada pesanan untuk mengantar buah dari kerajaan." Jawab Sakura menjelaskan maksud kedatangannya.
"Hmm… Hei, Karou. Segera kau periksa ada pesanan untuk buah atau tidak." Ujar penjaga itu memerintahkan teman sepekerjaannya. Belum sempat temannya beranjak pergi, terdengar suara yang sudah tidak asing lagi sambil marah-marah.
"Hei, kenapa kau menodongkan senjatamu ke temanku!? Mau kuminta Ayah agar dipecat!?" Serunya melihat penjaga gerbang itu yang menghadang Sakura dengan tombaknya.
"Eeh, eh…? Di.. Dia teman Anda Konohamaru-Sama?" Tanya penjaga itu tak percaya.
"Tentu saja. Cepat turunkan senjatamu darinya!" Bentak sumber suara itu yang ternyata adalah Konohamaru.
"Yo, kak!" Sapa Konohamaru riang kepada Sakura setelah ia diperbolehkan masuk.
"Konohamaru… Jangan katakan kau memesan buah dari toko kami hanya karena ingin memanggilku kemari?" Tanya Sakura setengah jengkel. Walau Konohamaru adalah seorang pangeran, persahabatan selama 3 tahun membuatnya tidak terlalu segan lagi kepada Konohamaru.
"Eugh… Sorry kak. Soalnya si paman satu ini tidak memberikanku izin untuk pergi dari istana bahkan untuk menemui kakak sekalipun. Jadinya aku harus melakukan cara ini." Jawab Konohamaru beralasan sembari melirikkan matanya kepada Ebisu yang sejak dari tadi berdiri di sampingnya dengan raut muka galak.
"Haah…. Jadi kenapa kau.. Anda memanggilku kemari?" Tanya Sakura sedikit mengeluh yang cukup sempat memperbaiki kalimatnya terhadap Konohamaru karena pelototan tajam dari Ebisu.
"Hehe, sebenarnya aku sedang mencari guru privat baru. Dan kupikir kakak adalah orang yang tepat."
Jawaban Konohamaru sangat mengejutkan Sakura. Pasalnya, ia sama sekali tidak pernah sekolah. Bagaimana mungkin ia dapat menjadi guru privat bagi Konohamaru?
"Tunggu dulu Konohamaru… -Sama. Kenapa harus aku? Aku sama sekali tidak pernah seko…"
"Tentu saja karena kakak adalah orang terpintar yang pernah aku temui." Konohamaru langsung memotong perkataan Sakura dan menjelaskan alasannya.
"Kakak benar-benar hebat. Buku tebal dan susah seperti strategi perang atau politik dapat kakak pahami dengan sekali baca. Ternyata tidak percuma kakak memiliki dahi yang lebar." Puji Konohamaru yang sedikit membuat jengkel Sakura.
"Sejujurnya, aku tidak ingin Konohamaru-Sama berasosiasi atau bahkan diajarkan dengan rakyat jelata sepertimu. Tapi mau tak mau, kemampuanmu untuk memahami isi buku walau itu pertama kali kau membacanya harus kuakui. Selain itu, Konohamaru-Sama tidak pernah menyimak guru privat lain dengan serius. Kupikir mungkin dia akan mau belajar dengan serius kalau itu adalah kamu walau aku setengah tidak rela membolehkannya." Ujar Ebisu yang turut menambahkan alasan Konohamaru meminta Sakura menjadi guru privatnya.
"Hmm… Bagaimana ya?" Gumam Sakura bingung. Bukannya tak mau, tapi jika ia menjadi guru privat bagi Konohamaru, tentu ia harus melepas pekerjaannya di toko buah dimana tempat ia bekerja selama 8 tahun terakhir. Selain itu, para bangsawan lain yang bekerja di Istana tentunya akan membenci Sakura karena melihat rakyat jelata yang tidak jelas keturunannya menjadi guru privat bagi pangeran kerajaan terbesar ini.
"Bolehkah kalau aku memikirkannya terlebih dahulu?" Jawabnya supaya ia dapat memikirkan tawaran ini masak-masak.
Terdengar sedikit kekecewaan dari nada Konohamaru. Namun ia tetap memberikan Sakura kesempatan untuk memikirkan tawarannya sebelum akhirnya menerimanya.
Dalam jalan kembali ke toko buah, ia dilanda rasa bingung atas tawaran barusan. Tentu saja menjadi guru privat seorang pangeran adalah sebuah pekerjaan yang sangat menjanjikan yang dapat diraih oleh seorang rakyat biasa tanpa keturunan bangsawan sedikitpun seperti dirinya. Tetapi seperti pepatah mengatakan, "With great powers, comes great responsibility." Sakura adalah gadis yang cerdas. Ia tahu jika ia menerima tawaran itu, akan banyak serangan yang datang dari para bangsawan jika ia gagal dalam mengajar Konohamaru. Ia ingin melewati hari-harinya dengan bahagia, bukan dengan ketakutan dan risih yang harus melanda setiap waktu.
Tak disadarinya, sesosok pria dengan kostum serba hitam ala ninja, bersembunyi di antara bayangan dan sedari tadi mengawasi Sakura sejak ia beranjak keluar dari istana. Pria itu mengenakan masker sehingga identitasnya tidak bisa diketahui. Lama ia mengawasi Sakura, entah apa yang dipikirkannya. Ia bergerak dengan hati-hati di bawah bayangan tembok dan pohon, bahkan hewan sekalipun tak menyadari ada seseorang di sana.
Pria itu terus mengikuti Sakura bahkan ketika ia telah kembali ke toko buah dan melanjutkan pekerjaannya melayani pembeli. Tetap tak bergeming sedikitpun, ia mengawasi Sakura dari jauh hingga waktunya toko buah tersebut tutup.
Ketika Sakura selesai berberes-beres dan beranjak pulang, laki-laki itu memanggil seekor burung dengan siulan yang tak dapat didengar dengan telinga orang awam lalu mengikatkan sepucuk surat kepada burung itu. Setelah memastikan burung itu terbang dengan membawa pesannya, laki-laki misterius itu melanjutkan mengikuti Sakura secara diam-diam.
Seorang kakek tua yang menunggu dibawah sebuah pohon tua yang rindang dipucuk bukit menerima sebuah surat dari burung yang terbang mendekatinya. Dibacanya surat itu dan seketika wajahnya yang semula muram kini menjadi cerah.
"Akhirnya… Kutemukan!" Gumamnya kepada dirinya sendiri dengan perasaan puas. Dengan sekali siulan, puluhan burung pengantar surat langsung mengelilinginya.
"Beritahu pemilik kalian untuk berkumpul di sini, segera!" Perintahnya kepada para burung itu yang sepertinya terlihat mengerti maksud dari lelaki tua itu dan segera terbang menuju tuan mereka masing-masing.
Di tempat lain, Sakura sudah berada di depan pintunya ketika ia tiba-tiba dibius dengan sapu tangan oleh seseorang yang tidak dikenalnya dari belakang saat ingin membuka kunci rumah. Ketika tersadar, dirinya telah berada di atas sebuah bukit yang berada tak jauh dari Kota Konoha dan hal yang paling membuatnya kaget adalah puluhan orang-orang yang berpakaian layaknya ninja berlutut di hadapannya dengan seorang lelaki tua yang terlihat sebagai pemimpinnya.
"Apa kabar, tuan putri?" Sapa pria yang nampak sudah tua yang terlihat dari rambut serta janggutnya yang sudah putih dan wajahnya yang dipenuhi keriput, berpakaian butler serta mengenakan sebuah kacamata lensa tunggal (monokel).
"Si… Siapa kalian!?" Tanya Sakura yang masih terduduk lemas ketakutan yang tak menyangka hal seperti ini terjadi kepadanya.
"Hmm… Biar kutebak. Apakah 17 tahun yang lalu anda ditemukan di depan gerbang Konoha dengan sebuah crest bergambar buah cherry blossom dan surat yang isinya menyarankanmu agar mengenakan crest itu sebagai kalung saat usiamu telah menginjak 17 tahun?" Tanya pria tua itu dengan sangat detil yang sukses membuat Sakura terkejut sekaligus terheran.
"Ba… Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Sakura berteriak kecil setengah tak percaya.
"Itu mudah. Karena akulah orang yang meletakkan anda di depan gerbang itu, My Lady." Jawabnya sopan dengan sedikit menundukkan tubuhnya seraya mendaratkan sebelah tangan di dadanya.
"A… Apa…?" Hal ini sangat membuat bingung Sakura. Puluhan orang tak dikenal berlutut di hadapannya. Selain itu pria tua yang berdiri dihadapannya mengalamatkannya dengan sopan layaknya seorang putri. Mengetahui Sakura yang tidak bisa berkomentar apa-apa saking bingungnya, lelaki tua itu lalu memperkenalkan diri serta menjelaskan maksudnya.
"Nama saya Sanzo. Seperti yang Anda lihat, saya adalah pemimpin pasukan ninja ini. Maafkan saya karena telah menggunakan cara kasar dalam membawa anda kesini. Tapi hal ini tidak dapat dijelaskan di dalam kota Konoha karena kami tidak ingin adanya telinga-telinga jahil yang ditakutkan akan mencuri dengar." Setelah yakin bahwa Sakura menyimak perkataannya sampai saat ini, iapun lalu melanjutkan ceritanya.
"Kami berasal dari Kerajaan Haruno. 17 tahun yang lalu, beberapa kerajaan tetangga menyatukan kekuatan untuk menyerang kerajaan Haruno yang saat itu merupakan salah satu kerajaan besar selain Konoha. Mereka berhasil menyerang ketika kami sedang lengah serta berhasil membunuh Raja dan Ratu. Saya yang saat itu bekerja sebagai komandan tertinggi pasukan rahasia kerajaan, melaksanakan perintah terakhir permaisuri, yaitu menyelamatkan tuan putrid kerajaan Haruno yang saat itu masih bayi ke kerajaan yang berstatus netral. Namun, karena saya kurang percaya kerajaan Konoha akan merawat putri kami dan tidak menyerahkannya ke kerajaan itu, saya meninggalkan tuan putri di depan gerbang Kota Konoha agar hidup menjadi rakyat biasa hingga keadaan setelah perang menjadi lebih tenang. Tuan putri itu adalah Anda, Sakura-Sama." Ujarnya mengakhiri penjelasannya kepada Sakura.
Sakura bingung sejadi-jadinya. Kerajaan Haruno? Perang? Tuan Putri? Bertubi-tubi pertanyaan terlintas di kepalanya. Setitik keraguan muncul meragukan kata-kata pria tua bernama Sanzo itu. Namun keraguan itu sirna setelah Sanzo menunjukkan emblem bergambar buah Cherry Blossom serta sebuah bingkai lukisan kecil berukuran sebesar telapak tangan bergambar seorang pria bermata hijau tosca dengan mahkota tersemat di kepalanya. Disampingnya merupakan lukisan seorang wanita anggun berambut pink panjang dengan aura keibuan sangat terpancar dari wajah dan senyumannya yang hangat. Di dekapan mereka berdua adalah lukisan seorang bayi mungil dengan rambut berwarna pink yang persis sama dengan ibunya dengan mata yang tertutup tanda sedang tertidur.
Tak terasa air mata menetes dari matanya. Sekuat apapun ia berusaha menahan, air mata itu malah mengalir semakin deras. Seolah mengerti, Sanzo berjalan mendekati Sakura dan menyerahkan lukisan itu. Seketika rasa sedih yang selama ini terpendam memuncak. Sakura menangsi sejadi-jadinya sembari memeluk lukisan orang tuanya. Lukisan ayah serta ibu yang selama ini dirindukannya. Keraguannya bahwa ia anak yang tidak diinginkan kini menghilang. Rasa rindu terhadap orang tua yang tak bisa diobati melanda dirinya. Ia tidak akan pernah bisa merasakan kehangatan kedua orangtuanya dan hanya bisa melihat lukisan mereka setelah penantian yang begitu lama.
Pemandangan ini membuat hati para ninja yang dikenal merupakan pasukan tanpa emosi menjadi pilu. Bahkan ada beberapa yang ikut menangis, turut merasakan kesedihan Sakura. Angin yang bertiup makin kencang dan turunnya hujan rintik menunjukkan bahwa alampun juga mampu merasakan kesedihan dirinya.
"Ini…." Sakura berdecak kagum. Setelah 17 tahun berlalu, ia kembali menginjakkan kaki di tempat kelahirannya, Kerajaan Haruno. Berbeda jauh dari perkiraannya yang menyangka bahwa Kerajaan Haruno hanya tinggal reruntuhan, Kerajaan itu ternyata sangat megah dengan kotanya yang tertata dengan rapi dan masih sangat disibukkan oleh orang-orang yang lalu lalang walau hari sudah mendekati tengah malam. Bahkan istananya yang megah, bersih dan indah pun seolah menunjukkan bahwa masih terdapat pemimpin tunggal yang tinggal di sana.
"Mereka tidak dapat melakukan apa-apa karena status pewaris tunggal kerajaan ini tidak diketahui masih hidup atau tidak. Selama masih ada keturunan dari keluarga utama yang hidup, mereka tidak dapat menguasai kerajaan ini sesukanya." Sanzo menjelaskan kepada Sakura tanpa perlu ditanya.
"Selamat kembali, Tuan Putri." Ratusan butler dan maid telah berdiri di sepanjang jalan di dalam istana dalam rangka menyambut kepulangan Tuan Putri mereka. Sakura yang tidak biasa dengan hal seperti itu menjadi semakin kikuk dan gugup. Namun tangan hangat yang lembut mendarat di bahunya bertujuan untuk menenangkan Sakura. Sakura hanya tersenyum kecil mendandakan rasa terima kasihnya yang juga di balas senyum dengan Sanzo.
Pendapat Sakura pertama kali Ternyata kehidupan menjadi putri itu sungguh melelahkan. Ia harus mengenakan gaun super susah dan riasan wajah yang memmbutuhkan waktu hampir 2 jam untuk melaksanakan itu semua.
Tanpa menunggu siang, rapat penyambutan kembalinya Tuan Putri langsung diadakan setelah Sakura telah selesai dirias. Semua peserta rapat yang terdiri dari bangsawan-bangsawan yang telah setia bekerja di kerajaan Haruno berdecak kagum melihat kecantikan serta keanggunan Tuan Putrinya, mengingatkan mereka dengan mendiang permaisuri.
"Setelah penyambutan Tuan Putri, kita akan masuk ke pokok permasalahan. Apa yang akan dilakukan kerajaan ini mulai sekarang." Itulah kalimat pembuka rapat yang dilontarkan salah seorang penasihat kerajaan senior.
"Tentu saja kita harus balas dendam ke kerajaan-kerajaan bangsat itu!" Seru seorang pria setengah baya dengan baju besi yang menunjukkan bahwa ia seorang Komandan Pasukan. Banyak peserta rapat itu yang menangguk-angguk setuju dan bersorak untuk melancarkan serangan balasan. Melihat keaadan rapat yang menjadi chaos mendorong Sakura untuk menyatakan pendapatnya.
"Umm… Apa aku boleh berkata sesuatu?" Tanyanya dengan sopan di tengah keributan anggota rapat itu.
"Tentu saja, Tuan Putri. Pendapat Anda adalah prioritas kami." Ujar penasihat kerajaan senior yang tadi dengan bijak.
"Menurutkan, balas dendam tidak akan menyelesaikan apapun. Akan lebih baik kalau kita memperkuat kerajaan ini dengan menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain seperti Konoha. Dengan begitu, kita akan mendapatkan bala bantuan ketika kerajaan ini diserang kembali." Usulnya. Namun semua peserta rapat tersebut terdiam, ada yang menundukkan kepala, menggelengkan kepala sedikit, mengeluh dan saling bertukar pandang dengan yang lain.
"A… Apa kata-kataku ada yang salah?" Tanya Sakura takut-takut.
"*sigh*… Begini Tuan Putri… Bukannya kami tidak ingin mendengarkan pendapat anda, tapi apa anda pikir hal itu tidak dilakukan oleh kerajaan ini 17 tahun yang lalu? Bahkan kenyataannya, Kerajaan Konoha adalah salah satu kerajaan sahabat terbaik bagi kerajaan ini. Namun, ketika Kerajaan Haruno mendapat serangan mendadak dari kerajaan-kerajaan terkutuk itu, dengan alasan 'Netral', mereka sama sekali tidak memberikan bala bantuan bagi Kerajaan ini. Jadi maaf Tuan Putri, kami tidak dapat mengulang kesalahan yang sama seperti yang terjadi saat itu." Akhirnya setelah cukup lama tidak ada yang berani merespon Sakura, seorang penasihat gemuk yang sudah cukup berumur itu angkat bicara. Akhirnya Sakura tidak bisa membantah lagi keputusan apapun yang diambil mereka walaupun ia calon penerus kerajaan itu.
Dikamar barunya yang megah, ia terus memikirkan semua hal yang terjadi hari ini. Apakah Konohamaru masih menunggu jawabannya? Apakah besok suami istri pemilik toko buah itu akan khawatir karena ia tidak akan datang lagi? Dan masih banyak apakah lainnya yang terus menerus mengisi kepala Sakura. Ia memaksakan dirinya untuk tidur. Namun, ranjang yang berbeda dari biasanya membuat tidurnya menjadi tidak nyaman dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan kerajaan yang sebelum tidur telah ia tanyakan lokasinya kepada salah seorang Maid.
Istana itu begitu besar. Hampir saja ia tersesat ketika sedang mencari perpustakaan. Dibukanya pintu perpustakaan itu dengan perlahan, tak ingin para pelayan mendengarnya. Memang membaca buku adalah salah satu cara yang dapat ia gunnakan untuk menenangkan hatinya, terlebih lagi dengan koleksi buku yang begitu banyak, semuanya pasti tidak akan habis dibaca bahkan jika seseorang membaca selama 24 jam tanpa henti dalam sebulan.
Perpustakaan adalah salah satu tempat favoritnya. Ia bersama Neji dulu sering bersama ke perpustakaan kerajaan Konoha untuk membaca buku-buku yang ada di sana. Kemampuannya dalam memahami sebuah buku dalam sekali baca juga diketahui oleh Ebisu dan Konohamaru serta itulah salah satu alasan mengapa Konohamaru ingin menjadikannya sebagai guru privat ketika melihat Sakura yang sanggup untuk membaca hampir seluruh buku di perpustakaan tersebut.
Tidak terasa, pagi pun datang menyapa. Sakura telah habis membaca 6 buah buku ketika seorang maid masuk dan terkejut melihat Sakura yang ternyata tidak tidur melainkan membaca buku di perpustakaan itu sepanjang malam.
"Jangan katakana bahwa anda sudah berada di perpustakaan ini sejak malam tadi Tuan Putri!?" Tanya Maid itu menakutkan kekhawatirannya yang benar adanya.
"Haha… Maaf soalnya aku merasa tidak nyaman dengan kamar baruku, makanya aku melewatkan malam dengan membaca." Ujar Sakura tertawa hambar yang membuat Maid itu semakin panik.
"Ba… Bagaimana bisa anda melakukan hal seperti itu Tuan Putri!? Bagaimana kalau anda masuk angin, flu, demam, lalu… lalu…" Kontan Maid itu sedikit marah dan tak dapat melanjutkan kemungkinan terburuk yang dipikirkannya.
"Kau terlalu berlebihan. Tenang saja, aku sudah sering melakukan hal seperti ini kok." Kata Sakura berusaha menenangkan maidnya.
Jadwalnya hari ini adalah berkeliling kota menyapa rakyatnya dengan mengendarai kereta kuda besar yang ditarik dengan kuda-kuda terbaik. Ada sedikit perasaan deg-degan menanti reaksi rakyatnya, takut bahwa ia nantinya akan ditolak. Sebaliknya, rakyatnya bersuka cita menyambut kepulangan Putri Mahkota mereka. Tidak ada rekayasa yang terpancar di mata mereka. Semuanya tulus, menyorakkan nama Sakura di seantero kota.
Kehebohan tentang kepulangan Putri Mahkota Kerajaan Haruno ini juga sampai di kerajaan-kerajaan lain. Koran-koran Kerajaan dengan cepat memberitakan tentang kepulangan sang putri mahkota kerajaan Haruno. Dengan sangat cepat, berita ini akhirnya sampai ke telinga Konohamaru, Neji dan juga orang-orang lain yang mengenal Sakura. Hampir semuanya tak percaya dan menganggap berita tersebut hanyalah hoax belaka.
"Kak… Kak Sakura adalah seorang putri!? Benarkah!?" Itulah kalimat pertama yang terlontar dari mulut Konohamaru begitu mengetahui kenyataan mengejutkan tentang identitas Sakura.
"Aa… Aaah… Apa yang telah kulakukan?" Gumam Ebisu menyesal karena selama ini ia sering membentak serta menganggap rendah Sakura.
'Sakura…' Dilain pihak, Neji hanya menggumamkan nama Sakura dalam hati setelah mendengar berita tersebut tanpa ada seorangpun yang tahu apa isi hatinya.
Mungkin yang paling terpukul atas berita ini adalah suami istri penjual buah yang telah menganggap Sakura sebagai buah hati mereka sendiri karena ada kemungkinan mereka tidak dapat lagi menemui Sakura. Saking sedihnya, mereka bahkan menutup toko buah mereka hingga satu minggu lamanya.
Tentu saja banyak hal yang harus berubah dari dalam diri Sakura atas kejadian ini. Ia tidak bisa lagi berjalan di kota sekenanya karena ditakutkan adanya pembunuh bayaran yang dikirim untuk mengincarnya. Ia juga menjadi bosan jika terus-terusan hanya membaca buku di dalam perpustakaan. Terkadang terbesit pikiran di benak Sakura yang menginginkan agar dirinya dapat kembali ke masa lalu. Jika mengingat kembali kenangan-kenangan yang ia lewatkan di Konoha bersama Konohamaru & Ebisu, Neji, Iruka serta suami istri pemilik toko buah, tetesan air mata akan mengalir seiring rasa rindunya terhadap mereka yang meronta ingin dipuaskan. Orang-orang yang berada di Istana itu sangat berbeda dengan mereka yang berada di Konoha. Tidak ada saling tukar pandangan karena semua orang langsung menduduk setiap kali melihat Sakura. Tidak ada canda tawa karena berbicara sepatah kata dengan Sakura saja sudah dirasakan sebagai tindakan kriminal bagi mereka.
Mungkin karena terus melihat tuan putrinya yang selalu murung, akhirnya Sanzo mengadakan rapat rahasia bersama 3 petinggi kerajaan kepercayaannya. Hasil akhir dari rapat itu adalah, mereka akan mengirimkan Sakura ke Konoha Royal Gakuen untuk bersosialisasi dengan para penerus kerajaan lain yang nantinya akan bermanfaat bagi masa depan Kerajaan Haruno dan juga agar Sakura dapat memiliki teman yang bisa diajak bicara tanpa canggung dan tidak perlu memikirkan tinggi atau rendahnya derajat mereka karena semua murid di sana adalah calon Raja dan Ratu di masa depan.
Chapter 3's done! Sekali lagi saya minta maaf atas keterlambatan fic ini. Mudah-mudahan chapter 4 bisa update lebih cepat... Amin :p
