Lohaa...

Saya balik, ada yang kangen? Ga ada? Ya udah deh hehe~

MAAF INI MASIH BUKAN LANJUTAN CHAP 1 L

WARNING : Markjin/Jinyoung SG/Banyak Typo/Cerita sangat Absurd/Jika ga suka yang ga jelas mending saya saranin ga usah baca aja hehe~

*My Woman*

Jinyoung berjalan keluar dari lift terseok-seok menahan sakit di tumitnya. Sakit yang benar-benar menyiksa, pikirnya. Kamarnya yang hanya berjarak dua kamar dari lift terasa amat sangat jauh kali ini. Jinyoung bersumpah tidak akan pernah mau lagi menggunakan heels terkutuk itu.

Sesampainya di dalam flatnya, dengan hati-hati ia membuka stilleto putih bermotif bunga-bunga mungil itu. Dan betapa kagetnya ia karena kedua kakinya sudah memerah panas dan disertai dengan rasa perih luar biasa. Jinyoung meringis kecil mencoba mengalihkan rasa sakit di kakinya.

Jinyoung berusaha bangkit dari posisi duduknya di depan rak sepatu dengan berpegangan pada sisi dinding sebelah kanannya. Namun, sepertinya kakinya sudah terlalu sakit untuk sekedar membawanya ke dalam kamarnya hingga sebelum benar-benar berdiri ia kembali terduduk.

" ouchh...sshh" Jinyoung kembali meringis keras. Nyeri di kakinya semakin memburuk. " bagaimana ini?" bisik Jinyoung hampir menangis.

Namun sebelum butiran-butiran air bening itu jatuh, seseorang datang dari dalam rumah dan berjongkok di depannya. Namja itu menatapnya sekilas dengan tanpa ekspresi sebelum menarik kedua tangan Jinyoung dan melingkarkannya di lehernya. Kemudian dengan tanpa beban ia membopong tubuh Jinyoung ke dalam. Namja itu meletakkan tubuh Jinyoung di sofa ruang tamu. Kemudian si namja kembali memposisikan dirinya duduk di bawah, di depan Jinyoung. Namja itu kini serius mengeluarkan kapas dan beberapa obat dari dalam kotak yang sudah ada di meja ruang tamu itu.

" sejak kapan kotak P3K itu ada di ruang tamu?" pikir Jinyoung yang kini hanya diam memerhatikan kegiatan namja di depannya.

Setelah membasahi kapas di tangannya dengan air, namja itu menarik kaki Jinyoung perlahan dan membawanya kepangkuannya. Dengan perlahan pula ia mulai membersihkan luka di bagian belakang kaki Jinyoung. Jinyoung berjengit kaget karena lukanya memberikan reaksi perih luar biasa.

" ouuh...Mark, sakiiit" Jinyoung merengek berusaha menarik kakinya karena sungguh ia tidak ingin merasakan perih menyiksa itu. Tapi apalah daya, genggaman Mark terlalu kuat di kakinya.

" tahanlah sebentar" Mark masih berusaha membersikan luka lecet itu dengan kapas sebelum memberi obat. Kini Mark mengambil kapas baru dan membasahinya dengan cairan alkohol.

Dan detik saat kapas itu menyentuh lukanya, Jinyoung benar-benar menarik kakinya dengan cepat. Ia bahkan beringsut menjauhi Mark dan memeluk lututnya di dadanya. Dan tentu saja masih meringis hebat.

" lukamu akan infeksi jika tidak dibersihkan Jin" Mark menatap Jinyoung dengan tatapan sedikit khawatir dan kesal.

" tapi sakit" cicit Jinyoung memberi Mark tatapan merajuk, " lagi pula kenapa kau perduli sekarang? Biar saja lukaku infeksi" oke yang ini sudah masuk kategori merajuk. Jinyoung bahkan membenamkan wajahnya ke lututnya. Ia tentu tidak akan pernah memaafkan kesalahan namja itu walau kini ia lah yang mengobati lukanya.

Mark menghela napas melihat tingkah yeoja di depannya itu. Tidak tahukah ia bahwa Mark amat sangat perduli dengan segala sesuatu yang menyangkut yeoja itu?

" jika infeksi itu menyebar, kau bahkan bisa kehilangan kakimu selamanya kau tahu itu?" Mark mulai membujuk Jinyoung. Ia hanya ingin mengobati lukanya, jika Jinyoung akan terus marah setelah itu ia akan membiarkannya – setidaknya hingga kemarahan yeoja itu mereda. Mark berusaha menarik kaki Jinyoung perlahan, namun Jinyoung masih keukeuh memeluk kakinya. " Jin please, biarkan aku mengobatimu. Lalu kau boleh melanjutkan marahmu padaku" Mark tidak sabar juga akhirnya.

" hhuh, begitukah caramu membujuk wanita?" Jinyoung merengut marah – namun sayangnya terlihat sangat lucu.

Walau begitu, ia mulai menurunkan kakinya. Mark dengan cepat melakukan semua kegiatan membersihkan, memberi obat serta memasangkan plester pada luka Jinyoung. Walau perihnya tidak berkurang, tapi Jinyoung hanya diam di sana memerhatikan Mark yang sangat serius di depannya. Wajah serius itu sangat tampan dengan dengan rambut basah berantakan karena keringat. Jinyoung baru sadar bahwa Mark sudah tidak lagi mengenakan jas hitam yang tadi ia gunakan untuk ke pesta perayaan ulang tahun perusahaannya.

" jangan gunakan heels itu lagi" Mark bersuara di sela kegiatannya memasukkan bahan-bahan tadi ke dalam kotak seperti semula. Mark berbicara seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, yang membuat Jinyoung mengingat lagi mengapa ia marah pada Mark.

Bagaimana tidak akan marah? Ia mengatakan sangat ingin terlihat cantik di acara ulang tahun perusahaan Mark dengan menggunakan sepatu stilleto yang baru saja diluncurkan tapi Mark menolak mentah-mentah membelikannya. Jinyoung dengan sedikit kecewa akhirnya menggunakan stilleto lamanya – dan satu-satunya pula – ke acara itu. Dan sesampainya di acara itu, ia melihat Jessica dengan segala keanggunannya menggunakan sepatu idaman Jinyoung yang ternyata merupakan suatu hadiah dari Mark. Oh Tuhan. Tidak cukup sampai di situ, Mark malah mengacuhkannya dan hanya menyuruhnya duduk di sudut ruangan dengan alasan ada klien penting yang perlu ia temani. Bersama Jessica tentu saja. Hingga Jinyoung memutuskan untuk pulang saja dengan taksi sebelum acara itu usai.

" ohh, aku tidak boleh tapi Jessica boleh memakainya?" sungut Jinyoung tidak suka Mark melarang-larangnya mengenakan sesuatu. " kau bahkan memberinya stilleto yang aku idam-idamkan" cicit Jinyoung sambil kembali merengut.

" oh kenapa kau tidak bersamanya saja? mungkin kakinya juga akan lecet gara-gara tadi menemanimu berkeliling di acara itu" Jinyoung benar-benar tidak suka Mark mengabaikannya tadi di acara itu.

Mendengar itu, Mark mendongak menatap Jinyoung " dia bukan wanitaku" ujar Mark tanpa ragu.

" aku hanya perduli pada wanitaku. Aku memberinya sepatu yang kau suka agar kau tidak lagi menginginkan dan mungkin membenci sepatu itu seperti aku membenci heels bodohmu yang sudah membuatmu terluka" Mark menyentuh anak-anak rambut Jinyoung yang terlepas dari ikatannya dan menyelipkannya ke belakang telinga Jinyoung.

" kau mengatakan itu hanya untuk menghiburku saja kan?" Jinyoung sangsi dengan penjelasan Mark. Karena mungkin saja kan Mark hanya membual, dan sebenarnya ia lebih senang melihat Jessica dari pada dirinya. " tidak apa-apa Mark, katakan saja jika kau sudah bosan denganku dan ingin bersamanya"

" ya Tuhan Jin, apa kepalamu terbentur sesuatu? Mengapa kau berkata begitu? Tentu saja aku ingin menghiburmu dan ingin kau menyudahi acara marahmu itu, tapi semua yang aku katakan tadi benar adanya" Mark menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. Merasa sedih mendapat tuduhan begitu.

" benarkah?" Jinyoung malah dengan polosnya mempertanyakan kejujuran Mark.

" apakah aku terlihat sedang bercanda?" Mark mulai naik darah.

" ani" jawab Jinyoung spontan.

" lalu?" Mark mulai berdiri, tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dia mulai marah dengan kecurigaan Jinyoung, bahkan setelah ia menjelaskan dengan sebenar-benarnya. Ahh sepertinya ruangan itu juga sudah mulai panas.

" haahh.. aku tidak percaya kau ternyata sangat meragukanku Jin" Mark segera berbalik untuk pergi, namun langkahnya tertahan. Jinyoung menahan pergelangan tangannya.

" mianhaeyo, aku percaya padamu..sangat" Jinyoung mengangguk meyakinkan.

Mark menatapnya tidak percaya.

" mwoga? sekarang kau yang tidak percaya padaku?" Jinyoung menyipitkan matanya.

" sungguh kau percaya padaku sekarang?" Mark merendahkan kembali posisinya hingga sejajar dengan Jinyoung yang masih duduk di sofa.

" oo" Jinyoung mengangguk lucu.

" cium aku" titah Mark kemudian.

" wae?" Jinyoung berkerut tak mengerti.

" kau percaya padaku?" Jinyoung mengangguk lagi " cium aku kalau begitu" dan Jinyoung melaksanakannya dengan senang hati.

~End~

Yeyeye... Absurd? Iya emang.

Entahlah saya juga ga paham saya ini nulis apa?

Dan maaf lagi, belum bisa lanjutin yang chap 1 itu L

Ya udah deh, seperti biasa saya ucapin TERIMAKASIH yang sebesar-besarnya bagi yang udah mau nengok, mampir, baca, review, follow dan fav FF saya yang sangat absurd ini *take a bow* LUV YA :*