readernim~ maaf aku upload ulang! aku lupa nyantumin nama-nama kalian di bawah karena saking seneng dan buru-buru pengen update hehehehe. Maafkan aku~

Tittle/judul fanfic: Plus Proche

Author: LuOh Deer

Length: 1- …

Genre: Hurt/Comfort. Romance.

Rating: T

Main cast :

Oh Sehun

Luhan

Additional Cast :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Disclaimer: Cerita murni buatan saya, kalau ada kesamaan dengan cerita lain saya tidak tahu. No copas!

Author's note : Hope you like this!^^ Makasih buat exo_gs_edit yang membuat Luhan semakin cantik. oh iya perbedaan waktu Seoul-Paris itu 7 jam. Dan, fyi, orang demam itu di kompres dengan air hangat ya guys, bukan air dingin apa lagi batu es. karena hawa panas dari tubuh yang melawan hawa dingin dari kompresan itu dapat menyebabkan kejang-kejang.

Enjoy reading!

.

.

.

LuOh Deer Present

.

The Devil Triangle

Sehun menampilkan senyum terbaik yang ia punya kala pria tan yang datang menghampiri mejanya secara tiba-tiba. Menarik karyawan dari hadapannya lalu mengecup bibir mungil Luhan didepan matanya.

Sehun dididik dengan sopan dan santun sekalipun saat ini hatinya tengah dongkol melihat kelancangan pria ini. Luhan menarik Jongin untuk duduk disisinya, berhadapan dengan Sehun. Pandangannya ia alihkan pada sosok mungil dihadapannya yang tidak sedetikpun melepaskan senyuman bahagianya, senyuman yang tidak pernah ditunjukan dihadapannya. Dan itu membuat hatinya teriris.

"Sehun, ini Kim Jongin-"

"Kekasih Luhan." Potong Jongin kala Luhan menyebutkan identitas pria disebelahnya. Luhan bersemu merah lalu mencubit pinggang Jongin menyebabkan keluhan dari Jongin.

"Oh Sehun." Balas Sehun singkat dan padat. Nada dingin yang ia lontarkan membuat Luhan dirundung perasaan bersalah.

"Ba-bagaimana kalau acara makannya kita mulai?" Ajak Luhan tergugu.

Sehun tidak menjawabnya hanya mengambil sumpitnya lalu menjepit sepotong sushi yang telah tersaji sejak tadi. Sehun membawa pandangannya keluar jendela sambil menguyah lembutnya sushi yang hancur didalam mulutnya.

Guguran daun membuat perasaan emosionalnya meruak. Ia kembali mengalihkan pandangannya untuk mengambil kembali sepotong sushi jenis lainnya namun pandangannya terhenti kala Luhan sedang menyuapkan satu potong sushi kepada Jongin. Seketika rasa lapar juga lelahnya menguap ke udara.

Sehun mengambil gelas minumannya lalu meneguk teh hijaunya pelan dan dari balik gelasnya ia dapat melihat pria tan itu memberinya senyuman mengejek. Berjuta-juta umpatan sudah berada diujung lidahnya kalau saja ia tidak ingat didik dengan benar, dituntut untuk selalu mengontrol seluruh amarahnya mungkin ia akan mengeluarkan semburan umpatan itu dan merobek bibir yang tersenyum mengejeknya.

.


.

Acara makan malam yang panas-menurut Sehun- akhirnya selesai. Mereka bertiga keluar dari restaurant menunggu supirnya datang menjemput.

"Kau yakin tidak ingin bersamaku malam ini?" Tanya Jongin manja. Sehun mempertahankan wajah datarnya sedangkan Luhan menggeleng dengan wajah kecewa. Sebenarnya ia ingin sekali bersama dengan kekasihnya menghabiskan waktu bersama hanya saja ia sedang bekerja bukan liburan pribadi yang menyebabkannya tidak bisa pergi seenaknya saja.

Mobilnya berhenti dihadapan mereka, tanpa sadar Luhan menghela nafas berat. Ia memeluk Jongin lagi sebelum akhirnya melepaskan pria tan itu.

"Aku sangat merindukanmu." Ucap Luhan dengan raut sedih. Jongin menampilkan senyum lebarnya lalu mengusak surai hitam Luhan.

"Aku lebih dari itu."

"Luangkan waktu untuk membalas pesanku kalau begitu!" Seru Luhan seraya memukul dada bidang Jongin. Jongin terkekeh lalu mencium kening Luhan, Luhan menutup kedua matanya merasakan sentuhan lembut dari kekasihnya.

"Akan aku usahakan sayang."

"Aku pergi."

Jongin menganggukan kepalanya mengerti. Luhan membalikan tubuhnya lalu membuka pintu mobil.

Sehun berjalan berputar kearah sisi mobil lainnya ia dapat melihat Luhan melambaikan tangannya pada Jongin sebelum akhirnya masuk kedalam mobil.

Pandangan Jongin teralih pada Sehun yang diambang pintu mobil menatap datar kearahnya, dan lagi untuk kedua kalinya Sehun ingin merobek senyuman menjengkelkan itu.

.

Sehun tidak membuka suaranya selama perjalanan kembali menuju penginapan. Ia melirik gadis disampingnya yang tidak henti-hentinya tersenyum sendiri. Sehun tanpa sadar mengeraskan rahangnya kala melihat senyum manis itu bukanlah untuknya.

Hingga mereka telah masuk kedalam apartemen, Sehun tetap enggan berbicara. Luhan baru merasakan perbedaan sikap Sehun setelah pria tinggi itu berjalan yang lebih cepat dari biasanya, meninggalkan dirinya jauh dibelakang.

Luhan menatap punggung tegap yang menjauh dari penglihatannya lalu menghilang dibalik pintu kamar. Luhan mengerutkan kening, berfikir apa yang menjadi penyebab atasannya berdiam diri.

.


.

Seoul, Korea Selatan.

Senja menjadi waktu yang bagus untuk berjalan-jalan santai. Itu yang dilakukan Baekhyun diatas rumput hijau, dengan taburan dedaunan oranye yang jatuh dari dahan. Perutnya mulai membuncit kala menginjak minggu ke duabelas. Uluran tangan diantara bahu juga pinggangnya ia rasakan. Baekhyun mendongak lalu tersenyum.

Sosok tadi membantunya untuk duduk diatas rerumputan, lalu pria itu ikut menempatkan dirinya disamping Baekhyun. Ia menoleh lalu memberi satu botol air mineral pada Baekhyun.

"Terima kasih, Chanyeol."

Chanyeol mengangguk sebagai balasan.

Kini keduanya terduduk menghadap orang-orang yang berlalu lalang. Memainkan sepeda, atau hanya mengobrol dan bercanda ria di sepanjang perjalanan, juga beberapa anak lelaki yang memainkan bola.

Baekhyun tanpa sadar mengembangkan senyum keibuannya. Tangan rampingnya tergerak mengelus perutnya sayang.

"Bagaimana kandunganmu?" Tanya Chanyeol kala ia menangkap pergerakan Baekhyun tadi.

Baekhyun menundukkan pandangannya, menatap perut buncitnya dibalik kaus hitam turtleneck hitamnya.

"Mereka baik." Jawab Baekhyun lalu kembali menampilkan senyum hangatnya. Chanyeol tidak dapat menahan gejolak yang menggelitik di perutnya kala mendapati Baekhyun yang tersenyum. Debaran jantungnya selalu tidak normal jika berdampingan dengan wanita mungil ini.

"Bagaimana dengan morning sickmu?"

Baekhyun membuang nafas pelan. Ia menggelengkan kepalanya dengan bibir yang mengerucut.

"Masih parah seperti biasanya." Rajuk Baekhyun yang membuahkan kekehan dari si jangkung.

Wajah Baekhyun perlahan berubah sendu kala ia ingat akan hal mengidamnya yang semakin parah.

"Aku.. masih mengidam untuk bertemu dengannya Chanyeol-ah." Ucapnya dengan tertunduk. Ia juga tidak tau mengapa, ini benar-benar murni bawaan dari kehamilannya yang benar-benar ingin bertemu, bertatapan langsung dengan pria es itu.

Chanyeol menghela nafas berat lalu menarik Baekhyun kedalam pelukannya.

"Ia masih tidak ingin bertemu denganmu?" Tanya Chanyeol.

"Ya.. dia pasti sangat membenciku bukan? Ia pasti muak melihat jalang sepertiku."

Chanyeol dengan cepat menjauhkan dirinya dari pelukan. Mata bulatnya menatap kedua bola mata Baekhyun marah.

"Itu tidak benar. Siapa yang kau panggil jalang, huh?"

"Ia mengatakan itu saat terakhir kali kami bertemu.." Lirih Baekhyun dengan mata berkaca-kaca. Kehamilannya menambah tingkatan sensitif dalam dirinya. Dan yang lebih memperparah adalah kondisinya yang tengah mengandung dua bayi sekaligus, yang menyebabkan tingkatan sensitif yang sangat berlebih dari pada kondisi ibu hamil biasa.

"Jangan pernah mengatakan hal buruk seperti itu lagi tentang dirimu Baekhyun. Karena kau sendiri juga tau, bahwa hal itu tidak benar."

Baekhyun menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Chanyeol. Chanyeol mengusap perlahan punggung Baekhyun yang bergetar. Baekhyunnya lagi-lagi menangis untuk alasan yang sama. Ia menaruh kepalanya diatas kepala Baekhyun. Chanyeol memejamkan kedua matanya dengan alis yang bertemu. Ikut merasakan sakit dan lelah yang dialami Baekhyun. Satu-satunya wanita yang ia cintai.

.


.

Malam yang sunyi kini digantikan dengan pagi yang cukup damai. Suara-suara burung bernyanyi, bunyi kendaraan yang berlalu lalang menemani Luhan yang terduduk disofa, menatap lurus pada pintu kamar yang masih belum terbuka sejak dua jam ia duduk disana.

Luhan menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya. Menyerah dengan perut laparnya yang meraung minta untuk diisi. Ia melangkahkan kakinya ke dapur, mengambil roti gandumnya yang ia isi dengan tomat,selada juga selembar daging yang telah ia masak.

Sampai Luhan menuntaskan laparnya dan mencuci piring kotornya Sehun masih tidak keluar dari kamarnya. Ia melirik jam pada dinding yang menunjukan pukul sebelas. Sehun tidak pernah tidur sampai sesiang ini.

Jadi ia berinisiatif membangunkan pria itu. Luhan mengetuk pelan pintunya namun tidak ada jawaban. Setelah lima ketukan pada pintu, Luhan menyerah. Ia memutar knop pintu yang tidak dikunci.

Luhan membuka daun pintu secara perlahan. Mata rusanya menangkap sosok tinggi itu terbaring dengan selimut yang menutupi sampai bahu lebarnya. Ia berjalan kearah Sehun lalu mendudukan dirinya ditepian ranjang.

Tubuh Sehun ia guncang perlahan. Namun pria ini tetap menutup matanya. Luhan menangkap butiran peluh yang membanjiri dahi Sehun, membuat poninya lepek. Luhan mengangkat tangannya, menaruhnya diatas dahi Sehun.

Luhan berjengit tak tahan kala panas membakar suhu tangannya.

"YA TUHAN! SEHUN! KAU DEMAM!" Jerit Luhan. Sehun mengernyitkan dahinya kala mendengar teriakan yang menyadarkannya.

"Diamlah.." Perintah Sehun dengan suara serak bangun tidur. Tubuhnya sedang tidak dalam kondisi prima yang harus mendengar jeritan Luhan.

Sisi ranjang sedikit ringan dan suara langkah kaki menjauh membuat Sehun tau bahwa Luhan sudah pergi dari kamarnya. Ia kembali mencoba memasuki alam mimpi.

Tidak lama setelahnya ia mendengar langkah kaki yang cepat datang menghampirinya dengan sisi ranjang yang kembali berat.

Suatu yang basah juga hangat Sehun rasakan diatas dahinya. Sehun mengangkat tangannya tanpa membuka mata. Ia meraba benda yang berada diatas dahinya namun baru saja ia merasakan permukaan lembut handuk diatas dahinya tangannya diturunkan dengan paksa oleh Luhan.

"Aku mengompresmu agar kau lebih baik."

Luhan kembali merendam handuk kedalam wadah air hangat. Memerasnya lalu menaruhnya kembali diatas dahi Sehun.

"Kenapa kau bisa jatuh sakit?" Tanya Luhan yang memandang wajah damai Sehun yang terpejam.

"Aku tidak tau, Luhan. Mungkin udara kemarin terlalu dingin padahal semalam aku merasa 'panas'." Jawab Sehun masih dengan mata terpejam.

"Jadi sejak semalam kau sudah merasa demam? Apa karena itu kau diam disepanjang perjalanan dan meninggalkanku dibelakang?"

Sehun berdecak kala Luhan salah menangkap sindirannya.

"Kau sangat mencintainya ya." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang dilayangkan oleh Sehun.

"Siapa?"

"Kekasihmu."

"Ah.." Jawab Luhan lalu menganggukan kepalanya. Sehun membuka matanya perlahan, menatap Luhan yang menghalangi sinar mentari dari jendela, membuat Luhan nampak makin bersinar dipandangannya.

"Dia pria yang beruntung." Lagi, Sehun melayangkan pernyataan. Luhan bersemu menahan senyumnya yang akan mengembang, guna menutupi rasa malunya alih-alih ia mengambil handuk Sehun lalu merendamnya kembali.

Luhan mengangkat handuk yang terendam dari wadah lalu memerasnya. Ia hendak menaruh kain basah itu kembali diatas kepala Sehun kala pandangannya bertubrukan dengan mata tajam milik Sehun yang meredup.

"Apa aku bisa menjadi pria yang beruntung itu, Luhan?" Kali ini Sehun melayangkan sebuah pertanyaan pada gadis bermata rusa itu.

Luhan membelalakan matanya. Ia tanpa sadar menahan nafasnya kala jantungnya berdetak cepat mendengar pertanyaan Sehun. Mata sendu Sehun menatap kedua mata rusa Luhan yang terkejut.

Luhan menghembuskan nafas pelan lalu menaruh handuk basah diatas dahi Sehun. Ia berdeham lalu membuang wajah dari pandangan Sehun.

"Aku akan membuatkanmu jeonbokjuk ."

Luhan mengangkat dirinya dari tepian ranjang lalu dengan cepat tungkainya keluar dari kamar Sehun kemudian menutup pintunya rapat. Tubuhnya merosot jatuh kelantai kala debaran dijantungnya yang masih menggila.

Ia mengerjabkan matanya beberapa kali. Lalu ia mengarahkan tangannya pada dada bagian kirinya tempat dimana debaran menggila itu yang belum berhenti.

"A-apa itu tadi..?" Lirihnya.

"Mungkin karena ia demam, ia menjadi melantur. Ya, pasti karena itu. Hahaha." Lanjut Luhan dengan tawa renyahnya.

.

Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam menemani Sehun makan, Luhan membereskan peralatan makan diatas nampan. Ia membuka aluminium yang membungkus satu pil paracetamol dan menyuruh Sehun meminumnya.

"Tidak Luhan. Aku akan tidur kembali, ini hanya flu biasa."

"Ini akan mempercepat kau membaik Sehun-ah."

Sehun menggelengkan kepalanya membuat Luhan mendengus sebal. Ia menaruh pil tadi diatas tisu, lalu berkacak pinggang menatap Sehun lamat-lamat. Sebelumnya, Sehun juga merengek tidak ingin makan karena lidahnya yang tidak bisa merasakan apapun. Sekarang, lagi-lagi Sehun merengek yang membuat kesabaran Luhan diujung tanduk.

Ia tidak menyangka jika atasannya yang dingin serta berkarisma beberapa hari lalu adalah pria yang sama dihadapannya saat ini.

"Oh Sehun. Minum obatmu." Tuntut Luhan menatap tajam Sehun yang memelas.

"Sekarang. Oh. Sehun."

Sehun menelan ludahnya kasar. Ia bergidik ngeri melihat hawa gelap yang terpancar disekitar Luhan.

Baru Sehun akan membuka mulutnya untuk menawarkan sebuah usulan tiba-tiba Luhan memakinya yang membuatnya berjengit kaget.

"KALAU KAU TIDAK INGIN MINUM OBAT MAKA JANGAN JATUH SAKIT! MENGAPA KAU SUSAH SEKALI DIATUR HAHH?!"

Sehun memegang dada kirinya yang berdetak cepat karena terkejut oleh suara tinggi Luhan. Wajah tampangnya melongo tak percaya bahwa Luhan akan memakinya. Mata tajamnya beberapa kali ia kedipkan memastikan bahwa gadis yang baru saja meneriakinya adalah salah satu karyawannya.

Sehun dengan pelan mengulurkan tangannya mengambil pil juga gelas berisikan air. Sehun menenggak rasa pahit di pangkal lidahnya lalu menaruh kembali menaruh gelas diatas nampan.

Ia menyandarkan kembali punggungnya pada kepala ranjang menatap Luhan yang masih dengan mata rusanya yang menatap lekat dirinya.

"Apa kau juga seperti itu dengan kekasihmu?"

Luhan menurunkan tangannya, menaruhnya diatas pangkuan. Ia mengerjabkan matanya beberapa kali, tidak mengerti apa yang dimaksud Sehun.

"Kau selalu membuatkannya bubur dan memarahinya karena ia tidak ingin meminum obatnya?" Tanya Sehun kembali.

Luhan seketika menunduk. Kembali teringat ucapan Sehun sebelum ia membuatkan bubur untuk atasannya ini. Jantungnya berdetak tak beraturan karena tatapan Sehun yang tidak lepas darinya.

"Tentu saja.." Jawab Luhan pelan.

"Kenapa?"

"Karena kalian berdua termasuk daftar orang penting didalam hidupku."

Sehun tersenyum miring. Jelas sekali ia tau perbedaan penting bagi Luhan. Jongin adalah kekasihnya sedangkan ia menjadi orang penting karena ia adalah atasan Luhan tidak lebih dari itu.

"Kalau begitu jangan pernah melakukan hal ini lagi kepadaku."

Luhan mengangkat pandangannya yang dia arahkan kepada Sehun yang sedang mencari posisi nyaman untuk tidur.

Belum sempat Luhan bertanya Sehun sudah menutup kedua matanya.

"Sekarang, keluarlah. Aku ingin istirahat." Perintah Sehun yang lagi-lagi dengan nada dinginnya layaknya kemarin malam. Luhan tanpa banyak tanya segera mengambil nampan berisi peralatan makan yang kotor lalu keluar dari kamar Sehun.


Senja menghilang digantikan indahnya rembulan juga taburan bintang digelapnya langit Paris. Luhan membuka pintu kamar Sehun pelan dan segera mendapati pria pucat itu tengah tertidur pulas. Ia menjinjitkan langkah kakinya tidak ingin membuat suara keributan atau apapun itu yang akan membangunkan atasannya.

Luhan menempatkan diri ditepi ranjang lalu mengarahkan tangannya keatas dahi Sehun. Helaan nafas lega ia berikan kala suhu tubuh pria itu sudah tidak tinggi seperti sebelumnya.

Dering demi dering masuk kedalam ponsel Sehun yang berada diatas nakasnya. Luhan melirik pada layar yang menyala menampilakan deretan notifikasi pesan masuk. Luhan menggidikan bahunya acuh karena itu bukanlah urusannya.

Ia membangkitkan dirinya lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana. Namun dering singkat itu kini berganti menjadi dering panjang yang memekakan telinga. Luhan membalikan badannya cepat lalu mengambil ponsel Sehun, dengan cepat ia bungkam suara deringnya dengan tangannya. Ia tidak ingin atasannya terjaga kala proses penyembuhan yang ia alami.

Luhan berlari kecil keluar dari kamar menuju ruang tv. Ia menimang-nimang apa yang harus ia lakukan saat ini. Apa ia harus menerima panggilan ini atau membiarkannya sampai terputus dengan sendirinya.

Dering itu lenyap membuat Luhan menghela nafas lega karena panggilan itu akhirnya berakhir dengan sendirinya. Namun tidak sampai dua detik. Panggilan itu kembali masuk dan memekakan telinganya lagi.

Luhan dengan ragu-ragu menggeser tombol dengan tulisan Slide to answer.

"Sehun-ah. Akhirnya kau mengangkatnya.." Ujar suara wanita dari sebrang sana.

"Sehun, kumohon. Kembalilah, aku tidak bisa menahan rasa mengidamku lebih lama lagi.. kumohon Sehun, kembalilah."

"A-aku.. aku berjanji Sehun. Ini yang terakhir kalinya kau akan melihatku."

Luhan berdiam diri tidak tau respon atau jawaban apa yang akan ia berikan pada wanita ini. Lidahnya seketika terasa kaku tidak dapat mengeluarkan sepatah kata apapun.

"Sehun aku akan-"

"Maaf nona, Tuan Oh sedang tidur. Apa ada pesan yang ingin disampaikan?" Potong Luhan dengan sisa kekuatan yang ia punya.

"Luhan?" Suara serak khas orang bangun tidur membuat Luhan membalikan tubuhnya. Ia terpaku pada tempatnya berdiri.

Sehun mengernyit melihat benda persegi miliknya yang berada di genggaman Luhan.

"Siapa itu?" Tanya Sehun cepat. Ia merebut ponselnya dari genggaman Luhan lalu melihat nama yang tertera pada layar.

Sehun memejamkan kedua matanya. Merasakan pening kembali yang menyerang kepalanya. Ia menghela nafas berat lalu mengangkat panggilan yang masih tersambung itu.

"Apa mau mu?" Tanya Sehun tajam.

"Sehun? Kau sudah bangun?"

"Aku matikan." Balas Sehun cepat.

"Tu-tunggu Sehun! Jangan! Jangan dimatikan."

Sehun diam menunggu perkataan selanjutnya yang akan dikatakan wanita dari sebrang sana. Merasa Sehun mendengarkan wanita itu menghela nafas gugupnya lalu berdeham kecil.

"Pulanglah Sehun. Kumohon. Aku berjanji ini terakhir kalinya kau melihatku."

"Kau tau apa? Itu tidak akan pernah terjadi." Balas Sehun cepat lalu memutuskan panggilan sepihak. Ia mengatur nafasnya karena sejak tadi menahan emosi juga rasa sakit didalam dadanya. Ia menjatuhkan dirinya diatas sofa lalu menangkup kepalanya dengan kedua tangannya.

Luhan menggigit bibir bawahnya dengan raut wajah takut. Sungguh, seorang Oh Sehun dalam mode seperti ini sangat menakutkan baginya.

Ia dengan pelan membawa langkahnya kepada Sehun. Saat tubuh mungilnya sudah semakin mendekati pria pucat itu ia dapat melihat bahu Sehun yang bergetar.

Luhan melebarkan mata rusanya.

Apa Sehun baru saja menangis?

.

.

.

TBC

Hellooooo, aku balik lagi dengan ff ini hehehehe.

Aku mau ucapin makasih buat yang masih nunggu ff ini dengan sabar. Makasih juga buat yang merasa tidak keberatan dengan permintaan aku untuk merubah rate ff ini. Oh ya dan juga aku ga janji fanfic ini selesai 25 chap. Mungkin kurang dari itu? Apa kalian keberatan?

Makasih juga buat yang udah unfollow juga unfav ff ini, gapapa itu hak kalian, maaf aku udah bikin kalian kecewa dengan keputusan yang saya ambil ini, maaf ga sesuai ekspetasi kalian. Saya masih jauh dari kata sempurna dalam menulis atau hal apapun itu. Semoga saya bisa memperbaikinya di masa depan.

Makasih buat kalian yang masih setia. Yang setuju dengan permintaan aku. Makasih udah mencintai ff inii. Dan maakasihh buat yang udah semangatin aku lagi. Yang juga sama-sama merasakan rindu sama HunHan :"""

Saranghae nae readernim~~~

Makasih banyakkkkk untuk dukungan kalian. Aku bener-bener bersyukur dan berterima kasih dengan review yang kalian beri. Karena itu adalah suatu bentuk apresiasi kalian pada penulis^^

Kalau ada yang kurang srek atau gimana dengan chap ini tuliskan pendapat kalian di kotak review ya!^^ aku penasaran nih pendapat kalian tentang chap ini!

Luv you~ XOXO

Ya ampun maaf aku lupa banget karena pengen banget cepet-cepet update chap ini hahaha.

Thanks to :

raiscrea|Fe261|lulubaek|misslah|naya narianti|Guest|Name dellassi|dana|Arara

Guest|Sweety|danactebh|Fe261