[Lost Arc: Second Life story]
Disclaim: I don't own anything
Warning: [Line story from Second Life story], Typo, OOC, Overpower!Naruto, Dragon!Naruto, and etc.
Summary: Setelah mengalahkan Black Dragon dan menyerap [Kristal Kehidupan] dimana Black Dragon ada di dalamnya, sebuah kutukan membuat Naruto memilih untuk pergi meninggalkan tanah hampa dimana semua [Naga] telah musnah.
.
Chapter 3: Empty.
"...Akhirnya, ketemu juga kau."
Suara itu membuat Naruto menoleh pelan, dan setelah tahu siapa yang berbicara dia mengutuk rasa ingin tahunya. "Apa maumu?" Naruto berdiri, dan menghadap ke arah Natsu yang menatapnya beringas.
"Aku ingin menyelesaikan urusanku yang tertunda tadi siang. Soal mulutmu yang sudah berbicara tidak sopan tentang Igneel." Natsu mengangkat satu tinjunya yang sudah berbalutkan sihir api pembunuh naga.
"Lupakan saja niatmu mendatangiku, lebih baik kau pulang dan beristirahat."
"Sombong sekali kau," Natsu sudah habis kesabaran langsung saja melesat ke arah Naruto dengan dua kepalan tangan yang sudah berbalutkan api. Melihat bagaimana Naruto hanya terdiam dan memejamkan mata, membuat Natsu semakin mempertajam pandangannya.
Satu lesatan pukulan berhasil Natsu layangkan ke wajah Naruto yang hanya terdiam menerima bogem mentah yang Natsu tujukan padanya. Aliran darah kecil keluar dari sudut bibir kiri Naruto, lalu remaja pirang itu menghapusnya.
"Kau sudah puas?" Tanya Naruto.
Natsu mendecih, "Kenapa kau hanya diam saja? Kenapa kau tidak membalas!?"
"Kau pikir aku nafsu bertarung denganmu?" Naruto berbalik dan kemudian berjalan, "Kita impas, dan sekarang pulanglah."
"Cih, tidak akan kubiarkan kau melarikan diri." Natsu berlari kembali dengan satu tangan yang sudah berbalutkan api, "Karyuu no Tekken."
Tap!
Seperti siang tadi, pukulannya kembali bisa di tahan dengan satu tangan, dan itu lagi-lagi bisa membuat Natsu terbelalak. Lebih terkejut lagi ketika Natsu menatap wajah remaja yang ia serang, "Kau, menahan seranganku tanpa melihat...?"
Naruto menghembuskan nafas, dia lelah mengurusi anak keras kepala seperti ini. "Akan aku katakan. Perbedaan antara kau dan aku itu terlalu jauh, kau tidak akan pernah bisa menang melawanku." Naruto kemudian melepaskan kepalan tangan yang ia genggam, lalu dia kembali melanjutkan niatannya untuk meninggalkan sang Dragon Slayer.
"Kalau begitu, aku ingin bertanya padamu tentang suatu hal!"
Naruto menghentikan langkahnya.
"Kau, ada hubungannya dengan Igneel 'kan? Aku mencium suatu bau yang sama yang dimiliki Igneel pada dirimu, meskipun itu sedikit samar."
Naruto memutar kepalanya sedikit kearah kiri, untuk memberitahukan kalau dirinya memberi respek. "Lalu, sekarang jelaskan tentang Igneel ini."
Natsu menajamkan tatapannya, "Igneel adalah ayahku."
Ada senyap sejenak karena sang lawan bicara tak lagi membalas ucapannya. Natsu kembali bereaksi saat Naruto melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti, tapi dia tidak merespon ucapannya.
"HEI –"
"Kalau Igneel itu adalah ayahmu, maka aku sama sekali tidak mempunyai hubungan dengannya. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu tentang siapa Igneel itu lebih jauh, karena aku tidak peduli."
Natsu tak lagi berkata apa-apa, dia kini hanya melihat punggung lebar milik mantan lawan bicaranya yang mulai hilang di telan gelapnya hutan di malam hari. Selang beberapa saat, akhirnya Lucy dan Happy baru sampai di tempat kejadian, gadis pemegang kunci zodiak itu terus terengah-engah selama hampir lebih dari satu menit.
"Natsu...! A-Ada apa?" tanya Lucy yang masih terengah.
Pandangan Natsu masih terpaku pada jalan yang di pakai Naruto untuk pergi, "Tidak ada apa-apa. Ayo kita kembali." Lalu dia berbalik arah dan mengajak kedua temannya untuk kembali ke Magnolia.
~o~
Puk!
Naruto langsung terbangun saat dia merasakan sebuah benda sedang bersender di lengan atas kirinya. Remaja pirang itu kemudian menoleh, mendapati sebuah puncak kepala yang tertutupi surai berwarna biru sedang bersender padanya.
Naruto kini sedang berada di dalam kereta yang melaju ke kota... entah apa namanya itu dia tidak mengingatnya, yang jelas nama kotanya itu sulit diucapkan oleh lidah orang Indo –maksudku Jepang.
Saat Naruto berniat menjauhkan kepala itu darinya, suara dengkuran halus yang terdengar imut langsung membuatnya menghentikan apa yang akan ia perbuat selanjutnya. Kemudian pemuda itu mengecek wajah orang yang tertidur tersebut, dan ia bersyukur telah melakukan hal itu.
"Di-Dia sangat imut...!" Naruto bergumam. Ada rasa gemes yang bergejolak dalam dirinya saat melihat wajah polos yang sedang terlelap itu, dan rasa gemes tersebut membuat tangannya tanpa sadar bergerak sendiri kearah pipi tembem berkulit seperti salju itu.
Satu sentuhan.
Dia tidak bereaksi.
Dua sentuhan.
Dia masih tetap nyaman.
Tiga sentuhan.
Naruto mulai ketagihan.
Empat sentuhan.
Sang pemilik pipi tembem tersebut membuka matanya.
Naruto terdiam.
Dia juga terdiam.
Mereka saling bertukar pandangan.
Dan pada detik berikutnya...
"KYAA~!"
PLAK!
...sebuah tamparan di lesatkan.
~o~
"Be-Beraninya kamu mencabuliku di depan umum!"
Ada sedikit rasa sweatdrop dalam hati Naruto saat dengan jelas matanya melihat gadis yang tadi menamparnya kini sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dada yang padahal masih utuh keberadaannya.
"Kenapa kau menuduhku seperti itu? Aku... tidak melakukan apapun 'kan?"
"Apanya yang tidak melakukan apapun? Kamu mau menciumku 'kan?"
Naruto menghela nafas, 'Pikiran gadis kecil ini sudah terlalu dewasa,' Pemuda itu menyenderkan kembali kepalanya pada jendela yang masih tertutup, "Selamat tidur."
Naruto terlelap hanya sekitar kurang lebih lima menit dan dia kembali terbangun saat merasakan sesuatu yang janggal pada wajahnya. Saat dia membuka mata, remaja pirang itu kembali mendapati kalau gadis yang menuduhnya tadi sedang mengendus-endus permukaan wajah serta lehernya.
"Dasar mesum."
Gadis itu terlihat seperti baru tersadar dan kembali pada kenyataan, matanya kemudian melebar dan wajahnya mulai memerah. "Ti-Tidak, kamu salah!"
"Lalu, menurutmu menciumi bau tubuh orang itu bukan perbuatan mesum?"
"Su-Sudah kubilang kalau kamu salah!"
"Lalu?"
Gadis itu tiba-tiba menunduk, "A-Aku merasakan ada sesuatu yang mirip pada dirimu, sesuatu yang mengingatkanku pada seseorang."
Melihat wajah sedih itu Naruto jadi teringat akan adiknya, namun kemudian ia alihkan pandangannya ke arah jendela mencoba untuk tidak peduli, karena dia bukan Yuri.
"Baumu mengingatkanku pada ibuku."
Naruto menutup matanya dan menghembuskan nafas pelan. Dia mulai berpikir, dunia ini yang aneh atau dirinya yang sudah mulai gila? Tak dapat ia bayangkan kalau dari kemarin malam dirinya terus di akui sebagai orang lain dari baunya. Apakah seperti itu cara mengecap seseorang yang di kenal? Jika iya, itu adalah sesuatu hal yang menjijikkan yang biasa dilakukan oleh Bedes —maksudku monyet.
Tapi Zereck-san tidak pernah tuh melakukan hal seperti itu! Malah, dia normal-normal saja.
"Sebelum kau berkata tentang kepemilikanmu, aku mau kau melihat wajahku sebentar dan kemudian pikir sekali lagi. Setelah itu, aku akan bertanya padamu, apakah wajahku ini mirip seperti wajah ibu-ibu?"
Gadis itu menggeleng, "Yang kumaksud bukan bagian tubuh, ada sesuatu yang lain."
Naruto tak bergerak sedikitpun, dia tetap memandang panorama pepohonan yang berada di luar jendela kereta. "Lalu, apa itu?"
"Kamu seperti memiliki aura seekor Naga."
~o~
Licht terdiam menatap Naruto yang sedang berdiri di kelilingi dua makhluk mistis lainnya yang menghuni tubuh remaja tersebut, "Lalu, apa yang akankau katakan selanjutnya? Dia mungkin sudah tahu kalau dirimu yang sebenarnya sudah bukan manusia."
"Dari awal lahir bocah ini memang sudah bukan manusia, dia Jinchuriki, dan sekarang dia menjadi Naga." Kurama ikut dalam perbincangan.
"Zzz..." Naga Hitam pembawa kehancuran terlelap dengan santainya.
"Mungkin dia hanya asal menebak, Licht. Dia tadi berkata [seperti], jadi tidak mungkin kalau dia yakin sepenuhnya."
"Lalu, apa keputusanmu?"
Naruto sedikit mengedikkan bahu, "Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin, aku akan mengikuti kemana gadis ini akan pergi, dia mengungkit-ungkit sebuah masalah tentang naga, jadi kupikir dia tahu sesuatu."
Kurama mendengus pelan, "Jadi kau beranggapan, kalau yang menarikmu ke dunia ini adalah Naga, begitu?"
"Mungkin saja. Aku akan mencoba mencari tahu hal itu dalam perjalananku, dan kuharap aku tidak bertemu sesuatu yang merepotkan."
Semuanya tiba-tiba terdiam, sampai suara lenguhan menggegerkan ketiga sosok yang masih terlibat dalam kontroversi.
"Selamat pagi... Mama."
"TIDAK ADA MAMA DISINI, BODOH!"
Setelah berteriak seperti itu, Naruto, Licht, dan Kurama menghela nafas bersamaan. Merasa lelah dengan semua ini.
~o~
"Ano, Hentai-san?" Melihat bagaimana pemuda pirang lawan bicara sedang terbengong, gadis berambut biru itu melambaikan satu tangannya di depan wajah Naruto yang menghadap kearahnya. "Ano..."
Akhirnya, setelah beberapa lama, kedua mata berhiaskan manik safir itu berkedip, membuat gadis itu menghembuskan nafas lega. Ia pikir pemuda di depannya ini tak lagi bisa menghirup nafas dan membatu di tempat, ia baru saja ingin berteriak meminta tolong pada orang-orang yang berada di dalam gerbong itu.
"Sekedar mengoreksi, namaku bukan Hentai-san. Aku Naruto, ...hanya Naruto."
Gadis itu sejenak terbengong, lalu dia berkata. "Perkenalkan, namaku Wendy, Wendy Marvell." Wendy kemudian tersenyum.
'Senyumannya, dia mirip seperti...' Naruto menggeleng pelan, mencoba menghapus pikiran aneh yang mulai meracuni otaknya. "Kau ingin pergi kemana?"
"Aku mau pulang. Ke Cait Shelter."
"Cait... apa!?"
~o~
"Jadi ini kampung halamanmu?" Naruto hanya bisa mengernyit saat melihat sebuah desa kecil yang sama sekali tak memiliki aura kehidupan. Memang benar jikalau di lihat dengan mata telanjang desa ini memiliki penduduk yang banyak diantaranya aktif bergerak, tapi jikalau dirasakan desa ini terasa hampa, orang-orang yang sedang bergerak itu bagaikan gambaran hologram. 'Ada yang tidak beres disini.'
Wendy mengangguk penuh antusias, kemudian gadis itu menarik lengan kiri Naruto dengan semangat. "Ayo, aku pertemukan dengan Tetua!"
Naruto hanya menurut saat lengannya di tarik seperti itu, dan itu telah berhasil membuatnya menjadi pusat perhatian penduduk desa itu. Berbagai tatapan yang tak sedikitpun mengenakkan bila dirasakan telah Naruto terima saat ini, tapi tak satupun dari tatapan tersebut yang mengandung rasa intimidasi, memang ada yang tidak beres.
"Itu dia tempat Tetua."
Naruto sedikit tersentak saat mendengar suara penuh semangat itu, dengan cepat dia kemudian mengarahkan pandangannya kearah tudingan Wendy. Ada sedikit rasa kagum yang dirasakan Naruto saat dirinya menatap rumah yang ukurannya paling besar diantara rumah-rumah lain, "Lumayan besar juga." Naruto tersenyum tipis
"Benar 'kan?" Sejenak Wendy tersenyum dengan penuh semangat, kemudian dia menarik lagi lengan Naruto. "Ayo kita masuk!"
Saat Naruto melewati tirai yang dipakai sebagai media pintu masuk bangunan itu, ada sedikit rasa kaget saat dirinya melihat banyak orang sedang berkumpul di ruangan itu. Tapi tetap saja Naruto hanya merasakan kalau ruangan itu seperti hampa, tidak masih ada pancaran energi kecil yang terasa.
"Tetua, aku pulang!"
"Wendy! Darimana saja kau selama ini!?" Seekor kucing berwarna putih berbicara dengan lantangnya sambil menunjuk Wendy yang tersentak.
"Ohh, Wendy-chan, selamat datang." Kini seorang pria tua berjenggot bertubuh kecil berjalan menyambut Wendy, "Apa yang membuatmu sampai terlambat seperti ini?"
Wendy tersenyum. "Perkenalkan, kakak ini namanya Naruto. Katanya, dia ingin mampir kesini untuk melihat-lihat."
Pria tua berjenggot itu menoleh kearah Naruto yang masih berdiri tegak disisi kiri Wendy. Ada jeda sejenak saat kedua makhluk yang sama-sama bergender laki-laki itu saling bertukar pandang, dari keduanya tak ada yang mengalah sebelum pria berjenggot itu menoleh kembali kearah Wendy.
"Baiklah Wendy-chan, biarkan aku yang menyambut pemuda ini, beristirahatlah."
"Baik, Tetua."
Pria berjenggot yang dipanggil Tetua oleh Wendy, terus saja tersenyum saat melepas kepergian Wendy serta kucing putih yang bisa bicara tadi. Namun senyum itu seketika lenyap saat tatapan dari sepasang mata tuanya beralih kembali pada Naruto, "Anak muda, ikut aku."
Naruto tetap tak beranjak dari tempatnya meskipun pria tua berjenggot itu sudah terlebih dulu melewatinya dan berada di depan pintu keluar yang dipakai Wendy, "Apa maumu?"
Pria berjenggot itu berhenti, "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
~o~
Naruto dan pria berjenggot itu kini sedang berjalan di jalan setapak hutan yang berada disisi belakang pemukiman. Tak ada dari mereka berdua yang membuka suara, sampai-sampai hanya suara langkah kaki yang mengisi kesunyian diantara mereka.
Namun pada akhirnya pria berjenggot itu berhenti melangkah, membuat Naruto yang ada di belakangnya juga ikut berhenti.
"Anak muda –"
"Panggil aku Naruto."
Jeda kembali.
"Baiklah, Naruto. Aku akan langsung menuju topik utama pembicaraan ini, kau pasti sudah mengerti situasi desa Cait Shelter 'benar?"
"Lalu?"
Pria berjenggot itu berbalik, "Bisakah aku meminta tolong padamu?"
"..."
"...Tolong jagalah Wendy."
"Aku tak bisa melakukannya," Naruto menunduk. "Kali ini aku tak bisa menjaga apapun, entah itu seseorang atau sebuah benda. Maaf, hanya saja aku mungkin tak sanggup kalau itu Wendy." Ada sedikit rasa sakit yang Naruto rasakan saat mengingat kembali kalau senyuman Wendy hampir sama seperti senyuman Yuri, walau mereka berdua adalah sosok yang berbeda.
"Meskipun aku tahu kalau kau itu bukan manusia?"
Naruto menatap kembali pria berjenggot itu, dan menatapnya tajam. "Darimana kau tahu?"
Pria berjenggot itu berbalik membelakangi Naruto, "Kita berdua pada dasarnya adalah hal yang sama, kita bukan seorang manusia. Aku hanyalah sisa dari sekumpulan energi yang masih bertahan, sedangkan dirimu adalah naga yang berwujud manusia." Pria berjenggot itu mulai berjalan perlahan, "Mungkin kau akan mengetahui sebuah rahasia tentang naga di dunia ini jika kau bertanya kepada Wendy. Atau mungkin kau bisa menemukan apa yang sedang kau cari."
Naruto mengikuti langkah pria berjenggot itu, "Apakah itu benar?"
"Entahlah, siapa yang tahu? Ingatlah kalau dunia ini masih begitu luas, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
[To be Continued...]
A/N: Note kali ini gak bisa panjang, karena saya lagi sedang sibuk-sibuknya.
Oke hanya ini yang bisa saya persembahkan, sampai jumpa.
