Disclaimer : Kuroshitsuji punya Yana Toboso, saya cuma minjem chara"nya
Warning : AU, OOC, OC, aneh, typo(s) and mistypo(s), dll, masih shounen-ai, ada sedikit action, DLDR~
Ciel menyalakan televisi, mencari channel dan memilih siaran berita, namun Kuro segera memancing Ciel pergi dari sana dengan memecahkan beberapa piring. Padahal, headline news yang beberapa hari yang lalu hanya diisi dengan hilangnya Sebastian dan managernya, sekarang digantikan dengan berita Sebastian yang sudah kembali. Pacar over itu—Beast juga semakin sering terlihat bersama Sebastian. Sayang Ciel tak melihatnya.
"Kau tak apa Kuro?"
"Saya baik-baik saja tuan muda."
"Lukamu cukup besar, duduklah sebentar, aku akan mengobatimu."
Beberapa saat kemudian Ciel kembali membawa bet*dine lalu mengobati maid itu dengan telaten. Kuro pun terpana melihatnya dan secercah kebahagiaan muncul di hatinya.
"Nah, sudah selesai."
"Terima kasih banyak tuan muda. Anda tak seharusnya melakukan ini. Maafkan saya sudah merepotkan anda."
"Kau tidak perlu seformal itu. Panggil saja aku Ciel. Tuan mu itu 'kan Sebastian."
"Baik..Ciel,"maid itu tersenyum tipis dan Ciel rasa itu senyum pertama yang ia lihat.
xxx
Sebastian pulang ke rumah pada larut malam. Ciel pun sudah tidur pulas di kamarnya.
"Tuan, setelah saya selidiki ternyata yang memiliki puntung rokok tersebut adalah Bard, pelayan nona Ciel (kata 'nona' membuat Sebastian tersenyum).Dia bersama teman-temannya sedang mencari informasi tentang anda. Nama mereka adalah Finnian, Maylene, Tanaka, Elizabeth tunangannya, dan Paula. Ini foto mereka," lapor Pluto dan menyerahkan foto-foto kerabat Ciel pada Sebastian.
"Pekerjaan bagus Pluto. Aku minta satu permintaan lagi. Tolong cari tahu informasi tentang anak ini." Sebastian memperlihatkan foto anak laki-laki berambut pirang di dalam liontin Ciel.
"Baik Tuan."
Setelah Pluto pergi,diperhatikannya foto itu satu persatu—berusaha mengingatnya. Lalu ia memanggil Kuro dan memperlihatkan foto itu juga padanya untuk jaga-jaga. Lalu mata Yuki tertumbuk pada foto Maylene.
"Ada apa, mengapa diam?"
"Tidak, tuan. Hanya mantan teman seperkerjaku. Namanya Maylene."
"..."
"Aku minta kau jaga Ciel dari orang-orang itu. Jangan lengah."
"Dengan senang hati, Tuan."
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada. Saya permisi." Pikiran Kuro kembali pada waktu Ciel mengobatinya dengan tulus(mungkin).
Sebastian hanya menatap kepergian maid nya dengan bingung.
Sementara itu...
Di mansion Phantomhive beberapa anak kecil sedang berdiskusi tentang apa yang baru saja mereka selidiki.
"Dari depan mansion tersebut tampak tak ada pertahanan sama sekali,"kata Paula.
"Memang banyak celah berupa kaca pada mansion itu. Apa perlu kita memecahkannya?"tanya Bard.
"Disekitar mansion itu banyak sekali pohon-pohon. Dan dibelakangnya terdapat taman yang cukup luas dengan berbagai macam tanaman yang dirawat dengan baik. Beberapa jendela biasanya tidak dikunci, karena aku melihat mereka suka membuka jendela untuk melihat taman belakang,"jelas Finny.
"Kalau begitu lebih baik kita masuk lewat sana pada siang hari. Sebastian dan pria tanpa baju itu biasanya sudah pergi,"kata Lizzy.
"Berarti yang kita hadapi mungkin hanya Kuro. Mungkin. Kita tak tahu siapa lagi yang ada di sana,"kata Maylene.
Mereka terus berbicara dan mendiskusikan rencana untuk masuk mansion Sebastian. Dan akhirnya setelah beberapa jam mereka selesai.
xxx
"Ciel, aku berangkat dulu ya."
"Baiklah Sebastian. Hati - hati."
"Kuro, jaga dia. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali Pluto."
"Baik Tuan."
Seketika itu mobil Sebastian melesat pergi.
Sementara kelima orang lainnya sudah siap di posisi masing-masing.
DUARR DUARR DUARRRRR DUAR DUARRR DUARR
Bunyi ledakan dari flamethrower milik Bard memenuhi halaman depan mansion Sebastian. Sontak Yuki yang sedang dengan damai menonton televisi bersama Ciel (Sebastian sudah memblock semua channel yang menayangkan berita tidak penting, yang ada tinggal N*tional G*ographic C*annel , C*rton N*twork, C*N, An*max, dll) segera keluar dan jawdrop seketika. Tapi tentu saja ia segera mencari dalang keributan itu. Tapi ia tak melihat siapapun. Ia sangat bingung dan teringat kalau ia menjaga Ciel hanya seorang diri. Dengan kalang kabut ia segera berlari masuk ke mansion dan mencari satu rifle lagi dan beberapa peluru.
Sementara ia sedang berlari menuju ruang santai, Elizabeth, Paula, Maylene, Finnian sudah berhasil masuk ke salah satu kamar di mansion Sebastian. Tanpa buang waktu mereka segera mencari keberadaan Ciel. Setelah berkeliling cukup lama akhirnya ia melihat seorang anak berambut kelabu sedang berlari tak tentu arah. Langsung saja mereka berempat berlari ke arah Ciel. Lizzy sudah tak bisa membendung rasa rindu segera meluncurkan kata-kata yang mendesak.
"Siapa kalian?!" tanya Ciel yang cukup terkejut.
"Ciel! Apa kau ingat kami, kami ini kerabatmu! Kau lupa kalau akau ini tunanganmu, hah? Aku Elizabeth! Sadar Ciel, sekarang kau ikut kami keluar dari sini sekarang juga! Ayo!" seolah tak mendengar pertanyaan Ciel, Lizzy mengeratkan pegangannya pada lengan Ciel dan rangkaian kata-kata itu meluncur di mulut Lizzy tanpa jeda. Itu karena mereka tidak punya banyak waktu.
"Hei! Lepaskan aku! Aku sama sekali tak kenal kalian! Kuro tolong aku!"
Lizzy dan yang lainnya tak mendengarkan teriakan Ciel. Lizzy malah menarik Ciel menuju salah satu kamar dengan lebih cepat. Air mata terus mengalir di pipi porselennya dan membuat Ciel mengingat sekelebat tentang nya. Kepalanya menjadi sakit dan semakin lemah. Gadis berambut pirang dengan mata emerald yang cerah... begitu indah. Namun ia segera mengabaikan hal itu.
"Lepaskan dia atau kutembak kalian,"Yuki sudah mengarahkan riflenya pada mereka. Lalu menembakkan peluru nya ke sembarang arah—hanya untuk mengalihkan perhatian.
"Ah, wanita itu!"
"Ya, perkenalkan. Namaku Airashi Kuro Yuki. Baiklah, tidak penting sekali ya?."
Bard sedikit menyesal meninggalkan flamethrower nya di taman belakang. Memang agak sulit memanjat sambil membawanya. Finnian segera mengangkat patung – patung di dekat sana dan melemparkannya ke Kuro namun ia berhasil lolos. Kuro juga menembakkan peluru-pelurunya pada mereka agar konsentrasi mereka pecah. Lizzy terus berusaha menarik Ciel dengan sekuat tenaga, sendirian karena yang lainnya sedang melawan Kuro. Melihat kedua temannya sedang melawan Kuro, Maylene yang seharusnya menembak Kuro malah menatap mereka dalam diam. Ia sangat kasihan pada Kuro bila ia harus mati, apalagi di tangannya. Akhirnya setelah mengumpulkan sedikit keberanian, ia menembakkan peluru-peluru ke arah Yuki. Dan berhasil menyerempet beberapa bagian kaki mulusnya. Itu membuat Kuro kesulitan berjalan. Dan riflenya terlepas dari tangannya.
Finnian, Bard, Maylene, Paula hendak menyusul Ciel dan Lizzy tetapi Pluto datang dan mengejar mereka semua dalam bentuk anjing ganas bermata merah. Paula merasa inilah saatnya untuk beraksi. Ia menebarkan tepung berukuran sangat kecil ke arah Pluto dan melemparkan korek api—yang sudah digesek tentunya) pada nya. Terbentuk ledakan yang lumayan untuk membuat sebagian kecil rumah Sebastian hancur dan menghambat jalan Pluto.
Yuki yang masih kesakitan tetap berusaha mengikuti mereka dari belakang. Tetapi saat melihat Ciel dan yang lainnya sudah menuju pintu belakang, hatinya bimbang. 'Aku sudah berjanji tak akan membunuh siapapun lagi. Apakah harus aku membunuh mereka. Tidak, jangan. Ah, tidak. Tadi mereka juga sudah mencoba untuk membunuhku tapi tak berhasil. Aku tak akan membiarkan mereka mengambil Ciel. Aku ... sayang padanya." Saat ia hendak mengisi peluru. Ternyata persediaannya sudah habis.
"SIAL!" Sekarang Kuro hanya bisa berharap pada Pluto. Tapi di bagian lain rumah Pluto sedang menahan rasa sakit akibat memaksa untuk menembus api.
Dan tiba-tiba saja pintu belakang itu terbuka lebar. Sebastian datang bagaikan malaikat penyelamat. Ia cukup kesal melihat sekumpulan bocah sedang memaksa Ciel berjalan keluar. Ciel nampak sangat kacau saat itu. Semua orang yang melihat kedatangan Sebastian hanya bisa diam terpaku. Mungkin kaget dan sedikit terpesona. Sebastian yang menyadari tatapan fans itu memakai kesempatan ini untuk menembak mereka satu persatu. Sadar karena mendengar suara peluru, mereka bergerak menjauh—dan melepas Ciel. Ciel segera berlari menjauh sejauh-jauhnya. Kekuatan mereka yang semakin menipis membuat mereka ragu untuk membalas Sebastian karena mereka melihat Pluto dengan luka bakar dan Kuro dengan riflenya yang sudah terisi. Pluto dan Kuro menahan rasa sakit yang begitu sakit . Mata semarah ruby mereka bertiga tampak berkilat-kilat menyiratkan amarah. Merasa dalam keadaan terpojok dan hanya memiliki satu rifle, mereka memlih kabur.
"Pergilah dan jangan coba-coba kembali lagi, atau kalian akan mendapat ganjarannya," teriak Sebastian dengan lantang.
Bard mengambil flamethrowernya, Lizzy, dan Paula berlari ke mobil. Lalu Bard mengambil rifle dari mobil dan membantu Maylene menembak mereka. Namun beberapa menit mereka tembak – menembak tak kunjung mendapat hasil, hanya luka-luka. Pada akhirnya Bard dan Maylene memilih pergi setelah peluru nya habis. Sementara itu Sebastian, Yuki, dan Pluto terus menembaki mereka dengan peluru yang hampir habis.
"Haah, sia-sia saja usah kita!"kata Bard
"Tak apa, kita masih bisa hidup 'kan?"kata Lizzy, dan dibalas dengan tatapan apa-kata-mu yang tajam.
"Merunduk!" Mobil Lizzy ditembaki oleh 3 orang bermata crimson itu(tentunya punya Sebastian paling indah) dan pelurunya memecahkan kaca dan merusak sedikit bagian dari mobil. Saat peluru mereka benar-benar habis, Pluto ingin mengejar mereka, namun ditahan.
"Tak perlu Pluto, biarkan saja mereka pergi."
"Oh ya. Ciel! Dimana dia sekarang?"
Dengan tergesa-gesa mereka bertiga berkeliling mansion untuk mencari Ciel. Sebastian akhirnya mendapati Ciel ada di kamarnya yang serba hitam itu. Tubuh ringkih itu sedang ketakutan di sudut ruangan dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Tubuhnya bergetar, mungkin karena ketakutannya bertambah mendengar pintu dibanting dengan sangat kasar. Menyadari kemungkinan itu Sebastian segera mengeluarkan suara menenangkannya itu.
"Ciel?" cukup satu kata membuat Ciel berani membuka sedikit selimut hitam itu.
Ciel yang hanya menampakkan wajahnya tampak lucu dibalut dengan selimut itu, seperti bayi dibalut selimut, walaupun mata birunya itu menyiratkan rasa takut.
"S-se-bas-s-tian?"
"Ciel, kau aman sekarang. Tenanglah aku akan melindungimu."
Sebastian lalu memeluk Ciel erat.
"Mengapa kau ada di sana tadi?"tanya Ciel.
"Handphoneku tertinggal, jadi aku pulang lagi. Lalu aku terkejut melihat halaman depan sudah terbakar, jadi aku lewat pintu belakang untuk masuk. Dan benar saja ternyata ada yang tidak beres."
"Oh begitu."
Mereka duduk dalam diam di sudut ruangan. Sebastian tak mempedulikan pelayannya yang sedang kebingungan mencari Ciel diluar sana.
"Sebastian?"
"Ya?"
"Terimakasih..."
Sebastian tersenyum lembut.
"Sama-sama."
Setelah berdiam cukup lama, Ciel akhirnya memecah keheningan.
"Oh ya, tadi gadis itu bilang kalau aku tunangannya, lalu aku mengingat sekelebat tentangnya. Apa kau tau dia Sebastian?"
"Tidak Ciel, mungkin kau hanya sedikit stress saja sampai berhalusinasi."
"Begitu ya?"
"Ya."
"CIEL!BOCCHAN!CIEL!"
"Zz..orang-orang itu." Sebastian pun keluar dan mendapati mereka sedang berlarian di koridor.
"Hei, Ciel sudah kutemukan!"
"Oh baiklah tuan."
"Kuro! Kemari."
"Ya tuan?"
"Lancang sekali kau memanggil Ciel dengan sebutan Ciel."
"Maaf tuan, tapi Bocchan yang meminta nya."
"Benarkah begitu Ciel?"
"Ya Sebastian,"jawab Ciel.
"Baiklah kalau begitu. Oh ya Ciel, kutinggal sebentar ya."
"Ok."
...Di Ruang Kerja...
"Maaf tuan, saya baru bisa pulang hari ini. Anak itu bernama Alois Trancy. Ia adalah pacar dari Ciel. Dan sekarang ini ia sedang dekat dengan Claude. Mereka berdua kemungkinan akan pulang dari Denmark beberapa bulan lagi."
"Terimakasih Pluto, kembalilah."
"Baik."
'Pacarnya ya? Apa Ciel itu gay? Tapi mengapa ia mempunyai tunangan..membingungkan.'
Tiba-tiba lagu Bird mengalun memecah pikiran Sebastian.
"Beast?"
"Sebastian, kumohon besok kau datang ke Happy Cafe jam 12."
"Ta-tapi.. aku si—"
"Tak ada tapi-tapian."
Tut tut tut tut
"Apa-apaan ini. Seenaknya saja! Huh."
.
.
.
TBC
.
Maaf apdetnya lama
trus ceritanya ngelantur(jd ada sedikit action)
Makasi banget buat Kak Voly dan Gia_XY yg mau ngereview lg
Makasi juga buat michaelis yuki dan shinsora
Review lg ya ;)
Akhir kata,
Mind to R&R? Flames are welcome ^-^
Tertanda,
One hell of a fujoshi
