Disclaimer : again, i own nothinqg, lucky for JK Rowling.

A/N : akhirnya bisa update setelah sekian lama, ngerangkai plot emang susah ternyata ditambah lagi ama tugas kuliah menumpuk (sorry, jadi tempat pelampiasan) :)

Chapter ini terinspirasi dari THE CURSED CHILD, meskipun gak nonton dan baca script-nya, tapi gara-gara spoiler dimana-mana yah beginilah.. oh ya sama fanfiction The Augurey by La-Matrona, salah satu cerita bagus.

Terima kasih buat yang sudah review, dan lagi warning chapter 1 & 2 ada yang aku ubah sedikit, diedit disimpen diedit lagi disimpan lagi, dan akhirnya terposting juga. dan meskipun sudah diedit berkali-kali tetap aja pasti masih ada yang kurang, entah itu typo, atau plotnya malah jadi ancur dan gaje atau malah jadi OOC banget, maaf.

Happy Reading.

.

CHAPTER 3 - Tinta Hitam

1999

Suara tangis bayi terdengar dari sebuah pondok yang terlihat begitu kacau berantakan. Cahaya bulan menerangi kebun yang tak terawat di halaman depannya, semak belukar tumbuh subur dengan tumbuhan lavender dan mint yang menyebar dengan kemauannya. Tangis bayi masih tak terhenti sampai akhirnya satu jentikan tongkat menutupi suara jeritannya. Pemilik pondok itu dengan muka jengkel dan mata sayu kembali ke tempat tidur nyamanya, kembali ke alam bawah sadar dengan begitu cepat, tak menghiraukan suara derik pintu depan rumahnya yang terbuka begitu pelan diikuti derap dua pasang kaki yang melangkah dengan penuh hati-hati.

"Dasar wanita jalang Rowle. Kau lihat itu, Dolohov?" Terdengar suara wanita paruh baya penuh dengan amarah, sebelum melanjutkan tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya, "Wanita itu berani menggunakan tongkatya untuk mendiamkan keponakanku, anak satu-satunya Pangeran Kegelapan. Awas saja, aku tak akan membiarkannya hidup saat kita keluar dari gubuk kotor ini."

"Jangan khawatir, Madame Gaunt. Aku dengan senang hati akan mengurusnya. Rowle akan mendapatkan balasan yang setimpal." Dolohov dengan mudah tersenyum bengis seolah itu satu-satunya senyum yang ia punya, senyum normalnya.

Keduanya berjalan menuju ruang gelap di samping kamar tidur si pemilik pondok. Jendela kaca kotak terbuka sedikit menjadi jalan masuk cahaya bulan yang menerangi kamar gelap itu, tak ada tirai yang menutupinya, membiarkan angin dingin malam masuk melalui sela-sela jendela. Kamar itu kosong, cat putih dindingnya telah luntur, bahkan sebagian ada yang retak, tak ada hiasan di dinding, tak ada kursi ataupun meja kecil untuk duduk, hanya sebuah tempat tidur bayi yang usang dengan kayunya yang terlihat rapuh, mainan bayi pun tak terlihat mendampingi tempat tidur bayi itu. Seorang bayi perempuan menangis tanpa terdengar sedikitpun suara jeritannya. Ia tetap menjerit, berharap seseorang akan datang untuk memberinya makan atau kasing sayang. Bayi itu menangis, menjerit sekeras yang ia bisa, tak tahu kalau suaranya tak akan terdengar oleh siapapun.

Wanita paruh baya itu, Madame Gaunt, melangkah ke dalam. Amarahnya semakin bertambah seiring langkah kakinya masuk ke dalam, mendekati tempat tidur bayi itu. Tangannya mengepal erat, urat nadinya mengencang, dia menggertakkan giginya, berusaha menahan amarah yang akan meledak segera, tapi tidak, batinnya, ledakan besar amarahnya tak akan sebanding jika hanya untuk wanita jalang itu, akan ada waktunya yang lebih tepat. Dilihatnya bayi mungil itu, tubuhnya lebih kecil dari ukuran normal bayi satu tahun, beberapa bercak kemerahan terlihat hampir di seluruh kulitnya, sangat tak terawat, melebihi pondok reot yang ia tinggali.

"Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Rowle. Dengan kematian yang menyakitkan." Desisnya sebelum perhatiannya tertuju pada bayi mungil perempuan yang masih menjerit menangis. Madame Gaunt mengambilnya, menggendongnya dengan penuh kasih sayang seorang Gaunt, menenangkan bayi itu,

"tenang Delphini, kau tidak akan bertemu lagi dengan wanita kotor itu, kita akan membalas mereka atas semua yang telah mereka ambil dari kita, tentu saja setelah kita menyelesaikan Rowle busuk itu terlebih dahulu, lalu kemudian, Potter." Tatapan wanita paruh baya itu penuh dengan kebencian setelah mengucap nama keluarga yang begitu dikenal di dunia sihir. Dia berbalik keluar menuju Dolohov seraya berkata, "ayo Dolohov, kita selesaikan wanita itu sebelum aku muntah berada di tempat kotor ini." Madame Gaunt menyeringai, menyamai senyuman bengis lawan bicaranya, tangan kirinya mengambil pisau belati kesayangan dari dalam jubah hitam yang ia pakai.

Keesokan harinya, desa kecil di Skotlandia utara dikejutkan dengan pondok roboh yang berada di dekat ladang para penduduk. Pondok reot yang memang sudah tak terawat itu lebih kacau lagi, seperti dilewati angin topan dan hancur dalam semalam. Pemilik pondok itu ditemukan tewas sangat mengenaskan, tertimpa pondok reotnya, tak terkenali, dan Euphemia Rowle telah tewas.


2017

Terdengar bunyi 'Ting-Ting' menggema di aula, "PERHATIAN!", seluruh kepala murid-murid tertuju pada meja tinggi di depan aula. Wanita yang sudah sangat tua terlihat dari banyaknya kerutan di wajahnya meletakkan sendok yang baru saja ia gunakan untuk mengetuk gelas. Dengan jubah zamrud gelapnya ia berdiri dari kursi paling besar di tengah, Kepala Sekolah, Profesor McGonaggall. Meskipun sudah sangat tua, tatapannya masih setajam burung elang.

"Selamat malam! Kuucapkan selamat datang di Sekolah Sihir Hogwarts bagi murid-murid baru kita, dan selamat datang kembali bagi murid-murid angkatan atas, terima kasih. Sebelum kita merayakan tahun ajaran baru ini, saya perkenalkan guru baru kita, Profesor Selwyn."

Pria disamping Hagrid dengan janggut putih di antara janggut hitamnya tersenyum sambil mengangguk pelan memberi sinyal untuk Profesor McGonaggall melanjutkan, "beliau akan mengajar Pertahanan Terhadap Ilmu Sihir untuk semester ini dikarenakan Profesor Goode harus menjalani pengobatannya di St. Mungo. Saya harap kalian tidak akan menyusahkan Profesor Selwyn dan menjadi murid yang baik. Baiklah kalau begitu tak usah berlama-lama, saya yakin kalian sudah tak sabar untuk mengisi perut kalian jadi, selamat makan!" Ucapnya seraya menepuk kedua tangannya sekali. Sekejap keempat meja panjang itu dipenuhi berbagai makanan dengan aroma yang begitu lezat sampai Albus baru menyadari betapa perutnya kosong melompong tak ada yang tersisa dari makanan yang ia beli di kereta. Albus tak tahu harus mengambil apa dulu saking banyaknya. Daging sapi panggang, ayam, kambing, sosis, daging asap, steak, kentang goreng, puding, kacang, wortel, semuanya kelihatan enak, baunya sangat menggoda. Perut Albus serasa ingin memakan semuanya. Dan diputuskan untuk mengambil daging asap dulu dengan kacang, wortel, dan kentang goreng sedikit.

Albus seperti merasa ada sesorang yang menatapnya dari belakang, ia menengok dan mendapatkan hantu berkerah rimpel tadi memandanginya –tidak, hantu itu tidak sedang memandangi Albus, tapi memandangi sepotong daging di garpu yang akan Albus lahap. Dengan ragu Albus menanyainya, "apa kau mau?" Albus tahu itu hal yang tak masuk akal, tapi mungkin hantu di Hogwarts bisa makan makanan nyata? Dan kemungkinan itu kecil sekali.

"Tidak, tidak usah, terima kasih. Kau tahu 'kan, aku ini hantu. Memandanginya saja aku sudah puas, meskipun kepingin juga sih." Kata hantu itu sambil menepuk perut peraknya. "Silahkan, Nak. Lanjutkan."

Albus merasa bodoh karena telah menawarinya, seharusnya dia sudah tahu tak ada bedanya hantu di sini, hantu tetaplah hantu, mereka tak bisa makan. Dan dengan ragu lagi dia meneruskan makannya.

"Oh ya, Nak. Kalau boleh aku tahu, bagaimana kabar ayahmu, Harry Potter?" Hantu berkerah rimpel bertanya di sampingnya, lebih seperti berbisik.

Hantu ini tahu ayahnya? Tanya Albus dalam hati. Apa mungkin dia, "Dia baik-baik saja. Mm, apa anda Nick-Si-Kepala-Nyaris-Putus?"

"Oh-iya! Aku Sir Nicholas de Mimsy-Porpington, kau bisa memanggilku Nick-Si-Kepala-Nyaris-Putus, tapi hanya kau saja." Jawab hantu itu dengan suara rendah di bagian akhir.

"Apa ayahmu pernah bercerita padamu tentangku?" Tanyanya, Albus mendengar ada nada penuh harap di sana.

"Ya." Kata itu membuat Nick tersenyum sangat lebar.

"Aku tahu itu! Aku tahu ayahmu pasti tidak akan melupakan kawan lamanya!" Kata hantu itu hampir berteriak lalu menghela nafas "Sudah lama sekali dia tak berkunjung ke sini. Well, dia 'kan Kepala Auror, aku bisa mengerti itu, tapi tetap saja sekali-kali dia harus berkunjung."

"Akan aku sampaikan salammu pada Dad di suratku nanti." Kata Albus tersenyum.

"Terima kasih, Nak. Aku senang sekali." Hantu itu diam sejenak sebelum melanjutkan, "Untung kau ditempatkan di asramaku, kalau saja tidak, si-Baron itu pasti akan mengejekku habis-habisan." Dia menunjuk hantu mengerikan di meja Slytherin, disekitarnya tak ada yang orang. Anak-anak Slytherin menjaga jarak dari si hantu Baron sampai radius sekitar satu meter, seperti terdapat gaya yang berlawanan dengan gaya magnet di hantu itu. Tentu saja, siapa yang mau makan disamping atau berhadapan dengan hantu rupa menakutkan?

"Dia sudah jadi sok, menyebalkan sekali, hanya karna dia dapat Potter dan aku tidak. Untung si Nyonya Abu-abu tak seperti dia." Lanjut lagi Nick-Si-Kepala-Nyaris-Putus. Albus berpikir, hantu-hantu ini bisa membuat Rose dan dia bermusuhan.

"Eh-ngomong-ngomong, kenapa kau bisa di juluki Nick-Si-Kepala-Nyaris-Putus?" tanya Mike di sampingnya. Sekejap Nick-Si-Kepala-Nyaris-Putus berubah tampak jengkel.

"Aku sudah duga itu, pasti tiap tahun ada yang menanyaiku itu. Aku sudah merasa ini seperti ritual tahunan." Gerutu hantu itu sebelum dia memegang telinga kirinya lalu menariknya. Seluruh kepalanya terlepas dari lehernya dan jatuh di bahunya, seakan tergantung pada engsel. Puas melihat kekagetan mereka, Nick-Si-Kepala-Nyaris-Putus mengembalikan kepalanya seperti semula, lalu berdehem dan berkata, "Jadi, aku ucapkan selamat datang di asrama kami Gryffindor! Kuharap kalian akan membantu kami merebut Piala Asrama tahun ini dari tangan Ravenclaw. Well tak apa-apa sih mereka menang, tapi kalau keseringan menyebalkan juga." Gerutunya sebelum ia pergi menghilang.

Ketika seluruh makanan sudah tak disentuh lagi, mereka lenyap digantikan berbagai jenis makanan penutup. Kalau saja Albus tahu masih ada makanan enak yang mengantri, dia tak akan makan daging sebanyak tadi. Dia memutuskan untuk mengambil sepotong pai apel dan jus labu, semoga saja perutnya masih muat.

"Aku sudah ngantuk sekali. Kapan ya kita akan tidur?" Tanya George Makarone di samping kanan Albus disela uapannya. Albus merasa tersugesti mendengar kata tidur, dia mulai merasa hangat dan ikut ngantuk.

"aku sudah tak sabar untuk pelajaran sapu terbang, menurutmu kapan dimulai?" Tanya Mike di sebelahnya, dia sedang menggigit sepotong tar karamel.

"Entahlah, pasti besok-besok ini." Jawab Albus, ia ingat ayahnya bercerita padanya tentang pelajaran terbang pertamanya, saat dia mengalahkan Paman Draco yang akhirnya membuatnya menjadi Seeker termuda sampai saat ini.


"Albus, apa menurutmu ini sudah waktunya itu terjadi?" Terdengar dengan jelas rasa cemas di dalam suara wanita tua dengan jubah zamrud gelapnya, sesekali ia memijat keningnya ketika pikirannya terlalu banyak pertanyaan dan tak ada jawaban sama sekali di sudut-sudut otaknya. Dia sendiri tak tahu apa yang harus ditanyakan saat ini. Wanita tua itu melirik lagi ke orang yang ia ajak bicara. Well, kalau saja itu memang orang nyata, tapi dia hanya portrait.

"Entahlah Minerva, kita hanya bisa kembali menunggu sembari mengambil pelajaran dari masa lalu. Berharap kita sudah benar-benar siap akan masa depan nantinya." Minerva kembali melihat portrait sahabat lamanya sambil mencerna apa yang baru saja Albus Dumbledore katakan. Minerva sangat berharap kawan lamanya masih tetap ada di sampingnya di saat-saat seperti ini. Bukan menemaninya sebagai portrait, tetapi secara utuh. Minerva membutuhkan kebijaksanaan, ketenangan, kepastian, dan biasanya Albus yang akan memberinya.

"Jangan terlalu banyak memikirkan yang sudah tiada, Minerva. Kita sebenarnya masih di sini, hanya saja dalam bentuk berbeda." Perkataan Albus membangunkan wanita tua itu dari lamunannya.

"iya Albus, aku tahu itu." Ucapnya sebelum mengambil nafas berat, "kecelakaan Goode itu bukan hanya suatu kebetulan, kan?"

Dia tahu kalau sahabatnya juga tak tahu itu benar atau tidak, tapi dia hanya ingin mendengar seseorang berpikiran yang sama. Dia melanjutkan, tak mengharap juga untuk jawaban.

"Ini terlalu banyak terjadi kebetulan, Albus. Kuharap keputusanku untuk merekrut Selwyn tidak ada hubungannya dengan hal itu." Ada setitik penyesalan di kalimat wanita tua itu.

"Tenanglah, Minerva, kau terlalu banyak memikirkan ramalan itu. Kita, manusia, tak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di masa depan, bahkan di hari esok pun tak ada yang tahu pasti. Ramalan itu hanya untuk memberikan kita pilihan. Masa depan, kitalah yang menentukan berdasarkan beribu pilihan yang telah kita pilih atau ambil. Dan kita telah berusaha untuk memilih pilihan yang paling baik untuk kita sendiri dan semua. Lagi pula ramalan masa depan tak terikat dengan pohon, kan? Itu masih bisa saja lepas." Kerlipan mata dan senyum kecil yang khas menutup perkataan Dumbledore.

"Iya, tentu saja." Kata Minerva sebelum menghela nafas, seperti setengah lega karena pikirannya lebih tenang dari pertama kali dia masuk ke ruangan Kepala Sekolah setelah acara makan malam normal dengan para guru lainnya. Beberapa saat kemudian mereka hanya diam, terhanyut dengan pemikiran mereka masing-masing.

"Aku dengar dia sangat mirip dengan ayahnya?" Suara mantan Kepala Sekolah terdengar lagi.

"Siapa? Si bungsu Potter?" Albus mengangguk tersenyum.

Minerva mengambil nafas,

"Yah, aku hanya berharap dia lebih bijak, tidak mewarisi sifat prankster-nya James. Sudah penuh tanganku dengan kakaknya Rosella, ditambah para Weasley dan si sulung Malfoy, belum lagi Peeves dan lainnya." Wanita tua itu menghela nafas panjang, sementara lelaki tua di portrait tertawa kecil.


Waktu berlalu terlalu cepat, sudah dua minggu lebih sejak hari pertama mereka datang ke sekolah sihir Hogwarts. Dua minggu lebih sejak dimulainya kehidupan mereka sebagai murid di sekolah tua itu, sejak dimulainya berbagai hal yang menakjubkan yang mereka belum ketahui tentang sihir, terlebih lagi untuk para kelahiran muggle di tahun pertamanya, mereka sangat antusias. Seantuias para guru mereka untuk memberikan PR. Tugas sejarah sihir yang paling melelahkan, membuat rangkuman tentang sejarah berdirinya Hogwarts sepanjang 4 kaki, membuat murid-murid tahun pertama bergadang, tentu bagi mereka yang malas untuk mengerjakannya jauh-jauh hari, bukan saat malam sebelum tugas itu dikumpul. Dan Albus tak ada bedanya, waktunya telah ia habiskan menonton Rose latihan quidditch, minum teh di pondok Hagrid, menulis surat untuk orangtuanya, mencoba mantra-mantra baru, dan yang pasti tugas Sejarah Sihir tak ada di daftar yang ingin Albus lakukan. Dia pastikan besok akan ada banyak yang tidur pulas di kelas Sejarah Sihir, sementara Profesor Binn menerangkan materi tanpa menghiraukan murid-muridnya. Itu lebih seperti mendengarkan lagu pengantar tidur bagi mereka. Waktu tidur malam akan diganti jadwalnya ke waktu pelajaran Sejarah.

Albus jadi teringat surat izin Rose untuk kunjungan ke Hogsmeade yang tertinggal di bawah bantal tidurnya di rumah. Rose sangat panik, sampai mengira kalau Albus dan Scorpius sedang mengerjainya dan Lily memarahinya, "kenapa kau harus ceroboh? Untung saja aku jadi minta Profesor McGonaggal untuk memberikan kita masing-masing satu surat, kalau saja hanya satu surat untuk kita berdua, aku juga nggak akan jadi ikut ke Hogsmeade gara-gara kamu." Dan untung lagi Lily ingat kebiasaan kembarannya menyimpan benda di bawah bantal tidur, segera dia menulis surat ke ibu mereka untuk mengirimkan surat izin itu secepatnya, dan suratmya tiba tepat saat mereka akan bersiap-siap pergi ke Hogsmeade, kiriman itu tak lupa disertai catatan pendek dari ibunya khusus untuk Rose. Albus tebak pasti bunyinya seperti jangan ceroboh lagi, belajar yang benar, jangan main quidditch terus. Albus tersenyum sebelum menguap ngantuk dan memutuskan untuk menutup rangkumannya sampai disitu, berpikir kalau tugasnya sudah masuk kategori cukup.

Ruang Rekreasi Gryffindor sudah sepi, cuma empat atau lima anak yang masih berkutat dengan perkamen dan pena, yang lainnya sudah menyerah untuk menyelesaikan PR mereka dan memutuskan untuk tidur saja di ranjang mereka yang empuk. Tentu saja, ini sudah jam dua pagi. Albus bergegas merapikan buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan tadi dan memutuskan untuk mengembalikannya setelah jam Sejarah Sihir besok. Dia menggulung perkamen-perkamen yang tersisa dan menutup botol tinta hitam yang masih setengah botol,

"Maaf?" Albus mendongak ke asal suara, di hadapannya gadis berkaca-mata kotak sedang berdiri dengan senyum kecil yang kaku, Annelise Diophan.

"Apa aku boleh minta tintamu, sedikit saja, hanya untuk menulis satu paragraf?" Tanya gadis itu sambil menunjukkan seberapa dikit tinta yang ia minta dengan tangannya. Gadis itu seperti menahan napas saat menunggu Albus untuk memberikan jawaban.

"Oh-iya, tentu saja, ini." Albus menyerahkan botol tinta yang baru ia tutup dengan senyum kecil berharap gadis itu tak merasa canggung lagi.

"Terima kasih." Ucap Annelise sembari menarik nafas lega, ia melebarkan senyum kakunya itu sebelum menghilang dari hadapan Albus dan kembali ke posisinya di depan perapian Ruang Rekreasi.

Albus kembali merapikan barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tas dan ingin cepat beranjak ke kamar asramanya sebelum suara gadis berkaca-mata kotak itu lagi menghentikan langkah pertamanya.

"Kau mau tidur?" Tanyanya.

"Iya?" Jawab Albus bingung,

"Kalau begitu, tak apa jika aku kembalikan besok tintamu?"

"Oh, iya- tak apa, besok saja." Annelise mengangguk pelan sebelum kembali lagi dengan perkamen panjang dan pena bulunya. Dan akhirnya Albus bisa bertemu dengan ranjang empuknya.


Bulan Oktober tak terasa akan datang, angin musim gugur bertambah dingin mulai mempersiapkan turunnya salju. Pohon Willow tua dengan gagahnya berdiri sambil mengibaskan ranting-rantingnya dengan lumayan keras tanpa bantuan angin, membuat dedaunan menguning kecoklatan kering berjatuhan. Itu hal yang lumayan aneh bagi Albus Potter melihat pohon besar tua yang bisa bergerak di tempatnya dengan leluasa, membuatnya berpikir apa saja yang dapat dilakukan pohon tua itu.

Perhatian Albus kembali ke selembar surat panjang dari ibunya yang baru saja ia terima. Dia senang mengetahui semuanya baik-baik saja, yeah memang tak ada yang harus dikhawatirkan kan? Ibunya menulis banyak hal, dari tentang ayahnya yang sudah pulang selamat dari misi Auror-nya, ke cerita Bibi Luna yang juga akan segera pulang dari ekspedisinya di pegunungan utara Rusia yang sangat dingin mencari keberadaan hewan mitos Vlankspurt yang kata Bibi Luna masih satu keluarga dengan Wackspurt atau apalah namanya. Avalon, anak bungsunya yang hampir 11 tahun, ikut pergi bersamanya mengingat di rumah mereka tidak ada orang yang menemani Avalon, Paman Neville harus mengajar lagi di Hogwarts dan anak sulung mereka Frank di sini untuk tahun pertamanya.

"Albus!"

Albus mendongak temannya, Mike, berjalan ke arahnya.

"hai, ada apa?"

Anak laki-laki itu duduk di salah satu batu besar dekat Albus, menyamankan posisi duduknya sebelum kembali menengok ke arahnya

"apa kau sudah dengar, gadis berkacamata Annelise ditemukan tak sadar diri di koridor yang dekat dengan kelas kosong?"

"Apa?" tanya Albus ragu, berpikir kalau dia salah dengar.

"Iya, si Diophan, Lorie Bush dan Bella Bowie menemukannya saat mereka mau mengembalikan buku ke perpustakaan. Sudah hampir seisi kastil tahu berita itu, kau belum?"

Bush dan Bowie, pantas saja berita itu sudah tersebar kemana-mana, mereka mempunyai kebiasaan untuk bercerita tanpa diundang.

"Kapan?" Albus menghiraukan pertanyaan Mike.

"Huh- oh tadi siang setelah Sejarah Sihir."

Albus mengangguk pelan.

"Memangnya kenapa dia sampai pingsan?" Albus bertanya lagi.

"Entahlah, mungkin kelelahan," jawab Mike.

Albus menunggu kelanjutan jawaban Mike, merasa ada koma di terakhir kalimat itu.

"tapi menurut pemeriksaan Madam Pompfrey, Diophan dimantrai, seragamnya penuh dengan cipratan tinta hitam, mungkin itu gara-gara botol tinta yang pecah di samping tubuhnya. Well, itu yang Bella dan Lorie bilang." Mike mengangkat kedua pundaknya.

Melihat Albus yang semakin mengerutkan dahinya seperti orang cemas, Mike menghela nafs kecil

"sudahlah Albus, palingan dia pingsan gara-gara gak tidak sengaja masuk jebakan si Weasley atau anak-anak lainnya. Tahu kan, kastil ini penuh prankster."

Albus mengendorkan kerutan dahinya dan tersenyum sambil tertawa kecil ringan, teringat dengan kejahilan Fred saat mencoba mengerjai Peeves. Tukang onar mengerjai tukang onar lainnya.

Tapi mau tak mau, pikiran Albus teringat kembali ke gadis kacamata kotak yang meminjam tintanya tadi malam.


A/N : terima kasih lagi udah baca sejauh ini.