Disclaimer : Bukan Kuchi pastinya.

Hai, minna! Gomen, telat apdet! Ini chapter penutupan. Jangan lupa review ya! Enjoy!

Genre(s): Horror, Friendship

HANTU??

Sinar mentari pagi masuk melalui jendela kelas yang terletak di lantai empat. Secercah sinar tersebut dapat membuat seorang anak lelaki berambut pirang terbangun dari tidur lelapnya. Sejenak ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk merespon cahaya yang masuk. Mendadak ia bangkit dari kursinya dan memandang sekeliling.

'Dimana aku? Eh, manajer sialan?' Pandangan matanya kini tertuju pada sesosok wanita yang tertidur tepat di bangku di depannya. Merasa heran, ia berusaha mengingat-ngingat kejadian semalam.

'Kenapa aku dan manajer sialan ini ada di kelas sialan ini?' Pikir lelaki berambut pirang tersebut yang tak lain adalah Hiruma Youichi.

'Ah, aku ingat sekarang. Aku dan manajer sialan ini terjebak disini dan belum keluar sampai sekarang. Eh, kenapa tak ada murid satu pun?' Pikir Hiruma yang kini sedang menatap keluar jendela, heran.

'Bodoh! Ini hari Minggu!' Hiruma yang terlambat menyadarinya kini tengah menatap Mamori dengan kesal.

"BANGUN MANAJER SIALAN!" Teriak Hiruma tepat di telinga Mamori.

"Ap– Apa? Hi– Hiruma?" Mamori yang masih setengah tertidur kini tengah mengusap-usap matanya.

"Kenapa kau disini? KENAPA KITA DISINI?" Teriak Mamori.

Yang ditanyai hanya terdiam sambil duduk di kursi di depan Mamori. Sepertinya dia menunggu situasi yang tepat untuk kembali berbicara dengan manajernya itu.

"Oi, manajer sialan. Sudah terbangun dari tidurmu?"

"Mou, Hiruma-kun!"

"Hei, ini hari Minggu. Tidak ada murid yang datang ke sekolah pada hari Minggu,"

"APA?!" Teriak Mamori lagi sambil berdiri dari bangkunya. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Tidak ada handphone, tidak ada bantuan, dan tidak ada seorangpun?!"

"Oi, manajer sialan. Ternyata benar dugaanku. Tidak makan kue sus selama beberapa jam saja sudah membuatmu kacau. Kekekeke."

"Mou, aku kan panik." Bantah Mamori sambil duduk kembali di bangkunya dan melipat tangan di depan dadanya.

"Oi, manajer sialan. Menurutmu apakah kejadian kemarin itu nyata?" Tanya Hiruma sambil mengeluarkan permen karet tanpa gula simpanannya dan mulai memakannya.

"Hantu itu ya? Apa benar hantu itu dikubur di kelas kita?"

"Heh? Dikubur? Ini lantai empat. Mana bisa seseorang menguburkan mayat tanpa menghancurkan bangunan ini." Hiruma mulai membuat balon dari permen karetnya.

"Hm, iya juga. Lalu bagaimana dengan rumor hantu di kelas ini?" Tanya Mamori dengan alis berkerut dan kedua tangan yang diletakkan di bawah dagu.

"Rumor yang kau dengar itu salah, manajer sialan. Menurut cerita, ada seorang gadis sialan yang dituduh mencuri uang klub. Yang menuduhnya bahkan sahabatnya sendiri. Sahabatnya menuduhnya hanya karena dia menyukai kekasih gadis sialan tersebut. Karena dia tidak kuat mendengar semua cacian orang-orang disekitarnya, dia lalu memutuskan untuk lompat dari lantai 4 ini." Jelas Hiruma panjang lebar.

"Oh. Pantas saja dia berkata kalau dia tidak mencuri uang tersebut. Lalu bagaimana sosok hantu tersebut?"

"Yang aku dengar, beberapa bagian tubuh gadis sialan tersebut hancur. Seperti tempurung kepala, dan tentu saja organ-organ dalamnya."

"Kenapa dia harus memutuskan untuk bunuh diri sih?"

"Hah, entahlah. Sebenarnya itu bukan urusanku. Atau kau mau mencoba terjun dari sini supaya nantinya beredar cerita, 'Anggota Komisi Disiplin Sekolah melompat dari lantai 4 hanya karena tidak makan kue sus selama 12 jam'. Kekekeke."

"Mou, itu tidak lucu!" Ucap Mamori sambil berusaha memukul bahu Hiruma dengan tangannya. Hiruma hanya tertawa sambil memamerkan gigi-giginya yang runcing.

"Hiruma-kun?"

"Hm?"

"Apa kita akan terjebak disini sampai besok?"

X~Z

KKRRIINNGG!!

Bunyi telepon yang nyaring itu merusak suasana pagi yang tenang di kediaman Kobayakawa. Telepon itu berdering mungkin sekitar lima kali sampai akhirnya nyonya rumah di kediaman tersebut mengangkatnya.

"Moshi-moshi?"

"Ya~ Apa Sena ada, bibi?" Teriak suara dari seberang sana.

"Sena? Tunggu sebentar," Wanita itu lalu meletakkan gagang telepon di meja dan mulai menaiki tangga menuju kamar anak semata wayangnya.

"Sena? Ada telefon untukmu!" Teriaknya sambil mengetuk pintu kamar anaknya.

"Ba– baik!" Terdengar suara anak lelaki menyahut panggilan ibunya dari dalam. Wanita tersebut lalu turun diikuti oleh anak semata wayangnya. Sementara ibunya menuju ke dapur, Sena langsung menuju ke tempat telefon.

"Moshi-moshi?"

"Ya~ Sena! Sudah saatnya kita membebaskan Mamo-nee dan You-nii!" Teriak Suzuna.

"A– Apa? Tapi, ini masih pukul 6 Suzuna." Jawab Sena sambil mengacak-acak rambutnya.

"Lebih cepat lebih baik. Segeralah bersiap. Aku juga sudah menelepon Mon-mon. Ya~ Sena!"

Tuut Tuut Tuut

Sena memandang lemas kearah gagang telefon. Di hari Minggu pagi yang cerah ini dia sudah harus berhadapan dengan raja iblis. Dengan sedikit malas, Sena kembali ke kamarnya dan mulai membersihkan dirinya. Mengganti bajunya dan kemudian segera turun untuk sarapan pagi. Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu depan.

"Sebentar!" Teriak Ibu Sena. Ia lalu meletakkan wajan yang sedang dipegangnya dan tergopoh-gopoh menuju pintu depan.

"Ya~ Apa Sena ada, bibi?" Tanya Suzuna sambil tersenyum lebar. Disebelahnya berdiri Monta dengan mata yang terkantuk-kantuk dan memegang pisang.

"Oh, ada. SENA!"

"Hai!" Jawab Sena sambil berlari ke pintu depan dan memakai sepatunya. Melihat teman-temannya sudah menunggu, buru-buru Sena berpamitan kepada Ibunya.

"Aku pergi!" Teriak Sena. "Hati-hati di jalan, ya." Balas Ibunya.

Sena mengangguk, lalu berjalan keluar rumahnya diikuti oleh Suzuna dan Monta.

"Ya~ Hari ini kita akan membebaskan Mamo-nee dan You-nii!" Teriak Suzuna. Sena dan Monta–yang sudah sadar sepenuhnya– hanya pasrah pada rencana Suzuna.

"Tapi bagaimana kita membebaskan mereka, Suzuna?" Tanya Sena diikuti oleh anggukan Monta.

"Ya~ Kita tinggal berpura-pura kalau kita dimintai tolong oleh ibunya Mamo-nee dan bilang kalau kita tak tahu Mamo-nee dan You-nii terkurung di kelas." Jawab Suzuna enteng. Sena dan Monta sweat drop. Bicara sih gampang.

"Tapi Hiruma-senpai bukan orang yang mudah tertipu, kan?" Tanya Monta lemas.

"Ya~ pasang saja tampang memelas kita. Dan bila itu tidak berhasil, kita bersembunyi saja di belakang Mamo-nee. Mamo-nee pasti akan membela kita." Sena dan Monta sweat drop untuk yang kedua kalinya. Tidak terasa, mereka sudah sampai di pintu gerbang sekolah Deimon. Sena menelan ludah, Monta berdo'a untuk keselamatannya, sementara Suzuna hanya tersenyum lebar.

Dengan langkah yang berat, mereka bertiga memasuki sekolah Deimon.

TAP

TAP

TAP

"Eh?" Suzuna tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Ada apa, Suzuna?" Tanya Monta, heran. Dia dan Sena akhirnya ikut-ikutan berhenti sambil memandang sekelilingnya. Mereka baru saja memasuki sekolah Deimon, kini mereka ada di lantai dua.

"Ah, mungkin hanya perasaanku saja." Ucap Suzuna. Sena dan Monta menatapnya dengan heran. Mereka lalu kembali berjalan. Baru saja lima langkah Suzuna kembali berhenti.

"Ada apa lagi, Suzuna?" Tanya Monta. Dilihatnya wajah Suzuna yang mulai kelihatan ketakutan.

"Aku merasa ada yang mengikuti kita." Jawab Suzuna lirih. Sena dan Monta terdiam. Wajah mereka bertiga kini sudah bercucuran keringat. Terlebih Suzuna yang menyadari bahwa seseorang mengikuti mereka. Tiba-tiba angin sepoi-sepoi membelai lembut wajah mereka.

"Eh, ta–tak ada jendela yang terbuka, kan?" Tanya Sena gugup. Suzuna dan Monta mengangguk. Dan Suzuna melihatnya. Seorang gadis yang luar biasa cantik menghampiri mereka. Dia memakai seragam sekolah Deimon. Rambutnya coklat tua, ikal dan panjangnya sepinggang. Matanya hijau tua dan tubuhnya tinggi. Kulitnya sangat putih, sampai-sampai bisa kau sebut transparan. Mereka bertiga bersamaan menelan ludah.

"Boleh aku berjalan bersama kalian?" Tanyanya dengan suara yang sangat pelan dan lembut. Dia tersenyum manis. Ekspresi ketakutan mereka bertiga langsung lenyap seketika.

"Ya~ Kau seorang murid rupanya. Tentu saja kau boleh berjalan bersama kami." Jawab Suzuna senang. Mereka berempat lalu berjalan beriringan. Sena, Monta, Suzuna, dan gadis itu.

"Ya~ Siapa namamu?" Tanya Suzuna.

"Mikan. Mikan Chizuka." Jawabnya lirih.

"Oh, kau murid kelas berapa, MAX?"

"Aku kelas 2-5."

"Oh…" Jawab Sena, Suzuna, dan Monta berbarengan. Dua menit lamanya mereka berjalan dalam diam. Entah kenapa, mereka merasa ada sesuatu yang janggal. Tapi, apa ya? Mereka bertiga melamun sambil memandang jauh ke depan. Keheningan itu pecah saat Suzuna tiba-tiba bertanya,

"Kenapa kau ada disini, Mi–" Kata-kata Suzuna terputus saat dia menyadari bahwa Mikan tidak lagi berada di sebelahnya. Sena dan Monta yang heran mendengar perkataan Suzuna, serentak mendongakkan kepalanya. Mereka berdua juga terkejut ketika menyadari bahwa Mikan sudah tidak ada. Mereka bertiga saling berpandang-pandangan. Keringat dingin sudah membanjiri sekujur tubuh mereka.

"LARI!!!" Teriak Suzuna sambil berseluncur, diikuti oleh Monta dan Sena yang lari terbirit-birit. Dengan kecepatan super, mereka berlari menuruni tangga dan sesegera mungkin keluar dari sekolah Deimon.

"SETAAN!!" Teriak mereka bertiga. Dengan wajah pucat pasi, ketiganya terus berlari sampai akhirnya tiba di depan sungai.

"Su–Suzuna. Bagaimana dengan Mamori-neechan dan Hiruma-san?" Tanya Sena sambil terengah-engah. Kejadian ini masuk ke dalam daftar pengalaman buruknya.

"A–Aku akan me–menelefon Musashi dan Kurita supaya membebaskan Mamo-nee dan You-nii." Jawab Suzuna dengan suara bergetar. Dia pikir cerita hantu itu cuma mitos. Dia lalu mengambil handphone dari sakunya dan menelefon Musashi.

"Moshi-moshi, Musashi-san. Bisakah kau membebaskan Mamo-nee dan You-nii? Aku mengunci mereka di kelas 2-1. Apa? Panjang ceritanya. Temui aku di depan sungai. Jangan lupa ajak Kurita-san. Ya~"

Mereka bertiga masih terlihat pucat. Setelah menunggu selama 20 menit, Musashi dan Kurita datang menghampiri mereka.

"Ah, kalian!" Teriak Kurita sambil berlari kearah mereka.

"Mana kuncinya?" Tanya Musashi. Suzuna lalu menyerahkan kunci kelas 2-1 kepadanya.

"Terima kasih, Musashi-san, Kurita-san. Kami mau pulang. Lelah, MAX!" Teriak Monta. Suzuna dan Sena hanya mengangguk pasrah.

"Sampai jumpa, Musashi-san, Kurita-san." Dengan langkah lunglai karena tubuh mereka dipaksa berlari, mereka pulang ke rumah masing-masing. Mungkin karena kejadian ini mereka bisa mengalami mimpi buruk selama seminggu. Musashi dan Kurita hanya memandang heran pada mereka bertiga.

X~Z

"Hey, Hiruma-kun. Apa tadi kau mendengar seseorang berteriak?"

"Ya, aku mendengarnya."

"Ada apa, ya?"

"Entahlah. Aku tidak peduli."

"Mou, Hiruma-kun. Sampai kapan kita akan terkunci disini?"

"Jangan cerewet, manajer sialan. Memangnya kita bisa apa?"

Mamori terdiam. Tiba-tiba terdengar suara anak kunci diputar.

"HIRUMA!" Teriak Kurita sambil berlari memeluk Hiruma. "Kau tidak apa-apa. Syukurlah~" ujarnya sambil menangis tersedu-sedu.

"Hey, gendut sialan. Bajuku basah gara-gara air mata sialanmu." Jawab Hiruma cuek.

"Ah, maaf."

"Kenapa kalian bisa terkunci disini?" Tanya Musashi.

"Ah, sepertinya ini pekerjaan Suzuna." Jawab Mamori.

"Sudahlah. Sekarang aku mau pulang. Tak ada gunanya kita membicarakannya disini."

Mereka berempat lalu kembali ke rumah masing-masing. Jam menunjukkan pukul 8 pagi.

X~Z

Keesokan harinya, di clubhouse.

"Anak-anak sialan. Beraninya mengunci setan dari neraka." Ucap Hiruma sambil menodongkan bazooka-nya kearah Suzuna, Sena, dan Monta.

"Ma–maafkan kami!"

"Tidak akan."

"Sudahlah, Hiruma-kun. Mereka sudah minta maaf, kan?"

"Cih."

"Arigatou, MAX!"

"Ah, Mamo-nee. Apakah Mamo-nee tahu seorang murid Deimon yang bernama Mikan Chizuka?"

Mamori sontak mengerutkan keningnya, begitu juga dengan Hiruma.

"Mikan Chizuka? Dia itu murid angkatan 5 tahun sebelum aku dan Hiruma. Dan kabarnya, dia bunuh diri disuatu kelas di lantai 2." Jawab Mamori heran. "Kenapa dengan dia?"

Wajah Suzuna, Sena, dan Monta sudah pucat pasi.

"Ka–Kami bertemu dengannya kemarin." Jawab Sena.

"APA?" Teriak Mamori.

"Kabarnya dia memang suka menyapa murid-murid yang datang pada pagi hari." Jawab Hiruma sambil mengelap bazooka-nya.

"SSEETTAAAN!!" Teriak mereka bertiga sambil berlari tunggang-langgang.

THE END

Ah, seperti biasa. Ending yang nggak jelas. Makasih buat Yukisanada. Pertanyaan kamu udah terjawab di chap ini. Ngomong-ngomong, Kuchi boleh cerita nggak?

Cerita diatas adalah kejadian nyata di sekolah Kuchi. Sekolah Kuchi itu bangunannya masih tua banget. Mungkin udah dibangun sejak zaman Belanda. Kabarnya, di kelas paling belakang, –sebuah kelas yang terletak di ujung lorong dan bersebelahan dengan kamar mandi–, ada seorang murid cewe Belanda yang bunuh diri di kelas itu. Nggak jelas alasan kenapa dia bunuh diri. Katanya sih dia bunuh diri gara-gara tawuran yang pernah terjadi antara sekolah Kuchi sama sekolah sebelah Kuchi. Tawurannya bener-bener gila, sampe beberapa murid kedua sekolah tewas. Nah, sejak itu, dia gentayangan.

Cerita lama, ya? Tapi yang bikin menarik itu, setiap murid yang datang paling pagi di kelas itu bakal disapa sama hantu cewek Belanda itu. Pernah kejadian, ada seorang murid kelas tersebut yang dateng pagi-pagi banget buat ngerjain PR. Pas lagi sibuk ngerjain PR, ada seorang cewek yang nanya, "Boleh duduk di sebelah kamu?" Jelas aja itu murid nggak mikir macem-macem. Dia ngangguk aja –tanpa menoleh– dan sibuk ngerjain prnya lagi. Pas dia ngeliat ke sebelahnya, itu cewek sama sekali nggak ada. Kontan dia langsung kabur dari kelasnya. Sejak saat itu, nggak ada murid kelas itu yang berani dateng pagi-pagi. Mereka bahkan lebih milih untuk telat daripada dateng pagi-pagi.

Terus, cerita yang Kuchi certain ini nggak boleh diceritain di sekolah. Pokoknya hal ini tabu banget deh. Dan kita juga nggak boleh nyebut nama cewek Belanda itu di sekolah, kalo kamu nyebutin, kamu bakal langsung kerasukan. Pernah ada seorang murid cowok yang nggak percaya hal itu dan langsung manggil-manggil nama cewek Belanda itu. Dia langsung kerasukan.

Kalian boleh percaya boleh enggak. Kuchi cuma pengin nyeritain hal ini. Ada yang mau tahu dimana sekolah Kuchi? Tanyain pribadi aja, ya.

Review, please?