Disclaimer : (bosan nulis ini..) Aoyama Gosho..
A/N : Ng.. Mungkin disini ada beberapa bagian yang nda terlalu pantas dibaca anak dibawah umur, jadi lebih baik bacanya pake pantauan ortu.. #emang kamu diatas 17? #gubrak..
VERMOUTH
.
A Secret Makes A Woman Woman. Rahasia itu bagian dari seorang wanita. Begitulah yang selalu kau katakan. Sepotong kalimat yang kau junjung tinggi. Kalimat yang indah, namun misterius. Seperti dirimu.
Malam itu, kau berlari kencang tak tentu arah, dengan badan setengah terbuka. Kau terisak sangat keras, namun teredam bunyi hujan. Padahal kau hanya bermaksud belajar tambahan di rumah Touchi Kuroba, setelah Yukiko pulang. Tapi, tidak disangka ia menginginkan lebih. Ia tiba-tiba langsung diangkut ke ranjang dan.. Ah, tidak. Kau tidak perlu mengingatnya ulang. Itu sudah cukup sakit.
Sejak saat itu kau berjanji, lelaki brengsek itu tak akan hidup tenang, walau kau telah berada di alam lain sekalipun.
Setelah hari itu, hidupmu tak lagi sama. Kau menjadi pendiam. Kariermu dalam sinetron anjlok drastic. Matamu selalu menyiratkan kesedihan dan penderitaan, sembari sekali-sekali kau melirik perutmu yang mulai membuncit. Yukiko, sahabatnya yang selalu menghiburnya, pun, mesti pergi meninggalkannya setelah menikah dengan seorang penulis muda, Yusaku Kudo. Kau semakin yakin, bahwa kau tidak punya malaikat. Apalagi setelah kejadian itu. Kejadian naas itu.
Kau menggenggam tangan kecil anakmu yang baru satu tahun. Ryu Vineyard—kau tidak akan pernah sudi nama keluarga anakmu, 'Kuroba'—berjalan pelan dengan langkah tertatih. Kau tersenyum kecil pada malaikat kecilmu itu. Benar-benar hari yang menyenangkan untuk membawa seorang anak bermain ditaman. Hari itu sekilas benar-benar terlihat sempurna, hingga sebuah derum mobil menyadarkanm. Kau memandang terbelalak plat mobil hitam itu. Itu kan…
Kau tersadar dari keterkejutanmu ketika pintu mobil terbuka. Seorang lelaki dewasa berwajah tampan melangkah keluar dari sana. Dalam hati kau merutuk. Bodoh. Kenapa kau tidak bawa saja anakmu ke L.A bersama dengan Yukiko, atau paling tidak menyamar saja ketika membawa anakmu keluar jalan-jalan? Ryu yang menyadari ekspresi khawatirmu itu menarik-narik blus panjangmu, sambil bertanya pelan, "Mom, Mom? What's up?". Kau mengacuhkannya, dan menatap tajam lelaki di depanmu. Lelaki yang akan menghantuimu seumur hidup dan yang tidak akan pernah kau harapkan datang ke kehidupanmu lagi. Touchi Kuroba.
"What are you doing in here?" katamu dengan pandangan marah. Lelaki brengsek itu hanya tersenyum mengejek ke arahmu sembari melambai tak sabaran pada bodyguard dibelakangnya. Mereka segera memitingmu menjauh dari Ryu. Kau menganga dengan ngeri melihat lelaki itu menarik Ryu jauh dari jangkauanmu. Tidak pernah, tidak pernah sekalipun kau akan membiarkan lelaki brengsek itu menyentuh anakmu. Tidak akan pernah!
"Don't touch my son!" teriakku. Agar ia melepaskan genggamannya dari anakmu, Sekaligus berharap bahwa ada seseorang akan mendengarmu dan menyelamatkan kalian berdua. Harapan bodoh, karena tidak ada seorangpun yang terlihat di jalanan besar itu. Sementara itu, 'Touchi Kuroba'—kau menyebut namanya dengan ekspresi jijik—berbalik menghadapmu dengan senyum mengejeknya, lagi.
"Ck, ck, ck. Tidak sabaran." katanya padamu sembari menggelengkan kepala perlahan. "Don't worry, My Lady.. Kau akan segera dilepaskan setelah akau mendapatkan apa yang kuinginkan." Sambungnya. Segera ia mengangkat Ryu kedalam mobilnya dan berlalu pergi, sebelum kau bisa tersadar akan keterkejutanmu dan menyadari bahwa pegangan kuat para bodyguard itu sudah tak terasa. Setelah sadar, kau jatuh terduduk di jalanan, dengan air mata keluar dengan cepat, membentuk sebuah genangan air di wajahmu. Kau berteriak, merutuk, memohon agar anakmu segera dikembalikan. Tapi kenyatannya itu tak berarti apa-apa, malah hanya menghabiskan suara. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki keluar dari balik semak. Kau menoleh.
"Padahal sekarang sudah zaman emansipasi. Ya, kan?" tanya lelaki itu sambil tersenyum prihatin padamu, yang tidak sampai di matanya. Matanya memancarkan kebencian dan dendam yang teramat sangat, membuatmu bergetar. Namun kau masih mentapnya dengan pandangan tak mengerti. Melihat reaksimu, ia berjongkok menghadapmu dan mengeluarkan sebuah pistol. Ditaruhnya pistol itu ditanganmu. Kau menatapnya bertanya. Pandangan matanya dingin, sekarang.
"Hubungi aku ketika kau sudah tahu apa gunanya." jawabnya pelan, menjawab pertanyaanmu yang tak terkatakan. Kau mengernyit. Tapi sebelum kau bertanya lebih jauh, ia segera bangkit dan berlalu.
Saat itu kau masih menjadi wanita lugu dan polos. Namun lihatlah kau sekarang. Berdiri dengan wajah dingin menatap mayat Touchi Kuroba. Kau tersenyum mengejek, seperti yang selalu dilakukannya ketika menatapmu. Tiba-tiba terdengar suara gerakan dibelakangmu. Kau menoleh dengan cepat dan mengacungkan pistolmu. Seorang anak lelaki berusia sekitar 7 tahun, anak seorang pria yang sudah terbujur kaku di depanmu, yang kau ketahui namanya bernama Kaito Kuroba, sedang mengintip perbuatanmu. Kau nyaris saja menarik pelatuk, ketika kau mengenali wajah anak itu. Oh, tentu saja kau mengenali wajah itu. Wajah bayi yang menatapmu balik ketika kau selesai melewati persalinan panjang. Anak lelaki yang kau perjuangkan seumur hidupmu, bahkan sampai sekarang. Ryu Vineyard.
Ingin rasanya kau berlari memeluknya seerat mungkin, tidak ingin melepasnya dan membawanya lari dari rumah terkutuk ini. Menjanjikan pengamanan tertinggi untuknya. Tapi kau tahu, itu takkan mungkin sama sekali. Jadi yang bisa kau lakukan hanya kabur sejauh-jauhnya dari tempat itu, dengan wajah berlinangan air mata. Kau terhenti ketika dirasanya kau sudah cukup jauh. Dan ternyata disana telah menunggu orang itu. Ia tersenyum bangga padamu, yang lagi –lagi tak sampai dimatanya.
A/N: ni masih ficlet, nda ya?
Agak sinetron, ya? Jelek, ya? Maaf, yak lo mengecewakan…
Oh, ya… semakin banyak kalian review, semakin cepat aku apdet! #mangnya siapa juga yang mau tau #plak
