Hulllaaaa, readers nan nyunyu! /Apa dah Ran -,-

Sebelumnya, makasih banyak buat para reviewers yang udah nge-review fic saya ini. Seneng rasanya ada yang mau baca hiks.. hiks.. #terharu

Okay, tanpa perlu basa-basi, let's check it out...

#Previous

"Hinata benar tentang mu, kau memang baik dan sopan. Senang bisa mengenalmu, Sakura" ucap Neji seusainya mereka makan siang. "Hihihi, terima kasih Neji, senang juga mengenalmu. Walaupun ada kesalahan saat awal pertemuan kita," balas Sakura sambil tersenyum. "Kau memiliki senyuman yang manis sekali nona Haruno, bodoh sekali Sasuke." Neji bergumam sambil memarkirkan mobilnya.

"Kau terlalu memuji, Neji. Oh ya, Terima kasih atas makan siangnya," ucap Sakura sambil melepaskan seatbelt nya. "Sakura, apa bisa kalau aku menemuimu lagi? Kau adalah teman perempuan pertamaku di kampus," Neji bertanya dengan penuh harap. "Ya tentu saja, kenapa tidak. Aku juga sangat senang bisa berteman dengan mu Neji" Ucap Sakura penuh keyakinan.

"Baiklah, terima kasih Sakura." Sakura tidak mengerti kenapa Neji berterima kasih padanya. Tapi tetap saja ia membalasnya dengan senyuman. "Iya, aku harus ke kelas. Jaa!" salam Sakura singkat dan segera berlari menuju kelasnya.

Ssetelah makan siang itu, Neji dan Sakura makin akrab. Mereka sudah mau terbuka satu sama lain, sering bertemu dan saling bercerita satu sama lain.

"How Can I Move On?"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

Rated : T

Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort

Warning : Typo(s), Gaje, OOC, Cerita pasaran, Alur cepat dan sebagainya

.

.

.

Chapter 3

*Sakura POV*

Huft, hari ini adalah hari terpanas di Konoha, matahari bersinar dengan sangat teriknya. Bahkan jalanan pun sangat sepi layaknya jalan menuju pemakaman. Tak ada satu orang pun yang menampakan diri di sepanjang jalan. Yaa, aku pun tak mau repot-repot keluar dari apartemen ku yang nyaman dan dingin ini.

Sekarang aku hanya berbaring di sofa malas ku sambil mendengarkan musik. Sofa malas yang empuk, ditemani minuman dingin, diruangan yang dingin pula, hah! Lengkaplah hari ku. Tapi sudah hampir satu jam aku hanya berbaring seperti ini, okey aku mulai bosan. Bangkit untuk mendudukan diriku, dan menyalakan TV –sepertinya ini ide yang bagus-

"Uchiha Itachi, seorang jaksa muda kebangaan Konoha telah kembali dari Amerika. Ia dan tim nya baru saja membantu proses penangkapan pembunuh berantai di Amerika..."

"O-oh, Itachi-nii sudah kembali rupanya"

Yaa, Itachi, kakak dari Sasuke adalah seorang jaksa terkemuka di Konoha, banyak kejahatan yang kasusnya bisa ia pecahkan. Keluarga Uchiha memang selalu berkompeten dalam setiap profesi yang mereka emban termasuk Sasuke dan Itachi-nii. Sangat kagum terhadap didikan keras dari Fugaku-jiisan pada kedua puteranya.

"Huft! Andai ada Ino ada di sini, banyak hal yang ingin ku ceritakan padanya. Oh, cepatlah pulang pig!" aku bergumam pada diri sendiri.

Dan aktivitas melamun ku terganggu karena nada dering menyedihkan dari hp ku. Aku harus mengganti nada deringnya setelah ini.

"Halo" mengangkat telpon dengan amat malas.

"Sakura," suara Neji, memasuki gendang telingaku, seketika mataku terbuka lebar

"Hai Neji!" bisa ku rasakan moodku meningkat

"Hai moody, aku akan menjemputmu sekitar 15 menit lagi, bersiaplah"

"Jemput? Kita mau kemana?"

"Sudah bersiap saja tidak usah cerewet. Sampai bertemu!" seketika telepon terputus.

"He-hey! Aish, orang ini selalu semena-mena. Heeh.. Apalagi yang bisa ku lakukan" dengan enggan aku menuju ke kamar berganti pakaian yang pantas di cuaca yang sangat panas ini. Mengambil tas selempang, memasukan barang yang ku perlukan. Merapikan rambut, dan siap!

Yap! Benar saja, beberapa menit kemudian ada mobil sedan hitam berhenti di depan apartemenku. Aku segera keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobil Neji.

*Normal POV*

"Hai!" Neji menyapa "Hai! Hari ini benar-benar panas, sampai rasanya semua jalanan itu terbakar. Ngomong-ngomong kita mau kemana?" Sakura sepertinya sudah sangat tidak sabaran. Neji segera tancap gas melewati jalanan kota yang lengang.

"Hei, ayolah. Kau ini suka sekali merahasiakan sesuatu sih! Setidaknya beritahu aku kita mau kemana," Sakura merengek. "Sudah duduk diam saja, kau hanya perlu diam dan perhatikan Sakura," Neji berkata dengan santainya. "Yayaya, terserah kau saja," Sakura merotasikan matanya bosan.

"Ku dengar Itachi, baru kembali dari Amerika. Kau tahu tentang itu Sakura?" Neji mulai membuka percakapan. "Hmm, ya. Aku tahu. Kenapa kau tiba-tiba membahasnya?" Sakura menghadap Neji, menuntut jawaban.

"Oh, tidak apa. Hanya saja, penyambutan kedatangan dia itu seperti seorang super hero yang baru saja menyelamatkan bumi. Terlalu berlebihan menurutku" Neji berkata dengan ekspresi ketidaksukaan. Matanya mengernyit sangat tidak suka. "Kelihatannya, kau tidak terlalu suka pada Itachi ya," Sakura yang menangkap ekspresi tidak suka dari Neji segera berkomentar.

"Emm, tidak juga. Aku hanya menilai saja. Nah! Kita sudah sampai." Dan mobil sedan pun terparkir rapih di depan sebuah cafe es krim di Konoha. "Es krim!? Ide brilian, tuan Hyuuga," Sakura berkata dengan penuh kesenangan. Mereka berdua pun segera turun dari mobil dan memasuki cafe es krim tersebut.

.

.

.

"Terima kasih untuk es krim nya Neji! Hati-hati dijalan ya," Sakura segera turun dari mobil sedan hitam milik Neji. "Yaa, sama-sama Sakura. Lusa ku jemput kau lagi!" dan mobil sedan hitam itu pun langsung menghilang di tikungan.

Sakura memasuki apartemennya, dan betapa terkejutnya ia, ada banyak barang dan kantong plastik berteban di ruang tamu. "Sakuraa!" suara cempreng yang sangat ia rindukan menginterupsi Sakura. "Astaga, pig!" kedua sahabat yang sudah hampir 3 minggu tidak bertemu itu, segera berpelukan dengan erat. "Kenapa tidak bilang kalau kau akan pulang hari ini?" Sakura bertanya di sela-sela adegan berpelukan mereka.

"Hahaha, aku sengaja melakukannya. Tadi itu Sasuke?" Ino melepaskan pelukan mereka dan segera mewawancarai Sakura.

"O-oh, bukan. Tadi itu Neji, kakaknya Hinata. Kau masih ingat Hinata kan?" Sakura berkata dengan penuh senyuman, ia seperti lupa dengan Sasuke saat berbicara tentang Neji.

"Dimana Sasuke? Dia seharusnya sudah selesai mengerjakan skripsi bukan?" kali ini Ino benar-benar penasaran.

"Err, kami putus," Sakura bergumam dengan suara yang kecil nyaris terdengar seperti sebuah cicitan. "Ada apa? Apa yang terjadi?" Ino bertanya dengan penuh rasa penasaran.

Akhirnya Sakura menceritakan semua yang trjadi pada dirinya. Mulai dari putusnya hubungan Sasuke dengannya sampai pada kedekatannya dengan Neji sekarang ini pada Ino.

"Aku mengerti Sakura, yasudah sekarang kau harus mencoba semua barang yang sudah kubelikan untukmu oke?" Ino mengerti Sakura juga tak mau membahas ini lebih lanjut.

.

.

.

*Ino POV*

"Ino, kalau Neji sudah sampai, beritahu aku ya! Aku mau menyiapkan sarapan sebentar," Sakura menginterupsi ku –lagi- yang tengah merapikan kamar. "Iya forehead! Berapa kali lagi kau akan mengulangi itu sih?" aku pun balas berteriak pada Sakura.

Entah perasaanku saja atau gimana, Sakura tampak sangat nyaman dengan Neji. Sakura tak pernah seperti ini sebelumnya terhadap seorang pria, bahkan pada Sasuke sekalipun. Kenapa Sakura bisa dengan mudah akrab dengan Neji, padahal –menurut ceritanya- Sakura baru bertemu sekitar 2 minggu lalu. Sakura bahkan mau saja, menemani Neji hanya untuk berlatih wisuda. Astaga! Setan apa yang merasukinya?

Sebuah mobil sedan yang kemarin ku lihat, berhenti di depan apartemen. Tak lama bel apartemen berbunyi, ini dia. "Hai!" aku membuka pintu dan menyapa orang yang bernama Neji itu. "Ooh, hai! Em, apa ada Sakura?" well, dia terlihat cukup baik. Tapi tidak untukku. "Sakura sedang bersiap, masuk saja dulu." Aku hanya mencoba menjadi tuan rumah yang baik, okay?

Tapi, sungguh aku kurang menyukai orang ini. Entahlah kenapa, yang pasti aku tidak suka.

"Neji! Kau sudah datang, oh ya. Em, Neji, ini Ino sahabatku. Dan Ino, ini Neji, teman kampus ku" Sakura memperkenalkan kami, yaa berjabat tangan dan saling tersenyum –terpaksa-

"Baiklah, pig, aku pergi dulu okey? Bye!" Sakura pergi dengan senyum merekah bersama Neji disampingnya. Aku hanya dapat tersenyum –lagi-

.

.

.

*Sakura POV*

Aku dan Neji, kini berada di aula kampus. Latihannya akan segera dimulai. Aku mendudukan diri agak jauh dari Neji. Sesekali melihat Neji yang tengah mendengar pengarahan dari dosen pembimbing. Saat latihan akan dimulai, tiba-tiba ruangan jadi riuh. Para gadis yang duduk disamping ku pun langsung menjadi ribut sendiri.

"Wah, dia kan yang mendapat nilai terbaik itu kan?" "Iya iya! Astaga, dia ada disini" mereka berceloteh ria.

Aku mencoba mencari tahu biang keladi keributan ini. Memanjangkan tubuhku, dan...

Gagal jantung.

Aku, merasakan jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. Entah kenapa, dia juga menatapku. Uchiha Sasuke menatapku dari kejauhan. Seketika, aku seperti hilang keseimbangan dan langsung menempelkan pantatku dibangku lagi. Sial! Bagaimana bisa aku lupa kalau dia juga akan wisuda. Ya Tuhan, aku belum siap melihatnya.

Dan lebih sialnya lagi, ia terlihat lebih tampan. Hampir 3 minggu tidak bertemu dengannya, dan dia jauh lebih tampan sekarang. Padahal ia hanya kaus hitam dan celana jeans, astaga aku bisa merasakan mukaku memanas, akh! Kenapa dia bisa punya efek yang menyebalkan seperti ini padaku.

Fokus Sakura, fokus. Kau kesini untuk menemani Neji!

Beberapa menit setelahnya, aku merasa sangat bosan dan segera keluar dari aula. Menghirup udara luar, berjalan disepanjang koridor kampus yang sepi.

Double heart attack.

Astaga! Untuk kedua kalinya, aku merasakan jantungku berhenti berdetak beberapa saat. Uchiha Sasuke berada didepanku, menatapku dengan mata setajam elangnya. Ingin rasanya aku segera berlari, tapi kakiku seperti jelly. Aku tidak bisa bergerak, terkunci oleh pandangannya.

"Sakura, kau datang?" dia memulai pembicaraan, suara yang sangat ku rindu.

"Emm, ya. Aku datang untuk menemani Neji," aku berucap jujur, tapi ekspresinya langsung berubah. Air mukanya mengeras. Ada apa dengannya?

"Sakura, jauhi Neji. Dia buk.."

"Sasuke, kau tidak berhak mengaturku. Dan juga, bisakah kita lupakan semua ini?" aku memotong ucapannya.

"Semua ini?" ia tidak mengerti ucapanku.

"Lupakan tentang kita, lupakan kita pernah bersama. Lupakan tentang aku. Jangan pedulikan aku lagi. Jalani kehidupanmu, dan move on," apa ini yang ku mau? Tapi ini benar-benar mengalir begitu saja. Tanpa menunggu responnya, aku langsung pergi meninggalkannya. Berjalan membelakanginya, dan menangis. Ya Tuhan ini sangat berat.

.

.

.

*Normal POV*

Waktu wisuda Tokyo Universiti tiba, semua mahasiswa yang akan di wisuda pun berkumpul di aula yang mulai dipenuhi para wali dan orang tua.

"Neji, kenapa orang tua mu tidak bisa datang memangnya?" Sakura datang untuk menemani Neji, ia tampil dengan sangat menawan dengan gaun tanpa lengan berwarna putih gading yang panjangnnya mencapai lutut. Menampakan kaki jenjangnya, rambut panjangnya ia urai begitu saja.

"Mereka tidak bisa kesini, karena ada urusan mendadak yang harus ditangani" Neji menjawab. Neji pun sudah siap dengan toganya.

Acara wisuda itu dimulai pada pukul 3 sore, dan berakhir pada pukul 6 sore. Para tamu undangan pun menyebar, beberapa menuju aula lain untuk menyantap hidangan yang disediakan. Yang lainnya segera pulang dan sebagainya.

"Sakura, aku akan mengambilkan mu minuman, anggur?" Neji menawarkan pada Sakura.

"Yaa, terima kasih. Aku akan tunggu disisni," Neji pun segera menghilang dibalik kerumunan, meninggalkan Sakura.

"Itachi-nii!" Sakura segera bangkit berdiri saat indra penglihatannya melihat Itachi –kakak Sasuke-

"Ohh, Saki, kau datang rupanya," Itachi menghampiri Sakura dan memeluknya singkat "Kau tampak sangat cantik, Saki," Itachi memuji.

"Hihi, terima kasih" Sakura merona. "Saki, kau melihat Sasuke?" Itachi bertanya sambil celingak-celinguk.

"Aku tidak melihatnya Nii-chan" Sakura menjawab. "Haduh, bocah itu! Kaa-san dan tou-san mencarinya. Sakura kau ke sini untuk siapa?" Itachi baru menyadari –sepertinya-

"Ahh, aku menemani temanku, Neji" Sakura menjelaskan

"Dan orangnya berada di?" Itachi bertanya lagi. "Dia sedang ambil minuman untukku," Sakura menjawab dengan singkat.

"Oh begitu, yasudah semoga harimu menyenangkan Saki! Aku cari Sasuke dulu," Itachi pun pergi meninggalkan Sakura.

Selang beberapa saat Itachi pergi, Neji datang dengan peluh yang mengalir di pelipisnya sambil membawa dua gelas anggur putih di tangannya.

"Hufft! Ramai sekali disana Sakura, ini minumanmu," Neji memberi anggur pada Sakura, yang langsung Sakura minum. "Sakura, lebih baik kita pulang sebelum makin malam. Bagaimana?" Neji menawarkan –menuntut-

"Emm, yaya! Lebih baik kita pulang" Sakura pun langsung ditarik pergi oleh Neji. Mereka menuju parkiran, mencari sedan hitam yang terparkir. Setelah menemukannya, Neji membukakan pintu untuk Sakura.

"Neji, kau punya air? Perut ku mual dan kepalaku agak pusing," di tengah-tengah kesadarannya, Sakura menerima air dari Neji dan langsung meneguknya. "Terima kasih Neji," "Sama-sama Saki," setelah Neji berucap, Sakura terlelap tidur.

"Mimpi indah Saki,"

Mobil sedan hitam pun menderu memecah keheningan jalanan Konoha

.

.

.

"Sakura, bangun! Kita mau jalan-jalan kan? Kau sudah janji loh," Ino baru saja terbangun dari tidurnya dengan rambut blonde yang berantakan. Memasuki dapur untuk menyiapkan makanan. "Makanan sudah siap, Sakura. Ayolah bangun, sejak kapan kau jadi pemalas begini sih!?" Ino sudah kesal karena Sakura tidak kunjung keluar dari kamarnya.

Akhirnya Ino langsung masuk ke kamar Sakura. Dengan geram memukul gundukan yang tertutupi selimut dengan bantal sofa. "Heh, ayo bangun! Kau pulang jam berapa sih?"

buk buk buk

"Haruno Sakura!" Ino berteriak frustasi sambil menyingkap selimut. Betapa terkejutnya Ino saat selimut tersingkap, itu hanya bantal guling. Ekspresi Ino jadi sangat panik. "Sakura? Sakura! Sakura!" Ino memanggil sambil mengecek di seluruh ruangan, tapi Sakura tidak dapat ditemukannya. Ino mencoba menelpon Sakura tapi tidak tersambung sama sekali.

Tapi anehnya, gaun yang Sakura pakai kemarin malam ada dikamarnya. "Astaga, kemana dia?" Ino yang sudah frustasi akhirnya memutuskan untuk menelpon Sasuke.

"Sa-sa-sasuke!?" Ino menelpon dengan suara yang bergetar

"Hn?"

"Sakura, Sakura. Kau lihat Sakura? Kau tahu dimana Sakura?" Ino bertanya –menuntut jawaban-

"Apa maksudmu? Aku tidak tahu dimana Sakura. Ino, ada apa ini?" Kali ini Sasuke jadi ikutan panik.

"Ya Tuhan, kemana dia! Ku pikir dia sudah pulang semalam, dari acara wisuda Neji. Tapi pagi ini aku hanya menemukan gaun yang ia pakai semalam, tapi dia tidak ada dimana-mana. Aku sudah menelponnya dan tidak tersambung sama sekali Sasuke. Ak-aku, benar-benar khawatir sekarang" Ino bercerita dengan suara yang terisak menahan tangis "Dia tidak pernah pergi tanpa bilang padaku, kau tahu sendiri kan Sasuke?" Ino melanjutkan

"Tunggu disana, aku akan menjemputmu Ino," sambungan telepon pun terputus.

Sangat menyakitkan untuk

Melepaskan

Tapi terkadang,

Lebih menyakitkan lagi untuk

Mempertahankan

To Be Continue

Okay readers, itu chapter 3 nya. Ran harap bisa memuaskan para readers sekalian.

RnR yaaw!