a ChanBaek Fanfiction written by Cla
EX PREGNANT
Park Chanyeol x Byun Baekhyun
"Entah sebelumnya ada badai apa yang menghampiri, Chanyeol tiba-tiba kedapatan sang mantan di depan apartemen, lalu... "Aku hamil, Yeol." Hah? Apa? Tolong siapapun tampar Chanyeol. Masalahnya adalah, dia tidak pernah merasa telah menghamili bocah SMA itu."
( ! ) Boys Love. Typo(s). Lil Mature. MPREG. Chaptered.
Alam sadar Chanyeol kontan tertarik sepenuhnya berkat suara ribut yang terdengar berasal dari dalam kamar mandi. Pria Park itu mengerang sesaat, hendak melanjutkan kembali tidurnya yang tertunda jika saja ia tak menyadari suara ribut itu adalah suara muntah dari seseorang.
Sarafnya entah bagaimana bisa langsung mencapai puncak, Chanyeol lekas beranjak dan sedikit berlari keluar kamar untuk membuka pintu kamar mandi kemudian. Benar pikirnya orang itu adalah Baekhyun yang kini tengah berjongkok di depan closet.
"Baekhyun, kau tidak apa-apa?" Chanyeol bertanya, tak sadar keluar dalam nada terlampau panik seperti itu. Di sana Baekhyun tak mengindahkan, anak itu masih muntah dengan suara yang mengerikan namun Chanyeol tidak melihat ada makanan apapun yang keluar dari mulut Baekhyun selain hanya cairan bening.
"Chanyeol.." Baekhyun memanggil parau di sela itu.
Sang mantan mendekati si mungil kemudian, dapat ia lihat bagaimana sisa muntahan Baekhyun memenuhi mulut lelaki itu kini. "Cuci mulutmu, Baek." Kata Chanyeol, bersiap untuk membantu menarik Baekhyun berdiri sebelum anak itu dengan cepat melepasnya.
Dan Baekhyun kembali memuntahkan isi perutnya lagi dan lagi. Jumlahnya cukup banyak dan Chanyeol melihat itu dengan prihatin. Ia lekas membantu Baekhyun dengan memijit lembut tengkuk anak itu, sesekali melarikan tangannya pada punggung Baekhyun untuk memberikan usapan menenangkan.
"Keluarkan semuanya, tak apa."
Setelah dirasa semua mual itu hilang, Baekhyun mengangkat kepalanya lalu pening menyerang setelah itu. Dengan sisa tenaganya anak itu lalu bangkit, menuju westafel dan membersihkan air liur yang tersisa. Tanpa disadari Baekhyun mulai terisak kecil di sana. Chanyeol yang menyadarinya didera panik dan Baekhyun tidak mengindahkan hal itu.
"Aku tidak kuat, Chan." Kepala Baekhyun menggeleng lemah berulang kali. "Aku tidak suka seperti ini. Aku lelah sekali. Ini seperti aku baru saja kehilangan seluruh cairan di tubuhku, hiks!" Racaunya, lagi tak peduli jika dengan tangisnya ini Baekhyun malah terlihat semakin mengerikan.
Muka bantal Baekhyun masih belum dibersihkan, kedua pipinya bahkan terlihat lebih bengkak daripada biasanya. Namun Baekhyun sama sekali tak peduli. Ia terlalu lelah untuk peduli.
Tapi tahunya di samping anak itu Chanyeol pun tak terlihat masalah dengan penampilan Baekhyun kini, alih-alih Chanyeol terus mengusap punggung Baekhyun untuk kembali menenangkan lelaki itu.
"Sstt. Kau bisa Baekhyun, kau pasti bisa." Ucap Chanyeol mencoba menyenangkan anak itu. "Perlukah kita ke rumah sakit sekarang?"
Baekhyun hanya menyahut dengan gelengan kepala sebelum kaki dia bawa menuju kursi di ruang makan. Mengabaikan sisa mual juga peningnya, Baekhyun mendudukkan diri di sana sementara Chanyeol masih setia berdiri di samping Baekhyun.
Sentuhan Chanyeol sedikit banyak membuat Baekhyun merasa lebih baik namun itu tak benar dapat mengurangi perasaan lain yang mengerubungi pagi Baekhyun saat ini.
"Aku tidak membenci kehamilanku, aku tidak membenci Pean sama sekali."
"Pean?" Chanyeol refleks menyela dalam tanya untuk gumaman Baekhyun.
"Pean adalah nama janinku."
Di samping Chanyeol memilih mengangguk walau sebenarnya dia tidak mengerti kenapa nama janin itu Baekhyun berikan nama sejenis kacang. "Jadi ini sering terjadi ya?" Lalu dia bertanya lagi.
Baekhyun mengangguk lesu. Air wajahnya saat ini benar-benar perlu dikasihani. Dengan kernyitan seperti itu ditambah pula rambut hitamnya yang sangat berantakan sehabis bangun tidur, Baekhyun tampak begitu kacau. Apalagi ketika dia mengingat bagaimana rutinitas paginya belakangan ini.
"Bahkan setiap pagi aku akan muntah. Itulah kenapa aku sering tidak nafsu makan, tubuhku terlalu lelah. Jinseok sialan itu tidak akan tahu bagaimana aku menderita karenanya!" Baekhyun kemudian menghentak tangannya di atas meja saat nama Jinseok tiba-tiba terlintas di dalam kepalanya. Remaja itu benar tak terima ia harus berakhir seperti ini sementara Jinseok pasti tengah bersenang-senang di luar sana.
Sedang Chanyeol hanya bisa terus memberikan usapan di punggung mantannya itu tanpa tahu harus berkata apa. Di samping itu entah ia pun ikut emosi pada pria bernama Jinseok yang membuat Baekhyun menjadi seperti ini.
...
Hari itu tak tahu ada sesuatu apa yang membuat Chanyeol pada akhirnya mendatangi tempat SMA-nya dulu. Gedung sekolah Hwarang High School ini masih tampak belum banyak berubah Chanyeol lihat mengingat ia sendiri pun belum lama ini meninggalkan sekolahan tersebut. Namun daripada itu, kini Chanyeol datang kemari bukan untuk bernostalgia, apalagi untuk memperhatikan perubahan yang ada.
Langkah kaki pria Park itu benar masih berlanjut menyusuri tiap lantai gedung sekolah. Siswa bernama Kim Jinseok menjadi tujuannya sekarang. Karena itu Chanyeol tak berlama-lama segera mendatangi wilayah kelas 3, tapi pria yang memiliki nama keren Matthew itu tidak ia temukan di sana.
Chanyeol segera saja pergi untuk mencari ke tempat lain. Ada beberapa siswa yang ternyata masih mengenali wajah Chanyeol, mereka menyapa sunbae itu sesekali, namun Chanyeol tidak di sini untuk berbincang, tak heran mengapa pria itu hanya mengindahkan sapaan mereka untuk sesaat.
Area kantin dilihatnya kini, Chanyeol memutuskan untuk mengecek tempat itu dan benar saja ia temukan Matthew berada di sana bersama kawanan berandalan lainnya. Dengan langkah seribu Chanyeol lekas menghampiri, gema keras suara tungkainya cukup mengalihkan atensian beberapa siswa di sana.
Matthew rupanya juga menyadari hal itu. Dia lalu berdiri dari tempatnya siap untuk sebuah sapaan basa-basi pada Chanyeol tetapi pria yang sudah menjadi alumni SMA Hwarang itu tanpa peringatan apapun langsung meninggalkan tinju begitu saja di wajah Matthew.
"What the—" Joseph bersama tiga orang lainnya sontak mundur dari kursi. Mereka langsung memberikan celah untuk kedua orang di sana yang tampak berseteru tersebut, terutama Chanyeol yang kini memiliki rahang mengeras seperti itu menatap Matthew.
Matthew terpogoh bangkit dan sedikit menggerakkan rahangnya yang kena tinju Chanyeol. Lalu menatap pria itu sejurus. "Senior." Dengusan geli Matthew keluar menjedanya. "Aku tidak tahu tinjuanmu itu untuk apa. Kita tidak sekenal dekat itu omong-omong."
"Aku punya alasan mengapa aku harus jauh-jauh kemari untuk mencarimu dan memberikan sedikit hadiah untukmu." Chanyeol menyahut dingin. Semua orang di sana tampak menatapnya terkejut, lain halnya dengan Matthew yang hanya mengernyitkan wajah seperti itu.
"Aku tidak mengerti apa urusanmu."
Chanyeol tak benar berniat untuk memberitahu Matthew secara langsung, ia takut seseorang akan marah setelah ini. Itu benar merupakan Baekhyun yang tidak tahu menahu akan kehadirannya di SMA Hwarang sekarang, karena ini bahkan terjadi tanpa perencanaan apapun. Chanyeol hanya terlalu marah tanpa alasan setelah melihat Baekhyun yang memuntah di pagi hari lalu setelah itu Baekhyun benar tak mau menyuapkan makanan sedikitpun.
"Jinseok—" Chanyeol menyempatkan diri untuk sebuah senyuman miring di wajahnya. "Tidakkah kau menyadari kesalahanmu itu?"
"Seingatku aku tidak pernah mengusik kehidupanmu, Senior." Matthew menyahut apa adanya.
"Bukan aku, tapi seseorang yang bersangkutan denganku!" Tukas Chanyeol meninggikan suara. Dalam hati dia betul menahan tawa menyadari apa yang baru saja dia katakan. Baekhyun merupakan seseorang yang bersangkutan dengannya? Sejak kapan? Ha.
"Siapa?" Wajah Matthew perlahan berubah penasaran. Kedua alisnya menukik dalam. Dan sebelum Chanyeol membalas, sebuah suara tiba-tiba menyela dari belakang sana.
"Kak Chanyeol?"
Pria yang dipanggil itu sontak menolehkan kepala dan menemukan Kyungsoo yang sekarang mendekat padanya. Lelaki pendek itu adalah sahabat Baekhyun yang juga cukup mengenalinya.
"Sedang apa kau di sini, Kak?" Kyungsoo bertanya lagi. Mata bulat dia lalu bergulir pada kekacauan di hadapannya sebelum terjatuh pada Matthew kemudian. "Hei kau!" Kyungsoo kontan menunjuk siswa itu dengan air muka yang seketika berubah tak bersahabat. "Aku tahu kau pacarnya Baekhyun jadi beritahu aku dimana Baekhyun sekarang!"
Satu seruan lain serta merta membulatkan mata Matthew terkejut. "Baekhyunie menghilang?" Lalu balik melempar tanya seperti itu.
"Ya!" Jawab Kyungsoo mengeras, lalu tak lama wajahnya berubah mengerut tak mengerti. "Sudah beberapa hari ini dia tidak pulang ke rumah, begitupun di kelasnya ia absen tanpa keterangan. Seharusnya kau tahu hal itu!"
"Tapi kami sudah putus."
"Benarkah?" Untuk sesaat Kyungsoo terdiam sebelum kembali menajamkan matanya pada pria itu. "Kau pasti yang membuat Baekhyun kabur! Aku yakin sekali hal itu!" Tudingnya kemudian.
"Apa? Mengapa aku?" Matthew mencolos tak terima karena sudah dituduh tanpa alasan yang benar tak ia ketahui.
"Kyungsoo." Chanyeol tiba-tiba menyela dengan menepuk pundak Kyungsoo. Lelaki bermata doe itu sontak menghentikan niatnya untuk menerjang Matthew. "Kita perlu bicara." Pinta Chanyeol, lalu setelah itu ia segera membawa Kyungsoo pergi.
Tentu saja setelah Chanyeol meninggalkan sebuah delikan tajam yang penuh peringatan pada Matthew. Namun sekali lagi, siswa berandalan itu hanya terbengong di tempatnya—benar memiliki pertanyaan apa hubungan dirinya dengan hal ini.
...
Kyungsoo tiba-tiba saja menangis dan ini benar di luar kepala Chanyeol. Pria Park itu tak punya patahan kata apapun sedang Kyungsoo terus mempersuarakan isi hatinya di sana.
"Aku sangat mencemaskan Baekhyun sekarang. Tak ada kabar apapun darinya bahkan pada Kak Soojung sekalipun. Kita sudah melaporkan hal ini pada polisi, tetapi polisi juga tidak bisa menemukannya karena Baekhyun tidak meninggalkan jejak apapun, bahkan handphone-nya tidak dibawa sama sekali. Aku takut sekali, Kak. Kau tahu sendiri Baekhyun seperti apa orangnya, bagaimana jika orang jahat menculiknya?"
Chanyeol menjadi gelagapan, daripada itu ia tercengang mendengar hal ini ternyata sampai melibatkan polisi. "A-Aku—"
"Lupakan. Kau hanya mantan Baekhyun, aku seharusnya tak menanyakan hal ini padamu. Bahkan kalian sudah tidak pernah bertegur sapa lagi." Kyungsoo mendengus untuk dirinya.
Sekali lagi Chanyeol tak memberikan tanggapan apapun. Terdiam bodoh dengan wajah melinglung seperti itu. "Lalu bagaimana dengan keadaan Soojung sekarang?" Tanyanya kemudian mengenai satu keluarga Baekhyun.
"Baekhyun adalah keluarga satu-satunya, tentu kau bisa membayangkan bagaimana Kak Soojung sekarang."
"Dia tidak baik-baik saja?"
Kembali Kyungsoo mendengus untuk pertanyaan retoris Chanyeol. "Tentu saja tidak."
Bingung adalah apa yang memerangkapi Chanyeol sekarang. Ia sebenarnya takut hilangnya Baekhyun akan berlanjut pada akibat yang fatal apalagi mendengar Soojung yang tidak baik-baik saja karenanya, tapi di samping itu bagaimana dengan Baekhyun? Tapi sepertinya Chanyeol lebih takut mengambil risiko untuk opsi yang pertama.
Menghela nafas lantas Chanyeol lakukan kemudian. "Setelah kau pulang sekolah, ikutlah denganku." Ucapnya.
Kyungsoo terdiam mencerna perkataan kakak kelasnya itu sebelum dia menyadari suatu hal di sana. "Kau tahu sesuatu tentang Baekhyun, Kak?" Dan itu langsung diangguki Chanyeol sebagai jawaban. Dongkol seketika memenuhi aura Kyungsoo. "Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?!"
Nada bicara lelaki itu yang meninggi sontak mengejutkan satu yang lainnya. Chanyeol refleks menggeserkan tubuhnya sedikit menjauh dari Kyungsoo. "Aku akan memberitahumu. Karena itu kau ikutlah denganku, Soo."
...
Baekhyun sedang melipat baju Chanyeol yang sudah ia cuci ketika dia melihat pada dirinya sendiri saat ini yang masih mengenakan baju yang sama seperti di hari lalu. Tentu Baekhyun sudah merasa tidak nyaman untuk hal itu, baju yang dikenakannya sudah sangat bau dan lengket. Baekhyun ingin menggantinya dan sempat berpikir untuk memakai sementara baju Chanyeol yang sangat banyak—tapi tentu saja Baekhyun hanya akan kena marah pria itu lagi setelahnya, pasti.
Tapi sungguh, Baekhyun sudah sedikit ini bersabar dengan bau aneh di bajunya itu. Ia tidak tahan sekarang. Pikirnya meminjam baju Chanyeol untuk sesaat tidaklah masalah, lagipula Baekhyun memiliki alasan kuat mengapa dia harus melakukannya.
Ah benar, Baekhyun bergumam pada dirinya sendiri sebelum kemudian mengambil satu baju dan celana milik Chanyeol untuk ia kenakan.
Baju pria Park itu jelas sangat kebesaran di tubuhnya yang mungil. Kaos berwarna cokelat yang Baekhyun ambil itu sampai menutupi pahanya, bahkan bagian bahunya sesekali tersingkap namun Baekhyun tak peduli. Ia lantas memakai celana selutut milik Chanyeol. Bersyukur itu tidak terlalu kedodoran.
Nah, seperti ini jauh lebih baik.
Baekhyun lalu keluar dari kamar mandi, senyumnya tampak lebih segar di wajah. Dia hendak melanjutkan pekerjaannya kembali sebelum mendengar pintu apartemen yang terbuka. Chanyeol jadi lebih sering pulang cepat belakangan ini.
Segera saja Baekhyun hampiri pria itu untuk sebuah sambutan, namun apa yang ia temukan selanjutnya sipit mata dirinya yang membelalak lebar mendapati siapa orang yang kini dibawa pria itu.
"BAEKHYUN!" Sosok Kyungsoo benar adanya di sana. Laki-laki Do itu kontan menyerobot masuk lalu menghamburi Baekhyun dalam sebuah pelukan erat.
Sedang satu remaja yang lainnya masih dalam mode terkejut membalas kaku pelukan sahabatnya. "K-Kyungsoo?"
Di sela itu mata Baekhyun bergulir pada Chanyeol di belakang sana. Bisa ia lihat bagaimana pria itu menggumamkan kata "Maaf". Sontak saja Baekhyun lepas dalam amukan.
"YAK KAU MENGKHIANATIKU!"
Lengkingan suara Baekhyun yang menggelegar nyatanya sudah Chanyeol duga akan dia dapati. Dan itu benar saja.
...
"Jadi kau sungguh berniat kabur dari rumah karena itu kau tidak membawa barang-barangmu satupun?" Kyungsoo menyimpulkan itu untuk dirinya usai mendengar pengakuan Baekhyun sebelumnya. Namun daripada marah, Kyungsoo kini menemukan dirinya menghela nafas dalam kelegaan seperti itu. "Astaga Baekhyun, kami pikir kau diculik."
Baekhyun hanya memberikan cengiran yang tak sampai hati. Sedang Kyungsoo kembali membawa matanya menerawang tempat ini hingga kemudian berakhir pada tubuh Chanyeol yang tengah duduk di samping Baekhyun. Dahi lelaki Do itu mengernyit dibuatnya.
"Jadi kau tinggal bersama Chanyeol selama beberapa hari ini—" bersamaan itu alis Kyungsoo kian bertaut. "tapi kenapa? Bukankah kalian sudah tidak dekat?"
"Itu—"
"Kau hanya tidak tahu saja, Kyung." Cepat Baekhyun menjawab memotong Chanyeol yang hendak bersuara pula.
Remaja berambut hitam itu tidak ingin Chanyeol mengatakan yang sebenarnya, mengenai dia yang hujan-hujanan untuk sampai kemari, dan melupakan kenyataan mereka yang bertingkah tak kenal satu sama lain hanya karena alasan tak punya tempat lain sebagai tujuannya. Bisa mati memalu Baekhyun membayangkan Kyungsoo tahu hal itu.
"Lalu kenapa kau tidak menghubungiku? Kau membuatku merasa buruk sebagai sahabatmu, Baek." Air wajah Kyungsoo berubah sedih di sana.
"Maafkan aku." Baekhyun menjawab dengan nada yang sama. "Aku hanya takut kau memberitahu Kak Soojung soal ini."
"Memangnya apa sih yang membuatmu pergi dari rumah? Kak Soojung bilang kalian tidak sedang bertengkar."
"Memang tidak."
"Lalu apa?" Kejar Kyungsoo penasaran, benar tak menangkap bahasa tubuh Baekhyun yang sudah bergerak gusar seperti itu.
"Aku takut setelah ini kau menjauhiku." Cicit Baekhyun yang segera disangkali Kyungsoo dengan mantap.
"Tentu saja aku tidak akan!"
"Aku—"
Di tengah kegusaran itu, Baekhyun menyempatkan diri untuk melirik Chanyeol berharap pria itu mengerti maksud di sana. Dan tahunya Chanyeol memberikan anggukan yang Baekhyun yakini itu hanya respons spontan biasa. Chanyeol tidak akan mengerti, tentu saja. Namun konyolnya Baekhyun tetap melakukan apa yang disarankan Chanyeol.
Mengaku lagi.
"Aku hamil." Pelan dan ragu, tetapi Baekhyun terlanjur sudah mempersuarakannya.
"APA?!" Bola mata Kyungsoo sukses membesar dari ukuran biasanya. Imajiner petir seketika memenuhi kepala lelaki itu. "Bagaimana bisa—" Kyungsoo menjeda, tahu pertanyaan yang keluar itu terdengar konyol, karena itu Kyungsoo segera mengimbuh. "DENGAN SIAPA BAEK?!"
Baekhyun menunduk dalam saat sahabatnya itu mencengkram pundaknya dengan erat sambil mengguncang-guncang seperti itu. Tapi tentu saja bukan itu yang membuat Baekhyun tak berani menatap Kyungsoo kini.
Dan Chanyeol menjadi orang yang paham akan arti tundukan Baekhyun di sana. Tanpa bertanya pun Chanyeol tahu mengapa mengingat Baekhyun melakukannya bersama Matthew si berandalan. Kyungsoo mungkin saja akan menjauhi Baekhyun.
"Siapa Baek?!" Kyungsoo lagi menekan pertanyaan yang sama membuat Chanyeol refleks mendengus.
"Aku."
Sontak kedua mata itu terarah sejurus padanya. Chanyeol yang baru menyadari 100% apa yang dikatakan mulutnya itu benar dibuat terkejut pula. Dia berakhir sama membelalak mata seperti yang Kyungsoo dan Baekhyun kini.
Dengan sadar Chanyeol lantas menelan ludahnya yang berubah kasar seperti pasir di sana. Keterdiaman di antara mereka membuat bulu hidung Chanyeol ikut menegang.
"Bersamamu..?" Suara Kyungsoo akhirnya keluar, terdengar penuh keraguan disusul kemudian lelaki itu yang mendengus lebih keras. "Oh tentu saja! Itulah mengapa Baekhyun tinggal bersamamu sekarang."
Chanyeol tak tahu apa yang sudah ada di dalam dirinya saat ini, namun yang pasti itu benar-benar sungguh di luar akal sehat! Melihat kedua lelaki yang sama mungilnya itu tak bergerak, terutama pada Baekhyun yang menatapnya tanpa henti—Chanyeol tidak tahu harus menyalahi dirinya bagaimana lagi. Tapi daripada itu, sisipan lega ada menyusup di sebagian dalam dirinya, Chanyeol berpikir Baekhyun takkan terlalu malu untuk berhadapan dengan Kyungsoo setelah ini.
Lantas perubahan mimik wajah Kyungsoo yang Chanyeol tangkap mengembalikan kesadaran pria Park itu kembali. Chanyeol berubah terperanjat, di sana ia temukan sudut mata Kyungsoo mulai menajam ke arahnya dan Chanyeol tahu itu bukan untuk sesuatu yang baik.
Saraf Chanyeol berdering seketika itu juga. Seharusnya Chanyeol ingat Kyungsoo tetaplah Kyungsoo, lelaki mungil yang menyimpan jiwa satan di dalam dirinya.
...
"Aw. Pelan-pelan Baek!"
"Aku sudah pelan melakukannya kok."
Meski begitu Chanyeol masih bisa merasakan bagaimana Baekhyun mengurus luka di dahinya itu tidak dengan menggunakan hati. Sensasi dari kapas yang diberikan alkohol di atas lukanya sangat perih dan ini merupakan kali pertama Chanyeol mendapatkan luka, Baekhyun benar tidak membuat itu lebih baik.
"Yak Byun Baekhyun ini perih!"
"Bisakah kau diam sebentar?" Baekhyun berdecak mendapati protesan Chanyeol terus-menerus. Luka di sana lantas segera Baekhyun tutupi dengan plester, dan dengan sengaja kali ini ia meninggalkan tekanan setelahnya di bagian tersebut.
"Akh itu sakit!"
"Sudah!" Baekhyun menyentak. Cepat ia rapikan kotak P3K dengan gerutuan pelan di mulutnya. "Itu hanya luka kecil kenapa kau sangat cengeng."
Tentu saja telinga lebar Chanyeol menangkap semua kalimat itu. "Cengeng kau bilang?!" Pria itu sukses melotot tak terima. "Kau hanya tidak merasakannya! Dahiku pasti memar setelah ini, Kyungsoo benar-benar psikopat!"
Chanyeol ngeri membayangkan kembali saat dirinya diberikan pukulan sana-sini oleh Kyungsoo. Tapi bagian kepala yang lebih banyak. Chanyeol mencoba menghindar tentu saja, namun nyatanya Kyungsoo tidak berhenti sampai di sana hingga Chanyeol jatuh terguling dengan dahi yang mencium sudut meja sampai terluka dan berakhirlah dia seperti ini. Untung saja lelaki yang menjadi sahabat Baekhyun itu sudah pulang sekarang.
"Sudah tahu Kyungsoo seperti itu kenapa kau malah memancingnya." Baekhyun menimpal heran dengan gelengan kepala menyertai.
"Apa kau bilang?!" Chanyeol melotot kembali pada lelaki itu. "Tidakkah kau berterimakasih padaku?" Sindirnya kemudian.
"Mengapa aku harus? Aku tidak memintamu untuk melakukannya."
Nya di sana jelas itu mengenai Chanyeol yang mengaku-ngaku seperti tadi di hadapan Kyungsoo. Baekhyun benar tak habis pikir apa sebenarnya yang ada di kepala pria itu, walau di samping ia jadi tak harus mengatakan yang sebenarnya pada Kyungsoo.
"Yak Byun Baekhyun, kau benar-benar—" Chanyeol mendecak mulutnya tak percaya di sana. "Aku melakukannya karena aku tahu kau tidak bisa menjawab hal itu, kan? Lagipula aku tahu kau mana mungkin menyebut nama Jinseok sebagai pelakunya. Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku tidak melakukannya?"
"Akan aku jawab kalau aku tidak tahu."
"Justru dengan jawabanmu itu Kyungsoo pasti akan menganggapmu seorang pemain yang melakukannya dengan banyak orang. Apa kau mau seperti itu?!" Chanyeol tak menahan dirinya untuk ledakan emosi sehingga tinggi nada suaranya benar mengudara saat ini.
"Kenapa kau jadi marah padaku?!" Baekhyun balas menyolot tak terima. Air wajahnya sudah sama seperti Chanyeol, bahkan imajiner perempatan siku-siku di dahinya Baekhyun rasakan lebih banyak daripada yang Chanyeol miliki.
"Itu karena kau tidak berterima kasih padaku sama sekali!"
"Baik! Aku sangat berterima kasih padamu! Terima kasih karena kau sudah mau mengaku-ngaku ini adalah perbuatanmu! Terima kasih karena dengan begitu Kyungsoo akan berpikir Pean adalah milikmu! Lalu setelah Pean lahir Kyungsoo akan berpikir mengapa anakku tidak memanggilmu ayah!" Baekhyun menyentak penuh sarkastik. "Apa kau tidak berpikir ke sana, Park Chanyeol?! Apa kau lupa kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi?! Lalu apa yang akan kau lakukan jika semua orang tahu Pean adalah milikmu?!"
Nafas Baekhyun keluar dalam deruan keras setelah satu tarikan nafas membuat dia berhasil meluapkan kekesalannya. Tapi lihat bagaimana Chanyeol hanya mengerjap-ngerjap untuk semua semprotan yang Baekhyun keluarkan. Chanyeol tidak terlihat menyadari akan lubang baru yang telah dibuatnya tersebut, tapi Baekhyun masih ingin menanti untuk reaksi apa yang akan dia dapatkan setelah ini.
"Kau memakai bajuku sekarang?"
Benar-benar minta ditampol.
"YAK PARK CHANYEOL!"
Kesabaran Baekhyun tersedot di sana. Bersamaan dengan pekikannya menggelegar, Baekhyun raih rambut Chanyeol untuk ia jadikan sasaran terjangannya pada pria itu. Chanyeol mengerang sakit dan Baekhyun tak peduli terus menarik-narik rambut Chanyeol dalam jambakan berharap itu akan tercabut sampai akar.
"PARK CHANYEOL KAU MAU KUBUNUH YA?!"
"ARGGH RAMBUTKU! SAKIT BAEK—HENTIKAN!"
"AKU TIDAK AKAN BERHENTI SAMPAI KEPALAMU BOTAK!"
...
Satu pesan masuk yang baru saja menderingkan ponselnya cepat saja mengalihkan perhatian Chanyeol ke atas kasur. Setengah membanting diri ke permukaan empuk itu, Chanyeol lalu membuka notifikasi baru di sana.
[LeeSohee] : Hai juga, maaf aku baru membalas pesanmu. Omong-omong kabarku baik. Ada apa Chanyeol?
Satu dengusan geli terdengar dari hidung pria itu, pesannya yang terkirim kapan malah dibalas kapan. Tapi itu tak menghentikan Chanyeol untuk mengirimkan balasan kemudian.
[ParkChanyeol] : Ah tidak ada apa-apa. Aku dengar kampus kita akan mengadakan festival tahunan, kau sudah mendengar soal itu?
[LeeSohee] : Iya aku sudah. Mahasiswa di fakultasku sedang berpikir untuk membuka stan cafe, kkkk.
[ParkChanyeol] : Dan kau akan menjadi pelayannya? Hahahaha.
[LeeSohee] : Iya, kkk. Ini aneh kita tiba-tiba bertukar pesan seperti ini, padahal di kampus kita tidak pernah saling menyapa.
[ParkChanyeol] : Kalau begitu sampai berjumpa di kampus, Sohee.
Suara ketukan lantas menyentak Chanyeol di tempatnya lalu setelah itu sosok Baekhyun muncul dengan sekeranjang pakaian di tangan lelaki itu.
"Aku hanya ingin menyimpan bajumu yang sudah aku setrika." Baekhyun memberitahu di sana.
"Simpan saja." Sahut Chanyeol menunjuk lemari lalu memutar bola mata setelahnya. "Biasanya kau juga tidak pernah mengetuk pintu."
Baekhyun tak menanggapi selain dengan delikan mata yang dia berikan untuk Chanyeol si provokator.
Sementara itu Chanyeol yang masih merasakan denyutan-denyutan karena jambakan Baekhyun, tahunya malah memperhatikan carrier itu di sana. Chanyeol merasa sedikit aneh saat melihat Baekhyun yang kini memakai bajunya kembali. Tentu saja itu akan menjadi sangat kebesaran di tubuh Baekhyun, bahkan dapat Chanyeol lihat bagaimana bahu anak itu sering tersingkap karenanya.
"Kenapa kau memakai bajuku sih?" Chanyeol melemparkan pertanyaan itu lagi.
Dan Baekhyun mendesah kecil sebelum akhirnya memberikan jawaban miliknya. "Aku tidak punya baju ganti."
"Oh tunggu sebentar." Tiba-tiba si jangkung teringat sesuatu. Ia lantas menghampiri posisi Baekhyun untuk mengubek-ubek bagian atas lemarinya hingga satu kotak dus kecil dibawa Chanyeol kemudian. "Ini." Ia menaruhnya di lantai.
Baekhyun mengabaikan baju Chanyeol di tangannya untuk beralih melihat isi dus yang ditunjukkan pria itu. Kontan rahangnya terbuka kecil sebelum kembali menatap Chanyeol.
"Kau masih menyimpan bajuku?!"
"Tadinya ingin aku buang." Chanyeol menggidikkan bahu sedang mata langsung berubah kacau bergerak di tempatnya. Benar sebuah peralihan yang gagal, namun Baekhyun tak cukup peduli untuk sekedar menciduk kebohongan yang dibuat pria itu lagi.
Alih-alih Baekhyun excited mengeluarkan semua baju lamanya di sana, dan menyadari itu benar miliknya yang dulu pernah ia simpan di tempat mantan kekasihnya ini. Baekhyun bahkan sampai lupa ketika dia tiba-tiba saja membuka baju Chanyeol yang dikenakannya.
Jelas satu yang lainnya tercengang melihat itu. Chanyeol segera memalingkan wajahnya, tapi mata pria itu berkhianat karena tahunya itu tetap saja jelalatan ingin menyusuri tubuh Baekhyun di sana. Sampai pada perut Baekhyun, Chanyeol dibuat terpaku. Ada tonjolan kecil di bagian bawah perut anak itu, sudah tidak rata seperti dulu.
"Yak apa yang kau lihat?! Dasar mesum!"
...
Bruk.
Lagi Chanyeol ditarik dari alam mimpi berkat suara ribut yang pasti dibuat oleh Baekhyun. Chanyeol tebak, anak itu pasti terjatuh, lagi.
Dengan sempoyongan Chanyeol memaksa tungkai untuk beranjak, terseret lunglai seperti itu keluar kamar. "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya kemudian di ambang pintu.
"Perutku—"
Kantuk di mata Chanyeol serta merta menghilang bagai tertiup angin. Pria itu langsung menghampiri Baekhyun dengan sejumput cemas terlihat di wajahnya. Dan kernyitan Baekhyun Chanyeol dapati dari anak itu pertama kali.
"Kenapa kau selalu jatuh sih?"
"Mana aku tahu aku'kan tertidur."
Chanyeol menghela nafas keras. Timpalan Baekhyun yang seperti itu nyatanya sedikit banyak melepaskan tali cemas dirinya. Baekhyun masih baik-baik saja, dan Chanyeol tidak ingin mengambil risiko yang lebih berat jika Baekhyun terjatuh lagi setelah ini.
"Tidurlah di kamarku." Katanya kemudian.
"Kau yakin?"
"Ta—"
"Baiklah!"
Belum sempat Chanyeol berkedip, Baekhyun di sana tahunya sudah tak terlihat—menghilang di dalam kamar begitu saja. Satu yang lainnya hanya menggeleng kepala mendapati itu sebelum menyusul Baekhyun kemudian.
Remaja bersurai hitam itu benar sudah masuk ke dalam selimut dengan wajah berseri, tentu hal itu mengundang Chanyeol dalam jengitan. "Siapa yang menyuruhmu tidur di kasurku?"
"Eh? Lalu aku harus tidur dimana?" Senyum di bibir Baekhyun luntur berganti dengan sebuah kerucutan kecil yang diperlihatkannya kini.
Alih-alih cepat menjawab, Chanyeol membuka salah satu lemari untuk ia keluarkan satu kasur lipat yang dimilikinya di sana. Benda itu dihamparkan Chanyeol kemudian di bawah kasurnya.
"Di sini tentu saja." Chanyeol tersenyum gigi menunjuk pada kasur lantai. Sedang dengusan Baekhyun menjadi yang menanggapi dengan mata mendelik seperti itu. "Atau kau mau tidur di sofa lagi?"
"Tidak, terima kasih."
Cepat saja Baekhyun beranjak dari kasur empuk nan hangat Chanyeol. Setengah hati dia masuk ke dalam selimut kasur lantai itu. Permukaannya sedikit dingin dan tak seempuk tadi, tapi lihat bagaimana Chanyeol tersenyum lebar setelahnya. Dasar tegaan, rutuk Baekhyun keki dalam hatinya.
Lama tak ada suara, remaja Byun itu lantas menoleh pada Chanyeol yang ternyata sudah berbaring memunggunginya di atas kasur sana.
"Chanyeol." Lalu Baekhyun memanggil tanpa beban. Untuk beberapa saat Chanyeol tak membalas, namun deheman pria itu terdengar selanjutnya cukup menunjukkan Chanyeol yang juga nyatanya belum tertidur. "Tolong carikan aku pekerjaan ya."
Pria Park itu bergerak untuk menoleh padanya. Mata mereka bertemu di tempat yang berbeda. Dan Baekhyun berusaha untuk mempertahankan kontak transparan itu di sana.
"Kau akan bekerja?" Kini Chanyeol sudah sepenuhnya berbalik menghadap Baekhyun. Melirik ke bawah sana dan ia temukan anak itu mengangguk.
"Mau bagaimana lagi. Aku perlu uang untuk menghidupiku sekarang. Lagipula aku harus membeli baju—"
"Kenapa kau tidak mengambil baju saja di rumahmu?"
Baekhyun langsung bergeleng membuat rambutnya teracak bergesekan dengan bantal. "Aku tidak mau kembali."
"Selamanya?"
"Itu aku tidak tahu." Baekhyun mencebik kecil. "Yang terpenting sekarang aku harus bekerja. Kalau sudah punya uang aku'kan bisa tinggal sendiri."
Chanyeol tiba-tiba mendengus geli, pikirnya cukup lucu membayangkan ucapan Baekhyun jika terjadi. "Kau saja belum legal. Namamu bahkan belum tercatat di kewarganegaraan, bagaimana mungkin kau akan tinggal sendiri."
"Ah kau benar juga." Baekhyun menyahut dalam desah setelah terdiam menyadari ucapan Chanyeol.
"Tidurlah."
"Tidak mau, aku masih ingin mengobrol."
"Tapi aku tidak."
Baekhyun sontak melayangkan delikannya kembali pada Chanyeol. "Memangnya siapa yang akan mengajakmu mengobrol, tcih."
"Hei apa—" Protesan Chanyeol tertahan begitu ia mendapati gulungan selimut di bawah sana sudah menutupi seluruh tubuh Baekhyun.
Lagi Chanyeol mendengus. Untuk sesaat dia masih di posisi serupa melihat kain tebal itu bergerak-gerak tak karuan seperti ulat yang terdampar, Baekhyun mungkin sedang mencari posisi nyaman di dalam sana. Dan tak lama setelah itu samar-sama Chanyeol mendengar Baekhyun bersama gumaman-gumaman pelan menyebut nama Pean dan..
Papa?
Apa itu sebutan untuk Baekhyun? Mengapa terdengar lucu?
Tanpa sadar bibir Chanyeol tertarik membuat sebuah lengkungan sedang mata mulai terpejam perlahan-lahan. Ia tidak tahu jika suara-suara Baekhyun yang masih tertangkap telinganya benar terbawa ke dalam mimpinya malam itu.
...
Next Chapter
"Baekhyun masih berada di bawah umur jika kau lupa Park Chanyeol! Kau telah membuat masa depan adikku hancur! SEBENARNYA APA YANG KAU PIKIRKAN KETIKA MELAKUKANNYA BEDEBAH?!"
"BENARKAH ITU PARK CHANYEOL?!"
"Aku akan bertanggung jawab."
"Bagaimana jika Ibu tahu soal ini?! Apa kau sudah berpikir kesana?! Mengapa kau melakukannya pada seorang remaja?!"
Serius, kenapa malah jadi seperti ini?
To be continued—
a/n : ini kayanya bakalan jadi sinetron yang panjang huft. Tapi ngga akan banyak nangis-nangisan kok. Menurut kalian siapa di sini yang bakalan jadi orang ketiga? Sohee atau Jinseok? :D
