NARUTO Masashi Kishimoto
A GIFT ©GYBLUE12
PAIRING : Uchiha SasukeXHaruno Sakura
RATED : M (For many reason :D)
GENRE : Romance,Hurt/Comfort
WARNING : OC, MATURE, LITTLE BIT OF TYPO(S)
:::::
Click back if you don't wanna read this fic….
HAPPY READING :)
.
.
.
Chapter 3
It's The day. Hari yang di tunggu-tunggu oleh Sakura akhirnya datang. Hari ulang tahun kekasihnya, Sasuke Uchiha.
"Hhhhhh…."
Entah sudah berapa kali gadis bubblegum ini menghela nafas hari ini. Ia tampak agak murung di sebabkan karena suatu hal, dan tentu saja hal itu ada hubungannya dengan Uchiha Sasuke.
Sekarang gadis cantik bermata emerald ini sedang berada di kantin menunggu Ino yang sedang menemui Sai di kelas seni. Ino menyuruhnya untuk menunggunya di kantin. Dan disinilah ia sekarang, duduk di salah satu kursi di pojok kantin Konoha College, di temani dengan segelas jus strawberry favoritnya.
"Hei Foreheaaaaad….!"
Tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang dan berteriak sangat keras tepat di samping telinganya.
"Astaga Ino! Kau mau membuatku tuli, hah?" Sakura menatap kesal kepada sahabatnya itu sembari mengusap kedua telinganya yang terasa berdengung.
"Hehehe gomen Sakura." Ino hanya tertawa dengan wajah tanpa dosa sedikit pun.
"Hah dasar kau ini. Ah, Hinata-chan….! Kau sudah kembali dari Suna rupanya. Aku rindu sekali padamu….." Sakura berdiri dari duduknya dan langsung memeluk seorang gadis berambut indigo dan bermata lavender yang berdiri di belakang Ino. Ia tampak sangat cantik dan anggun, ia adalah Hyuuga Hinata ―Sahabat Sakura selain Ino.
"Ne, Sakura-chan aku baru saja tiba kemarin jadi aku baru bisa masuk hari ini." Hinata balas memeluk Sakura. Ia juga rindu kepada kedua sahabatnya ini. Ia baru saja tiba dari Sunagakure setelah mengikuti pertukaran pelajar di Sunagakure University selama 3 bulan. Dan sekarang rasanya ia senang sekali sudah kembali ke Konoha dan bertemu kembali dengan sahabat-sahabatnya.
"Aku tadi bertemu dengan Hinata saat aku baru saja keluar dari kelas seni. Lalu aku langsung mengajaknya kesini." Ino menarik salah satu kursi di pojok dekat jendela, berhadapan dengan Sakura.
"Lalu kenapa kau tidak masuk ke kelas Kakashi-Sensei, Hinata?" Tanya Sakura sembari menyeruput jus nya.
"Tadi aku menemui Shizune-Sensei dahulu untuk memberitahukan kepulanganku dari Suna dan menyerahkan beberapa tugas yang di berikan olehnya." Jawab Hinata yang sekarang sudah duduk manis di samping Ino. Sakura dan Ino hanya menganggukan kepala mereka.
"Ah, pasti si baka-Naruto itu sangat senang saat tahu kau sudah pulang, Hinata-chan. Selama kau pergi dia tampak tidak bersemangat tapi tetap saja sifat heboh dan bodohnya itu tidak hilang-hilang juga. Aku sampai kesal saat ia menanyakan kabarmu kepadaku hampir di setiap kali kami bertemu! Kau sudah mengabari kepulanganmu kepadanya kan?" Sakura bercerita tentang bagaimana hebohnya Uzumaki Naruto ―kekasih Hinata, yang juga merupakan sahabat kekasihnya itu, saat Hinata sedang berada di Suna.
"Hehe gomen Sakura. Naruto-kun sudah merepotkanmu. Pagi tadi aku sudah bertemu dengannya dan ia langsung memelukku, aku malu sekali." Hinata menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat menceritakan kejadian tadi pagi saat ia bertemu dengan kekasihnya, Naruto.
"Hahaha dasar Naruto. Selalu membuat heboh dimana pun dan kapan pun." Ino dan Sakura tertawa melihat Hinata yang tengah menutup kedua wajahnya.
Triiing.. Triiing…
Handphone Hinata yang ia taruh di atas meja kantin bergetar-getar dan berbunyi menunjukkan bahwa ada seseorang yang menelponnya.
Narotu-kun Callings.
"Ah, dari Naruto-kun." Hinata membuka layar Handphonenya dan menekan tombol berwarna hijau.
"Moshi-moshi Naruto-kun." Hinata menjawab telepon dari kekasihnya itu.
"Moshi-moshi Hinata-chan." Sahut suara di seberang sana.
"Kau sedang ada dimana, Hinata-chan?"
"Aku sedang berada di kantin bersama Ino-chan dan Sakura-chan. Ada apa Naruto-kun?"
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengajakmu kencan. Hehehe kita kan sudah lama tidak pergi kencan, Hinata-chan. Aku rindu sekali padamu."
"…." Hinata tak mejawab. Semburat merah sukses mewarnai kedua pipi putih Hinata.
"Bagaimana, Hinata-chan? Kau mau tidak? Apa kau tidak rindu padaku? Ayolah Hinata-chan… Aku ingin bertemu denganmu." Sahut Naruto saat ia tidak mendengar jawaban dari kekasihnya itu, ia tidak tahu bahwa saat itu Hinata tengah tersipu malu dengan semburat merah sukses menghiasi kedua pipinya, persis seperti buah tomat.
"Ba-ba-baiklah, Naruto-kun." Akhirnya Hinata menyetujui ajakan kekasihnya itu untuk pergi berkencan.
"Hahahaha baiklah Hinata-chan, tunggu aku, setelah selesai kelas Izuma-Sensei, aku akan menjemputmu. Kau jangan kemana-mana. Oke, Hinata sayang?" Naruto tertawa senang,ia membayangkan nanti akan berkencan dengan kekasihnya itu setelah 3 bulan tidak bertemu.
"Ha-Hai, Naruto-kun." Wajah Hinata bertambah merah saat Naruto memanggilnya 'sayang'. Ino dan Sakura yang memperhatikan Hinata hanya tersenyum simpul melihatnya.
"Oh ya, Hinata-chan tolong tanyakan kepada Sakura-chan apakah ia sudah bertemu dengan Sasuke-Teme hari ini? Aku mencarinya dari tadi tapi aku tidak menemukannya dimanapun. Mungkin Sakura-chan tahu Sasuke dimana. Padahal hari ini aku ingin meminta traktiran dari nya karena hari ini dia ulang tahun, tapi dia malah tidak ada dimana-mana."
"Iya Naruto-kun, nanti akan aku tanyakan kepada Sakura-chan."
"Yasudah Hinata-chan, Izuma-Sensei sudah datang. Tunggu aku ya, jangan lupa kalau hari ini kita akan pergi berkencan. Hehehe. Sampai nanti, Hinata-chan."
"I-i-iya sampai nanti, Naruto-kun" Klik. Hinata menutup layar ponselnya.
"Aaah sepertinya ada berita bagus, ne Hinata-chan?" Ino tersenyum penuh arti kepada Hinata.
Hinata tampak tersipu-sipu. "Naruto-kun mengajakku berkencan."
"Ah senangnyaaa… Kau bisa pergi berkencan hari ini setelah lama tidak bertemu. Hari ini aku tidak bisa pergi berkencan dengan Sai-kun, karena ia harus mengerjakan tugas dari Danzo-sensei. Menyebalkan sekali." Ino mengerucutkan bibirnya karena kesal hari ini tidak bisa pergi berkencan seperti Hinata.
"Tidak ada yang bertanya kepadamu, Pig." Sakura menatap malas kepada Ino.
"Huh, menyebalkan sekali kau, Forehead." Ino makin mengerucutkan bibirnya. Hinata hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.
"Hinata-chan sebaiknya kau berhati-hati dengan Naruto. Karena sudah lama tidak bertemu dia pasti akan berbuat macam-macam padamu." Ucap Sakura dengan wajah yang serius sambil menggenggam tangan sahabatnya itu, khawatir.
"Ha-ha-Hai Sakura-chan." Rona merah kembali menghiasi kedua pipi Hinata, ia tahu apa maksud sebenarnya dari kata 'macam-macam' yang di sebutkan Sakura tadi.
"Awas saja kalau si Baka-Naruto itu sampai berbuat macam-macam padamu, dia akan merasakan pukulanku tepat di wajahnya." Sahut Sakura berapi-api. Hinata hanya tersenyum melihat sahabatnya itu. Sedangkan Ino hanya bergumam 'Dasar Forehead' sambil merolleyes kedua aquamarine nya.
"Oh ya Sakura-chan, tadi Naruto-kun menanyakan Sasuke-san kepadamu. Hari ini ia tidak bertemu dengan nya, apakah kau tahu Sasuke-san dimana? Tadi Naruto-kun bilang bahwa hari ini Sasuke-san ulang tahun." Hinata menyampaikan pesan dari Naruto.
"Oh yaaa.. Apa kau sudah memberikan kado spesial itu, Sakura?" Tanya Ino tiba-tiba.
Sakura tidak menjawab apa-apa, ia malah terlihat murung dan menundukkan kepalanya.
"Sepertinya belum ya?" Ino menarik kesimpulan dari perubahan ekspresi Sakura.
"Kado spesial?" Hinata tampak tidak mengerti.
"Ya, Sakura akan memberikan kado spesial untuk Sasuke, demi memperlancar hubungan mereka, aku menyarankan untuk memberikan kado spesial kepada Sasuke sebagai hadiah ulang tahunnya. Detailnya akan aku ceritakan nanti, Hinata-chan. Nah, Sekarang ceritakan kepada kami Sakura, kau kenapa?" Jelas Ino panjang lebar. Hinata hanya menganggukan kepalanya.
"Hhhh…" Sakura menghela nafas ―lagi. "Kau benar Ino, aku belum menyerahkan kado nya." Ucap Sakura.
"Aku juga belum bertemu dengannya hari ini. Aku mencari nya kemana-mana dan tak menemukannya dimanapun."
"Apa kau sudah menghubunginya, Sakura-chan?" Tanya Hinata.
"Sudah, aku sudah hubungi handphonenya tetapi tidak aktif. Ia juga tidak mengabariku apa-apa." Sakura tampak semakin murung.
"Hmm.. kenapa kau tidak kerumahnya saja?" Usul Ino.
"Aku belum pernah ke rumahnya, Ino. Ia hanya memberitahukan alamat rumahnya, tapi tidak pernah mengajakku kesana sama sekali." Sakura tampak sedang menahan tangisnya.
"Sasuke-kun memang sering terlihat tak peduli padaku, tapi ia tidak pernah mengabaikanku seperti ini sebelumnya. Aku mencoba menghubunginya beberapa hari ini tetapi tidak pernah ada jawaban. Aku pun tidak mengerti. Apa yang harus aku lakukan?" Kedua emerald Sakura mulai mengeluarkan air mata. Ino menggenggam tangan sahabatnya itu dan Hinata berdiri dan duduk di samping Sakura, lalu memeluknya, mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Jangan menangis Sakura-chan, mungkin Sasuke-san memang sedang tak bisa menghubungimu dan tak berniat untuk mengabaikanmu sama sekali." Hinata mencoba untuk menyemangati Sakura.
"Hinata benar, Sakura." Ino setuju dengan Hinata.
" Sebaiknya kau datang menemuinya ke rumahnya. Aku yakin Sasuke pasti mempunyai alasan yang jelas mengapa ia tidak menghubungimu beberapa hari ini, terlebih lagi hari ini adalah hari ulang tahunnya."
"Tapi aku tdak berani. Sasuke-kun saja tidak pernah mengajakku ke rumahnya. Bagaimana kalau nanti ia tidak mau bertemu denganku?" Ucap Sakura.
"Berfikir positive lah Sakura." Ucap Ino sembari tersenyum.
"Ya Sakura-chan, Ino-chan benar, kau jangan berfikir negative terlebih dahulu." Hinata ikut membenarkan perkataan Ino.
"Baiklah, aku akan mencoba untuk menemuinya di rumahnya." Akhirnya Sakura menyetujui usul kedua sahabatnya itu.
"Terimakasih, kalian memang benar-banar sahabat terbaikku." Ucap Sakura sembari tersenyum kepada kedua sahabatnya itu. Ino dan Hinata pun juga ikut tersenyum.
-A GIFT-
Tak terasa sudah 2 jam Sakura, Ino, dan Hinata berada di kantin.
Naruto datang tepat sekali saat Hinata selesai menghabiskan salad sayur yang di pesannya sebagai menu makan siang nya hari ini.
"Hai Hinata-chan." Naruto memeluk Hinata dari belakang dan.. CUP. Ia mencium pipi kekasihnya itu.
"Na-naruto-kun!" Hinata terlihat kaget dengan kedatangan Naruto dan wajahnya tampak sangat merah seperti kepiting rebus karena ulah kekasihnya itu. Rasanya ia mau pingsan saat Naruto memeluk dan menciumnya di tengah kantin seperti ini.
"Baka-Naruto!" Ucap Sakura dan Ino bersamaan saat melihat Hinata yang lemas dengan wajah semerah tomat.
"Hehehe.. gomen Hinata-chan." Naruto hanya memperlihatkan cengirannya kepada ketiga gadis di hadapannya itu. Sakura dan Ino memberikan deathglare andalan mereka kepada Naruto. Dan lagi-lagi Naruto membalasnya dengan cengiran favoritnya.
"Ayo, Hinata-chan kita pergi berkencan." Naruto memegang tangan Hinata dan menariknya untuk berdiri. Hinata hanya menurut saja, rona merah masih belum mau pergi dari kedua pipinya.
"Ino-chan, Sakura-chan, aku pergi dulu. Sukses ya, Sakura-chan." Ucap Hinata sembari tersenyum lembut kepada Sakura.
"Terimakasih Hinata-chan. Oh ya, ingat pesanku tadi ya." Sakura menatap penuh arti kepada Hinata. Hinata hanya mengangguk sambil tersenyum malu.
"Oh ya, Sakura-chan, sampaikan salamku untuk Sasuke-Teme ya kalau kau bertemu dengannya. Katakan padanya aku tunggu traktiran darinya. Yasudah, kami pergi dulu. Jaa.." Ucap Naruto.
"Jaa.. Sakura-chan, Ino-chan." Hinata melambaikan tangannya kepada kedua sahabatnya itu. Sakura dan Ino pun membalas melambaikan tangannya kepada Hinata dan Naruto.
"Haaah… aku khawatir dengan Hinata. Awas saja kalau Baka-Naruto itu sampai berbuat macam-macam dengan Hinata." Ucap Sakura.
"Hahaha biarkan saja mereka. Naruto pasti bisa menjaga Hinata dengan baik. Tapi aku yakin Hinata akan segera kehilangan sesuatu yang penting dari dirinya. Hahahaha." Ino tertawa dan menatap Sakura dengan penuh arti.
"Dasar, Pig." Sahut Sakura yang lagi-lagi memberikan tatapan malasnya kepada sahabatnya itu.
"Haaaah… kalian membuatku iri saja." Sakura mengerucutkan bibirnya.
"Tenang saja Forehead, nanti pasti akan datang saatnya kau merasakan kebahagiaan seperti kami." Ucap Ino sembari tersenyum tulus.
"Ku harap begitu." Ucap Sakura sembari tersenyum pasrah.
"Nah, sekarang kau jadi tidak menemui Sasuke di rumahnya?" Tanya Ino.
"Hmm.. apa benar sebaiknya aku pergi ke rumahnya?" Jawab Sakura ragu.
"Ku pikir tidak ada salahnya jika kau mengunjungi rumah kekasihmu sendiri. Aku akan mengantarmu jika kau memang ingin di temani." Ucap Ino.
"Tidak usah Ino, aku tidak mau merepotkanmu. Kau sudah banyak membantuku, lagipula hari ini kau harus pulang cepat kan? Aku akan berusaha menyelesaikan masalahku ini sendiri." Ucap Sakura sembari tersenyum semangat.
"Benar kau tidak ingin di temani?" Ino menjadi khawatir dengan sahabatnya itu.
"Iya, Pig. Tenang saja." Sakura kembali tersenyum.
"Yasudah kalu begitu. Setidaknya ayo aku antar kau sampai di depan gerbang." Ucap Ino sembari beranjak dari duduknya.
"Oke." Jawab Sakura.
-A GIFT-
Sakura tengah berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah yang tidak bisa di katakan sederhana. Rumah ini sangat besar dan tentu saja mewah. Di samping gerbang terdapat Tulisan 'KEDIAMAN UCHIHA'.
Sakura tampak ragu-ragu untuk menekan tombol intercom yang ada di samping gerbang. Apakah sebaiknya ia pulang?
Tapi akhirnya dengan memantapkan hati ia memberanikan diri untuk menekan tombol tersebut.
"Saya Haruno Sakura, bisakah saya bertemu dengan Uchiha Sasuke?" Ucap Sakura sambil medekatkan wajahnya pada layar di depannya.
"Baik, tunggu sebentar Nona Haruno." Ucap suara seseorang melalui intercom, sepertinya orang yang bertugas menjaga kediaman Uchiha tersebut.
Tak lama pintu gerbang pun terbuka. Dengan ragu-ragu Sakura melangkahkan kaki nya masuk kedalam kediaman kekasihnya itu.
Rumah ini sangat indah, begitulah yang ada di fikiran Sakura saat itu. Rumah bergaya tradisional semi modern ini tampak sangat pas di padukan dengan taman yang di dominasi warna hijau di sebagian besar areal halaman, taman ini tampak sangat rapi dan indah, pasti nya taman ini di rawat dengan telaten oleh orang-orang yang profesional di bidang perkebunan dan pertamanan. Sakura sangat takjub melihat rumah kekasihnya itu, walaupun Sakura dan keluarga nya hidup berkecukupan, tapi jika di bandingkan dengan kediaman Uchiha, keluarga Haruno masih kalah jauh, bahkan sangat jauh. Tetapi walaupun kediaman Haruno tidak semegah dan seindah kediaman Uchiha, Sakura patut bangga Karena rumahnya ―yang walaupun sederhana, memiliki taman yang sangat indah. Terdapat berbagai macam bunga dan tentu saja pohon Sakura sebagai maskotnya, membuat kediaman Haruno terlihat sangat nyaman dan asri. Sudah lama Sakura ingin mengajak Sasuke ke rumahnya, tapi niat itu tak pernah terlaksana, mengingat sifat Sasuke yang terkesan cuek dan irit bicara, membuat Sakura tak enak hati dan merasa canggung untuk mengajak kekasihnya itu untuk berkunjung ke rumah mungilnya.
Sakura makin jauh melangkahkan kakinya masuk ke dalam areal kediaman Uchiha. Rumah utama keluarga Uchiha tepat berada di tengah dengan di kelilingi beberapa paviliun dan gazebo. Sakura memberanikan diri untuk menekan bel di samping pintu utama keluarga Uchiha.
Ting.. Tong..
Tak lama setelah ia menekan bel tersebut, seorang pelayan berbusana kimono membukakan pintu untuk Sakura.
"Nona Haruno, silahkan masuk." Ucap pelayan tersebut.
"Terimakasih." Ucap Sakura sembari mengangguk sopan.
"Silahkan menunggu disini, Nona Haruno. Saya akan memberitahu Sasuke-sama untuk segera menemui anda. Saya permisi dahulu, Nona Haruno." Pamit pelayan tersebut.
Sakura tampak sangat asing dan canggung berada di rumah kekasihnya itu. Ia baru sadar kalau rumah ini sangat sepi, berbeda sekali dengan rumahnya, yang selalu ramai di karenakan ayah dan ibu nya yang memang hobi membuat kehebohan.
Sakura sudah menunggu cukup lama, Sasuke tak kunjung datang menemuinya di ruang tamu rumahnya tersebut. Akhirnya Sakura memutuskan untuk memberanikan diri pergi dari ruang tamu tersebut untuk mencari Sasuke. Dengan hati yang berdebar-debar karena gugup dan takut, Sakura semakin melangkahkan kaki nya masuk lebih dalam. Ia tahu ia lancang berkeliaran di rumah orang lain seperti ini, tapi ia tak mau usaha nya menemui kekasihnya itu menjadi sia-sia.
Sakura melewati beberapa ruangan dalam rumah tersebut.
'Rumah ini sepi sekali.' Gumamnya.
Tepat setelah ia menggumamkan kalimat tersebut, Sakura mendengar sebuah suara dari dalam sebuah ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat dan menyisakan sedikit celah. Sakura pun mendekati pintu tersebut dan mencoba melihat siapa yang ada di dalam rumah tersebut.
"Kau tak menemuinya, Sasuke? Apa tidak apa-apa membiarkannya menunggu lama seperti itu? Kasihan dia." Ucap seorang laki-laki. Sakura semakin mendekatkan wajahnya pada celah pintu, mencoba untuk melihat siapa orang yang berbicara tersebut.
Seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan kulih putih pucat dan bermata obsidian tengah berbicara dengan seorang laki-laki lain yang tengah duduk di kursi membelakanginya. Laki-laki itu sangat mirip dengan kekasihnya, Uchiha Sasuke, yang membedakan hanya laki-laki itu mempunyai rambut panjang yang di ikat satu ke belakang.
"Aku tidak mau, Aniki. Tepatnya aku tidak bisa." Ucap seseorang, dan Sakura tahu betul siapa itu.
'Sasuke-kun' Sakura menggumamkan nama kekasihnya tersebut.
"Sudahlah, Otouto, mau sampai kapan kau seperti ini? Dia pergi bukan karena kesalahanmu." Ucap laki-laki yang ternyata adalah aniki dari kekasih Sakura, Uchiha Itachi. Sasuke pernah memberitahu Sakura bahwa ia mempunya seorang kakak yang bernama Uchiha Itachi.
"Tidak, aku yang tak bisa menjaganya sehingga ia pergi dari ku, Aniki." Ucap Sasuke lagi.
"Lalu buat apa kau menjadikan gadis itu sebagai kekasihmu?" Itachi tampak bingung bercampur kesal menghadapi otouto nya yang keras kepala itu.
'BRAAK!'
"Aku tak bisa melupakannya, Aniki! Sakura sangat mirip dengannya! Aku sudah berusaha berulangkali meyakinkan diriku sendiri untuk tidak menyamakan Sakura dengan Dia, tapi aku tak bisa!" Sasuke berdiri dari duduknya dan memukul meja yang ada di hadapannya.
"Aku tahu aku akan menyakiti Sakura, tapi aku tak bisa menghilangkan Dia dari fikiranku." Sasuke menundukkan kepalanya. Suaranya terdengar sedikit bergetar.
Dan Sakura? Ia hampir saja terduduk lemas di depan pintu setelah mendengar kata-kata Sasuke tadi.
'Jadi.. jadi.. Aku hanya sebagai bayang-bayang dari seseorang? Jadi Sasuke tidak benar-benar tulus mencintaiku?' Fikiran-fikiran itu terus berputar di otaknya, bergema di dalam dirinya. Entah sejak kapan cairan bening sudah jatuh dari kedua bola mata emerald indahnya.
Kini terjawab sudah semuanya. Mengapa ia dan Sasuke tidak bisa seperti pasangan lain? Seperti Ino dan Hinata? Mengapa Sasuke sering terlihat tak perduli padanya tetapi terkadang memberinya perhatian lebih dalam waktu yang bersamaan? Mengapa Sasuke tak pernah menyentuhnya?
Sakura sudah tahu jawabannya. Sasuke tidak pernah benar-benar mencintanya, tidak pernah benar-benar mencintai seperti Sakura yang mencintai Sasuke dengan segenap hati nya. Ia hanyalah kamuflase dari gadis dalam kehidupan Sasuke.
'Bruuk! '
Sakura tak sadar telah menjatuhkan sebuah kantung kertas yang berisi kado untuk kekasihnya, yang tadi nya berniat ia berikan hari ini. Sasuke dan Itachi tampak kaget dan langsung menatap ke arah pintu yang terbuka.
Saat itulah. Saat emerald dan obsidian itu bertemu. Obsidian yang penuh dengan keterkejutan dan emerald yang penuh dengan kesedihan dan air mata. Sasuke tahu bahwa gadis yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya itu sedang menatap nya dengan tatapan terluka.
Sakura sadar dari lamunannya dan segera berlari meninggalkan ruangan tersebut tepat saat Sasuke bergerak dari diamnya. Sasuke berusaha mengejar gadis yang ia akui sebagai kekasihnya itu. Tapi Sakura bergerak lebih cepat. Demi apapun saat ini keinginannya untuk bertemu dengan Sasuke sudah hilang entah kemana. Saat itu rasanya ia benar-benar ingin lenyap. Lenyap dari hadapan kekasih yang sangat di cinta nya itu. Hati nya sudah benar-benar terluka, dia tak ingin melihat Sasuke.
"Nona Sakura..?" Suara seorang pelayan yang memanggilnya di ruang tamu tak ia hiraukan sama sekali.
"Sakura!" Sasuke memanggil kekasihnya itu, mencoba untuk menahan Sakura barang sejenak. Tapi Sakura tetap berlari menjauh, keluar dari rumah utama menuju taman keluarga Uchiha. Dan Sasuke tetap setia mengejarnya. Sasuke pun tak tahu mengapa ia mengejar Sakura, di dalam fikirannya ia hanya tak mau melihat emerald itu terluka.
"KUMOHON BUKA GERBANGNYA!" Sakura berteriak kepada penjaga yang berada d samping gerbang. Karena kaget dan tak mengerti, penjaga tersebut langsung membuka gerbang.
Sakura terus berlari meninggalkan kediaman Uchiha tersebut dan menghilang di tikungan jalan. Sasuke kalah cepat. Gadisnya telah pergi. Ia berhenti mengejar dan berhenti di jalan tak jauh dari rumahnya.
"Sial!" Sasuke menggeram marah. Entah kemarahan itu ia tujukan kepada siapa dan karena apa.
-A GIFT-
Sakura terus berlari. Ia tak peduli pada tatapan orang-orang yang melihat aneh ke arahnya. Ia sungguh-sungguh tak perduli. Ia tak bisa menahan air mata nya untuk tidak jatuh. Saat ini ia benar-benar membutuhkan sahabat-sahabatnya.
Sakura berhenti berlari dan duduk di salah satu bangku di taman dekat pusat perbelanjaan. Ia rasa Sasuke sudah tak mengejarnya lagi dan ia sudah berada jauh dari rumah kekasihnya itu.
Sakura segera mengambil Handphone dari dalam tas nya. Dengan tangan yang gemetar, Sakura mencari nama 'Ino-PIG' di ponselnya. Lalu memencet tombol hijau di ponselnya tersebut.
"Moshi-moshi Forehead" Ucap Ino saat telepon sudah tersambung.
"…" Sakura tdak menjawab. Ia malah semakin terisak.
"Sakura ada apa?" Ino tampak mulai bingung.
"Ino.. Hiks.. Ino…" Sakura susah payah mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang terasa tercekat.
"Sasuke.. dia.. dia.. tidak mencintaku.. Hiks.. Hiks.."
T.B.C
Aduh gimana ya mau ngomong tentang fic ini. Sumpah saya sendiri ngerasa fic ini ga memuaskan dan gak 'ngena' sama sekali. Huaaaaaaa *nangis Bombay
Udah update nya lama buanget, hasilnya kayak gini lagi. Hiks maaf yaa reader semua T_T
Saya udah seneng bgt kalo masih ada yang mau baca fic gaje ini, syukur-syukur ada yang review.
Buat Valkyria Sapphire, Tabita Pinkybunny, Shubi Shubi, 4ntk4-ch4n, Selenia Kagene, CherrysasuSaku, Chiwe-SasuSaku makasih banget buat reviewnya :D Maaf ga bisa bales reviem nya satu-satu *pundung di pojokkan
Dan buat para silent reader makasih banyak juga ya udah mau baca fic ini :D
Oya, karna bentar lagi lebaran, saya mau mengucapkan "HAPPY IED FITHRI…." Mohon maaf lahir dan batin yaaa semuanya :D
