Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih buat para riders yang udah nge-review fanfiction aku. Hehe, nggak nyanka ternyata ada yang suka. #Sujud syukur
Trus pada nanya ini fanfic insprirasinya dari kuroshitsuji? Ya, memang saya ada ispirasi nulis cerita ini dari Kuroshitsuji, plus sama komik terbitan 3L yang saya lupa judulnya (Habis itu komik minjam sama teman) yang menceritakan soal iblis yang merawat seorang wanita dari lahir trus nanda in tubuh wanita itu pakai tato bunga yang cantik di tubuhnya.
Ok segitu dulu cuap-cuap dari saya, so let go to the story...
Deru mesin kendaraan melaju membelah distrik kecil yang padat penduduk. Sesekali terdengat bunyi rem berdecit saat beberapa penumpang hendak turun atau pun ada pengendara lain yang menghambat lajunya bus. Beberapa penumpang terlihat berdiri dan menumpuk terlebih saat rem berdecit dan mereka pun berdesakan. Dan hal ini tak luput di alami Sasuke, sang iblis kupu-kupu. Ia tertindih oleh bapak-bapak bertubuh tambun yang baunya sangat menyiksa indra penciuman, bau rokok dan bau alkohol yang bercampur jadi satu. Dan ditambah lagi ia yakin seratus persen bahwa pria paruh baya itu belum mandi untuk beberapa hari.
Mengabaikan pemandangan mengenaskan di sebelahnya, Naruto dengan santai melihat pemandangan yang berganti seperti rol film dari kaca jendela. Terkadang dengusan bosan terdengar dari bibir merah mudanya. Namun, tetap saja tak mengalihkan perhatiannya dari kaca jendela, tak ingin melihat Sasuke yang menatap tajam dirinya. Ah, ia memang sengaja menyuruh Sasuke berdiri di sebelahnya. Alasannya simpel saja, ia tak ingin duduk berdua dengan iblis itu. Ya saat mereka naik tadi, busnya tidak sepenuh ini. Naruto hanya tak ingin gugup berlebihan melandanya saat duduk berdua dengan Sasuke, terlebih Sasuke adalah orang er... iblis yang mesum.
Sasuke menatap Naruto sengit, karena tak membiarkannya tadi duduk di bangku di sebelahnya. Dan dengan santainya bilang 'kau berdiri saja di sana Sasuke, itu baik untuk kesehatan kakimu'. Hah, yang benar saja, sekarang ia harus menahan si pria bau itu berkali-kali mendekat padanya. Ah, apa si Naruto itu menikmati menyiksa dirinya. Hal ini membuat Sasuke sedikit jengkel, yang iblis itu aku atau dia?
Bis sudah berhenti di halte nomor tiga belas, dan Naruto juga Sasuke langsung turun setelah membayar beberapa dolar pada kondektur. Saat ini mereka memasuki kawasan perumahan mewah di St. John, lingkungan khusus untuk orang kaya, dimana dahulu Naruto berasal. Disini suasana natal tidak begitu terasa meski ini sehari menjelang natal tiba. Tidak ada ornamen atau pun musik yang biasa terdengar sepanjang jalan. Yang ada hanya pagar besi yang berdiri angkuh menatap mereka dengan merendahkan. Memamerkan tingginya yang menjulang tiga kali lipat tubuh Naruto menjaga rumah elite di dalamnya.
St. John No. 10. Sebuah rumah megah yang di dominasi oleh warna abu-abu dan hitam. Pekarangannya yang luas dengan berbagai macam pohon tumbuh mengelilingi pekarangan rumah. Di sana, dibawah ayunan Naruto melihat sosok yang cukup dikenalnya sedang duduk membaca buku dengan kacamata baca bewarna merah menempel di hidungnya.
"Maaf anda siapa, dan ada perlu apa anda kemari" tanya seorang satpam saat tangan Naruto hendak meraih pagar yang menjaga rumah abu-abu itu. Sang satpam tampak meremehkan Naruto, melihat pakaian yang di pakai pemuda itu. Lalu tatapannya beralih pada Sasuke yang berdiri di samping Naruto, pakaian yang di pakainya cukup normal dan tidak se lusuh bocah pirang yang dengan seenaknya menyentuh pintu pagar rumah tuannya.
"Ah, kau satpam baru? Dulu waktu aku tinggal di sini bukan kau yang di pekerjakan ayahku. Apa Tobirama yang memilihmu? Lalu di mana Suigetsu?" pertanyaan Naruto sedikit membuat satpam itu terkejut. Siapa yang tidak terkejut, saat lelaki yang ada di hadapanmu yang terlihat jauh lebih miskin darimu dan tiba-tiba mengaku ia pernah tinggal di rumah mewah yang sedang kau jaga. Siapapun pasti akan berfikir bahwa lelaki di hadapannya ini sedikit gila!
"Maaf adik kecil, sepertinya kau tengah bermimpi. Jadi sebaiknya kau pulang saja, karena setahuku penghuni rumah ini hanya dua orang. Dan kau bukan salah satunya. Rajinlah belajar dan bekerja supaya kau bisa membeli rumah mewah dan tidak lagi bermimpi memiliki rumah orang lain mengerti" ucap si Satpam sambil mengelus kepala Naruto dengan lembut.
Naruto tertundu, raut wajah kesal nampak jelas dari sorot matanya. Ia tak suka diperlakukan seperti anak kecil. Dan satu hal lagi ia tak suka di katakan pemimpi, karena faktanya ia bukan pemimpi. Ini rumah yang di bangun oleh ayah dan ibunya. Dan sekarang satpam bodoh ini mengatakan bahwa ia bermimpi, oh Damn It!
"Kenapa kau diam saja, Sasuke. Apa kau ikut hanya untuk menontonku?" tanya Naruto dengan suara berat dan bergetar karena emosi.
"Ah, aku pikir kau melupakan kehadiranku, Naruto." Ucap Sasuke dan melangkah maju mendekati sang satpam "Kami harus masuk tuan, jadi tolong jangan menghalangi jika anda masih sayang dengan nyawa anda" nada suara Sasuke yang datar dan dingin membuat sang satpam terdiam. Benarkah suara itu keluar dari bibir bocah berambut aneh itu?
"Apa maumu anak kecil" ucapnya mencoba berani, walau sebenarnya ia cukup gentar menghadapi pemuda di hadapannya.
Dengan langkah perlahan, Sasuke maju sengaja mengitimidasi lawannya dengan tatapannnya yang mematikan. Tentu saja hal itu mudah baginya. Ia mengayunkan tangannya dan membuat wajah sang satpam menjadi pucat pasi, terlebih saat tangan Sasuke menghantam pagar dan membuatnya patah. Sebuah senyum miring terukir di wajah Sasuke saat ia melihat si satpam yang berdiri kaku dengan mata melotot tak percaya.
Naruto yang melihatnya sama kagetnya dengan si satpam. Sasuke yang selalu bertingkah konyol dan mesum ternyata juga bisa mengerikan seperti ini. Ah, sepertinya ia melupakannya lagi, fakta bahwa Sasuke adalah seorang iblis penjaganya.
"Kalau kau tak mau bernasib sama dengan pagar itu..."
"Hei Jugo, ada apa ini. Kenapa ribut sekali, aku sedang membaca Vogue Magazine kau tahu" seorang wanita berambut merah dan berkaca mata merah yang tadi sempat dilihat Naruto datang menginterupsi perkataan Sasuke. Wanita itu mencoba memerhatikan siapa tamu tak di undang yang sudah membuat keributan di rumahnya yang tenang.
"Ah, mereka memaksa masuk Miss, aku sudah mengusir tapi mereka tetap tak mau" ucap Jugo si satpam dengan masih meninggalkan rasa takut di suaranya.
"Oh, perlukah aku yang mengusirnya?" tanya Karin dengan nada menghina yang sangat terasa. Dan saat jaraknya sudah dekat ia langsung membelalakkan matanya. Senyum meremehkan itu semakin lebar dan menyebalkan di wajahnya.
"Perlukah aku mengusirmu untuk yang ke dua kalinya, Uzumaki Naruto-chan" sinis Karin kepada sepupunya itu.
"Seperti kau bisa saja mengusir pemilik rumah dari rumahnya saja. Faktanya kaulah tamu tak diundang yang mencoba untuk memiliki apa yang bukan haknya" maki nNaruto dengan suara rendan dan berat penuh amarah yang coba di tahannya.
"Kulihat kau membawa seseorang kemari, apa dia temanmu? Atau pelayanmu? Ups, aku lupa bagaimana mungkin kau memilikinya saat segalanya yang kau miliki sudah menjadi milikku" Karin memanasi Naruto. Sedikit kesal pada pemuda pirang itu karena sudah mengacaukan waktunya untuk membaca majalah kesayangannya.
"Ah, sayang sekali anda salah Miss Karin. Aku memang benar pelayannya, dan kami datang kemari untuk merebut kembali hak tuan saya yang di ambil begitu saja oleh ayah anda. Dengan berpura-pura menjadi wali Naruto, menganggapnya masih kecil meski usianya sudah 17 tahun dan membuat kebijakan-kebijakan atas nama Naruto" ucap Sasuke datar dan dingin menunjukkan betapa angkuhnya ia melebihi wanita di hadapannya.
"Ah, jadi kau benar pelayannya. Huh, dibayar pakai apa kau olehnya? Aku tahu semiskin apa Naruto itu. Atau Naruto membayarmu dengan tubuhnya?" tanya Karin namun menancap dengan pas di jantung Naruto. Mungkin gadis itu mengatakannya hanya untuk memanasi, karena faktanya ia dan Sasuke adalah laki-laki jadi hal itu sangat jauh kemungkinannya.
Namun tetap saja, Naruto merasa bahwa ia seperti pelacur murahan yang menjanjikan tubuhnya pada laki-laki yang mau membantunya. Tiba-tiba ia merasa jijik pada dirinya sendiri saat tersadar fakta ia sudah menjual dirinya pada sang iblis. Namun, semua sudah terlambat. Dan terlebih ini adalah balas dendamnya. Tubuh ini tak ada artinya saat semua terselesaikan. Ia tak peduli dan akan memberikan segalanya, meski itu temasuk bercinta dengan Sasuke atau pun menukar jiwanya pada sang iblis.
"Aku rasa itu bukan urusanmu, Karin" suara Naruto yang berubah dingin, membuat Karin kaget. Tidak percaya dengan pendengarannya dan penglihatannya. Benarkah dihadapannya ini Naruto yang ia kenal sebagai lelaki rapuh dan cengeng?
"Sasuke, hancurkan dia." Perintah Naruto, tak peduli bahwa Karin adalah seorang wanita.
"Oke, as your wish Naruto" dan perlahan mata sehitam malam Sasuke berubah merah dengan tiga koma mengelilingi pupilnya. Dengan gerakan cepat Sasuke hendak menarik tangan Karin dan membantingnya. Namun gerakannya terpaksa terhenti, saat Jugo berusaha menghentikannya. Berusaha membantu Nona yang mempekerjakannya.
"Fuck" maki sang satpam saat merasakan tulang tangannya berderak. Rasa ngilu yang menyegat segera menyerbu tangannya.
"Jugo, cepat panggil beberapa pengawal. Dan rahasiakan hal ini dari ayah. Para cecunguk ini cukup beberapa pengawal saja yang hadapi" ucap Karin masih mencoba berlaku sombong, meski sudah tahu kekuatan Sasuke.
"Sungguh, dimana letak harga dirimu Naruto. Apakah menjadi miskin membuatmu kehilangan harga diri? Sehingga membuat kau berani mengacau di rumah orang"
"Kau, bicara soal harga diri. Padahal kaulah yang tak memiliki harga diri dengan menjilat dan mencuri semua yang bukan hakmu. Aku masih akan membiarkanmu hidup tenang bersama ayahmu jika kalian menyerah sekarang. Jujur saja, aku tak begitu berminat untuk melawan kalian."
"Apakah itu ancaman?" Karin meremehkan. Apa lagi Naruto hanya berdua dengan orang yang mengaku pelayannya. Sedangkan ia berdiri angkuh dengan banyak pengawal pilihan ayahnya yang pastinya menguasai beladiri.
"Sasuke, kuberikau lima menit dan selesaikan semua ini. Kita tak perlu berlama-lama berurusan dengan orang rendahan ini" dan Naruto pun meninggalkan Sasuke menuju bangku yang biasa di gunakan Jugo saat bertugas. Membiarkan pelayannya menghadapi semuanya.
"Huh, kau santai sekali Naruto." Ejek Sasuke sambil melancarkan serangan pada setiap pengawal Karin yang mencoba memukulnya.
"Bukannya kau yang sudah berjanji padaku untuk memenuhi semua keinginanku? Jadi ya kau lakukan saja. Waktumu tinggal empat menit dua puluh satu detik lagi Sasuke" ucap Naruto lagi dengan santainya melihat jam yang terpasang di pos satpam.
"Cih, sial. Dia mengerjaiku. Awas saja dia, malam ini akan kubuat menjerit sampai pagi." Gumam Sasuke sambil membayangkan imbalan yang akan didapatnya setelah ini. Dan membuatnya semakin semangat menghabisi para pengawal Karin. Tendangan, pukulan yang ia layangkan sepenuhnya telak mengenai organ vital para pengawal bayaran itu.
"Breksek kau, siapa kau sebenarnya" tanya Karin gelisah saat para pengawal yang tersisa hanya dua orang dan itu pun sudah babak belur dan memar.
"My my, sepertinya belum tua anda sudah pikun nona muda. Bukankah di awal saya sudah memperkenalkan diri sebagai pelayan pemuda pirang itu?" ucap Sasuke sambil melihat ke arah Naruto.
"Waktumu dua menit empat puluh delapan detik lagi Sasuke" ucap Naruto masih sama santainya. Seolah Sasuke tidak sedang bertarung untuknya.
"Sial, dia semaunya saja." Dengus Sasuke." Nah, Karin sepertinya tuanku sudah sangat tidak sabar jadi kita main cepat saja" ucap Sasuke menyerangkan tendangan ke kepala Karin namun ia sempat tertolong karena kedua pengawalnya yang menangkis serangan Sasuke dan menyerang balik Sasuke dengan tendangan, namun Sasuke berhasil menangkap kaki –laki itu dan membantingnya dengan keras ke tanah. Bunyi retakan tulang yang memilukan terdengar dari kaki yang kini terkulai itu.
"Damn!" maki Karin dan mengeluarkan sesuatu dari saku salah satu pengawalnya yang tergeletak.
"Oh oh, kau punya benda menarik rupanya. Tapi mengingat kita berada di negara mana hal itu tidaklah mengejutkan buatku." Ucap Sasuke dengan pandangan siaga pada pelatuk dan moncong pistol revolver kaliber sebelas milik Karin. Gadis itu menembak secara beruntun ke tubuh Sasuke sengaja membuat pemuda itu susah untuk menghindar. Namun, bukan Sasuke namanya jika tidak dapat menghidari peluru itu. Desingan peluru yang berputar cepat memekakkan telinga hanya hal mudah bagi Sasuke. Dengan tanggap ia menangkap kelima peluru yang melesat itu disela-sela jari kanan dan kirinya. Dan dengan gerakan tarian yang indah dan anggun ia berhasil melemparkan semua peluru itu ke sembarangan arah.
"Waktumu lima belas detik lagi Sasuke" ucap Naruto seakan tak peduli dengan aksi menakjubkan Sasuke. Meski terpesona dan kagum, Naruto berusaha mati-matian menahannya agar iblis mesum itu tidak besar kepala.
"Cih" umpat Sasuke lagi. Karin berdiri kaku di hadapannya. Tak mengerti bagaimana bisa orang ini menagkap peluru yang di layangkannya. Dan sedetik kemudian ia semakin terkejut lagi saat Sasuke tak lagi berdiri di hadapannya, melainkan di belakangnya. Dengan menahan tangannya dan mulut revolver yang mengarah ke pelipisnya.
"Perintahmu Naruto" ucap Sasuke dengan senyum manis di bibirnya.
"Terserah kamu, perintahku tetap sama. Hancurkan dia" ucap Naruto dingin dan berlalu, meninggalkan Sasuke dengan Karin yang berdiri ketakutan tanpa ada yang bisa menolongnya.
"Ayah..." lirihnya. Ketakutan dengan apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Ia tak ingin mati terlalu muda. Ia masih ingin hidup.
"Well, kau tahu. Terlalu membosankan kalau kita membuatmu langsung mati secepatnya. Bagaimana jika kita melakukan sesuatu dengan tubuhmu ini." Ucap Sasuke dengan seringai di wajahnya. Lalu tanpa basa-basi mengarahkan tangannya ke arah Karin, membuat wajahnya robek bagai tercakar binatang buas.
"Naruto hanya ingin kau merasakan hidup yang jauh lebih buruk dari yang dialaminya, kurasa menjadi gadis buruk rupa adalah pilihan terbaik untuk menyenangkan hatinnya" sinis Sasuke. Sementara Karin hanya meringis menahan perih di wajahnya dengan tetesan darah merah yang jatuh mengalir dari wajahnya yan awalnya cantik.
"Hm, mungkin jika di tambah dengan julukan gadis buruk nan pincang boleh juga" Sasuke menyeringai psikopat dan dengan sekali gerakan tangan, tulang kaki Karin sudah berderak olehnya. Suara pekikan Karin bagai melodi yang indah di pendengarannya. Sekali lagi ia tersenyum.
"Cepat, Sasuke" ucap Naruto yang sedari tadi menunggu Sasuke, seakan tak peduli dengan semua yang telah terjadi. Seakan semuanya adalah hal yang biasa bagi Naruto. Sasuke tersenyum simpul melihat tingkah Naruto. "Semakin menarik saja" bisiknya yang dibawa oleh angin yang berhembus lembut menyapu anak-anak rambutnya yang berserakan di wajah pucatnya.
Sementara Jugo yang melihat semua itu hanya tercengang. Tidak percaya dengan kekuatan pemuda dengan rambut aneh yang melawan gravitasi itu. Dengan tergesa-gesa ia meraih telepon yang biasa terletak di posnya itu.
"Tuan, maaf mengganggu anda. Ada, tamu tak diundang yang mengamuk dirumah. Kami semua berhasil dilumpuhkannya tuan. Bahkan, nona Karin terluka parah" lalu terdiam sebentar, suasana nampak tegang di sana " ya tuan, tamu itu di panggil nona Karin dengan nama Naruto" ucap Jugo dan menutup telepon.
TBC
Huft, akhirnya chapther 3 selesai juga. Semoga nggak membosankan. Maafkan saya, kalau moment SN nya kurang banyak atau kurang greget. Hehe, maafkan saya. Trus adegan actionnya juga saya kurang bisa bikinnya.
Baiklah kita balas reviewnya dulu nih. Para pemain, harap mendekat :
Author : Sasuke, kamu benar-benar kayak pembantu ya?
Sasuke: Bisa kita bahas yang lain?
Naruto: Tapi aku suka Sasuke jadi pembantu, haha lumayan juga sekali-sekali menyiksamu teme.
Sasuke: Tunggu saja kau nanti malam, Naruto.
Author: Alur ceritanya emang di buat lambat ya?
Naruto: Begitulah, kita pengennya ini cerita lebih detail. Semoga nggak membosankan ya.
Author: Terus, Lemonnya kapan?
Sasuke: Secepatnya.
Author: Wah, kalau yang ini kamu semangat sekali Sasuke.
Sasuke: Tentu saja (Senyum mesum ke Naruto)
Naruto: (Bergidik) nggak tahu, mungkin setelah misi terlaksana. Kan bayarannya si teme mesum itu.
Sasuke: Aku tak mesum Naruto, hanya suka tubuhmu.
Author dan Naruto: -_-
Author: Apa ini happy end? Semua tergantung cerita nantinya.
Sasuke: Apa ini terinspirasi dari Kuroshitsuji?
Author: Sebagian memang. Seperti yang di jelaskan di atas.
Naruto: Wordsnya bisa di tambah trus apdetnya bisa kilat?
Author: Di usahakan ya. Trus Sasu teme nggak bisa bisa sulap aja gitu pekerjaan rumahnya, kan kamu iblis?
Sasuke: Itu karena author melarang aku menggunakan kekuatan penuh. Dia, kerjasama dengan Naruto untuk menganiayaku.
Naruto: Bukan menganiaya teme, tapi itu karena kamu biasanya selalu memerintah dan mendapatkan apa yang kamu mau, jadi sekali-sekali boleh ya kamu yang kerja keras.
Sasuke: Naruto, sepertinya kau memang minta tak bisa jalan besok pagi.
Naruto : (Kabur, lari ketakutan dan di kejar sasu teme)
Trus buat reviewnya oh iya, kesalahan Fandomnya saya udah perbaiki. Maaf kalau hal ini membingungkan. Terima kasih buat FayRin Setsuna D Fluorite, Nope, sherry dark jewel, sasunaru lover, Guest, SheeHae, GuestGuestGuest, kochan, zadita uchiha, Uzumaki Prince Dobe-Nii, hanazawa kay, himekaruLI, Ryuusuke583, yukiko senju, dan julihrc karena udah review. Terima kasih juga AriKazeMachi, InmaGination, Jasmine DaisynoYuki, Jasmine DaisynoYuki, TheopilaMax, changmomo2, dillauchiha95,himekaruLI, julihrc laxyovrds shikakukouki777 .11 zadita uchiha Angel Muaffi Ineedtohateyou Mami Fate Kamikaze Ryuusuke583 depdeph sivanya anggarada yukiko senju zadita uchihakarena udah memfollow dan memfaforitkan FF saya ini.
Trus buat reader lainnya Mohon tinggalkan jejak ya.
Swink ;)
