My Precious Woman
.
.
.
A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
Jongin sudah menduduki kursi kerjanya pagi itu. Raut wajah dinginnya tampak serius membaca dokumen yang berada di tangannya. Ia membaca dengan cermat semua hal yang tertulis disana. Kata demi katanya diresapi dengan teliti oleh otak cerdasnya. Terkadang kedua alis hitam tebalnya mengerut halus, namun tidak lama. Cukup lama ia membaca berkas itu.
Satu jam kemudian dokumen tersebut sudah diletakkannya lagi diatas meja. Senyum puasnya mengembang. Didalam kepalanya sudah terbentuk bermacam-macam rencana jahat yang mengerikan untuk hidup seseorang.
"Hmm, Do Kyungsoo. Kita lihat apa kau masih bisa tersenyum atau tidak setelah aku menjalankan rencanaku." Gumam Jongin pelan. Kedua mata hitam kelamnya memandang jauh keluar jendela kaca, membayangkan betapa senangnya ia jika nanti rencana ini berhasil.
Entah mengapa Jongin merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Tidak pernah hatinya begitu penasaran dengan seseorang. Tidak pernah ia mau meluangkan waktunya yang berharga untuk membaca segala sesuatu yang bersangkutan dengan orang lain. Tidak penting, menurutnya. Tetapi Do Kyungsoo berbeda. Ia berhasil membangkitkan rasa penasaran seorang Kim Jongin. Namun, siapa yang tahu rasa penasaran dan benci itu akan berubah menjadi sesuatu yang berbeda nantinya?
.
.
.
"A-apa? P-pers? Maksudmu wartawan, Sehun?"
Kyungsoo tampak panik mendengar kalimat Sehun. Pria itu datang ke apartment mungilnya siang ini bersama Luhan. Sehun mengatakan akan ada acara amal yang melibatkan perusahaannya, dan yah mau tidak mau pria itu juga harus hadir bukan? Selain sang Presdir tentu saja. Siapa lagi kalau bukan Kim Jongin.
"Ya, wartawan. Wajar bukan? Itu acara amal yang tergolong besar, Soo. Semua pengusaha kelas atas akan datang, kurasa." Sahut Sehun.
Kyungsoo ingin membantah, namun ia tidak jadi mengeluarkan kalimatnya. Dalam hati ia membenarkan juga perkataan Sehun. Yeah, jika banyak pengusaha kondang rasanya mustahil acara itu tidak mengundang banyak wartawan juga. Kyungsoo menghela nafasnya pelan.
"Lalu apa yang harus aku katakan jika… salah satu dari wartawan itu bertanya macam-macam padaku?"
Sehun menatap Luhan sejenak, lalu gadis itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kau tidak perlu memikirkan itu. Yang perlu kau lakukan adalah datang kesana bersamaku dan jangan menghilang dari sisiku, Soo. Aku juga tidak mau tertangkap kamera wartawan. Jadi sebisa mungkin kita menghindar, oke?"
"Apa kakakmu yang sombong itu akan hadir juga?" tanya Kyungsoo sedikit sinis. Sehun mengangkat bahunya acuh.
"Entahlah, aku bukan sekertarisnya. Jadi aku tidak tahu apa dia ada jadwal datang kesana. Dia 'kan bos besar, kau tahulah…" ucap Sehun malas.
Kyungsoo masih tampak sedikit ragu, juga takut. Tentu saja. Seumur hidupnya ia belum pernah mengalami hal seperti ini.
"Ayolah, Soo. Aku tahu kau bisa, jangan takut. Aku akan membantumu jika terjadi sesuatu." Luhan ikut membujuk Kyungsoo.
Melihat tatapan kedua sahabatnya itu, akhirnya Kyungsoo menghela nafas kalah. Entah dirinya yang terlalu baik atau apa, tapi ia tidak pernah bisa menolak untuk membantu orang lain.
"Gomawo, Soo. Entah bagaimana lagi aku mengucapkan terima kasih kepadamu." Gumam Sehun pelan sambil mengacak rambut Kyungsoo.
.
.
.
"Astaga, Sehun… Kau tidak bilang jika tempatnya disini? Aish!"
Kyungsoo mengumpat kesal. Ia baru mengetahui jika tempat amal dilaksanakan kali ini adalah di hall Imperial Palace di Gangnam. Pantas saja jika yang datang adalah para milyuner.
"Lho memangnya kenapa? Toh kau tidak sendiri, ada aku Soo. Kau jangan khawatir."
Sehun berusaha menenangkan Kyungsoo. Digenggamnya jemari sahabatnya itu erat. Dan sudah bisa ditebak. Baru saja Sehun dan Kyungsoo maju beberapa langkah menuju hall, beberapa wartawan sudah menghalangi jalan mereka.
"Kim Sehun, kau datang bersama seorang gadis. Apa dia kekasihmu?"
"Siapa nama gadis ini?"
"Apa Kim Jongin mengetahui hubunganmu ini?"
"Bagaimana dengan Kim Jongin?"
"Siapa nama Anda, Nona?"
Serbuan pertanyaan langsung menghujani mereka berdua. Sehun dengan gesit berkelit dari wartawan-wartawan itu. Namun sulit, karena ada Kyungsoo bersamanya. Ia memilih bungkam awalnya, mencoba tak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan itu.
Namun aksi bungkamnya malah menarik perhatian beberapa wartawan lainnya. Dan mereka semakin ramai mengerubungi dirinya dan juga Kyungsoo. Akhirnya Sehun terpaksa mengeluarkan suaranya walaupun enggan.
"Tidak, dia hanya temanku." Jawabnya singkat.
Kilat puluhan kamera menyilaukan matanya. Sehun mulai mengkhawatirkan keadaan Kyungsoo. Gadis itu pasti merasa sangat tidak nyaman, tidak biasa dengan semua kericuhan ini.
"Teman? Teman spesialmu? Atau teman kencanmu?"
"Siapa namanya?"
"Kelihatannya dia bukan dari kalangan publik."
Agar para wartawan ini berhenti mengusiknya, terpaksa Sehun mengatakan sandiwaranya.
"Namanya Do Kyungsoo. Dan dia tunanganku. Baik, aku permisi dulu."
Dengan cepat Sehun berjalan sambil menggandeng Kyungsoo. Menyelip-nyelip diantara wartawan yang masih sibuk dengan ucapannya barusan. Sehun tersenyum saat kakinya sudah menjejak lantai hall yang terlapisi karpet merah emas. Kemudian menoleh ke arah Kyungsoo dibelakangnya.
"Kau tidak apa-apa 'kan Soo? Kau tidak terbentur kamera 'kan tadi?" Kyungsoo hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. Gadis itu membenarkan lengan gaunnya yang miring.
"Kau pasti sangat tidak nyaman 'kan tadi? Mianhae, aku jadi mengatakan status palsu kita kepada mereka." Sehun menjelaskan. Kedua tangannya sibuk merapikan helaian rambut Kyungsoo yang sedikit berantakan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kaget saja diserbu seperti itu. Ternyata sensasinya mengerikan. Lebih baik aku menyanyi di depan ribuan orang." Gumam Kyungsoo.
Sehun tergelak. "Kau konyol, Soo." ledeknya sambil mencubit hidung Kyungsoo.
Kyungsoo mendengus dan Sehun kembali menggandeng tangannya.
Setengah jam setelahnya mereka sudah tenggelam dalam keramaian hall. Sehun sedang memperkenalkan Kyungsoo kepada seorang temannya.
"Soo, perkenalkan. Dia Kim Jongdae, pemilik beberapa yayasan di Seoul ini."
Kyungsoo tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.
"Do Kyungsoo imnida, Tuan."
"Jung Yunho imnida, Nona. Senang berkenalan denganmu. Ah, kenalkan juga. Ini istriku, Kim Minseok."
Seorang gadis cantik dengan mata sipitnya tersenyum hangat ke arah Kyungsoo. Kedua gadis itu bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing.
"Sehun-ah, sepertinya aku harus pulang sekarang. Anakku kutinggal dirumah bersama eomma. Aku takut dia rewel." Jongdae berniat pamit.
"Oke, tidak masalah. Pulanglah, kasihan anakmu. Salam untuknya, dari Ahjussi tampan bernama Kim Sehun." Ucap Sehun narsis.
Kyungsoo hanya menggelengkan kepalanya. Sementara Jongdae dan istrinya tertawa mendengar kalimat Sehun.
Sehun dan Kyungsoo melambai kepada pasangan itu. Seorang waiter lewat membawa nampan berisi gelas Soouman. Sehun mengambil dua gelas dan menyerahkan salah satunya kepada Kyungsoo.
"Minumlah, Soo. Untuk menenangkan dirimu."
Kyungsoo menurut dan meneguknya pelan. Tiba-tiba saja seorang pria berjalan tergesa dengan ponsel menempel ditelinga, dan menabrak Kyungsoo. Gelas di tangan Kyungsoo oleng dan terlepas, isinya tumpah membasahi gaun depan Kyungsoo. Pria tadi hanya mengucapkan maaf dan membungkukkan tubuhnya sekilas, dan langsung pergi begitu saja.
"Aish! Tidak bertanggung jawab!" maki Sehun kesal.
"Sudahlah, Sehun. Ini hanya basah saja, kok. Tidak apa-apa." Kyungsoo menyeka bagian depan gaunnya dengan tissue yang diberikan waiter.
"Tidak apa-apa apanya? Kalau kau masuk angin nanti bagaimana?"
"Tidak akan. Kau berlebihan, Sehun. Sudahlah, aku ke kamar mandi dulu, oke? Kau disini saja, tidak usah mengantarku." Kyungsoo dengan cepat berlalu agar Sehun tidak memprotesnya.
Kyungsoo memasuki toilet yang tak jauh dari hall itu. Untung saja gaun ini bukan hasil pinjaman, karena Kyungsoo yakin bekas tumpahan minuman ini tidak bisa hilang sepenuhnya. Sayang sekali, padahal ini gaun yang cantik. Walaupun harganya tidak seberapa. Salahkan Kyungsoo yang terlalu pintar menawar dalam berbelanja di toko pakaian bekas.
Kyungsoo terlalu sibuk menyeka pakaiannya didepan wastafel, hingga tak menyadari ada seseorang yang masuk kesana dan mulai berjalan mendekatinya.
"Menikmati sorotan kamera tadi, Nona Do?"
Kyungsoo menghentikan gerakan tangannya mendengar suara bass yang khas namun sangat tidak disukainya itu. Kyungsoo mengangkat wajahnya, dan di cermin ia bisa melihat pantulan seorang Kim Jongin berdiri di belakangnya. Tersenyum sinis menatap bayangan Kyungsoo didalam cermin.
Kyungsoo baru saja hendak mengeluarkan suaranya, ketika Kim Jongin membekap mulutnya dan menarik tubuhnya dalam dekapan. Kyungsoo meronta saat Jongin menyeretnya memasuki salah satu bilik toilet. Suara pintu toilet yang dikunci membuatnya semakin liar bergerak.
"Wow, sabar Nona. Ternyata kau agresif sekali, hmm?" bisik Jongin.
Tubuh jangkungnya yang kokoh mengurung tubuh mungil Kyungsoo di dinding toilet. Menahan tubuh gadis itu agar tidak memberontak. Jongin memekik kecil saat Kyungsoo menggigit telapak tangannya keras.
"Kau selalu ingin bermain kasar, ya? Apa semua pria kau perlakukan seperti ini?" desis Jongin tajam.
"Lepas, Kim Jongin. Kau gila!" jerit Kyungsoo.
"Ssst, jangan berteriak Do Kyungsoo. Walaupun kurasa tidak akan ada yang masuk ke toilet ini." Kyungsoo sedikit mengerutkan alis tidak mengerti.
Jongin tersenyum pongah. "Aku sudah memasang tulisan 'RUSAK' di pintu depan toilet, kalau kau mau tahu."
Kyungsoo membelalakkan matanya. Tidak, ia tidak ingin terjebak disini. Apalagi bersama pria iblis seperti Kim Jongin.
"Lepas kubilang! Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu! Aku tida-"
Ucapan Kyungsoo menghilang saat Jongin dengan cepat mencium bibirnya. Kyungsoo membelalakkan matanya dan nafasnya memburu marah. Tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak sedikit pun. Sebelah lengan Jongin yang mendekapnya terlalu susah dilepaskan. Lengan pria itu seperti baja, kuat sekali.
Kyungsoo tidak pernah memimpikan hal ini. Dicium secara paksa oleh Kim Jongin yang dipuja banyak gadis, didalam toilet pula. Kyungsoo terus meronta, ia berusaha memalingkan wajahnya. Namun dengan cepat tangan Jongin menekan tengkuknya. Membuatnya tak berkutik sama sekali.
.
.
.
Kim Jongin ternyata datang ke acara amal itu. Dan tidak banyak yang tahu. Pria itu terlalu pintar untuk membuat dirinya tidak terlalu menonjol. Ia sedang tidak selera melayani kamera wartawan, apalagi gadis-gadis cantik yang terkesan murahan. Entahlah, saat ini pikirannya tertuju pada satu orang gadis yang begitu keras kepala terhadapnya. Gadis tunangan adiknya. Do Kyungsoo.
Ia melihat semuanya. Bagaimana adiknya datang dengan menggandeng tunangannya itu, para wartawan yang menyerbu kedatangan adiknya, dan juga tentang ucapan adiknya mengenai Do Kyungsoo. Jongin mendengus sinis. Oh, rupanya mereka sudah berani go public, eoh? Sepertinya ancamannya kemarin tidak berpengaruh apa-apa.
Jongin terus diam di sudut hall. Memegangi gelas winenya, mata tajamnya terus mengawasi Sehun dan Kyungsoo. Entah apa yang dipikirkannya saat melihat Kyungsoo tertabrak orang dan minumannya tumpah membasahi gaunnya. Jongin menyeringai. Ia memanfaatkan kesempatan itu, ikut melesat keluar dari hall dan mengekori Kyungsoo yang berjalan ke arah toilet.
Dan yah, beginilah keadaan mereka sekarang. Jongin terus mendekap erat tubuh mungil Kyungsoo yang masih saja memberontak, bibirnya tak berhenti menginvasi bibir sewarna blossom milik gadis itu.
"Mmmph!" Kyungsoo lagi-lagi berusaha menjerit, meminta tolong pada orang lain diluar sana.
Jongin mengernyit tidak suka. Mengapa gadis ini tidak menyerah juga? Tidak pernah ada gadis yang menolak ciumannya. Justru mereka mendambakan mendapat sentuhan bibir seorang Kim Jongin. Tapi tidak dengan gadis dalam pelukannya ini. Dan Jongin tidak suka gadis ini terus memberontak, ia ingin Do Kyungsoo pasrah dan menyerah dalam dekapannya. Agar ia bisa menguasai gadis ini sepenuhnya.
Jongin melepas lumatannya sejenak. Menunduk dan memandang wajah tersengal Kyungsoo.
"Kau tahu, Do Kyungsoo? Aku masih memberimu kesempatan sekali lagi. Jauhi adikku, batalkan rencana pernikahan konyol kalian dan semuanya beres. Kau bisa hidup tenang setelah itu. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Bagaimana?"
"Kau sungguh gila, Kim! Aku ini tunangan adikmu! Bisa-bisanya kau berbuat seperti ini kepadaku?!" gertak Kyungsoo.
Jongin tampak tidak mendengarkan, ia asyik menghirup harum rambut Kyungsoo. Kyungsoo mendelik dan semakin keras meronta.
"Lepas, Kim Jongin. Biarkan aku keluar!"
"Hmm, kau semakin membuatku bergairah, Do Kyungsoo. Aku akan melepasmu asal setelah ini kau bermalam di ranjangku. Tinggalkan Sehun, dan temani aku malam ini. Kau bisa minta berapa pun yang kau mau." Jongin mengendus telinga Kyungsoo, membuat gadis itu bergetar.
"Tidak. Kau benar-benar tidak waras. Aku-akh!"
Kyungsoo memekik kaget, saat Jongin meremas bokongnya. Tangan pria itu mendorong bokongnya, membuat kemaluan mereka menempel satu sama lain. Kyungsoo membelalak ngeri.
"A-apa yang kau lakukan?!"
Jujur saja, Kyungsoo mulai merasa takut kali ini. Pria didepannya benar-benar gila, dengan santainya ia mengulas seringai miring di bibirnya.
"Kau bisa rasakan itu? Milikku sudah tegang sempurna dibawah sana, menanti lubang hangatmu menyambutnya. Aku sangat ingin kau terbaring di ranjangku, Do Kyungsoo. Tapi aku tidak tahan lagi. Disini tidak terlalu buruk 'kan?"
Jongin merunduk hendak menggapai bibir Kyungsoo lagi, namun dengan cepat gadis itu menghindar. Ia menyentak kasar dekapan Jongin yang mengendur dan…
PLAK!
Tamparan keras itu mendarat di pipi kanan Kim Jongin. Pria itu tampaknya terkejut dengan tindakan Kyungsoo. Ia hanya diam membiarkan Kyungsoo keluar meninggalkan dirinya sendiri disana. Perlahan telapak tangannya mengepal. Sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Giginya bergemeletuk menahan amarahnya.
Tidak pernah ada gadis yang menolaknya. Apalagi sampai berbuat kasar padanya.
Mata Jongin menggelap. Sudah kelam semakin kelam, tampak begitu dingin dan menakutkan.
"Do Kyungsoo, tunggu saja nanti. Kau pasti akan menyerah dan memohon-mohon dikakiku."
.
.
.
Kyungsoo setengah berlari menuju hall yang ramai. Ia takut Jongin akan mengejarnya. Di hall itu ada banyak orang, ia akan aman disana. Ada Sehun juga, jadi sudah pasti Jongin tidak akan berani berbuat macam-macam kepadanya.
Kyungsoo menoleh kesana kemari, mencari sosok sahabatnya. Ia terkesiap keras saat sesorang menyentuh lengannya.
"Hei, Soo. Kau tidak apa-apa? Aku mencarimu kemana-mana. Kupikir kau ke toilet di samping. Ternyata itu toilet rusak."
Kyungsoo mengatur degup jantungnya. Astaga, tadi Sehun mencarinya kesana? Andai saja sahabatnya ini tahu apa yang terjadi didalam sana.
"Nnng, aku ke toilet lain, Sehun. Kurasa aku tersasar tadi."
Sehun menggelengkan kepalanya. Kemudian melepas jasnya dan memakaikannya di bahu Kyungsoo.
"Ya sudah, kita pulang saja. Wajahmu pucat, Soo. Tanganmu juga dingin sekali. Ini pasti gara-gara minuman tadi."
Sehun mengusap tangan Kyungsoo, berusaha membuat tangan itu kembali menghangat. Kyungsoo hanya mengangguk dan membiarkan Sehun menggandengnya keluar hall. Sehun tidak tahu saja yang membuat Kyungsoo seperti itu adalah kakaknya sendiri.
.
.
.
Beberapa waktu berlalu. Kyungsoo bisa menghela nafas lega sejenak. Karena nyatanya ancaman yang dikatakan Jongin tidak terjadi sama sekali. Atau belum?
"Soo-ya, kurasa aku membawa berita buruk untukmu." Gumam Sehun.
Kyungsoo menoleh dengan jantung yang berdebar sedikit lebih cepat. Apa ini soal Kim Jongin?
"Berita apa?" tanya Kyungsoo was-was.
Luhan yang kembali dari dapur dengan membawa tiga cangkir teh, tersenyum usil menatap Kyungsoo.
"Hei, cepat katakan padaku! Berita apa?" tanya Kyungsoo tidak sabar.
Akhirnya duo Hunhan tertawa keras. Melihat ekspresi gugup Kyungsoo.
"Kami ditugaskan ke London selama beberapa waktu, Soo. Hanya itu. Kenapa kau terlihat… gugup?"
"Soo, kau tidak apa-apa? Kami tidak bermaksud serius, sungguh. Aku benar-benar minta maaf, Soo."
Sehun dan Luhan kelihatan cemas kini. Mereka jadi khawatir sendiri melihat raut blank Kyungsoo.
"Hahahahahaha, wajah kalian lucu sekali. Hahahaha…" kini ganti Kyungsoo yang tertawa keras.
Sehun melongo sesaat, sementara Luhan mengedipkan matanya bingung.
"Yaish! Do Kyungsoo! Kau mempermainkan kami, ya?"
Kyungsoo masih saja tertawa.
"Dasar jahil! Rasakan ini!" Sehun menggelitik pinggang Kyungsoo, membuat gadis itu menggeliat sambil tertawa.
"Siapa suruh kalian menjahiliku! Hahaha, berhenti, Sehun!"
Luhan menggelengkan kepalanya.
"Kau ini, Soo. Aku sudah cemas setengah mati tadi."
Kyungsoo terengah mengatur nafasnya. Ia mengusap airmatanya, karena terlalu banyak tertawa.
"Kalian tidak usah cemas. Aku bukan anak kecil lagi. Kalian pergilah, hitung-hitung sebagai bulan madu."
Wajah Luhan memerah, sementara Sehun terkikik.
"Bu-bulan madu apanya, bodoh? Ini urusan kantor."
"Yeah, aku tahu ini masalah pekerjaan. Tapi mengapa bisa pas sekali kalian yang pergi?" goda Kyungsoo.
"Sehun itu kepala divisi, Soo. Dan aku adalah staff divisi itu. Tentu saja aku juga ikut. Lagipula banyak juga yang pergi, bukan hanya kami berdua. Jadi, ini bukan bulan madu, Soo. Ingat itu baik-baik."
Kyungsoo hanya mengangguk tak peduli. Luhan jika sudah menjelaskan sesuatu bisa menjalar kemana-mana. Ia bosan.
"Jadi, kau tidak apa 'kan sendiri disini? Aku janji akan rajin menelponmu, Soo. Tenang saja." Sehun mengedipkan matanya.
Kyungsoo memutar bola matanya malas.
"Aku sudah dewasa, kalian ini terlalu berlebihan."
Sehun tergelak pelan, kemudian menyesap tehnya.
"Hmm, omong-omong… Apa kakakmu akan pergi juga?" tanya Kyungsoo pelan.
Sehun terdiam sejenak, kemudian mengangkat bahu.
"Tidak tahu, kurasa tugas kami ini pun adalah perintah darinya. Mungkin dia pergi, mungkin juga tidak. Luhanie, kemarin yang menerima surat tugasnya kau bukan?"
Luhan menaruh cangkir tehnya dan mengangguk.
"Ya, langsung dari sekertaris Sajangnim sendiri. Yang namanya… Yeri kalau tidak salah." Luhan sedikit ragu mengatakannya.
Maklum saja sekertaris Kim Jongin itu tidak hanya satu orang saja. Dan mereka semua qualified.
"Nah, ini berarti memang perintah darinya langsung. Ckck, Sajangnim Tua itu benar-benar…" Sehun menggeleng.
"Sajangnim Tua?" Kyungsoo mendengus geli.
"Yeah, usianya sudah lebih dari kepala tiga, kalau kau mau tahu. Dia berbeda delapan tahun denganku." Gumam Sehun sambil menerawang.
"Tapi dia terlihat lebih tua dari usianya. Apa karena wajahnya yang selalu serius itu ya?" Luhan berkomentar.
"Yeah, mungkin saja." Sehun mengangguk setuju.
'Astaga, jarak umurnya jauh sekali denganku.' Batin Kyungsoo dalam hati.
"Kami akan berangkat lusa, Soo. Jadi kau siap-siap ya, jangan merindukanku." Ucap Sehun sambil tersenyum genit.
Kyungsoo dan Luhan mengernyit. Kyungsoo tampak mual melihat senyum Sehun, sementara Luhan meringis melihat raut merayu milik kekasihnya.
"Hey, ladies… Kenapa kalian memasang wajah seperti itu?" Tanya Sehun dengan wajah bodohnya.
Tepukan keras di kepala dari kedua gadis didepannya cukup membuat Sehun merintih kesakitan malam itu.
.
.
.
Jongin tersenyum puas memandang ke arah bawah kamarnya. Ia sedang berdiri di balkon kamarnya, menatap mobil yang akan membawa adiknya ke bandara. Yeah, hari ini adalah hari keberangkatan Sehun dan staff divisinya ke London.
Entah, keberuntungan mungkin sedang berpihak kepada Jongin. Ia sengaja tidak mengusik adiknya dan tunangannya yang keras kepala itu. Jongin mencari saat yang tepat. Dan ia ingin memberi pelajaran kepada mereka, terutama Do Kyungsoo itu.
Seminggu yang lalu ia mendapat kabar dari rekan bisnisnya yang ada di London, jika ada lahan baru yang potensial disana. Jongin memang berencana membuka cabang perusahaannya di kota mode itu. Langsung saja ia membuat surat tugas, memerintahkan divisi adiknya untuk terbang kesana dan melakukan survei.
Maka ketika hari yang ditunggunya datang, Jongin merasa sangat senang. Ia bisa menjalankan rencananya dengan lancar, tanpa ada gangguan apapun. Yang terpenting, ia bisa melakukan apapun kepada Kyungsoo, karena pelindung gadis itu tidak ada.
Jongin berbalik dan melangkah masuk ke kamarnya begitu mobil yang membawa Sehun sudah hilang dari pandangannya. Ia menghampiri nakas dan mengambil ponselnya.
"Lakukan malam ini, dan aku minta kalian bekerja dengan 'bersih' dan cepat. Aku tidak mau menunggu lama." Ucapnya tajam, dan sambungan telepon terputus.
"Aku pastikan kau mengemis padaku, Do Kyungsoo."
.
.
.
ToBeContinue
REVIEW? ^^
