Sparkle
Lee Taeyong - Ten Chittaphon Leechaiyapornkul
3
Hari itu, hujan mengguyur Seoul sejak pukul setengah tiga siang hingga jam hampir menunjukan pukul lima. Mengurung setiap citizens di bangunan teduh tempat mereka berdiri saat itu, kecuali bagi mereka yang berani atau begitu terdesak oleh berbagai dorongan yang tercipta.
Bulir air masih terus mengalir di tralis hitam café itu, meninggalkan jejak embun dan tempias air yang membasahi setiap sisi bangunan yang didominasi oleh kaca.
Taeyong menyeruput flat whitenya dengan tenang.
"Aku masih tidak percaya laki-laki babi itu baru akan menyatakan cintanya malam ini."
Pegangan tangannya dengan gagang garpu menguat, alisnya masih beradu.
"Babi apa?"
"Ya, babi. Pipinya yang chubby itu entah kenapa mengingatkanku dengan bayi babi."
Yang di seberang Ten langsung meledak dalam tawanya.
"Aku akan mengatakan itu kepada Jaehyun."
"Tidak, kau membunuhku kalau berani mengatakannya." Ia mengarahkan ujung garpunya ke arah Taeyong yang masih menahan tawanya.
Sore itu café dipenuhi oleh orang yang –sepertinya– lebih tua dibanding mereka.
Mungkin kuliah.
Mungkin juga freshman.
Mereka juga masih bisa menemukan sepasang dengan cincin di jari manis mereka masing-masing.
"Malam ini kau ada acara tidak?" Tanya Ten sesaat setelah Beau's foienya habis.
Lee Taeyong menggeleng, menjelaskan beberapa sekolah masih ada yang mengadakan ujian minggu depan, masih minggu sibuk.
"Temani aku di rumah, ya? Orangtuaku masih di Thailand, Tern sedang kencan dengan Mac."
Taeyong hanya mengangguk malas. Kalaupun ia menolak, yakin sekali laki-laki itu akan memaksanya hingga dia menyerah.
Jam menunjukan pukul 5:14 PM saat Ten dan Taeyong keluar dari café itu, menembus hujan di bawah lindungan mobil hitam metallic milik Lee Taeyong menuju apartment Ten di daerah Seocho-dong.
Mereka sudah saling mengenal cukup lama.
Sejak keluarga Ten memutuskan untuk pindah ke Seoul dan memasukan anaknya di salah satu kursus bahasa asing, di situ Ten bertemu dengan Taeyong untuk pertama kali.
"Hi! I'm Ten and I'm from Thailand. What's your name?"
"Uh … My name is Lee Taeyong, I'm from Seoul."
Kenangan lama yang cukup untuk menggoda Lee Taeyong, dari laki-laki itu jengkel hingga ikut tertawa.
"Saat kau mengucapkan 'I'm from Seoul' itu polos sekali!"
"Shut up, Ten!"
"Oh, bahasa Inggris Taeyong sudah sangat bagus ya sekarang?"
"Ten juga sudah bisa mengolok-olok dalam bahasa Korea ya sekarang?"
Apartmentnya sangat sepi seperti yang sewajarnya apartment yang hanya diisi oleh dua orang.
Ten sudah menghilang di balik pintu kamarnya, mengaku ingin mandi dan mengganti bajunya.
Jadi yang Lee Taeyong bisa lakukan adalah mengisi kekosongan waktunya dengan entah apapun yang menurutnya masuk akal.
Meski tidak ada satupun acara TV yang menarik perhatiannya ataupun isi kulkas yang membangkitkan selera makannya.
"Kau jadi menumpang mandi, tidak?"
Taeyong langsung berdiri dari duduknya dan menghambur masuk ke dalam kamar yang didominasi warna putih itu.
"Ten."
"Kenapa?"
"Semua bajuku tidak kau buang, kan?"
"Semua barangmu ada di dalam laci ketiga, Taey."
"Oke."
Sesering dan sedekat itu pula hingga Ten membiarkan Taeyong untuk meletakan barang-barang yang laki-laki itu butuhkan ketika menginap.
Baju, celana, boxer, handuk, hoodie (yang kadang sering Ten pakai diam-diam), album musik favoritnya sampai snack-snack yang laki-laki itu sukai.
"Besok kalian jadi menonton film?" Tanya Taeyong saat mereka bedua sama-sama sudah di atas kasur. Berbaring di bawah selimut yang sama seperti yang biasa mereka lakukan.
Ten mendengus, "Entahlah, Johnny bilang dia sudah ada janji dengan temannya."
Selang beberapa detik sampai suara Ten terdengar lagi.
"Kau jadi mengajak Jennie ke club besok?"
Lee Taeyong langsung tersenyum, "Tentu."
.
.
.
a.n: Hayolo Johnny dan Jennie tuh siapanya mereka? (+ kenapa kalo dilafalin nama mereka mirip sih :(( )
