Sweet Yet Voiceless
Genre: Supernatural, Fantasy
Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia
Disclaimer: Tite Kubo
Malam ini rasanya seperti sedang mengulang kejadian hari kemarin. Aku baru pulang dari kuliah. Langit sudah dicoraki bintang-bintang kecil. Tapi bedanya hanyalah, hari ini tidak mati lampu dan tidak ada vampir yang memata-mataiku di sudut tembok rumah, atau memecahkan gelas lagi. Aku mengancam Rukia untuk tetap tinggal di dalam rumah dan jangan mengikutiku ke kelas. Bahaya kalau dia melihat ratusan 'darah' di sana dan mulai kehilangan kendali. Ia hanya mendengus dan setelah itu aku mengucapkan kata "sampai jumpa" tanpa suara. Daritadi juga aku tidak melihat Renji. Kupikir ia sedang berpatroli di sekitar sini sekalian menjadi pawang Rukia jika dia ingin meminum darahku lagi.
Aku menatap telapak tanganku yang masih berdenyut-denyut karena menulis banyak catatan tadi. Hapalan rumus Kalkulus yang gila-gilaan, profesor yang frustasi karena kapur putih terus menerus patah di saat menulis rumus. Untungnya pelajaran lain yang kuambil menggunakan proyektor dan siswa-siswa bisa tertidur tanpa harus dilempar kapur ke atas kepalanya. Aku merasa tenang setelah menginjak batu-batu yang bersusun menjadi jalan setapak di teras rumah dan aku bisa melihat lampu di dalam mati. Well, sesuai kata mitos, vampir tidak suka tempat yang terlalu terang, atau kemungkinan lainnya, Rukia malas untuk menyalakan saklar lampu.
"Aku pulang," ujarku sambil membuka pintu dan menyalakan lampu. "Rukia? Kau ada di sana?" Setelah itu, dia pun keluar dari pintu kamar dengan wajah kosong sama seperti kemarin. Aku seolah-olah sedang melihat orang asing di sana. "Maaf lama sekali, kau lapar?"
Aku tahu menanyakan pertanyaan mustahil itu tidak akan dijawab apa-apa olehnya. Mau bagaimana pun, Rukia tidak akan pernah menyesuaikan diri dengan makanan yang dimakan manusia. Dia sudah terpaku untuk meminum darah, dan akan selamanya seperti itu. Kecuali jika sedang pantang karena alasan tertentu, dan bisa mencoba apa yang biasanya kumakan. Rukia menggeleng pelan—jawaban yang tidak kuharapkan—dan berjalan mendekatiku. Di saat seperti ini aku sudah sedikit mengetahui gerakannya, jadi aku tidak perlu takut kalau dia ingin menancapkan taringnya atau apa. Aku masuk ke dalam kamar dan mendapati kamar itu bersih seperti saat pertama kali aku datang ke rumah ini. Aku menjatuhkan tasku dengan tidak sengaja dan hanya bisa bungkam menatap keseluruhan kamar.
"Ini... kau yang melakukannya?"
Rukia mengangguk. Menunjukkan bukunya yang kecil kepadaku, dan di sana tertulis, Kamarmu berantakan sekali, jadi karena tidak ada kerjaan, aku merapikannya. Maaf jika aku menaruh barangmu tidak seperti yang awal.
Makna tulisannya agak sulit kupahami, tapi keseluruhan aku mengerti. Maksud dari 'tidak menaruh barangmu tidak seperti yang awal' itu apa? Rasanya kalau aku bertanya agak tidak sopan, jadi aku menebaknya sendiri sambil mengelilingi kamarku.
Sekarang aku sedikit paham dengan kalimat itu, karena aku menemukan skate board yang biasanya kuselipkan dengan paksa di antara meja belajar dan lemari, kini berada di bawah ranjang. Juga dengan miniatur gitar akustik yang sudah kukoleksi dari kecil, mereka berbaris dengan rapi di atas lemari bajuku—mereka seharusnya tidak berada di sana karena terlalu tinggi untuk bisa dilihat. Ya, aku mengerti. Rukia mengubah semua posisi barang-barang milikku yang sudah kuhapal tempatnya, dan mereka sekarang berpencar di mana-mana. Baju-bajuku saling bercampuran dengan jaket yang seharusnya digantung di belakang pintu. Aku hanya mengedikkan bahu dan mengangkat kedua alis secara bersamaan. Paling tidak ini menambah esensi kenyamanannya.
Sambil menarik dan menghela napas, aku memutar tubuhku ke arahnya, "Thanks. Ini... keren, yeah. Saking sibuk dengan tugas-tugas kuliah, aku bahkan tidak berpikir untuk merapikan kamarku selama aku hidup di sini, kau tahu," aku tertawa dengan renyah. "Jadi, apa lagi yang kaulakukan selama aku pergi?"
Rukia memutar bola matanya dengan gugup. Baru kali ini kulihat raut wajahnya terlihat agak berbeda. Dia keluar dari kamarku dan aku mengikutinya. Kami sampai di dapur dan semuanya... berbeda jauh dengan kamarku. Berantakan. Saus bertumpahan di mana-mana, mengotori meja dan beberapa lemari kecil di dinding. Dan, yang mengerikan, ada daging yang sudah menghitam di atas kompor. Bahkan tidak diletakkan di wajan atau piring. Gambar Rukia yang sedang mencoba untuk memasak, tetapi malah menghancurkan dapurnya terlintas di kepalaku saat ini juga.
Aku menelan ludah. Kalau hal seperti ini dilakukan oleh temanku, aku pasti sudah memarahinya habis-habisan. Tapi ini vampir, dan dia bahkan tidak memiliki kata-kata apa pun untuk membalasku. "Yeah, kupikir besok aku tidak perlu memasak lagi dan... mencuci piring," gumamku sambil memperhatikan sekeliling dapur yang hancur total. Rukia hanya bisa diam dengan tubuh yang kaku di sampingku. Raut wajahnya seakan mengatakan 'maaf'. Aku mengambil sisi positifnya sebelum emosiku meluap-luap. Wajar kalau di Soul Society tidak ada kompor, wajan, piring, lemari es, dan benda-benda dapur yang lain. Dan, sangat, sangat wajar kalau vampir perempuan tidak bisa memasak karena mereka terbiasa memakan hidangan yang siap saji.
Aku cepat-cepat membuang daging gosong itu ke tempat sampah sebelum ia membusuk di sana dan dikerumuni oleh banyak serangga menjijikkan. Seluruh saus yang menghiasi langsung aku lap dengan kain yang dibasahi air, sementara Rukia berdiri di sana, tidak tahu harus melakukan apa. Ya, aku berharap untuk hari ini saja.
"Um, Rukia, lain kali akan lebih baik jika kau tidak menyentuh dapur. Diam saja di kamarku dan jangan melakukan apa-apa." Bahaya kalau tetangga menyadari ada kompor yang meledak dari sebelah rumah mereka.
Gadis itu memberiku tatapan kosong tetapi dia mengerti. Keigo besok akan datang ke sini, dan aku masih belum memberinya balasan. Masalah yang lebih rumitnya, bagaimana aku menyingkirkan Rukia dari sini? Apa aku perlu menitipnya untuk sementara di toko Urahara? Hei, tapi itu ide bagus. Rukia bukanlah bayi yang terus menerus ingin bersamaku. Dia pasti akan mengerti. Apalagi ada Renji yang terlihat lebih dewasa darinya. Semua pasti akan baik-baik saja.
Belum bersih dengan sempurna, tapi paling tidak pemandangannya sedikit indah untukku. Aku berjalan dengan cepat ke kamar dan seperti biasa Rukia mengikuti. Jika ingin tidur, aku akan menyuruh Rukia untuk tidur di kamarku dan aku sendiri di sofa. Aku tidak mau ada risiko bangun pagi hari dengan leher yang berdarah ke mana-mana. Tetapi di luar dugaan, Rukia tidak tertidur, dan yang baru kuketahui vampir tidak pernah tidur. Jadi pilihanku berikutnya hanyalah, ia harus diam di luar sampai aku keluar dari kamar. Tapi sekarang kami berdua di dalam satu kamar seperti hari kemarin. Aku hampir panik karena tidak menemukan laptop yang biasanya kutaruh di atas meja belajar, mengerikan karena aku hampir mendudukinya di atas tempat tidur. Rukia benar-benar tidak peka di mana ia harus menaruh barang, dan bagaimana ia harus menjaga dapur agar tidak berantakan.
Aku mulai mengetik-ngetik seperti biasa. Sambil menutup mata aku bahkan bisa tahu di mana huruf 'A' berawal dan di mana 'Z' harus mengakhirinya. Ini yang kulakukan untuk melirik Rukia dari layar. Dia lagi-lagi berdiri di ambang pintu dan membelakangiku. Mungkin ini juga satu-satunya alasan agar kami tidak saling bertatapan. Bertatapan langsung dengan orang lain itu membuatku selalu risih, mereka pasti akan bertanya-tanya apakah aku baru saja memperhatikannya. Di New York, orang-orang tidak saling menatap lebih dari dua detik, dan itu berlaku bahkan untuk sesama tetangga sekalipun. Aku mengambil posisi yang nyaman di atas tempat tidur yang tiba-tiba kurasakan jadi sangat empuk. Apakah Rukia baru menambahkan beberapa kapuk ke dalamnya?
Hari ini aku merasa ada yang berbeda. Dari awal aku bukan laki-laki romantis yang berpikir untuk memiliki pacar di umur ini, dan menikah di umur itu. Aku hanya memfokuskan semuanya ke pelajaran yang kusuka dan menghabiskan masa mudaku di luar negeri. Tapi kepribadian milik Rukia itu berbeda. Banyak perempuan dari kelas SMA-ku dulu yang mengaku menyukaiku, dan hei, percayalah, aku sampai sekarang tidak menanggapi perasaan mereka. Bukan karena aku jahat atau menghindari, tetapi aku benar-benar tidak tahu bagaimana meresponnya. Keigo mengatakan aku aneh. Dan aku mengatakan diriku sendiri keren karena beginilah aku apa adanya. Aku senang dengan caraku sendiri, dan aku juga tidak memprotes cara ibuku yang sudah menikah di umur 20. Toh, buktinya sekarang aku mempunyai ibu yang superaktif dan tidak kehilangan masa remajanya.
Atau mungkin karena dia vampir dan tidak menua sama sekali.
Apa yang biasanya dilakukan dua orang di dalam satu kamar? Maksudku, itu pasti pertanyaan mudah yang bisa dijawab Keigo langsung, seperti 'berapa hasil dari satu tambah satu?' Yeah, tentu saja, aku tidak berpikir ke sana. Kecuali kau tambahkan 'dua orang, mereka berbeda jenis kelamin, dan mereka baru saja menikah hari ini.' Apakah Rukia tahu apa yang sedang kupikirkan sekarang? Aku tidak mau mengakuinya, tetapi aku seolah-olah mempunyai perasaan kepadanya. Rasa suka, rasa cinta, mungkin ini sedikit menjurus ke sana. Aku berdeham untuk memecahkan hawa dingin di antara kami, dan dia sedikit menoleh.
"Maaf, bukan apa-apa. Aku hanya... bosan sekali. Apakah kau juga merasakannya?" Apakah kau juga merasakan perasaan yang sama sepertiku?
Rukia menghampiri dengan pelan dan punggungku terasa ditarik ke belakang untuk duduk lebih tegak. Dia duduk di tepi ranjangku dengan anggun dan diam. Diam, atau kupikir ia sedang merenungkan soal itu. Aku mengabaikan laptopku dan duduk dekat dengannya—entah seperti ada yang memaksaku untuk mendekatinya. Dan aku bisa membayangkan Keigo mengerang karena aku sudah mendahuluinya. Kedua tangannya ditaruh di sisi kiri dan kanan sementara kakinya diayunkan dengan lambat di atas lantai. Sial, mataku sudah berkhianat dan aku tidak bisa menolaknya. Dia terlihat seperti malaikat—kalau boleh kubilang begitu—yang menarik perhatian laki-laki, termasuk diriku sekarang, lalu setelah itu ia akan menidurkan korbannya, dan mulai menghisap darahnya pelan-pelan. Aku menggeleng cepat-cepat untuk memencar pikiran buruk itu ke mana-mana. Rukia bukan vampir seperti itu, aku tahu, Rukia bukan vampir seperti itu.
Wajahnya terlihat lebih menggoda dari yang biasa. Entah ini hanya pikiranku saja atau memang dia sedang merayuku untuk dekat dengannya. Rasa sakit dan sepi karena orangtuanya sudah meninggal dengan mengenaskan itu terlintas sedikit di wajahnya saat aku menatap lebih dalam. Bola matanya sangat merah seperti darah, dan itu memaku gerakanku lagi untuk tidak melarikan diri. Dan jika dipikir baik-baik, gadis yang memiliki kulit pucat itu ternyata cantik sekali. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengatakan kalau gadis ini benar-benar seperti malaikat. Dia hidup. Dan dia vampir.
Tanganku sontak bergerak dengan kemauannya sendiri, aku memegang tangan Rukia yang berada di bawah. Rukia tidak melawan ataupun kaget, dia malah mengatupkan kelopak matanya dengan lemah gemulai dan aku hanya bisa menelan ludah saat wajahku semakin dekat dengannya. Aku tidak bisa menyembunyikan detak jantungku yang berdetak kencang sekali, seperti ada seseorang yang memukulnya dari belakang. Aku memejamkan mata dan berharap cara seperti ini bisa membuatku lebih rileks. Bibir kami hampir bersentuhan saat ponselku berbunyi dengan kencang, seperti alarm di pagi hari.
Sontak aku meremas tangan Rukia dengan tidak sengaja dan membelalakkan mataku. Gadis itu malah membuka matanya dengan tenang, seolah-olah bertanya 'mungkin kita harus melakukannya lain kali?' Aku seperti dikejutkan oleh tegangan listrik saat aku menjauhkan kepalaku dari depan wajahnya, dan mencari-cari ponselku yang berdengung kencang. Jantungku serasa mau lepas dan otakku berdenyut-denyut panik. Apa yang barusan kulakukan? Kami hampir saja berciuman karena paras cantik Rukia yang seolah-olah menarikku. Aku benci untuk mengakuinya tapi, aku berharap itu tadi benar-benar terjadi. Tanganku dengan gemetar mengambil ponsel berisik itu dari saku belakang celanaku dan aku langsung menekan tombolnya sebelum aku melihat nama peneleponnya.
"Halo, Ichigo! Oh, Sayang, kupikir aku tidak akan pernah mendengar suaramu lagi." Suara ibuku menyeruak langsung ke telepon, dan aku bahkan belum menyahut terlebih dahulu. Ia, seperti biasa, tidak akan pernah membiarkan orang lain menyela jika sedang semangat untuk sesuatu. Aku menarik napas dengan tegang dan tiba-tiba aku merasakan jantungku sakit.
"Hai, Mom," aku menyapa dengan singkat sambil menoleh ke belakang, memberikan tatapan sebentar saja kepada Rukia lalu aku keluar dari kamar.
"Kenapa kau terdengar lesu seperti itu? Oh, ada apa denganmu, Sayang? Jangan bilang padaku kau lupa meminum obat di sana?"
Ibuku sangat protektif sampai-sampai ia bisa melontarkan seluruh pertanyaan yang penuh nada khawatir dalam waktu satu menit. "Tidak, aku baik-baik saja di sini. Yeah, sehat seperti sedia kala. Uh, bagaimana di New Jersey?"
"Well, tebak kami baru pindah rumah hari ini, dan aku ingin memberitahumu," ibuku berkata dengan pelan-pelan, seolah sedang membocorkan rahasianya tanpa boleh diketahui oleh orang lain di sekitarnya. Kebiasaannya selalu berpindah-pindah rumah walaupun kami rasa yang dulu lebih cocok dari yang baru, dan sampai sekarang itu tidak pernah berubah. Aku lega.
"Bagaimana dengan Dad? Aku tidak mendengar suaranya daritadi," tanyaku santai. Aku merindukan ayahku yang sama superaktifnya dengan ibu. Mungkin karena ia tidak mau melepas masa remajanya yang terlalu kekanak-kanakan. Dan untuk kali ini aku sungguh-sungguh.
"Yah," ibuku bicara dengan memanjangkan suku kata tersebut, dan bisa kubayangkan dia sedang memutar bola matanya sekarang. "Ayahmu sedang pergi untuk suatu alasan, mencari uang kau tahu."
Aku mengerutkan alis. "Jangan katakan padaku kalau Mom membiarkannya balap mobil lagi malam ini. Bagaimana jika ia ditangkap polisi?" tanyaku, dan sejurus kemudian aku cepat-cepat menambahkan dengan desahan pasrah. "Oh, sudahlah, kami tidak lagi serumah. Dengan begitu aku tidak perlu menanggung malu."
Ibuku terkekeh di seberang sana, "Bagaimana dengan harimu, ngomong-ngomong? Pelajaran apa yang kauambil semester ini sekarang?"
"Baik," aku menjawab pertanyaan ibu yang pertama. Sambil melirik dapur, aku kembali menambahkan, "well, sebagian besar. Untuk semester ini aku mengambil Kimia, Kalkulus, dan Bahasa Inggris—yeah, Mom pasti tahu."
"Kalkulus?" ia bertanya dengan ragu, seolah-olah itu adalah nama penyakit.
"Matematika."
"Oh, bagus sekali. Kelihatannya itu menarik." Ibuku mengucapkannya dengan mudah, seolah-olah dia sedang mengatakan ini buah jeruk, "Rumah kami sedang ramai sekarang. Sepupumu datang."
"Sepupu—maksud Mom, Senna dan Yachiru?" tanyaku dengan tangan yang menepuk-nepuk saku celana depanku. Berharap bisa mendengar suara dentingan metal, karena aku ragu jika pintu depan sudah terkunci. Ibu mendesah di sana dan saat itu juga aku mendengar suara lengkingan Yachiru.
"Kak Ichi! Kak Ichi!" Gadis cilik berambut pink itu kelihatannya menubruk ibu dan ingin menggapai gagang teleponnya. Aku menjauhkan telinga dari layar ponsel dan melihat ke bar sinyal dengan penuh harap. Sial, empat bar penuh dan aku tidak mempunyai kesempatan untuk memutus telepon sekarang. "Halo," ucapnya dengan suara manis.
"Yachiru—hei, bagaimana kabarmu di sana?" tanyaku sambil melirik jam dinding.
"Sangat baik. Kak Ichi kapan main ke sini? Yachiru ingin main sama Kak Ichi," ujarnya dengan nada yang sangat merindukanku. Yah, aku tetap tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena waktu kami bertiga—aku, Senna dan Yachiru—bermain petak umpat, aku menyembunyikan dia di dalam tong, dan untungnya tidak ada air. Setelah itu dia menangis, matanya bengkak dan hidungnya sangat merah. Aku mengurung diri dan tidak mau keluar kamar lagi sampai mereka sudah pulang.
"Yachiru, sayang sekali karena aku sibuk di sini. Jika ada waktu senggang, aku akan menyempatkan diriku untuk pulang ke New Jersey, dan kita akan bermain lagi." Aku berusaha sebaik mungkin untuk menghilangkan kata petak umpat ke dalam kalimatku. Di seberang sana sangat berisik sekali. Ya, aku bisa memaklumkan karena jika ada dua perempuan kakak beradik di waktu yang bersamaan, rumah rasanya seperti dihuni oleh delapan orang. Apalagi satu di antaranya sudah tumbuh dewasa sepertiku dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia bisa membalas ejekanku waktu dulu.
Tiba-tiba seseorang berteriak dari kejauhan di sana, kelihatannya ia memanggil Yachiru karena ada permen warna pink yang disukainya. Aku memutar bola mata sambil menunggu telepon itu diserahkan kembali ke tangan ibuku. "Apa sekarang sedang ada Perkumpulan Keluarga Bahagia?" tanyaku.
Ibu terkekeh dan aku merasa Senna sedang berdiri di sana, menguping pembicaraan kami. "Tidak terlalu bahagia tanpamu, Sayang. Datanglah di akhir pekan. Lima bulan itu terasa seperti satu tahun bagiku." Tiba-tiba aku mendengar ibuku memberengut, "Yachiru, jangan memakan permen yang sudah jatuh itu, buanglah ke tempat sampah!"
Aku menaikkan kedua alisku. Keluarga ini tidak pernah berubah rupanya. "Ya, beri salamku kepada Dad, dan yang lain. Katakan juga pada Yachiru, kalau dia masih menyimpan kebiasaan buruk itu, aku tidak akan bermain dengannya," aku memberikan salam seadanya. Paling tidak ini bisa membuat Yachiru tidak memungut permen yang sudah jatuh lagi. Dasar bocah nakal. "Aku senang Mom menelepon."
"Yeah, maaf jika sudah mengganggumu malam-malam." Ibu menggunakan nadanya yang formal. "Kami tidak akan pernah merasa lengkap kalau kau belum pulang."
"Senang sekali mendengar itu." Aku melirik ke pintu kamar dan sama sekali tidak ada tanda-tanda Rukia mengintip dari sana. "Uhm, kalau begitu, sampai jumpa. Kuharap kita bisa terus mengobrol seperti ini."
"Teleponlah kami jika kau membutuhkan sesuatu di sana, Ichigo." Keheningan memisahkan kami untuk beberapa detik, seolah-olah ibuku tidak rela pembicaraan ini selesai begitu saja, tetapi aku masih bisa mendengar suara huru-hara di sana. "Selamat malam, Sayang. Aku mencintaimu."
Kata-kata itu meninju perutku telak. Sudah berapa tahun ibu tidak pernah mengatakannya dan sekarang itu membuat punggungku terasa hangat. Dia biasa mengatakan itu saat aku ingin pergi ke sekolah, dan aku memelototinya karena mengeluarkan kata-kata itu di depan teman-temanku. Aku mengertakkan geraham dan membalasnya di balik gigi yang terkatup. "Yeah, aku mencintaimu juga."
Dengan ceklikan lembut, telepon pun terputus. Aku menghela napas sebanyak-banyaknya dan merasakan layar ponselku sangat panas. Lirikan singkat ke jam dinding mengatakan kalau ini sudah jam 11 malam dan aku bahkan tidak merasa lelah. Aku berjalan dengan perlahan ke kamar dan mendapati Rukia tidak ada di sana.
Dia menghilang, dan meninggalkan secarik kertas yang dirobek.
Aku membacanya dengan pelan. "Aku akan kembali, tapi tidak hari ini dan besok." Alisku bertautan membacanya. Singkat memang tapi tak jelas. Sepersekian detik aku melebarkan mata dan langsung melompat girang. Aku menyambar ponsel dan membalas pesan Keigo dengan cepat. Rukia tidak ada di sini, dan aku bisa bersenang-senang besok tanpa harus gelisah memikirkannya.
(*)(*)(*)
Bel di depan pintu rumahku berbunyi, dan aku segera melompat turun dari tempat tidurku. Saat aku membuka pintu, Keigo sudah berdiri di sana dengan teman kami—Mizuiro—dan laptop yang diapit di lengannya. Aku tersenyum dan mempersilakan mereka masuk.
"Kau tidak mengatakan akan mengajak Mizuiro ke sini." Aku membawakan nampan yang di atasnya terdapat air putih. Keigo nyengir dengan lebar. "Well, aku tidak punya waktu banyak untuk menjelaskan kepadamu."
Kami terus mengerjakan tugas itu dengan teliti. Beruntung karena pelajaran yang diambil Keigo dan Mizuiro sama dengan apa yang kuambil. Keigo memang bukan orang yang suka menyelesaikan makalah saat itu juga, tapi aku senang karena dia masih bisa diajak kerja sama. Sementara Mizuiro, dia mempunyai dua tugas yang berat di saat yang bersamaan. Aku sudah menasihatinya untuk jangan terlalu sering mengkhawatirkan teman perempuannya yang lebih tua itu. Waktu tidak cukup banyak hanya untuk mengawasi pacarmu saja.
"Hei, Ichigo, kau tahu kalau kemarin aku nyaris saja mati. Aku mengendarai motorku dengan kecepatan 45 kilometer per jam, dan saat itu aku melihat truk besar menerjang ke arahku. Aku tidak tahu kalau pengemudi itu sedang mabuk atau apa, tetapi aku berhasil menyelip di sampingnya, dan sayangnya bodi motor kananku lecet," seru Keigo di tengah-tengah sibuk mengerjakan tugas kami. Dia senang menceritakan pengalamannya, dan akan berusaha sebaik mungkin memasukkan sedikit nada yang humoris ke dalamnya walaupun tidak ada orang yang berniat mendengarkan. Aku mengunyah permen karet dengan lebih pelan dan mengedikkan bahu.
"Well, kau selalu mempunyai cerita yang menarik. Tapi, cobalah untuk serius mengerjakan sekarang. Siapa yang memohon untuk mengerjakan makalah di rumahku kemarin?"
Mizuiro tertawa geli dan Keigo memasang wajah cemberut. Paling tidak aku sudah memujinya barusan sehingga tidak membuat hatinya sakit. Aku terkejut saat mendengar bunyi bel lagi. Seharusnya tidak ada siapa-siapa yang akan datang ke rumah lagi hari ini. Aku mempunyai firasat kalau itu adalah Renji... atau Rukia. Tapi, aku harap bukan keduanya.
"Tunggu di sini," aku mengingatkan. Saat tanganku memegang kenop pintu, pintu itu sudah terlanjur didobrak dari depan dan alhasil itu membentur hidungku.
"Ow—sial!" aku meringis sambil memegang wajahku yang sakit, kelihatannya ada darah yang keluar dari sudut bibirku. Aku hampir memarahi orang itu, dan baru menyadari kalau itu adalah Renji. "Ouch, Ichigo," ia memasang raut wajah yang kesakitan. "Ada apa denganmu? Kau... berdarah."
Aku cepat-cepat menjilat darah itu sebelum ia melihatnya—atau Rukia menyadarinya, dia bisa saja berada di dekat sini. "Bodoh, kau lupa kalau pintu ini dibuka dari dalam? Cobalah untuk lebih perlahan. Sial." Aku mencoba untuk memelankan suaraku karena aku tidak mau teman-temanku dari sana mendengar. Aku harap mereka tidak berlari ke sini karena mendengar suara benturan yang keras.
"Kau lupa kalau aku tidak pernah menggunakan pintumu sebelumnya..." Sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya, aku mendorong tubuhnya keluar dari rumah dan menghampiri teman-temanku sebentar.
"Maaf, aku sedang ada tamu. Kalian tidak keberatan?"
Keigo mengangguk saat itu juga, dan Mizuiro hampir menyadari ada warna merah yang mencolok di bibirku. Tapi aku cepat-cepat melenggang pergi dan berbicara dengan Renji di luar rumah.
"Aku ingin memberitahumu kalau pemberontak dari Soul Society itu sudah berdatangan ke sini. Mereka kelihatannya sudah mengetahui keberadaan Hougyoku itu."
Aku membelalakkan mata dan Renji mengangguk dengan pelan. "Tunggu sebentar, bagaimana jika mereka melukai manusia yang lain? Aku bukan satu-satunya yang diincar di sini, kan?"
"Mereka sudah terlatih untuk tidak meminum darah manusia. Mereka malah berpura-pura menyamar menjadi manusia dan membaur di tengah-tengah mereka. Kau tidak akan bisa membedakan mana vampir dan manusia yang sebenarnya. Aku harap kau lebih berhati-hati lagi."
"Bagaimana dengan Urahara? Aku yakin ia punya kekuatan yang tinggi untuk membunuh mereka."
"Iya, dan kami berdua sedang merencanakan itu. Rukia pergi dan sampai sekarang aku tidak melihat dia di mana-mana."
Apa mungkin itu mengartikan seluruh kalimat di kertas yang ditulisnya? Kupikir ia pergi dan memberitahu Renji soal itu, tapi Renji bahkan tidak tahu. "Rukia mengatakan dia akan kembali, tapi tidak kemarin atau hari ini. Kupikir dia ingin berburu denganmu atau semacamnya, tetapi tidak kusangka dia pergi tanpa sepengetahuanmu."
Renji terlihat merenungkan perkataan itu baik-baik. Satu pertanyaan yang melintas di kepalaku—apa yang sebenarnya dilakukan Rukia?
"Jangan pergi terlalu jauh dulu, Ichigo. Kalau bisa tetap tinggal di rumahmu sampai aku kembali. Kau yang sekarang bisa mati terbunuh dengan mudah di tangan mereka."
Renji kemudian menghilang dan udara saat ini juga terasa sesak di paru-paruku. Aku memperhatikan sekeliling dengan mata yang menyipit karena teriknya matahari membakar kepalaku. Orang-orang masih menjalani aktivitas mereka dengan santai. Ada yang sedang berpesta barbeque, dan ada yang melirikku sebentar dari atas sepedanya. Aku cepat-cepat masuk ke dalam rumah kembali sebelum mereka menyadarinya.
"Uh, Keigo, Mizuiro," aku melihat mereka sedang menonton TV dan beberapa camilanku sudah berantakan di atas meja. "Kelihatannya hari ini aku tidak bisa ikut bersama kalian. Aku... ada beberapa urusan yang harus diselesaikan."
"Apa?" tanya Keigo sambil bangkit berdiri, ya mau bagaimana lagi, dia sudah merencanakannya matang-matang dari awal dan aku membatalkannya. "Kau serius? Hei, kau tidak bisa mengatakan kita harus melakukan ini lain waktu. Kopi di Starbucks itu tidak berada di sana terus setiap harinya. Kau tidak bisa mendapatkan kopi yang enak seperti itu di rumah."
"Well," aku menggaruk belakang leherku dengan gugup. "Maaf, aku... harus pulang ke rumah besok, dan kami... dan kami akan pergi ke suatu tempat," aku tidak bisa berkata dengan lancar untuk berbohong pada teman-temanku. Aku tidak sampai hati untuk berbohong hanya karena diincar vampir. "Kami akan memiliki hari yang sibuk sekali."
"Oh, baiklah kalau begitu," ucap Keigo dengan muram. Kami biasa bersama, bahkan saat mencuri dari market terdekat di sekitar sini. Mizuiro memukul punggung Keigo dengan pelan. "Tapi, beritahulah kepada kami jika kau berubah pikiran."
Kata-kata itu mengingatkanku kepada ibu, dan aku hanya tersenyum penuh penyesalan. Aku kemudian mengantar mereka keluar dari rumah, dan melihat Keigo mulai menyalakan mesin motornya. Dia mengangkat tangan kanannya singkat dan aku membalasnya dengan senyum getir. "Sampai berjumpa di kelas," seruku dan mereka melaju pergi. Setelah mereka hilang dan tidak terlihat lagi, aku langsung berlari masuk dan mulai membereskan semuanya yang berantakan.
"Sial," aku terus merutuk sambil mengangkat seluruh bukuku tinggi-tinggi. Aku berlari ke dalam kamar, melempar buku itu sembarangan ke atas tempat tidur, dan mereka membuat suara berdebam yang keras. Aku juga mengambil baju-bajuku dengan acak. Baju yang tidak perlu kubuang ke lantai, dan aku mengambil yang kusukai. Sambil mencampur aduk semua barang-barangku ke dalam koper, aku mengambil jaket hitamku dan memakainya.
Aku menyambar ponsel dan mengirim pesan singkat kepada ibuku.
Setelah semuanya siap sedia dan beres, aku mengambil papan luncur dan berniat untuk pergi ke toko Urahara, karena hanya dia vampir yang kuketahui tempatnya sekarang. Kalau aku mencari Renji dan Rukia hasilnya pasti nihil.
(*)(*)(*)
Tanda TUTUP terpampang di pintu tokonya tetapi aku tetap mengetuk berkali-kali, bahkan aku berpikir untuk mendobrak pintunya jika ia tidak kunjung datang. Siang sudah berganti malam dan aku belum mendapat kabar apa-apa dari Renji. Cepat buka, cepat buka, cepat—
"Ah, kenapa terlihat gelisah sekali, Kurosaki?" Walaupun aku menutupi kepalaku dengan kerudung jaket, Urahara masih bisa mengenali wajahku. "Renji sudah mengatakannya?"
"Jangan berbicara tenang begitu, Sir." Aku melongos masuk setelah dia membuka pintunya lebih lebar. "Iya, Renji bilang mereka sudah datang, dan..." Kata-kataku yang selanjutnya tercekat di tenggorokan. Aku berpikir-pikir lebih jauh untuk melontarkannya atau tidak. "Aku sangat takut."
Urahara diam. Di saat seperti ini aku menduga dia akan tertawa kencang di depan wajahku karena mendengar seorang laki-laki berumur tujuh belas tahun yang ketakutan seperti gadis kecil, tetapi dia tidak melakukannya. Jangan membuat tampang seperti orang yang butuh dihibur, aku mengingatkan diriku sendiri.
"Kalau kau mau, kau bisa tinggal di sini sampai kami selesai berurusan dengan mereka," Urahara dengan baiknya menawarkan.
"Terima kasih, Sir, tapi aku sudah berencana untuk pulang ke rumahku di New Jersey. Aku baru mengirim pesan kepada ibuku di sana, apalagi kami sudah berjanji akan bertemu di akhir pekan. Jadi, kemungkinan besar aku tidak akan kembali lagi ke sini."
Urahara tiba-tiba tersenyum, menampakkan lesung pipinya. "Rukia akan sedih mendengar itu, Kurosaki. Dia kelihatannya tidak menginginkanmu pergi jauh-jauh darinya."
"Apa?" tanyaku sedikit terkejut. Pikir baik-baik, mana mungkin seorang vampir yang berwajah kosong sepertinya mempunyai perasaan? Dari awal aku bahkan sudah menganggap dia tidak mempunyai emosi atau sebagainya. "Darimana kau tahu itu?"
"Gadis itu sendiri yang mengatakannya padaku. Semenjak kematian kedua orangtuanya, dia trauma dan selalu menyendiri. Terkadang suka bersikap kasar terhadap teman vampirnya, kecuali Renji. Banyak para vampir yang takut jika berada dengannya, dia bisa membunuh kapan saja. Matanya terlalu gelap untuk melihat dan hatinya terlalu dingin untuk bisa merasakan. Tetapi, aku menyebutmu 'anak yang beruntung' karena masih bernapas sampai sekarang tanpa harus mati terlebih dahulu di tangannya. Aku hanya ingin mencamkan, jangan menilai Rukia sejahat itu, dia bukan barang yang tidak mempunyai emosi."
Terkejut. Sangat. Itu yang kurasakan sekarang. Jika aku tidak mempunyai keberuntungan seperti itu, dari awal kami bertemu sampai aku melarikan diri dan berdarah-darah, Rukia pasti sudah membunuhku. Rasa mencekam saat pertama kali menyangka dia adalah teroris kejam dapat kurasakan lagi sekarang. Beda halnya seperti dikejar puluhan singa, aku masih bisa memanjat ke tebing yang lebih tinggi atau bersembunyi di dalam gua. Tetapi ini vampir, dan dia mempunyai indra penciuman yang lebih tajam dari hewan apa pun.
Dan satu masalah yang membuat Rukia tidak ingin aku pergi darinya, dia tertarik dengan darahku. Harus berapa kali aku mengulangnya?
"Ini bukan masalah darah atau yang lainnya, Kurosaki." Seolah-olah bisa membaca pikiranku seperti Renji, Urahara menambahkan dengan senyum, "Dia, Rukia Kuchiki, benar-benar tertarik denganmu."
Aku menelan ludah. Mari lihat, aku lahir dengan kedua orangtua vampir dan aku baru tahu itu saat aku berumur tujuh belas. Pindah rumah selama tiga kali dan ini perpindahan kami—tepatnya ibuku sendiri—yang keempat. Dikejar-kejar vampir yang awalnya kukira adalah teroris dan hampir terbunuh saat prosesnya. Awalnya aku berpikir wanita cantik yang akan jatuh hati padaku, sesuai dengan apa yang kuharapkan, dan ia manusia. Iya, dia manusia. Tetapi kenyataannya adalah, dia seorang vampir perempuan yang—dalam kata lain—tertarik dengan darahku juga denganku, dan kami hampir berciuman. Kemarin malam.
"Aku tahu kau juga memiliki perasaan yang sama dengannya, Kurosaki," katanya dengan nada menggoda. Bercanda atau tidak, kelihatannya laki-laki mesum ini senang sekali mencomblangi seseorang dengan yang lain.
Kupikir aku tak pernah mendengar apa pun yang begitu manis.
To Be Continued
Reply Review:
corvusraven, Iya, karena takdir mempertemukannya dengan vampir XD. Makasih Reviewnya ^^
Naruzhea AiChi, Wah iya, gak apa2 kok, saya juga punya temen yg—semacam—fobia sama darah XD. Emang sih, yg nulisnya juga agak bergidik serem di bagian situ, huehehe. Makasih Reviewnya ^^
AkiHisa Pyon, Hahaha, saya takutnya sama laba2 *yeeh gak nyambung!* Wah, saya agak aneh kalo ngebayangin Rukia yg gigit lehernya Ichigo, xixixi *kalo gitu kenapa dibuat begini?* Makasih Reviewnya ^^
Shinichi kamisaka, Maaf kalo fic ini di matamu terlihat kayak curhatan. Ehm, secara teknis, emang sih nulis curhatan itu pake 'aku' dsb. Tapi kesannya jadi personal attack. Makasih Reviewnya ^^
beby-chan, Hoo iya, dia gak bakal mau digigit langsung sama Rukia XD. Liat chapter selanjutnya aja yaa *digampar* Makasih Reviewnya ^^
BlackRed, Nah ini dia, wkwkwk XD. Gue bingung kenapa banyak orang yg fobia darah. Ada yg gelap, ada yg tinggi *okelah gak penting* Makasih Reviewnya ^^
Sora Yasu9a, Waw, benarkah? Huehehe, makasih banyak lhoo ^^. Sip ini udah di-update :D
Nakamura Chiaki, Nah, yah, hanya itu yg bisa saya lakukan agar membuatnya tampil beda =.=a, cling cling *kedengerannya kayak iklan* Tapi gak sampai segitunya kok, huehehe. Makasih Reviewnya ^^
Selamat malam, baru kali ini saya update fic ampe jem setengah sepuluhan =.=a, yah, gak masalah deh. Maaf sekali kalau update lama, typo bertebaran, alurnya gak jelas, terkesan buru2 dan kekurangan lainnya yang tertangkap oleh mata kalian *cielah*
Dan makasih buat yg udah RnR, saya sampe lupa kalo di sini saya gak pasang genre Romance, padahal udah hampir 'swit swiiit' XD. Yah bagaimanapun, endingnya tetep IchiRuki, dijamin 100%, nah sampai jumpa di chapter selanjutnya~!
