Naruto : Keturunan Empat Klan Terkuat

Rate : T-M

Genre : Advanture

Autor : Kyosuke Kitsune

Declaimer : Naruto dan seluruh Charanya bukan punya saya

Summary : Apa jadinya jika Naruto hidup dizaman Hashirama,Madara,Tobirama dan Izuna?dan juga Naruto adalah keturunan dari empat klan terkuat didunia,menggunakan jikukan ninjutsu klan Namikaze Naruto pergi kemasa depan,Time Travel

"katakan" = manusia berbicara

'katakan' = manusia berpikir

"katakan" = monster/sejenis berbicara

'katakan" = monster/sejenis berpikir

[Byakugan] = Jutsu

RnR

Kringggg

Bel pulangpun berbunyi dan Iruka pergi meninggalkan kelas diikuti para murid yang langsung berhamburan keluar.

Naruto dan Naruko berjalan pulang dengan canda dan tawa, penduduk yang melihat itu makin tak suka melihat Naruko yang semakin bahagia, tapi apalah daya mereka tidak mau mati karena ulah Naruto yang bisa membunuh mereka dalam sekali serang.

"Hei Naruto, bagaimana kalau kita berlatih? Berlatih melempar shuriken misalnya?" usul Naruko, Naruto yang mendengar itupun diam sejenak.

"Kalau berlatih melempar Shuriken kita harus membelinya terlebih dahulu dan aku mana punya uang yang cukup untuk membelinya." Ujar Naruto, Naruko yang mendengar itu hanya tertunduk, tapi sebuah ide terlintas dikepalanya.

"Bagaimana kalau kita mencarinya dihutan belakang akademi? Aku dengar seminggu lalu ANBU dan Shinobi penyusup bertarung? Kita bisa mengambilnya disana?" ucap Naruko semangat.

"Tapi apakah tidak terlalu bahaya? Mungkin saja shinobi musuh masih ada disana?"

"Palingan mereka sudah pergi, kan ANBU konoha adalah orang orang yang hebat."

"Tapi kan."

"Tidak ada tapi-tapian. Setelah makan kita pergi kesana." Ujar Naruko dengan mata menajam dan rambut twintailnya berkibar.

Glekk

'Sial dia sangatmengerikan.' Pikir Naruto melihat mode marahnya Naruko.

"Huh, baiklah." Naruto menghela nafasnya untuk menyetujui permintaan Naruko.

"Hore, Naruto-kun memang baik." Ucap Naruko senang sampai tak sadar menambahkan suffix-kun pada nama Naruto.

'Ck, merepotkan' begitulah isi pikiran Naruto.

.

.

.

.

.

Hutan belakang akademi.

"Ayo Naruto, cari sampai dapat, kalau tidak dapat siap siap saja mendapat hukuman dariku." Ujar Naruko yang sedang memeriksa disemak semak.

Naruto yang mendengar itu berkeringat dingin 'Salah apa hambamu ini Kami-sama?" begitulah isi pikiran Naruto mendengar perkataan Naruko.

Clinggg

Dari dahan sebuah pohon terlihat sebuah benda berkilau karena terkena matahari. Naruko yang melihat itu langsung bergegas memanjat pohon.

"Yeay, aku dapat satu." Ujar Naruko sambil mengangkat sebuah kunai yang tampak aneh, dipegangan kunai itu terlihat sebuah kertas yang terikat.

Dari balik semak semak tiga ninja yang kelihatannya wanita langsung berdiri didahan dekat Naruko.

"Bocah berikan kunai itu padaku." Ujar ninja itu sambil mengacungkan katananya.

"Tidak, tidak akan pernah! Naruto tolong aku!" teriak Naruko menggema keseluruh hutan. Naruto yang mendengar itu langsung berdiri dari tidurnya.

"NARUKO!" Naruto langsung melesat pergi untuk menolong teman pertamanya itu.

Tap tap tap

'Tunggu? Sejak kapan aku bisa berjalan dipohon dengan menggunakan cakra? Seingatku aku tidak pernah latihan?' Naruto berpikir keras tapi sekelebat memori muncul.

"Jangan lari kau manusia, permainan belum selesai" ucap Kyubi sambil menembakkan bola bewarna hitam.

"Kejar aku kalau bisa binatang!" Naruto dewasa tampak berusaha menggiring Kyubi memasuki hutan lebih dalam.

"Kau akan kubunuh manusia, Hyahhhhh!" Kyubi mempercepat larinya sehingga banyak pohon tumbang dan hancur seketika.

Mereka melakukan kejar kejaran hingga sampai disebuah jurang. Angin berhembus kencang menerpa mereka berdua.

"HAHAHHAHA! Kau sudah terpojok manusia." Kyubi menciptakan Bijuudama super besar.

Naruto yang melihat itu memposisikan kedua tangannya keatas, perlahan cakra Naruto mengalir keudara, tapi tidak menghasilkan apa apa.

"MATI KAU MANUSIA!" zwusssst Bijuudama super besar melesat. Kyubi yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan.

Naruto yang melihat itu mengarahkan telapak tangan kanannya kedepan tubuh. Bijuudama itu mendekat pada Naruto, Kyubi tertawa senang, Naruto yang melihat itu mengucapkan sesuatu tapi tak didengar.

"APA! TIDAK MUNGKIN!" tawa Kyubi digantikan oleh ekspresi terkejut, kali ini yang tersenyum penuh kemenangan adalah Naruto.

"Kukembali padamu binatang Hyahhhh!" Bijuudama itu melesat kembali kearah Kyubi.

Duarrrrr

Kyubi menabrak gunung dan kemudian meledak, Naruto dewasa bersidekap dada. Dan kemudian kepala Naruto kecil menjadi sakit.

"Arghhh sial kenapa harus sekarang." Teriak Naruto lalu menyusul Naruko.

.

.

.

"Lepaskan aku sialan." Ucap Naruko sambil meronta ronta.

"Ck, dasar anak sialan." Ninja wanita itu langsung melemparkan Naruko kebatang pohon.

Duakkkk

Tubuh Naruko pun menabrak pohon dengan keras. Naruto yang melihat itu menjadi marah dan melepaskan cakranya dengan gila gilaan.

Duarrrr

"Kalian, kalian telah melukai Naruko! Saatnya kalian mati." Ujar Naruto lalu menggenggam udara kosong.

"Semua serang bocah ingusan itu." Ucap salah satu dari mereka, mengeluarkan katananya mereka langsung berusaha memotong kepala Naruto.

Trankk

"Kalian akan mati ditanganku." Ucap Naruto lalu menggerakkan tangannya seperti menggunakan katana.

Crasshh

Kepala salah satu Shinobi itu lepas, teman temannya yang melihat itu langsung membuat handseal dengan cepat.

[Katon: Ryuuka no Jutsu]

[Fuuton: Kamaitachi no Jutsu]

Jutsu naga api dipadukan dengan tornado angin menghasilkan naga api besar yang tubuhnya diselimuti oleh angin panas.

Naruto yang melihat itu mengalirkan cakranya keudara dan melakukan hal yang sama seperti diingatannya.

Groarrr

Naga api itu mengaung tapi ketika jarak tinggal 10 meter lagi naga api itu berhenti kemudian menghilang.

"A-apa! Itu tidak mungkin kan." Ujar salah satu dari mereka ketakutan.

"Sekarang giliran kalian." Ucap Naruto menatap dingin mereka.

[Kazekiri]

Ucap Naruto lalu puluhan katana angin muncul disekitar para shinobi penyusup itu.

"Mati!" ucap pelan Naruto lalu puluhan katana angin itu menusuk mereka.

Arghhhhh

Arghhh

Tubuh mereka terjatuh dengan puluhan bekas sayatan, darah mengalir dari tubuh tak bernyawa itu.

Brukkk

Tubuh Naruto jatuh diikuti menghilangnya cakra disekitar tubuhnya, pandangannya perlahan menggelap.

"Naruko." Ucap Naruto kemudian kehilangan kesadaran.

.

.

.

Putih, langit langit putih disertai bau obat yang menyengat, dia tau dimana ini, dia hafal tempat ini, rumah sakit konoha.

"Kau sudah sadar Naruto?" ucap Naruko dari samping kanannya. Mencoba bangkit tapi tidak bisa.

"Tenanglah, kau masih belum kuat, aliran cakramu hampir hancur karena kau mengeluarkan cakra terlalu besar, begitulah kata dokter." Ujar Naruko menatap cemas.

"..." Naruto hanya diam, Naruko mengupaskan buah apel, dan menyuapkannya pada Naruto.

Sreekkk

Pintu terbuka menampilkan Sandaime Hokage, dia berjalan pelan memasuki kamar Naruto.

"Naruto, bisa kita bicara?" tanya Sandaime.

"Tentu saja, tidak sopan menolak perintah kage yang sudah baik padaku." Ujar Naruto lalu mereka berdua berjalan kearah taman rumah sakit.

"Naruto, bisa aku tanya sesuatu?" Naruto mengalihkan pandangan kearah sang Hokage.

"Apa yang ingin anda tanyakan Hokage-sama?"

"Siapa sebenarnya kau? Mengapa dalam ingatanmu, sembilan bijuu kau buat seperti binatang peliharaan." Ucap Sandaime sambil menajamkan matanya.

Naruto hanya menunduk, mencoba mengingat tapi gagal, malah kepalanya jadi sakit ketika memikirkannya.

"Arghh, aku tak bisa ingat apa apa." Ucap Naruto sambil memegang kepalanya.

"Jadi memang benar kau hilang ingatan." Gumam Sandaime lalu berdiri.

"Naruto besok datang kekantorku." Ucap Sandaime lalu pergi.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Naruto.

"Kau masih belum bisa mengingatnya gaki, aku menyegel kekuatanmu dan ingatanmu." Sebuah suara, suara yang terdengar berat. Memasang posisi siaga Naruto mengedarkan pandangan keseluruh penjuru.

"Siapa kau!" kali ini Naruto harus ekstra waspada.

"Siapa aku itu tidak penting gaki, ketika saatnya tiba kekuatan sejati akan menuntunmu ketempat seharusnya kau berada." Suara berat itu menghilang.

"Kekuatan sejati? Apa itu?" ucap Naruto sambil meneteskan keringat dingin yang jatuh dari kepalanya.

.

.

.

( Keesokan harinya )

Tok tok tok

Naruto mengetuk pintu kantor hokage sebanyak 3x, tak mendengar seseorang menjawab membuat Naruto merasa kecewa.

"Masuk."

Cleekkk

Pintu terbuka, saat ini terlihat Sandaime sedang bersama seorang pria berambut putih.

"Ini dia anaknya Jiraiya." Ucap Sandaime, ternyata nama orang yang disebelahnya adalah Jiraiya.

"Hei nak, apa kau baik baik saja?" tanya Jiraiya-san padaku.

"Aku baik baik saja, apakah aku mengganggu Hokage-sama?" aku bertanya padanya ragu.

"Tidak, kau datang disaat yang tepat." Ujar Sandaime.

"Sebelum itu bisa kau perkenalkan dirimu padanya."

"Um, namaku Naruto, sepertinya aku Cuma bisa memperkenalkan nama saja." Ujar Naruto sambil cengengesan.

"Baiklah Naruto, namaku adalah Jiraiya salah satu dari legenda Sannin." Ucap Jiraiya dengan bangga.

"Salam kenal Jiraiya-sama." Ucap Naruto sambil menunduk hormat.

"Wah anak yang sopan, aku harap anak Minato seperti ini." Ujar Jiraiya, dia bilang anak Minato? Siapa Minato itu?

"Jadi ada perlu apa hamba dipanggil kesini?" tanya Naruto.

"Begini, Jiraiya ingin mengajak kau dan Naruko untuk melakukan Training trip." Perkataan Sandaime Hokage membuat Naruto terkejut.

"Benarkah? Apa itu bagus?" tanya Naruto.

"Tentu saja nak, aku akan mengajarimu segala yang kutahu tentang dunia Shinobi dan beberapa skill dariku untuk kehidupanmu kelak." Ujar Jiraiya sambil tersenyum aneh, itulah menurut Naruto.

Bletakkk

"Aduh sensei, kenapa kau menjitakku?" kali ini Jiraiya-sama berteriak marah pada Hokage-sama. Apakah ada sesuatu yang salah?

"Jangan tularkan sifatmu yang satu itu pada Naruto." Bisik Sandaime.

"Kalau boleh tau sifat apa yang tidak boleh ditularkan kepadaku?" tanya Naruto sambil memiringkan kepala.

'Gawat dia mendengarnya.' Pikir Sandaime.

"Tidak ada apa apa Naruto." Ucap Sandaime dan Naruto hanya ber'oh' ria.

"Jiraiya-sama."

"Ya, Naruto?"

"Kapan kami akan melakukan Training tripnya?"

"Besok."

Ucapan Jiraiya membuat Naruto termenung sesaat. Apakah tidak terlalu cepat?

"Apakah tidak terlalu cepat Jiraiya-sama?"

"Sepertinya tidak." Ucap Jiraiya sambil memegang dagunya.

"Kalau begitu anda harus berbicara dengan Naruko terlebih dahulu. Aku takut dia marah karena kita memutuskan sepihak." Ucapan Naruto membuat Jiraiya termenung.

'Benar benar anak yang bijak.'

"Naruto-kun benar Jiraiya, kita tidak bisa memutuskan sepihak." Kali ini Sandaime yang berbicara.

"Kalau begitu panggil Naruko kesini." Ucap Jiraiya.

"Baiklah Jiraiya-sama, aku pamit dulu Jiraiya-sama Hokage-sama." Ucap Naruto sambil berlalu pergi.

.

.

.

Naruto berjalan dijalan utama Konoha dengan pelan dan santai. Semua terlihat normal dan biasa saja. Tak mau membuat Jiraiya dan Sandaime menunggu Naruto mulai mempercepat langkahnya.

Tok tok tok

Naruto mengetuk pintu apertemen Naruko tiga kali, menunggu sesaat akhirnya dia mendengar suara kaki melangkah.

Cleek

Pintu terbuka menampilkan Naruko yang masih mengenakan piyama dan rambut yang acak acakan.

"Hai Naruto, ada apa kau kesini?" tanya Naruko sambil mengucek matanya dan menguap lebar.

Hoaaaaam

"Hai Naruko, kau dipanggil kekantor Hokage." Ujar Naruto, Naruko membulatkan matanya dan langsung berlari masuk.

"Bilang pada Sandaime-jiji sebentar lagi aku akan datang." Teriak Naruko dari dalam apertemennya.

"Huh, dia itu." Ucap Naruto sambil menghela nafasnya panjang. Memutuskan pergi meninggalkan Naruko untuk mencari angin.

( Hutan Kematian )

"Hiks hiks, kenapa! Kenapa aku lemah sekali!" suara itu terdengar membuat Naruto mencari cari suara itu.

Sreekk

Membuka semak semak Naruto melihat seorang anak perempuan yang sedang menangis sendirian.

"Hey, kenapa kau menangis?" tanya Naruto.

"Ak-aku hiks adalah orang lemah yang tidak berguna." Ucap anak perempuan berambut indigo.

"Kau tidak lemah, oh ya kita satu kelas kan?" tanya Naruto karena dia pernah melihat perempuan ini dikelasnya. Dan anak itu mengangguk.

"Namaku Naruto, siapa namamu?" tanya Naruto sambil tersenyum.

"Hi-hinata Hyuga." Jawab Hinata.

"Hey Hinata-chan jika kau merasa dirimu lemah, berlatihlah lagi dan tunjukkan pada orang orang yang mengatakan bahwa Hinata yang lemah akan menjadi kuat dan pantang menyerah." Ujar Naruto sambil menghapus air mata Hinata.

"Baiklah, Naruto-kun aku akan berjuang." Ucap Hinata sambil menghapus air matanya yang tersisa.

"Jadilah kuat Hinata-chan." Ujar Naruto lalu mengulurkan tangannya.

"Tentu saja, Naruto-kun." Ucap Hinata menerima uluran tangan Naruto dan mereka berjalan pulang bersama sambil diselingi canda dan tawa.

#Skiptime

( Keesokan harinya. )

Saat ini NaruNaru bersama Jiraiya sudah berada dipintu gerbang utama Konoha, disana tampak juga Sandaime dan Hinata yang didampingi oleh Ko' sedang melambaikan tangan pada mereka.

"Selamat tinggal jiji Ruko akan kembali dalam tiga tahun lagi." Teriak Naruko dengan keras. Jiraiya yang melihat itu hanya diam dan berjalan dalam ketenangan. Naruto juga tak jauh beda dengan Jiraiya, berjalan dalam diam, dirinya masih memikirkan tentang suara misterius itu.

"Hei Naruto apakah kau baik baik saja?" Jiraiya bertanya pada Naruto dengan nada heran karena sedari tadi hanya diam.

"Aku tidak apa apa Jiraiya-sama."

"Kau pasti bohong! Kau pasti berat meninggalkan Hyuga itu kan?" Jiraiya mengatakan itu sambil menggunakan nada menggoda.

"Ti-tidak kok, aku hanya memikirkan sesuatu yang bersifat pribadi."

"Jadi begitu ya, Naruto kau mau kuajari tehnik ninja? Kudengar kau sudah bisa menggunakan jutsu."

"Kalau tentang jutsu, aku mengeluarkannya tanpa sadar. Jutsu itu keluar ketika emosiku meluap."

Naruto menundukkan kepalanya, setiap kali jutsunya keluar pasti dia dalam keadaan marah. Dia ingat ketika pertama kali mengeluarkan jutsu itu ketika sang nenek dibunuh didepan matanya.

"Kalau begitu aku akan melatihmu untuk memakainya tanpa harus ada emosi yang keluar."

Naruto menatap Jiraiya lekat lekat, matanya tampak agak berbinar mendengar perkataan Jiraiya.

"Apakah itu bisa terjadi?"

"Tentu saja aku ini Jiraiya no Gamma Sennin." Ujar Jiraiya dengan nada bangga.

"Mohon bantuannya Jiraiya-sama." Ucap Naruto dengan nada semangat.

"Tentu saja gaki."

"Hei hei, kalian dari tadi sedang berbicara tentang apa?"

Naruko yang dari tadi diam kemudian angkat bicara karena penasaran dengan pembicaraan mereka berdua.

"Kau tidak boleh tau Naruko."

"Huh, dasar Ero-sennin." Ucap Naruko sambil menggembungkan pipinya.

"Hohohoh sejak kapan kau jadi anak manja hah?"

"Aku tak pernah jadi anak manja, camkan itu."

"Baiklah, dasar kau itu, mirip sekali dengan Kushina." Ujar Jiraiya yang tanpa sadar menyebut Kushina.

'Siapa itu Kushina? Apakah dia murid Ero-Sennin juga?'

Naruto tampak berpikir walaupun itu hanya membuatnya sakit kepala. Menghela nafas dan membuang pikiran tentang siapa itu 'Kushina'.

Mereka berjalan hingga tanpa sadar mereka sudah sampai disuatu desa yang entah namanya apa. Naruto mengalihkan pandangan pada Jiraiya dan tak menemukannya.

"Eh! Dimana Jiraiya-sama?" tanya Naruto.

"Ero-Sennin pergi dengan seorang wanita dan dia memberi kita ini." Jawab Naruko sambil menunjukkan dompet yang berisi banyak uang dalam nominal kecil.

"Hei Naruto, ayo kita bermain disana." Ucap Naruko sambil menunjuk sebuah stand lempar shuriken.

"Apa kau bercanda? Itu bukanlah tempat permainan untuk anak anak."

"Tapi aku mau main disana. Titik tidak ada yang namanya membantah."

"Huh, baiklah ayo kesana."

Akhirnya Naruto mengalah pada Naruko, mungkin karena wanita selalu benar kali yak makanya Naruto ngalah. :v

"Paman, aku mau main." Ucap Naruko kepada paman penjaga stand.

"Disini anak kecil belum boleh bermain, minimal kau sudah murid akademi akhir baru boleh main disini." Ujar paman penjaga stand itu.

"Tapi kan aku mau main disini."

"Huh dasar anak keras kepala."

Paman itu kembali menolak permintaan Naruko untuk bisa bermain distand itu.

"Paman, berapa harga satu Shurikennya?" kali ini Naruto yang bertanya.

" 1 Shuriken, 1 Ryo."

"Bagaimana kalau kita taruhan, jika aku berhasil menancapkan shuriken pada titik tengah maka aku bisa mendapat dua hadiah yang kumau, bagaimana?"

"Dan jika kau kalah, apa yang kau berikan padaku?" paman itu balik bertanya.

"Aku akan membayar tiap shurikennya 5X lipat bagaimana? Setuju?"

"Baiklah aku setuju." Ujar paman itu dan memberi 5 Shuriken pada Naruto.

"Naruto, berjuanglah, menangkan permainan ini untukku." Ucap Naruko menyemangati.

Menarik nafas dalam dalam Naruto mulai konsentrasi dengan targetnya, merilekskan diri sejenak Naruto memandang papan target.

[Katon : Karyuu Endan]

Naga api keluar dari papan target itu, dengan reflek Naruto melemparkan semua Shurikennya kearah naga api itu. Tapi naga api itu tidak menghilang.

Tap tap tap

Suara entah dari mana membuat naga api itu menghilang dan ternyata lima shuriken itu berhasil menancap dititik tengah papan target itu.

"Ber-berhasil?" gumam Naruto tak percaya.

"Yeay Naruto berhasil dan paman tepati janjimu." Ujar Naruko.

"Huh, ternyata dia anak yang hebat. Jadi apa yang kau inginkan." Ucap paman itu.

"Aku ingin boneka rubah orange itu." Ucap Naruko sambil menunjuk boneka rubah yang sebesar dirinya. Paman itu langsung mengambil boneka itu.

"Dan kau nak? Apa yang kau mau?"

"Aku ingin katana itu." Ucap Naruto sambil menunjuk katana berwarna hitam polos yang tergantung disudut stand itu.

"Apa kau yakin nak? Katana itu tak bisa dipakai, jangankan dipakai dibuka saja tidak bisa." Ujar paman itu.

"Tidak apa apa, aku hanya merasa tertarik dengan katana itu." Perkataan Naruto membuat sang paman akhirnya mengambilkan katana itu.

"Terima kasih paman." Ujar NaruNaru.

"Ya, tentu saja."

Sementara dipersimpangan Jiraiya nampak sedang mencari NaruNaru yang pergi.

"Haduh dimana sih mereka? Kan sudah kukatakan kalau mau main jangan jauh jauh." Ucap Jiraiya sambil menatap sekeliling.

"Ero-Sennin!" teriakan Naruko sukses membuat telinga Jiraiya mau pecah.

"Hei dari mana saja kau? Dan mana Naruto?" tanya Jiraiya.

"Aku mendapat hadiah dari bermain tadi dan Naruto ada disana." Ucap Naruko sambil menunjuk Naruto yang kesusahan membawa katananya yang mempunyai panjang 90CM sedangkan Naruto tingginya 100CM.

"Naruto, dari mana kau dapat katana itu?" tanya Jiraiya.

"Aku mendapatkan dari bermain tadi."

"Permainan apa yang hadiahnya adalah katana?"

"Kalau itu aku yang memintanya pada paman penjaga stand hehehehe."

Jiraiya yang melihat itu menghela nafas pasrah dan juga kemudian dia memperhatikan katana Naruto.

"Naruto kemarikan Katana itu."

"Eh ini?"

Memeriksa katana itu dari ujung sampai pangkal, sekilas tak ada yang aneh dari katana itu sampai akhirnya Jiraiya ingin membuka katana itu tapi tak bisa.

'Mungkinkah.'

Merasa ada yang aneh dengan pedang itu, Jiraiya mengambil gulungan kecil dari kantong ninjanya dan membuat handseal.

Srinkk

Katana itu bersinar dan tulisan aneh mulai masuk kedalam gulungan Jiraiya. Setelah sinar menghilang kini tampaklah sebuah katana dengan sarung berwarna hitam dengan ukiran rubah berwarna emas yang membuatnya tampak indah. Jiraiya kemudian membuka katana itu dari sarungnya.

Kini tampak bilah katana itu yang terlihat tajam dan kuat serta ada ukiran kanji yang jika dibaca adalah Uzumaki Kitsune.

"Uzumaki Kitsune? Itu sama seperti marga Naruko." Ucap Naruto.

Poft

Katana itu menghilang dalam kepulan asap sehingga membuat NaruNaru terheran.

"Jiraiya-sama mana katanaku?"

"Sementara ini aku simpan sampai kau bisa memakainya."

"Hei Ero-Sennin bukankah itu dinamakan mencuri."

"Aku tidak mencuri dasar gaki."

"Kalau bukan mencuri jadi apa namanya?"
"Aku hanya menyimpannya dahulu dan memberikannya kembali jika Naruto sudah bisa memakainya."

"Bukankah itu sama saja?"

"ITU BERBEDA DASAR GAKI!"

Perdebatan gaje teerjadi antara Naruko dengan Jiraiya membuat Naruto menutup telinganya. Pandangan heran dari orang yang melihatnya membuat Naruto merasa malu dan meninggalkan mereka berdua yang masih berbedat.

Melihat sebuah pohon yang rindang membuat Naruto ingin beristirahat sejenak, menikmati semilir angin yang behembus sepoi sepoi. Tak sadar dirinya merasakan kantuk dan akhirnya memilih untuk tidur sejenak.

( Kilasan ingatan Naruto )

Disuatu padang rumput yang luas terdapat dua orang yang sedang bertarung satu sama lain.

"Tunjukkanlah kekuatanmu Arashi."

Tampak Naruto remaja yang berumur 17 tahun tampak bertarung dengan seseoang bernama Arashi, Arashi adalah keturunan dari Uzukage pertama, Arashi nampak sedang memegang Katana yang sangat tajam. Dibilah katana itu terdapat kanji "Uzumaki Kitsune".

'Katana itu! Bukankah itu pedang yang tadi?' Naruto kecil yang melihat Katana yang dipegang Arashi.

Trank trankk

Katana itu berhadapan dengan pedang tak kasat mata milik Naruto, adu pedang terjadi dan pertarungan hebat pun terjadi. Tapi semua itu musnah dan digantikan oleh backgroud hitam.

"Mengagumkan bukan gaki! Kau adalah orang yang kuat tapi sayang sekali kau adalah orang yang sombong dan angkuh!"

Suara berat itu terdengar lagi, Naruto kembali mencari cari suara itu.

"Siapa kau? Dan kenapa kau tak menunjukkan wujudmu!"

"Hahahahaha kalau kau ingin melihat wujudku, kau harus membuka tiga segel ini."

Ketika suara berat itu mengucapkan "Tiga segel ini." Seketika tiga segel yang entah dari mana keluar.

Pikiran

Fisik

Spirit

Itulah arti dari kanji segel yang muncul didepan Naruto. Naruto tampak bingung dengan maksud dari segel didepannya.

"Pertama tama kau harus membuka segel Pikiran, segel itu adalah segel pertama yang harus kau buka. Jika kau berhasil maka ingatan jutsumu akan kembali."

"Tap-,,,

Ucapan Naruto terpotong ketika tubuhnya perlahan lahan menghilang dan kembali kedunia nyata.

"Cuma mimpi? Atau kenyataan?" gumam Naruto bertanya tanya dan memperhatikan sekeliling dan melihat Jiraiya & Naruko sudah pergi entah kemana.

TBC

Wah maaf banget atas keterlambatan upnya -_- Kyo dapat masalah ketika mencari inspirasi untuk chapter ini :3 Kyo minta maaf sebesar besarnya yak. Dan juga Kyo minta maaf gk bisa balas riview satu satu lagi kayak dulu karena kuota Kyo udah menipis dan hampir habis. Jadi mohon maaf yang sudah riview ya minna-san.

Kyosuke Kitsune Out!

Riview?