--

Update-an terakhir sebelum Putz mudik ke Madiun. Minna, happy Idul Fitri yah... Minal aidin wal faidzin... Maafin lahir batin...

Special guest : AKATSUKI!! Gak semuanya sih…

--

Shizune, bagian 2...

--

Gedung itu sangat sepi. Tidak ada seorangpun di sana ketika kami melangkahkan kaki masuk. Di meja yang dulunya meja resepsionis, tergeletak beberapa berkas yang berantakan.

"Permisi... Ada orang di sini?" seru Sakura. Suaranya bergaung di gedung tua itu.

Tiba-tiba saja seorang pria aneh dengan pakaian serba hijau muncul dari pintu di belakang meja resepsionis. Bulu kudukku meremang ketika aku menyadari warna mata kanan dan kirinya berbeda.

"Selamat siang," katanya dengan nada agak angkuh. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Kami ingin mendaftar menjadi relawan!" sahut Sakura cepat.

Pria itu memandang kami dengan pandangan menilai beberapa saat, dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi. Pandangannya membuatku merasa tidak nyaman. Dan kurasa Sakura sependapat denganku, karena saat berikutnya ia berkata gusar,

"Nah. Jadi bisakah kami mengisi formulirnya sekarang?"

Pria itu bergeming. "Kami membutuhkan tenaga medis yang benar-benar berkompeten. Bukan orang-orang yang hanya akan membuat repot di sana. Itu wilayah berbahaya, asal kalian tahu saja," ujarnya dengan nada dingin.

Oh, rupanya ia meragukan kami. "Kami berkompeten untuk itu!" sambarku. "Kami berdua perawat yang sudah disumpah! Dan kami sudah tahu apa yang kami lakukan, Tuan er..." aku membaca name tag di bagian depan pakaiannya, "...Zetsu!"

"Yeah," timpal Sakura. Ia mengambil sesuatu di dalam saku celananya dan menyorongkannya pada Zetsu. "Kalau Anda masih belum yakin, ini tanda pengenal saya. Shizune, tunjukkan tanda pengenalmu juga!"

Aku melakukan hal yang sama. Pria itu mengambil kartu tanda pengenal perawat kami, menelitinya selama beberapa saat. Barangkali memastikan kalau-kalau tanda pengenal itu palsu.

"Baik," katanya pada akhirnya sambil mengulurkan kembali tanda pengenal kami. Ia mengambil formulir dari bawah meja dan menyerahkannya pada kami. "Kalian isi formulir dan surat pernyataan ini, setelah itu kalian ikut aku."

Kami mengambil formulir itu dari tangannya dan mengisinya secepat kami bisa. Setelah itu kami mengikutinya, menyusuri lorong rumah sakit yang kotor dan kosong, menuju salah satu bangsal di lantai dua. Rupanya di sana telah berkumpul beberapa orang. Aku mengenali mereka sebagai perawat yang dulu bekerja di rumah sakit ini juga. Dan beberapa orang dokter yang kukenal. Seorang pria berambut oranye cerah berseragam militer asing sedang berbicara di depan. Tangannya bergerak di atas peta wilayah Hi di depannya.

Pria itu berhenti bicara ketika kami masuk. Matanya mengawasi kami sejenak sebelum memandang Zetsu yang berjalan mendahului kami menghampirinya.

"Tuan Pein, mereka relawan yang baru saja mendaftar," beritahu Zetsu dengan suara rendah seraya menyerahkan formulir yang telah kami isi sebelumnya.

Pria bernama Pein itu mengambil formulir yang diulurkan Zetsu, lalu membacanya dengan alis berkerut. Zetsu memberi isyarat dengan tangannya supaya kami mendekat.

"Hmm... Perawat, ya?" Pein bergumam pelan kemudian. Kepalanya terangguk-angguk sementara matanya menelusuri formulir kami. "Yang mana yang namanya Sakura Haruno?" tanyanya kemudian.

"Itu saya," sahut Sakura.

Sekali lagi Pein mengangguk, sebelum menoleh memandangku. "Kalau begitu Anda yang bernama Shizune Shiranui?"

"Benar," sahutku sambil mengangguk sopan.

"Baiklah," ujar pria itu, tersenyum tipis. "Konan, cepat kau masukkan data-data mereka ke data base relawan kita," perintahnya pada seorang wanita berambut biru yang duduk di kursi tak jauh dari sana sambil mengulurkan formulir kami padanya.

Wanita itu berdiri, mengambil formulir kami. "Baik." Tanpa berlama-lama, ia langsung meninggalkan ruangan.

"Terimakasih, Zetsu. Kau bisa kembali ke tempatmu," kata Pein pada Zetsu. Pria itu mengangguk dan langsung pergi.

Pein kembali berpaling pada kami. "Silakan duduk, kalau begitu."

Aku dan Sakura buru-buru duduk di kursi kosong di sana, di sebelah seorang wanita berperawakan kurus yang dulunya rekan perawat kami di rumah sakit. "Senang bertemu kalian lagi, Sakura, Shizune," sapanya cerah.

"Baiklah, sekarang kita akan menentukan di mana kalian akan ditempatkan nanti..." Pein melanjutkan pengarahan yang tadi sempat tertunda karena kedatangan kami.

--

Kami diberangkatkan keesokan harinya ke titik-titik yang telah ditentukan. Kami berangkat menggunakan heli militer yang berlambangkan palang merah dengan dikawal beberapa pasukan perdamaian. Rupanya IRC sudah bekerja sama dengan Organisasi Perserikatan Dunia dalam hal ini.

Kami mendarat di sebuah lapangan yang cukup luas, yang dikelilingi beberapa tenda putih dengan lambang OPD dan IRC. Dan setelah sekali lagi mendapatkan pengarahan dan dibekali peralatan medis dan obat-obatan, kami melanjutkan perjalanan menuju wilayah yang sudah ditentukan dengan berjalan kaki dan dikawal oleh satu kompi pasukan perdamaian.

Medan yang kami lalui sangat sulit. Kami harus menerobos padang ilalang, menembus hutan, mendaki bukit yang terjal, melintasi sungai... Dan segera saja aku dan Sakura kehabisan napas.

"Kita istirahat!" teriak pria muda yang memimpin pasukan kecil itu beberapa saat kemudian.

Aku, Sakura dan beberapa relawan lainnya langsung mencari tempat yang nyaman untuk mengistirahatkan diri. Aku, Sakura dan beberapa wanita mendudukkan diri di bebatuan di pinggir sungai.

"Menjadi tentara benar-benar berat..." keluh Sakura sambil memijat-mijat kakinya. Ia mengawasi serombongan tentara perdamaian yang sedang beristirahat tak jauh dari mereka. "Tapi mereka tidak kelihatan capek, ya."

"Itu karena mereka sudah terbiasa," sahutku. "Genma sering cerita bagaimana mereka dilatih. Kau juga pastilah tahu. Kakashi dan Yamato kan di militer juga."

"Kau benar," katanya sambil menerawang. "Aku benar-benar merindukan mereka, kau tahu? Aku benar-benar berharap bisa bertemu mereka nanti."

Sebenarnya dari awal itulah yang menjadi motivasi kami menjadi relawan. Ketiadaan kabar dari suamiku selama bertahun-tahun sejak perang dimulai benar-benar membuatku senewen. Aku dihantui ketakutan setiap saat, dan itu lama-lama bisa membuatku gila. Aku tahu pada akhirnya aku harus berbuat sesuatu.

"Minum?" suara seorang pria membuat kami menoleh. Pria muda yang memimpin pasukan yang mengawal kami sudah berdiri di dekat kami sambil mengulurkan botol air.

"Terimakasih banyak," kataku sambil mengambil botol yang diulurkannya dan menenggaknya sebelum mengulurkannya pada Sakura.

"Kalian masih kuat jalan?" tanya pria itu pada kami. Mata hitamnya menelusuri para relawan yang duduk di dekat kami.

"Kami masih kuat, Tuan..." sahutku. Aku melirik name tag yang tersemat di seragamnya. Itachi Uchiha. "...Uchiha."

Ia tersenyum sekilas sebelum ekspresinya kembali serius. "Bagus. Setelah ini kita akan memasuki wilayah yang lebih berbahaya. Ada kemungkinan kita akan diserang oleh pihak Oto. Tapi kuharap kalian tidak terlalu khawatir. Kami akan mencoba melindungi kalian semampu kami. Asal kalian tetap berada di dekat kami."

Dan apa yang dikatakannya memang benar. Baru beberapa menit kami melanjutkan perjalanan, rombongan kami diserang. Tapi untunglah pasukan musuh yang menyerang kami hanya pasukan kecil yang bisa dipukul mundur pasukan kami dengan cukup mudah, meskipun tetap saja ada yang terluka.

"Sasori!" Itachi Uchiha bergegas menghampiri rekannya yang terhuyung roboh. Pria berambut merah itu merintih kesakitan sambil menyandarkan diri pada senjatanya. Titik merah kecil di bagian pahanya mulai melebar. "Medis!"

Sakura maju, sudah mengeluarkan peralatannya sementara Itachi merebahkan temannya di rumput. "Pelurunya menembus paha," beritahu Sakura setelah merobek celana Sasori di bagian pahanya dan memeriksa luka tembak itu. "Aku akan membersihkannya dan kita akan coba hentikan perdarahannya. Tahanlah, ini akan sakit."

Berlutut di sampingnya, seorang rekannya lagi. Nama Deidara tersemat di seragamnya. Pria pirang itu mengeluarkan saputangan dari sakunya, membuntalnya. "Gigit ini, Sasori un," instruksinya sambil meletakkan saputangannya di mulut temannya.

"Hidan, tolong air!" teriak Itachi pada salah satu anak buahnya yang berambut keperakan yang langsung mengulurkan botol airnya. Itachi menyerahkannya pada Sakura.

Sasori sedikit meronta ketika Sakura dengan cekatan mulai membersihkan lukanya. Teriakannya teredam saputangan yang digigitnya. Sebelah tangannya mencengkeram lengan Itachi sementara tangan lainnya mencengkeram Deidara. Aku dan seorang tentara bernama Hidan membantu menahan kakinya.

Selang beberapa saat, Sakura akhirnya selesai membebat paha Sasori untuk menghentikan perdarahannya. "Kau harus mendapatkan pengobatan lanjutan kalau kita sudah sampai nanti," kata Sakura pada pria itu seraya menyeka peluh yang mengalir di dahinya.

Sasori mengangguk. Napasnya terengah-engah dan wajahnya berkilau bersimbah keringat. Ia memuntahkan saputangan di mulutnya. "Terimakasih," engahnya.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Lebih lambat kali ini karena Sasori harus dipapah.

Kami tiba di tempat tujuan malam harinya. Tempat itu agak tersembunyi di tengah hutan dan dijaga ketat oleh pasukan perdamaian. Seharusnya itu tidak perlu dilakukan seandainya pasukan Oto tidak menyalahi undang-undang dunia yang menyatakan larangan menyerang relawan palang merah atau orang-orang yang memakai badge palang merah dalam peperangan. Tapi tentara agresor Oto sudah dikenal kekejamannya dan mereka tidak pandang bulu dalam menyerang.

--

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tapi apa yang kami cari di sini tidak kunjung kami temukan. Padahal setiap hari para relawan pria selalu pulang membawa tentara-tentara yang terluka—relawan wanita tidak diizinkan pergi meninggalkan markas IRC—namun tak ada seorangpun dari mereka kami kenal. Tidak Yamato. Tidak Kakashi. Tidak Aoba. Tidak Raidou. Dan...—yang membuat hatiku galau—tidak juga Genma.

Tapi bukan berarti kami tidak melakukan tugas kami. Kami bekerja keras, mengobati mereka yang terluka. Menyaksikan kematian bukanlah hal aneh lagi bagi orang-orang di sini.

"Aku mulai kehilangan harapan, Shizune," lirih Sakura suatu pagi. Saat itu kami sedang mengambil air di sungai di dekat markas—dengan dikawal, tentu saja—"Sudah hampir tiga bulan dan kita bahkan belum mendengar kabar apapun dari mereka."

Aku mengangkat kepalaku dan memandangnya. Sakura tengah menunduk, memandang pantulan wajahnya sendiri di air sungai yang jernih. Wajahnya tampak pucat dan lelah. Matanya merah dan agak bengkak. Aku tahu Sakura sering menangis diam-diam di tengah malam sampai tertidur. Kondisinya ini tentu saja mempengaruhiku juga. Aku jadi merasa agak tertekan.

Suaranya agak serak ketika ia berkata lagi, "Mungkin saja mereka sudah mati di luar sana. Dan kita sama sekali tidak tahu. Bisa saja, kan—"

"Tidak!" sergahku gusar. Perkataannya barusan membuatku marah. "Mereka masih hidup, Sakura! Jangan pernah berpikiran seperti itu!"

Sakura mengangkat wajahnya, menatapku dengan tatapan sedih. "Aku hanya mencoba berpikir rasional..."

"Tapi bisa saja mereka ditempatkan di wilayah lain! Bukan di sini!" jeritku. Wadah air yang kupegang sampai terjatuh karena tanganku gemetar begitu hebat.

Sakura memalingkan wajahnya. "Itu juga masuk akal. Tapi aku tidak bisa berhenti berpikir kalau mereka mungkin sudah mati. Dan aku tidak tahu..." ia mulai menangis. "Kakashi... Yamato..."

Aku juga kerap punya pikiran seperti itu, Sakura. Tapi aku berusaha menepisnya dan meyakinkan diriku kalau suamiku baik-baik saja. Genma baik-baik saja... Dia masih hidup... Dia masih memegang janjinya untuk pulang dengan selamat.. Aku yakin!

Tapi bagaimana kalau dia memang sudah mati? Dan seperti yang dikatakan Sakura, kau sama sekali tidak tahu!

Tidak! Tidak! Genma masih hidup! Dia masih bertahan!! Ya, pasti begitu...

Aku beranjak mendekati sahabatku yang sedang menangis, merengkuh bahunya. "Mereka baik-baik saja, Sakura... Percayalah padaku..." ujarku meyakinkan.

Sakura menyandarkan kepalanya di bahuku, masih sesegukan. "Apa kau tidak takut?" tanyanya kemudian.

"Aku sangat takut," jawabku jujur. "Aku takut sepanjang waktu..."

--

Titik terang mulai nampak di suatu pagi tepat seminggu setelah pembicaraanku dan Sakura di tepi sungai. Saat itu kami mendengar suara-suara dari dalam hutan yang mengelilingi markas IRC. Para penjaga langsung siaga. Beberapa memeriksa ke dalam hutan, sementara para relawan bersiap-siap melindungi yang terluka bila suara-suara itu berarti serangan.

Tiba-tiba salah seorang anggota pasukan perdamaian menerobos keluar dari hutan. "Medis!" teriaknya kepada kami, memberi isyarat dengan tangannya agar kami bergegas. Aku, bersama Sakura dan relawan yang lain bergegas menyusulnya ke dalam hutan, membawa tandu dan peralatan lain yang mungkin dibutuhkan.

"Itu pasukan 7 dari perbatasan Utara dari Konoha," aku bisa mendengar Deidara memberitahu Itachi saat aku melewati mereka menuju hutan. "Mereka memberitahu wilayah itu sudah bersih. Pasukan kita sudah mengambil alih di sana."

Sekilas, aku melihat Itachi mengangguk.

Pasukan 7? Dari... Konoha... Mungkinkah?

Aku mempercepat langkahku. "Kau dengar itu, Sakura?" bisikku pada sahabatku yang berjalan di sebelahku. "Mereka bilang dari Konoha."

"Ya, aku dengar," ia terengah. Wajahnya agak memerah ketika ia menoleh menatapku. "Aku punya firasat baik tentang ini, Shizune!"

Aku bisa melihat mereka sekarang. Pasukan 7 dari Konoha. Banyak dari mereka terluka cukup parah. Para relawan pria mulai mengangkuti yang terluka parah dengan tandu. Dan aku juga melihatnya, di antara serdadu lain yang tidak terluka, rambut keperakan milik sepupu Sakura, Kakashi Hatake.

"Kakashi!" teriak Sakura sambil berlari menyongsongnya. Kakashi menoleh, tampak terkejut melihat Sakura di sana. Tapi pria itu tetap membalas pelukannya ketika Sakura menubruk memeluknya. "Oh, syukurlah... Syukurlah..."

"Sakura, apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Kakashi pada Sakura yang terisak-isak di dadanya. Ia membelai punggung Sakura, menenangkan.

"Aku jadi relawan. Sudah beberapa bulan," sahut Sakura serak setelah ia melepaskan pelukannya.

"Kakashi?" sapaku.

Kakashi menoleh. "Kau juga ada di sini, Shizune?"

Aku mengangguk.

"Mana Yamato?!" Sakura menanyainya.

"Dia terluka parah. Paramedis baru saja membawanya dengan tan—" namun sebelum Kakashi menyelesaikan kalimatnya, Sakura sudah melesat pergi, menyusul tandu yang membawa kekasihnya.

Sementara itu aku memandang berkeliling, mencari-cari yang lain. Mencari-cari suamiku... Hatiku mendadak hampa ketika menyadari Genma tidak ada bersama mereka.

"Aoba gugur sebulan yang lalu," suara Kakashi mengalihkan perhatianku.

"Ya Tuhan. Tidak..." aku memekapkan tangan ke mulut. Aoba adalah salah satu sahabat dekat Genma. Kematiannya jelas membuatku terguncang. Mataku memanas.

"Oi, kalian berdua! Cepat!!" teriak Hidan pada kami dari kejauhan. Ia memberi isyarat agar kami bergegas.

"Ayo, Shizune!" kata Kakashi sambil berjalan pergi menyusul Hidan. Aku berlari-lari kecil, menyeimbangi langkah lebarnya.

"Kakashi," sengalku ketika kami sudah sampai di markas, "Bagaimana—"

Namun sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Itachi Uchiha mendatangi kami. "Ada yang perlu kita diskusikan, Hatake. Di tenda itu," ia menunjuk salah satu tenda yang biasa dipakai rapat oleh anggota pasukan perdamaian, lalu langsung pergi.

Kakashi menoleh memandangku. "Maafkan aku, Shizune. Tapi aku harus pergi sekarang," katanya. Lalu berlalu menyusul Itachi, meninggalkanku termangu di tempatku.

--

Selama berhari-hari berikutnya, aku berusaha mencari tahu kabar Genma dan Raidou dari Kakashi. Tapi kesempatan untuk bicara dengannya tidak kunjung datang. Kakashi selalu saja sibuk dengan rapat taktik dengan pihak pasukan perdamaian. Kalaupun ia sedang senggang, aku yang sibuk merawat prajurit yang terluka. Hal ini tentu saja membuatku resah.

Aku tidak bisa menanyai Yamato, karena ia belum juga siuman. Ia kehabisan banyak darah akibat luka tembak di bahunya, meskipun tidak sampai berakibat fatal. Belum lagi ternyata luka itu infeksi, membuat kondisinya lebih buruk. Sakura terus mendampingi di sisinya.

"Bagaimana keadaannya?" tanyaku sambil menepuk bahu Sakura. Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, sahabatku itu duduk di sisi ranjang Yamato, menggenggam tangannya.

Sakura menghela napas panjang. "Sudah mulai membaik," jawabnya pelan sambil menaikkan posisi selimut Yamato, "Tanda-tanda vitalnya sudah kembali normal. Dia sudah tidak perlu ditransfusi lagi, dan tubuhnya sudah tidak panas lagi sekarang."

"Kalau begitu antibiotiknya bekerja dengan baik," kataku sambil menarik kursi kayu dan duduk di sampingnya.

"Hmm.." Sakura mengangguk. "Tinggal tunggu dia sadar saja. Kau sudah bicara dengan Kakashi?" ia bertanya kemudian.

Aku menggeleng pelan. "Dia kelihatannya sibuk sekali."

Sakura mengulurkan tangannya, menepuk lenganku lembut. "Kau pasti akan bertemu Genma lagi. Aku yakin," ujarnya sambil tersenyum membesarkan hati.

"Trims, Sakura..." aku membalas senyumnya.

Tepat saat itu, Yamato bergerak. Matanya membuka perlahan. Sakura langsung melompat dari kursinya. "Yamato?"

"Yamato, kau sudah sadar!" seruku sambil berdiri dan mendekat ke sisinya.

Yamato membuka matanya lebih lebar, tampak tidak fokus pada awalnya. Ia menatapku sejenak sebelum beralih pada wajah Sakura. "Sakura..." ia berbisik lirih.

"Hei," balas Sakura pelan sambil tersenyum. Air mata syukur tumpah di wajahnya. Perlahan, tangan Yamato yang diinfus terangkat, menyentuh sisi wajah kekasihnya seakan ingin memastikan kalau Sakura nyata berada di depannya saat itu.

"Ini kau..." bisik Yamato lagi. Seulas senyum lemah membayang di wajahnya.

Sakura mengambil tangan Yamato dari pipinya dan mengecupnya. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

"Aku ngantuk," sahut Yamato lemah, masih tersenyum.

"Aku akan panggil dokter!" kataku pada Sakura. Tapi sepertinya ia tidak mendengarku. Maka aku pergi saja tanpa menunggu jawabannya. Aku bergegas menuju tenda yang biasa kami pakai untuk beristirahat untuk memanggil dokter.

Aku sedang dalam perjalanan kembali dari memanggil dokter ketika aku melihat Kakashi keluar dari tenda. Sepertinya ia habis rapat lagi, karena wajahnya tampak lelah.

"Kakashi!" panggilku ketika ia setengah jalan menuju dapur umum. Ia menoleh.

"Shizune?" katanya heran saat aku berlari-lari kecil ke arahnya. "Kau belum tidur? Ini sudah larut."

Aku menggeleng singkat. "Ada sesuatu yang perlu kubicarakan denganmu," kataku.

Kakashi menatapku selama beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas. "Aku akan ambil kopi dulu. Kau mau kopi?"

"Trims," kataku. Aku menunggu di dekat api unggun sementara Kakashi menyeduh kopi untuk kami berdua. Ia datang tak kurang dari lima menit. Aku menggumamkan terimakasih lagi saat menerima kopiku. Ia duduk di sebelahku, menatap derik api di depan kami.

"Kau pasti ingin bertanya kabar Genma, kan?" tanyanya kemudian tanpa memandangku.

"Ya," sahutku. Aku menatapnya, menunggunya mengatakan sesuatu. Tapi Kakashi hanya menatap api dalam diam. Sepertinya sedang memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya. "Kakashi?" desakku. "Tolong katakan apa yang kau tahu tentang suamiku."

Kakashi mengambil waktu untuk menyesap kopinya sebelum menjawab, "Sejujurnya aku tidak tahu," ujarnya.

Mendadak aku merasa hampa. Aku merasa harapan terakhirku untuk mendapatkan kepastian akan nasib suamiku telah hilang. Aku baru akan membuka mulut untuk bicara, tapi Kakashi menyelaku,

"Mungkin kau tidak tahu. Tapi aku dan Genma ditempatkan di wilayah yang berbeda sejak awal. Pasukan Genma bergerak ke daerah Barat sementara pasukanku ke Utara."

"Tapi aku lihat kalian berangkat bersama-sama, dengan truk yang sama, kan?" sergahku.

"Memang. Tapi kemudian kami berpisah jalan," Kakashi terdiam lagi. "Terakhir kali aku mendengar kabar darinya sekitar tiga bulan yang lalu. Saat itu yang kutahu ia dan Raidou masih selamat dan mereka akan bergerak ke daerah Selatan setelah wilayah Barat berhasil direbut kembali."

Ia terdiam lagi. Aku menunggunya melanjutkan.

"Setelah itu kami sama sekali kehilangan kontak dengan pasukan Genma. Kemudian kami mendapat informasi bahwa daerah Selatan sudah dikuasai pihak Oto. Kami mengirimkan pasukan bantuan ke sana. Tapi kami juga kehilangan kontak dengan mereka. Mereka seperti raib begitu saja."

Aku menggigit bibir dan jantungku berdebar lebih kencang. "Apa kau bermaksud mengatakan kalau kemungkinan besar Genma sudah... sudah..." aku tak sanggup melanjutkan lagi.

"Aku tidak bilang seperti itu," ia menghela napas lagi. "Sekarang ini kita hanya bisa berdoa semoga mereka semua masih selamat."

Aku tidak bisa menahan tangisku lagi saat Kakashi mengatakan itu. Aku bingung... putus asa...

Tuhan... Tolonglah, lindungi suamiku...

Kurasakan tangan Kakashi menyentuh punggungku, menepuknya perlahan. "Tapi kurasa kita masih punya harapan," ia melanjutkan.

Aku buru-buru menyeka air mataku. "Apa maksudmu?"

"Tiga hari yang lalu, OPD mengambil tindakan tegas terhadap Oto. Mereka mengirimkan pasukan besar-besaran untuk membebaskan wilayah Selatan Hi. Kami menerima informasi bahwa ada pasukan dari Konoha yang masih bertahan di sana. Ada kemungkinan itu adalah pasukan yang dipimpin suamimu. Dan dua hari lagi kami akan menyusul mereka ke sana."

Mendengar masih adanya kemungkinan suamiku masih selamat setidaknya membuatku sedikit tenang. Meskipun rasa cemas itu masih ada. Dan tiba-tiba saja pikiran itu terlintas dalam kepalaku. "Apa kalian akan membawa medis?" tanyaku.

Kakashi menatapku beberapa saat—kurasa ia tahu apa yang sedang kupikirkan—sebelum berkata muram, "Kalau kau berniat untuk ikut kami, sebaiknya kau urungkan niatmu. Tapi, ya, kami akan membawa medis. Hanya medis laki-laki," ia menekankan.

"Mengapa tidak?" desakku. "Aku juga medis."

"Tidak. Terlalu berbahaya, Shizune."

"Kau meremehkan perempuan!" jeritku marah.

"Bukan begitu," sahut Kakashi. Ekspresinya gusar. "Ini bukan soal laki-laki atau perempuan. Ini soal keselamatanmu."

"Aku tidak peduli keselamatanku!" Aku melompat berdiri, mengabaikan cangkir kopiku yang terjatuh dan tumpah ke tanah. Entah mengapa aku menjadi sangat marah pada Kakashi.

"Tapi aku peduli!" sergahnya, mendongak menatapku. "Aku peduli, Shizune," ulangnya lebih pelan. "Kumohon jangan menempatkan dirimu dalam bahaya. Maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengizinkanmu—"

"Kau tidak berhak melarangku, Kakashi!" jeritku. "Kau bukan siapa-siapaku!"

Kata-kataku barusan sepertinya membuatnya sedikit terguncang. Wajahnya memucat dan ia memalingkan wajahnya, tidak berkata apa-apa lagi.

"Kau tidak mengerti..." bisikku, air mataku meleleh. "Ini tentang Genma. Ini tentang suamiku..."

Keheningan menyusup di antara kami selama beberapa saat sebelum akhirnya Kakashi kembali bersuara, "Justru karena ini menyangkut Genma, aku takut kau jadi nekat. Kita tidak tahu situasinya seperti apa di sana. Apa kau tidak berpikir, apa yang akan dikatakan suamimu seandainya ia melihatmu menerjang bahaya demi dirinya?"

Aku terhenyak mendengar kata-katanya. Kakashi benar. Aku bodoh sekali. Aku telah berjanji pada suamiku untuk menjaga diriku. Genma pastilah amat marah kalau ia sampai melihatku masuk ke dalam bahaya. Tapi, rasa rinduku padanya sudah tak tertahankan lagi sampai-sampai aku tidak memikirkan hal lain. Kerinduan yang begitu menyiksa sampai-sampai dadaku terasa sesak saat memikirkannya.

Tubuhku gemetar ketika air mataku semakin deras mengalir. Aku terisak. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Kakashi..." ujarku putus asa di antara isakan. "Tolong beritahu aku apa yang harus kulakukan?"

Kakashi hanya menatapku dengan tatapan yang sama sekali tidak kupahami, sampai akhirnya ia berkata lirih, "Maafkan aku, Shizune..." Kemudian ia berpaling lagi menatap api yang berkobar di depannya, menghirup kopinya perlahan.

Tangisku semakin menjadi-jadi dalam keputusasaan yang tak bisa kujelaskan. Aku bingung. Marah pada diriku sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan air mata berderai, aku berbalik dan berlari ke tendaku. Aku terus menangis sampai akhirnya jatuh tertidur.

--

TBC...

--

A/N:

Ada yang bisa merasakan hint KakaShizu di sini?? Sedikit aja, aku lebih suka GenShizu. Soalnya Kakashi kan 2 tahun lebih muda dari Shizune! Shizune cuma punya si ganteng Genma! hihi...

Gomen, kalo gaje ya...

Gomenna untuk yang kecewa dengan kemunculan Akatsuki!

--