Pertama-tama terimakasih kepada readers yang sudah mau mampir.
saya minta maaf jika dalam cerita ini banyak sekali grammatical errors
((pdhl pake bahasa indonesia..))
tapi yasudah lah nikmati saja/?
.
.
please enjoy ! :)
.
.
.
DLDR
.
.
I curse the blue skies
Sometimes I wanna lay it all down
I want to say good bye
When I stop wandering at the end of this road
I hope I can close my eyes without regrets
.
.
.
Aku mencoba untuk meredam segala penyesalan ku.
Aku juga berusaha untuk meninggalkan masa lalu ku
Karena bagiku itu sudah tidak penting lagi
Yang aku bisa lakukan hanyalah meraih apa yang telah pergi dariku
Kalian pasti pernah mendengar bahkan mengalami nya langsung
'sebuah benda lebih berarti ketika kau telah kehilangan nya'
Tetapi dia ini bukan lah benda
Ia adalah orang yang paling kucintai.
Seisi duniaku pernah ku labuhkan padanya
Bahkan hingga sekarang baru kusadari
Kata 'pernah' seharusnya tak bisa lagi digunakan
Kata 'selalu' lah yang lebih pantas
Adakah kesempatan sekali lagi untukku?
Aku lelah dengan hidup ku yang seperti ini
Yang selalu hidup dibawah semua penghianatan
Sepanjang umurku sudah berkali kali aku dihianati
Oleh teman ku sendiri
Oleh mantan kekasih
Mungkin itulah yang pantas didapatkan oleh orang seperti diriku
Bahkan ….
Kenyataan dan takdirku selalu menghianati angan ku….
— Yifan
.
.
.
Hari ini hari yang bahagia untuk Yifan. Tepat tanggal 6 November umurnya bertambah satu tahun. Ditambah ia akan bertemu Zitao dalam perayaan ulangtahun nya. Seharus nya ia sudah bersiap siap jika mengingat waktu sudah menunjukan pukul 3 siang. Walaupun acara akan dimulai ketika waktu makan malam tiba, persiapan yang matang harus dilakukan. Tetapi Yifan masih terlelap di kasur nya. Di kamar masa kecil nya yang penuh kenangan. Bukan lagi di apartemen nya mengingat hari ini ia akan mengadakan perayaan di rumah orang tuanya. Dengan selimut tebal menggulung dirinya dan juga wajah nya yang menyirat kan kelelahan.
TINGTONG
Bell pun berbunyi di rumah besar yang sederhana itu. Sosok tinggi dengan pakaian rapih namun santai berdiri di depan pintu kayu besar nan kokoh itu. Disebelahnya terdapat sesosok gadis mungil yang sangat cantik dan manis dengan dress sederhananya dan rambut cokelat nya yang digerai. Jikala dilihat, mereka berdua sangat serasi
Tak lama kemudian pintu pun dibuka.
"annyeonghaseo Wu ahjumma!" Sapa mereka kompak. Ibu Yifan lah yang membukakan pintu.
"annyeonghaseo Chanyeol-ah, baekhyunnie !Aigoo kalian semakin tampan dan cantik! Silahkan masuk" Sapa Nyonya Wu dengan ramah dan membawa mereka untuk duduk di ruang keluarga.
"kalian datang terlalu cepat, ini masih siang " ujar nyonya Wu
"tidak apa ahjumma, kami disini bisa membantu untuk acara nanti" balas Baekhyun.
"aigooo kalian baik sekali" nyonya Wu sangat senang dengan kedatangan mereka. Mengingat ia sedikit kewalahan di dapur. Beruntung Baekhyun datang di waktu yang tepat.
"tidak apa ahjumma kami memang ingin membantu" ujar baekhyun
"ah iya mari kita ke dapur , sudah ada Kyungsoo disana" nyonya Wu pun beranjak menuju dapur.
"Jinja? Waah aku sudah lama tak bertemu dengan nya!" Ujar baekhyun . ia memang dekat dengan sepupu Yifan yang satu itu. Kedua nya pun pergi menuju dapur. Tapi sebelum nya nyonya Wu berkata kepada chanyeol untuk membangun kan Yifan. Ia sengaja tidak membangunkan Yifan dari pagi karena semalaman Yifan terjaga untuk mengerjakan tugas serta pekerjaan kantor untuk membantu perusahaan ayahnya.
Kaki jenjang itupun beranjak menaiki tangga menuju kamar Yifan di lantai 2. Ia merasa tak perlu mengetuk pintu dahulu karena Yifan tak akan meladeni nya. Kamar itu tak pernah berubah menurut Chanyeol. Dari ia kecil , kamar ini selalu mempunyai kesan gelap karena cat nya yang berwarna Navy Blue. Serta udara nya yang selalu dingin dan juga barang barang yang rapih. Sesuai dengan kepribadian teman nya itu yang tertutup, dingin dan juga perfeksionis.
Perlahan Chanyeol mendekati ranjang Yifan. Iapun mengguncang tubuh itu perlahan. Tapi lama kelamaan semakin kencang.
"yifaaaaan! Ireona!" ujar Chanyeol dengan volume sedikit keras. Akan tetapi Yifan tetap saja tak bergeming. Chanyeol terus saja meluncurkan aksinya hingga sebuah bantal mendarat di mukanya.
"kau berisik park chanyeol!" ujar Yifan masih dengan keadaan setengah sadar.
"Wu Yifan ini sudah hamper pukul empat sore! Kau harus bangun bodoh!" dan sekali lagi bantal itu mendarat di wajah chanyeol. Chanyeol yang menerima itu hanya menyeringai menampilkan deretan gigi indahnya itu. Tak lama kemudian ia melempari bantal ke muka Yifan berkali-kali. Yifan pun tak tinggal diam. Ia menarik Chanyeol ke kasur dan bergulat dengan nya. Gulat ala laki-laki tentunya. Mereka pun melakukan itu dengan candaan-candaan khas mereka. Bisa kah kau bayangkan dua tiang listrik bergulat ? Seharusnya menakutkan , tapi jika kedua orang ini yang melakukan akan terlihat lucu.
Karena lelah , mereka pun berhenti. Yifan pun telah sadar sepenuhnya. Chanyeol yang merasa berhasil telah membangunkan Yifan pun merasa puas.
"Cepat mandi, kau bau" Ujar chanyeol seraya berdiri dan merapihkan sedikit baju nya. Yifan yang diajak bicara hanya mendengus. Iapun mengambil handuk nya dan bergegas untuk mandi
Malam itu malam yang hangat di musim gugur. Terutama di kediaman Keluarga Wu. Keluarga kecilnya dan beberapa sahabat berkumpul di rumah itu untuk merayakan ulang tahun Yifan. Semua orang terlihat bahagia. Memang acara inti belum di mulai tapi suasana sudah cukup ramai. Walaupun tidak seramai pesta biasanya. Hidangan pun berjajar dengan rapih dan menggiurkan. Beberapa orang pun mulai menyantap hidangan yang tersedia.
Pintu terketuk dengan pelan. Orang-orang di dalam rumah pun berseru untuk menyuruh orang di balik pintu itu untuk masuk. Tak lama sosok gadis manis dengan rambut hitam legam nya masuk. Ia begitu manis dengan long coat cokelat yang membalut sweater cream serta rok hitam selutut yang dipadukan dengan stocking hitam pekat . Semua mata tertuju padanya.
"A-anyeonghaseyo…." Suara manis nya pun mengalun dengan lembut.
"ah! Annyeong zitao-ya" Sapa beberapa dari mereka dengan ramah. Sebagian lagi tersenyum lembut menyambut gadis itu. Suasana pun kembali seperti semula. Setiap orang sudah mengalihkan pandangan dari gadis itu. Gadis itu pun melangkah masuk lebih dalam untuk menemui nyonya Wu.
"Hoy Zitao!" sapa dua orang laki-laki yang langsung saja merangkul Zitao di sisi kanan dan kiri gadis itu. Mereka adalah Jongin dan Sehun, sahabat Tao. Mereka bertiga memang dikenal sebagai Tiga sekawan di kampusnya. Pada awalnya memang hanya ada Sehun dan Tao yang memang bersahabat sejak sekolah menengah, tapi setahun belakangan ini Jongin memutuskan untuk pindah ke universitas yang sama dengan Yifan ((serta tao pula tentunya)). Mereka bertiga pun menjadi sangat akrab.
"eh Jongin , Sehun, apa kalian melihat Wu ahjuma?" ujar Tao. Kedua lengan gadis itupun ikut merangkul pinggang kedua sahabatnya.
"dia di dapur. Kau mau makan zi?" balas sehun
"nanti saja bersama yang lain, belum semuanya makan kan?"
"kami sih belum, menunggu yang lain juga" Jawab Jongin. Zitao yakin dia pasti sudah kelaparan. Jongin memang dikenal sebagai si perut karet
"Lebih baik kau temui Wu Ahjumma dulu, yaa menyapa tuan rumah" Ujar sehun .
"sekalian menyapa mantan calon mertua hahaha" ujar Jongin dan Sehun yang dilanjutkan dengan tawa mereka berdua
"apasih maksudnya? Gak jelas" Zitao pun yang tidak mengerti maksud nya pun memilih meninggalkan mereka dan berjalan menuju dapur. Ia menemukan nyonya Wu disana.
"Annyeong ahjumma" sapa gadis itu sopan sambil membungkuk kepada sang tuan rumah.
"Annyeong Zitao-ah! Aigooo kau semakin manis!" sapa nyonya wu sambil memeluk gadis itu. Zitao hanya tersenyum. Ia hanya mengingat Nyonya Wu sebagai sahabat eomma nya yang sekarang tinggal di China.
"aooh iya, ahjumma dapat salam dari eomma, ia bilang ia belum bisa ke korea untuk sementara waktu" ujar gadis itu.
"aah iyaa, tidak apa zitao. Ngomong-ngomong, apa aku boleh meminta sedikit bantuan mu?"
"tentu ahjuma, apa itu?"
"bisa tolong panggilkan Yifan di kamar nya yang ada di lantai dua? Ia harus segera turun karena sepertinya semua tamu sudah datang." Zitao pun terdiam sebentar. Ia memang tidak terlalu mengenal Yifan. Tapi setiap berhadapan dengan pria itu, seperti ada sesuatu yang mengganjal pikiran nya dan juga sedikit menyesakan hatinya. Ia pun tidak mengerti mengapa seperti itu.
"baiklah ahjumma, aku panggilkan yifan" gadis itupun menaiki tangga hingga sampailah di depan pintu kamar yang bertuliskan nama laki laki itu. Ia mengetuknya perlahan. Tidak ada suara. Beberapa kali ia ketuk pun masih belum ada respon. Hingga ketika ia ingin mengetuk kembali. Suara berat namun serak pun terdengar.
"masuk saja" ujar suara itu.
Zitao pun membuka pintu itu perlahan dan langsung saja melangkah pelan kedalam nya sebelum menutup kembali pintu itu. Hingga ia menemuka sosok yifan tersembunyi dibalik pintu lemari nya yang terbuka. Sepertinya ia sedang mencari baju.
"Yifan-ssi, Wu ahjumma menyuruh mu turun" ujar Zitao dengan suara manis nya. Yifan pun yang terkejut dengan kedatangan Zitao ke kamar nya langsung keluar dari balik pintu lemarinya dengan keadaan shirtless. Zitao yang melihat nya pun hanya membulatkan matanya dan pipinya bersemu merah.
"a-aiya ku kira yang mengetuk tadi adalah Chanyeol ataupun Sehun dan Jongin" Yifan pun berdiri canggung dengan tangan kanan nya menggaruk tengkuknya dan tangan kirinya menggenggam pakaian nya.
"enggg engga ini aku zitao, tadi Wu Ahjumma memintaku memanggilmu.." Zitao pun tak berani memandang tepat kearah Yifan sekarang. Ia masih berdiri mematung.
"o-ooh begitu" balas yifan yang sekarang tidak tahu harus bertingkah seperti apa. Ia terlalu gugup.
"emm Yifan, bisa kah kau memakai pakaian mu dulu? Aku risih" ujar Zitao sambil ,memalingkan wajahnya. Semurat merah pun muncul di pipi keduanya.
"err i-iya aku pakai baju dulu. Kau bisa turun lebih dulu kalau kau mau. Atau tunggu disini sebentar jika mau." Ujar Yifan sambil memakai kaus putih polos berlengan pendek yang nantinya akan ia padukan dengan sweater berwana merah bata dan Jeans hitam yang sekarang ia kenakan.
"baiklah kutunggu, tapi jangan lama-lama"
Yifan pun memakai pakaian nya. Sedangkan Zitao hanya duduk ditepi ranjang Yifan sambil memperhatikan isi kamar Yifan yang cukup rapih. Yifan pun berdiri di depan meja rias yang tidak jauh dari tempat zitao duduk. Ia menata rambut nya dan juga memakai parfum kesukaan nya.
"aku suka wangi parfumu." Puji Zitao. Yifan hanya tersenyum miris. Pastinya Zitao akan menyukai wanginya. Karena itu pemberian Zitao pada musim gugur tahun lalu. Tepat beberapa minggu sebelum mereka mengakhiri hubungan nya. Bukan mereka, lebih tepatnya Yifan.
"ya, seseorang memberikan ini padaku" balas Yifan sambil tersenyum kearah zitao. Zitao pun hanya mengangguk
"aku sudah selesai, ayo kita turun" Yifan pun mengambil ponsel nya dan langsung bergegas menuju pintu. Zitao pun bangkit perlahan lalu berjalan pelan menuju pintu.
"Ayo zi jangan terlalu lama kalau berjalan. Kau ini kebiasaan" Yifan pun dengan tidak sabar menarik perlahan lengan zitao dan menuntun nya menuju lantai bawah. Ia tidak menyadari wajah Zitao bersemu merah. Yifan juga mengabaikan detak jantung nya yang berdetak semakin cepat. Mereka berdua melepas genggaman tangan nya ketika akan menuruni tangga.
"aigooo kalian terlihat serasi dengan pakaian seperti itu" ujar baekhyun ketika melihat mereka tiba di lantai bawah.
"aah aniyeo eonnie, hanya kebetulan warna nya serasi" ujar Zitao. Baekhyun hanya terkekeh dan merangkul zitao.
Semua yang ada dipesta itu menikmati pesta. Suasana hangat menyelimuti mereka. Hidangan lezat buatan nyonya wu juga memanjakan perut perut lapar mereka. Suasana pun semakin ramai ketika tiba saat nya Yifan meniup lilin kue ulangtahun nya. Chanyeol pun tidak mau ketinggalan heboh, dengan ide ide jahil yang selalu melintas di pikiran nya, ia mencolek sedikit krim dan menempelkan nya di wajah Yifan. Yifan pun membalas sahabat nya itu dengan menjejalkan sepotong kue ke mulut Chanyeol yang sedang tertawa lebar.
Yifan merasa bahagia hari ini walaupun tetap ada yang mengganjal.
Pesta sederhana itu pun hamper usai. Sebagian tamu sudah pulang. Hanya tersisa keluarga dekat Yifan dan sahabat sahabat nya yang belum ingin pulang. Yifan terlihat mengamati satu persatu sudut di rumah nya. Tapi ia belum menemukan apa yang ia cari.
"kau mencari Zitao?" Tanya Chanyeol yang tiba tiba saja sudah berdiri di hadapan nya.
"kenapa kau selalu bisa menebak pikiran ku?" jawab yifan yang sedikit kesal.
"ck tidak usah seperti itu. Cepat temuia dia . dia sedang sendiri di taman belakang"
"baiklah, terimakasih chan" Yifan pun langsung pergi menuju taman belakang rumahnya. Tak lupa ia mengambil longcoat Zitao yang tergantung di dekat pintu. Berjaga-jaga jika gadis itu kedinginan di luar sana. Ia menemuka gadis itu sedang duduk di salah satu bangku taman yang menghadap ke kolam kecil di taman itu. Yifan pun menghampirinya dan menyampir kan Long coat itu kebahu nya. Gadis itu tersentak dan menoleh ke Yifan.
"Kau mengagetkan ku , Yifan-ssi" Gadis itu tertawa pelan menyambut kehadiran Yifan. Yifan pun duduk di samping nya.
"ah maaf, hmm apa kau keberatan jika memanggilku dengan tidak terlalu formal?" ujar yifan. Tubuh tegap nya ia sandarkan di bangku itu.
"tidak, lalu aku harus memanggilmu bagaimana?"
"hmmm bagaimana dengan gege? Bukankah kita sama sama dari China?"
Dulu Zitao memang suka memanggil Yifan seperti itu.
"baiklah Yifan ge!" ujar Zitao sambil tersenyum manis. Senyum yang selalu Yifan sukai.
"Bagaimana dengan pesta tadi? Apa kau menyukainya, zi?" Pandangangan nya tak pernah lepas dari paras gadis itu. Sedangkan yang dipandang hanya menerawang ke langit.
"Ya, aku suka! Semua sangat baik padaku, Chanyeol oppa sangat lucu tapi menyebalkan, ia membuat lelucon tentang ekspresi muka sehun dan juga menirukan bagaimana tingkah Jongin jika sedang kelaparan dan berujung dengan membuat lelucon tentang kantung mata ku!" ujar zitao tanpa jeda. Bercerita layak nya anak kecil memang menjadi karakteristik nya yang sangat Yifan sukai. Yifan yang mendengar ocehan gadis itu hanya tertawa .
"hahaha kau lucu sekali zi, Chanyeol memang seperti itu" Zitao pun ikut tertawa .
"yaa, walaupun begitu aku tetap menikmatinya hehe" Zitao pun menoleh dan menatap Yifan lembut.
"Aku senang kalau kau menikmatinya"
"Ya… aku akan merindukan suasana seperti tadi berkumpul bersama teman-teman sehangat tadi" sorot mata zitao semakin meneduh
"hey, jangan sedih zi, kau bisa meminta kami untuk berkumpul di lain waktu" Ujar Yifan yang kini tidak mengerti dengan perkataan Zitao.
"aku tidak akan pernah bisa lagi" sorot mata gadis itu menjadi sendu. Sorot mata yang paling Yifan benci jika sorot itu berasal dari zitao. Yifan mulai merasakan perasaan yang kurang baik.
"memang nya kenapa?" Yifan pun bertanya perlahan. Jujur saja dia merasa gugup akan apa yang dikatakan Zitao. Karena perasaan nya sangat tidak baik mengenai hal yang akan dikatakan nya.
"hmm dua minggu lagi aku akan pindah ke New York dengan Eomma ku. Karena perusahaan Appa juga membuka cabang di sana. Dan juga ia pernah berkata jika dalam setahun aku belum pulih, maka lebih baik aku pindah. Entah apa maksudnya"
Yifan terdiam. Ia berusaha menyembunyikan ekspresi terlukanya. Apa yang dimaksud Nyonya Huang bersangkutan dengan dirinya? Pada dasar nya Zitao pernah berkata satu satu nya alasan ia pindah dari China adalah karena Yifan yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Korea. Dan sampai sekarang zitao tak kunjung mengingat Yifan.
"ooh begitu, lalu kapan kau kembali?" Yifan mencoba menetralkan suaranya yang ia rasa sedikit bergetar.
"Kami tidak kembali, atau mungkin kembali tapi akan lama sekali. Karena Appa dan Eomma punya rencana disana"
"Lalu apakah Sehun dan Jongin tahu?" Yifan semakin menubrukan pandangan nya kedalam kepingan obsidian milik zitao.
"tentu mereka tahu, maka dari itu mereka semakin dekat dengan ku untuk menghabiskan waktu waktu terakhir kami" zitao merasa sedih mengingat ia harus meninggalkan teman teman terbaiknya.
"baiklah , jaga diri baik baik. Jangan lupakan kami" Yifan pun memberanikan diri untuk mengelus pundak zitao dengan lembut. Zitao hanya tersenyum dan mengangguk.
"oh ya, apa yang orang tua mu rencanakan disana?" Yifan pun penasaran.
"ya mereka akan menuruh ku meneruskan pendidikan disana. Dan juga suatu hal yang dapat merubah hidupku. Eomma bilang inilah jalan yang terbaik" Zitao pun tersenyum kecil.
"hal apa itu?" Yifan semakin dibuat penasaran.
"semoga saja hal ini akan lancar dan memang yang terbaik…." Zitao mengambil jeda sebentar lalu kembali berucap
"Eomma bilang aku akan dinikahkan dengan teman masa kecilku yang bernama Kevin. "
Yifan pun untuk kedua kalinya merasakan nyawanya seperti melayang dan nafas nya pun seperti berhenti.
Dan ia menyadari suatu hal
Ia tidak memiliki harapan lagi.
.
.
Seoul, 19 November
Angin berhembus dengan cukup kencang.
Meniup surai emas pemuda itu dengan bebas.
Kepingan mata itu menatap hamparan garis langit yang indah
Iapun melihat kebawah.
Ke jalanan kota Seoul yang ramai
Seakan ketinggian bukan lah apa apa.
Bahkan 30 lantai ia anggap remeh.
Ditempat ia berpijak ini
Merupakan tempat favorit nya
Rooftop apartemen nya,
Bahkan gadis itu juga menyukai nya.
Dimana mereka bermesraan
Saling memeluk ditemani hamparan bintang
Dan juga pemandangan kota dimalam hari yang indah
Tak menghiraukan udara dingin yang menerpa
Bagi mereka saling memeluk sudahlah cukup.
Sungguh manis.
Sangking manis nya, Kini Yifan hanya dapat berharap.
Berharap agar dapat mengulang kembali memori memori itu
Sampai ia merasa dirinya bodoh
Karena mengharapkan sesuatu yang dia sendiri tahu
Bahwa hal itu tidak mungkin dapat terulang kembali
Kini ia menatap langit biru
Ingin rasanya berteriak
Kenapa langit bisa seceria itu ketika dirinya menderita
Seolah menertawakan kesedihan nya.
Ia ingin sekali meruntuhkan nya.
Tapi ia tak bisa
Yang ia bisa lakukan hanyalah menatap nya
Dengan pikiran melayang
Memikirkan tentang perjalanan panjang di hidupnya yang tak pernah membuahkan hasil yang ia harapkan.
Seolah tak berujung
Apakah penderitaan berlaku abadi untuk nya?
Kapan ia bisa hidup tenang dan bahagia?
Kapan ini akan berakhir?
Yang ia inginkan sekarang adalah mengakhiri semua perjalanan nya
Kau boleh menyebutnya berlebihan.
Tapi memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Seisi dunia nya sudah tidak dapat ia genggap
Seisi dunianya sebentar lagi menjadi milik orang lain
Gadis itu lah dunia nya.
Pemuda itu menutup matanya erat tanpa penyesalan
Dan mulai berjalan ke penghujung atap tersebut
Dan tibalah waktu nya
Dimana dia akan meringankan segala beban tubuhnya ke udara
Dan bertemu orang orang dibawah sana
Agar semuanya tahu bahwa ia sudah mengakhiri perjalanan nya
Dan menutup matanya tanpa penyesalan.
TBC
ho fellas! Chapt 3 update nih hohoho. Maaf bgt kalo mengecewakan. Author jg manusia 8'). Btw tadinya niat saya mau ngebalas review di chapter ini tapi saya aja skrg mengupload via hp, susah bgt... Mental mental apalagi pake touchscreen gini 8') terus wkt itu ada yg nanya jongin cmn kambing hitam atau lebih dr itu. Saya jawab ya : gak lebih dr itu kok mereka bersahabat. Saya suka bgt Taokaihun sbg sahabat. Dan juga bonus ada krisyeol dan disini ada taoris moment yay! Btw curcol dikit. Bulan ini Bigbang vs. EXO. Saya jd degdegan bgt siapa yg bakal menang 8') kalian megang exo ya pasti ? Hehe kalo author megang bigbang soalnya fandom utama ehehe. Udah ah saya bawel cerita mulu=.=
Don't forget to review! Review kalian sangat berarti bagi saya!
Kasih tau saya lagi kalo ada typo yg fatal ya kawan
-usami machiko-
