Chapter 3

Chi : Mohon maaf yang sebesar-besarnya!(menunduk 90 derajatdan memegang kepala Aira sang Author yang di fanfict ini agar ikut menunduk bersamanya)

Aira : ...(tetap berwajah datar)

Chi : Aku kaget saat melihat Aira jadi OOC banget menjelaskan fanfict ini. Karakter dia itu sangat berbeda jauh dengan dia yang ceria seperti karekter yang dia pakai di 2 chapter sebelumnya. Dia itu dingiiiiiiin bangeeeeeeet.

JLEB![satu panah menancap di Aira]

Chi : Jarang senyum. Ngomong saja jarang dan sedikit sekali.

JLEB! JLEB! [kali ini panahnya sekaligus dua yang menancap di punggung sang Author]

Aira : ...Hidoi...[sambil melepaskan panah di punggung] Maafminna, karakter asliku memang seperti yang dikatakan Chi, karena itu untuk memeriahkan fanfict-ku dengan tidak ada OOC-nya Author, aku mengundang Chi. Aku dimarahi saat ketahuan memakai karakter ceria seperti di chapter sebelumnya.

Chi : Giliran di saat begini kamu ngomong panjang lebar. Hhhhh...ya sudah. Yeeeeyyyyy...Chi akan menjadi narator di fanfict Aira. Yoroshiku ne~, Minna! Yosh, Ayo kita mulai saja, deh. ENJOY READ, MINNA!(melambaikan tangan)

Aira : ...

Chi : Ngomong sesuatu, Aira!

Aira : ...Selamat membaca, minna-san. 'Sepertinya aku salah membawa dia ke sini. Ya sudahlah.'

Title : 10, 1, and Varia

Warning : OOC tingkat dunia bawah tanah, humor garing, dan semua kepayahan lainnya.

Disclaimer : Katekyo Hitman Reborn! Itu milik Amano Akira-sensei. Bukan milik Author.

"Supaya lebih cepat, Decimo pergi mengambil baju ganti saja, ya. Aku sendiri saja yang membawa makanan ini ke rumahmu." pinta Giotto sambil menunjuk ke barang yang dibawa mereka.

"Apa tidak merepotkan, Primo-san?" tanya Tsuna heran. Apa Primo bisa membawa semuanya bersamaan? Karena makanan yang mereka beli tidak dapat dikatakan sedikit –bahkan sangat banyak-.

Giotto tersenyum memandang Tsuna dan menggeleng pelan. "Tidak apa, Decimo. Kamu meremehkanku?" tanya Giotto sambil tertawa kecil dan mengacak rambut Tsuna.

"Bu-bukan begitu." jawab Tsuna canggung. Meremehkan Primo? Hei, semua orang juga tahu kalau pendiri Vongola tidak bisa diremehkan. Lihat saja apa yang ada pada dirinya,

Kuat?...Tentu!

Kaya?...OMG?! Kalian kira, berapa banyak kekayaan Vongola? Sangat banyak!

Pintar?...No, He is Genius!

Bijaksana?...Absolutely!

Tampan?...Ini, sih tidak perlu ditanya. Semua wanita, pria, termasuk banci taman lawang yang sejenis dengan Lussuria pun langsung meleleh melihat wajahnya, apalagi kalau dia tersenyum.#Nosebleed massal#

Sexy?...Ok. Dihentikan dulu sampai di sini pertanyaannya. Author dan para penggemar Giotto lainnya sudah terkena anemia dan dibawa ke RS terdekat.

Giotto memberikan kunci rumah Ryohei, Yamamoto, dan Gokudera kepada Tsuna. Bagaimana dengan kunci rumah Mukuro dan Hibari? Yang pastinya, Tsuna tidak yakin Mukuro punya banyak baju di Kokuyo Land. Kalau Hibari, Dia menolak memberikannya bahkan sebelum Boss-nya itu meminta -yang pastinya dengan gemetar takut di-kamikorosu-.

"Ja, itte kuru." kata Tsuna dan terbang menggunakan flame ke rumah yang dituju. Giotto tersenyum menatap kepergiannya.

~Time Skip~

"Ini..." kata Giotto tak melanjutkan kata-katanya. Di depan dia sekarang, sebuah rumah yang bahkan tidak dapat dikatakan rumah. Apa saja kerusakannya? Mari kita lihat...

Pertama, sudah tak terlihat ada kaca di jendela rumah. Pecahan kaca bertaburan di atas tanah yang membentuk beberapa rasi bintang. Ada Scorpio, Sagitarius, dan banyak lagi -entah kenapa bisa terbentuk seperti itu-.

Kedua, banyak lubang pada tembok rumah dikarenakan bom Gokudera, roll yang memperbanyak diri serta flame Xanxus yang menembak ke segala arah. Sebenarnya tembakan flame itu untuk diarahkan pada Hibari dan Alaude, tapi sayangnya refleks mereka terlalu bagus sehingga dapat menghindar dengan cepat.

Ketiga, tidak ada rumput, bunga, dan sejenisnya di halaman rumah Tsuna. Kini telah terganti menjadi tanah tandus bahkan tanahnya terbelah dua-, ah bukan tapi ada lima retakan.

Keempat, hampir tak terlihat atap yang menaungi rumah itu, hanya tertinggal kerangka saja -yang bahkan sudah tak lengkap-.

Kelima, pohon-pohon yang harusnya menghiasi halaman, sudah terpotong-potong dari potongan sebesar pintu sampai sekecil tusuk gigi.

Keenam, pintu depan terbelah dua dan gosong terbakar dengan indahnya tepat dua langkah di hadapan Primo.

Hei, itu hanyalah kerusakan dari luar saja, jika kita masuk ke dalam rumah, kerusakan yang terjadi sudah setara dengan PD II, sudah tak terhitung dengan jari dan juga tak terlihat lagi itu sungguhan rumah atau bukan, bahkan Author menjamin sarang rayap lebih bagus dan kokoh dibandingkan rumah Tsunayoshi.

Giotto langsung berkeringat dingin melihat keadaan rumah cucu kesayangannya itu. "Ini gawat..." gumam Giotto dan meneguk ludah. Lalu Giotto melangkah ke dalam dengan langkah yang sangat hati-hati.

"G! G! Kamu ada di mana, G?" panggil Giotto. G yang mendengar panggilan Boss-nya pun langsung bangun dari pingsannya. G terburu-buru berlari ke arah pintu depan dan –

GUBRAK!

"G!" panggil Giotto panik melihat G tersandung barang-barang yang berserakan. Giotto perlahan menghampiri dan membantu G berdiri.

"G, tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi di sini? Bagaimana bisa rumah Decimo menjadi bangunan tak berbentuk? Apa yang kamu lakukan selama aku dan Decimo pergi? Bukankah yang bertanggungjawab di sini adalah kamu? Dan kenapa kamu diam saja?" tanya Giotto bertubi-tubi.

"Bagaimana aku bisa jawab kalau kau bertanya bertubi-tubi seperti itu?!" teriak G marah.

"Kok, kamu marah, sih?" tanya Giotto dan memasang wajah seperti anak kecil yang ketakutan sehabis dimarahi orangtuanya.

G tak menghiraukan pertanyaan Giotto dan memandang ke sekitarnya.

"WHAT THE...?!" teriak G kaget melihat keadaan rumah yang hancur lebur, sepertinya dia pingsan terlalu lama sehingga tidak ada yang mengatur anak-anak nakal(?) yang diurusnya. Terdengar berbagai teriakan, tangisan, jeritan, dan suara-suara lain.

"VVVVOOOOIIIII, JANGAN KEPANG RAMBUTKU, LUSSURIA TEME!"

"HUUWWEEEE! Ahodera! Bakadera! Belikan Takoyaki! Lambo-san lapar dan kesakitan! -AAWW! Jangan pukul aku! Rasakan ini! Rasakan ini!"

DDUUAAARRR!

BLAAARRR!

"KONO AHO USHI! Kubom kau sekarang juga!"

BLAARRR!

"EXXTTREEEMMMEEEEE! PEL SAMPAI MENGKILAT EXTREME!"

"HUWAA! Jangan arahkan ilusi itu padaku!Gyaaa! Primo Toloooonggg!"

"Jangan sentuh, Bossu! Levi Volta!"

BBZZZZTTT!

Jika kita dengar lebih baik, ada suara lain yang ternyata hampir tertutupi dengan suara bervolume extreme di atas.

"Maa...Maa...semuanya tenanglah."

"Arara~ Squ-chan, jangan banyak bergerak, sayang~. Nanti kepangan-nya berantakan~"

"Shihihihihihi...berani sekali mengatur pangeran. Rasakan ini!"

JLEB! JLEB!

"Bel-dono, tolong jangan main pisau di dalam ruangan. Nanti kalau ada anak kecil yang meniru bagaimana?"

"Luss-senpai, apa bando pink ini kira-kira cocok dipasang di rambut, Squalo sakuse-n taichou?"

"Nufufufufu...jangan lari kau."

"Mu, serahkan semua uangmu untuk ganti rugi."

"Trash, cepat lakukan apa yang kusuruh."

"Hn, kutangkap kau."

"Kamikorosu."

"Kufufufu...kuhukum dulu kau, Fran. Lancang sekali kau mengabaikanku."

BLAAAR!

DDUUAARR!

GUBRAK!

PRANG!

Meow~

"Hora, Uri! Ngapain kau keluar?!"

.

.

"Kita ini sungguhan berada di rumah Decimo atau reruntuhan bangunan di mana terjadi PD III?" tanya Giotto dan mencubit pipinya, berharap ini mimpi.
"Che, mereka itu! OOOIIII! Semuanya hentikan! Bagaimana kalau Decimo dat-" kata-kata G terhenti.

.

.

.

Gerakan semua makhluk hidup di sana terhenti seketika. Tak terdengar lagi suara bahkan tak seorang pun berani bernapas melihat siapa yang sedang berdiri di gerbang rumah Sawada .

Siapa lagi kalau bukan Sawada Tsunayoshi sang Vongola Decimo. Lelaki yang terkenal dengan nama Dame-Tsuna. Lelaki yang memiliki tinggi yang di bawah rata-rata dengan rambut coklat melawan gravitasi dan wajah moe-nya. Sekarang berdiri di depan gerbang dengan penuh senyum, senyumnya sangat lebar. Biasanya, jika seseorang tersenyum maka akan mengeluarkan aura secerah mentari apalagi jika yang tersenyum itu Tsuna dalam HDWM. Namun, aura seperti itu terganti dengan aura hitam keunguan yang menguar dahsyat dari Vongola Decimo dan menyelimuti hampir seluruh rumah.

"Ju-Juudaime...?"

Tsuna tersenyum makin lebar dan tangannya membentuk-

"Hah? I...itu.." kata Giotto menyadari hal apa yang akan dilakukan cucunya, "Tu-tunggu dulu, Deci-!"

"Zero Point Breakthrough:First Edition"

.

.

.

"Are? Kenapa Tsu-kun berada di sini? Tidak menunggu di rumah?" tanya Ibu Tsuna yang baru saja pulang. Tsuna menunggu kepulangan mereka di pelabuhan.

"Aku mendapat tiket gratis menginap di hotel XX, Kaa-san. Jadi aku menunggu Kaa-san di sini. Ayo, kita langsung ke sana." ajak Tsuna pada Ibunya, I-pin, Fuuta.

"Eeehh? Kenapa kita tidak pulang ke rumah dulu? Lambo mana, Tsuna-nii?"

"Ia tidak ikut. Lebih cepat, lebih baik. Nanti Bianchi dan Reborn akan menyusul. Ayo, Fuuta, I-pin!" ajak Tsuna.

"Hai!"jawab Fuuta dan I-pin bersamaan.

"Kalau begitu, Ayo kita jalan. Mama tidak pernah jalan-jalan ke luar rumah selama ini. Mama rindu rumah tapi.." kata Ibu Tsuna lalu memeluk Tsuna,"Asal ada Tsu-kun, kemana saja, Mama akan ikut. Hehe…"

"Kaa-san, lepaskan. Sesak."

Tsuna, Ibu Tsuna, Fuuta, dan I-pin pun berjalan menuju ke hotel, sedangkan Biachi dan Reborn berada di depan rumah Tsuna dan melihat Chrome ada di sana.

"Apa yang kamu lakukan di sini, Chrome?" tanya Bianchi.

"I..itu..."

FLASHBACK

Satu jam sebelum Ibu Tsuna datang, Tsuna memanggil Chrome untuk ke rumahnya.

"Ada apa, Bo-" kata –kata Chrome terhenti karena kaget melihat apa yang ada di hadapannya. Guardians Tsuna, Giotto dan guardians-nya, serta Varia masih beku di rumah Tsuna.

"Chrome, maaf memanggilmu tiba-tiba. Tapi aku minta kamu menutup ini dengan ilusimu sekarang, sebelum Mamaku datang dan pertahankan ilusimu sampai aku pulang minggu depan." pinta Tsuna pada salah satu illusionist-nya tersebut.

"Tapi, Bossu...Mukuro-sama..." kata Chrome menatap ke arah Mukuro yang membeku berdiri di halaman rumah.

"Tenang saja, Chrome. Sepuluh menit setelah aku dan lainnya pergi, ini akan mencair. Setelah mencair, tolong sampaikan pesanku pada mereka." kata Tsuna.

"Pesan?" tanya Chrome bingung.

"Kuberi waktu untuk memperbaiki rumah selama 7 hari atau sesuatu akan terjadi." jawab Tsuna serius.

"ng…Bossu, sudah berapa lama mereka dibekukan?" tanya Chrome sebelum Tsuna pergi.

Tsuna masih berjalan dan sambil berpikir sebentar. "Hmm...aku rasa sudah 9 hari. Ya sudah, Jangan lupa sampaikan pesanku, ya." kata Tsuna lalu berlari pergi ke arah pelabuhan.

END OF FLASHBACK

"Be-begitulah..." kata Chrome menyelesaikan penjelsannya.

"Hmm, Ya sudahlah. Ini juga salah mereka sendiri." kata Reborn. Dibalik ilusi rumah yang terlihat biasa saja, Guardians Tsuna, Giotto dan guardians-nya, serta Varia sedang melaksanakan perintah Tsuna yaitu memperbaiki kerusakan pada rumahnya.

"Kalau begitu kami pergi ke hotel, ya. Ciao, Ciao."kata Reborn melambai pada Chrome. Bianchi hanya tersenyum.

Di perjalanan.

"Satu yang kutahu, Reborn. Tsuna yang marah sangat menyeramkan." kata Bianchi.

"Namanya juga muridku." kata Reborn tersenyum.

.

~END~

Chi : Huwaaa...kasihan sekali mereka harus bersih-bersih.YOSH! Sebagai fans sejati Kyo-chan dan Take-chan. Aku akan membantu mereka! KYO-CHAN, TAKE-CHAN, TUGGU AKUUU! /berlari ke rumah Sawada secepat lari Eyeshield 21/

Aira : ...kok dia malah pergi, sih? Padahal ia sebagai narator di sini. Hhhh...Ya sudahlah. Tsuna-sama, tolong gantikan Chi./menarik Tsuna/

Tsuna : HIIIEEEE! Kok aku, Aira-kun?!

Aira : /Deathglare/

Tsuna : Ba-Baiklah. Minna, terima kasih telah membaca dan tolong reviewnya, ya. Aira-kun akan membalas review-nya lewat PM. Ng...ngomong-ngomong Aira-kun akan membuat fanfict lagi kan?

Aira : ...aku sedang membuatnya. Tapi bukan KHR melainkan Kuroko no Basuke.

Tsuna : Heeee? Giliranku kapan?

Aira : Entahlah. Aku akan berkeliaran dari fandom satu ke fandom lainnya sesuai ide yang ada.

Tsuna : Ta-tapi fanfict KHR nanti pasti dibuat lagi 'kan?

Aira : ...Sampai jumpa lagi di fanfict-ku yang selanjutnya, Minna.

Tsuna : Heeee...aku dicuekin?!