Start For Loving You

Disclaimer: Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto.

Pairing: Sasuke-Sakura

Rate: T

Warning: Cerita gaje, OOC, alur kecepatan, typo's, semi-Canon, dll.

Summary: 'Hei, jika melihat kalian bertiga seperti itu, kalian benar-benar tampak seperti sebuah keluarga sungguhan, Sasuke, Sakura-chan! Kurasa ini sudah waktunya bagi kalian untuk membangkitkan kembali klan Uchiha, eh?/Hn. Tunggulah, Rokudaime-sama! Kupastikan restorasi klan Uchiha akan berjalan secepatnya.'/Semi-Canon.

Author by: Hikaru Sora 14

Please Enjoy Reading

Don't Like Don't Read

Keramaian yang sejak tadi siang menyelimuti kediaman Naruto, kini mulai tenggelam seiring dengan beralihnya sang raja siang ke peraduannya di belahan dunia lain.

Langit yang semakin gelap, mau tak mau mengharuskan para shinobi dan kunoichi yang hadir di rumah Naruto itu, untuk segera mengakhiri waktu kebersamaan mereka yang sangat jarang sekali mereka peroleh selama ini.

"Ryu-kun, Bibi Sakura pulang dulu yah," pamit Sakura tersenyum tipis sambil mencubit kecil kedua pipi tembem milik Ryu, yang saat ini tengah berada dalam gendongan sang bungsu Uchiha, Sasuke.

"Um, baiklah Bibi Cakula," Ryu menganggukkan pelan kepalanya, menanggapi ucapan Sakura.

Sakura kembali tersenyum sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada pipi kanan miliknya, seolah memberikan isyarat kepada Ryu agar mencium pipinya tersebut, seperti kebiasaan yang selalu mereka lakukan selama ini tatkala akan berpisah satu sama lain.

Menurut Ryu, kunoichi bersurai merah muda itu sudah seperti ibu kedua baginya selama ini. Dan sepertinya mulai saat ini, Ryu pun akan menjadikan Sasuke sebagai ayah kedua baginya.

Ryu pun mengecup singkat pipi putih sang gadis musim semi tersebut, seraya menampilkan cengiran lebarnya yang selalu tampak menggemaskan.

Lengkungan tipis tampak terukir pada wajah rupawan sang keturunan terakhir Uchiha, tatkala melihat interaksi kekasihnya dengan putra sahabatnya tersebut, yang tampak begitu intim.

"Hei, jika melihat kalian bertiga seperti itu, kalian benar-benar tampak seperti sebuah keluarga sungguhan, Sasuke, Sakura-chan! Kurasa ini sudah waktunya bagi kalian untuk membangkitkan kembali klan Uchiha, eh?" Ucap Naruto menggoda kedua sahabatnya tersebut, sambil menyeringai jahil ke arah keduanya.

Blusshhh ...

Sakura tampak salah tingkah karena pernyataan yang dilontarkan oleh sahabat blonde-nya tersebut.

Belum surut kebahagiaannya karena Sasuke yang tiba-tiba melamarnya malam ini, kini Naruto sudah berhasil menggodanya dengan perkataan yang berhasil membuat imajinasi sang gadis musim semi itu menjadi sedikit liar.

"Hn. Tunggulah, Rokudaime-sama! Kupastikan restorasi klan Uchiha akan berjalan secepatnya. Bukan begitu, Sakura?" Ucap Sasuke penuh percaya diri menjawab tantangan Naruto, sambil menampilkan seringaian khas-nya yang tampak begitu menawan.

"Ekh, I-Iya Sasuke-kun," gugup Sakura menjawab pertanyaan Sasuke. Kedua pipi putih mulus sang kunoichi medis itu semakin terlihat bersemu merah.

"Hahaha ... Baguslah Sasuke! Aku benar-benar membutuhkan generasi-generasi penerus berbakat di masa depan untuk Desa Konoha ini," ucap Naruto merasa puas dengan perkataan Sasuke.

"Naruto-kun! Sudah, jangan terus-terusan menggoda Sasuke-kun dan Sakura-chan seperti itu!" Hinata mencubit kecil pinggang Naruto, agar sang suami berhenti menggoda kedua sahabatnya itu.

"Hahaha ... Baiklah, baiklah Hime. Aku tidak akan menggoda mereka berdua lagi, Ne?" Ucap Naruto sambil mencium bibir mungil istrinya, yang saat ini tengah berada dalam rangkulan sebelah tangannya.

Sasuke, Sakura dan juga Juugo, hanya bisa sweatdrop melihat sikap sang Rokudaime Hokage, yang seenaknya saja mengumbar keromantisan bersama istrinya di hadapan mereka saat ini.

Sementara itu, Karin dan Suigetsu tampak tidak terlalu mempedulikan hal tersebut-ah, atau mungkin lebih tepatnya sedari tadi mereka memang benar-benar tidak menaruh perhatian pada apa yang sedang terjadi disana.

Suasana hati Karin masih terasa sangat buruk karena semua hal yang telah terjadi diantara Sasuke dan Sakura. Sementara itu, Suigetsu hanya bisa diam memperhatikan keadaan Karin yang dirasanya belum cukup membaik.

Melihat hal yang dilakukan oleh kedua orang tuanya saat ini, Ryu segera saja memejamkan kedua matanya, menuruti apa yang Naruto katakan sebelumnya saat mereka makan siang tadi.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya heran, tatkala melihat sang Uzumaki cilik tersebut memejamkan matanya. Namun, sesaat kemudian Sasuke menyadari apa maksud yang dilakukan oleh putra Naruto tersebut.

Bungsu Uchiha itu terkekeh pelan seraya bertanya kepada Ryu, "Apa Ayahmu yang memintamu untuk melakukan hal ini, Ryu-kun?"

"Um, iya Paman Cacuke. Ayah bilang jika Ayah dan Ibu melakukan hal cepelti itu lagi, Lyu halus menutup mata Lyu, cepelti ini," ucap Ryu menjawab pertanyaan Sasuke.

'Ck, dasar Dobe! Seharusnya dia tak melakukannya di depan anak-anak seperti ini!' Sasuke berdecak kesal didalam hatinya.

Sasuke pun berdehem guna menyadarkan Naruto dari tindakan yang dilakukannya saat ini. "Hentikan, Dobe!" Ucap Sasuke tegas.

Iris biru sapphire itu melirik ke arah Sasuke, yang saat ini tengah menatap tajam ke arahnya.

"Ahahaha ... Maaf, maaf Sasuke. Kau tahu, beberapa hari ini pekerjaanku sebagai Hokage benar-benar sibuk sekali. Aku jarang sekali pulang ke rumah, sehingga aku benar-benar kehilangan waktu bersama Hinata-chan dan juga Ryu-kun," terang Naruto memberikan penjelasan kepada Sasuke, setelah sebelumnya Naruto melepaskan pagutannya dari bibir ranum sang istri.

Sementara itu, Hinata tampak salah tingkah dan merasa malu atas apa yang baru saja ia lakukan bersama suaminya, Naruto.

"Bodoh! Apa kau tidak bisa menunggu sebentar saja untuk melakukannya nanti eh, Naruto-kun?" Geram Sakura merasa kesal dengan tindakan sahabatnya tersebut.

Kedua tangan gadis musim semi itu kini sudah terkepal dengan begitu kuat di depan dadanya, seolah siap memberikan pelajaran kepada sang Hokage saat ini.

"He-Hei, Aku 'kan sudah meminta maaf, Sakura-chan!" Ucap Naruto gelagapan sambil menyembunyikan tubuhnya dibalik punggung mungil Hinata. Kali ini, pria blonde itu tidak ingin merasakan kembali bogeman berkekuatan tenaga monster milik Sakura.

"Sa-Sakura-chan, tenanglah," pinta Hinata lembut sambil tersenyum canggung kepada Sakura.

Sakura pun hanya mampu menghembuskan napasnya perlahan-lahan, mencoba untuk menetralkan kembali emosinya yang sempat memuncak karena ulah Naruto.

"Baiklah, Hinata-chan," ucap Sakura mengalah. "Jika kau melakukan hal seperti itu lagi di tempat umum, terlebih lagi di hadapan anak kecil, maka aku tidak akan segan-segan melayangkan pukulan kesayanganku ini kepadamu, Naruto-kun," ucap Sakura memberikan ancaman kepada Naruto.

"Ha-Ha'i Sakura-chan!" Ucap Naruto menanggapi ancaman yang dilayangkan oleh Sakura. "Kenapa sifat galak Sakura-chan tidak hilang-hilang juga sih, Hime?!" Gerutu Naruto pelan di telinga sang istri, yang membuat Hinata terkekeh geli karenanya.

"Kau mengatakan sesuatu, Naruto-kun?!" Kedua emerald indah milik Sakura memicing curiga ke arah Naruto.

"Hahaha ... Aku sama sekali tidak mengatakan apapun, Sakura-chan," ucap Naruto menyangkal pertanyaan Sakura. Sang Hokage muda itu pun berjalan mendekati Sasuke, untuk segera mengambil putranya yang masih berada dalam gendongan sang Uchiha bungsu.

"Teme, cepatlah bawa calon istrimu itu untuk pulang, sebelum niatnya untuk menghajarku kembali muncul," bisik Naruto pelan di telinga Sasuke. "Dan satu lagi, sebenarnya tadi itu aku sengaja melakukannya di hadapan kalian, semata-mata untuk mengajarimu bagaimana cara mencium Sakura-chan nanti. Aku tahu jika kau sama sekali belum pernah menciumnya 'kan, Sasuke?" Ejek Naruto kepada pemuda Uchiha tersebut.

"Brengsek kau, Dobe!" Desis Sasuke tajam kepada Naruto. "Aku tidak membutuhkan ajaran sepele darimu itu, Naruto! Jangan meremehkan keturunan Uchiha sepertiku, Dobe!" Ucap Sasuke melanjutkan perkataannya sambil menyeringai penuh arti.

"Tou-chan dan Paman Cacuke cedang membicalakan apa cih?!" Tanya Ryu yang merasa penasaran dengan kegiatan yang dilakukan oleh kedua pria dewasa tersebut sedari tadi.

"Hahaha ... Tidak ada apa-apa Ryu-kun. Kami hanya membicarakan sebuah rahasia antar laki-laki saja, bukan begitu Sasuke?" Ucap Naruto berkilah terhadap pertanyaan putranya.

"Hn. Begitulah," jawab Sasuke singkat, sambil mengendikkan bahunya kecil.

Ryu pun hanya mengganggukkan kepalanya, seolah mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Ayahnya itu.

"Sakura, sebaiknya kita pulang sekarang sebelum malam semakin larut," ucap Sasuke mengajak Sakura untuk pulang ke kediamannya.

"Um, baiklah Sasuke-kun," ucap Sakura patuh sambil tersenyum simpul. "Sampai jumpa nanti Hinata-chan," pamit Sakura sambil memeluk hangat Hinata.

"Ne, Sakura-chan," Hinata tersenyum kecil sambil membalas pelukan Sakura.

Setelah itu, Sakura, Sasuke dan juga para anggota Tim Taka pun perlahan-lahan menghilang dari pandangan ketiga Uzumaki tersebut.

"Fuihh~... Yokattane, Sakura-chan sudah pergi dari sini," ucap Naruto penuh kelegaan sambil mengusap peluh yang menempel pada dahinya.

"Memangnya kenapa jika Bibi Cakula macih dicini, Tou-chan?" Tanya Ryu, yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebelumnya diantara Naruto dan Sakura. Hinata yang mendengar pertanyaan putranya, hanya mampu mengulum sebuah senyuman pada bibir mungilnya.

"Hm? Jika Bibi Sakura masih disini, maka ada kemungkinan Tou-chan akan dirawat di rumah sakit, Ryu-kun," ucap Naruto menjawab pertanyaan Ryu sambil terkekeh pelan.

"Eh, memangnya Tou-chan cedang cakit apa? Bibi Cakula 'kan Ninja Medis, jadi bukankah wajal jika Bibi Cakula membawa Tou-chan yang cedang cakit ke lumah cakit, eh?" Tanya Ryu dengan wajah polosnya.

"Hahaha ... Kau ini benar-benar menggemaskan, Ryu-kun," Naruto menjawil kecil hidung mancung milik Ryu, yang tentu saja membuat sang Uzumaki cilik tersebut memberenggut kesal.

"Huh! Tou-chan cama cekali tidak menjawab peltanyaan Lyu!" Ucapan Ryu tersebut sukses membuat Naruto dan Hinata tertawa geli karenanya.

oOo

Huaacchimm ... Huaacchimm ...

Suara bersin yang berasal dari gadis musim semi itu, sukses mengukir ekspresi kekhawatiran pada wajah rupawan sang Uchiha bungsu, Sasuke.

"Kau sakit, Sakura?" Tanya Sasuke sambil menaikkan sebelah alisnya ke atas.

"Hm, tidak Sasuke-kun. Hidungku hanya terasa sedikit gatal saja," ucap Sakura sambil mengulum senyum ke arah Sasuke. "Jangan khawatir, Sasuke-kun," Sakura melanjutkan perkataannya sambil mengeratkan genggaman tangannya kepada Sasuke, guna memberikan keyakinan kepada sang bungsu Uchiha, bahwa dirinya baik-baik saja.

"Hn. Aku per-..." Ucapan Sasuke terinterupsi oleh seorang kunoichi yang tiba-tiba hadir di hadapan mereka.

"Sakura-chan! Akhirnya aku menemukanmu juga," ucap kunoichi berambut hitam pendek sebahu, dengan nafas terengah-engah kepada Sakura.

"Shizune Senpai! Ada masalah apa?" Tanya Sakura penuh raut kekhawatiran pada wajahnya. Jika sampai Shizune datang mencarinya seperti ini, pasti tengah terjadi sesuatu di Rumah Sakit Konoha saat ini.

"Pasien yang bernama Ken Kenichi, tiba-tiba saja kondisi jantungnya semakin memburuk Sakura-chan.Aku rasa tidak ada waktu lagi untuk menunggu, kau harus segera pergi ke rumah sakit secepatnya, Sakura-chan," ucap Shizune memberikan penjelasan kepada Sakura.

Ah, Ken Kenichi adalah salah satu pasien pengidap lemah jantung, yang selama satu tahun ini menjalani pengobatan dan perawatan intens, dibawah pengawasan Sakura.

Sakura menganggukkan kepalanya mengerti atas penjelasan yang diberikan oleh Shizune.

"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu Sakura-chan. Tsunade-sama dan diriku yang asli, saat ini tengah menangani operasi yang sangat penting," pamit Shizune kepada Sakura, yang kembali mendapat balasan anggukan dari Sakura.

Poofftt ...

Sosok kagebunshin Shizune pun seketika menghilang dari pandangan Sakura, Sasuke dan juga para anggota Tim Taka.

"Sasuke-kun, maafkan aku. Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang. Kau pulanglah terlebih dahulu, Ne Sasuke-kun? Mungkin besok atau nanti, setelah pemeriksaannya berakhir aku akan mengunjungimu," ucap Sakura penuh penyesalan sambil tersenyum lembut kepada Sasuke.

Dilepaskannya genggaman tangannya dari tangan Sasuke dengan begitu tergesa-gesa. Namun, belum sempat Sakura melangkahkan kaki jenjangnya untuk menuju rumah sakit, seseorang telah kembali menahan tangannya.

"Hn. Aku ikut," ucap sang Uchiha bungsu datar.

"Ekh?! Ta-..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Sasuke sudah menarik tangan Sakura dan membawanya melesat dengan begitu cepat menuju rumah sakit Konoha.

Karin hanya mampu menatap sendu ke arah punggung dua sosok yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya kedua manik indahnya.

"Karin, jangan seperti ini terus," ucap Suigetsu merasa iba dengan keadaan teman satu timnya tersebut. Kembali, pemuda itu merengkuh Karin ke dalam pelukannya, mencoba memberikan sedikit ketenangan pada gadis Uzumaki tersebut.

"Kurasa kau pun mengerti Karin, jika perasaan Sasuke-kun terhadap Sakura-chan tertanam begitu kuat. Menutupi dan mengorbankan perasaannya sendiri terhadap gadis yang ia cintai selama ini, demi memenuhi ambisinya membalas dendam terhadap kakaknya dulu, tentu bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan olehnya," ucap Juugo mencoba memberi pengertian terhadap Karin.

Karin semakin merasa tertekan dengan ucapan yang dilontarkan oleh Juugo kepadanya. Disembunyikannya wajah cantik miliknya pada dada bidang Suigetsu, saat aliran air mata itu mulai membasahi wajahnya.

"Menyerahlah, Karin! Jangan hancurkan kebahagiaan Sasuke-kun yang baru saja dimulai bersama gadis itu," ucap Juugo sambil menepuk pelan bahu Karin, sebelum akhirnya pemuda bersurai orange itu berlalu dari hadapan Karin dan Suigetsu.

"Aishh ... Juugo! Ke-..."

"Sudahlah Suigetsu. Apa yang dikatakan oleh Juugo memang benar," Karin mendongak menatap sendu pemuda dihadapannya.

"Karin ..."

"Aku memang seharusnya menyerah terhadap Sasuke-kun. Gadis itu ... memiliki keteguhan hati yang begitu besar terhadap perasaannya kepada Sasuke-kun," ucap Karin lirih sambil mengalihkan pandangannya ke arah hamparan langit malam yang tampak hampa tanpa adanya keberadaan bintang-bintang yang menghiasinya.

Mendengar kata-kata yang terlontar dari gadis yang diam-diam ia sukai itu, hati Suigetsu terasa begitu mencelos. Di satu sisi, Suigetsu merasa senang dengan pernyataan Karin tersebut, yang berarti dengan mengalahnya perasaan Karin terhadap Sasuke, Suigetsu memiliki kesempatan untuk meraih hati sang gadis Uzumaki tersebut.

Namun, di sisi lain Suigetsu pun merasa tak sanggup melihat kerapuhan yang ditunjukkan oleh gadis cantik itu.

"Kalau begitu ... mulai saat ini kau bisa bergantung kepadaku, Karin. Aku akan selalu siap menemanimu kapan saja kau membutuhkan seorang teman," ucap Suigetsu membingkai wajah cantik Karin sambil tersenyum lembut ke arah gadis Uzumaki tersebut.

"Suigetsu ... Kau ...?"

oOo

"Sasuke-kun, tunggulah disini. Aku usahakan pemeriksaannya tidak akan berjalan lama, Ne?" Ucap Sakura tergesa-gesa memakai jas dokter putih miliknya sambil melangkahkan kaki jenjangnya ke arah pintu ruang kerja pribadinya.

"Hn," gumam Sasuke singkat.

Sakura tersenyum tipis kepada pemuda raven tersebut, sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan Sasuke sendirian disana.

Kedua onyx indah milik Sasuke pun terpejam, diiringi dengan hembusan napas yang menguar pelan dari bibir tegasnya. Entah mengapa, rasanya ada sedikit perasaan kecewa yang menyelinap masuk ke dalam hatinya saat sang kekasih pergi meninggalkannya.

Padahal malam ini, ada begitu banyak hal yang ingin Sasuke bicarakan dengan gadis musim semi itu. Menghabiskan waktu berdua saja, untuk melampiaskan perasaan rindu yang terasa begitu membuncah dalam dadanya saat ini.

Namun, mengingat jika Sakura pergi untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai kunoichi medis, Sasuke pun berusaha untuk menekan perasaan egoisnya tersebut.

Diedarkannya pandangan kedua manik hitamnya ke seluruh penjuru ruangan kerja milik Sakura yang tampak begitu rapi, hingga akhirnya pandangannya terfokus pada dua bingkai foto yang terletak di atas meja kerja Sakura.

Sasuke pun perlahan berjalan ke arah meja kerja Sakura untuk melihat kedua foto tersebut. Ah, rupanya kedua foto ini merupakan foto anggota tim tujuh dengan formasi anggotanya yang sedikit berbeda, dimana keberadaan Kakashi dan Sasuke digantikan oleh keberadaan Yamato dan Sai.

Diraihnya bingkai foto yang merupakan foto tim tujuh saat mereka masih berstatus genin. Raut wajah penyesalan tampak terukir di wajah rupawannya, tatkala memperhatikan potret dirinya pada foto tim tujuh tersebut.

Sosok dirinya saat berusia dua belas tahun, dimana saat itu hatinya terselimuti penuh oleh ambisi balas dendam terhadap kakak kandungnya sendiri, membuat dirinya tidak bisa untuk terus menerus bergelung dalam perasaan hangat dan nyaman, yang terjalin dari hubungannya bersama Kakashi, Naruto, dan juga Sakura.

Melepaskan ikatan kebersamaan dengan ketiga orang berharganya tersebut, tentu bukanlah sesuatu hal yang dapat dikatakan mudah.

Kakashi, yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri, dimana guru bersurai perak itu telah banyak memberikan pelajaran yang berarti dalam meningkatkan kemampuan jurus-jurus yang dimilikinya.

Naruto, rival sekaligus sahabat yang begitu berisik dan menyebalkan baginya. Sosok yang telah ia anggap sebagai seorang adik dalam hidupnya.

Sosok yang berhasil membuatnya menyadari kelemahannya, sehingga mendorongnya untuk mencari kekuatan di tempat Orochimaru, agar bisa secepatnya membalas dendam terhadap Uchiha Itachi.

Sosok yang diam-diam Sasuke kagumi akan keteguhan hatinya yang begitu besar, yang mampu menggugah hati kecil setiap orang yang melihatnya.

Dan juga Sakura, satu-satunya gadis yang mampu mengambil hatinya dengan segala sikap menyebalkan yang dimilikinya.

Gadis yang dengan seenaknya masuk ke dalam celah hatinya dan selalu memenuhi pikirannya selama ini. Gadis yang tak pernah menyerah akan perasaannya, meski telah berkali-kali Sasuke sakiti hatinya.

Sekali lagi, Sasuke kehilangan dunianya saat melepaskan ikatannya bersama ketiga anggota Tim Tujuh tersebut, setelah sebelumnya dia kehilangan seluruh anggota keluarganya saat pembantaian klan Uchiha.

Seketika hatinya terasa berdenyut sakit, mengingat semua hal yang telah terjadi di masa lalu. Dicengkramnya dengan begitu kuat bagian depan pakaian putih miliknya, seolah tengah meredakan sesak yang berkecamuk pada dadanya saat ini.

"Ck, kuso!" Geram Sasuke berdecak kesal sambil melayangkan kepalan tangannya pada meja kerja Sakura.

oOo

Krriieettt ...

"Sasuke-kun, kau masih disini?" Tanya Sakura penasaran sambil perlahan masuk ke dalam ruang kerja pribadinya. Emerald-nya menelisik setiap sudut ruangan, untuk mencari keberadaan sang bungsu Uchiha.

Namun, yang didapati oleh Sakura adalah keadaan ruang kerjanya yang tampak kosong, tanpa adanya keberadaan sang keturunan terakhir Uchiha disana.

Sakura menghela napasnya kecewa, merasa bersalah karena telah membuat kekasihnya menunggunya dalam waktu yang lama.

Perlahan, gadis musim semi itu melangkahkan kakinya menuju ke arah jendela besar, yang terdapat di belakang meja kerjanya.

Dibukanya lebar jendela ruangannya tersebut, membiarkan tubuh lelahnya tertepa oleh hembusan angin malam yang terasa begitu sejuk membelai wajahnya.

"Hah~... Sudah kuduga jika Sasuke-kun tidak akan suka berlama-lama menungguku," gumam Sakura pelan, entah kepada siapa.

"Hn. Seharusnya memang seperti itu, Sakura," ucap seseorang datar, yang terdengar dari arah samping Sakura.

"Ekh, Sa-Sasuke-kun?!" Pekik Sakura saat melihat kekasih raven-nya tengah berdiri sambil bersedekap dada, di samping jendela ruangan kerjanya.

"Hn," gumam Sasuke sambil tersenyum tipis ke arah Sakura.

"Apa yang kau lakukan disana, Sasuke-kun?" Tanya Sakura penasaran sambil menaikkan sebelah alisnya ke atas.

"Hn. Mencari bintang. Tapi sayangnya, hari ini langit malam sedang tak bersahabat dengan para bintang-bintang itu," tunjuk Sasuke ke arah langit malam yang hanya dihiasi oleh keindahan sang ratu malam.

"Untuk apa?!" Tanya Sakura lagi, yang tidak mengerti dengan maksud Sasuke mencari bintang saat ini. Lagipula, sejak kapan pemuda Uchiha itu memiliki hobi untuk menikmati keindahan bintang, eh?

"Ketenangan," ucap Sasuke terkekeh pelan sambil berjalan menghampiri Sakura. Lagi-lagi Sakura dibuat tak mengerti dengan ucapan yang terlontar dari mulut sang bungsu Uchiha tersebut.

"Ketenangan?" Gumam Sakura ragu, mengulang perkataan Sasuke. "Apa kau sedang mempunyai masalah saat ini, Sasuke-kun?" Tanya Sakura khawatir.

Sasuke pun memanjat kusen jendela untuk masuk kembali ke dalam ruangan kerja Sakura.

"Hn," Sasuke tersenyum tipis tatkala dirinya sudah berada tepat di hadapan Sakura. Kedua onyx-nya menatap penuh arti ke dalam kedua manik hijau indah milik Sakura.

Diraihnya secara perlahan tangan kanan Sakura dengan menggunakan kedua tangan kekarnya. Menggenggamnya dengan begitu erat, namun tetap terasa lembut oleh Sakura. Diarahkannya genggaman tangan mereka pada dada bidang sebelah kiri sang pemuda Uchiha tersebut.

"Entah mengapa ... disini rasanya begitu sakit dan juga sesak, saat aku mengingat kejadian di masa lalu, Sakura," ucap Sasuke tersenyum pahit kepada Sakura.

"Sasuke-kun ..." Gadis musim itu menatap sendu ke arah kekasihnya tersebut. Dieratkannya genggaman tangan mereka pada dada kiri Sasuke, seolah-olah gadis musim semi itu tengah menyalurkan kekuatan batin kepada Sasuke saat ini.

Ya, Sakura tahu jika kekasihnya itu memang memiliki masa lalu yang sangat buruk. Kehilangan keluarga yang ia sayangi karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Uchiha Itachi.

Melanjutkan hidupnya tanpa kasih sayang kedua orang tua, membuat hatinya menjadi dingin karena ambisi balas dendamnya terhadap sang kakak.

Membunuh sang kakak, yang ternyata selama ini menyembunyikan suatu kebenaran atas apa yang telah Itachi lakukan terhadap klan mereka dan juga dirinya.

Satu persatu kejadian yang dialami oleh Sasuke tersebut, tentu saja berhasil menorehkan luka batin yang begitu dalam pada hatinya selama ini. Luka yang begitu lekat membekas pada ingatan dan juga hatinya, seperti tak pernah bisa hilang oleh berlalunya waktu.

Namun, Sakura tak pernah tahu jika selama ini Sasuke pun menyimpan sebuah luka akan perasaan cintanya terhadap Sakura. Membohongi hatinya sendiri dan menyakiti hati gadis yang dicintainya, hal itu benar-benar terasa begitu menyiksa batinnya secara perlahan-lahan.

"Kau tahu Sakura? Selama ini, bintang-bintang itulah yang selalu berhasil memberikan ketenangan kepadaku. Meskipun sebenarnya aku menyadari, jika ketenangan yang mereka berikan selama ini hanyalah sebuah ketenangan semu," Sasuke tersenyum miris saat mengucapkan hal tersebut.

Ya, selama ini Sasuke selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa bintang-bintang itu mampu memberikan ketenangan pada hatinya. Namun, yang sesungguhnya terjadi adalah Sasuke selalu membayangkan sosok gadis musim semi itu diantara ratusan bintang-bintang yang berpendar di atas langit malam.

"Ya, aku mengerti Sasuke-kun," ucap Sakura tersenyum pedih kepada Sasuke. "Ketenangan nyata yang sesungguhnya, tentu saja hanya bisa kau dapatkan dari keberadaan keluargamu disisimu. Ayah, Ibu, serta Kakak yang selalu kau cintai dan selalu mencintaimu, Sasuke-kun," ucap Sakura melanjutkan perkataannya.

"Hn, kau benar Sakura," ucap Sasuke tersenyum simpul kepada Sakura. "Tapi, sepertinya kau melupakan satu orang lagi yang selalu mampu memberikan ketenangan kepadaku selama ini eh, Sakura?" Sasuke mengacak pelan surai pendek merah muda milik Sakura, setelah sebelumnya Sasuke melepaskan genggaman tangannya pada Sakura.

"Hm, siapa?" Tanya Sakura penasaran.

"Gadis kecil yang menjadi rekan satu tim denganku saat genin. Gadis menyebalkan yang selalu seenaknya saja memelukku dan menangis, saat aku tengah terluka karena serangan musuh. Gadis berisik yang selalu antusias saat bertemu denganku. Gadis yang se-..." Belum sempat Sasuke menyelesaikan ucapannya, sang gadis musim semi itu sudah menyela terlebih dahulu.

"He-Hei, Hentikan Sasuke-kun!" Ucap Sakura sambil meringis kecil, tatkala Sasuke mengungkit-ngungkit sosok dirinya yang begitu menyebalkan di masa lalu.

"Hn, kenapa?" Tanya Sasuke sambil menyeringai tipis ke arah Sakura.

"Ugh~... Kau tahu, Sasuke-kun? Jika diingat-ingat kembali, semua hal yang telah aku lakukan dulu terhadapmu terasa begitu memalukan," ucap Sakura tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Tuk ...

Pemuda Uchiha itu menyentil pelan dahi lebar milik sang gadis musim semi, sambil terkekeh pelan. "Kau baru menyadarinya sekarang eh, Sakura?"

"Hei, seharusnya kau bisa memaklumi semuanya, Sasuke-kun!" Sakura memberenggut kesal kepada Sasuke. "Jika kau memperhatikan anak-anak gadis yang lain, pasti mereka pun akan bersikap sama seperti yang aku lakukan terhadapmu, jika mereka berhadapan dengan anak laki-laki yang mereka sukai," Sakura melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil menggembungkan kedua pipinya yang merona merah.

"Hn, sayangnya aku tidak begitu tertarik untuk melakukan hal semacam itu, Sakura," tanggap Sasuke terhadap perkataan Sakura.

"Yah, aku tahu itu, Sasuke-kun," ucap Sakura sambil menjawil hidung mancung Sasuke dengan gemas.

"Lepaskan, Sakura! Kau bisa membunuhku secara perlahan-lahan jika kau melakukan ini!" Ucap Sasuke datar dengan suara yang berdengung karena ulah sang gadis musim semi, yang semakin menekan hidungnya.

"Tidak mau, Sasuke-kun," tolak Sakura sambil tersenyum geli kepada kekasihnya tersebut.

"Lepaskan!"

"Tidak!"

"Sakura ..." seru Sasuke memanggil nama Sakura dengan penuh tekanan.

"Sasuke-kun~..." Sakura pun turut menyerukan nama Sasuke dengan seringaian jahil di bibir peach-nya.

"Cepat lepaskan, Sakura!"

"Ti-..."

Belum sempat Sakura melontarkan penolakannya kembali, Sasuke sudah terlebih dahulu membungkam bibir mungil milik Sakura, dengan sebuah ciuman lembut dari bibir tegasnya.

Spontan tangan Sakura pun terlepas dari hidung sang bungsu Uchiha tersebut. Kedua emerald-nya tampak menegang seketika, melihat wajah tampan kekasihnya dari jarak yang begitu dekat seperti saat ini.

Terlebih lagi, perlakuan Sasuke yang mengulum dengan begitu intens bibir ranumnya, membuat jantung Sakura berdebar-debar tak beraturan.

Alih-alih membalas ciuman yang tengah dilakukan oleh Sasuke, Sakura hanya terdiam saja menikmati setiap sentuhan lembut bibir Sasuke pada permukaan bibir mungil miliknya.

Merasa tak mendapat respon dari kekasihnya, Sasuke pun menyapukan lidahnya di atas permukaan bibir lembut Sakura. Memberikan isyarat agar sang kekasih segera membuka mulutnya, dan mengijinkan daging tak bertulang miliknya masuk ke dalam sana.

Sang gadis musim semi pun secara perlahan-lahan membuka mulutnya karena rangsangan yang diberikan oleh lidah Sasuke. Sasuke tersenyum menyeringai tatkala kekasihnya mulai membalas ciumannya tersebut.

Kedua onyx-nya terpejam, mengikuti sang emerald yang sudah terlebih dahulu bersembunyi di balik kelopak mata indah Sakura.

Sadar ataupun tidak, Sakura mulai mengalungkan kedua tangannya pada leher tegas sang bungsu Uchiha, sehingga menyebabkan tubuh mereka bersentuhan intim satu sama lain.

Sementara itu, Sasuke semakin menekan tengkuk belakang Sakura untuk memperdalam pagutan yang tengah mereka lakukan saat ini.

Interaksi yang dilakukan oleh sepasang kekasih itu pun berhasil menciptakan kehangatan di tengah-tengah dinginnya angin malam yang berhembus masuk dari jendela ruang kerja Sakura.

-TBC-

Ano ... Gomenasai karena Hika baru bisa update fic ini sekarang ... ^^ Lagi-lagi fic ini terbengkalai dalam jangka waktu yang sangat lama Hehe ... Maaf yang sebesar-besarnya yahh Minna-san ^^ Semoga masih ada diantara kalian yang masih berkenan untuk membaca fic ini dan memberikan masukan kepada Hika ^^

Terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini ^^

Salam Hangat,

Hikaru Sora 14

Balasan Review

Hayashi Hana-chan: Wahhh ... Arigatou Hayashi Hana-chan ^^ Maaf baru update chapter 3-nya ^^ Makasih buat semangatnya yahhh ^^

hanazono yuri: Sippp ini udha lanjut Senpai ^^ Maaf, karena masa hibernasi saya terlalu lama Hehe ^^ Arigatou~... ^^

May: Hehehe ... Sasuke harus dikasih private dulu kayaknya biar bisa jadi romantis ^^ Yuppzz, iya itu memang Hint Sui-Karin ^^ Um, kayaknya untuk sekarang Ryu-kun gak akan ketularan kemesuman Naruto. Tapi entahlah jika dia sudah beranjak dewasa Hehehe #peace ^^ Arigatou~... ^^

sofi asat: Hehe Arigatou ^^ Setelah Hika baca ulang ternyata Sasuke benar-benar OOC akut ^^ Jadi ngerasa aneh sekaligus lucu sendiri ngebayangin Sasuke seperti itu Hihi ^^ Iyyaa Karin kasihan, tapi itu adalah awal untuk mendekatkan Karin sama Suigetsu ^^

haruchan: Hehe okeee haruchan ^^ Iyaa, Hika udha pelajari lagi tentang penggunaan elipsis sama tanda hubung pemisahnya ^^ Makasih yahhh buat masukannya ^^ Hihi boleh-boleh ... bawa aja Ryu-kun ke rumah ^^ Biar nanti Bolt-kun yang gantiin peran anaknya Naruto Hehehe ...

Tiko: Sippp ini udha lanjut ^^ Hehe iyaaa Suigetsu pasti sama Karin ^^ Arigatou~...^^

cherryl: Hehe ... twist-nya benar-benar buat salah paham yahh ^^ Arigatou ... Semoga suka juga dengan chapter 3-nya ^^

CHERRYL: Ne, gak apa-apa kok ^^ Biar terlambat, tapi review dari kalian semua selalu membuat semangat saya bertambah ^^ Um, ditunggu yahh pernikahan SasuSaku nanti ^^ Arigatou~... ^^

kimzy1013: Iyaa pasti Karin sama Suigetsu kok ^^ Ini baru update chapter 3-nya ^^ Arigatou yahh udha R&R ^^

caesarpuspita: Wahhh ... Arigatou udha mau nunggu fic ini ^^ Maaf baru bisa update Hehe ... Selamat menikmati chapter 3-nya ^^

galenix: Hm, gak apa-apa kok :p yang penting udha dibaca sama direview Hehehe ^^ Arigatou Anchan ^^