Hai, semuanya! Saya kembali lagi dengan chapter 3 dari fic Di Antara Lima ini.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih bagi para pembaca yang sudah membaca bahkan mereview fic ini. Saya minta maaf untuk keterlambatan updet. Saya harap kalian tidak melupakan cerita ini dan terus mengikutinya.

Terima kasih untuk Lady Raven, tena, Codename Sailor D, Unknownwers, Yukari Wada, dan rasendriya indah atas review yang kalian berikan. Balasan reviewnya ada di bawah setelah ceritanya selesai.

Tanpa banyak basa-basi, saya mengucapkan selamat membaca kepada para pembaca semuanya.

Warning! First POV (tokohnya bisa siapa saja atau pembaca sendiri), AU, Gakuen Hetalia, OOC dan typo (bila ada).


Hetalia Axis Powers

Hidekaz Himaruya

Di Antara Lima

Neary Lan


Chapter 3

Jarak Dekat

Aku sedang duduk bersantai di ruang keluarga bersama mereka berempat yang terdiri dari Mathias, Emil, Berwald, dan Tino. Aku, Mathias, dan Tino hanya mengobrol sambil menonton TV dan menikmati cemilan yang disediakan, sedangkan Emil hanya menonton dalam diam walaupun sesekali Mathias mengganggunya. Berwald mengambil tempat duduk yang jauh dari kami sambil membaca bukunya yang sangat tebal. Sementara itu Lukas tidak terlihat bersama kami di sini. Aku menduga dia sedang mengurung diri di kamar seperti biasanya.

"Kau tadi lihat 'kan wajah si Sandiford yang kalah dari kita?" tanya Mathias kepada Tino yang sedang menggigit keripik kentangnya.

"Ya. Dia benar-benar terkejut ketika kamu dan Lukas berhasil menyarangkan gol di gawang mereka," kata Tino bersemangat. "Tidak sia-sia aku makan banyak tadi pagi."

"Oh, jangan lupakan juga peran Emil dan Berwald ketika menghadang pemain belakang mereka. Walaupun tubuhmu kecil, kau tetap bisa mengatasi mereka, Emil," kata Mathias yang tiba-tiba merangkul Emil dan mengacak-acak rambutnya. "Oh, kau juga hebat tadi, Tino."

"Hei, lepaskan aku, Mathias! Aku tidak sudi dikatai kecil olehmu!" seru Emil yang merasa terganggu dengan sikap Mathias.

Mathias pun melepaskan Emil setelah ia mengancam akan membiarkan burung puffin kesayangannya berkeliaran di kamar Mathias dan mengotori isi kamarnya dengan kotoran burung. Aku dan Tino hanya tertawa melihat tingkah mereka. Emil masih terlihat cemberut dan bagiku wajahnya yang sedang cemberut itu sangat manis dan menggemaskan. Berwald sendiri tampak tidak ambil pusing dengan percakapan kami.

Saat ini kami sedang membicarakan tentang pelajaran olahraga tadi siang. Anak laki-laki di kelasku tadi bertanding sepakbola melawan anak laki-laki dari kelas sebelah. Sementara itu anak perempuan hanya bermain voli, namun hanya sesaat karena kami ingin melihat pertandingan mereka.

Di kelas sebelah terdapat seorang anak laki-laki bernama Ralph Sandiford, seorang pemuda asal Australia yang katanya sangat hebat bermain sepakbola bahkan ia menjadi tumpuan harapan di kelasnya. Ia sangat yakin bisa mengalahkan kelas kami, namun Mathias pun juga memiliki keyakinan yang sama. Sayangnya pada saat itu Lukas menolak untuk bermain dengan alasan masih mengantuk.

Pada awalnya tim kami hampir kalah ketika Sandiford berhasil mencetak gol pertama untuk timnya, tetapi tak lama kemudian Mathias berhasil menyamakan kedudukan. Selanjutnya kedua tim terus berusaha untuk mencetak gol, tetapi tim kami sangat kewalahan menghadapi tim lawan yang memang kuat. Semuanya mulai berubah ketika Lukas bersedia main dan ia berhasil menyarangkan dua gol di gawang lawan yang membuat Sandiford tercengang. Mathias kembali menyumbangkan satu gol berkat operan dari Berwald. Pertandingan pun usai dengan skor 4-2 untuk kemenangan tim kami.

Ketika pertandingan berlangsung tadi aku mendukung mereka dengan penuh semangat. Tidak hanya aku saja, tetapi semua anak perempuan di kelasku mendukung mereka termasuk Laura. Sesekali Laura kembali menggodaku dan menyuruhku untuk memilih siapa yang paling hebat di antara mereka, tentu saja aku tidak bisa memilihnya.

"Mereka berlima benar-benar hebat. Tidak hanya hebat dalam pelajaran, tetapi juga hebat dalam olahraga," kataku di dalam hati. Kemudian aku teringat ketika Mathias dan Tino tersenyum kepadaku sambil berkata bahwa dukungan dariku sangat berarti bagi mereka. "Malunya saat mereka berkata seperti itu. Padahal aku merasa tidak melakukan apa pun, tetapi aku tetap saja merasa senang."

"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Tino sehingga membuatku menoleh padanya.

"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa," jawabku sambil tertawa canggung.

Tino hanya mengangguk dan kembali fokus pada layar televisi. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau aku teringat dengan kejadian seusai pertandingan sepakbola tadi. Saat itu mereka berdua benar-benar membuatku salah tingkah sehingga Laura tidak berhenti menggodaku seharian.

Saat berkumpul seperti ini memang menyenangkan. Aku dan Tino tidak berhenti mengobrol tentang berbagai hal sambil sesekali melirik layar televisi yang sedang menayangkan acara musik. Mathias mulai beraksi dengan menyanyikan lagu yang tengah dinyanyaikan band rock terkenal asal Inggris di acara musik tersebut. Suara Mathias benar-benar keras sehingga membuat pendengaran kami sedikit terganggu bahkan Emil sampai menutup telinganya.

Mathias mengajak Emil untuk bernyanyi bersamanya yang tentunya langsung ditolak oleh adik Lukas tersebut. Mathias juga mengajakku dan Tino untuk ikut bernyanyi, namun karena kami tidak mengetahui lagunya terutama aku yang kurang menyukai musik rock hanya bisa bertepuk tangan melihat aksi Mathias. Berwald sepertinya tidak terlalu terganggu dengan nyanyian Mathias yang penuh semangat itu.

"Suaramu benar-benar berisik, Mathias!" hardik Emil seusai Mathias berhenti bernyanyi.

Mathias hanya tertawa menanggapi komentar Emil dan berkata, "Itu namanya semangat! Lagu rock seperti tadi benar-benar membuatku bersemangat! Seharusnya kau juga ikut bernyanyi bersamaku, Emil."

"Aku tidak mau dan lepaskan aku," tolak Emil lagi ketika Mathias kembali merangkulnya.

"Kalian benar-benar akrab, ya," kata Tino tersenyum, kemudian ia menoleh padaku. "Iya, 'kan? Mereka berdua terlihat akrab. Sudah seperti kakak dan adik."

"Ah, benarkah? Wah, kalau begitu coba panggil aku 'Kakak', Emil," pinta Mathias sambil mengacak-acak rambut Emil.

"Kami sama sekali tidak akrab!" tolak Emil dengan tegas sambil mendorong Mathias untuk menjauh darinya. "Dan aku tidak mau memanggilmu kakak," tolak Emil lagi.

"Oh, ucapanmu membuat hatiku sakit," kata Mathias sambil mencengkeram dadanya dan berpura-pura terluka mendengar penolakan Emil.

"Itu karena kau sembarangan bicara, Mathias," seru Emil kesal.

Emil beranjak dari sofa dan duduk menjauh dari Mathias yang sepertinya kembali berniat untuk menggodanya. Aku dan Tino hanya bisa tersenyum melihat perilaku mereka berdua. Wajah manis Emil kini terlihat cemberut dan entah kenapa aku ingin sekali mencubitnya. Aku jadi merasa iri dengan Lukas yang memiliki adik semanis Emil.

Kalau bicara mengenai Lukas, aku merasa jarang melihat ia dan Emil berinteraksi akrab layaknya kakak adik seperti Emil dan Mathias saat ini. Aku lebih sering melihat mereka berdua menjauh dan menikmati dunianya sendiri serta seolah tidak menyadari keberadaan satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka, namun aku sangat menyayangkan hubungan dingin di antara kakak beradik itu.

"Akan lebih baik kalau mereka bisa akrab satu sama lain. Walaupun aku ingin mereka akrab, aku merasa tidak boleh mencampuri urusan mereka."

Suasana di ruang keluarga ini masih sama seperti sebelumnya. Emil kini duduk di sebelah Tino dengan berniat menjauh dari Mathias sambil mengunyah cokelat batang, sementara Mathias kini mulai membicarakan band rock favoritnya bersamaku yang hanya bisa terdiam karena sama sekali tidak mengerti akan apa yang diucapkannya. Kulirik Berwald yang masih terlihat santai menikmati bacaannya dan sama sekali tidak merasa terganggu dengan keributan yang terjadi sebelumnya. Aku ingin memuji Berwald yang bisa bersikap setenang itu, namun kini aku sadar kenapa dia bisa setenang itu ketika membaca. Di telinganya terdapat headset yang mungkin sedang memutarkan lagu-lagu klasik atau semacamnya.

"Pantas saja dia bisa setenang itu. Seharusnya aku menyadarinya sejak awal."

Seperti inilah aktivitas kami setelah pulang sekolah. Bersantai di ruang keluarga bersama beberapa dari mereka dan juga bibi. Terkadang bibi juga mengajakku menemaninya belanja, namun sejak tadi aku tidak melihat keberadaan bibiku. Aku rasa bibi sangat sibuk bekerja di kantornya dan mungkin saja akan pulang sore atau malam.

Tidak terasa sore telah menjelang dengan jarum jam yang menunjukkan pukul lima sore. Satu per satu dari kami meninggalkan ruangan keluarga ini untuk kembali ke kamar masing-masing dan mandi. Kelihatannya bibi masih belum pulang, aku harap ia tidak melewatkan makan malam bersama kami.

Aku dan Tino berjalan bersama menuju lantai dua sementara yang lain sepertinya sudah berada di kamar mereka masing-masing. Kami berpisah ketika sampai di koridor tempat kamar kami berenam berada. Tino tersenyum dan melambaikan tangannya singkat sebelum menutup pintu kamarnya, aku pun melakukan hal yang sama dengannya sebelum menutup pintu kamarku juga.

Aku segera mandi dan mengistirahatkan tubuhku di dalam bathtub dengan sabun beraroma lavender. Kamar mandi di mansion ini benar-benar besar dan membuatku betah berlama-lama di dalam. Usai mandi aku segera berpakaian dan mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Sesaat aku melirik jam dinding di kamarku yang telah menunjukkan pukul lima lewat empat puluh enam menit. Seharusnya pada jam seperti ini bibi sudah pulang dari kantor.

Aku segera keluar dari kamarku untuk membantu menyiapkan makan malam, walaupun sebenarnya para pelayan melarangku membantu tugas mereka. Tetapi, biasanya aku tetap bersikeras sehingga mereka hanya bisa menghela nafas menyerah. Bibi tidak mempermasalahkannya karena dia tahu kalau aku memang suka melakukan pekerjaan rumah.

Pada saat aku ingin berbelok di suatu koridor aku tidak sengaja menabrak seseorang. Aku pun terjatuh dan mengeluh kesakitan, tetapi aku belum sempat melihat wajah orang yang menabrakku. Ketika aku ingin berdiri tiba-tiba sebuah tangan terulur padaku. Aku menatap tangan pucat yang terulur tersebut dan sampailah pandangan mataku bertemu dengan sepasang mata biru pudar yang hampa itu.

"Lu-Lukas!" seruku sedikit terkejut ketika melihat wajahnya.

Lukas hanya diam menatapku, namun sorot matanya menyiratkan agar aku segera menyambut uluran tangannya. Aku pun menerima uluran tangannya dan ia membantuku berdiri.

"Te-terima kasih," ujarku dengan kepala sedikit tertunduk.

Lukas masih terdiam. Aku memberanikan diriku untuk menatap wajahnya. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa canggung apalagi ketika ia menatapku dengan pandangan yang penuh arti sehingga tanpa sadar aku langsung menundukkan kepalaku. Hal seperti ini selalu kualami jika berada di dekatnya.

"Aduh, kenapa dia menatapku seperti itu? Apa yang harus kulakukan? Apa langsung pergi saja?" batinku yang kacau berucap demikian.

Tiba-tiba saja aku merasa Lukas berjalan mendekatiku bahkan terlalu dekat. Kini wajahnya berjarak tipis dengan wajahku sehingga aku kembali menundukkan wajah. Entah kenapa aku sama sekali tidak bisa beranjak dari tempatku berdiri seakan kakiku dipalu ke lantai. Tatapan matanya yang bersorot dingin itu menatap mataku selama beberapa saat. Di dalam hati aku bertanya-tanya tentang apa yang ingin dilakukannya padaku. Aku segera menahan nafas ketika Lukas tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku sehingga tanpa sadar mataku terpejam dengan rapat dan aku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Rambutmu wangi lavender," kata Lukas dengan suara rendah yang nyaris membuat jantungku melompat keluar. Baru kali ini aku mendengar suaranya yang seperti itu. Tidak ada nada dingin di dalam ucapannya tadi. "Kau memakai sampo beraroma lavender?" tanyanya.

Aku segera membuka mataku ketika mendengar pertanyaan Lukas dan menjawab, "I-iya. Me-memangnya kenapa?" Aku memberanikan diri bertanya padanya. "De-dekat sekali," batinku ketika menyadari jarak wajahnya yang dekat denganku bahkan samar-samar aku dapat mencium aroma parfum yang dikenakannya.

Lukas menjauhkan wajahnya dariku, kemudian ia menatapku tanpa menjawab pertanyaan yang kuajukan. Kurasakan wajahku mulai memanas dan pasti memerah karena tindakannya yang tiba-tiba tadi.

"Rahasia," jawab Lukas dengan singkat.

Aku terdiam mendengar jawabannya, kemudian ia pergi meninggalkanku begitu saja setelah apa yang terjadi tadi. Punggung Lukas telah menjauh dariku dan aku tidak berniat mencegatnya untuk mendapatkan jawaban yang pasti karena aku tahu kalau dia tidak akan mau memberitahuku.

"A-apa-apaan dia tadi? Jantungku hampir saja copot," gerutuku. "Tetapi, kenapa Lukas bersikap seperti itu dan apa maksudnya? Apa hubungannya rahasianya dengan sampo yang kupakai? Huh, Lukas benar-benar aneh!" seruku yang sedang kebingungan karena baru kali ini aku mendapati Lukas bersikap seperti itu padaku.

Pada saat aku sedang memikirkan tindakan Lukas tadi, tiba-tiba saja sebuah tangan menepuk pundakku hingga membuatku terkejut. Aku segera menoleh kepada sosok yang menepuk pundakku tadi yang ternyata adalah Mathias dan Tino yang berdiri disebelahnya sedang tersenyum padaku. Aku mengelus dadaku ketika menyadari kehadiran mereka.

"Ternyata kalian. Aku benar-benar kaget. Kupikir siapa tadi," kataku lega.

"Maaf, kalau aku mengejutkanmu," kata Mathias sedikit menyesal.

"Ah, tidak apa-apa," kataku. "Oh, iya. Kalian mau kemana?" tanyaku.

"Ke ruang tengah sambil menunggu waktu makan malam. Apa Bibi sudah pulang?" tanya Mathias.

"Aku juga belum tahu. Seharusnya Bibi sudah pulang sekarang," jawabku sambil melirik jam dinding di sekitar koridor tempat kami berada.

"Ngomong-ngomong, kenapa kamu berdiri sendirian disini?" tanya Tino.

Aku ingin segera menjawab pertanyaan Tino, namun tiba-tiba saja bayangan tentang tindakan Lukas beberapa menit yang lalu kembali teringat olehku. Wajahnya yang mendekat ke wajahku, suara rendahnya yang belum pernah kudengar, aroma parfumnya yang menenangkan, serta sorot matanya yang seakan membiusku. Hanya dengan mengingat hal-hal tersebut tanpa sadar membuat wajahku kembali memanas dan membuatku terlupa sesaat pada kedua pemuda, yaitu Mathias dan Tino yang sedang berdiri di hadapanku.

"Apa yang kupikirkan?" batinku menjerit. Kedua tanganku memegang pipiku dengan maksud untuk menyembunyikan rona merah di wajahku.

"Kamu tidak apa-apa? Wajahmu memerah," tanya Tino yang menyadarkanku dari pikiranku tentang Lukas.

Aku menatap mereka berdua yang terlihat kebingungan dan khawatir dengan sikapku.

"Ti-tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa," kataku dengan memaksa tawa. "Ah, malunya. Aku jadi merasa konyol di hadapan mereka," ucapku di dalam hati sambil mengalihkan wajahku ke arah lain. Aku tak ingin mereka melihatku seperti ini yang mendadak bersikap aneh hanya karena seorang Lukas.

Tiba-tiba saja Tino menghampiriku. Kurasakan sebelah tangannya memegang pipiku dan mengarahkanku untuk menatapnya, kemudian kedua dahi kami saling bersentuhan. Aku terkejut dengan tindakan Tino terlebih ketika menyadari jarak wajah kami yang dekat, mata ungunya yang selalu memancarkan kehangatan kini juga dapat kulihat secara dekat dan aroma parfumnya yang lembut menguar masuk ke indera penciumanku. Aku merasa déjà vu dengan kejadian ini. Wajahku pun kembali memanas.

"A-apa yang kamu lakukan, Tino?" tanyaku gugup. Mataku mencoba melirik ke arah lain dan dapat kulihat ekspresi terkejut Mathias yang melihat tindakan Tino.

"Memeriksa suhu tubuhmu. Wajahmu memerah, jadi kupikir mungkin saja kamu demam," jawab Tino yang masih tetap bertahan dengan posisi ini.

Kurasa ada kesalahpahaman disini. Wajahku memerah bukan karena demam, tetapi karena teringat dengan tindakan Lukas. Aku ingin lepas dari posisi kami yang dekat ini, namun tubuhku seakan membeku. Tatapan Tino seakan memaksaku untuk diam tak berkutik dan baru kali ini kulihat sorot matanya yang seperti itu. Keadaan di sekitar pun mulai terasa hening. Aku bingung, sudah dua pemuda yang membuat wajahku merona karena tindakan mereka yang diluar dugaanku.

"Ah, kenapa Tino menatapku seperti itu? Aku tidak sanggup berlama-lama di posisi seperti ini."

"Hei, apa yang kau lakukan, Tino?" seru Mathias yang segera memisahkan aku dan Tino. Mathias menarikku ke belakangnya. Entah kenapa aku merasa lega saat Mathias memisahkan kami dari posisi tadi.

"Aku hanya memeriksa suhu tubuhnya," jawab Tino dengan polosnya.

Mathias terlihat tidak terima dengan jawaban Tino, kemudian ia berkata, "Tidak perlu sedekat itu, 'kan? Tindakanmu tadi terlalu intens."

"Aku rasa itu hanyalah pemeriksaan standar. Iya, 'kan?" tanya Tino yang menatapku sambil tersenyum manis layaknya anak kecil tak berdosa.

Aku hanya terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan Tino. Sementara itu Mathias terlihat cemberut ketika melihat sikap manis Tino padaku. Aku tahu mungkin Tino hanya mencemaskanku dan tidak berniat melakukan hal yang aneh-aneh. Tetapi, tetap saja aku merasa kaget jika ada laki-laki yang mendekatiku seperti itu.

"Jangan menatapnya seperti itu, Tino," seru Mathias. "Lihat, apa yang sudah kau lakukan padanya? Wajahnya jadi memerah seperti ini," kata Mathias yang sedang menatapku.

"Sudah kubilang aku hanya melakukan pemeriksaan standar. Karena wajahnya memerah seperti itu, makanya kupikir ia terserang demam," kata Tino lagi.

Mathias terdiam mendengar ucapan Tino. Tiba-tiba saja wajahnya mendekat dan berucap sepelan mungkin padaku. Aku hanya mampu menahan nafas ketika melihat jarak wajah kami yang dekat dan dapat kulihat mata biru yang biasanya ceria itu kini sedang menatapku dengan serius.

"Jangan berwajah seperti itu di depan Tino," kata Mathias yang hampir menyamai bisikan. Kami bertatapan sesaat dalam diam dan dapat kurasakan wajahku memerah mendengar ucapannya yang justru menimbulkan pertanyaan bagiku. Kemudian Mathias menghela nafas dan menarik wajahnya menjauh. "Ayo kita ke ruang makan. Sudah hampir waktunya makan malam," kata Mathias lagi sambil menarik tanganku untuk mengikutinya.

"Eh, tunggu, Mathias!" seruku yang terkejut karena ditarik secara tiba-tiba.

"Hei, kalian tidak bermaksud meninggalkanku, 'kan?" tanya Tino yang segera menyusul kami.

"Kau bisa pergi sendiri, 'kan?" tanya Mathias yang masih menatap Tino dengan kesal. Ia bahkan mempercepat langkah kakinya sehingga membuatku harus menyesuaikan langkah kakiku dengannya.

Aku menoleh menatap Tino yang terlihat menahan tawa melihat tindakan Mathias. Ia segera menyesuaikan langkah kakinya dengan kami. Aku terkejut ketika menyadari sebelah tangannya menggenggam tanganku yang bebas.

"Mungkin, tetapi aku ingin pergi bersama-sama," kata Tino sambil tersenyum hangat padaku.

Aku hanya membalas senyuman Tino dengan tersenyum lemah dan kurasakan genggaman Mathias di tanganku semakin kuat sehingga aku pun menoleh padanya. Mathias semakin menarikku dengan kuat, namun Tino seolah tidak masalah dengan tindakan Mathias tersebut. Aku sendiri hanya bisa menggelengkan kepalaku ketika melihat kelakuan mereka berdua yang tidak seperti biasanya.

"Apa maksud ucapan Mathias tadi? Lalu, kenapa aku merasa sesaat tatapan mereka bertiga berbeda dari yang biasanya? Kalau Lukas mungkin tidak terlalu berbeda, tetapi kalau Mathias dan Tino rasanya aneh. Ah, sudahlah. Tidak perlu kupikirkan."

Tidak lama kemudian kami tiba di ruang makan yang masih kosong dan hanya ada beberapa pelayan yang sedang sibuk menyajikan menu makan malam hari ini. Hanya selang beberapa menit kemudian Lukas dan Berwald pun muncul. Kedua pemuda itu terlihat sedikit heran ketika melihat kami bertiga, terutama kurasakan pandangan mereka tertuju padaku yang mana kedua tanganku digenggam oleh Mathias dan Tino. Aku meminta mereka berdua untuk melepaskan tanganku dan mereka menurut.

Seorang pelayan menyapa kami semua dan segera menarik kursi untuk kami duduki. Mathias langsung mengambil alih tugas pelayan yang akan menarik kursiku dan mempersilakanku untuk duduk, kemudian ia duduk di sebelah kananku sementara Tino duduk di sebelah kiriku. Aku diapit oleh mereka berdua seperti biasanya.

Kami menunggu kemunculan bibi sebelum memulai makan malam ini. Kudengar dari seorang pelayan kalau bibi sudah pulang. Mathias maupun Tino sesekali mengajakku berbicara, namun tidak sengaja tatapan mataku bertemu dengan Lukas yang sedang mengobrol dengan Berwald. Aku langsung mengalihkan wajahku ke arah Tino, tidak sanggup menatap mata bersorot hampa itu. Tak lama kemudian bibi pun muncul bersama Emil dan segera mengambil kursi yang masih kosong.

"Selamat malam, anak-anak! Bagaimana kabar kalian hari ini?" tanya bibi seperti biasa sebelum mulai makan.

"Baik, Bi," jawab kami semua dengan nada yang berbeda-beda.

Setelah melakukan basa-basi akhirnya kami pun mulai menyantap hidangan yang sangat menggiurkan ini. Ketika makan malam berlangsung suasana akan terasa hening dan hanya akan terdengar bunyi peralatan makan yang saling beradu. Namun, tiba-tiba saja bibi membuka pembicaraan.

"Bibi ingin memberitahukan sesuatu pada kalian," ujar bibi memulai pembicaraan, "besok Bibi akan pergi ke Jepang selama tiga hari."

"Ke Jepang, Bi?" tanya Mathias.

"Iya, urusan bisnis seperti biasa. Lagipula Bibi sudah lama tidak ke Jepang, sayang sekali sekarang bukan musim semi. Kalau musim semi kita bisa hanami bersama-sama," kata bibi dengan antusias. Nada bicaranya terdengar ceria.

"Bibi pergi lama sekali," ujarku.

"Ya, mau bagaimana lagi. Bibi tidak bermaksud meninggalkanmu, sayang. Tiga hari juga bukan waktu yang lama," kata bibi yang mencoba menghiburku. "Lagipula kamu disini tidak sendirian, sayang. Ada mereka berlima. Karena itulah Bibi ingin kalian berlima menjaga keponakanku selama Bibi pergi. Kalian mengerti, 'kan?" tanya bibi serius sambil menatap wajah mereka masing-masing.

Mereka pun menyahut atas permintaan bibi, tentunya dengan nada suara yang berbeda-beda. Aku rasa bibi tidak perlu meminta hal tersebut pada mereka karena aku bisa menjaga diriku sendiri. Namun, kalau boleh memilih siapa yang ingin menjagaku tentu saja aku akan memilih Mathias dan Tino. Aku tidak mau terlalu berharap ketiga pemuda lainnya bersedia untuk menjagaku meskipun itu adalah perintah bibi.

Makan malam ini kami lewati dengan canda tawa serta keingintahuan kami tentang kunjungan bibi ke Jepang. Bibi berjanji akan membawakan oleh-oleh untuk kami semua atau mungkin suatu saat nanti kami bisa liburan bersama. Usai makan malam kami segera kembali ke kamar masing-masing. Sesampainya di kamar aku segera membaca buku untuk pelajaran esok hari. Namun, setelah hampir dua puluh menit membaca aku merasa kehausan dan bergegas ke dapur. Setibanya di dapur aku segera mengambil gelas dan menuangkan cairan bening itu ke dalam gelas kemudian meneguknya.

"Ah, segarnya," ujarku sambil mengelap mulutku dengan punggung tangan.

Aku kembali menuangkan air untuk kedua kalinya dan meminumnya. Sesusai minum aku berniat untuk segera kembali ke kamar sebelum sebuah suara berat terdengar oleh telingaku dengan jarak yang sangat dekat.

"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya suara berat tersebut.

Aku terkejut dan segera menoleh untuk mendapati suara berat milik pemuda berkacamata bernama Berwald yang sedang berdiri di belakangku. Wajah pemuda tersebut tetap datar seperti biasanya.

"A-aku hanya ingin minum. Ka-kamu sendiri, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanyaku gugup.

"Aku? Aku hanya ingin membuat secangkir kopi," kata Berwald sambil berjalan melewatiku untuk mengambil cangkir di lemari piring.

"Oh, membuat kopi," gumamku sambil melihat Berwald yang sedang menuangkan kopi dicangkirnya.

Suasana kembali hening tanpa ada yang berniat membuka pembicaraan. Bersama pemuda dingin ini memang membuatku canggung sehingga aku berniat untuk kembali ke kamar. Namun, suara Berwald menghentikan langkahku.

"Kamu ingin minum kopi?" tanyanya.

Aku menoleh menatapnya dan merasa heran karena tidak biasanya Berwald menawarkan sesuatu padaku.

"Ah, tidak. Aku takut tidak bisa tidur," jawabku sambil tersenyum canggung. "Ng, kenapa kamu harus repot-repot membuat kopi sendiri? Kenapa tidak meminta pelayan untuk membuatkannya?" tanyaku penasaran.

Berwald terdiam sesaat sambil mengaduk kopinya. Aku tetap sabar untuk menunggu jawabannya. Kemudian ia berkata, "Aku hanya ingin meminum kopi buatanku sendiri. Hanya itu."

Aku hanya terdiam mendengar jawabannya yang seakan dibuat-buat atau mungkin terdengar sedikit membanggakan diri akan kopi buatannya sendiri, walaupun itu diucapkan dengan nada datar. Itu hanyalah sekedar pemikiran sepihakku. Namun, jika benar demikian aku jadi penasaran dengan kopi buatannya. Aku jadi menyesal menolak tawarannya yang diluar dugaan itu.

"Hm, apa tawaranmu tadi boleh kuterima di lain waktu?" tanyaku ragu-ragu. Entah mendapat keberanian darimana aku bisa bertanya seperti itu.

Berwald yang sedang menghirup aroma kopinya langsung menatapku. Ia berjalan mendekatiku dengan cangkir kopi masih di tangannya. Aku merasa ada yang salah dengan ucapanku yang membuat tatapannya semakin datar padaku. Dapat kurasakan tubuhku membeku ketika Berwald sudah berdiri di hadapanku.

"Ma-maaf, aku sembarangan bicara. Ti-tidak mungkin 'kan kamu menawariku kopi buatanmu?" tanyaku dengan suara pelan, aku tidak berani menatap wajahnya secara langsung.

"Apa yang kamu katakan?" tanya Berwald. Kudengar ia sedikit berdehem sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku memang menawarimu dan kamu menolaknya. Tidak ada yang salah dengan ucapanmu."

Aku mengangkat wajahku untuk menatap sosok Berwald yang lebih tinggi dariku. Ucapannya tadi memang datar serta sangat diluar dugaanku. Aku tidak merasa ia ingin menyalahkanku dan entah kenapa rasa takutku padanya sedikit berkurang setelah dia berkata seperti itu. Hatiku terasa lega.

"Syu-syukurlah kamu tidak marah padaku," kataku yang mulai merasa tenang. Rasa canggungku padanya sedikit berkurang.

Tiba-tiba saja Berwald mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tatapan kedua bola mata hijau kebiruan yang datar itu seakan memaksaku untuk menatapnya. Tatapan ambigu yang justru membuatku sedikit ketakutan dan menahan nafas serta wajah yang kuyakini tengah merona, walaupun tidak terlalu dekat seperti yang lainnya. Harus kuakui kalau Berwald memiliki wajah yang tampan apabila topeng datarnya dienyahkan sehingga aku tidak perlu menundukkan wajahku untuk menghindari tatapannya.

"Bertatapan secara jauh saja sudah membuatku ketakutan apalagi jika ditatap dengan jarak sedekat ini. Ah, kenapa Berwald juga ikut-ikutan menatapku seperti itu?" batinku sambil menarik-narik ujung bajuku.

Perang batinku pun usai setelah Berwald menarik kembali wajahnya. Ia kembali menghirup aroma kopinya sebelum menyesapnya perlahan. Setelah itu ia menatapku sekilas dan berbalik untuk meninggalkan dapur. Namun, sebelum ia benar-benar pergi ia mengatakan sesuatu padaku yang masih kebingungan.

"Tidurlah sebelum mimpi buruk menghampirimu," kata Berwald, kemudian ia berlalu meninggalkanku.

"Apa maksudnya? Kenapa tidak mengucapkan selamat malam dengan wajar? Dasar aneh," gerutuku.

Aku segera berlalu dari dapur untuk kembali ke kamar. Entah sudah berapa menit waktu yang kuhabiskan untuk berbicara dengan Berwald dan kurasa ini adalah percakapan kami yang cukup lama, tidak seperti sebelumnya yang sangat singkat layaknya mengucapkan salam. Aku sendiri bahkan tidak menyangka bisa berbicara selama itu dengannya. Walaupun sosok Berwald masih membuatku ketakutan, namun kali ini aku bisa mengurangi sedikit rasa takutku padanya. Mungkin dugaanku memang benar kalau sebenarnya dia hanya kesulitan untuk mengekspresikan apa yang ingin diucapkannya.

Ketika aku ingin memasuki kamar, aku mendengar seseorang memanggilku. Aku pun menoleh ke belakang dan kulihat Emil sedang berjalan ke arahku dengan terburu-buru. Pemuda manis yang raut wajahnya tidak jauh berbeda dengan Lukas itu kini tengah berdiri di hadapanku. Sebelum aku ingin bertanya padanya, Emil segera menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang kepadaku.

"Apa ini?" tanyaku penasaran sambil mengamati kotak yang ada di tanganku ini.

"Aku juga tidak tahu. Aku hanya diminta Bibi untuk mengantarkan itu padamu," jawab Emil.

"Hm, begitu. Terima kasih, ya," ujarku tersenyum, namun Emil hanya mengangguk singkat.

Aku tidak langsung memasuki kamarku begitu menyadari tatapan Emil padaku. Rasa penasaranku untuk segera membuka isi kotak tersebut tertunda ketika Emil mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan. Bola mata ungu itu menatap wajahku secara detail seakan ingin menilai sesuatu. Aku yang tidak nyaman ditatap seperti itu segera memalingkan wajahku yang kembali merona untuk yang kesekian kalinya pada hari ini. Tidak kusangka wajah manis itu mampu membuat jantungku berdetak kencang.

"Ah, kali ini Emil? Apa yang sebenarnya terjadi hari ini? Kenapa mereka semua menatapku seperti itu? Ada apa dengan kalian?" batinku kembali menjerit untuk yang kesekian kalinya.

"Ke-kenapa menatapku seperti itu?" tanyaku gugup.

Emil tidak langsung menjawab, ia justru menarik tubuhnya. Ia menghela nafas sesaat.

"Ternyata Bibi memang sangat menyayangimu," kata Emil yang membuatku kebingungan.

"Bicara apa dia? Lalu apa maksudnya tatapan tadi?" batinku kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti.

"Kamu suka warna ungu?" tanya Emil.

"Eh, warna ungu? Ng, lumayan suka," jawabku. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba Emil mengajukan pertanyaan seperti itu.

"Oh, ternyata kamu menyukainya," gumam Emil pelan. "Tugasku sudah selesai. Aku ingin segera kembali ke kamar," kata Emil sambil melirik arloji di tangan kirinya. "Selamat malam, keponakan kesayangan Bibi," pamit Emil sebelum berlalu menuju kamarnya.

"Iya, selamat malam," kataku.

Aku terus menatap Emil yang berjalan menuju kamarnya hingga sosoknya menghilang di balik pintu kamar. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan sikap Emil tadi. Aku pun segera masuk ke kamar dan berjalan menuju meja belajarku. Kuletakkan kotak yang diberikan Emil atas perintah bibi itu di atas meja. Rasa penasaran yang tidak mampu kutahan ini mendorongku untuk segera membuka kotak tersebut.

"Wah, cantiknya," seruku ketika melihat isi kotak tersebut yang ternyata adalah sepasang sepatu berhak tinggi yang sangat cantik. "Ah, lagi-lagi Bibi membelikan sesuatu untukku. Padahal aku sudah memintanya untuk berhenti membelikanku apa pun," kataku yang hanya bisa menghela nafas dengan perilaku bibiku yang terkadang memang suka seenaknya.

Aku yakin harga sepatu berwarna perak ini sangat mahal. Sebenarnya aku segan jika terus menerima pemberian-pemberian seperti ini, tetapi aku sendiri tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan bibiku. Perhatianku dari sepatu ini segera teralihkan ketika aku menemukan sebuah kertas terselip di dalam kotak dan membacanya.

Kenakan sepatu ini dengan dress terusan berwarna ungu itu. Bibi yakin kamu akan sangat cantik, keponakanku tersayang.

Aku hanya bisa tersenyum membaca tulisan bibi di kertas itu. Mungkin ini maksud ucapan Emil tadi. Bibi terlalu menyayangiku begitu pun aku sebaliknya. Aku kembali meletakkan sepatu tersebut ke dalam kotak dan menyimpannya di lemari sepatu. Setelah itu aku segera merebahkan diri di ranjangku yang empuk, namun sebelumnya aku merapikan dulu buku pelajaranku yang berserakan di meja belajar.

Ketika ingin memejamkan mata tiba-tiba saja bayangan masing-masing wajah mereka terlintas di pikiranku. Kejadian yang terjadi di luar dugaanku. Sikap yang membuatku kebingungan serta sorot mata yang berbeda dari biasanya. Entah kenapa mereka bersikap seperti tadi dan semuanya membuatku kebingungan.

"Sebenarnya ada apa dengan mereka?" gumamku sambil menatap langit-langit kamarku. "Ah, aku ingin tidur. Kalian berlima jangan mengusik pikiranku!" seruku sambil menutup wajahku dengan selimut.

Aku memaksakan mataku untuk terpejam. Memang itu tidak mudah, namun akhirnya aku berhasil tertidur setelah lebih dari dua puluh kali mengubah posisi tidurku. Tidak kusangka interaksi tak terduga dari mereka berlima bisa membuatku sulit untuk tertidur.

To be continued…


Waktunya balas review!

Lady Raven: Makasih atas reviewnya dan maaf untuk keterlambatan updet. Sudah tahu 'kan gimana rasanya ditatapin sama Berwald? Review lagi, ya.

tena: Makasih atas reviewnya dan kali ini updetnya lama, jadi aku minta maaf. Wah, begitu, ya. Awalnya aku mau memakai tokoh Hetalia, tapi kubatalkan dan jadilah ceritanya seperti ini. Aku membebaskan pembaca untuk membayangkan siapa tokoh utama perempuannya atau mungkin mungkin tokoh itu bisa para pembaca sendiri. Jangan lupa review lagi, ya.

Codename Sailor D: Makasih atas reviewnya dan maaf telat updet. Jangan lupa direview lagi, ya.

Unknownwers: Makasih atas reviewnya. Maaf, chapter kali ini terlambat diupdet. Ya, namanya Emil dan aku juga suka nama itu. Sama siapa si 'Aku' akan jadian? Itu masih rahasia. Review lagi, ya.

Yukari Wada: Makasih atas reviewmu yang panjang. Maaf, kali ini benar-benar telat updet. Hm, ternyata kesanmu seperti itu ya ketika membaca fic ini. Ya, aku pribadi juga pasti kesal kalau dicuekin sama mereka bertiga (Lukas, Emil, Berwald) dan bakalan bingung mau bersikap seperti apa. Oh, ya? Aku ingin tahu seperti apa cerita yang akan kamu buat. Kalau sudah buat tolong kabari, ya.

Kalau untuk cerita romantis yang dibumbui dengan dark, mystery, horror, angst, atau tragedy, aku merasa kesulitan untuk membuat cerita semacam itu apalagi yang horror. Mungkin kalau ada idenya dan waktu yang tersedia akan kuusahakan untuk membuatnya. Untuk masalah harem aku tidak bisa janji. Sebenarnya aku hanya ingin pembaca lebih fokus pada salah satu tokoh Nordic yang dia sukai dan menikmati bagaimana interaksi tokoh Nordic tersebut dengan si 'Aku'. Jadi, bisa saja kamu abaikan interaksi yang lebih dari tokoh-tokoh Nordic yang lain.

Untuk memunculkan tokoh cewek yang lain masih dipikirkan, belum tahu mau dimunculkan di chapter berapa. Mengenai orangtua si 'Aku' masih dirahasiakan, yang jelas mereka ada di negara yang berbeda. Review yang panjang mendapatkan jawaban yang panjang juga, jadi jangan lupa direview lagi, ya.

rasendriya indah: Maksih udah review dan maaf untuk updet yang lama. Wah, kok bisa deg-degan? Kalau semakin deg-degan jangan lupa direview, ya.

Nah, reviewnya sudah dibalas. Jika ada kesalahan atau ada hal-hal yang tidak mengerti bisa kalian tuliskan di kolom review. Kritik dan saran pun juga diterima agar fic ini bisa berkembang dengan baik. Saya akan berusaha untuk updet secepatnya.

Terima kasih bagi kalian yang sudah membaca fic ini. Sampai bertemu di chapter selanjutnya!


May, 2013

Neary Lan