Chapter 3
"Jadi begitu ya.. bilang dari tadi dong.. aku sampai jadi berpikir macam-macam.." Fate merasa lega.
"Macam-macam?" tanya Hayate
"Ah nggak, nggak ada apa-apa"
"..Fate-chan, kita makan yuk"
Fate mengangguk, tapi dia masih merasa kesusahan untuk menatap langsung wajah Hayate karena mimpinya.
"Fate-chan, kamu bersama Hayate-chan ya?"
Fate dan Hayate langsung menoleh ke arah sumber suara itu berasal.
"Kupikir kamu menghilang karena kamu tidak juga kembali ke kamar.."
"Ah maaf Nanoha.."
"Sudahlah kita makan-makan bareng yuk?" ajak Hayate.
"Eh kebetulan, aku juga lapar"
"Kalau begitu ayo, Fate-chan, mau makan apa?"
"Emm.. apa saja deh.."
"Eh jangan begitu dong, segera putuskan"
"Haha.."
'Bersama-sama begini menyenangkan juga..'
________________________________________________________
Malamnya.
"Ah bosan bosan.."
Fate menatap Nanoha dengan heran.
"Nggak ada yang dikerjakan, aku jadi ingin keluar.."
"Eh, tapi kan sudah jam 10 lebih, rasanya kalau mau keluar sudah kemalaman."
"Ah bosan ya bosan" Nanoha menunjukkan ekspresi seperti mau berkata 'buuuuuu…'
"Kalau begitu mau jalan-jalan di taman sebentar?"
"Bagus tuh"
~***~
"Ternyata malam hari juga nice.."
Fate hanya terdiam dalam hatinya merasa senang dan damai.
"Lihat Fate-chan, bulan purnama" Nanoha menunjuk ke arah bulan.
Fate menengadah untuk menatap bulan purnama.
"Lihat.. indah sekali ya.. padahal bulan selalu ada tapi karena sibuk kita jarang memperhatikan bulan, padahal kalau dilihat baik-baik bulan benar-benar pemandangan yang indah.."
"..kamu benar.." Fate tersenyum lembut.
"Walau seganas apapun perang, walau menghancurkan daratan-daratan dan kota-kota tapi lihat, bulan sama sekali tidak hancur.."
"…"
"Aku harap mereka cepat sadar bahwa pertempuran ini sia-sia.."
"Ya.."
________________________________________________________
Fate sedang berlatih sihir sendirian.
"Thunder Axe!"
BLAARRR!
"Fate-chan"
"Hayate?"
"Kamu benar-benar rajin ya berlatih sendiri seperti ini, padahal sudah malam" Hayate memberi Fate sebuah botol minuman.
"Oh thanks" Fate membuka tutup botol dan meminum beberapa teguk.
"Fate-chan, kalau kamu masih belum capek, mau bertanding melawanku?"
"Heh ide yang bagus Hayate"
Sementara
"Terus Hayate bilang begini.." Nanoha dengan bersemangat menceritakan kisahnya sementara Yuuno hanya terdiam.
"Hayate sekarang benar-benar terlihat seperti pemimpin yang berwibawa ya, padahal masih muda, dia benar-benar hebat.."
"…"
"Yuuno-kun?"
Jantung Yuuno berdebar. "A apa Nanoha?"
"Kamu kenapa? Dari tadi aku cerita tapi kamu terlihat seperti tidak memberi perhatian sama sekali.. apa ceritaku tidak menarik?"
"Ah bukan, bukan begitu, hanya saja.." suara Yuuno mengecil.
"Kenapa?"
"Nanoha.."
"Sebenarnya ada apa Yuuno-kun?" Nanoha mulai khawatir.
"Aku akan pergi meliput berita tentang perang sebagai seorang wartawan di Senki besok." (Senki anggap saja nama tempat)
"Apa…?" Nanoha menatap Yuuno dengan tidak percaya.
Yuuno mengalihkan perhatiannya dari Nanoha, tidak berani menatap matanya.
"Tapi kenapa? Mendadak juga.."
"Karena aku benar-benar menginginkannya.. sejak setahun yang lalu aku ingin sekali pergi meliput berita tentang perang."
"Kau gila! Pergi ke medan perang itu kan berbahaya sekali Yuuno-kun! Kota Senki sedang ditengah perang! Apalagi kamu bukan penyihir yang terlatih! Banyak orang ynag justru ingin menghindari peperangan, tapi kamu malah mau pergi kesana.. kamu pergi kesana sama saja cari mati!"
"Maafkan aku Nanoha.. akhirnya sekarang kesempatan itu ada depan mata, aku tidak ingin melewatkannya.."
"Yuuno-kun!"
"Tenang saja Nanoha, aku tidak sendirian kok, ada penyihir kuat yang khusus dipilih untuk melindungi para wartawan perang selama perang berlangsung, jadi aku tidak akan apa-apa."
"Tapi tetap saja.."
"Aku benar-benar excited ketika mendengarnya sehingga tanpa pikir panjang aku langsung mengajukan diri untuk menjadi relawan wartawan perang." Yuuno mengepalkan tinjunya.
"…"
"Nanoha mengertilah.." Yuuno memegang pundak Nanoha.
"Iya.. aku tahu.. kapan kamu akan pulang?"
"Satu bulan lagi.. kalau begitu sudah dulu ya Nanoha, aku mau bersiap-siap" Yuuno bermaksud pergi tapi Nanoha menarik lengan bajunya.
"Janji ya.. kalau kamu akan pulang dengan selamat dan tepat waktu.."
"Aku janji" Yuuno tersenyum.
"Dan juga.."
"?"
"Karena telepati tidak bisa, sebagai gantinya kirimi aku surat ya?"
"Pasti"
________________________________________________________
Keesokan harinya Nanoha pergi mengantar kepergian Yuuno. Mereka saling melambai dan terlihat cukup mesra sementara Fate mengamati mereka dari jauh.
"Fate-chan"
"Apa Hayate?"
"Hari ini kita latihan juga ya?"
"Baiklah"
~***~
Fate POV
Entah kenapa hari aku lebih bertenaga dari kemarin sehingga energi sihir yang kukeluarkan lebih besar membuat Hayate tercengang.
"Wow Fate-chan sepertinya hari ini kamu lebih bersemangat dari kemarin ya.."
"Hahh hahh.."
Entah kenapa darahku seperti mendidih, aku berusaha menenangkan diriku meskipun susah. 'Sebal sebal.. kenapa ini..?' di kepalaku terlintas Yuuno x Nanoha scene yang kulihat tadi pagi 'Kenapa aku merasa marah..?' kulancarkan seranganku sekuat tenaga.
"Fate-chan!" Hayate tidak mampu menahan seranganku, barriernya pecah dan Hayate terjatuh lemas dan aku baru sadar akan apa yang kulakukan.
"Ah! Hayate!" aku cepat-cepat menghampirinya.
"Hayate kamu tidak apa-apa?" aku agak panik.
"Tenang Fate-chan, aku tidak apa-apa.. kamu kuat sekali.."
"Maafkan aku.."
"Bukan salahmu Fate-chan, aku saja yang terlalu lemah haha.." Hayate mencoba untuk berdiri tapi tubuhnya terlalu lemas untuk berdiri dengan stabil sehingga hampir terjatuh. Aku segera menangkapnya. "Jangan memaksakan dirimu.."
Aku menggendong Hayate di punggungku. "Fa Fate-chan?!"
"Maaf ya.. aku akan segera membawamu ke infirmary" kataku dengan lembut.
"Ti tidak usah, aku baik-baik saja, benar" tapi segera kupotong sebelum protesnya berlanjut.
"Kamu sendiri yang bilang kalau luka sekecil apapun tetap harus diobati kan" aku tersenyum pada Hayate.
Wajah Hayate sedikit memerah, setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi selama aku membawanya ke infirmary.
'Jangan buat aku jadi semakin menyukaimu Fate..'
TBC~
