Chapter 6: The Scientist
Baekhyun duduk seorang diri di ruang tunggu Departemen Obstetrik dan Ginekologi, Severance Hospital, menanti gilirannya untuk menerima hasil tesnya minggu lalu. Ia lirik jam dinding yang menunjukkan sudah sekitar 15 menit ia menunggu, sedikit resah karena meninggalkan kantor di saat jam kerja walau ia sudah izin pada Hyojin akan datang terlambat.
Tidak lama kemudian seorang perawat muncul memanggilnya masuk. Setelah bersalaman dan dipersilahkan duduk oleh dokter, Baekhyun ditanyakan mengenai kondisi serta keluhan lain, lalu ia menceritakan kejadian dimana ia jatuh tak sadarkan diri, dokter tampak sudah menduga kemudian memberikan secarik kertas yang berisi keterangan hasil tes pada Baekhyun dan mulai menjelaskan.
"Gejala yang nona Byun alami ada hubungannya dengan hasil pemeriksaan berikut ini. Hasil uji laboratorium menunjukan bahwa dari sampel jaringan yang kami ambil untuk diperiksa, terdapat pertumbuhan sel abnormal pada organ reproduksi dalam anda. Dengan kata lain, nona Byun positif mengidap kanker serviks stadium II,"
Nafasnya tercekat, tangan Baekhyun gemetar memandangi hasil akhir pada tabel bagian paling bawah sebagai kesimpulan yang menunjukkan simbol '+'. Baekhyun mencoba menenangkan diri, sesungguhnya ia trauma jika harus berurusan lagi dengan yang seperti ini. Cukup sekali seumur hidup ia merasakan bagaimana tersiksanya waktu itu. Namun takdir kembali tidak berpihak padanya, harus menerima kenyataan pahit bahwa yang terjadi di masa lalu ternyata masih membawa penderitaan lain di masa kini.
"Maaf atas pertanyaan ini, kalau boleh tahu kapan terakhir kali anda berhubungan intim dengan pasangan? Atau apakah anda sebelumnya pernah mengalami miscarriage atau keguguran?"
Baekhyun tersentak mendengar kata terakhir. Penderitaan yang sesungguhnya.
"Saya.. hanya pernah berhubungan satu kali, karenanya saya hamil dan setelah 3 bulan usia kehamilan saya kehilangan janin karena kondisi kandungan yang lemah," jawab Baekhyun lirih, tidak memaparkan alasan sebenarnya.
"Ada beberapa hal yang dapat menjadi penyebab munculnya penyakit ini, namun berdasarkan jawaban anda, kemungkinan yang paling mendekati adalah proses kuretase paska keguguran yang kurang sempurna sehingga masih meninggalkan jaringan yang tersisa pada leher rahim. Sel-sel pada jaringan tersebut perlahan berkembang secara tidak normal dan terbentuklah kanker leher rahim,"
Apakah ini sebuah hukuman? Belum cukupkah masa-masa sulit yang pernah dilalui sebelumnya? Jika memang begitu satu-satunya yang Baekhyun butuhkan adalah Sehun—tidak mengetahui seseorang yang paling diharapkan itu telah terikat janji dengan yang lain.
A sequel of Love Unconditionally
by goodgalriri
LOVE FAITHFULLY
Sehun tiba di bagian ER Severance dengan nafas tersengal, mendapati tidak ada siapapun disana selain seorang wanita sedang duduk di area tunggu.
"Hyojin-ssi?" panggilnya memastikan.
Hyojin yang sengaja menunggu Sehun diluar menoleh lalu bangkit dari kursi, "Sehun-ssi.."
"Bagaimana Baekhyun?"
"Entahlah, Chanyeol sedang berbicara dengan dokter di dalam,"
Sehun mengernyit, "Chanyeol?"
"Dia yang membantuku mengantarkan Baekhyun kemari,"
Sehun tertegun, terlalu janggal untuk disebut kebetulan Chanyeol bisa mengantar Baekhyun lagi kali ini. Kemudian Hyojin mengajak Sehun masuk, Chanyeol yang masih berbicara dengan dokter menyadari kedatangan Sehun langsung menariknya keluar sebelum ia sempat bertanya macam-macam.
Chanyeol melihat Sehun masih mengenakan jas putih dengan badge Severance, satu informasi baru untuknya bahwa ternyata Sehun bekerja di rumah sakit ini sebagai dokter. Ia langsung membombardir si dokter muda dengan pertanyaan, "Sudah berapa lama Baekhyun begini? Kenapa tidak segera ditangani dengan serius? Kau seorang dokter—for God's sake—harusnya kau tahu kondisi yang seperti ini bisa membahayakan keselamatannya jika dibiarkan!"
"Apa maksudmu? Memangnya Baekhyun kenapa?" Sehun yang tidak mengerti apa-apa mencoba tenang meski tidak terima Chanyeol sedikit membentaknya.
Chanyeol mengambil lipatan kertas dari saku jas lalu memberikannya pada Sehun, "Jelaskan padaku apapun yang kau tahu,"
Sehun mengambil lembaran itu, membacanya selagi Chanyeol menunggu dengan tatapan menuntut, ia mengharapkan penjelasan namun yang didapatnya adalah ekspresi yang sama seperti dirinya beberapa saat lalu.
"Demi Tuhan, Baekhyun.. aku tidak tahu. Dia tidak pernah—"
"She could freaking die in any time and you—the closest person who live with her don't even know about this? The heck are you actually being with her for?!" Chanyeol menggeram dengan suara tertahan meski tidak bisa menutupi emosi yang meletup karena bagaimana bisa kekasihnya yang hidup satu atap tidak tahu.
Sehun menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan, gestur yang refleks ia lakukan ketika tidak tahu harus berbuat apa karena informasi ini terlalu tiba-tiba—atau ia yang tidak lagi menjadi peka, lebih mementingkan yang lain sementara orang terdekatnya sedang memendam sesuatu.
"Ini memang salahku, aku terlalu lalai sampai melewatkan hal sepenting ini," Sehun mengakui.
Kemudian Hyojin keluar, menyadari tensi diantara kedua lelaki yang sedang berinteraksi disana terasa tegang, terutama Chanyeol. Namun ia harus memberitahu sesuatu meski akan menyela apapun yang sedang mereka bicarakan.
"Baekhyun sudah sadar,"
~L.F~
Kejadian di ruang meeting utama tadi membuat darah Seohyun mendidih, bagaimana ia menyaksikan suaminya sendiri memperlakukan perempuan lain sedemikian rupa, perempuan yang paling ia benci akan kemunculannya kembali secara tidak terduga setelah beberapa lama.
Beberapa saat setelah Chanyeol pergi, keheningan di ruangan itu perlahan berganti menjadi kasak-kusuk penasaran mengenai apa yang terjadi. Para visitor dari perusahaan yang mengikuti tender mungkin tidak tahu apa-apa, tapi beberapa staff internal yang mengetahui Seohyun sebagai istri Chanyeol mulai berbisik, memandang ke arahnya penuh spekulasi. Seohyun tidak tahan, langkahnya memburu meninggalkan meeting room dengan gemeletuk heels yang menggema disertai tatapan penuh ingin tahu disekelilingnya.
Amarah Seohyun meledak begitu saja ketika ia sudah sendirian dalam ruangannya, mengerang penuh luapan emosi atas kejadian yang secara tidak langsung mempermalukannya dihadapan para karyawan yang notabene adalah bawahan suaminya sendiri. Seharian itu Seohyun menghabiskan waktu mengunci diri setelah mengatur ulang jadwal Chanyeol yang akhirnya jadi berantakan. Diabaikannya berkas-berkas yang dibawakan staff dari beberapa divisi untuk diajukan ke Chanyeol agar ditandatangani, ia tidak ingin menemui siapapun.
Api dalam diri Seohyun kembali tersulut ketika Chanyeol tak kunjung mengangkat panggilannya. Ini sudah keterlaluan, ia tidak bisa tinggal diam. Chanyeol bisa berpaling darinya kapan saja dan menyingkirkan Baekhyun adalah satu-satunya cara.
~L.F~
"Kau sudah menghubungi Seohyun?"
Hyojin bertanya ketika ia dan Chanyeol kembali berada di area tunggu, setelah sadar tadi Baekhyun yang masih lemas meminta untuk ditinggal berdua saja bersama Sehun, membicarakan apa yang harus dibahas diantara mereka tanpa ingin diganggu.
"Belum," Chanyeol baru teringat ponselnya masih dalam mode senyap sejak ia mengikuti rapat tadi.
"Cepat hubungi istrimu, kau pergi meninggalkannya di tengah jam kerja. Siapa tahu dia butuh keputusanmu atau apa. Baekhyun sudah ditemani Sehun disini,"
"Ada sekretaris Kang jika dia membutuhkan bantuan. Mungkin kau yang sebaiknya kembali ke kantormu,"
Hyojin melirik jam tangannya sekilas sebelum bangkit, "Okay, aku akan pergi. Hubungi aku kalau kau butuh bantuan,"
"Hm, terima kasih. Hati-hati,"
Hyojin mengangguk sebagai balasan, menepuk pundak Chanyeol sebelum meninggalkan si lelaki sendirian disana. Sekarang Hyojin sudah pergi, Chanyeol bisa menyalurkan rasa penasarannya atas apa yang Baekhyun dan Sehun bicarakan di dalam. Bukan tindakan yang baik menguping pembicaraan yang bukan menjadi urusannya, namun rasa ingin tahu itu mendorongnya untuk melangkah masuk, bersembunyi dibalik tirai biru rumah sakit yang mengelilingi brangkar tempat Baekhyun berbaring.
~L.F~
"Sudah berapa lama, Baekhyun?" Sehun memulai, rautnya khawatir menggenggam jemari kurus Baekhyun yang masih terbaring lemah. Baekhyun tidak berani menjawab.
"Apakah yang kau derita sekarang disebabkan oleh hal yang menimpamu satu setengah tahun yang lalu itu?" Sehun kembali bertanya, memanfaatkan pengetahuan medis yang ia miliki untuk menerka dan dugaannya tepat ketika Baekhyun mengangguk pelan.
"Maafkan aku," suaranya bergetar menahan tangis, ia tahu Sehun kecewa karena tidak memberitahunya.
"Berhenti meminta maaf, kau semakin membuatku merasa bersalah," Sehun menempelkan kening diatas tautan tangannya dengan Baekhyun.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Sehun yang merasa gagal menyesal dalam diam. Rasanya sudah lama ia tidak lagi menghabiskan waktu berdua dengan Baekhyun, terlalu sibuk mementingkan orang lain. Isakan kecil terdengar, Sehun mengangkat kepala, melihat Baekhyun sudah berlinangan air mata.
"Aku tidak akan pergi ke Jepang," Sehun mendeklarasikan, Baekhyun tercengang.
"Tidak. Kau harus tetap pergi. Jangan membuatnya kecewa dan hilang harapan untuk sembuh," Baekhyun berusaha membujuk, meski sebenarnya ia juga ingin Sehun berada disisinya di saat seperti ini. Namun kondisi Suzy sepertinya harus lebih diutamakan.
"Kau pikir aku tega meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Dia masih memiliki ayah dan ibunya sedangkan kau hanya tinggal denganku. Aku akan menemui dokter Bae untuk membatalkan penerbanganku dan mengurusmu disini sampai pulih,"
"Pikirkan baik-baik, Sehun. Kau bilang dia tidak akan pergi tanpamu, bukan? Aku akan mengurus semuanya sendiri semampuku, aku juga bisa meminta bantuan Minseok-eonni jika memang dibutuhkan,"
"Tapi kau—"
"Aku yang akan menjaganya,"
Suara orang ketiga yang berada disana menginterupsi, Baekhyun dan Sehun mengalihkan pandangan ke arah yang sama, dimana sosok tinggi Chanyeol muncul dari balik tirai.
"Baekhyun akan menjadi tanggung jawabku. Apapun urusanmu, kau bisa pergi," Chanyeol berucap layaknya bertitah pada bawahan. Jika Sehun tidak bisa maka Chanyeol akan mengambil alih menyanggupinya.
Rahang Sehun mengeras, lelaki ini perlu diberi penjelasan supaya sadar bahwa dirinyalah yang menyebabkan Baekhyun semenderita sekarang. Sehun melepas genggamannya dari Baekhyun lalu beranjak dari kursi, "Aku ingin bicara denganmu,"
Maka sekali lagi mereka berbicara empat mata, meninggalkan Baekhyun yang menatap cemas kepergian kedua lelaki itu.
"Atas dasar apa kau ingin bertanggung jawab menjaga Baekhyun jika aku pergi? Seingatku Baekhyun pernah bilang kau sudah beristri, urusi saja keluargamu dan tinggalkan Baekhyun denganku," kali ini Sehun yang mengawali.
"Biarkan tentang keluarga menjadi urusan pribadiku. Yang kudengar tadi alasanmu pergi sebegitu penting sampai Baekhyun mencegahmu untuk membatalkannya dan jika kau benar-benar pergi maka aku bersedia menggantikanmu sampai kau kembali,"
Chanyeol benar, ada hidup orang lain yang secara tidak langsung harus Sehun selamatkan. Ia sudah berjanji pada Suzy tapi Baekhyun tidak bisa ditinggal begitu saja. Sehun dihadapkan dengan dilema sedangkan ia harus mengambil keputusan sekarang. Rautnya dipenuhi kebimbangan, tidak pernah dihadapkan dengan dua pilihan sesulit ini sampai benaknya mulai berpikir konyol tentang seandainya ia bisa membelah dan membagi dirinya untuk Baekhyun dan Suzy. Sementara Chanyeol menunggu dengan tidak sabar, kalaupun Sehun tidak jadi pergi maka ia akan tetap memantau Baekhyun dan menemuinya sampai urusan diantara mereka benar-benar selesai.
"Aku tetap tidak akan pergi," putus Sehun final, "Dia sudah cukup menderita karenamu jadi sebaiknya kau tidak berada dekat-dekat dengannya lagi,"
"Tsk, aku tahu tapi—"
"Tidak," si dokter muda menyangkal, "Kau tidak tahu apa-apa,"
Si CEO hanya bergeming, menatap Sehun tidak suka karena pembicaraannya disela.
"Kau telah melewatkan beberapa hal. Pertama, apa kau tahu karena perbuatan yang kalian lakukan menyebabkan Baekhyun hamil?"
Chanyeol mematung, antara kaget dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Namun dilihat dari cara Sehun menyampaikannya Chanyeol tidak mendeteksi adanya kebohongan disana. Jika Sehun bermaksud memberinya shock therapy maka kerja yang bagus karena si dokter muda ini berhasil melakukannya, "Baekhyun.. h-hamil?"
"Ya. Kemudian saat mengetahui kau akan segera menikah, dia kehilangan janinnya, hasil buah cinta kalian hingga sampai pada titik ini dimana penyebab penyakit yang dideritanya adalah akibat dari keguguran itu, kau juga tidak tahu, kan?" serangan kedua.
Semua ini terlalu tiba-tiba, rasanya Chanyeol tidak mampu menampung semua hal yang baru diketahuinya dalam satu hari. Debaran jantungnya menjadi tak terkendali seiring dengan nafasnya yang menderu, keterkejutan ini seolah menguras energinya secara tiba-tiba, kedua kakinya melemas seperti habis berlari berkilo-kilo jauhnya hingga ia jatuh berlutut di hadapan Sehun, dengan satu tangan meremas dada dan tangan yang lain menempel di lantai untuk menopang tubuhnya yang hampir tak berdaya.
"Kau tidak tahu apa yang Baekhyun lalui tanpamu ketika dia hancur karenamu. Baekhyun sudah aman denganku disini, kau boleh pulang dan tolong.. jangan temui Baekhyun lagi," Sehun berujar dingin sebelum berbalik meninggalkan si CEO yang belum berganti posisi bagaikan mati rasa.
Kilasan mengenai apa yang Baekhyun katakan padanya sekarang menjadi masuk akal—
"Kalau begitu kuharap aku tidak akan muncul dalam ingatanmu,"—bahwa Baekhyun tidak ingin terseret dalam kenangan penoreh luka yang seharusnya sudah lama berakhir—
"Apapun itu, lupakan saja.. What happened in the past, stayed in the past," —karena ia sudah menutup buku dengan lembaran kelam sebagai penghujung cerita.
"Kau pikir segalanya mudah bagiku? Aku juga mengalami masa sulitku, Chanyeol,"
Sebuah realisasi menghantamnya dengan keras, bahwa semua penderitaan yang dialami Baekhyun diakibatkan oleh dirinya.
~L.F~
Hyojin hendak bersiap untuk tidur ketika dering ponsel yang baru saja akan ia non-aktifkan itu terdengar nyaring. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar, batinnya bertanya siapa yang menghubungi malam-malam begini. Berasumsi ini adalah panggilan penting, maka Hyojin menjawabnya.
"Halo,"
"Halo, selamat malam. Dengan Hyojin-ssi?" suara wanita terdengar.
"Ya, dengan siapa?" Hyojin bertanya waspada.
"Maaf mengganggumu malam-malam, aku Seohyun, istri Chanyeol,"
"Oh?" Hyojin terheran, entah bagaimana Seohyun bisa mendapatkan nomornya. Mungkin dari daftar kehadiran meeting tadi yang menyertakan email dan nomor ponselnya.
"Apa Chanyeol masih bersama denganmu? Aku tidak bisa menghubunginya, atau mungkin kau tahu dia berada dimana karena ia belum juga pulang,"
"Benarkah? Tadi setelah mengantar Baekhyun ke rumah sakit aku pulang lebih dulu, setelahnya aku tidak tahu Chanyeol kemana lagi, Seohyun-ssi,"
"Hm, begitu ya. Kalau begitu terima kasih, Hyojin-ssi. Selamat malam,"
"Malam,"
Pip. Hyojin mengehela nafas begitu panggilan terputus, "Tsk, sudah kubilang kabari istrinya. Sekarang menghilang kemana dia,"
Ia turut mencoba menghubungi Chanyeol namun panggilannya dialihkan. Kalau masih berada di rumah sakit rasanya tidak mungkin karena Baekhyun sudah ditemani Sehun, jadi Chanyeol tidak memiliki kepentingan lagi disana. Setelah berpikir sejenak akhirnya Hyojin berganti pakaian, mengambil kunci mobil lalu bergegas keluar mencari Chanyeol.
Sedan yang Hyojin kendarai membelah lalu lintas malam hari yang lengang, memulai pencarian ke tempat sepi dimana orang membutuhkan ketenangan, menerapkan wild guess-nya karena ia sendiri benar-benar tidak memiliki ide dimana lelaki itu berada dan moodnya dalam kondisi seperti apa. Hyojin sudah melewati beberapa taman dan area terbuka yang sudah tak berpengunjung dan yang dicari tidak juga ditemukan. Ia hampir putus asa karena kurang lebih dua jam berkeliling tanpa hasil ketika ekor matanya menangkap figur tinggi familiar sedang berdiri di sisi jembatan Sungai Han.
"Chanyeol!" panggil Hyojin setelah menepikan mobil lalu membuka jendela.
Lelaki itu menoleh sekilas memperlihatkan wajahnya dengan jelas dan membuktikan Hyojin tidak salah orang.
"Apa yang kau lakukan disini? Seohyun menunggumu dirumah!" omel Hyojin sekeluarnya dari mobil, mengeratkan mantelnya saat tiupan angin malam menerpa. Ia tidak habis pikir bagaimana Chanyeol mampu bertahan dengan udara malam dan hembusan angin dingin hanya berbalutkan kemeja putih yang melekat di badan.
"Aku sedang tidak ingin pulang," Chanyeol menyahut pelan, pandangannya sendu menatap permukaan sungai yang tenang dibawah sana.
Sesuatu pasti terjadi, batin Hyojin karena seingatnya terakhir bertemu di rumah sakit Chanyeol masih baik-baik saja.
"Masuklah, kau bisa sakit jika berlama-lama diluar ditengah udara seperti ini," Hyojin menarik Chanyeol yang terlihat pasrah.
Hyojin mengajak Chayeol kesebuah convenient store 24 jam terdekat, membelikannya kopi hangat dan roti bun yang telah dihangatkan di microwave lalu menumpang duduk di dekat meja yang menempel pada dinding kaca, tempat biasa orang melahap mie seduh cepat saji disana.
"Kau sudah makan?" tanya Hyojin perhatian, lelaki disampingnya tidak lebih dari mayat hidup, hanya menjawab dengan gelengan dan helaan nafas lelah.
Tidak sabar, Hyojin membuka bungkus kertas roti bun lalu menyodorkan di depan mulut si CEO, dengan terpaksa Chanyeol mengambilnya, menggigit sekali dan mengunyah dengan sangat lamban.
"Did something bad happen?" Hyojin menginisiasi setelah mengamati Chanyeol tampak tak lagi berselera melahap roti yang mulai dingin di tangannnya.
"It was me after all," jawabnya tertunduk lesu, "Melihatnya seperti tadi setelah mengetahui kondisinya membuatku khawatir setengah mati, satu fakta baru mengejutkanku bahwa ternyata akulah yang menjadi penyebab terjadinya semua hal buruk yang ia alami sejak kecelakaan itu,"
Hyojin belum memahami betul apa yang dibicarakan Chanyeol namun ia tahu objek yang dibicarakan adalah Baekhyun, maka ia menyuruhnya untuk melanjutkan, "Go on,"
"After we did that back in a year and a half ago, unknowingly, she had our baby,"
Hyojin mengerjap tidak percaya, "W-what?"
"Baekhyun sempat hamil dan mengalami keguguran saat aku akan menikah dengan Seohyun kemudian Sehun bilang penyakit yang diderita Baekhyun sekarang adalah akibat dari keguguran itu and now I feel like I'm the worst person alive for leaving out my responsibility and letting her suffer alone," Chanyeol meremas rambutnya frustasi, terakhir kali Hyojin melihat Chanyeol seperti ini adalah ketika ia harus melepas Hyejin untuk yang terakhir kalinya di upacara pemakaman. Hyojin sudah mengamati kedua mata sembab Chanyeol sejak ia menemukannya tadi, pasti habis menangis berjam-jam menyesali apapun yang ia pikir adalah kesalahannya.
"Kau tidak menghendaki kecelakaan itu menimpamu. Semua sudah ditakdirkan dan sekarang tetaplah pada tujuanmu untuk memperbaikinya, Chanyeol,"
"I do really want to but I'm afraid that I may hurt her again. Kau tahu, bahkan dengan tidak tahu dirinya aku berkonfrontasi dengannya. Merasa aku yang paling dirugikan sementara dialah yang paling menderita,"
Hyojin memaksa si lelaki untuk berhadapan dengannya seraya meremas kuat kedua bahu Chanyeol, "Good intentions are worth working for, Yeol. Jangan berhenti sebelum menyelesaikannya atau kau akan semakin menyesal nantinya. Aku tidak bermaksud menakuti tapi mengingat kondisi Baekhyun saat ini.. bagaimana kalau sampai suatu hari kau kehilangan dia untuk selamanya?"
Kalimat Hyojin barusan seolah membangunkan sesuatu dalam dirinya, kedua manik mata lelah itu kini bergerak cepat tak tentu arah dengan pandangan tidak pasti, menyorotkan rasa takut dan cemas membayangkan jika apa yang Hyojin katakan adalah mimpi buruk yang menjadi nyata.
"No. I'm not gonna let that happen." ujarnya disertai gelengan kuat, "Not before everything's settled with no hard feelings remain between us,"
Hyojin melepas pegangannya, "Syukurlah kalau begitu. Sekarang kau harus menghubungi Seohyun,"
"Please. Tidak sekarang, Hyo," Chanyeol mengeluh.
"Tapi dia istrimu, anak-anak mungkin juga mengkhawatirkan ayahnya yang belum juga pulang ke rumah,"
Ah ya, Chanlie dan Hyechan sudah pasti menanyakan kenapa ia tak kunjung pulang. Membayangkan wajah penuh harap si kembar yang menantikan ucapan selamat tidur dari daddy mereka membuat Chanyeol merasakan hantaman kecil dalam dadanya, namun ia tidak ingin mengambil resiko untuk berinteraksi dengan Seohyun yang mana menurut perkiraannya akan berakhir dengan tidak baik.
"Aku sedang tidak ingin berbicara dengannya,"
"At least send a message to let her know that you're okay. Kau tidak bisa selamanya menghindar seperti ini, man up!"
Entahlah, bagi Chanyeol kehadiran Hyojin seolah menggantikan sosok Yifan yang selalu ia butuhkan disaat seperti ini. Bagaimanapun enggannya melakukan sesuatu, namun pada akhirnya Chanyeol menuruti paksaan saudari kembar mendiang Hyejin itu lalu mengambil ponsel miliknya yang sudah hampir seharian tak tersentuh.
"Fine, I'll text her,"
~L.F~
From: Chanyeol
Malam ini aku tidak pulang dulu, aku baik-baik saja. Sampaikan maafku untuk anak-anak dan jangan tunggu aku.
Seohyun berdecak sehabis membaca pesan singkat yang baru saja dikirimkan Chanyeol. Jemari cantiknya menggenggam ponselnya erat menyalurkan kegeraman hatinya menghadapi tingkah suaminya yang seperti ini. Bahkan maafnya hanya ditujukan pada Chanlie dan Hyechan saja, tidak tahukah dia bahwa Seohyun lah yang paling sakit hati disini.
Kemudian Seohyun bangkit dari sofa menuju kamar Chanlie, "Daddy tidak pulang, kalian bisa tidur sekarang dan Hyechan, kembali ke kamarmu,"
Hyechan yang juga sedang menunggu daddynya di kamar Chanlie menyahut, "Baik, mommy,"
Blam! Pintu kamar Chanlie ditutup sedikit lebih keras dari seharusnya. Si kembar saling bertukar pandang, "Sepertinya daddy dan mommy sedang tidak dalam hubungan yang baik,"
"Oppa benar. Sejak daddy bertanya ke kita mengenai Byun-agasshi waktu itu. Aku senang sih akhirnya daddy sudah bisa mengingat semuanya, tapi kalau begini kasihan daddy juga. Dia jadi tampak tidak bahagia,"
"Baiklah, ayo kita bantu daddy sepulangnya ia ke rumah nanti,"
"Alright. For daddy,"
Chanlie mengangguk, "For daddy,"
~L.F~
Sehun membawakan pakaian dan kebutuhan Baekhyun yang lain ke Severance esok harinya karena Baekhyun sudah dipindahkan ke ruang rawat inap sejak semalam. Kondisinya sekarang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, maka rencananya hari itu Sehun akan berkonsultasi dengan dokter obgyn yang ditemui Baekhyun untuk membicarakan tindakan apa yang harus dilakukan. Namun sebelumnya ia perlu menemui Dr. Bae untuk membatalkan keberangkatannya ke Jepang.
"Aku akan menghadap dengan Dr. Bae lalu praktek sampai siang nanti baru aku akan datang kembali,"
"Kau.. benar-benar ingin membatalkannya?" tanya Baekhyun pelan.
"Baek, kita sudah membahasnya dan keputusanku final. Aku akan tetap bersamamu disini," meski rautnya tampak tenang seperti biasa namun intonasinya tegas penuh penekanan.
"Bagaimana kalau dia tidak ingin pergi juga lalu—"
"Percayalah, bagaimanapun Dr. Bae pasti akan tetap membawa Suzy ke Jepang, dengan atau tanpa aku. Kau tidak perlu khawatir,"
"Tapi bukankah secara psikis orang yang sakit akan memiliki semangat untuk pulih lebih besar jika seseorang yang ia butuhkan ada disisinya?"
Sehun terdiam. Mempertanyakan Baekhyun yang begitu mencemaskan kondisi orang lain sementara kesehatan dirinya sendiri juga cukup mengkhawatirkan.
"Suzy akan baik—"
Dering dari dalam saku menghentikan pembicaraan, Sehun meraih ponselnya dan melihat nama Dr. Bae tertera disana. Ia langsung menggeser layar dan menempelkan beda pipih itu ke telinga.
"Ya, dokter.. Sudah di rumah sakit, ada apa?.. Suzy?" entah apa yang sedang disampaikan oleh dokter diujung sana yang membuat Sehun seketika terkejut dan panik.
Baekhyun hanya termangu, melihat bagaimana Sehun mengkhawatirkan perempuan lain yang seolah juga penting baginya. Begitu sambungan berakhir ia hanya berpesan, "Istirahat dan mintalah bantuan perawat jika kau butuh sesuatu," lalu pergi dengan langkah tergesa seperti diburu sesuatu.
Baekhyun turun dari brangkar, melangkah menghadap jendela yang membiaskan cahaya matahari pagi. Kemudian ia merenung. Sehun bilang ia sudah bicara dengan Chanyeol dan memberitahu apa yang seharusnya lelaki itu ketahui. Inginnya Baekhyun biar saja kebenaran itu dipendam selamanya tidak peduli jika sampai mati nanti Chanyeol tidak pernah tahu. Namun sepertinya Sehun terbawa emosi atas sikap Chanyeol kemarin.
Kemudian terdengar ketukan dari luar, pintu digeser dan seorang perawat muncul.
"Selamat pagi, nona Byun. Ada yang datang ingin berkunjung,"
Baekhyun yang kini sedang berdiri menatap keluar jendela menoleh, "Hng?"
Perawat tadi menggeser pintu lebih lebar mempersilahkan si tamu masuk, mengira Hyojin yang datang, namun yang didapat adalah seorang lelaki dengan seikat lavender dan baby's breath ditangan, menatapnya sayu dengan sinar mata yang meredup.
~L.F~
Sehun memilih mengunjungi Suzy ke kamar inapnya lebih dulu sebelum menemui Dokter Bae, sekaligus meminta maaf kemarin ia tidak sempat datang karena harus mengurus Baekhyun yang juga di rawat disana. Sehun mengetuk pintu sebelum menggesernya terbuka, menampakkan Suzy yang sedang duduk di brangkar dan sang ayah yang berdiri di sisinya.
"Sehun," Dokter Bae memanggil.
"Kebetulan dokter berada disini. Ada yang ingin saya bicarakan,"
Kemudian Sehun mengalihkan pandangan ke Suzy, bermaksud memberi tanda bahwa ia juga melibatkan perempuan itu dalam pembicaraannya
"Silahkan,"
"Mohon maaf sebelumnya dokter dan juga Suzy, saya harus membatalkan penerbangan ke Jepang karena seorang kerabat yang sedang sakit membutuhkan bantuan,"
Dokter Bae mengernyit lalu menoleh ke putrinya yang hanya memasang wajah datar tanpa perubahan raut sama sekali seperti yang barusan didengarnya hanyalah angin lalu.
"Dia harus segera dioperasi, keluarganya tidak tinggal di kota dan hanya saya yang dikenalnya disini. Karena itu—"
"Baekhyun," Suzy menyela, "Yang sakit kekasihmu itu, kan?"
Sehun membentuk bibirnya menjadi segaris tipis, takut menyakiti perasaan Suzy namun ia harus mengakui, "Ya, Baekhyun sakit,"
Dokter Bae merasakan tensi yang berbeda antara si dokter muda dan putrinya lalu menengahi, "Kau harus tetap ikut ke Jepang bersama Suzy, aku akan meminta perawat secara khusus untuk mengurus kekasihmu disini,"
"Tidak perlu, ayah," Sehun dan Dokter Bae terkesiap mendengar ucapan Suzy, "Aku tetap akan ke Jepang, walaupun tanpa dia,"
Meski wajahnya tampak tidak menunjukkan secara jelas emosinya tapi Sehun tahu Suzy marah padanya, "Syukurlah kalau kau tetap ingin pergi demi kesembuhanmu. Maaf aku tidak bisa pergi dan meninggalkannya sendirian, dia lebih membutuhkanku,"
"Tidak usah meminta maaf. Sudah menjadi hakmu untuk memilih mana yang lebih penting," sahutnya datar.
"Terima kasih sudah mau mengerti. Semoga operasinya berjalan dengan baik, aku akan menemuimu segera setelah—"
"Bisakah ayah dan Sehun keluar? Aku ingin istirahat,"
Sehun dan Dokter Bae saling bertukar pandang sebelum akhirnya keluar dari sana. Ia tutupi rasa kecewa dan hati yang hancur dibalik sikap dingin dan kasar yang ia tunjukkan, karena pada akhirnya ia tidak lebih dari seorang 'putri' yang ditinggalkan, tidak cukup istimewa bagi sosok yang ia anggap 'penyelamat' untuk berkorban demi dirinya.
Seiring bulir-bulir bening meluruh, ia berbisik disela tangis yang menyesakkan dada,
"どうやらあなたは... 騎士ではない,"*
~L.F~
Park Inc. Insiders – CEO Park pernah memiliki hubungan khusus dengan mantan sekretaris Byun?
Sempat terjadi keributan dalam rapat tender yang diadakan divisi logistik kemarin ketika sajangnim Park menolong mantan sekretaris Byun (Baekhyun) yang sakit sesaat setelah rapat usai. Menurut saksi, Baekhyun yang kini bekerja dibawah naungan sebuah perusahaan furniture yang menjadi salah satu peserta tender itu tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri dan sajangnim Park langsung yang membawanya ke rumah sakit.
Apakah tindakan sajangnim Park ini terbilang wajar? Mengingat sajangnim bisa meminta bantuan siapapun bahkan memanggil ambulans jika keadaannya darurat tanpa harus mengantar ke rumah sakit sampai meninggalkan pekerjaan di kantor. Mungkinkah pernah ada hubungan personal antara sajangnim Park dan Baekhyun?
Entah bagaimana gosip murahan itu bisa beredar dengan cepat layaknya api yang menyambar, kedua telinga Seohyun sampai panas mendengar semua omong kosong yang beredar dalam forum pegawai internal kantor.
"Dari mana kalian bisa mendapatkan berita tak berdasar seperti ini?!" bentak Seohyun pada dua orang karyawati yang secara tidak sengaja pembicaraanya ia dengar saat baru memasuki kantor tadi pagi.
"Berita itu.. dibroadcast tanpa mencantumkan sumber yang jelas, nyonya" jawab si rambut pendek yang bernametag Jung Eunha gemetaran.
"Kami hanya sebagai pembaca, nyonya Park. Kami sungguh tidak terlibat dan tidak tahu-menahu mengenai identitas penyebar berita itu," takut dituduh macam-macam, si rambut panjang bernama Jung Yerin membela diri.
Seohyun mendengus, "Dasar tidak berguna. Sekali lagi aku mendengar kalian membicarakan hal ini atau bahkan menyebarluaskannya maka pekerjaan kalian adalah taruhannya!"
"Tapi beritanya sudah terlanjur terseb—"
"Tidak peduli! Aku mendengar kabar ini pertama kali dari kalian berdua, jika tidak ingin dipecat maka lakukan apapun agar berita miring ini segera mereda," ancam Seohyun yang pada dasarnya hanya mencari pihak untuk dipersalahkan.
"Baik, nyonya Park," jawab keduanya tertunduk pasrah, tidak kuasa menolak perintah dari istri pimpinan perusahaan.
Seohyun menggebrak meja dengan keras setelah mengusir kedua perempuan tadi dari ruangannya, tidak menyangka jika sikap suaminya kemarin mengundang pergunjingan hingga menjadi bahan omongan satu kantor. Sialnya, sosok yang dbicarakan malah belum dapat dipastikan kedatangannya hari ini karena setiap Seohyun menghubungi hanya disahut oleh suara otomatis penerima pesan suara. Fakta bahwa ia belum mengetahui apa yang menyebabkan Chanyeol memilih untuk tidak pulang dan ini semakin membuatnya meradang namun satu hal yang dapat ia pastikan, ini semua karena Baekhyun.
"Lihat saja, Baekhyun. Akan kupastikan kau akan mendapat balasan yang setara bahkan lebih dari ini,"
~L.F~
Chanyeol menjejakkan kaki panjangnya menyusuri lorong rumah sakit yang sepi dengan bau khas antiseptik yang menusuk hidung. Entah bagaimana suasananya begitu mencekam, sinar lampu neon yang terpasang berjajar menyala redup diatasnya. Terlalu senyap sampai derap suara langkahnya menggema di lorong yang sunyi itu.
Lalu matanya menangkap seorang pria diujung sana, tampak menanti dengan cemas. Semakin mendekat ia mampu mengenali bahwa itu adalah Sehun. Baru saja Chanyeol hendak memanggil namun tiba-tiba seorang dokter keluar. Sehun langsung bangkit menghampiri, bertanya sesuatu untuk menerima jawaban berupa sebuah cengkraman di bahu dan gelengan kepala serta raut penyesalan dari sosok berjas putih itu.
Meski tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi ia paham gestur itu bukan pertanda baik. Sehun tertunduk dalam, menutupi mata dengan salah satu tangannya.
"Sehun," Chanyeol memanggil.
Sehun mengangkat kepala dengan wajah sudah berurai air mata. Sorot matanya berubah tajam penuh kebencian, "Ini semua salahmu,"
Chanyeol mengernyit tidak mengerti, ia menoleh ke ruangan yang pintunya terbuka tempat dimana dokter tadi muncul. Disanalah ia melihat Baekhyun yang pucat pasi, terbaring dengan beberapa perawat disekelilingnya melepas berbagai alat bantu yang sebelumnya terpasang. Chanyeol masih diam di tempat mengamati, sampai seorang dari mereka menarik selimut menutupi wajah Baekhyun.
'NO!'
Chanyeol membelalak lebar, baru memahami apa yang terjadi. Spontan ia berlari masuk, mendekati tubuh yang sudah sepenuhnya ditutupi kain putih. Denting panjang elektrokardiogram menjadi penanda bahwa sebuah kehidupan telah berakhir, meninggalkan raga yang terbujur tak bernyawa.
Souless.
Tangan gemetar Chanyeol terangkat, menyibak ujung kain tipis yang perlahan menampakkan Baekhyun yang terpejam damai. Kulit wajahnya memutih, bibirnya mengelabu seiring dengan terjadinya livor mortis sebagai proses alamiah pasca kematian.
Dead.
"No, please," Chanyeol menggeleng tidak percaya, "You have to live,"
"Kau telah membunuhnya secara perlahan," entah bagaimana Sehun sudah berdiri di belakangnya, mengarahkan tuduhan tanpa ragu, "Kau yang membuatnya mati dalam penderitaan,"
"No!" Chanyeol mulai kalap, mengguncang kedua bahu yang berangsur kaku itu dengan putus asa, "Baekhyun, please wake up! Don't do this to me. I'm so sorry I—"
"Pembunuh,"
"Tidak.." Chanyeol jatuh terduduk, meremas kuat rambutnya. Mendadak kepalanya terasa pening, dunia di sekelilingnya berputar, "TIDAAA—"
.
.
.
"—aaarrgh,"
Dia terbangun dengan peluh membanjiri, asupan oksigen serasa menipis, nafasnya menderu tidak beraturan. Kemudian ia melihat sekeliling, disorientas menyerang, butuh beberapa detik baginya untuk sadar bahwa yang dialaminya barusan adalah bunga tidur. Namun tidak menutup kemungkinan mimpi buruk bisa menjadi sebuah pertanda, dan keyakinan itu yang membangkitkan rasa takut yang berlebih, takut apa yang terjadi dalam mimpi akan terwujud dalam dunia nyata.
Segala prasangka buruk membuatnya tetap terjaga hingga pagi menjelang. Tidak bisa tenang sebelum memastikan kalau seseorang yang dikhawatirkan baik-baik saja—atau setidaknya masih hidup untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai. Oleh karena itu disinilah dia, mendatangi Baekhyun tidak peduli seberapa kacaunya dia sekarang.
"Baek.."
Chanyeol memanggil dengan suara parau, senyuman letih yang terpatri di wajahnya tak mampu menutupi kesan suram yang menyelimuti disekelilingnya. Lelaki itu terlihat sangat berbeda, kedua almond eyes yang jernih itu kini terlihat memerah dan sembab disertai lingkaran hitam, imej cold dan stoicnya tergantikan dengan raut kelelahan luar biasa, figurnya yang selalu tegap sekarang tampak lesu dengan kedua pundak lebarnya yang turun.
Perlahan Chanyeol melangkah mendekat, meletakan buket yang ia bawa diatas brangkar, "Lavender, your favorite,"
"Terima kasih," balas Baekhyun kaku.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Lebih baik," dari jarak sedekat ini Baekhyun dapat melihat lebih jelas bagaimana kacaunya sang CEO yang selalu tampak sempurna. Chanyeol menguncinya dengan tatapan tak terbaca, cukup lama hingga akhirnya menyerah dan berlutut dihadapan Baekhyun.
"Chanyeol, apa yang kau—"
"Maafkan aku.." berkontradiksi dengan ekspresinya yang berusaha tegar, satu tetes meluncur bebas dari pelupuk mata membasahi pipinya.
"Maaf sudah meninggalkanmu dan tidak bertanggung jawab atas segalanya," dalam sekejap bulir-bulir itu kian menderas sampai mengaburkan pandangan, Chanyeol tidak peduli lagi rupanya yang mungkin terlihat buruk dengan air mata yang membanjir.
"Maaf.. sudah membiarkanmu menanggungnya sendiri dan merasakan sakitnya sampai sekarang," Chanyeol tertunduk, tak kuasa mengendalikan emosi dan rasa bersalahnya.
"I wish I could bear the same pain that you feel so you don't have to suffer more but it can't be.."
Baekhyun hanya mendengarkan, menyadari Chanyeol sudah tahu yang sebenarnya. Satu sisi yang tidak pernah Baekhyun lihat, Park Chanyeol dihadapannya sekarang benar-benar tampak putus asa, entah kemana aura dominan itu menghilang sampai rela berlutut meminta maaf seperti tahanan yang akan dieksekusi mati. Tidak peduli akan dianggap cengeng, laki-laki juga manusia dan hari ini ia menanggalkan segenap harga dirinya hanya untuk memohon.
"Apa yang harus kulakukan?" suara seraknya memecah keheningan. Baekhyun hanya memberi tatapan tidak mengerti.
"Katakan saja, Baekhyun. Aku akan melakukan apa saja agar bisa menebus semua kesalahanku,"
Tidak kunjung mendapat respon, maka Chanyeol meraih salah satu tangan Baekhyun lalu menempatkannya di pipi, "Kau ingin menamparku? Silahkan. Pukul aku sampai kau puas. Luapkan saja kebencianmu padaku dalam bentuk apapun aku akan menerimanya,"
Tangan Baekhyun terangkat. Chanyeol memejamkan mata.
Hurt me to ease your pain away, even if it's not enough to make you feel okay.
~L.F~
Tangan Baekhyun terangkat, melihat lelaki di bawahnya memejamkan mata siap menerima, namun nyatanya Baekhyun tidak setega itu. Hatinya tergerak untuk menyamakan posisi, menangkup pipi si lelaki dengan kedua tangannya yang kecil, mengangkat wajah yang tampak habis diterpa badai kesedihan serta penyesalan itu.
Baekhyun merangkul leher Chanyeol, menariknya untuk didekap. Baekhyun bisa merasakan piyama rumah sakitnya membasah dibagian dada dimana wajah Chanyeol terbenam disana. Baekhyun membelai surai hitam yang menguarkan woody scent saat jemari kurusnya menyisir dengan lembut.
Baekhyun membiarkan dirinya ikut terhanyut melepas segala yang tertahankan. Jika dipertemuan-pertemuan mereka sebelumnya Baekhyun kerapkali menghindar menjauh menciptakan jarak dan membatasi waktu diantara keduanya, mungkin kali ini ia harus mulai jujur, mencoba melepas beban perasaan dan mengakui bahwa sesungguhnya ia merindukan lelaki yang berada di pelukannya sekarang.
"Maaf aku juga pernah menyakitimu dengan ucapan dan sikapku,"
Suara Baekhyun terdengar seperti hembusan angin, terlalu halus namun Chanyeol masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"No, you never hurt me," Chanyeol menggeleng, pelupuknya kembali tergenang, "Damn—not even once,"
Chanyeol menarik diri, melepas dekapan Baekhyun dan menatap perempuan dihadapannya. Ia letakkan tangan besarnya di pipi tirus itu, memandangi mata sipit yang sayu dan tampak cekung serta wajah yang pucat memprihatinkan.
"Bagaimana bisa kau meminta maaf padaku sementara aku yang membuatmu seperti ini," sekarang berganti Chanyeol yang merengkuhnya, memeluk tubuh ringkih itu dengan hati-hati, merasakan Baekhyun sepenuhnya bersandar pasrah di dadanya.
Berulang kali membisikkan maaf meski tahu takkan pernah sebanding dengan masa sulit yang Baekhyun lalui dan beban dipundaknya seketika luruh ketika wanita dalam pelukkan itu berucap,
"Aku sudah memaafkanmu,"
Chanyeol tidak bisa menutupi rasa syukurnya, mendekap lebih erat lalu tanpa sadar melesakkan hidungnya ke pelipis Baekhyun, menghirup lamat-lamat wangi lembut yang menguar dari sana sembari berusaha mengingatnya dengan baik, "Terima kasih,"
Namun sedikit terganggu ketika Baekhyun melepaskan diri dimana sesungguhnya Chanyeol masih ingin memeluk lebih lama,
"Urusan kita sudah selesai, mari jalani hidup masing-masing dengan tenang,"
Dan dia membisu, entah mengapa mendengarnya terasa menyakitkan meski niat telah terlaksanakan dan maaf telah ia dapatkan. Harapan ingin memiliki masih ada dan ketidakrelaan menjadikannya sulit untuk melepaskan. Apakah ini bagian dari balasan yang harus ia terima—hati yang menghampa karena kehilangan seseorang yang tidak bisa ia miliki seutuhnya karena rasa di masa lalu tidaklah benar-benar hilang, malah jadi menyiksa karena jalan yang tak lagi sama.
Tapi ia tidak boleh egois, jika Baekhyun sudah menetapkan pilihan untuk melanjutkan hidup tanpanya maka ia harus menerima meski berat hati tidak bisa dipungkiri. Maka ia hanya tersenyum berusaha mengikhlaskan,
"Kau benar. Namun sebelum aku pergi, izinkan aku memelukmu lagi untuk yang terakhir kalinya,"
Learn to let go is the hardest part when you think of someone worth having
E.. N.. D..
