Good Mistake

.

Chapter 3 : Nigtmare

.

Disclaimer : Bleah belong to Tite kubo

.

Warning : fic ini penuh dengan typo, pembunuhan karakter, penulisan tidak sesuai EYD, gaje, serta membutuhkan segala kritik dan saran yang membangun.

.

Good Mistake

.

Sesuai perintah, kali ini Rukia bertugas patroli untuk kelas kedua. Ia ditemani beberapa stafnya berkeliling tiap kelas untuk melakukan penggeledahan rutin. Sebenarnya itu bukanlah hal besar untuk Rukia, tapi dengan kondisinya yang seperti ini mana mungkin dia bisa berkeliling tiap kelas dan menggeledah tas-tas siswa satu per satu?

Kelas yang pertama Ia datangi adalah kelasnya sendiri. Kelas dengan predikat 'teladan' dan berada paling ujung lorong. Sebenarnya percuma menggeladah isi kelas ini. Tidak akan ada yang menemukan pelanggaran. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi tugasnya.

Mereka mulai keluar masuk kelas. Menggeledah tiap tas dan membentak para siswa yang tidak disiplin dan mengumpat tidak sopan. Rukia bahkan menghabiskan sisa tenaga yang ada untuk beradu argumen dengan seorang siswa bernama Yumichika karena telah membawa kosmetik ke sekolah. "Sudah berapa kali ku katakan? DILARANG MEMBAWA KOSMETIK KE SEKOLAH!"

"Kuchiki, Penampilan itu penting. Gadis nerd sepertimu mana tahu hal cantik seperti ini, huh!" bantah Yumichika.

"Aku tidak peduli. Peraturan tetaplah perraturan. Lagi pula kau kan laki-laki, kenapa pula bersolek seperti ini. Kau Ayasegawa Yumichika, melanggar Undang-Undang Sekolah No.32. Point merah 10. Barang bukti disita Komite Kedisiplinan," ujar Rukia sembari mencatatnya dalam buku besar point merah.

Hanatarou yang ikut inspeksi bersama Rukia hanya mengangguk dan mengikuti ucapan Rukia. Kantung besar yang dibawa Ia gunakan untuk menyimpan barang-barang sitaan termasuk peralatan make-up Yumichika. Tentu saja, pemuda dengan bulu mata lentik itu mengamuk tidak terima.

"Kembalikan! Itu semua barang-barang mahal. Jangan seenaknya ditaruh seperti itu. Kau tidak tahu itu terbuat dari mutiara hitam yang sangat susah ku dapatkan. Krim itu lebih mahal dari pada nampang busuk kalian. Sekarang kembalikan..."

Dan kalimat selanjutnya Rukia sudah tidak mau dengar lagi. Kepalanya sudah terlalu pusing untuk mendengarkan ocehan tidak jelas tantang kosmetik aneh itu. Gadis itu sudah muak dan dalam sekali sentakan, Rukia membuat semua orang dalam kelas, terutama Yumichika, menahan nafas dalam-dalam.

"DIAM!" Rukia menarik kerah Yumichika mendekat ke wajahnya. "AKU TIDAK PEDULI ITU BARANG MAHAL ATAU MURAHAN. PERATURAN TETAP PERATURAN. KALAU INGIN PROTES, SILAHKAN HUBUNGI KEPALA SEKOLAH. MENGERTI?!"

Dengan gemetar, pemuda kurus itu mengangguk paham. Nafasnya kembali bekerja begitu Rukia melepaskan kedua tangannya dari kerah kemejanya. Berurusan dengan Monster Mata Empat bukanlah pengalaman yang menyenangkan.

Rukia bersama staffnya meninggalkan kelas yang hening itu. Meraka berjalan menuju ruang kelas terakhir. Ruang kelas yang merupakan neraka untuk para anggota KK.

"Rukia-chan. Tadi kau keren sekali," ujar Momo, salah satu anggota KK yang ikut operasi rutin bersama Rukia.

"Aku sudah lelah berhadapan dengannya," timpal Rukia.

"Apa kau baik-baik saja, Kuchiki-san? Kau terlihat kurang baik hari ini," tanya Hanatarou yang khawatir melihat kondisi Rukia. Kuliatnya yang putih terlihat sangat pucat dengan lingkaran mata yang luar biasa hitam. Ia terlihat sangat menyedihkan.

"Tenanglah, aku baik-baik saja. Ini kelas terakhir, setelah itu, aku akan ijin ke UKS."

Ketiganya berhenti sesaat di depan ruang kelas terakhir. Ruang kelas yang sangat ingin Rukia hindari. Kelas ini dipenuhi para preman dan pelanggar Undang-Undang Sekolah. Ya, semoga saja Rukia tidak pingsan di dalam nanti.

"Ayo!" ujar Rukia.

Mereka memasuki kelas yang sangat gaduh itu. Tidak ada yang peduli dengan kehadiran mereka. Baik siswa maupun siswi semuanya sibuk dengan argumen masing-masing. Mata violet Rukia terpaku pada siswa bersurai jingga yang sepertinya tengah tidur di tempat duduknya. Pikiran Rukia kembali teringat tentang peristiwa kencan tak terduganya dengan Kurosaki Ichigo.

Flashback

"Bersiap-siaplah menjadi kekasihku, Kuchiki Rukia," ujar Ichigo tepat di telinga Rukia. Gadis bersurai raven itu bergidik merasakan hembusan nafas di telinga nya. Rasanya seperti akan ada mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Ini benar-benar tidak baik.

Ichigo mengambil langkah mundur. Tatapanya dinilai mesum oleh Rukia. Ck, mungkin di kehidupan yang lalu, Rukia adalah pembunuh berantai sehingga Ia mendapat kehidupan seburuk ini. Ya tuhan... Rukia benar-benar benci Ichigo.

"Sekarang kita lanjutkan kencan kita," tutur Ichigo yang lagi-lagi dengan seenak jidatnya yang berkerut itu menyeret Rukia keluar dari biang lala yang telah berhenti. Seperti biasa, pemuda menyeramkan itu mengabaikan rontaan Rukia. Ia tidak peduli apapun. Yang sekarang Ia inginkan hanya bersenang-senang dengan 'calon' kekasihnya itu.

Mereka menaiki roller coaster. Awalnya Rukia menolak. Gadis nerd itu sangat takut dengan ketinggian. Tapi mau bagaimana lagi, di sini kuasa milik Kurosaki Ichigo. Dan pada akhirnya keadaannya bisa ditebak. Kuchiki Rukia yang terhormat tengan sibuk memuntahkan isi perutnya di toilet umum. Sementara Ichigo? Pemuda itu hanya menertawakan kondisi Rukia. Oh ayolah, melihat Rukia dalam keadaan buruk seperti itu adalah penampakan yang sangat jarang terjadi.

Selesai memuntahkan isi perutnya, Rukia beranjak keluar dari toilet. Matanya menatap tajam pemuda yang menungguinya itu. Demi tuhan, kalau saja membunuh dilegalkan, Rukia dengan senang hati akan menusuk pemuda yang tengah menyeringai itu.

"Sudah selesai?" tanya Ichigo dengan nada mengejek.

Rukia masih setia dengan death glare nya. "Aku mau pulang!" seru Rukia.

"Aku tidak mengizinkanya," jawab Ichigo santai.

"Aku tidak butuh izinmu, Kurosaki!" Rukia makin memelototi Ichigo. Ia berpaling dan berniat beranjak pergi sebelum pada akhirnya Ichigo menghentikannya. Preman sekolah itu menarik pergelangan tangan Rukia lalu menciumnya. Kali ini tepat di bibir dan lebih lama dari sebelumnya—walaupun hanya lima detik.

Rukia terdiam. Gadis pendek itu tidak melakukan apapun. Bahkan otaknya saja tidak mampu mengendalikan tubuh nya untuk menolak. Ia hanya terpaku sampai akhirnya Ichigo mengambil jarak dan menyeringai lebar saat menemukan ekspresi terkejut di wajah Rukia. "Wah, sepertinya kau sangat suka sekali melanggar peraturan. Bukankah sudah kukatakan? Panggil aku Ichigo, atau kau kucium." Ichigo menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Rukia. "Atau mungkin kau sengaja agar ku cium?"

Kalimat terakhir itu sukses membuat Rukia menampar keras wajah Ichigo. Wajahnya memerah karena amarahnya. Ia sangat tidak suka dengan kalimat itu, seolah-olahnya dirinya begitu rendah dihadapan Ichigo. Dan pemuda itu hanya menatapnya tidak mengerti.

"Menjauh dari ku, Kurosaki Ichigo!"

Flashback End

Rukia menghembuskan nafas berat. Ia tidak mengerti kenapa dirinya selalu memikirkan pemuda itu. Mungkin efek kurang tidur. Mungkin.

"Mohon perhatiannya!" seru Rukia. Sontak saja seluruh pasang mata di ruang kelas itu mengalihkan mata pada nya. "Sesuai kinerja Komite Kedisiplinan, hari ini akan diadakan penertiban. Letakkan semua barang kalian diatas meja."

Dengan malas, seluruh siswa melakukan apa yang diperintahkan Rukia. Mereka meletakan tas mereka diatas meja kecuali satu orang yaitu Kurosaki Ichigo. Pemuda bersuarai jingga itu masih setia terlelap di mejanya. Rukia beserta staffnya mulai menggeledah satu persatu tas yang ada.

Sepeti biasa, murid di kelas ini selalu melanggar peraturan. Siswi nya yang mengenakan pakaian ketat juga pendek ataupun membawa peralatan make up langsung tercatat dalam buku besar point. Para siswa juga tidak luput dari amukan Rukia. Wakil ketua KK itu bahkan sempat berargumen keras dengan seorang siswa yang membawa sebungkus rokok.

"Kau Hisagi Shuhei, melanggar Undang-Undang Sekolah No. 5. Point merah 45. Pelanggaran berat. Akan ada surat pemanggilan orang tua. Barang bukti disita Komite Kedisiplinan. " Rukia mencatatnya dalam buku besar point merah.

"Berani sekali kau mengambil barangku, cebol?! Kembalikan. Kalau kau mau, beli saja sendiri!" ujar Hisagi sembari mencoba merebut bungkus rokoknya dari tangan Hanatarou.

Rukia menggebrakkan buku tebalnya ke atas meja. Tentu saja hal itu berhasil mengalihkan pandangan semua orang padanya. "Kau! Bukankah kau sudah tahu bahwa membawa rokok merupakan pelanggaran berat?! Lagi pula lihat dirimu. Kemeja acak-acakan! Dasi tidak dipakai! Dan sekarang kau protes jika kami menyita barang menjijikan ini, Hah?!" bentak Rukia. Tangannya dengan sigap mengabil rokok dari tangan Hanatarou dan melemparnya ke wajah Hisagi.

"Berani sekali kau, cebol sialan!" Hisagi melangkah mendekati Rukia. Amarahnya meluap-luap tidak terima. "Heh, rasakan ini cebol!" tangan Hisagi yang terkepal menukik tajam menuju wajah Rukia.

DUAAAAAAGH

Semua orang membelalak tak percaya. Bukan karena Hisagi memukul Rukia, melainkan kepalan tangan itu mendarat tepat ke wajah pemuda berambut jingga yang entah datang dari mana sudah berdiri tepat di depan Rukia.

"Ku-Kurosaki... A-Aku ti—" kalimat Hisagi terpotong begitu Ichigo mencengkram erat kerahnya.

"APA KAU TIDAK BISA HANYA MENURUTI UCAPAN CEBOL ITU, HAH? BERANI SEKALI KAU MENGANGGU TIDURKU!" Ichigo melepaskan cengkramannya. "SEKALI LAGI KU DENGAR SUARA BERISIKMU ITU, KUPASTIKAN KAU TIDAK MAMPU LAGI BICARA!" teriak Ichigo sebelum akhirnya kembali ke bangkunya dan melanjutkan tidur manisnya yang telah terganggu.

Semuanya masih bergeming di tempat maisng-masing, tidak terkecuali Rukia. Gadis berkacamata itu masih dengan rasa terkejut nya. Ia tidak mampu melanjutkan kinerja otak nya. Rukia tak menyangka Kurosaki akan muncul di depannya, menjadi tameng dari hantaman yang Rukia yakin pukulan itu cukup kuat. Dan yang membuat lebih heran adalah Kurosaki Ichigo tidak membalas nya. Pembuat Onar itu hanya berteriak tidak jelas kemudian berlalu begitu saja.

.

Aneh. Ichigo bukan tipikal orang yang akan diam saat dipukul. Apa Ichigo benar-benar menjalankan taruhannya? Tidak akan membuat onar selama taruhan berlangsung. Tidak mungkin orang seperti dia serius, bukan? Tidak mungkin Ichigo sungguh-sungguh ingin menjadikan Rukia sebagai kekasih nya. Jika hal itu terjadi, maka mimpi buruk Rukia akan benar-benar menjadi nyata.

"Kuchiki-san, ini ambil saja!" ujar Hisagi seraya memberikan bungkus rokoknya pada Rukia. Sepertinya pemuda itu sangat takut pada Ichigo. Tentu saja. Siapa yang berani dengan Ichigo selain Rukia? Sepertinya tidak ada.

Dan sepertinya, Rukia sendiri pun juga mulai takut dengan keberadaan Ichigo.

.

Good Mistake

.

Rukia merenggangkan badan nya. Rasa pegal akibat duduk seharian telah hilang begitu saja saat terpaan angin sore menyejukan kulit nya. Salahkan laporan-laporan menyebalkan itu. Kalau saja tidak ada laporan Operasi Penertibaan hari ini, Rukia pasti sudah bergulat dengan kasur empuk nya di rumah.

Dengan sedikit mengantuk, Rukia berjalan menyusuri lorong sekolah yang sudah sepi. Mega di langit sore sedikit merileks kan dirinya. Melihat jingganya langit membuat Rukia mengingat seseorang yang sangat ingin Rukia lupakan.

"Aku ini kenapa sih?" Rukia bermonolog. Tangannya menggenggam erat tas sekolah nya. Mata nya menatap malas jalan di depannya. Gadis pendek itu merasa berbeda. Ia merasa dunia nya sangatlah rumit. Kejadian tadi siang masih menyita pikiran nya. Awalnya Rukia menanggapinya biasa. Tapi, mendengar penjelasan dari Orihime tentang apa yang telah dilakukan Kurosaki Ichigo tadi membuat nya makin tidak nyaman.

"Rukia-chan, kau ini bodoh atau apa, sih? Yang dilakukan Kurosaki-kun tadi itu untuk melindungimu bukan karena tidak mau tidurnya terganggu. Sepertinya dia benar-benar menyukai mu!"

Lagi-lagi ucapan Orihime menggema di gendang telinga nya. Rukia tidak mau percaya apa yang dikatakan Orihime. Ia yakin, Kurosaki Ichigo hanya main-main dengan nya. Lalu, kenapa Ichigo mau menurunkan nafsunya untuk menghajar seseorang? Apa benar itu hanya main-main?

"Menyebalkan! Kenapa aku harus― aahk!" gumamnya terhenti saat dengan tiba-tiba seseorang menarik lengannya.

Aroma citrus khas Kurosaki Ichigo memenuhi indra penciuman nya. Rukia membelalakan mata saat mengenali pemuda yang kini berdiri dengan jarak kurang dari setengah meter darinya. Dan ketika wajah dengan segala keterkejutannya mendongak memandangi Kurosaki, Rukia menemukan pemuda itu tengah kesal dengannya.

"Aku tahu kau sangat bodoh. Tapi aku tidak tahu kalau bahkan tidak bisa membaca rambu lalu lintas," cibir Ichigo.

Dengan linglung , Rukia memperhatikan sekelilingnya. Gadis itu bahkan tidak menyadari bahwa diri nya sudah berada di luar gerbang sekolah dan hampir saja menyeberang jalan dengan lampu penyeberangan masih merah. Untung saja Ichigo menyadarkan dirinya. Tunggu, Kurosaki Ichigo? Ichigo? UNTUK APA PEMUDA ITU ADA DI SINI?

Rukia melangkah mundur menjauh dari aroma citrus yang menyenangkan itu. "Apa yang kau lakukan di sini Kurosaki?!" tunjuk Rukia.

Pemuda itu hanya menyeringai. Seperti biasa, tatapan matanya sangatlah terlihat mesum di mata Rukia. Tentu sjaa, gadis pendek itu melangkah mundur mencoba mencari jarak aman. "Apa aku perlu menjawabnya?" tanya Ichigo balik.

Orang ini! Rukia mengepalkan tangan menahan emosi. Entahlah, control dirinya selalu goyah jika sudah berhadapan dengan pemuda menyebalkan ini. "Kau!" tunjuknya dengan nada melengking tinggi dari bibirnya.

Pemuda itu hanya terkekeh. Ia bahkan tidak peduli dengan Rukia yang makin terlihat emosi. Pemuda itu sebenarnya baru saja bangun tidur. Seperti biasa, hari sabtu penuh dengan pelajaran membosankan dan pada akhirnya Ichigo akan kabur saat jam pelajaran dimulai dan memilih tidur di taman belakang.

"Kau galak seperti biasanya," Ichigo terkekeh. "Sangat-sangat tidak manis."

"Kau pikir aku peduli?!" tutur Rukia. Gadis itu membetulkan letak kacamatanya sebelum pada akhirnya berbalik hendak pergi. Berurusan dengan Ichigo hanya akan menghabiskan banyak tenaga.

Belum sampai langkah ketiga, tangan Rukia kembali ditarik oleh Ichigo. Dalam detik-detik berikutnya, Rukia kembali dibuat terkejut. Pemuda itu menciumnya. Benar-benar mencium bibirnya di depan gerbang sekolah.

Ya tuhan. Kutukan macam apa ini?!

Ichigo melepaskan Rukia. Matanya terlihat puas saat menemukan Rukia kaku di tempatnya. "Itu hukuman karena memanggilku 'Kurosaki'." Ichigo menyeringai. "Baiklah, Midget. Sampai jumpa besok." Dan dengan santainya, Ichigo meleggang pergi. Tangan kanan nya terangkat melambai pada Rukia tanpa melihatnya.

Rukia mengerjap. Nafas nya masih tertahan di ujung tenrggorokan. Ia masih belum tersadar dari keterkejutannya.

"Kurosaki menciumku? Pemuda itu menciumku di depan sekolah?! Tidak mungkin!"

.

Good mistake

.

Ulangan hari pertama di mulai. Semua siswa duduk dengan tenang mengerjakan soal demi soal yang diberikan. Tidak terkecuali dengan Rukia. Baginya, soal-soal ini hanyalah batu kerikil yang sangat mudah disingkirkan dari tanah. Terlalu gampang dan membosankan. Hanya dalam tiga puluh menit, Rukia sudah mampu menyelesaikan semua soalnya.

Setelah meneliti kembali jawabannya, Rukia memutuskan untuk keluar. Terlalu lama dikelas hanya akan membuatnya bosan. Lebih baik Ia pergi ke perpus. Membaca buku-buku yang menurutnya menarik. Itu terdengar lebih baik.

Baru beberapa langkah keluar ruangan, Rukia dikejutkan dengan kedatangan Ichigo. Pemuda tinggi itu berjalan santai dengan tas di bahu kirinya. Ya tuhan. Jangan katakan kalau Ichigo baru berangkat. Ini sudah lewat hapir 45 menit dari jam masuk. Bagaimana Ia akan mengerjakan ulangannya?

Rukia menggelengkan kepalanya. Mencoba menghilangkan bayangan Jingga dari otak cerdasnya. Gadis pendek itu memilih meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. Sudahlah Rukia. lupakan jeruk busuk itu. Lebih baik membaca dari ada memikirkannya.

Sesampainya di perpustakaan, gadis itu langsung menuju deretan buku-buku biologi. Ulangan selanjutnya tentang sistem peredaran darah dan organ-organ tubuh lainnya. Rukia memang tidak terlalu menyukai pelajaran ini. Namun, gadis bermanik amethyst itu cukup tertarik dengan bab ini. Tidak terlalu banyak hafalan rumit. Hanya bagian-bagian tubuh yang sudah Ia kenal.

Dengan agak kesusahan, Rukia berhasil mencapai buku yang berada di rak paling atas. Tanpa basa-basi lagi, Ia menggeser bangku dekat jendela lalu segera membaca buku setebal 500 halaman itu. Rukia tenggelam dalam bacaannya. Sesekali jemari lentik nya akan bergerak membetulkan kacamata nya yang melorot. Ia terus membaca halaman demi halaman hingga tanpa sadar jam sudah menunjukan pukul sepuluh.

Ia melirik arlogi nya lalu menutup buku tebal dihadapannya. Dan saat Rukia menegakkan kepala nya kembali, violet indah nya menajam. Telunjuk kiri nya bergerak menurunkan kacamatan nya hingga ujung hidung kecil nya. Badan nya sedikit condong kedepan memastikan apa yang ada di depan nya.

Ada sebuah gambar yang menempel di kaca jendela di depannya. Seingatnya, tadi belum ada gambar ini. Setangkai mawar, bunga itu yang tergambar di kaca menggunakan spidol berwarna biru. Rukia tidak peduli dengan gembar itu. Yang Ia pedulikan adalah ORANG KURANG AJAR MANA YANG BERANI MENCORAT-CORET KACA PERPUSTAKAAN?!

"Bagus, kan?" tanya seseorang yang tanpa Rukia sadari telah berdiri di belakangnya.

Sontak saja Rukia langsung menegakan tubuhnya dan berbalik menatap orang itu. Matanya melebar menemukan pemuda oranye tanpa tata krama itu ada di hadapan nya. Jangan-jangan pemuda itu yang mengotori jendela?

"Pasti kau yang mengambarnya?!" tuduh Rukia.

Ichigo menyeringai mendengar tuduhan Rukia. Tanpa ragu Ia melangkah makin mendekat. Seringai nya makin lebar saat mendapati Rukia yang berusaha menghindar terhenti oleh meja di belakang nya. "Jangan mendekat Kurosaki!" perintah Rukia.

Amethyst nya melebar saat melihat Ichigo menghentikan langkahnya. Seketika itu pula Rukia menyadari kesalah nya. Tangan mungil nya segera menutupi mulut nya, takut kalau-kalau pemuda itu kembali mencium nya seenak jidat.

Melihat Rukia yang siap siaga membuat Ichigo terkekeh. Tingkah gadis ini benar-benar lucu. Semenyeramkan kah Ichigo sampai-sampai Monster Mata empat pun tunduk padanya. Ini benar-benar kejadian langka.

Ichigo mencondongkan kepala nya yang otomatis membuat tubuh bagian atas Rukia melengkung kebelakang. Jantung gadis bertubuh pendek itu berdekup kencang. Berdekatan dengan Ichigo selalu membuatnya tidak nyaman. Keringat dingin bahkan meluncur deras dari keningnya. Mata nya yang terpejam erat kini terbuka lebar saat merasakan tangan Kurosaki Ichigo menaikan kacamata yang melorot. Mata mereka beradu pandang. Begitu dekat, hanya dibatasi sebuah lensa bening di antara mereka.

Saat itu juga, Rukia lupa cara bernafas.

"Bersiaplah menjadi kekasihku, Kuchiki Rukia."

.

Good Mistake

.

Angin dingin begitu terasa di ruangan tanpa pancahayaan ini. Kuchiki Rukia terduduk di bingkai jendela yang terbuka lebar. Disaat semua orang tengah terlelap, Rukia justru masih terjaga. Gadis itu membiarkan kakinya terjuntai keluar. Matanya menatap lurus ke atas, mencoba menyibukkan diri dengan menghitung bintang yang tak terhingga itu.

Sayangnya kegiatan membosankan itu tak kunjung membuat kedua kelopak matanya memberat. Dirinya masih gelisah dengan hari esok. Bukannya Rukia tidak percaya diri dengan hasil usaha nya selama dua minggu ini, hanya saja perasaan Rukia mengatakan lain. Ia masih ingat pertemuan terakhirnya dengan Ichigo seminggu lalu di perpustakaan. Kata-kata pemuda itu terdengar penuh dengan keyakinan. Keyakinan yang dengan gampangnya membuat Rukia gelisah setiap harinya.

"Tidak mungkin Kurosaki mampu menyaingi nilaiku," gumamnya. "Tapi bagaimana jika dia curang? Mungkin saja jeruk busuk itu mencontek saat ulangan. Arghhhhhhh apa yang harus kulakukan besok? Apa aku absent saja? Tidak-tidak! Seorang Kuchiki tidak akan melakukan hal itu.

"Lalu... aku harus bagaimana?"

.

Good Mistake

.

Suara berisik memenuhi seluruh lorong kelas Karakura high school. Para siswa berebut melihat hasil ulangan yang tertempel di papan pengumuman. Semuanya riuh dengan hasilnya. Ada yang senang karena peringkatnya naik, ada juga yang terlihat lesu karena nilai ulangan yang kurang.

Di baris paling belakang, ada seorang siswi dengan perawakan pendek tengah melompat-lompat mencoba malihat daftar nilai. Rukia, gadis itu menggerutu, meratapi nasibnya yang terlahir dengan tubuh kecil―tidak pendek, Rukia tidak mau mengakui itu― yang membuatanya harus bersabar.

Violet itu berbinar saat menemukan celah kecil. Ia menunduk dan mencoba menerobos pagar manusia itu. Berhasil! Dengan susah payah Rukia berhasil menerobos kerumunan itu walaupun Ia harus mendapatkan sebuah lebam di bahunya akibat sikutan seseorang.

Tanpa basa-basi Rukia langsung menggerakan jarinya pada daftar itu. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan nama dirinya karena lagi-lagi masuk jajaran siswa dengan nilai pararel. Nafasnya tercekat dengan apa yang Ia baca. Bukan karena peringkatnya yang turun, melainkan karena sebuah nama yang bertengger di urutan pertama. Kurosaki Ichigo berhasil mendapat nilai tertinggi dengan rata-rata 9,98. Demi dewi Yunani dari Akropolis, tidak mungkin Kurosaki Ichigo mendapat nilai setinggi ini.

"Tidak mungkin," gumam Rukia dengan kedua telapak tangan yang menutupi mulutnya.

"Wah, sepertinya aku berhasil mengalahkan mu, Rukia." sebuah kepala jingga tiba-tiba menyembul dari samping kepalanya. Reflek Rukia berpaling. Matanya melebar sempurna saat menemukan wajah Ichigo yang sangat dekat dengannya. Terlalu dekat sampai-sampai hidungnya bergesekan langsung dengan sisi wajah pemuda itu.

Sebuah seringai terpampang jelas di sudut bibir Kurosaki Ichigo. Pemuda jeruk itu berpaling menghadap Rukia. Dan tanpa aba-aba apapun, pemuda itu mengecup bibir Rukia. "Mulai sekarang kau adalah kekasihku, Midget."

Dan dengan ajaib semuanya menjadi hening. Siswa-siswi yang melihat adegan itu hanya terpaku di tempatnya. Mereka semua terdiam kaget dengan ucapan Ichigo. Preman sekolah menjalin hubungn kekasih dengan gadis nerd penegak hukum sekolah? Tidak mungkin.

Kiamat benar-benar makin dekat.

Dan saat itu pula, mimpi buruk Rukia dimulai.

.

To Be Continoue

.

HAPPY NEW YEAR MINNA~!

Akhirnya bisa update di tahun baru ini... semoga tahun ini semuanya dilancarkan.

Maaf baru bisa update. Arya sibuk dengan tugas-tugas dan UTS, semoga aja nilainya bagus.

Review please~