Tittle: Angel Heart Chapter 2
Cast: Lee Donghae, Cho Kyuhyun as Lee Kyuhyun and other
Genre: Family, brothership, angst
.
Warning: Typos, OOC, cerita pasaran, judul juga hehe dan kekurangan lainnya harap dimaklumi.
.
.
This story is mine.
All cast milik tuhan dan diri mereka sendiri
.
.
Happy reading^_^
"Eoh, jadi namamu Lee Donghae. Anyeong perkenalkan aku Lee Kyuhyun, 4 tahun" anak kecil bernama Kyuhyun itu mengulurkan tangan mungilnya pada Donghae.
Dengan senyum lembut Donghae menerima uluran tangan yang tak lebih besar darinya. Kyuhyun, anak itu bertubuh sedikit berisi. Menyebabkan dia terlihat begitu menggemaskan untuk dipeluk.
"Ne, senang berkenalan denganmu... Usiaku 5 tahun, kau bisa memanggilku hyung..."
"Mwo? Shillo!" Tolak Kyuhyun mentah-mentah "Aku lebih besal dalimu, aku juga lebih tinggi, kenapa halus memanggil hyung?"
"Usiaku lebih tua.." Donghae terdiam sebentar, tersenyum ia, kemudian menunduk, mengamati tubuhnya sendiri yang tampak kurus kering. Benar kata Kyuhyun, tubuhnya memang lebih kecil dari anak yang setahun lebih muda darinya. Namun...
"Kyunie harus memanggilku hyung karena aku sudah bisa bicara 'r' " tak kehabisan akal Donghae. Ia harus mengajari anak kecil ini cara memanggil yang benar kepada yang lebih tua. Dan mendengar aksen huruf 'r' dari mulut mungil Kyuhyun, nampaknya bocah itu masih cadel dan kesulitan
Kyuhyun nampak belum dapat mengucapkan huruf 'r' dengan benar.
"Kyunie... orang yang lebih dewasa sudah bisa mengucapkan huruf 'r' dengan benar. Kyunie belum bisa bilang 'r'kan? Itu artinya kau harus memanggilku hyung"
"Sillo! Kyu juga bisa bilang 'l' lihat 'llrlll'" Kyuhyun mencoba mengucapkan huruf 'r' sebisa mungkin. Namun tetap saja lafal 'r' itu tidak mau keluar dari mulutnya.
"Huwe...Kyu tidak bisa...hiks.. " merasa menyerah atas usahanya, Kyuhyun yang memang manja dan cengeng mulai menangis.
Secara reflek Dpnghae memeluk Kyuhyun "Aigoo tenanglah sstttt...Tidak apa-apa, nanti pasti Kyunie bisa bicara 'r'"
Entahlah, ketika sedang memeluk Kyuhyun, perasaan hangat seperti menyelimuti tubuh Donghae yang memang kedinginan.
"Kau sedang apa...eum Hae hyung..." tanyanya setelah mulai tenang.
"Eum...Hae hyung?" Tanyanya lagi saat Donghae tak menjawab. Donghae yang masih memeluknya.
"Dingin...hh..." dapat Kyuhyun rasakan tubuh yang memeluknya bergetar dan rasa panas menjalar dari tubuh ringkih itu.
"Hyung kedinginan? Apa hyung sakit?" Tanya Kyuhyun, matanya mengerjap polos, ia bingung apa yang harus dilakukannya.
Dengan sekuat tenaganya, Donghae mencoba menegakkan tubuhnya, ia tersenyum "Ani, gwenchana. Ah, Kyuhyunie tinggal dimana?"
"Um..Kyunie tinggal disana!" Kyuhyun menunjuk gedung tinggi penuh dengan lampu-lampu indah yang merupakan apartement mewah di kawasan ini.
Miris memang, ada bangunan semegah itu sedang tepat di dekatnya adalah pemukiman kumuh dengan orang-orang yang harus bekerja keras demi sesuap nasi.
"Kalau Hae hyung tinggal dimana?" Kyuhyun ganti bertanya.
"Hyung tinggal disana Kyuhyunie..."
Donghae menunjuk rumahnya sendiri yang sedikit gelap. Penerangan di rumahnya hanya menggunakan penerangan apa adanya.
"Uh...gelap sekali lumah Hae hyung. Kyunie takut.."
"Sssh..." Donghae mulai kembali menggigil. Tangannya mengusap-usap lengannya sendiri.
"Hyung dingin?"
"Gwenchana Kyunie"
Tanpa aba-aba Kyuhyun melepas jaket hangatnya kemudian menyerahkannya pada Donghae.
"Eh..!" Kaget Donghae.
Kyuhyun meringis kecil "Hyung pakai saja, Kyu tidak terlalu kedinginan"
"Tapi..." Donghae berusaha menolak.
"Ish..."
'Sreek'
Kerena sebal jaket pemberiannya tidak segeta dipakai, Kyuhyunpun memakaikan jaket itu kepada tubuh ringkih dihadapannya.
"Cha! Sudah selesai" Kyuhyun bertepuk riang melihat hasilnya.
"Terimakasih..."
"KYUHYUNIE!" Sebuah suara wanita menginterupsi percakapan keduanya. Kyuhyun menoleh dan segera berlari kearah sang wanita sang merupakan ummanya.
'Hap'
Dengan sigap sang umma menggendong tubuh berisi itu kemudian mencubit hidung sang putra dengan gemas.
Donghae hanya terdiam melihat interaksi ibu dan anak itu. Ia begitu menginginkan sentuhan itu. Sentuhan lembut seorang ibu yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya. Membuat hati terdalamnya merasakan sedikit rasa iri.
"Kyuhyunie mana jaketmu sayang?" Tanya sang umma pada Kyuhyun yang tak mengenakan jaket saat ini.
"Eum jaket Kyunie? Jaket Kyunie, Kyunie berikan sama hyung" Kyuhyun menunjuk Donghae. Membuat otomatis nyonya Lee juga menatap seseorang yang dipanggil hyung oleh sang putra.
"Anyeong ahjuma..." meski masih kecil, Donghae sangat mengetahui bagaimana cara bersopan santun.
Nyonya Lee memandang...entahlah, jijik mungkin. Mungkin karena penampilan Donghae yang lusuh membuat orang kaya macam dirinya sedikit tak nyaman.
"Kyunie kenapa kau bertan dengan anak sepeeti dia?" Nyonya Lee tampak tak menghiraukan sapaan Donghae dan malah memilih mengajukan pertanyaan pada sang putra.
"Kenapa? Hae hyung baik umma" Kyuhyun menjawab dengan nada imutnya.
"Kau tidak boleh berteman dengan orang macam dia arra! Umma tak mau kau tertular penyakit yang macam-macam"
Tak mengerti dengan apa yang diucapkan sang umma, dengan polos Kyuhyun mengangguk saja.
"Dan kau!" Hardik nyonya Lee kepada Donghae.
"N-ne ahjumma..." Donghae menjawab dengan sedikit takut.
"Lepaskan jaket itu, kembalikan jaket putraku! Cepat!" Perintahnya telak.
"Ne ahjumma..." Donghae melepas jaket itu, tak ada pilihan lain, lagi pula jaket yang sekarang dikenakannya bukan miliknya.
"Ini ahjumma" tangan Donghae terulur mengembalikan jaket itu. Tapi...
"Ah, setelah kupikir-pikir lagi sebaiknya kau bawa saja jaket itu. Aku tak mau Kyuhyunieku terkontaminasi penyakit dari orang-orang sepertimu. Pergilah!" Usir nyonya Lee.
.
Apa setiap umma begitu sayang kepada anaknya? Seperti ummanya Kyuhyunie yang begitu melindunginya. Tapi aku, bagaimana dengan ummaku? Apa umma juga sayang padaku?
.
Donghae menggigil kedinginan di tempat tidurnya. Tempat tidur beralaskan kasur tipis yang nampak kumal dan berlubang disana-sini.
Meski telah memakai selimut lumayan tebal, masih saja Donghae merasa kedinginan. Bibirnya gemetaran, sebisa mungkin ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara rintihan yang ingin melesak keluar dari mulutnya. Kepalanya terasa pusing, tubuhnya lemas.
Disampingnya, sang appa tengah tertidur pulas. Ia tak mau menganggu istirahat sang appa. Ia tahu appanya begitu lelah bekerja seharian dan Donghae tak mau sang appa mengorbankan waktu tidurnya hanya demi merawatnya.
"Ugh...sakit..." lirihnya sembari menekan daerah perutnya yang terasa perih. Mungkin perutnya berontak, ia belum memasukan makanan apapun seharian ini.
Memang sedari pagi Donghae sudah merasa tak enak badan. Ia tak berani makan pada makan kemudian memuntahkannya kembali, lebih baik tidak makan sama sekali, itu pikir Donghae.
Lagi pula sensasi yang sangat menyakitkan baginya saat makanan itu mencoba keluar dari dalam perutnya.
"Ngh...sesak..." gumamnya pelan saat merasakan dadanya mulai terasa sesak. Oh, nampaknya asam lambungnya naik dan menekan paru-paru menyebabkan ia susah bernapas sekarang.
Dengan pelan ia memukul-mukul dadanya sendiri, berharap rasa sesak itu menghilang dengan segera.
Namun sayang hal itu sama sekali tak berpengaruh. Tak ada niat sama sekali bagi Donghae untuk membangunkan sang appa. Ia hanya terdiam, mencoba bernapas meski ia sedikit kepayahan. Mencoba tertidur di tengah segala rasa sakit yang saat ini tengah menghujam tubuh lemahnya.
.
.
.
"Hae...bangun..." suara dan tepukan lembut sang appa sukses membangunkan Donghae dari tidur lelapnya. Tidur? Ah Donghae bahkan tidak tahu ia tidur atau malah pingsan.
Tapi yang jelas, ia sangat bersyukur, semua organ tubuhnya telah bekerja dengan baik pagi ini.
"Ugh...appa?" Donghae mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan dengan cahaya silau dari luar. Ia lalu mendudukan tubuhnya sambil mengucek matanya pelan.
"Bangun dan mandilah Hae-ya, appa berangkat kerja dulu" sang appa mengecup pelan dahi anaknya.
"Hati-hati appa" sebuah kata yang tak pernah Donghae lupakan untuk ia ucapkan pada sang appa. Berharap sang appa akan baik-baik saja dan pulang dalam keadaan selamat.
Jonghyun tersenyum, mengacak rambut putranya yang berwarna sedikit kemerahan itu singkat sebelum benar-benar pergi untuk bekerja.
Donghae berdiri, berjalan pelan hendak menuju kamar mandi.
'Srek'
"Eoh, apa ini?" Sebuah jaket terseret langkahnya. Nampaknya jaket itu terjatuh dilantai. Dipandanginya jaket itu sejenak.
"Ah, jaket milik Kyuhyunie" kemarin malam ia begitu kedinginan dan sakit, membuatnya lupa dimana ia meletakan jaket itu.
Mengingat itu, perkataan umma Kyuhyun mulai terngiang kembali di kepalanya "Meski aku miskin, tapi aku bukan penyebar penyakit...dia tak berhak berkata begitu..." kepalanya tertunduk sambil meremat jaket yang ada dalam genggamannya.
'Trak'
Sesuatu jatuh dari kantong jaket itu langsung membentur lantai. Menimbulkan suara pelan yang masih teetangkap dalam pendengaran Donghae.
Sebuah kalung emas putih dengan bandul berbentuk kotak seperti buku tampak disana. Diambilnya kalung itu dan diamatinya sejenak.
'Klek'
"Eh..!"
Ternyata bandul berbentuk buku itu bisa dibuka.
Nampak 2 buah foto disisi kanan dan kiri. Disisi kanan adalah sebuah foto bayi, bayi yang begitu mirip dengan Kyuhyun, atau mungkin saja itu memang Kyuhyun. Sedang disisi lainnya terdapat sebuah foto didalamnya sepasang namja dan yeoja dengan perut membuncit, hamil.
"Ini...bukannya ummanya Kyuhyun, lalu disampingnya pasti appanya. Uhm...aku akan mengembalikan kalung ini padanya!"
.
.
.
2 tahun kemudian...
"Umma...aku mau bawa botol susuku..." suara imut nan menggemaskan itu terdengar dari sebuah apartement mewah milik keluarga Lee.
Sang umma dari bocah kecil itu nampak sibuk membenarkan seragam yang dikenakan sang putra "Aigo Kyunie, kau kan sudah masuk SD sekarang. Tidak malu membawa botol susu?" Tanya nyonya Lee pada Kyuhyun yang tahun ini akan memasuki sekolah dasar kelas I.
"Ani umma, Kyu tidak malu. Kyu suka susu kenapa harus malu?" Mendengar tanggapan polos dari sang putra membuat nyonya Lee geli dan menciumi seluruh wajah Kyuhyun.
"Haha...umma hentikan... Ish Kyunie geli" Kyuhyun berontak karena merasa kegelian.
"Baiklah akan umma buatkan untukmu Kyunie sayang. Tunggu sebentar ne"
.
'Klek'
"Appa!" Kyuhyun menjerit kecil melihat sosok namja yang sangat dirindukannya memasuki apartement.
"Anak appa sudah besar eoh!" Tuan Lee segera mengangkat tubuh jagoan kecilnya.
"Tentu saja appa. Appa sudah lama tidak pulang, sukanya bekerja terus. Kan Kyunie rindu appa.." Kyuhyun memeluk leher appanya dan berceloteh riang.
"Yeobbo! Kau sudah pulang" nyonya Lee yang baru kembali dari dapur usai membuatkan susu untuk Kyuhyun menyapa sang suami.
Tuan Lee diam saja, sama sekali tak berniat menjawab.
"Appa...appa.." Kyuhyun menarik-narik ujung kemja appanya "Kenapa tidak menjawab umma?"
"Ah Kyunie, sebaiknya kau berangkat sekolah sekarang ne! Lihat sudah hampir pukul tujuh" melihat situasi yang tak seharusnya dilihat sang anak, nyonya Lee mencoba mengalihkan perhatian Kyuhyun.
Mata bulat Kyuhyun semakin membulat saat menatap jam yang hampir menunjukan pukul tujuh.
"OMO! UMMA AYO BERANGKAT!"
.
"Setidaknya jangan bersikap seperti itu dihadapan Kyuhyun!" nyonya Lee yang baru pulang mengantar Kyuhyun menghardik sang suami yang saat ini terduduk disofa dengan laptop dihadapannya.
Tuan Lee hanya melirik sebentar kemudian kembali fokus pada laptop dihadapannya.
"Aku bicara padamu Lee Myungwoo!"
"Lalu aku harus bicara apa? Kau yang menghianati kepercayaanku. Jadi jangan salahkan aku jika bersikap seperti ini"
"Demi tuhan itu bukan salahku! Salah anak itu yang hadir dalam hidupku! Salahnya mau dikandung oleh orang sepertiku! Aku tidak mintanya!"
'PLAK'
Tuan Lee menampar keras-keras. Seakan terperangah tak percaya ada seorang ibu yang tega berkata demikian tentang anaknya.
"Kau tidak berhak berkata begitu atas anugrah tuhan yang diberikan kepadamu!"
Ya, tuan Lee telah mengetahui perihal Hanna yang pernah hamil sebelum menikah dengannya dan yang membuat murka saat mengetahui sang istri yang dikenalnya sangat baik hati itu membuang anaknya sendiri.
Nyonya Lee memegang pipinya yang terasa sakit akibat tamparan sang suami dan memndang tajam tuan Lee "Anugrah apanya?! Aku tidak memintanya! Lagi pula dia anak haram! Ia sama sekali tak berharga!"
"Kau tahu kalau pun begitu, aku akan tetap menerimanya sebagai anakku. Kalau kau membicarakannya baik-baik, aku tak apa menganggapnya sebagai anakku sendiri. Tapi kau! Kau yang bahkan mengandungnya tega sekali membuangnya"
Tuan Lee tersenyum dan berbicara lirih "Kau lihat saja... kelak... kau akan menyesali segalanya"
Nyonya Lee membalas senyuman sang suami dengan senyum sinis "Hah! Bicara apa kau! Aku tidak akan menyesal. Selamanya tidak akan menyesal telah membuang anak haram itu!"
'Anak itu...bahkan sudah lenyap pun masih mengganggu hidupku. Dasar anak sial!' Batin nyonya Lee dengan tangan terkepal erat menahan amarah.
.
.
.
Dari balik jendela kecil rumahnya Donghae berdiri, termenung ia, ditangannya masih memegang spatula yang digunakannya memasak. Matanya menatap lekat anak-anak yang berjalan riang bersama teman-temannya. Mereka memakai seragam, memanggul tas juga mengenakan topi seragam. Memandangnya sendu.
"Aku ingin sekolah..." gumamnya lirih. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mengobati hati kecilnya yang ingin mengenyam pendidikan seperti anak seusianya. Jujur saja ia sangat ingin, namun ia mengerti, keadaan sang appa tak mungkin bisa menyekolahkannya. Ia tak mau membebani lebih kepada sang appa yang selalu berjuang keras matu-matian agar ia bisa makan dan hidup.
Tak terasa sebuah tetesan bening mengalir dipipinya. Segera saja ia usap itu, laki-laki pantang menangis, itu adalah prinsipnya.
Dengan perlahan Donghae kembali menuju dapur kecilnya, ia harus segera menyelesaikan masakannya sebelum sang appa datang kerumah.
'Tes' setitik noda berwarna merah pekat nampak menetes di lantai.
"I-ini..." Donghae menelusuri dari mana tetesan itu berasal. Dari hidungnya, ia mimisan.
Tangannya sedikit bergetar karena takut. Tak pernah mengalami hal seperti ini.
Beberapa saat, Ah, darahnya belum berhenti juga. Bahkan saat ini mulai menetes mengotori baju dan sebagian besar wajahnya.
Bergegas ia mematikan kompor kemudian berlari ke kamar mandi.
.
Donghae mendongakan kepalanya dan bernapas lewat mulut agar darah yang masih tak mau berhenti itu tak masuk ke tenggorokannya.
"Ugh..." Kepala Donghae mulai terasa pusing. Donghae menggeleng pelan. Pandangannya sedikit mengabur.
"Ada apa denganku?" Tanya Donghae sembari melihat pentulan wajahnya sendiri di cermin kamar mandi.
Bayangan cermin itu menampakan wajahnya yang berwarna pucat. Bibirnya sedikit mengering.
Donghae memegang dahinya, mencoba mengecek suhu tubuhnya. Tidak panas, lalu kenapa ia mengalami hal ini. Bukannya mimisan biasa dialami orang yang sedang demam tinggi, atau...kelelahan.
Ah, mungkin opsi kedua adalah jawabannya.
.
.
Tbc..
Note: buat chingu yang ngerasa Donghae disini terlalu dewasa, di cerita yang asli memang benar-benar seorang anak usia 5 tahun yang semandiri itu. Mianhe jika membuat chingu tidak nyaman hehe
Huwaa...saya nggak sabar ngelanjutin nih ff, buat yang masih nunggu ff saya yang lain, harap bersabar ne...
Terimakasih buat yang udah mau menyumbangkan ide cerita. Kalau cocok ma alur yang sudah saya buat, bakal saya masukan kok. Tapi kalo nggak, jeongmal mianhe ne.
Semoga chapter kali ini menghibur chingudeul...
