Rate : buat jaga-jaga, ini Ratenya T+/M-

Warning : this is Boy x Boy love stories. So, don't like don't read. I warn you! Super duper OCC, AU, gaje. EYD? Entahlah…

Desclaimer : The story of Harry Potter, and based character is belong to J.K Rowling

Happy Reading…^^


-Chapter 3-

Telah berjam-jam Harry berendam di kamar mandi. Tertidur didalamnya. Hingga air panas yang digunakannya untuk berendam berangsur-angsur menjadi dingin. Saat airnya tak lagi panas, namun dingin yang menggigit kulit, akhirnya Harry terbangun. Dia segera keluar dari bak dan mengeringkan badannya yang mulai kisut karena lama berendam.

Tiba-tiba Harry teringat akan Draco, kemudian Draco yang masih terikat tangan dan kakinya. Seketika Harry panik, namun pikiran lain melintas di pikirannya.

'Ah, biarlah saja, anggap ini adalah hukuman untuknya karena bersikap menyebalkan akhir-akhir ini. Dan pembalasan atas sikap isengnya dulu…' Pikir Harry tenang.

Saat keluar kamar mandi, angin dingin bulan Desember dan beberapa serpih salju menyambutnya. Sontak Harry menggigil kedinginan. Melihat kearah balkon yang terbuka lebar, Harry segera menutupnya. Menghalangi angin dingin menerpa tubuhnya. Dan saat dirinya membalikkan badan…

Terlihat oleh Harry tubuh terikat Draco Malfoy terlentang di atas tempat tidur, dengan pakaian yang terbuka, dan badan yang kaku tak bergerak.

"DRACO!" Teriak Harry, seraya berlari menghampiri tubuh kaku itu.

Kulit Draco yang pucat, kini berwarna putih kelabu, dingin dan kaku. Saat Harry mengguncangkan badan Draco, tak ada respon. Draco telah tak sadarkan diri. Secepatnya, Harry melepaskan ikatan tali pada kedua tangan dan kakinya. Saat ini, terdapat tanda kebiruan pada setiap pergelagan tangan dan kaki Draco. Tak lupa, Harry memasangkan kembali pakaian draco pada kondisi semula. Walau sedang panik, melihat Draco seperti itu tak tetap saja membuat Harry mengagumi keindahan tubuh bak pualam yang terbaring tak sadarkan diri didepannya itu.

Harry menggelengkan kepalanya. mengusir pikiran liar yang seenaknya melintas di kepalanya saat itu. melihat bibir Draco yang berwarna kebiruan, membuat Harry tak mengerti harus berbuat apa. Dia bukan penyembuh. Bukan Hermione yang pintar. Bukan peri rumah yang mempaunyai sihir tak terduga. Dan bukan pula potion master seperti keahlian Draco pada divisi Auror. Harry hanyalah penyihir biasa yang terkurung dengan keadaan tak memiliki tongkat untuk melakukan sesuatu. Tetapi untunglah, logika Harry selalu kembali pada saat-saat terakhir dia membutuhkannya.

"Draco, bertahanlah!" Harry segera menyelimuti tubuh Draco dengan selimut yang ada.

Lama Harry mengamati tubuh Draco, tak ada banyak perubahan. Tangannya masih seputih dan sedingin salju yang menderu diluar sana. nafas Draco pendek-pendek. 'sepertinya dia kekurangan suplay oksigen…' batin Harry

Perlahan, Harry mendekati Malfoy yang berbaring mengenaskan. Antara kemanusiaan dan kewarasannya bekecamuk hebat dalam hatinya. 'aku yang membuat dia begini, tapi… bila sesuatu yang aneh itu datang lagi…. Bagaimana?' tapi akhirnya rasa kemanusiaan, (atau rasa sayang ?) harry menang. Membuang jauh-jauh pikiran lainnya, Harry mendekati Draco dan memberinya nafas buatan.

Rasanya, bibir dingin itu begitu mati. Tak seperti yang pernah Harry rasakan sebelum ini. Saat Draco tersadar penuh dan menerima apa yang dia lakukan…. dan saat itu, air mata Harry berlinang. Dia yang membuat Draco seperti ini… dan Harry merasa teramat bersalah.

Dilepasnya bibir Draco setelah nafasnya kembali teratur, dan didekapnya tubuh dingin Draco. Erat. Dan tanpa mengacuhkan kemungkinan nafas Draco akan kembali tak stabil akibat perlakuan Harry. Yang ingin di lakukannya hanyalah memberikan seluruh kehangatan yang dia punyai untuk Draco. Membuat Draco kembali dengan kehangatan tubuhnya yang pernah ia rasakan sebelumnya. Harry tetap pada posisi itu hingga akhirnya dia terlelap dengan Draco ada di pelukannya.

.

.

Saat Draco mulai tersadar, kepalanya sungguh berat dan sakit. Nafasnya sesak, dan tubuhnya sakit. namun hangat pada saat yang sama. Perlahan Draco membuka matanya. Dilihatnya rambut hitam yang sangat berantakan dan wajah seorang Harry potter yang sedang terlelap di bahunya. Draco menggerakkan tubuhnya namun tak bisa. Dilihatnya lengan Harry mendekapnya kuat.

Draco mencoba mengangkat tubuhnya agar dapat duduk tegak, namun saat itu juga serangan sakit pada kepalanya mendatanginya. Draco menjerit keras dan merebahkan kembali kepalanya dengan sedikit hentakan. Mendengar teriakan Draco, Harry pun bangun. Mendapati Draco yang sedang merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya.

"Draco, kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Kau tak apa?" Tanya Harry khawatir

Draco tak menjawab pertanyaan Harry, sakit yang melandanya menyebabkannya tak focus. Dan Draco menjerit keras saat sakit itu datang bertambah menyakitkan.

"Draco!oh, maafkan aku.. bertahanlah! Kreacher!" panggil Harry.

CTAR, Kreacherpun datang dengan kehebohannya seperti biasa.

"tolong bawa Draco ke St Mung-" Perkataan Harry terhenti saat tangan dingin Draco mencekalnya kuat.

"J-jangan… A-ku tak mau! K-kalau kau melakukannya, aku tak akan memaafkanmu Harry hh…hh.." Kata Draco sambil terengah, nafasnya memburu.

"T-tapi Draco, kau sakit! Dan kau perlu ke St. Mungo. Kau harus sembuh!"

"Dan membiarkan semua orang bertanya-tanya mengapa aku bisa terkena Hipotermia, dan pergelangan tangan dan kakiku semuanya membiru? Kau tak tau apa yang di dapatkan mantan pelahap maut sepertiku disana… aku hanya akan diperlakukan seperti sampah! Dan aku tak akan membiarkannya, Harry. Aku tak ingin menyulitkanmu."

"Tapi. Aku. Tak. Peduli. Draco. Malfoy! Aku ingin kau sembuh! Dan memang aku yang menyebabkan ini. Aku akan menerima semua konsekuensinya. Asal kau sembuh. Itu saja."

"Tapi aku tak mau. Dan tak akan pernah memaafkanmu bila kau melakukannya. Aku Cuma sakit biasa, jangan dibesar-besarkan… hh.. hh.." teriak Draco terengah-engah. Sakit di kepalanya semakin menjadi. Tapi Draco tahan agar Harry tak khawatir. Draco Hanya mencengkeram erat selimut yang membungkusnya sebagai pelampiasan rasa sakitnya.

Namun hal itu tak luput dari pandangan Harry. Harry tau bahwa Draco merasakan sakit yang amat sangat. Namun dia sangat keras kepala. Harry menghela nafas pelan.

"Baiklah, kalau itu maumu. Tapi istirahatlah… katakan semua yang kau inginkan padaku…. Maafkan aku, karena aku yang menyebabkanmu menjadi seperti ini." Kata Harry sambil membantu Draco merebahkan kepalanya.

"Just stay here…" Sebuah permintaan simpel yang membuat Harry tertegun. Harry memandang Draco. Namun mata abu-abu itu telah menutup. Mencoba untuk merasakan sakitnya. Dan mencoba mensyukuri semuanya.

"Kreacher, tolong bawa Ron dan Hermione kemari." Pintanya singkat pada peri rumahnya itu.

"Baik, Master Harry Potter Sir..." Kreacher membungkuk dan meghilang dengan suara seperti lecutan.

Harry duduk di sebelah Draco, menggenggam jemari-jemarinya yang dingin. Berharap akan sedikit menenangkannya. Walau tak berharap meringankannya.

"Aku akan tetap disampingmu Draco…" Bisik Harry pelan.

.

.

Di The Burrow, Ron dan Hermione tidak kaget akan kedatangan Kreacher. Kedua orang yang mereka kurung pastilah amat marah pada apa yang telah mereka lakukan. Jadi, wajar bila Daco dan Harry akan segera membunuh mereka begitu pagi tiba.

"Miss Hermione, dan Mr Ronald sir, saya di minta Master Harry Potter untuk membawa anda menuju Grimmauld Place, segera." Kata kreacher cepat.

"Baiklah Kreacher, kami akan kesana setelah makan pagi. Setidaknya aku merasakan enaknya pai apel sebelum mereka membunuhku." Kata ron santai. Mulai menggigit pai apel yang ada di meja makan.

"Ini sudah tak bisa menunggu lagi, Mr Ronald sir. Bahkan hanya untuk makan pagi sekalipun. Ini keadaan gawat, sir. Master Draco Malfoy sedang sakit. " Cicit Kreacher cepat. Bahkan, bersiap bila perlu menggunakan tindak kekerasan pada kedua sahabat majikannya itu.

Hermione tersentak dan mengerutkan keningnya.

"Kau bilang apa Kreacher? Draco sakit? Bagaimana bisa? Dia sakit apa Kreacher?" Tanya Hermione khawatir.

"Betul Miss, Master Draco sedang sakit, dan berkeras tak mau dibawa ke St. Mungo walau Master Harry Potter memaksanya. Tapi saya tak tahu Mr Draco sakit apa, dan saya juga tak yakin Master Harry Potter juga tahu. Jadi bila Miss dan Mr tak mau, Kreacher tak segan-segan untuk memaksa." Ancam Kreacher. Telunjuknya yang panjang telah teracung mengancam

"Baiklah Kreacher, kami akan kesana sekarang. Ayo, Ron!" Dan Hermione pun berapparate dengan menyeret Ron yang tak bisa membantah karena mulutnya masih penuh dengan pai apel kesukaannya.

.

Sampai di Grimmauld Place, Hermione segera menuju kamar Draco. Dan Ron? Dia sedang terbatuk-batuk mencerna pai apel yang hampir keluar dari kerongkongannya akibat efek apparate.

"Harry? Draco kenap-" Hermione segera menghentikan kata-katanya saat membuka pintu di kamar Draco, dan mendapati posisi mereka yang membuat wajahnya sedikit memerah.

Posisi Harry saat itu sedang tertidur di kursi dengan kepala tertelungkup di samping kepala Draco yang terbaring di tempat tidur. Dan kedua tangan Harry menggenggam erat tangan Draco. Sangat protective. Jadi untuk yang sempat sudah berharap macam-macam, sayang sekali anda belum beruntung.

Hermione tak tega membangunkan mereka, dengan senyum masih tersungging di bibirnya, Hermione mundur perlahan dan akan menutup pintu saat Kreacher muncul dengan suara yang seperti lecutan keras.

CTAR. Dan Hermione menepuk dahinya pelan. Ingin rasanya Hermione mencincang Kreacher yang datang pada waktu yang tak tepat. Namun ia berpikir bahwadirinya tak mungkin melakukan hal itu, dan hanya Ron yang akan bertindak begitu, maka Hermione pun mengurungkan niatnya.

"Mione? Kau kah itu?" Tanya Harry sebelum Hermone sempat menutup seluruh pintu.

"Um, yeah Harry? Ku pikir aku tak ingin membangunkan kalian berdua.." kata Hermione salah tingkah.

"Oh syukurlah kau datang, Mione. Draco sakit, dan tak mau dibawa ke St. Mungo…. aku tak tau harus berbuat apa.. apa kau bawa tongkatku?" Kata Harry cepat. Mendatangi Hermione.

"Ya Harry, dan… maafkan aku, mungkin kalau bukan karena ide bodohku, Draco tak akan seperti ini.."

"Tenanglah Mione, aku sepenuhnya telah memaafkanmu. tapi bisahkah kau membantuku? Draco.. dia.. oh ini semua salahku!" Dan Harry pun menceritakan segala kejadian kepada Hermione.

"Oh, aku benar-benar menyesal Harry, kalau bukan karena ide bodohku pasti tak akan seperti ini.." Hermione menepuk pundak Harry pelan

"Akulah yang bodoh, Mione. Aku tau kau hanya mencoba untuk membantu. Sudahlah, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyesal. Ayo kita lihat keadaannya."

Nafas Draco masih tak stabil. Badannya terasa panas. Namun ujung jarinya yang tadi digenggam Harry kembali terasa amat dingin. Seperti mati. Kulitnya yang pucat makin pucat seperti tak berwarna. Pergelangan tangannya yang membiru tak tampak membaik. Satu kata yang menggambarkan Draco Malfoy saat ini: mengenaskan.

"Harry, sepertinya dia mengalami Hipotermia.. walau mungkin telah melewati masa kritisnya. Dan demamnya tinggi sekali. Tak ada mantra yang dapat menyembuhkannya. Dia perlu ramuan Harry! Hanya itu yang ku tau, dan semoga memang hanya itu."

"Baiklah Mione, tepatnya, ramuan apa yang harus ku buat?"

"Kau tau, Harry, aku bukan penyembuh. Dan selama di kelas ramuan kita hanya diajari konsep dasar seperti penggunaan Dittany. Tapi tak ada salahnya mencoba dengan ramuan merica setan. Sepertinya akan berfungsi untuk menghangatkan tubuhnya."

"Trims Mione, aku tak tau harus bagaimana kalau tak ada kau…" Harry beranjak dari duduknya dan merapalkan mantra penghangat disekitar tubuh Draco dan berjalan menuju pintu keluar.

"Kau mau kemana Harry?" Tanya Hermione.

"Aku bukan potion master Mione. But He does. Aku akan keruang kerja Draco dan meminjam bukunya untuk membuatkannya ramuan."

"Tapi, apa kau yakin bisa membuatnya?" Tanya Hermione tak yakin.

"Aku yang menyebabkan semua ini. Maka aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan berusaha membuatnya kembali menjadi Draco yang hidup. Aku yakin di ruang kerjanya, Draco pasti menyimpan beberapa catatan. Semoga memang ada." Hermione tersenyum mendengar kata-kata Harry "Dan jangan senyum-senyum tak jelas, Mione. Karena aku tak akan tersenyum sebelum mendapatkan senyum Draco kembali."

.

Di Ruang kerja Draco, Harry mulai mencari-cari di setiap buku yang ada disana tentang ramuan-ramuan penyembuh. Dari buku-buku tebal yang ada disana, Harry sama sekali tak menemukan petunjuk pembuatan merica setan ataupun ramuan untuk penyakit yang mirip dengan yang di tunjukkan tubuh Draco sekarang ini.

Harry hampir saja menyerah sebelum menemukan jurnal berwarna Hijau zambrud yang telah usang di tumpukan terakhir. Dibukanya buku itu. Itu buku di tahun ke7 Draco saat perang besar berlangsung. Banyak sekali catatan-catatan yang tertroreh disana. Seolah menceritakan pada Harry di tahun ke7 Draco dia begitu tenggelam didalamnya. Itu mungkin saja. Di tahun ke7 Draco, Draco sangat tertekan, dan dikhianati oleh teman-temannya seperti Crabe dan Goyle. pasti tidaklah mudah baginya.

Isi jurnal itu sebagian besar merupakan ramuan-ramuan penyembuh. Seakan Draco mempelajarinya untuk berjaga-jaga bilamana salah satu keluarganya terluka atas ulah Voldemort. Dan Harry akhirnya menemukannya. Ramuan Merica setan.

Jurnal itu rapi, dengan gaya tulisan yang angkuh khas Draco Malfoy. Sangat lengkap, hingga mengingatkan Harry akan buku Pangeran Berdarah Campuran milik Snape. Tanpa buang waktu, Harry segera melakukan segala prosedur yang tertulis di jurnal itu.

Merasa jurnal itu akan dipakainya lagi, setelah ramuan itu selesai, Harry menyimpan jurnal Draco di kantongnya. Harry segera menuju ke kamar Draco dengan sepiala ramuan mengepul ditangannya. Saat Harry memasuki kamar Draco, Hermione sudah tak ada disana. Mungkin menemui Ron yang sedang mengeluarkan isi perutnya karena efek apparate.

Draco sudah bangun. Terduduk di tempat tidurnya dengan tangan masih memegangi kepalanya. Harry tersenyum padanya. Namun Draco hanya mendengus dan membuang muka sebagai balasannya. Tanpa merasa keheranan atas sikap Draco, Harry bertanya dengan nada ceria.

"Kau sudah bangun Draco? Bagai mana perasaanmu? Apakah lebih baik? Aku keruang kerjamu, dan meminjam beberapa catatanmu untuk membuatkan ramuan merica setan ini. Kupikir aku melakukan semuanya dengan benar, jadi, ayo minumlah. Ini akan membuatmu lebih baik." Kata Harry cepat, sambil tersenyum ceria.

Lama Harry berdiri mematung sambil tersenyum memegangi piala yang mengepul bak seorang salles promotion boy sebuah produk kecantiakan, namun tak jua Draco merespon ucapannya, apalagi menoleh. Draco tetap terdiam seribu bahasa. Setelah beberapa saat, Harry baru menyadari keanehan ini.

"Draco?" panggil Harry pelan

"…"

"Draco, kau tak mungkin sedang tertidur. Berbaliklah, dan minum ini." Kata Harry lembut.

"…"

"Draco, kau mengacuhkanku lagi. Kau telah berjanji tak akan melakukannya lagi. Apa masalahmu?" kata Harry tak sabar.

Draco perlahan menolehkan kepalanya, dan menatap langsung ke mata emerald Harry.

"Kau yang tak menepati kata-katamu, Harry. Kau meninggalkanku." Kata Draco lemah. Sendu.

Harry terdiam. Situasi ini tak pernah ia sangka. Seorang Draco Malfoy berbicara dengannya seperti itu, dengan nada merajuk? Dunia sudah mulai gila.

"Aku hanya meninggalkanmu sebentar, Draco. Hanya untuk membuatkanmu ramuan. Dan lihat, aku sudah kembali…" Kata Harry simple, masih tak mengerti harus bersikap bagaimana.

"Tapi kau tetap meninggalkanku, Harry! Aku tak mau meminum ramuan itu!" kata Draco dengan nada merajuk. Harry masih saja tak mengerti.

"Menurutmu, bagaimana caranya aku bisa membutkanmu ramuan bila aku tak meninggalkanmu, Malfoy?" Lama-lama Harry menjadi emosi.

"Aku tak menyuruhmu membuatkanku ramuan itu, dahi pitak!"

"Berhenti mengataiku dahi pitak, musang berrambut pirang!"

"berhenti memanggilku Malfoy kalau begitu! Aku sudah memanggilmu Harry!"

Pertengkaran bisa. Membut Draco merasa lebih hidup, mungkin. Tapi sayang, menguras tenaganya. Setelah adu teriak yang naas itu, badan Draco bergetar hebat, dan limbung. Membut emosi Harry menguap seketika. Digantikan oleh rasa panik. Diletakkannya piala berisi ramuan yang membuat kehebohan itu di meja, dan mendekati Draco yang mengerang panjang karena serangan sakit kepalanya.

"Draco!" Jerit Harry yang langsung melemparkan dirinya disamping Draco, mendekapnya erat. Nafas Draco nasih tersengal, dan tubuhnya masih gemetar di dekapan Harry. Namun teriakan Draco sudah berhenti. Seakan dekapan Harry menenangkannya.

"Kau harus minum ramuan itu, Draco. Aku sudah membuatkannya, dan kau memang memerlukannya. Percayalah padaku, Draco…" kata Harry lembut. Diusapnya rambut pirang Draco yang terasa sangat lembut itu, dan dan ditatapnya mata abu-abu yang tampak merana itu. Lekat-lekat.

"Baiklah… berikan padaku, Harry.." Dan Draco pun meminum semua ramuan buatan Harry yang sebenarnya tak meyakinkan itu…. Setelah ramuan itu dengan susah payah masuk seluruhnya ke tenggorokan, perlahan mata Draco menutup. Dan kesadaran semakin menjauhinya. Membawanya terlelap di alam bawah sadar tanpa mimpi.

Ya, Draco memang membuat riset dan telah mencampurkan bahan-bahan pembuatan ramuan merica setan dangan ramuan tidur tanpa mimpi, sehingga penderita yang meminum ramuan itu benar-benar istirahat total.

Namun, sebelum Draco sepenuhnya terlelap, dia sempat berkata;

"Kumohon,jangan tinggalkan aku sendiri, Harry…" Mungkin kalimat itu belum selesai, tetapi Draco telah jatuh terlelap.

Harry terdiam. Memandangi rupa bak malaikat yang tengah terlelap di depannya. Betapa tenang, betapa polos, betapa berbedanya dengan orang egois dan sombong yang pernah dikenalnya. Hanya dalam satu malam, hanya satu malam, Draco membuat Harry memandangnya dengan berbeda. Sangat berbeda dangan semua persepsinya dulu.

Hanya dengan satu pagi, satu pagi yang membuat Harry melihat sisi yang berbeda. Sisi Draco yang tak pernah ia tau, tak pernah ia sangka.

"Kupikir, aku tau segalanya tentangmu, sikapmu… tapi yang kini ku tau, aku salah… aku tak mengerti apapun tentangmu.." Bisik Harry sambil mengusap rambut pirang Draco.

Harry teringat kata-kata terakhir Draco. Sungguh, dari kata-katanya, tersirat akan kesepian, kesendirian, pengharapan yang sangat besar, tulus…. Harry berpikir, apakah sebenarnya itulah Daco? Pemuda yang kesepian, hanya ingin perhatian, dan teman yang kini meninggalkannya? Harry tak tau..

Pemuda yang sangat rupawan, dan kaya ini, pastilah banyak yang menyukai. Banyak yang mengharapkan. Dan pasti sangat merana tak dapat bersama orang yang dia puja… orang yang sangat beruntung bisa mendapatkan hatinya… pikir Harry.

"Maafkan aku… karena aku, kau tak bisa menemukan belahan hatimu…. Maafkan aku, Draco.." Dan air mata pun turun dari mata emerald Harry, jatuh dipipi Draco. Karena setelahnya, Harry mencium Draco. Tepat di bibirnya yang dingin, mencoba merasakan kesakitan Draco.

Dibalik pintu, dua pasang mata mengawasi. Yang satu dengan penuh haru, yang satu dengan pandangan horror. Nyaris muntah. Kemudian dua pasang mata tersebut pergi, meninggalkan pemandangan penuh haru dibelakangnya.

"semoga akan berjalan dengan baik, iya kan Ron?"

"…"

"Ron?"

Hermione berbalik memandang calon suaminya yang berjalan dibelakangnya. Mendapatinya setengah trans.

"Ron?" Panggil Hermione lagi, membuat Ron tersadar dari transnya.

"Sepertinya, aku mau muntah lagi, Mione-" Dan Ron pun berlari melewati Hermione begitu saja sambil memegang mulutnya yang telah menggembung.

"Huuuuh…" Hermione menepuk dahinya pelan, dan menghembuskan nafas dalam-dalam. "Apakah aku akan menikahi orang yang benar? Kreacher, tolong kau siapkan makanan untuk kedua tuanmu, antarkan saja kekamarnya. Sepertinya mereka sudah tak bisa terpisahkan…" Kata Hermione lemah. Frustasi nampaknya.

-To be Continued, Maybe….-


A/N:

Hyaaaaaa…. Maaf saya update kelamaan. Setelah 2 minggu stress menghadapi UAS, saya kembali dibikin stress bertubi-tubi dengan banyak kerjaan nonakademis. Sampai sekarang, belon juga kelar… pengen nangis darah rasanya. Apalagi ditambah Harry Potter 7 part 2 yang belum juga keluar, bikin saya tambah pundung… TT_TT mana trans tv juga memperparah keadaan mood dengan menayangkan Harry Potter 4 dimalam sebelum Harry Potter 7 part 2 rilis Hollywood lagi! Huuuaaaa! Rasanya pengen nimpuk Draco yang gak bagi-bagi galleonnya untuk saya beli tiket ke Singapore!

Terimakasih untuk semua mereview fic gaje saya ini… saya akan menjawab beberapa review disini, yang mungkin butuh sedikit klarifikasi..^^

Pada kalimat yang ini
- namun ternyata sahabatnya itu memang sudah mulai gila seperti calon Harry pun menghela nafas panjang

hehehe, itu sepertinya terjadi perubahan/missing word saat di upload… karena di draft asli masih sama: '…namun ternyata sahabat perempuannya itu memang sudah mulai gila seperti calon suaminya…' haduwh, maaf ya… m(_ _)m terimakasih atas kejelian koreksinya…^^

yang pada kalimat: 'Wow.. wow… wow.. sabar Potter… bila kau melakukan itu, para penggemar beratmu akan kecewa…' saya memang agak sedikit kebingungan untuk mengekspresikan gaya bicara Draco Malfoy yang cenderung diulur-ulur… saya takutnya kalau memakai tanda seru, malah bikin Draco terkesan tegas. #garuk-garuk

terus, Maaf, alurnya emang agak sedikit saya cepetin di chapter 2. Lupa kasih notification… T.T Mungkin bakal ada lagi :b

Warning OCC ya? Haduh, di chapter 1 memang saya kelupaan... tapi seinget saya chapter 2 udah ada. Semoga Chapter ini lebih berkembang…

Terimakasih banyak telah meluangkan energy anda untuk mereview… maaf bila saya tak bisa update kilat… semoga chapter ini bisa sedikit membayar lamanya update… T.T

Untuk semuanya, terimakasih telah mau membaca dan terutama mereview fic gaje saya… review anda membuat saya semakin bersemangat untuk melanjutkannya! Walau kemarin sempat stuck gara-gara terlalu capek dan gak dapet feel untuk menulis, akhirnya update juga….

Dan saya juga sedih, karena acap kali cek harpot archive bagian Drarry, seringnya sepi 'new story/new chapter'… semoga setelah ini akan lebih banyak author yang publish \(^0^)/ #maunya…

Keep read, write, and review guys…^^

mind to review?