"Kau berhutang sebuah penjelasan Haruno Sakura."
Bisakah kau menebak siapa itu?
Hn.
Haruno Sasori.
"Hmm, aku tahu aku berhutang penjelasan padamu nii-chan." Hening sejenak, "Sangat banyak penjelasan."
.
.
.
Arissachin production
Proudly present
Dark Moon© Arissachin
The character belong to Masashi Kishimoto-san
While, The story is pure mine
.
"Aku lahir kembali dalam wujud yang baru,
Bukan sebagai bulan yang lemah. Tapi, menjadi bulan yang kuat."
.
.
.
ACT THREE : The Trap
.
Sakura berjalan sembari memegangi tas punggungnya yang berwarna hitam. Dengan kemeja putih, jas coklat, rompi abu-abu, rok berwarna abu, dan sepatu kets putih Sakura tampak menawan. Bahkan tanpa seulas senyumpun Sakura tetap terlihat luar biasa. Rambut pinknya sengaja ia urai. Membuatnya tampak semakin menawan.
Sakura berjalan sembari menggumam tak jelas. Berkali-kali umpatan terdengar meluncur dari bibir gadis itu. Hm, terimakasih pada kakaknya tercinta. Semalaman ia mengobrol dengan Sasori hingga pukul 2 pagi! Berbagai ceramah keluar dari kakaknya tercinta. Dari mulai betapa bodohnya dia, betapa naifnya Sakura, betapa tak dewasanya Sakura, dan berbagai macam ceramah lainnya.
Ia hanya tertidur 2 jam setengah. Sebelum ibunya membangunkannya. Menyuruhnya cepat bersiap-siap. Karena ayahnya akan mengantarkan dirinya kesekolah pagi ini. Dengan berat hati Sakura beranjak dari kasurnya.
Hm, 2 jam setengah merupakan waktu tidur yang sangat kurang. Dan, ketika seorang Haruno Sakura kurang tidur. Itu menyebabkan moodnya menjadi buruk.
"Pagi Sakura."
TAP.
Langkah Sakura seketika terhenti. Suara baritone menyebalkan itu. Suara lelaki brengsek itu. Suara rendah yang terkesan berat dan hangat pada saat yang bersamaan. Oh, great! Lelaki itu pas sekali sih? Padahal, ia berniat membuat lelaki itu mencarinya. Ternyata tanpa dimintapun lelaki itu mencari dirinya. Well, itu hal bagus. Berati, sepertinya semuanya akan berjalan lancar.
Sakura mengadahkan kepalanya. Ia menatap lelaki berambut biru dongker itu. Sakura memiringkan kepalanya, ia menatap dingin lelaki itu. "Halo, selamat pagi."
Sasuke lalu menyeringai. "Kenapa kau datang pagi eh? Merindukanku?" goda Sasuke.
Sakura memutar matanya, "Aku tidak dalam mood untuk bercanda Uchiha." Kata Sakura datar.
"Kau galak sekali sih." Cibir Sasuke. Lalu, ada jeda sejenak. Sasuke akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara. "Apa yang kau maksud dengan balas dendam?"
"Aku terlalu malas membahasnya."
Sasuke memutar bola matanya. "Terangkan lebih detail."
"Aku berubah pikiran."
Sasuke mengerutkan keningnya. Ia merasa heran. Ada apa dengan gadis berambut pink ini? Bukankah terakhir kali ia bertemu dengannya, gadis itu masih menggebu-gebu ingin membalas dendam? Apa yang terjadi? Gadis ini masih sama dengan gadis menyeramkan kemarin siangkan? Yang berkata bahwa ia ingin membunuhnya? "Apa?"
Sakura mendengus, ia memutar kedua bola matanya. "Kau bodoh, idiot, tuli, atau apa?" kata Sakura dengan nada merendahkan. Ia lalu melanjutkan perkataannya. "Aku tak'an membalas dendam padamu." Kata Sakura sembari mengangkat bibir sebelah kanannya.
"A-apa?" kata Sasuke heran. "Kenapa?"
Sakura menghela nafasnya. "Ya Tuhan, kau itu memang benar-benar idiot sejati." Hening sejenak. "Aku tak'an membalas dendam padamu. Aku terlalu lelah. Kita lupakan saja semuanya. Anggap semuanya tak pernah terjadi. Anggap kita tak pernah bertemu dimasa lalu. Anggap saja kau tak pernah mengenalku. Jadi… ah, hanya… lupakan semuanya."
"Ini trikmu?"
Sakura mengeratkan pegangannya pada bukunya. "Aku… aku ingin memulai hidup yang baru." Lalu Sakura tersenyum simpul. Senyum yang tak pernah Sasuke lihat semenjak Sakura pulang kembali ke Konoha. "Aku ingin memulai semuanya." Hening sejenak. "Dengan Gaara-senpai." Kata Sakura pelan.
Sasuke membelakan matanya. "APA? SIAPA?" kata Sasuke. Ia hampir berteriak karena kaget. "Gaara?" kata Sasuke mencoba meyakinkan pendengarannya. Oh, please! Buatlah, ia salah dengar atau apa saja!
Sakura mengangkat bahunya. "Yeah, dia orang yang baik." Sakura lalu melirik jam tangan putih yang melingkar ditangan kanannya. "Whops, aku memiliki jadwal piket pagi ini. Jadi, see ya." Sakura menepuk bahu Sasuke lalu ia berjalan menjauh.
Baru beberapa langkah berjalan, Sakura berhenti dan memutar tubuhnya. "Aku pikir ini saatnya untukmu untuk berhenti memainkan gadis-gadis. Dan, aku titip salam untuk gadismu tercinta.Dia gadis yang cukup bodoh, memilih mengambilmu dariku." Kata Sakura seraya mengangkat bahunya. "Kurasa, keputusannya kali ini tidak terlalu buruk. Dia membuatku menyadari keberadaan Gaara-senpai. Sejujurnya, bahkan sekarang aku pikir aku bahkan sudah tak menyukaimu lagi. Jadi, selamat tinggal. Uchiha-san." kata Sakura sembari melambaikan tangannya. Sakura lalu berjalan kembali.
"TUNGGU!"
Sakura menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Kau tak boleh melupakan diriku. Kau akan mencintaiku lagi Haruno Sakura. Camkan hal itu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi." Kata Sasuke dengan tegas. "Kau dengar itu? Aku akan membuat kau jatuh cinta pada diriku lagi Sakura." Ulang Sasuke.
Perlahan senyum Sakura mengembang. Ia menyunggingkan senyum arogannya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak tertawa. Lalu, tanpa menoleh kebelakang ia berjalan kembali menuju kelasnya. Berpura-pura tak mendengarkan Sasuke. Meninggalkan seorang Uchiha Sasuke yang merasa kalah. Seperti pecundang.
Hmm, pecundang sejati.
Mulut Sakura terbuka, meluncurkan sebuah kata. "Gotcha." Kata Sakura dengan suara yang rendah dan pelan.
Uh-oh, rupanya gadis licik kita memiliki rencana lain bukan?
Get ready, Uchiha-san.
.
.
"Dia kembali."
Gadis berambut pirang itu merasa seakan dunia disekelilingnya berhenti berputar. Suara Shion seolah-olah membangunkan kembali mimpi buruknya. Mimpi yang ia tahu pasti akan menghantuinya sampai ia mati nanti. Hampir saja, telepon genggamnya jatuh dari pegangannya. "B-bagaimana? K-kapan ia kembali?" kata gadis pirang itu terbata-bata. Bahkan selimut sutranya, tak cukup untuk menghangatkan dirinya saat ini.
"Darling, aku turut menyesal atas kembalinya dia. Tapi, entahlah. Aku merasakan ia berubah."
Alis gadis itu menaut menjadi satu. "Berubah? Berubah bagaimana?" kata gadis pirang tersebut.
Suara disebrang tersebut terdengar bergetar. Seperti, ketakutan? "Entahlah, ia lebih menakutkan? Aku merasakan aura mengerikan disekelilingnya. Sayangku, kau sepertinya harus berhati-hati kali ini."Jawab Shion.
"Kenapa?"
Suara di sebrang terdengar mendesah berat. "Aku hanya merasakan sepertinya, ia kembali untuk membalas dendam sayang. Entahlah, tapi yang pasti ia kembali dengan semua dendamnya."
Gadis berambut pirang tersebut menjatuhkan blackberry strom miliknya kedalam pangkuannya. Tenggorokannya tercekat. Ia sudah tahu dengan pasti semenjak dulu. Sakura pasti akan kembali menuntut balas. Tapi, ia tak mengira akan secepat ini. Dengan semua hal yang telah ia lakukan dulu, ia tahu pasti suatu saat ia akan mendapat balasannya. Cepat atau lambat. Kelakuannya dulu, pasti akan dibalas. Apalagi, yang ia lakukan dulu telah menghancurkan Sakura. Menghancurkan gadis Haruno itu menjadi berkeping-keping.
"Ino? Halo? Ino?"panggil Shion.
Gadis yang dipanggil Ino itu menggigil ketakutan. Takut akan apa yang akan terjadi kedepannya. "B-bagaimana ini…" katanya pelan.
Satu hal yang ia sadari : Haruno Sakura. Ia akan menghancurkan Ino seperti Ino menghancurkan dirinya.
Dan, itu tentu saja bukan kabar yang bagus.
.
.
Sasuke menegak Winenya dalam sekali tegukan. Pikirannya kacau. Ia tak bisa berpikir jernih sama sekali. Semua yang ada dalam otaknya hanya Satu.
Haruno Sakura.
Sakura. Sakura. Sakura. Sakura.
Ia sama sekali tak bisa melakukan hal yang benar sejak pagi tadi. Semenjak pertemuan terakhirnya dengan gadis Haruno itu. Perkataan Sakura terus menghantui dirinya.
Berniat melupakan dirinya? Melupakan Uchiha Sasuke? Berpura-pura tak mengenalnya?
APA IA GILA!
Mana mungkin ada seseorang yang bisa melupakan dirinya? Melupakan Uchiha Sasuke! Ia pasti sangat bodoh, untuk berfikir bisa melupakan Sasuke.
Dan, apa yang ia maksud ketika berkata bahwa ia akan melupakan Sasuke? Uchiha-san? Memulai semuanya Gaara-senpai? Haha, apa ia mencoba membuat Sasuke tertawa?
"Brengsek." Umpat Sasuke.
Sasuke tak bisa berpikir jernih! Ia terus memikirkan gadis berambut pink itu! Memikirkan segala hal tentang gadis itu.
Rambut pinknya, mata emeraldnya, kulit putihnya, lekuk tubuhnya, suaranya, gerak-geriknya, segalanya!
Demi seluruh keturunan Uchiha! Haruno Sakura tak boleh melupakannya!
Tak ada satu orangpun yang boleh!
Aroma wine menguar kuat dari mulut Sasuke. Ia lalu menegak kembali gelasnya yang ke 11. Kepalanya mulai terasa berat. Dunia seolah-olah berputar-putar disekelilingnya. Sasuke mendengus. Lalu, kata-kata meluncur tak karuan dari mulut Sasuke. Yang semuanya berhubungan dengan gadis keturunan Haruno itu. "I..ia tak… boleh… me… kau… tak'an bi…sa… me… hhh" racau Sasuke. Sebelum Sasuke bisa menyelesaikan perkataannya, ia sudah jatuh tertidur.
Sesosok gadis berambut pirang masuk kedalam night club. Mata biru cerahnya mencari-cari sosok berambut raven. Ia lalu menepuk bahu seorang pelayan berambut coklat. Ia bertanya dimana tuan muda pemilik club ini duduk.
Gadis pelayan itu menunjuk kearah pojok atas bar. Gadis berambut pirang itu mengangguk dan menggumamkan kata 'arigatou'. Ia berjalan cepat mencari lelaki berambut raven itu. Setelah menaiki tangga, akhirnya ia menemukannya. Ia berjalan ke arah lelaki itu.
Sepasang sepatu berwarna merah berhenti tepat di depan meja si bungsu Uchiha. Gadis dengan mata berwarna biru, dan rambut pirang yang ia ikat tinggi. Dress merah selututnya menampakan lekuk tubuhnya yang indah.
Yamanaka Ino.
Ia menghela nafasnya. "Sasuke-kun." Ia lalu tersenyum kecut.
Ia mengangkat tubuh Sasuke. Ia meletakan tangan Sasuke melingkarkannya dibahunya. "Kau tak pernah berubah."
Ia terpapah-papah membawa Sasuke ke mobilnya. Cooper S merah milik Ino terparkir tak jauh daru pintu masuk ke bar ini –bar ini milik keluarga Uchiha.
Ia memasukan Sasuke ke kursi penumpang. Ia lalu memakaikan sabuk pengaman kepada lelaki itu. Ino lalu berlari kecil menuju kursi penumpang. Ia melirik Sasuke yang tengah tertidur lelap. Ia memakai sabuk pengaman. Saat ia menstater mobilnya, suara Sasuke membuat jantungnya seakan-akan berhenti.
"Sakura… Sakura…" kata Sasuke lirih.
Ino tersenyum getir. Mendengar nama yang meluncur dari lelaki yang ia suka, rasanya menyakitkan. Apalagi nama yang keluar adalah nama gadis itu. Sakura. Haruno Sakura.
Ino membelai rambut Sasuke. "Lupakanlah dia…" kata Ino lirih.
Dari dulu, Ino sudah tahu seberapa keraspun ia mencoba.
Sakura selalu berada di atasnya.
Selalu selangkah di depannya.
Beberapa hal, terkadang tak pernah berubah.
.
.
Sakura mengaduk-ngaduk kopi miliknya. Ia kini tengah berada di starbucksdi mall Konoha. Ia mengeratkan mantel putih kesayangannya. Berkali-kali terlihat senyuman penuh kemenangan tersungging dibibirnya.
Gaara mengerutkan alisnya. Merasa heran akan apa yang tengah dilakukan gadis di hadapannya. "Jadi, apa yang bisa membuatmu tersenyum seperti orang gila kali ini?" Tanya Gaara.
"Hm?" Sakura kini mengadahkan kepalanya. Mengadahkan kepalanya untuk menatap lelaki yang duduk diseberangnya.
Gaara menaikan sebelah alisnya. "Jadi?"
"Aku berhasil." Kata Sakura sembari menyeringai.
Garaa mengerutkan alisnya. "Berhasil untuk?"
Sakura menunjukan tangannya. Ia mengacungkan satu jari telunjuknya. "Satu, membuat senpai membantuku." Ia lalu menambahkan jari tengahnya. "Dua, meyakinkan Uchiha Sasuke bahwa aku sudah tak menyukainya, dan berniat melupakannya." Dan terakhir Sakura mengangkat jari manisnya. "Tiga, membuat Nona Yamanaka ketakutan."
Gaara terkekeh. "Rencanamu berhasil eh?" kata Gaara.
Sakura menganggukan kepalanya. Ia lalu meminum cappuchinonya. "Ah, rasanya menyenangkan kau tahu." Kata Sakura sembari terkikik geli.
Gaara menaruh minumnya. "Kau sepertinya gembira. Dan, bagaimana kau yakin bahwa Yamanaka-san ketakutan?" Tanya Gaara heran.
Sakura mengulum senyum miliknya. "Aku memiliki mata-mata senpai. Lagipula, apa gunanya kekuasaan seorang Haruno jikatak dimanfaatkan hm?" kata Sakura.
Gaara lalu meneguk sisa minumannya. "Terkadang aku merasa takut bila bersamamu eh. Kau seperti iblis yang kembali dari neraka untuk menuntut balas."
Sakura mengangkat bahunya sebagai jawaban. Keheningan kali ini menyelimuti mereka berdua. Hingga Sakura memecahkan keheningan tersebut dengan suaranya. "Senpai tahu? Rasanya, tinggal menunggu waktu saja hingga Uchiha Sasuke mengejarku lagi." Lalu Sakura menyunggingkan senyumnya.
Sebuah senyum palsu.
Dengan suara dingin, dan datar. Sakura berkata. "Dan, akan kubuat ia menyesal."
.
.
Sasuke terbangun dengan kepala yang berat. Ia bangun sembari meremas rambutnya pelan. Ia lalu memijat pelan pelipisnya.
Tiba-tiba, terdengar suara erangan disisinya. "Nghhhh~"
Alis Sasuke mengkerut, ia merasa heran. Apa yang terjadi? Bukankah semalam ia ada di klub? Ia mabuk bukan? Bagaimana bisa terdengar suara gadis? Di ranjang? Di sisinya?
Sasuke mengedarkan pandangannya. Meneliti kamar siapakah yang ia tempati saat ini. Kamar dengan ranjang yang memiliki kelambu, kamar yang identik dengan warna soft pink. Matanya terhenti pada sebuah pigura yang menampilkan dua orang. Lelaki berambut raven. Dan.
Gadis berambut pirang.
'Ah. Kamar Ino rupanya.' Batin Sasuke.
Ia lalu mendapati gadis disampingnya. Menatap gadis yang bahkan tak memakai sehelai benangpun. Bahu putih gadis itu terekspos. Terlihat wajah lelah, dan beberapa jejak merah di leher dan dada gadis tersebut. Tak butuh waktu lama untuk menyimpulkan tentang apa yang telah terjadi malam tadi.
Membayangkan dirinya dan Ino diatas ranjang, membuat pikirannya tiba-tiba membayangkan gadis berambut pink bersama dengan lelaki berambut merah berdua'an di ranjang.
Pikiran memuakan.
Sasuke menggelengkan kepalanya cepat. Mencoba menghilangkan pikiran bodohnya.
'Sial!' umpat Sasuke.
Demi Kami-sama! Apa ia tak bisa sejenak saja melupakan Sakura? Apa otaknya sudah terkontaminasi oleh gadis itu? Bagaimana bisa otaknya berfikiran seperti itu? Apa kali ini otaknya juga diatur oleh gadis Haruno itu? Dan, parahnya bagaimana bisa ia membayangkan gadis itu bersama si brengsek Gaara?
Hn, hanya ada satu alasan logis!
Pasti, hanya karena ia tak mau kalah dari Gaara. Pasti karena hal itu ia terus membayangkannya.
Ya! Pasti karena hal itu.
Tangan Sasuke mengepal, dan ia memukul ranjang cukup kencang. "Fuck." Kata Sasuke singkat.
Sasuke lalu bangkit dan mulai mengenakan pakaiannya. Ia menelepon supir rumahnya. Meminta sopirnya untuk menjemputnya. Setelah memakai sepatunya, ia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Sasuke-kun?"
Sasuke hafal betul suara itu. Suara renyah –dan menggoda, milik Yamanaka Ino.
Sasuke berhenti tepat sebelum membuka kenop pintu.
Ino bangkit dari ranjangnya, dengan selimut yang dililitkan didadanya. Ia duduk di sisi ranjang. "Kau mau kemana?"
"Hn, aku mau pergi."
Kening Ino mengkerut. "Sekarang?"
"Hn." Jawab Sasuke singkat.
Ino menghela nafasnya. "Kau mau kemana? Tidak ingin bersenang-senang lagi? Ayolah." Tawar Ino.
"Tidak." Ujar Sasuke dengan nada datar.
Bersamaan dengan kata itu, Sasuke keluar dari kamar meninggalkan putri tunggal keluarga Yamanaka sendirian. Meninggalkan gadis itu dengan tatapan sendu. Tak lama, bahu gadis itu bergetar. Dan, terdengar isak tangis keluar dari bibir seorang Yamanaka Ino.
Semakin lama, tangisan itu semakin kencang. Bahu Ino terus berguncang, menandakan ia menangis. Ino mengangkat wajahnya dan menampakan matanya yang sembab. "Bahkan, ketika kau menciumku… kau tetap memanggil Sakura…" kata Ino terisak-isak.
Ia benci harus mengakui kenyataan itu.
Ia benci Haruno Sakura.
Ia membencinya.
Sangat.
.
.
Sakura langsung bangun dari posisi tidurnya. Malam ini, mimpi buruknya terulang lagi. Mimpi buruk 4 tahun silam. Mimpi buruk yang terus menghantuinya selama ini. Matanya terbuka lebar. Membelak ngeri. Ia benci ketika ia memimpikan hal memuakan itu. Bagaimana caranya agar ia bisa melupakan segalanya?
Ia menghela nafasnya. Rasa ketakutannya semakin menjadi-jadi. Rasa takutnya jika orang-orang itu datang lagi. Takut, mereka akan menyakiti dirinya lagi. Ia takut. Ia sangat takut!
Perlahan, tangannya naik ke depan wajahnya. Ia lalu menelungkupkan kedua tangannya didepan wajahnya. Sebuah isakan kecil terdengar keluar dari gadis Haruno itu. Isakan yang lama-lama terdengar makin menyayat hati.
Isakan takut.
Ia benci ketika ia seperti ini. Merasa lemah, tak berdaya, ketakutan. Tak bisa melakukan apapun juga. Ia ingin membuang semua memori menyakitkan itu. Ia ingin membuang rasa takutnya.
Isakannya semakin terdengar kencang. Suara isakannya menyayat hati tiap orang yang mendengarnya. Rasanya begitu memalukan. Sungguh memalukan, bagaimana mungkin ia bisa menangis karena lelaki brengsek itu. Lagi.
"Sial… sial… sial… sial…. sial… sial…" gumam Sakura berulang-ulang.
Ia lalu melirik gelas disamping tempat tidurnya. Ia mengambilnya lalu melemparkannya kearah dinding. Gelas itu hancur menjadi berkeping-keping. Seperti hati dan dirinya yang juga hancur.
Tangisannya semakin keras. Beruntung kedua orang tuanya tengah tak ada di rumah. Ia tak mau membuat mereka berdua khawatir. Tangisan Sakura semakin lama justru semakin kencang.
Sebuah sumpah keluar dari mulut Sakura. "Aku akan membuatmu menderita Uchiha!" kata Sakura. Suaranya terdengar rendah, dingin, datar, dan berbahaya. Membuat setiap orang yang mendengarnya bisa merasakan kebencian ditiap katanya. Merasakan kata-katanya yang terdengar sungguh-sungguh.
"Aku bersumpah."
.
.
Pagi ini, udara Konoha masih saja dingin. Sakura mengeratkan jas coklatnya. Bahkan, didalam gedung Konoha Gakuen udara dingin masih saja terasa. Udara musim semi ini bahkan masih saja terasa seperti udara musim dingin.
Kaki Sakura menyusuri lorong sekolah. Ia bersenandung kecil. Mencoba menghilangkan rasa sepi. Hingga akhirnya ia sampai didepan pintu ruang kelasnya. Ia lalu memegang pegangan pintu itu dan menggeser pintu tersebut pelan.
Saat pintu tersebut terbuka. Suara riang Tenten menyambut kedatangan dirinya. "Sakura-chan!" kata Tenten sebari melambaikan tangannya.
"Oh, ohayou Tenten-chan." Kata Sakura pelan.
Tenten tersenyum lebar. Ia lalu menarik tangan Sakura masuk kedalam kelas. "Kau pasti akan senang melihatnya!" kata Tenten ringan.
Alis Sakura mengkerut. "Senang? Why?" kata Sakura.
"Mentang-mentang pernah tinggal di luar jadi bercampur dengan bahasa Inggris berbicaranya." Cibir Tenten. "Lupakan! Ah! Iya! Lihat siapa itu!" kata Tenten sembari menunjuk gadis yang duduk di bangku kedua dari depan.
"Sakura-chan!" kata Temari sembari melambaikan tangan.
Tubuh Sakura terasa membeku. Ya Tuhan, ia tak menyangka ia akan bertemu lagi dengan gadis itu. Beruntung ini ada disekolah, jika tidak mungkin Sakura akan melindasnya hingga rata dengan Volvo miliknya. Sakura lalu tersenyum manis –atau palsu, ia lalu berjalan melangkah ke arah orang yang ditunjuk teman-temannya. "Halo, lama tak jumpa." Kata Sakura dengan senyumnya. Sakura menganggukan kepalanya –memberi salam.
Mata orang tersebut terlihat kaget. Lalu ia menjawab Sakura dengan tergagap-gagap. "S-Sakura."
Orang tersebut jujur kali ini merasa ketakutan. Ia tahu dibalik senyum manis Sakura, ada sebuah pisau yang siap menikamnya kapan saja. Senyum Sakura terasa sangat palsu bagi orang itu. Senyumnya seperti menahan amarah yang ada dalam diri gadis itu. Senyuman penuhracun.
Jika boleh memilih, ia lebih ingin menemui Sakura yang marah dan mengejarnya seperti dulu. Dibandingkan Sakura yang sekarang ada dihadapannya. Sakura yang sekarang terasa lebih menyeramkan.
Rasanya, tak mungkin Sakura baik-baik saja seperti ini. Mengingat terakhir kali mereka bertemu, Sakura dalam keadaan basah kuyup, dan histeris. Mungkin akan terlihat lebih masuk akal jika gadis Haruno itu marah atau membawa pisau untuk menikamnya. Lebih parahnya. Membunuhnya.
"Ino darling." Kata Sakura sembari tersenyum.
Suaranya.
Saat ia berkata darling. Suara dingin, rendah, dan menyeramkan.
Rasanya, bahkan kata itu bisa membuat Ino mati di tempat pada saat itu juga.
Tiba-tiba saja, Hinata sudah ada dibelakang Ino. Ia lalu menepuk bahu Ino pelan. Membuat gadis Yamanaka itu menoleh ke arahnya. "Kau pasti merindukan Sakura-chan bukan? Bagaimana jika kalian berpelukan? Ayolah, kalian itukan, Sahabat karib." Kata Hinata dengan senyumnya.
Saat itu, Ino menyadari bahwa gadis Hyuuga itu merupakan sekutu Sakura.
Senyumnya yang saat itu seolah menghinanya, merendahkannya, membuatnya ketakutan.
Ia bahkan tahu bahwa dirinya sendiri belum siap berhadapan dengan Sakura. Sebelumnya, ia kira ia bisa menghadapi gadis Haruno itu. Dengan kebenciannya, ia pasti bisa membuat Sakura diam. Ternyata ia salah. Kebencian Sakura terhadapnya lebih besar. Dan itu malah membuatnya kalah duluan sebelum berperang.
Hinata mendorong Ino dengan paksa ke arah Sakura. Ia lalu merasakan tubuh dingin Sakura. Rasanya, lebih parah dibandingkan berpelukan dengan iblis sekalipun. Ia seperti bisa merasakan aura kebencian yang semakin menguar dari tubuh Sakura.
Sakura menggerakan tangannya. Tangannya mulai memeluk Ino kencang. Ia lalu berbisik rendah dan pelan, sehingga orang-orang tak mungkin bisa mendengarnya. Hanya dirinya, dan Sakura sendiri yang bisa mendengarkan kata itu. "Aku kembali Yamanaka. Untuk. Membunuh. Mu."Sakura menekankan setiap kata yang ia ucapkan. Seolah menyatakan keseriusannya. Sakura lalu menenggelamkan kepalanya di bahu Ino.
Mencoba menyembunyikan seringai yang mulai mengembang di wajahnya.
Jantung Ino berpacu semakin kencang. Sakura tahu. Ia bisa merasakan debaran jantung milik gadis Yamanaka itu. "S-sakura.." kata Ino dengan suara terbata-bata.
Sakura melepaskan pelukannya. Ia memegangi bahu Ino dengan kedua tangannya. "Oh, aku tahu kau pasti merindukanku bukan?" kata Sakura seraya tersenyum manis –terlalu manis hingga rasanya senyum itu menakutkan.
Ino tahu.
Kali ini, ia berada dalam masalah.
Masalah yang tak'an menyenangkan.
Berdo'alah pada Kami-sama. Semoga ia menyelamatkanmu dari jeratan iblis ini Ino. Tapi, sepertinya Kami-samapun tak'an mampu mencegah rencana gadis itu.
Malahan sepertinya Kami-sama akan membantu kelancaran rencana itu bukan?
.
.
Author Note's :
Halo! Maaf yaa telat update, jujur kemaren saya sibuk banget, dan ada temen saya yang bikin mood saya buat nulis ilang! Kemaren juga, saya sibuk nulis ulang Aideen. Dan, setelah saya baca plotnya beda banget sama yang Aideen yang sebelumnya :o oh iya! Sekarang, tiap chapter saya kasih sub-judulnya. Kalo jujur, saya ga sabar, pengen cepet-cepet act 13! *bocoran*
Chapter ini isinya sekitar 3000 word, without author notes sama pembukaan. Saya sengaja bikin panjang buat bonus aha aha. Mungkin dark moon bakal di update, bareng sama Aideen yang di publish ulang. Eh 28 maret itu ultah Sakura-chan ya? :-0
Oke, lanjut ke sesi A&Q !
.
Answer and Question!
Q1 : apasih yang bikin Sakura sebegitu bencinya sama Sasuke?
A1 : Well, simple.Itu karena si Sasuke itu kayak ayam! Oke, kidding :d tapi, mungkin sejalan dengan cerita nanti juga bakal kebuka sih.
Q2 : Tambahin tuh penderitaan Sasuke!
A2 : Pasti doong bakal ditambahin! Hua hahaha #ketawa iblis bareng Sakura
Q3 : Masa lalu Sasuke&Sakura gimana sih?
A3 : Nanti kayaknya bakal keungkap dikit-dikit. Tungguin aja oke! #dilemparpisau
Q4 : Arisa-chan, bikin GaaSaku dong! Bikin Sasuke cemburu!
A4 : Oh! tentu saja! Pasti bakal Arisa-chan bikin Sasuke cemburu sampe rasanya botak (?) #fufufu
.
Special Thanks for :
Yuuki d'gray girl ; vvvv ; ruki-chan ; Kella ; Hikari Shinju ; Sakura ; Meity-chan ; rcht ; Wintter sky Blossom ; J0e ; Sasusaku Hikaruno-chan ; Asakura ; Hikari Meiko EunJo ; Tabita Pinkybunny ; Riku Aida ; seiki no meiji ; mieko-chan socrates sasori ; Thia Shirayuki ; Midori Kumiko ; SaGaara Tomiko ; Black-Chrome ; Melodychang ; Uchiha vio-chan ; CherryBlossom Sasuke ; 4ntk4-ch4n ; Amutia Putri Amaranth ; gieyoungkyu ; S2 Love
.
.
See you next time!
Cheers!
.
Arisa-chan
