Title : Sun Bathing
Genre : Romance, Kingdom!au, BxB
Rating : NC 21+
Length : 4 Chapters
Cast : Kwon Soonyoung (king), Lee Jihoon
[DISCLAIMER]
Seluruh cast di fanfiksi ini benar-benar ada dan sejujurnya melanggar aturan FFN. Namun Pitik tetap menggunakan namanya sebagai bahan imajinasi. Alur cerita memang milik Pitik, namun karakter mereka sesungguhnya adalah milik mereka sendiri. Maafkan Pitik, FictionPress!
Chapter 3: Voice
Suatu malam yang dingin, sang raja baru saja kembali dari pemeriksaan petisi rakyat. Belakangan ini semuanya berangsur membaik karena perubahan 1ka nad suasana hati penguasa negeri itu.
Raja mendengar usulan demi usulan para menteri. Tentang bagaimana mengatasi kekeringan serta mendistribusikan bantuan beras serta sayur 1ka n ke daerah miskin. Satu persatu masalah negera teratasi.
Tidak ada lagi bermain wanita di paviliun tengah. Bahkan seluruh gadis yang sempat ditarik, dibebaskan begitu saja.
Hanya seorang laki-laki yang masih ditahan di sana. Masih berstatus sebagai kelinci percobaan dan pelipur nafsu sang raja.
Malam itu, raja memutuskan untuk berendam dalam air hangat. Bukan air hangat biasa. Para pelayan mencampurkan wewangian ke dalam bak untuk menciptakan efek tenang. Kegiatan berendam kali itu tidak seperti berendam yang biasa ia lakukan. Kelinci percobaan yang ditahannya ikut menemaninya, masuk ke dalam bak yang sama dengannya.
Mereka duduk berseberangan.
Sementara sang raja masih mengenakan sehelai jubah tipis, lelaki itu tidak mengenakan apapun. Ia menunduk malu, juga tidak berkomentar apapun.
Sang raja menelusuri fiturnya. Surai legam Jihoon dibiarkan panjang, dijalin dengan indahnya. Wajahnya lebih 2ka nada dibanding saat pertama mereka bertemu. Para pelayan pasti memulas pipinya hingga rona merah membingkai kedua pipinya. Dia tampak cantik, seakan kodrat dominan memudar dalam dirinya.
"Aku ingin mendengar suaramu," ungkap sang raja. Jihoon memang menolak untuk mengeluarkan suara saat bersama sang raja. Tidak sekalipun itu hanya berupa desah.
"Apa kau sangat takut padaku?"
Jihoon tersentak. Namun ia masih berada dalam posisi awal, duduk dengan menundukkan kepala.
"Perlihatkan wajahmu!"
Lelaki itu perlahan mendongak, membiarkan tatapan takutnya bertemu dengan milik sang raja.
"Bisakah kau mengabulkan permintaanku?"
Jihoon terdiam. Bibirnya memang terbuka sedikit, namun tidak ada suara yang keluar.
"Kau takut," simpul sang raja.
Jihoon baru saja menolak perintah, namun ia tidak marah. Pria itu malah menyuruhnya mendekat, duduk membelakanginya. Raja sedikit mengangkat tubuhnya saat mempersiapkan penyatuan.
Lelaki itu meringis saat celahnya dipaksa untuk terbuka lebar dalam waktu yang cukup lama. Kedua tangannya mengepal erat di dalam air. Saat Jihoon berusaha untuk bertahan dalam posisi itu, sang raja malah memeluknya. Kali ini pelukannya terasa hangat.
Jemari sang raja turun menyusuri dadanya dan meraih kedua tangan Jihoon yang sedang mengepal erat. Ia melepaskan kepalan itu dan menggamitnya, mengelus-elus buku jari Jihoon seolah sedang menenangkannya.
Jihoon tidak percaya maksud itu. Tubuhnya masih sangat tegang. Sang raja melancarkan sebuah cumbuan ke area leher lelakinya, menyesapnya beberapa kali hingga warna kemerahan tercetak di sana.
Perlahan ketegangan tidak lagi berangsur menghilang. Sang raja melepaskan gamitannya 3ka nada3 meraih dagu lelaki itu. Ia mencium bibirnya, mendesaknya agak dalam. Begitu Jihoon membukakan jalan, keduanya bertaut, mencicipi satu sama lain.
Alih-alih murka karena kelinci percobaannya bersikap lancang, sang raja membiarkannya membalas. Ia ingin mendengar suara lelaki itu. Dan langkah pertama yang harus ia lakukan adalah mengusir ketakutan yang dirasakannya.
Setelah beberapa saat bertaut, sang raja menarik bibirnya. Tubuh mereka masih saling bertaut di bawah, sementara itu jemari nakal raja melingkar pada milik Jihoon yang masih bebas. Pria itu mengelus pucuknya, juga memberikan beberapa remasan lembut.
Jihoon menggigit bibirnya lagi, menahan suara desah yang seharusnya sudah keluar banyak kali. Ia tidak peduli bila bibirnya akan lecet dan berdarah karenanya. Lelaki itu tetap bersikeras.
Sang raja yang sudah tidak tahan lagi berbisik di telinganya, "Aku tidak ingin bibirmu terluka." Satu tangannya yang masih bebas meraih puncak dadanya dan mengelusnya pelan.
"Jangan menahannya," bisik sang raja lagi.
Bagian selatan Jihoon tiba-tiba merasa terdesak. Sepertinya kejantanan sang raja baru saja mengeluarkan cairan dalam celah sempitnya.
"Yang mulia— hh," Sebuah desahan, pertahanannya baru saja runtuh.
"Biarkan aku mendengarnya lagi," pinta sang raja, menghujam celahnya semakin dalam setelah melonggarkannya sejenak.
Jihoon memekik tertahan. Ia merasakan perih di sekitar celahnya. Beruntung air di dalam bak membuatnya tidak begitu parah. Baru saja Jihoon akan menggigit bibirnya, namun tertahan karena sang raja meraih bibirnya dan membiarkannya terbuka.
"Jangan melukai bibirmu," ucapnya kemudian mendaratkan sebuah kecupan di pundak Jihoon, "Bicaralah."
Perlahan sang raja mengeluarkan miliknya dari dalam tubuh Jihoon. Sebuah helaan nafas lolos dari bibir Jihoon setelah penyatuan tubuh mereka terlepas. Namun semua itu belum cukup bagi sang raja. Ia ingin mendengar lebih daripada itu.
Sang raja menyuruh Jihoon duduk di pinggiran bak sementara ia bertopang dagu di atas pahanya. "Siapa namamu?" tanyanya.
Di balik ketakutan yang dirasakan Jihoon, terselip perasaaan tersanjung karena ini kali pertama sang raja menanyakan nama pemuas hasratnya. Dirinya yang pertama dari sekian wanita yang pernah mendesah di bawah sang raja.
"Lee Jihoon," balas lelaki itu pelan.
Sang raja mendongak sambil tersenyum. Ia merasa puas dapat mendengar tiga suku kata barusan, nama sosok yang setia menjadi kelinci percobaannya.
"Mengapa kau menyamar menjadi seorang wanita dan datang ke paviliunku?"
Setelah menjawab pertanyaan pertama, Jihoon rasa akan baik-baik saja untuk bercerita panjang lebar pada sosok yang ia takuti selama ini.
"Aku menjual diri demi orangtuaku. Dan yang mulia—hh," Jihoon berhenti berkata-kata saat sang raja menyentuh area privasinya.
"Ceritakan padaku," perintahnya sambil menatap kagum kepemilikan lelaki itu.
"Yang mulia menyuruhku datang—hh," sekali lagi Jihoon menghentikan penjelasannya karena sang raja baru saja mengulum miliknya. Ia tidak bisa bicara dengan benar dalam situasi seperti ini 4ka nada4 melenguh panjang.
Sang raja berhenti melakukan kegiatannya ketika Jihoon tidak mengeluarkan suara apapun lagi. Ia mendongak ke atas dan menatap lelakinya itu, "Kau harus mulai terbiasa."
"Tolong jangan penggal kepalaku," mohon Jihoon, pipinya bersemu lebih merah dari sebelumnya.
Sang raja terkekeh pelan, "Jangan bercanda."
Tanpa aba-aba sang raja kembali mengulumnya, kali ini memainkannya bak setangkai manisan. Jihoon tidak mungkin menjambak surai raja negeri ini. Jadi ia hanya mengepalkan kedua tangannya di samping dan bertahan untuk duduk di sana. Beberapa kali desahan lolos dari bibirnya.
Terakhir, sang raja sempat mendengar panggilan yang membuatnya semakin gila, "Yang mulia, a-aku tidak bisa menahannya."
Milik Jihoon mengeluarkan cairan putih yang membasahi sekitar bibir sang raja. Pria itu berhenti mengulumnya dan memandangi entitas yang tengah duduk di pinggir bak mandi itu penuh kekaguman.
Jihoon bergerak mundur. Rasa takut dengan cepat menghinggapinya. Namun sang raja mengejarnya. Ia memanjat naik dan mengurung lelaki itu di antara dinding kamar mandi dan tubuhnya. Sekali lagi, sang raja menyergap bibirnya, menciptakan tautan yang dalam di antara mereka.
Nafas keduanya terengah begitu ciuman itu terhenti, "Kau hanya perlu— hh, melayaniku. Aku tidak akan memenggalmu selama kau patuh."
Jihoon mengangguk perlahan. Kilatan takut di matanya memang masih ada, namun tidak sepekat saat pertama mereka bertemu. Lelaki itu hanya perlu patuh. Tidak 5ka nada pemenggalan bila ia menuruti semua permintaan sang raja.
.
.
.
Setelah penundaan kematiannya, Nona Choi masih mendekam di dalam kurungan, melewati musim gugur dan salju dalam balutan pakaian tipis dan selimut jerami yang kotor. Ia tak bisa tidur. Tidak pernah bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang.
Sudah berbulan-bulan semenjak ia dijatuhi hukuman mati. Sejak itu juga ia terus mendekam di dalam penjara. Kedua maniknya menatap kosong lantai kurungan. Beberapa kali prajurit lewat di depan selnya namun ia tidak berubah pada posisinya.
Wanita itu mengalihkan tatapannya pada perutnya, bagian tubuhnya yang semakin membesar.
Sebuah fakta, ia memang tengah mengandung di dalam masa kurungannya. Mengandung anak dari sosok yang menjatuhinya hukuman mati.
.
.
.
To be continued
Makasih otomega13 dan VinThalia karena sudah review hehe
Besok udah chapter terakhir
