Opera

2

Inspired by "The Gifted Hands – Psychometry" and "Sucker Punch"

Disc = Saya hanya pinjam nama mereka tanpa mengambil keuntungan apapun ^^

Main cast = Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun (14 y.o), Henry Lau (17 y.o), Choi Siwon (25 y.o).

Other cast = Park Jungsoo (29 y.o), Kim Kibum (17 y.o) dan menyusul di chapter selanjutnya.

Warn = GS! Kyu, typo(s), PG-15 ,Rated T slight M. Kalau ada yang tidak suka dengan fic GS, saya sarankan silakan klik tombol "kembali" sebelum anda membuang tenaga untuk protes dan semacamnya. Gomawoyo :^)

.

.

"Choi Songsaenim?"

"Eh, kau Choi Siwon itukah?"

"Ah, saya tidak apa-apa songsaenim. Maaf jadi merepotkan."

"Yak! Pabboya! Kau orang korea juga? Haish kenapa tidak bilang!"

"Lebih baik saya panggil petugas kebersihan supaya ini dirapikan. Terimakasih sarannya songsaenim."

"Aku baik-baik saja sungguh."

"Ah, songsaenim harus hati-hati. Pecahan kacanya masih berserakan. Saya permisi dulu."

"Jadi kuat demi aku, ne?"

.

"Park Kyuhyun…siapa sebenarnya dirimu? Kenapa kau mengingatkanku tentang 'dia' ?" sosok itu –Choi Siwon- menatap kosong meja kaca dihadapannya. Secangkir espresso yang hampir mendingin pun tampak tak tersentuh. Pikirannya masih melayang pada kejadian siang tadi. Kejadian sepele, konyol malah, tapi sukses menyita perhatiannya seharian penuh. Ia bahkan hampir tidak bisa fokus mengajar di kelas terakhirnya.

Sungguh, ia sendiri tidak mengerti kenapa jadi seperti ini.

Park Kyuhyun.

Entah kenapa gadis itu sukses membuatnya penasaran. Bukan. Bukan dalam hal negatif. Hanya saja ada satu tarikan yang membuatnya merasa ingin tahu lebih banyak tentang gadis pendiam itu.

Instingnya pun seolah memerintahkannya untuk menyelidiki gadis itu. Memuaskan rasa ingin tahu yang entah sejak kapan ada dalam dirinya, yang kelihatannya justru makin kuat saat kembali menginjakkan kaki di negeri ginseng ini.

Aneh.

Ia bukan manusia ajaib atau sejenisnya. Apalagi punya kekuatan super atau semacamnya. Baiklah, mungkin dirinya bisa masuk kategori indigo –karena ia sering melihat hal yang tak semestinya dilihat mata normal- tapi selain hal semacam itu tak ada keahlian khusus yang ada dalam dirinya sampai bisa dikategorikan jadi manusia "abnormal". Oke, kecuali instingnya yang kelewat kuat bahkan untuk mendeteksi kepribadian seseorang sejak awal bertemu.

Tapi, gadis Park itu lain.

Kasusnya berbeda. Dia tidak mampu membaca emosi dan semacamnya yang selama ini sering ia lihat dalam bola mata itu seperti orang lain. Mata itu tidak pernah berbohong, katanya. Kecuali untuk muridnya yang satu itu. Namun, ia merasa harus melindungi gadis itu karena akan ada hal besar yang nanti harus dihadapi entah apa ataupun kapan.

'And it has nothing to do because they looked like twins! No, no, no and no! They're different person Choi Siwon! You should've know better!'

Ya! Mereka orang yang berbeda. Dan ia sadar, tak semestinya mengingat kembali sosok itu saat sudah jelas dirinya diminta untuk meneruskan hidupnya. Memulai kembali kehidupannya dari awal. But, it's hard! It's easier said than done!

"You know what, I miss you like crazy right now."

Dan Choi Siwon hanya bisa mengusap wajahnya kasar sambil berlalu menuju kamar tidurnya. Berharap tidur lelap bisa membantunya menenangkan mental dan psikisnya yang sudah diberi cukup banyak kejutan di hari pertama mengajarnya.

.

.

"Kyunie? Oppa pulang. Oppa bawa jjangmyeon kesukaanmu." Seru seorang pria dewasa sambil menutup pintu kayu dibelakangnya.

Matanya menatap ruang tamu yang tak dihuni siapa pun. Aneh. Biasanya adik perempuannya itu ada disana saat ia pulang. Entah belajar, menonton tv atau bahkan bermain game. Tapi kini ruangan itu kosong melompong. Tidak ada yang membalas sapaannya pula.

Apa adiknya sudah tidur? Tapi biasanya gadis itu baru tidur kalau sudah bertemu dengannya. Bahkan tak jarang menunggu hingga larut hanya untuk memberi pelukan dan ucapan selamat tidur padanya sebelum pergi tidur ke kamarnya. Pandangannya teralih pada jam hitam di tangannya. Baru jam setengah sembilan –hari ini kebetulan café tutup lebih awal- dan rumah sudah sepi.

"Kyunie? Kyuhyunie eodiga?" Panik mulai merayap dibenaknya karena tak kunjung mendengar suara adiknya itu. Segera saja ia melangkah menuju dapur, berharap yeodongsaengnya itu sedang menunggunya ditemani "kekasih" tercintanya.

Kosong juga.

Dimana Kyunienya? Kenapa tidak ada juga.

Sebuah stick note di piring buah sukses menarik perhatiannya. Langsung saja ia ambil kertas tersebut dan berharap itu akan menjawab pertanyaan dimana adiknya saat ini.

Oppa, Kyunie mengerjakan tugas di rumah Bummie.

Jangan khawatir, Kyunie sudah minum vitamin dan akan sampai dirumah sebelum jam 9.

Eh, mungkin lewat ehehehe. :p

Maaf Kyunie tidak sempat menyiapkan makan malam, tadi terburu-buru berangkatnya. Saranghae, Oppa ^^.

Pria itu –Jungsoo alias Leeteuk- tak bisa mencegah sudut bibirnya naik keatas membentuk seulas senyum. Menampakkan single dimple yang membuat wajahnya kelihatan lebih muda dari usia sebenarnya.

Syukurlah kalau adiknya ada di rumah sahabatnya itu. Setidaknya dia tahu Bummie alias Kibum adalah anak yang bisa dipercaya meski mereka baru sekitar setahun yang lalu berkenalan. Karena sejak pertama melihatnya sewaktu menjemput yeodongsaengnya di sekolah suatu hari, aura protektif sudah ditampakkan anak laki-laki itu. Belum lagi ketulusan yang terpancar dalam manik hitam miliknya lebih dari cukup untuk membuatnya masuk kategori "trusted person" seorang Park Jungsoo yang punya standar tinggi.

Dongsaengnya bukanlah gadis yang mudah menjalin pertemanan, apalagi memiliki sahabat. Tapi Kibum sukses menjadi sahabat adiknya sejak bulan pertama ia bersekolah di Anyang. Dan tak ada yang lebih membahagiakan buatnya selain melihat gadis kesayangannya itu tersenyum.

"Aish, kenapa aku selalu jadi mellow begini sih? Yang penting kan sudah tahu dimana Kyunie sekarang. Mungkin aku bisa menunggunya sebelum makan kelewat malam." Ia menertawakan leluconnya sendiri sebelum meletakkan plastik berisi jjangmyeon tadi dan bergegas membersihkan diri sebelum adiknya pulang.

Anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena membuat adiknya terlambat di hari pertama kembali ke sekolah. Ayolah, dia seorang kakak dan tahu pasti apa yang dilalui adiknya meski tidak melihatnya secara langsung.

.

.

Di sebuah ruang tamu bernuansa minimalis modern, tampak sepasang muda-mudi yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Namja yang berambut hitam dan berbadan proporsional kelihatan asik dengan laptop macnya –atau tepatnya asik dengan game yang dimainkannya di sana-. Sedangkan satu lagi, seorang yeoja manis berambut brownish juga kelihatan memainkan benda elektronik berwarna hitam metalik –psp- dengan begitu khusyuk, dan hanya satu yang menjadi penghubung keduanya. Sebuah headset.

Iya, headset. Headset berwarna broken white itu menyumpal sebelah telinga kedua remaja beda usia tadi untuk menyalurkan musik yang berasal dari laptop si pemuda a.k.a Kim Kibum. Kebetulan saja selera musik mereka sama.

.

"Kyu…"

"Hmm…"

"Kyu-ah…?"

"Apa?"

"Kyunie…kau mendengarku tidak?"

"Apa Bummie? Aku sedang berkonsentrasi ini…"

"Ya! Kyuhyun, aku serius bicara denganmu!"

Dengan kilat psp hitam ditangan yeoja itu –Kyuhyun- sudah beralih ke tangan Kibum yang menatapnya intens. Yang baru saja direcoki permainannya jelas tak terima dan memberi deathglare gratis yang mungkin bisa membuat murid lain bergidik ngeri. Siapa sangka murid pendiam macam Park Kyuhyun bisa begitu mudah "mengamuk" kalau sudah berhubungan dengan sang "kekasih" tersayang.

Tangannya sudah beralih posisi ke pinggang, tatapan matanya pun sudah mendelik kesal. "Ya! Kim Kibum! Kembalikan psp-ku! Aku jadi kalah kan!" –dan aku paling tidak suka dengan kekalahan, kau tahu itu! Kibum nyaris bisa mendengar kalimat tadi di otaknya hanya dengan melihat Kyuhyun. Sungguh.

Dasarnya Kibum sudah kebal dengan tatapan itu hanya berdiri sebelum melakukan sedikit peregangan pada ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk. Membuat Kyuhyun terpaksa ikut berdiri dari pada harus mendongak demi melihat Kibum.

"Mau pulang tidak?" tanyanya kalem sambil menoleh ke sebelahnya.

"Eh? Pulang?"

"Iya pulang. Pulang ke rumahmu. Rumah yang kau tinggali dengan oppamu."

"Ish! Aku tahu aku tinggal dengan oppaku, tapi kenapa mendadak bertanya begitu?" Kyuhyun yang masih kesal karena permainannya diganggu sekarang malah kebingungan akibat ulah sahabatnya.

Tanpa menjawab pertanyaan tadi, Kibum hanya memegang kedua bahu Kyuhyun sebelum memutarnya perlahan ke kiri. Lurus ke hadapan tv plasma yang bertengger dengan anteng di mejanya. Setelah dirasa posisinya pas, jemari kekarnya beralih menyentuh dagu yeoja itu dan agak mendongakkanya. Mengarahkan tatapan Kyuhyun searah jam dinding tepat di atas tv tadi.

"Jadi, mau pulang apa tidak?"

Mata coklat caramel Kyuhyun membulat lucu melihat jarum pendek jam yang sudah ada di angka 9 sedang jarum pendeknya di angka 11. Omo! Sudah semalam ini? Aish, dia mudah sekali lupa waktu kalau sudah mampir ke rumah Kibum. Apalagi kalau ditemani kekasih tercintanya.

"Aish! Kenapa waktu cepat sekali berlalu sih. Jangan-jangan Teuki oppa sudah pulang. Yak! Oppa sudah makan malam belum ya? Aku kan tidak sempat men –"

" – Bummie? Eh, Bummie mana? Kibummie?" Karena terlalu asik bermonolog ria, Kyuhyun sama sekali tidak sadar bahwa sahabatnya tadi sudah menghilang. Jadilah ia bergegas meninggalkan ruang tamu menuju ke arah kamar sahabatnya. Dia sudah sering kemari, jadi sudah serasa rumah sendiri. Toh, kedua orangtua Kibum juga tidak keberatan.

"Bummie, kau mengantarku pulang kan? Aku tidak yakin masih ada bus selarut ini."

"Tentulah! Kau pikir aku mau dihajar Leeteuk hyung karena berani membiarkan adiknya pulang larut sendirian. I must be out of my mind!" Kyuhyun terkikik geli melihat Kibum yang jelas merinding hanya karena membayangkan reaksi kakaknya nanti.

"Pakai ini," perintahnya sambil menyodorkan mantel bulu lumayan tebal berwarna abu-abu. "Sekarang masih musim dingin, dan suhu di luar pasti sudah makin turun sekarang. Aku tidak mau kau mati kedinginan hanya karena pakai sweater tipis begitu." Dan itu benar adanya. Saat kemari sore hari tadi, sweater kebesaran yang diambil Kyuhyun dari gantungan mantel masih cukup untuk menghangatkan tubuhnya ditengah suhu dingin awal Januari. Tapi, kalau semalam ini sih sepertinya meragukan. Segera saja gadis itu mengambil mantel yang tadi di sodorkan dan memakainya serapi mungkin. Ia hampir tenggelam memakai mantel Kibum yang memang berbadan lebih besar dan tentunya lebih tinggi darinya. Namun karena ukurannya kelewat besar itu yang justru membuatnya merasa nyaman.

Kibum tersenyum manis melihat sahabatnya memakai pakaian miliknya. Bukan karena apa, Kyuhyun yang berbadan kecil kelihatan manis dimatanya dengan mantel kebesaran begitu. Apalagi dengan beanie warna creamy yang makin mempermanis penampilannya.

"You really look like cutie pie, Kyuhyun. Coba teman-teman sekelas kita melihatmu begini, pasti banyak murid yang menyukaimu." Godanya santai.

Kyuhyun mempoutkan mulutnya saat dipanggil "cutie pie", dia tidak suka di panggil manis atau semacamnya. Padahal pasti banyak siswi lain disekolahnya yang berharap ada diposisinya saat ini. Ayolah! Dipuji Kim Kibum, si pemilik "killer smile", kapan lagi coba?

And hell no! Dia lebih baik jadi outcast seperti ini dibanding jadi pusat perhatian. She just doesn't like it, okay?

"Kau tahu sendiri kan aku tidak suka jadi pusat perhatian." Gumamnya pelan namun tetap tertangkap pendengaran Kibum.

Melihat perubahan ekspresi di wajah sahabat manisnya itu mau tak mau membuat rasa bersalah muncul dibenak Kibum. Tentulah ia tahu kenapa Kyuhyun tidak mau jadi pusat perhatian.

Tangannya terulur mengusap kepala Kyuhyun lembut sebelum menarik gadis itu ke pelukannya.

"I'm sorry, okay? I didn't mean it, really." Ia agak menunduk agar bisa menatap dalam mata gadis itu. "And I'll buy your favorite ice cream tomorrow if you forgive me. How about it?"

"Your treat?"

"My treat."

"You're forgiven."

"Semudah itu?"

"Siapa bilang? Kau masih harus mengajakku bermain di game center akhir pekan nanti. Baru kau sepenuhnya ku maafkan."

"Ya! I should've know better this isn't as easy as it seems." Kibum hanya bisa geleng-geleng kepala karena lagi-lagi jatuh ke perangkap seorang Park Kyuhyun. Gadis ini diam-diam berbakat menjahili orang kalau dibiarkan.

"Nah, ayo kita pulang! Eh, maksudku ayo antar aku pulang."

"As you wish princess Kyunnie."

"Yak! Kim Kibum!

.

.

"Kau yakin tidak mau mampir dulu."

"Nope. It's getting late. Aku tidak mau merepotkan hyungmu dengan mampir malam-malam begini. Ini saja aku sepertinya sudah terlambat mengantarmu pulang."

"Memang telat. Sangat malah."

"Mwo? Jinjja? Aish! Kalau hyungmu marah pa –hey! Tunggu dulu Kyunie."

"Brrr…kenapa dingin sekali sih?" Kyuhyun yang sudah keluar dari mobil Kibum langsung menggosokan kedua telapak tangannya cepat, berusaha menghangatkan diri ditengah suhu beku Seoul di musim dingin.

"Hey! Kalau ada yang bicara denganmu dengarkan dulu sampai selesai. Eh, kau kedinginan? Ya sudah lebih baik cepat ma –"

"Kau bawel Kibum-ah."

What?! Dia, Kim Kibum, yang dikenal irit bicara dibilang cerewet?!

PLETAK.

"AUCHH! Appo…kenapa aku dipukul sih?!"

"Siapa suruh mengataiku cerewet. Sudah jelas aku khawatir kalau kau kenapa-napa. Eh kau malah bertingkah menyebalkan begitu."

Kyuhyun hanya tersenyum kecil sambil mengusap kepalanya yang dihadiahi jitakan 'sayang' tadi. Senang bisa menggoda Kibum agar menunjukkan sisi childishnya. "Bummie ngambek eoh? Omooo! Kira-kira bagaimana reaksi para fansmu nanti Bummie? Apa jadinya kalau salah satu "ice prince" sekolah ngambek seperti ini? Reputasimu bisa jelek nanti, ahahahah." Makin jadilah ia menggoda Kibum padahal sudah diberi tatapan tajam dari pemuda itu.

"Jangan ngambek eh. Nanti kau jadi makin jelek. Sudah sana pulang, katanya sudah larut?" Senyum Kyuhyun tak juga luntur biarpun udara makin dingin.

Kibum yang paham kekhawatiran terselubung gadis itu dalam candaannya tak bisa menyembunyikan senyum yang merayap diwajahnya.

"Ya sudah aku pulang dulu, kau langsung masuk ke rumah dan istirahat oke? Mantelnya bawa saja, itu juga sudah jarang ku pakai anggap saja kado buatmu." Kibum menyela ketika melihat sahabatnya itu hendak melepas mantel bulunya. Hell! Memangnya dia setega itu membiarkan Kyuhyun kedinginan begitu tiba di rumahnya nanti –biarpun jaraknya sudah dekat tetap saja ini malam dan suhunya sudah turun omanti.

Yeoja itu mendelik kesal mendengar perkataan sahabatnya. Iya dia tahu Kibum memang protektif padanya, hanya saja kadang itu berlebihan. Seperti saat ini misalnya.

Entah sudah berapa kali pakaian Kibum menginap dirumahnya. Memang kadang karena keadaan yang memaksa –omant seperti sekarang-, atau karena anak itu saja yang hobi menyumbangkan pakaiannya. Tapi ya tetap saja merepotkan.

Dan tidak! Ini bukan karena ia merasa kasihan pada gadis itu. Melainkan sebagai wujud sayangnya pada yeoja manis dihadapannya. Kibum bisa saja menyampaikan kata-kata omantic atau cheesy layaknya orang normal sebagai wujud rasa sayang, tapi tidak dengan sahabatnya itu. Ia menyampaikannya lewat gesture atau benda-benda kecil yang artinya sudah pasti dipahami betul oleh mereka berdua.

Gadis itu menghela nafas keras, berpura-pura kesal meski ekspresinya tidak bisa bohong. "Terserah kalau mau mu begitu. Sudah sana pulang, yang ada nanti kau kedinginan berdiri terus disini Bummie. Sana sana cepat masuk mobilmu." Tangannya mendorong tubuh Kibum agar masuk kemobilnya. Sementara namja itu hanya terkekeh pelan menghadapi perlakuan Kyuhyun. Pasti selalu begini.

"Ne! cepat masuk sana," mesin mobil sudah terdengar berderu pelan ditengah kesunyian malam, "besok kita berangkat sama-sama ya? Nanti tunggu aku disini seperti biasa, arrachi?"

"Bye Bummie! Hati-hati dijalan!" Kyuhyun melambai dengan semangat hingga akhirnya mobil Kibum menghilang di tikungan depan.

Barulah ia membuka pagar rumahnya dan berjalan masuk. Harap-harap cemas sih, siapa tahu oppanya memang benar sudah pulang. Ia jadi membuatnya menunggu, kan? Padahal biasanya dia yang menunggu Teuki oppa pulang. Jujur, itu membuatnya agak merasa bersalah.

.

Diketuknya pintu warna coklat tanah dihadapannya beberapa kali hingga terdengar derap langkah mendekat. Yakinlah Kyuhyun kalau kakaknya sudah pulang. Kedua tangannya menarik mantel bulunya agar makin menempel ditubuhnya yang mulai terasa menggigil. Ia mau minta dibuatkan hot chocolate pada oppanya nanti sebelum tidur. Eh, siapa tahu dia bisa tidur bersama Teuki oppa biar lebih hangat. Toh sudah lama sekali ia tidak tidur dengan kakak laki-lakinya itu. Dalam arti literal tentunya

"Oppa, buka pintunya ini Kyunie! Oppa, Kyunie pu –eh, kok tidak dikunci?" Rasa waswas seketika menyerangnya. Sebutlah ia paranoid, tapi rasa takut bisa mudah menghampirinya kalau sudah berhubungan dengan kakak satu-satunya itu.

Kakinya beranjak memasuki rumah minimalisnya dengan mata menatap awas. Perlahan masuk kedalam setelah melepaskan sepatunya tanpa suara. Kanan kiri, sesekali menoleh ke belakang. Sungguh, ia merasa mirip maling dirumahnya sendiri. Tapi ia memang begitu, mau diapakan lagi.

Lampu semua menyala, tapi suasananya kelewat sunyi. Ruang tengah sekaligus ruang santainya kosong, begitu juga kamar si kakak yang berhadapan dengan ruangan itu. Panik makin menjalari hatinya.

Oppa, oppa dimana?

Apa Teuki oppa keluar?

Tapi kenapa pintunya tidak dikunci?

Oppa tidak kenapa-napa kan?

Ia terus bergerak menuju ruangan yang paling mungkin didatangi Leeteuk kalau pulang bekerja. Dapur.

"OPPA?!"

.

"Arrgghhh…"

"Henry? Kau kenapa?"

"Ah aniyo. Hanya sedikit pusing, mungkin aku kelelahan disekolah."

"Ya! Jangan memforsir dirimu sendiri begitu. Memangnya kau mau dirawat lagi?"

"Geez, NO WAY! Aku tidak mau menginjakkan kaki ditempat itu lagi!"

"Nah ya sudah kalau tidak mau. Sudah istirahat sana, ingat besok kau harus datang di acara amal, arrachi?"

"Ne. Jaljayo hyung."


Tadaaaa, this is the 2nd Chapter ^^ maaf karena updatenya lama banget. My schedule getting more and more hectic as time goes by.

Tapi cukup curhatnya, jadi silakan langsung review saja chingu. Dan untuk satu reviewer yg sudah pinpoint kesalahan di chapter sebelumnya, thank you so much ^^ harap maklum karena ini memang masih awal banget masuk ke fandom SP.

So, review sangat diharapkan disini. Gomawo :^)