CARTIER

Chapter 3. Impossible

.

.

.

.

.

.

Cast

Oh Sehun

Xi Luhan

And other cast

Disclaimer

Sehun milik Luhan. Luhan milik

Sehun. Mereka ber dua saling memiliki :D

Semua tokoh milik keluarga masing-masing.

Ide cerita dan cerita tentu milik saya.

Summary

Kehidupan Luhan berubah 180

derajat berbeda setelah bertemu namja albino

itu./"konon katanya, orang yang memiliki gelang

ini tak akan bisa terpisahkan dengan orang yang

juga memiliki gelang pasangannya"/ HunHan /

Yaoi

Don't Like, please, Don't read it, 'kay ? ;)

Happy readings!.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hoeekk.."

",,"

"Hoeekk.. Hoeek,,, Hahh.."

",,"

"Ugh,, perutk-.. Hoeekk"

Luhan benar-benar merasa sial dan kesal sekarang.

Sial karena muntahannya tak berhenti dan kesal pada makhluk albino, yang sedang mengurut tengkuknya, yang menjadi penyabab utama kenapa dia muntah-muntah tak elit di toilet sepi ini. Heh, toilet sepi dua kali dalam sehari bersama orang yang sama.

"Sudah selesai ?" Makhluk albino -Sehun- yang sedari tadi diam memijat tengkuk Luhan akhirnya bersuara.

"Ugh,," hanya rintihan nyeri yang keluar. Dirasa sudah cukup, Luhan bekumur dan mencuci wajahnya. Ditatapnya Sehun melalui cermin dengan mata sayu yang tajam.

"Aku ingin pulang" kata Luhan lemas.

Dengan itu, Luhan berbalik dan mulai berjalan keluar dari toilet. Baru dua langkah, tubuhnya mulai lemas dan hampir saja pantat indahnya mencium lantai, sebelum Sehun dengan sigap menangkap Luhan. Melingkarkan kedua lengan putihnya di pinggang Luhan dari belakang.

"Ku antar kau pulang."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sebuah mobil sport nampak melewati jalanan dan behenti di sebuah penginapan.

"Terima kasih atas tumpangannya" kata Luhan. Tangannya dengan sigap melepas seatbelt dan mulai membuka pintu mobil sebelum sang pemiik mobil mengeluarkan suara apapun.

"Hei.." Luhan yang kini telah keluar dari mobil, menghentikan langkahnya yang akan menuju penginapan tersebut, berbalik memandang seorang pria albino -Sehun- yang ikut keluar dari mobilnya.

Sebelah alis Luhan terangkat saat melihat Sehun berjalan menuju ke arahnya. Mata indahnya masih memperhatikan langkah pemuda albino itu hingga sampai pemuda itu berada dihadapannya. Luhan memberi tatapan bertanya padanya.

"Kau yakin.." Sehun mengeluarkan suaranya. Perkataannya membuat Luhan bingung. "Hah ?"

"Kau yakin.. Kau baik-baik saja ?" Lanjut Sehun. Nada suaranya terasa lembut di telinga Luhan. Walau tak terlalu kentara apalagi melihat ekspresi Sehun yang begitu datar.

"Heh, aku baik-baik saja, okey. Pulang sana"

"Oh ya ?"

"Ck, Ya"

"Hn, baiklah. Kuantar kau ke kamarmu." Dengan itu, Sehun berjalan menuju penginapan di depannya.

"M-mwo ? YAAK ! Kau berhenti !" Luhan berjalan lebih cepat mendahului Sehun dan berhenti didepan pemuda itu sambil merentangkan tangannya. Menghadang Sehun.

Sebelah alis Sehun terangkat menatap Luhan didepannya. "Kau ingin ku peluk ?"

"Mwo ? Tentu tidak, pabo." Luhan pun menurun kan tangannya. 'Issh, micheosseyeo'

"Kau, kenapa kau ikut masuk, hah ? Pulang sana!" Usir Luhan.

"Aku hanya ingin mengantarmu ke kamarmu" jawab Sehun polos nan datar.

"Ck, tak usah, tak perlu. Kau lebih baik pulang. Aku baik-baik saja."

"Hn, kau yakin ?"

"Ya, aku yakin "

"Benarkah ?"

"Iya, benar"

"Oh ya ?"

"YA"

"Ya apa ya ?"

Seketika tanda perempatan muncul di dahi mulus Luhan. Ia menggeram menahan marah. Lelaki didepannya sungguh menyebalkan.

"Iya, iya dan IYAAAA !"

"Pfft,,, kekeke.."

Dan selanjutnya terdengar suara kekehan baritone lembut yang keluar dari mulut pria di depannya. Sehun. Ujung bibir tipisnya tertarik keatas, membuat lengkungan indah yang menampilkan barisan gigi depan yang putih.

Membentuk sebuah senyuman manis nan menawan yang pertama kali pria itu tunjukan selama seharian mereka bersama.

"A-apa ada y-yang lucu, hah !?" Tukas Luhan mencoba terdengar galak, walau jelas kelihatan nada gugup dari suaranya. Oh, senyuman menawan milik Oh Sehun benar-benar membuatnya merasa aneh.

"Ya, ada. Kau." Jawab Sehun, menyentil hidung bangir Luhan. Senyumannya masih menempel di bibirnya. Sungguh, menggoda pria manis didepannya sungguh menyenangkan. And, he like it.

"Issh...Lebih baik kau pulang. Hari sudah malam. Terima kasih tumpangannya." Sungut Luhan, mengusap-usap hidungnya sembari membalikkan badannya. Tetapi, untuk ketiga kalinya dalam sehari, sebuah tangan yang sama menahannya pergi. 'Orang ini benar-benar .!.!.!"

"Yaak, apa lag- hmmph" niat Luhan untuk protes sepertinya gagal. Ia membelalakan matanya saat sepasang benda kenyal nan lembut menempel dibibir merah mudanya.

Yap, pemuda albino itu, Oh Sehun sialan itu, menciumnya. Menciumnya di bibir. Sekali lagi di bibir. Pemuda itu mencium bibir Luhan yang tak pernah dijamah oleh orang lain. Luhan yang shock dan kaget pun hanya bisa diam tak membalas lumatan lembut dibibirnya.

Dan tautan antar sepasang bibir itupun akhirnya terlepas. Luhan masih diam termenung. Ia belum sadar dari rasa terkejutnya. Yeah mau bagaimana lagi, it's his first kiss.

Sehun menatap Luhan penuh arti. Entahlah apa yang membuatnya beebuat sejauh itu. Tapi satu hal yang ia ketahui. 'Manis.'

"Baiklah, aku akan pulang. Jalja" Bisik Sehun dengan suara berat ditelinga Luhan. Entah sadar atau tidak membuat pipi lembut Luhan merona.

Chuu~

Dan kecupan lembut di keningnya menjadi ucapan selamat malam terakhir untuknya.

Luhan masih termenung ditempatnya. Sampai mobil sport merah itu hilang dari hadapannya, ia masih termenung.

Tangannya terangkat. Jari jemarinya menyentuh permukaan bibirnya. Bibirnya yang untuk pertama kalinya di jamah, di sentuh, di cium oleh bibir orang lain.

Dan lebih parahnya, orang lain itu adalah lelaki. Seorang pria. Bukan seorang gadis manis mungil impiannya. Tetapi seorang namja. Seorang manusia yang sejenis dengannya. Dan memiliki 'benda' yang sama dibalik celana mereka.

Dan seketika, Luhan sadar.

"Ast-astaga...

Oh Tuhan, astaga..

Astaga, ya Tuhan, ini tidak mungkin...

Impossible.. t-tidak mungkin...aku,,, bibirku..."

Jemari dan tubuh Luhan gemetar. Wajahnya memerah. Kepalanya tertunduk. Kedua tangannya yang gemetar membentuk sebuah kepalan. Seakan ia menahan sesuatu yang akan segera keluar.

Apa kalian pikir yang dia tahan adalah tangisan ? Apa kalian pikir ia akan menangis ?

I don't think so,

"Ggrrr... YAAA ! ANDWAEEEE ! MATI KAU, ALBINOOOO SIALANN !"

Dan teriakan amarah, yang sedari tadi ia tahan -walau akhirnya keluar-, sukses membuat penghuni penginapan mendongak keluar. Khususnya ketiga sahabatnya yang seharian mencarinya, yang kini berjalan keluar menuju Luhan berada.

Oh, suara mu sungguh daebakk, Xi Luhan.

Membuat namja yang sedang mengendarai sport merahnya tertawa, terkikik geli. Ini menarik, pikirnya.

"Well, see you soon, deer."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah kejadian yang tak terduga itu, kini Luhan berada di kamar penginapannya. Duduk di atas ranjangnya sembari mengusap-usapkan handuk kecil berwarna putih pada helai rambutnya yang basah. Kenapa ? Tentu karena ia baru saja mandi.

Bisa dirasakannya tatapan tajam dan menyelidik yang ia dapat dari segala penjuru. Tepatnya, dari ketiga temannya. Ah, bukan, tiga, tetapi dua. Karena salah satu dari mereka -pemuda berlesung pipi itu- awalnya hanya menatap bingung kedua temannya yang menatap Luhan dengan tajam, jadi ia pun ikut-ikutan menatap Luhan demikian.

"Katakan. Darimana saja kau, Xi Luhan ?" Tanya seorang namja tertua dari mereka yang memiliki pipi chubby layaknya bakpao, Xiumin.

"Aku,,, aku hanya tersesat, hyung." Jawab Luhan, bohongnya.

'Tersesat ? Lalu kenapa kau tidak menelpon kami ? Dan kenapa ponselmu tidak aktif, Lu ?" Kini gantian namja bereyeliner yang bersuara. Baekhyun. Walaupun sudah malam, sepertinya ia tak berniat menghapus eyelinernya.

"Ee,,hehe,, baterai ponsel ku habis. Semalam aku lupa men-charge ulang ponselku, Baek." Jawabnya jujur. Memang, ia benar-benar lupa untuk men-charge ulang ponselnya.

"Ge, lihat ! Ada rusa !"

Mari abaikan seruan tak penting dari pemuda berpipi lesung yang kini sedang asyik menonton televisi dengan acara tentang binatang didalamnya.

"Aku baik-baik saja, Xiumin hyung, Baekkie. Lihat. Badanku saja masih utuh. Tak ada yang hilang dari diriku"

Kecuali kesucian dari bibir ku, tambahnya dalam hati.

Xiumin hanya menghela nafas. "Baiklah. Aku bersyukur kau baik-baik saja. Oh ya Tuhan ! Aku hampir gila saat kau hilang seharian ini, Lu.!"

"Ya... kau tahu, Umin hyung seperti induk ayam yang kehilangan anak ayamnya. Siapa saja ingin ia patuki kepalanya." Cerita Baekhyun pada Luhan.

"Yaak... Bacon!" Xiumin men-deathglare Baekhyun dengan tajam." Kemari kau ! Mulutmu itu memang perlu di sumpal dengan kaus kaki ku. Kemari."

"Mwo ?! ANDWAE!" Seru Baekhyun histeris. "Bibir ku terlalu sexy untuk kau sumpal dengan kaus kaki bau bangkai mu itu, hyungie."

"B-bau bangkai, kau bilang ?! Yaa! Byun Bacon... kemari kau! Kemari kan lidah ular mu itu.!"

"Week~~ kejar aku kalau hyung bisa~"

"Kauu... Yaa! Bacoon kemari kau !"

Dan beginilah, aksi kejar-mengejar di kamar penginapan itu terjadi. Dua orang namja itu sibuk berlarian mengelilingi kamar bernuansa kayu coklat yang, well, tak terlalu sempit juga tak luas juga. Tak jarang juga mereka menabrak furniture-furniture yang berada di dalamnya. Tapi untung saja tak sampai hancur, hanya ber'pindah posisi' saja.

"Waah... Lu ge, liat Xiumin hyung dan Baekkie. Mereka bermain kejar-kejaran seperti Tom and Jerry." Kata Lay polos.

"Ayo , kita ikut bergabung, ge." Lanjut Lay, kini mengambil ancang-ancang hendak berlari.

Tetapi sebelum itu, Luhan menghentikannya. "Eer, Lay... sebaiknya kita keluar."

"Eoh ? Waeyo, ge ?"

"Karna...kalau tidak kita akan dapat masalah. Jaa, abaikan mereka. Kita kembali ke kamar kita."

"Baiklah, ge."

"Kita keluar pelan-pelan" Dan dijawab dengan anggukan dari Lay.

Dengan langkah pelan, Luhan menginstruksi Lay untuk berjalan pelan menuju pintu. Mengendap-endap agar tak ketahuan, sampailah mereka di pintu keluar.

Perlahan, Luhan memutar knob pintu, tetapi sebelum ia berhasil membukanya...

"YAAK! XI LUHAN ! ZHANG YIXING! MAU KEMANA KALIAN. ?! "

Dengan segera, Luhan dan Lay bergegas keluar dan berlari menuju kamar sebelahnya. Membuka pintu dan segera memasukinya. Dan..

"YAKK, XI LUHAN ! AKU BELUM SELESAI DENGAN MUU !"

BLAMM

"Fyuuh~"

Untuk kali ini, Luhan berhasil menghindari terkaman induk ayam yang galak tersebut. Fyuuh, hampir saja.

Tapi ia tahu, ia belum bisa bernafas lega untuk sekarang.

'Ini semua gara-gara kau, albino sialan'

.

.

.

To be continued...

.

.

.

.

.

Eii~ yo~ everybody~

Gimana, sudah panjangkah ? Tehee~ mianhe, Lin gx bisa nulis yang terlalu panjang, cause otak Lin cuma bisa pendek-pendek. Karena itu, mianheyo~

Dan maaf jika ada typo, Lin gx smpet ngecek ulang... Gomeenn~

Yossh, apakah chap kali ini ada yang suka ? Jawab ne~ lewat review~ :D

Love ya~

L7