Ist es ein Happy End wird?
.
-Beerealshee-
Cast:
Cho Kyuhyun
Cho (Lee) Donghae
Super Junior members, and other
.
All cast is God's, and the story is mine
.
Alternative Universe
.
Brothership, family, Hurt/comfort
.
.
.
Bukankah ini terlalu menyakitkan? Hidup penuh warna hanya angan belaka.
Benarkah hanya sebuah angan?
Hanya angan saja?
Entahlah… aku juga tidak terlalu paham.
Yang aku tau, ini terasa tidak nyaman untuk diriku sendiri. Untuk kehidupanku, masa remajaku, dan… ini tidak nyaman untuk aku jalani. Terlalu menyakitkan, namun hanya dapat ku pendam.
Mungkin ini kehendak tuhan?
Atau aku hanya sedang dipermainkan?
Entahlah… lagi-lagi hanya 'entahlah'.
Chapter 2
Alunan musik yang keluar dari beberapa speaker di ruangan itu sangat memekakan telinga, lampu warna-warni yang berpendar silih berganti menghiasi lantai marmer hitam yang kokoh dibawah telapak kaki orang-orang yang sibuk berdansa.
Seorang pemuda tampan tampak duduk bersandar pada sebuah sofa panjang yang ada di ujung ruangan, menyaksikan puluhan orang yang sibuk berdansa diiringi alunan musik menghentak yang dimainkan seorang Turntablist. Sesekali pemuda itu meneguk sedikit demi sedikit Sangiovese yang disuguhkan oleh beberapa wanita cantik di sekitar kanan dan kiri tubuhnya. Pemuda itu nampak tak menikmati apa apa saja di sekelilingnya, bahkan wanita-wanita cantik di sekelilingnya bak pajangan saja, nampak beberapa diantaranya sudah jenuh dengan sikap acuh dari pemuda itu. Tapi tak apa. Toh yang penting mereka dibayar beberapa lembar won nantinya.
Pemuda itu nampak sedikit berjengit kala layar pada posel pintar nya memunculkan sebuah nama 'Cho Donghae'. Pemuda itu menegakkan dudukunya, menyingkirkan tangan-tangan wanita yang sedari tadi meraba tubuhnya sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
.
.
.
"Kyuhyun, kau dimana?" jeda sejenak, "ini sudah pukul satu pagi, dan kau belum pulang? Kau pikir aku tidak mencemaskanmu eoh?" Donghae nampak berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, remaja itu sedikit mengerutkan kening kala tak ada sahutan dari orang yang ada di sebrang line telfonnya. Donghae merasa… yang ia dengar hanya suara-suara musik yang sangat bising, dan sesekali terdengar suara orang lain yang saling bersahutan.
"Kyu, kau dimana? Aku akan menjemputmu sekarang. Kirimkan alamat tempatmu berada ne?" nada suara Donghae sedikit meninggi. Bukan karena ia marah pada Kyuhyun, namun ia memiliki firasat buruk tentang adiknya.
Donghae benar-benar kesal, ia merasa adiknya seperti mempermainkannya. Tetap tak ada jawaban dari Kyuhyun, justru Donghae yang semakin muak dengan suara-suara bising di telinga kanannya.
Donghae mendengus kesal, pria itu dengan cepat memutus sambungan pada ponselnya, ia jengah dengan sikap Kyuhyun yang sering kali mengabaikannya belakangan ini. Donghae tidak bodoh, ia tau kalau adiknya pasti sedang berada di tempat hiburan malam, terbukti dengan suara-suara yang Donghae dengar barusan. Tapi Donghae juga tidak begitu pandai untuk menentukan dimana tempat itu berada, ia bahkan tidak mengenal kota Seoul dengan baik layaknya remaja seuasianya.
Donghae hanya terduduk pasrah di tepian ranjangnya, pemuda itu mengacak rambutnya kesal, kemudian melempar ponselnya ke atas kasur secara kasar. Ia bersumpah, apapun perbuatan buruk adiknya belakangan ini, itu semua tidak akan pernah terjadi kalau saja kedua orang tuanya paham dengan keadaan mental kedua anaknya. Terutama Kyuhyun yang masih terlalu muda untuk menanggung semuanya. Ia dipaksa dewasa, dipaksa memahami dan mentoleransi hal-hal yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Andai saja kedua orang tuanya paham, andai saja keduanya bisa memahami Kyuhyun ketimbang memahami ego masing-masing.
Andai saja…
.
.
.
.
Kyuhyun mengendarai mobilnya dengan cepat, membelah kota Seoul yang sudah sangat sunyi. Jam digital yang terletak di dashboard mobilnya telah menunjukan angka dua.
Ya, dua pagi lebih tepatnya.
Kyuhyun memelankan laju mobilnya, matanya sibuk mengamati jalanan di hadapannya yang memang terasa lebih gelap dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ia tersenyum kecut, jalanan yang gelap selalu mengingatkannya pada kejadian sepuluh tahun silam, dimana ia dan kakaknya mencoba mencari jalan pulang, berharap dan terus berharap ada orang lain menemukan keduanya dan mengantarkan keduanya untuk bertemu dengan orang tua mereka. Namun, kalau Kyuhyun boleh jujur, setelah ia mengetahui semua faktanya, fakta bahwa ibunya sendiri yang telah membuangnya, mungkin ia lebih memilih hilang saja, barangkali ada orang baik yang menemukan ia dan kakaknya dan mengasuh keduanya. Barangkali ada yang mau memberikan kasih sayang dengan tulus tanpa iming-iming uang.
Namun semua terlambat. Kyuhyun yang waktu itu masih terlalu kecil, merasa senang-senang saja ketika tiba dirumah, tanpa firasat ataupun prasangka buruk pada ibunya, ia terlalu senang kala rumah tercintanya sudah berada di depan mata. Namun rasa senangnya hilang, ketika ia menyadari, bahwa ibunya tak pernah menginginkan dirinya kembali.
Beban katanya. Ibunya bilang, Kyuhyun dan Donghae hanya beban. Tidak-kah itu gila?
Memang gila.
Kyuhyun merasa pipinya sedikit basah, ia menangis tanpa sadar ketika ingatan-ingatan buruknya berkumpul, dan dengan seenaknya tergambar jelas begitu saja di dalam pikirannya. Pemuda itu mengelap kedua matanya dengan kasar, walaupun air mata tetap saja dengan lancangnya mengalir melewati pipinya. Pemuda itu memukul setir mobilnya dengan kuat, melampiaskan emosinya yang sudah meluap luap.
Kyuhyun menarik nafas panjang, ia menaikkan volume musik pop-rock yang ia putar pada media player di mobilnya, dan dengan sengaja, pemuda itu menaikkan pula kecepatan mobilnya. Membunuh sunyinya kota Seoul yang mulai memasuki musim dingin hari itu.
.
.
.
.
"KAU PIKIR SEKARANG JAM BERAPA? HAH?!" Donghae terlonjak dari tidurnya, pemuda itu cukup terkejut dengan suara teriakan ayahnya yang terdengar hingga kedalam kamarnya. Donghae mengamati sekitarnya, pemuda itu mengusap wajahnya perlahan, mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya berkumpul. Donghae baru menyadari bahwa ia terlalu lelah menunggu Kyuhyun, hingga akhirnya ia tertidur.
"KAU PIKIR AKU TIDAK MALU MEMILIKI ANAK SEPERTIMU KYUHYUN?!" Kesadaran Donghae pulih sepenuhnya kalau teriakan kedua ayahnya terdengar. Donghae bergegas keluar dari kamarnya, ia berlari tergesa, menuruni sejumlah anak tangga untuk tiba pada sumber suara.
Donghae mulai memelankan langkahnya kala ia tiba di ruang tengah rumahnya, ia melihat penampilan Kyuhyun yang sedikit berantakan, kemeja biru muda yang sudah sangat kusut, rambut coklatnya yang berantakan, mata Kyuhyun yang sembab, serta aroma alkohol yang jelas berasal dari tubuh Kyuhyun. Donghae agaknya sudah paham dengan situasi yang terjadi di ruangan tersebut. Ayahnya jelas marah kala menemukan anaknya pulang dini hari, dengan kondisi yang buruk pula.
Donghae tak begitu ingin ikut campur, pemuda itu hanya menyaksikan ayahnya sibuk memberikan petuah-petuah pada Kyuhyun. Hingga akhirnya, seorang wanita paruh baya melewati tubuhnya begitu saja. Wanita itu terus melangkah mendekati Kyuhyun dan ayahnya, ia bertolak pinggang layaknya ratu kecantikan. Membuat Donghae jengah sekaligus muak melihatnya.
"Bukankah sudah kubilan padamu dari dulu? Anak-anak ini nantinya hanya menyusahkan saja." Donghae, serta sang ayah langsung menatap tajam wanita itu. Berbanding terbalik dengan Kyuhyun yang tetap diam ditempatnya, tak menunjukan ekspresi apapun. Pemuda itu hanya diam menanggapi wewenang ayahnya, atau bahkan gunjingan ibunya.
Donghae mulai paham pada arah pembicaraan ibunya. Ia segera mendekati Kyuhyun, menarik Kyuhyun agar segera menjauh dari kedua orangtuanya yang sebentar lagi pasti bertengkar. Namun Kyuhyun tetap teguh pada pendiriannya. Pemuda itu tidak menggerakan kakinya barang satu centi-pun. Donghae mulai kebingungan dengan reaksi Kyuhyun yang diluar dugaannya, ia mencoba merangkul Kyuhyun, berusaha sebisa mungkin untuk membawa Kyuhyun ke kamarnya, namun nihil. Kyuhyun tetap diam.
Benar saja. Dugaan Donghae sepenuhnya benar. Ayah dan ibunya kembali bertengkar, bahkan di depan mata kepalanya. Donghae menghela nafas panjang, ia bahkan terlalu lelah untuk mendengarkan apa apa saja yang kedua orangtuanya ributkan.
Sementara Kyuhyun… anak itu, entah sejak kapan sudah terduduk dilantai, memegangi kedua telinganya dengan erat, sambil sesekali menggelengkan kepalanya dengan cepat. Donghae yang menydari keadaan adiknya segera mensejajarkan tubuhnya pada Kyuhyun, Donghae memegangi kedua pundak Kyuhyun, berharap anak itu mau menatapnya.
"Kyu, kau mendengarku kan? Dengarkan suaraku saja ne? anggap saja tidak ada suara lain. Kau paham? Dengar suaraku saja, kau dengar aku kan?" sebisa mungkin Donghae mengalihkan perhatian Kyuhyun dari pertengkaran kedua orang tuanya. Donghae sendiri sudah sangat jengah, namun ia tidak boleh egois, adiknya pasti jauh lebih tertekan dibandingkan dirinya. Donghae paham itu.
Donghae mulai menyadari kejanggalan pada Kyuhyun, anak itu hanya menutup telinganya, namun tidak ada ekspresi berarti dari wajahnya. Sangat datar, tatapan adiknya begitu kosong, bahkan Donghae yakin, Kyuhyun seperti tak merasakan kehadirannya.
"Kyunnie… hei, jangan seperti ini, kau membuatku takut. Kau dengar aku kan? Kau bisa melihatku? Hei, Kyunnie." Donghae mulai panik, ia tidak mengerti kenapa Kyuhyun nya seperti itu, anak itu terus menatap lurus kedepan tanpa memperhatikan Donghae yang ada di hadapannya.
Donghae menepuk nepuk pelan pipi Kyuhyun, beberapa kali Donghae nampak berteriak memanggil nama Kyuhyun, namun Kyuhyun tetap diam seperti itu, membuat Donghae ketakutan dan tanpa sadar menitikan air mata. Hal itu sontak membuat sang ayah yang semula sibuk mencaci sang istri berhenti seketika. Ia menatap Donghae dan Kyuhyun bergantian, menyadari bahwa anak bungsunya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Pria itu melangkah tergesa mendekati tubuh Kyuhyun yang masih diguncang-guncangkan Donghae. "Apa yang terjadi dengan Kyuhyun? Kenapa dia diam saja?!" Pria itu kini merengkuh tubuh putra bungsunya, memeluknya dengan lembut sembari menepuk-nepuk punggungnya perlahan, "Kyuhyun, kau dengar appa? ini appa. Jangan membuat kami takut, kumohon.
Berhasil. Bujukan sang ayah mungkin saja berhasil pada Kyuhyun. Pemuda itu mulai menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi menutupi telinganya. Kyuhyun mengerjapkan matanya, ia baru menyadari posisinya yang kini ada di dekapan sang ayah. Kyuhyun tersenyum getir, sebelum akhirnya ia memaksa sang ayah untuk melepaskan pelukannya.
Namun sang ayah enggan untuk melepaskan pelukannya pada Kyuhyun. Pria itu dengan posesif merengkuh tubuh putranya, mengucapkan kata maaf berkali-kali di samping telinga Kyuhyun. Namun ekspresi Kyuhyun tetap sama, tak menunjukan emosi apapun, hanya saja kulit wajah pucatnya nampak memerah, seperti menahan amarah atau apapun itu.
Donghae menyadari bahwa adiknya merasa tidak nyaman dengan perlakuan sang ayah. Pemuda itu dengan sigap membantu Kyuhyun untuk lepas dari dekapan sang ayah, menarik Kyuhyun secara paksa, dan membantu Kyuhyun untuk segera berdiri.
Kyuhyun melirik sekilas pada Donghae, ia menggumamkan kata terimakasih yang teramat pelan untuk Donghae. Entah, terimakasih untuk apa, Donghae juga tak begitu paham.
"Kami permisi," Donghae menarik Kyuhyun untuk menjauh dari kedua orangtuanya, menyisakan tatapan prihatin dari sang ayah, dan tatapan mengejek dari sang ibu.
Kali ini Kyuhyun menurut, ia pasrah saja ketika Donghae menarik tangannya untuk menaiki anak tangga, hingga akhirnya Donghae mendudukan Kyuhyun diatas kasurnya.
"Sekarang kau tidur bersamaku saja, aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu. Ini sudah nyaris jam empat pagi, aku akan mengurus surat izin untukmu agar tidak masuk sekolah, kau istirahat saja ne?" Tanya Donghae.
Kyuhyun mengangguk perlahan, tanda meng-iyakan permintaan Donghae. Kyuhyun kini menatap Donghae dengan seksama, memperhatikan sang kakak yang sibuk mencari pakaian ganti untuknya. Kyuhyun memegang kepalanya perlahan, ia merasa tubuhnya sehat, hanya saja, ia merasa aneh pada dirinya sendiri, ia sendiri juga tak begitu paham, yang ia tau, tubuhnya seperti kaku dan tak mau mendengarkan perintah otaknya. Mungkin kelelahan, pikir Kyuhyun.
"Kyu, apa kau baik-baik saja? Apa kepalamu sakit?" Kyuhyun sedikit terlonjak ketika Donghae sudah duduk disampingnya. Kyuhyun menggeleng, ia menurunkan tangannya dari atas kepalanya, kemudian Kyuhyun mengambil pakaian yang ada di telapak tangan kakaknya, "aku berganti pakaian dulu," ujar Kyuhyun singkat yang dibalas Donghae dengan sebuah anggukan.
.
.
.
.
Kini Kyuhyun sudah berbaring di ranjang Donghae, pemuda itu sesekali melirik Donghae yang tidur memunggunginya. Donghae sendiri sebenarnya belum tertidur, ia terlalu sibuk memikirkan keadaan adiknya yang agak berbeda.
"Kyunnie, sudah tidur?" Tanya Donghae pelan. Kyuhyun tak langsung menjawab, pemuda itu tersenyum simpul kala mengetahui kakaknya belum tertidur. "Belum hyung, aku bahkan tidak mengantuk sama sekali."
Donghae membalikan tubuhnya, ia menatap Kyuhyun lekat, "hei, siapa yang menyuruhmu pergi ke tempat seperti itu? Kau tau, usiamu bahkan baru limabelas tahun. Jadi… bagaimana caramu untuk masuk ke tempat itu? Eum? Mau berbagi informasi padaku?" Donghae bertanya pada Kyuhyun. Awalnya, Donghae hendak memarahi Kyuhyun karena anak itu berani pergi ke tempat khusus orang dewasa, tapi Donghae sadar, Kyuhyun hanya tak punya tempat untuk bersembunyi dari kenyataan, intinya Donghae paham, Kyuhyun hanya tak ingin berada dirumahnya sendiri.
Kyuhyun balas menatap Donghae, ia tersenyum menanggapi pertanyaan Donghae, ia paham, kakaknya tidak menyukai perilaku kyuhyun yang mulai menjamah dunia malam.
"Tidak sulit dengan tinggi badanku yang diatasmu tiga centimeter hyung. Aku bisa masuk dengan mudah. Mereka tertipu dengan penampilanku, tidak ada yang memeriksa tanda pengenalku, mereka percaya begitu saja. Padahal, aku belum memiliki tanda pengenal kecuali kartu pelajar kan hyung?" Donghae terkekeh, tangannya perlahan mengelus surai-surai coklat Kyuhyun yang sedikit basah.
"Ne, kau pasti tau kalau hyung tidak menyukai hal-hal yang seperti itu, aku hanya cemas padamu Kyu, kau belum boleh minum minuman seperti itu, kau mudah sakit, ditambah minuman-minuman beralkohol, bukankah itu memperburuk daya tahan tubuhmu Kyu?" Donghae memandang Kyuhyun dengan raut sedih, ia tidak tahan jika adiknya selalu melampiaskan kekesalannya dengan minum-minuman keras.
Kyuhyun hanya tersenyum menanggapi petuah Donghae. Ia mengangguk samar, "aku akan menguranginya hyung. Tapi aku tidak berjanji untuk berhenti." Ujar Kyuhyun, Donghae mengangguk paham, ia kembali mengusap surai-surai coklat adiknya.
"Ne, setidaknya dikurangi. Sekarang sudah saatnya tidur, anggap semua yang terjadi hanya mimpi buruk ne? jaljayo Kyunnie, hyung sayang padamu."
Keduanya kini terlelap, meninggalkan beban-beban berat yang selalu menggelayuti pundak keduanya, berusaha tenang dan tidak memikirkan apapun walau hanya sebentar.
Bersiap menghadapi hari esok, yang entah menjadi hari yang lebih baik, atau justru sebaliknya.
Tidak ada yang tau…
TBC
Chapter dua akhirnya terselesaikan, maaf ya, cerita ini agak lama updatenya, lagi sibuk-sibuknya dengan kegiatan. Tapi saya sudah usaha semaksimal mungkin untuk update cepat. Beberapa waktu belakangan ini, saya kena writer block, bener-bener bingung harus mengetik dari mana dulu, saya gak kepikiran wkwk. Tapi syukur, sekarang udah enggak. Maaf juga kalau banyak typo bertebaran, saya sudah usahakan semaksimal mungkin biar typo typo itu menghilang/? Tapi pasti masih ada yang tersangkut…
Dan maaf lagi kalau ceritanya makin kesini makin… entahlah, agak absurd dan butuh dimaklumi.
Terimakasih banyak untuk semua yang berkenan membaca fict yang masih immature ini, maaf saya tidak bisa balas review-nya satu per satu. Next chapter akan saya usahakan balas ya. Tapi saya sangat berterimakasih…
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
_Beerealshee_
