[ReMake] A Romantic Story About Serena by Shanty Agatha
.
Cast : Wu Yifan , Huang Zitao , and others.
.
Rated : M
.
Disclaimer : alur cerita ini akan sama persis dengan aslinya yaitu A Romantic Story About Serena by Shanty Agatha.
.
.
.
.
.
.
.
Zitao melirik Yifan agak ketakutan ketika lelaki itu membelokkan mobilnya ke areal hotel berbintang lima. Lelaki itu sama sekali tak mengajaknya bicara. Dia menyetir mobil dengan tenang tetapi rahangnya menegang seperti menahan marah. Apakah lelaki itu akan berbuat kasar padanya untuk melampiaskan kemarahannya?
Tadi siang dia sudah menghina lelaki itu dan dia menyadari bahwa ego seorang lelaki sangat mudah terluka. Dia ketakutan kalau Yifan akan melampiaskan kemarahannya dengan kasar, dia tidak pernah disentuh lelaki sebelumnya selain ciuman dan pelukan dari Sehun yang tidak pernah melebihi batas.
Apakah dia harus memberitahu Yifan kalau dia masih perawan? Lelaki itu dari awal sudah beranggapan dia murahan, bagaimana jika...
Zitao terlonjak ketika pintu terbuka, ternyata Yifan sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang,
Lelaki itu mengernyit ketika melihat wajah Zitao yang pucat pasi,
"Ayo", gumamnya kaku, dan meraih tangan Zitao untuk membantunya keluar dari mobil.
Setelah Yifan menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas hotel untuk diparkir, mereka berjalan bersisian memasuki lobby hotel yang sangat mewah.
Resepsionis hotel menerima mereka dengan ramah dan memberikan kartu kamar yang dipilih Yifan,
Bahkan di dalam liftpun mereka lewati dengan keheningan.
Kamar itu begitu luas dan sangat mewah sehingga Zitao terpaku sambil terkagum-kagum akan keindahan interiornya.
Yifan hanya berdiri di sana menatapnya,
"Kau pasti belum makan, aku akan memesan makan malam di kamar", lalu lelaki itu melirik Zitao dengan sinis, "sementara itu, kupersilahkan kau mandi duluan, badanmu basah, kau bisa mandi dengan air hangat"
"Ta...tapi, saya tidak membawa baju..."
Yifan sengaja menatap Zitao dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan begitu intens sehingga wajah Zitao merah padam.
"Aku akan memesan pakaian di butik kenalanku, besok pagi pesanan akan diantarkan kemari. Bajumu yang basah letakkan ditempat yang disediakan di kamar mandi, petugas hotel akan mengambilnya untuk di laundry, sementara itu...",
Yifan sengaja menggantung kalimatnya dengan penuh arti, "malam ini kau tak perlu repot-repot memikirkan baju, toh kau tak akan sempat mengenakannya",
Kalau wajah Zitao bisa lebih merah padam lagi, itu akan menunjukkan betapa malunya dia dengan kata-kata vulgar Yifan.
Setelah menggumamkan beberapa kalimat tak jelas dengan gugup, Zitao setengah berlari menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Zitao merasa sedikit aman, disandarkannya punggungnya ke pintu dan dicobanya menarik napas dengan normal. Dia takut pada Yifan, lelaki itu seperti seekor singa yang menemukan domba lemah, lalu memutuskan untuk bermain-main dengannya dulu sebelum memakannya.
Zitao melangkah telanjang ke kamar mandi lalu menyiram tubuhnya yang letih dan kedinginan karena kehujanan dengan shower air panas,
Setelah selesai mencuci rambutnya, Zitao menyandarkan kepalanya di tembok dan membiarkan punggungnya yang pegal tersiram shower air hangat.
Dia takut menghadapi masa depan dan ketika membayangkan Sehun, air matanya menetes, mengalir bersama siraman shower.
Maafkan aku Sehun, setelah ini mungkin aku akan menjadi wanita kotor dan tak pantas untukmu, tapi hatiku tetap milikmu.
.
.
.
Ketika selesai membasuh muka dan menggosok gigi, Zitao memandang bayangan dirinya dicermin, keadaannya sudah lebih baik pipinya sudah tidak pucat lagi, sudah ada rona merah disana setelah mandi air hangat.
Ketukan di pintu hampir membuat tubuh Zitao melonjak,
"Kau lama sekali, apa kau baik-baik saja disana?", tanya Yifan tak sabar,
"Yyaaa...sebentar lagi saya selesai", Zitao menjawab sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling,
Apakah aku harus keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang?
Matanya menatap tumpukan baju kotornya memikirkan kemungkinan mengenakan bajunya lagi, dan membayangkan mengenakan baju yang hampir basah kuyup itu membuatnya begidik.
Senyumnya muncul ketika menemukan tumpukan handuk berwarna biru tua di lemari samping wastafel, dan dia beruntung, bukan hanya handuk, tapi dia menemukan sepasang jubah mandi dengan warna yang sama. Yang satu berukuran besar dan yang satu berukuran kecil.
Dikenakannya jubah mandi ukuran kecil yang masih kebesaran ditubuhnya sambil mengernyit, bahkan perlengkapan kamar mandi ini seperti sengaja ditujukan untuk pasangan, sepasang jubah mandi, sepasang sikat gigi, dan sepasang handuk.
Ditatapnya bayangannya di cermin, wah lumayan, lebih dari lumayan malah, jubah itu menutup rapat dadanya dan karena kebesaran, panjangnya hampir mencapai mata kaki, dia kelihatan cukup sopan meski sebenarnya tidak mengenakan apa-apa lagi di balik jubah mandinya.
Ketika Zitao keluar dari kamar mandi, Yifan sedang memberikan instruksi pada pelayan hotel yang menata makan malam di meja. Lelaki itu hanya mengangkat alis melihat akal Zitao memakai jubah mandi,lalu memberikan tips pada pelayan sebelum dia pergi.
"Duduklah, makan dulu",
Gumam Yifan mulai santai sambil menunjuk kursi di depannya,
Zitao duduk dengan gugup di kursi dan menatap makanan yang tersaji di meja. Air liurnya langsung terbit melihat sajian yang kelihatannya lezat itu, ada sup krim yang sangat panas yang pasti rasanya sangat nikmat untuk orang yang habis basah kuyup kehujanan, lalu daging panggang dengan bumbu keju dan saus yang sangat menggunggah selera, salad buah-buahan dan cokelat panas yang pasti untuknya, karena Yifan sudah menyesap kopinya.
Lelaki itu dengan penuh perhatian menuangkan sup di mangkuk dan menyodorkannya pada Zitao.
Zitao menatap Yifan ragu, dan untuk pertama kalinya hari itu, Yifan tersenyum lembut padanya,
"Ayo makan, aku tahu kau lapar, aku sendiri lapar sekali."
Mereka mulai makan dalam keheningan, dari sudut matanya, Zitao dengan hati-hati melirik Yifan dan menyadari lelaki itu mulai santai, jasnya sudah dilepas dan kancing kemejanya dibuka dua dengan dasi yang sudah dibuka begitu, cara makannya sangat elegan hingga membuat Zitao malu.
"Zitao?",
Suara itu menembus lamunannya dengan keras hingga membuat Zitao hampir melonjak karena terkejut.
Matanya mengerjap menatap Yifan,
"a...apa?"
"Kau hanya mengaduk-aduk supmu, apa tidak enak?"
Dengan terburu-buru Zitao menyuap sesendok sup dan menelannya,
"Ti..tidak, ssayaa hanya sedang berpikir"
Yifan tersenyum, lalu sekali lagi menatap jubah tidur Zitao,
"Pintar sekali kau memakai jubah itu, jadi kau tak perlu tampil telanjang di depanku"
Komentar yang diucapkan dengan santai itu hampir saja membuat Zitao tersedak, pipinya langsung merona merah.
Yifan menyesap kopinya sambil tetap memandang Zitao, lalu meletakkan cangkirnya,
"Oke, giliranku mandi, makanlah sepuasmu,lalu taruh saja disitu aku akan menelpon pelayan untuk membereskannya 30 menit lagi",
Dengan santai lelaki itu melenggang ke dalam kamar mandi,
Setelah menyesap cokelatnya, Zitao tidak tahu harus mengerjakan apa lagi, jadi dia duduk di pinggir ranjang dan menyalakan televisi,
Beberapa saat kemudian pelayan datang dengan sopan dan membereskan makanan mereka. Zitao hanya terdiam agak malu karena menyadari keadaannya yang hanya mengenakan jubah mandi.
Detik-detik berlalu dan terasa begitu mencekam bagi Zitao, sangat kontras dengan Yifan yang sedang di kamar mandi, lelaki itu mandi dengan santai, bahkan Zitao mendengar lelaki itu bersenandung di shower.
Ketika Lelaki itu keluar dari kamar mandi, Zitao sudah hampir tertidur di atas ranjang, pertarungan batin yang bertubi-tubi sudah membuat jiwa dan raganya kelelahan, sehingga berdiam diri berbaring di atas ranjang yang nyaman itu membuatnya merasa sangat mengantuk.
Yifan mengernyit sambil mengencangkan tali jubah mandinya, ditatapnya Zitao yang berbaring miring membelakanginya dengan posisi meringkuk seperti janin di dalam kandungan, pemandangan itu membuat hatinya terasa sakit, entah kenapa, seperti ada dorongan untuk merengkuh gadis itu dan melawan seluruh dunia demi dirinya.
Kernyitan Yifan semakin dalam, tidak pernah dia merasa seperti itu sebelumnya pada seorang perempuan, gadis ini telah membangkitkan semacam hasrat liar yang selama ini tersembunyi rapat-rapat dalam jiwa Yifan, dan bukan hanya hasrat tapi dibarengi oleh rasa obsesif dan posesif yang mendalam.
Tidak! geram Yifan dalam hati, hasrat ini tidak boleh sampai membuat dirinya lemah, dia harus menunjukkan siapa yang berkuasa.
Dengan pelan Yifan naik ke ranjang dibelakang Zitao yang memunggunginya, lalu diraihnya pundak Zitao, gadis itu terperanjat karena dibangunkan dari kondisi tidur-tidur ayamnya, dengan mata yang masih sayu setengah tidur ditatapnya Yifan.
Yifan melihat sekelumit ketakutan didalam mata itu, dan dengan sedikit kasar dibaliknya tubuh Zitao menghadap dirinya,
"Aku membayar kamar di hotel ini bukan hanya untuk tidur", geramnya parau lalu dikecupnya bibir Zitao,
Dan...meledaklah, Yifan merasa hasrat langsung membakar tubuhnya sekaligus, menghanguskannya, sejenak dia merasa ragu melampiaskan hasratnya seratus persen karena dirinya cenderung kasar ketika sangat berhasrat, tapi mengingat bagaimana Zitao menawarkan diri padanya hanya demi uang dan goresan rasa kecewa yang nyeri di hatinya karenanya membuat Yifan tak peduli lagi, toh gadis ini pasti sudah berpengalaman dan mungkin sudah lebih dari sekali dia menjual dirinya demi uang. Tapi benarkah gadis itu sudah berpengalaman?
Yifan teringat ciuman Zitao yang tanpa teknik memadai di tempat parkir tadi. Tidak! putusnya dalam hati, mungkin gadis itu hanya tidak pandai berciuman, Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!.
.
.
.
Zitao masih terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya dibalik dan dicium habis-habisan, dia masih setengah tertidur tadi dan benar-benar tak berdaya, Yifan sudah melampiaskan hasratnya tanpa ditahan-tahan, ciuman-ciumannya tanpa jeda seolah-olah lelaki itu tak tahan sedetikpun tidak berciuman dengannya.
Ketika Yifan mengangkat kepalanya, matanya berkabut, pupil matanya membesar terlihat kontras dengan iris matanya yang berubah menjadi biru pucat,
"aku ingin bercinta, aku ingin memasukimu...Ah kau tidak tahu betapa aku...", suara Yifan tersengal, lalu melumat bibir Zitao lagi dengan membabi buta,
Kata-kata vulgar Yifan itu membuat pipi Zitao merona malu. Tidak terbayangkan, dia, perempuan yang tidak pernah intim dengan lelaki manapun, sekarang terbaring dengan jubah mandi yang sudah acak-acakan, ditindih oleh lelaki yang mungkin sampai beberapa hari yang lalu tidak dikenalnya dengan baik.
Tangan Yifan menelusup di balik jubah mandinya, menemukan payudaranya yang hangat dan lembut, lalu meremasnya. Sedikit terlalu bergairah sehingga Zitao mengerang.
Yifan menghentikan gerakannya, lalu menatap Zitao lembut,
"Sakitkah?", bisiknya parau
Zitao terpaku, suaranya seakan tertelan di tenggorokan, bagaimana dia harus menjawabnya?
Tetapi Yifan tidak memerlukan jawaban, lelaki itu tersenyum, lalu menggerakkan tangannya lagi menyentuh payudara Zitao, dengan ahli dia menyingkirkan jubah mandi Zitao yang menghalangi, dan menemukan keindahan ranum di baliknya,
"Oh Indahnya", bisik Yifan serak, membiarkan Zitao memalingkan muka dengan malu dibawah tatapan tajam dan memuja lelaki itu.
Lalu bibir Yifan yang panas menelungkupi puting payudaranya, lidahnya bermain di sana terasa panas, membakar seluruh tubuh Zitao, membuatnya terpaksa merintih. Bingung dengan gejolak yang menyebar di seluruh tubuhnya. Yifan begitu ahli sedang Zitao sama sekali tidak berpengalaman, dan lelaki itu tampaknya tidak merasa perlu menahan dirinya.
Entah kapan, mereka sudah telanjang bersama di atas tempat tidur itu, Tubuh Yifan yang keras, melingkupi tubuh Zitao yang mungil di bawahnya, menggodanya, menggeseknya dengan kekuatannya, membawa gairah Zitao makin naik, sedikit demi sedikit ke puncaknya.
Kemudian Zitao merasakan kejantanan Yifan, yang tidak terhalang apapun menyentuh pusat dirinya. Pelan, tapi membuatnya terkesiap. Zitao membuka matanya yang terpejam, menatap Yifan di atasnya. Lelaki itu menatapnya dengan tajam, matanya berkabut, napasnya terengah, dan sejumput rambut tampak jatuh di dahinya, membuatnya tampak begitu liar.
"Ah, ya manis...Kau pasti akan sangat menyukainya", geram Yifan pelan, lalu mulai mendorong, menekan dan menyentuh Zitao, "Kau sudah siap", erang Yifan, "Kau sudah basah dan panas, siap untuk diriku..."
Jantung Zitao berdegup kencang, beriringan dengan detak jantung Yifan yang bahkan lebih parah. Dengan perlahan, Zitao memejamkan matanya, melepaskan hatinya, Demi kamu Sehun, bisiknya dalam hati bagaikan mantra yang menyelamatkan jiwanya.
Ini adalah sensasi baru bagi Zitao, merasakan kejantanan seorang lelaki yang mencoba memasukinya, menyatu dengannya. Rasanya panas dan membuat seluruh saraf ditubuhnya menggila, membuatnya begitu sensitif oleh kebutuhan yang sampai saat ini tidak pernah diketahuinya, kebutuhan untuk mencapai puncak.
Hingga rasa sakit yang menyengat tiba-tiba menyentakkannya ke alam sadar, Zitao mengerang kesakitan, tubuhnya mengejang, dengan panik dicengkeramnya pundak Yifan dan menggeleng-gelengkan kepala ketakutan atas usaha Yifan untuk menyatu semakin dalam dengannya.
.
.
.
Dan ketika merasakan sesuatu yang menghalanginya, mendengar erangan Zitao yang jelas-jelas kesakitan serta pandangan ketakutan yang membayangi mata Zitao, Yifan sadar bahwa semua prasangkanya itu salah, meski tetap tak bisa menjelaskan kenapa Zitao dengan mudahnya menjual dirinya, tapi ini sudah menunjukkan bahwa Zitao bukan wanita gampangan, Yifan adalah lelaki pertamanya.
Menyadari kesakitan yang mendera Zitao, Yifan mengalihkan perhatian Zitao denga cumbuannya dengan segenap keahliannya, rasa senang tak tertahankan membanjiri pikirannya ketika menyadari dirinya adalah lelaki pertama gadis itu.
Diciumnya bibir Zitao dengan lembut, bibir ranum yang sekarang menjadi miliknya. Napas Zitao terengah-engah dan Yifan melihat di matanya, ada ketakutan dan kesakitan. Yifan tidak pernah bercinta dengan perawan sebelumnya, dia tidak tahu seperti apa rasa sakitnya, dia tidak mengerti bagaimana meredakannya. Tetapi Yifan tidak suka melihat rasa sakit itu mendera di mata Zitao,
"Sssh...Sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu", Dengan lembut Yifan menelusurkan tangannya di sisi tubuh Zitao, lalu berhenti di pinggul Zitao, menahan pinggangnya yang sedikit meronta, mencegah tubuh mereka yang sudah setengah menyatu supaya tidak terpisah, "Mungkin akan sedikit sakit tapi semua akan baik, tubuhmu akan menerimaku seutuhnya...", Suara Yifan terhenti ketika dia mendorong dengan kuat, menembus batas keperawanan Zitao dan menyatukan tubuhnya sepenuhnya dengan Zitao.
Zitao berteriak kencang merasakan pedih yang amat sangat ketika Yifan menembusnya, jemarinya tanpa sadar mencengkeram pundak Yifan dengan keras. Tetapi Yifan tidak berhenti karena dia sadar kalau dia berhenti dia akan menyakiti Zitao. Dengan perlahan, Yifan menggerakkan tubuhnya. Oh Tuhan ! Sekujur tubuhnya terasa nyeri menahan diri. Zitao terlalu rapat, terlalu basah, terlalu panas, mencengkeram tubuhnya di bawah sana. Dia hampir-hampir tidak tahan dan dorongan untuk memuaskan diri dengan brutal di tubuh Zitao semakin menyiksa.
Tetapi Yifan sadar, ini pengalaman pertama bagi Zitao, dia harus membuatnya seindah mungkin, dia tidak boleh menyakiti Zitao. Karena itu sambil menggertakkan diri menahan gairahnya, Yifan mencoba bergerak selembut mungkin, menarik tubuhnya pelan dari balutan sutra basah dan panas itu, untuk kemudian menghujamkannya lembut. Lagi dan lagi.
Lalu ketika desah napas Zitao menjadi pendek-pendek serta pegangannya pada pundak Yifan makin kencang, Yifan sadar, dia telah membuat Zitao mencapai orgasme pertamanya. Pemandangan ekspresi wajah Zitao saat itu sungguh tak tergantikan, mendorongnya terlempar menuju puncak kepuasan yang sangat tinggi, sangat tak tertahankan seolah-olah dunia melededak dibawahnya. Dan Yifan benar-benar meledak di dalam tubuh Zitao.
Orgasme ini terasa begitu dasyat, sebuah pelepasan dari akumulasi gejolak yang ditahannya selama ini. Kenikmatan yang luar biasa ini membuat Yifan merasa sedikit sesak napas,seolah olah dia terhanyut dalam pusaran gairah yang tak tertahankan terus menerus menghantamnya tanpa henti,erangan parau keluar dari bibirnya ketika dia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di sisi leher Zitao.
Ketika usai, mereka berbaring berpelukan sambil berusaha menormalkan napasnya.
"Wow"
hanya itu yang terlintas dipikiran Yifan, dan dia tak sadar telah mengucapkannya keras setelah menyadari rona merah yang merayap di leher Zitao.
Dengan lembut dikecupnya leher Zitao,,,diangkatnya kepalanya, dan mereka bertatapan, mata biru yang tajam,yang agak berkabut setelah mencapai orgasme terhebat sepanjang eksistensi kehidupannya bertemu dengan mata hitam yang berkaca-kaca.
"Apakah kau...", Yifan berdehem ketika menyadari suaranya sangat parau,"apakah kau baik-baik saja?"
Zitao tampak tidak tahan ditatap dengan sedemikian intens apalagi dalam posisi yang sangat intim, dipalingkannya kepalanya setelah mengangguk menarik napas pelan, kemudian dengan hati-hati, sangat berhati-hati, dia mengangkat tubuhnya dari atas Zitao dan bergeser ke samping, menyadari kernyitan tidak nyaman di wajah Zitao ketika dia menarik diri.
Tanpa sadar Yifan bersikap begitu lembut, sikap yang tidak pernah ditunjukkannya ketika usai bercinta dengan wanita-wanita yang lain.
Direngkuhnya tubuh mungil Zitao, diletakkannya kepalanya di lengannya, gadis itu tampak pasrah, mungkin sudah terlalu lelah, kasihan, kasihan Zitaonya yang masih suci. Ternyata selama ini dia salah paham, gadis ini benar-benar masih suci.
Kepuasan seksual yang luar biasa masih mempengaruhi pikirannya yang berkabut, tangannya dengan santai mengelus punggung Zitao yang bergelung dipelukannya, sampai lama kemudian disadarinya pundak Zitao berubah santai dan napasnya mulai teratur pelan. Gadis itu tertidur. Yifan mengatur posisinya dengan lebih nyaman. tak pernah sebelumnya dia seintim ini setelah bercinta, gadis ini benar-benar mempengaruhinya...
TBC
