Hal paling buruk yang harus dihadapi setelah mabuk adalah hangover.

Hangover adalah kondisi tidak mengenakkan yang dialami manusia setelah mengkonsumsi alkohol. Gejalanya seperti mual, pusing, muntah, dehidrasi, sulit fokus, berkeringat, mengantuk, mulut kering, beberapa masalah perut bagian dalam (kembung, mulas, diare atau konstipasi, tergantung setiap orang).

Dan semua gejala ini dialami Shoto ketika bangun, pukul setengah lima pagi. Ia bangun karena merasa gerah, rambutnya lepek dan kaus dalamnya lembab kena keringat. Kepalanya berdenging. Perutnya seperti diaduk-aduk. Mual hebat membuatnya berlari ke toilet dan memuntahkan semua isi perutnya. Shoto memang sesekali minum satu atau dua kaleng bir, kadangkala cocktail juga. Ia peminum ringan, dan tidak pernah minum alkohol berkadar tinggi sampai mabuk seperti semalam. Ia pertama kali mulai minum alkohol saat kuliah di Amerika, dimana ia minum hingga tidak sadarkan diri dan bangun tidur dengan kondisi yang sama parahnya seperti sekarang. Shoto kemudian mengecam dirinya untuk tidak minum sampai mabuk karena tidak ingin merasakan hangover setelahnya. Namun sekarang ia menjilat ludahnya sendiri. Bakugo dan satu botol kuro kirishima sudah cukup membuatnya muntah dan merutuk kesal secara bergantian. Tak berapa lama berselang, Shoto merasa mulas. Kali gantian ususnya yang terkuras habis karena diare. Selepas menyelesaikan urusan perutnya dan cuci muka (yang ia harap akan membuat segar, namun tidak berefek sama sekali), Shoto keluar dari toilet dan mencopot kemejanya—menggabungkannya dengan tumpukan pakaiannya yang lain di ujung meja. Bakugo sudah bangun, namun ia belum beranjak dari ranjang. Shoto kembali memanjat kasur dan rebahan di sebelahnya.

"Ohayou." Sapanya malas.

"Hmmm." Bakugo bergelung, menggumam lemas. Ia menaikkan selimutnya sampai sebatas dada.

"Kau tidak kuliah?"

Bakugo dengan enggan merogoh meja samping ranjang, mencari ponsel. Melihat tanggal dan jadwal, berikut sederet chat. "Ada kelas sore. 1 mata kuliah jam 2. Kelasnya batal. Dosennya sakit."

"Aku libur."

"Libur di hari Jumat?"

"Aku kerja di art firm. Kalau tidak ada panggilan aku libur."

Bakugo mengucek matanya, nampak bahwa nyawanya belum terkumpul benar.

"Kau tangguh." Bisik Shoto. "Tidak seperti aku."

"Wooo, iyalah. Aku ini jagonya bikin orang mabuk." Bakugo menyeringai tipis. "Dan sialnya selalu jadi komandan pasukan pengurus orang mabuk."

"Otsukare." Shoto menepuk-nepuk kepala Bakugo. "Aku lapar."

"Jangan makan. Kau pasti muntah." Bakugo membenamkan lagi wajahnya ke bantal. "Tunggu sejam lagi."

"Aku nggak minta dimasakin. Aku minta makananmu saja. Kalau tidak ada kita delivery."

"Ada." Bakugo memunggungi Shoto. "Aku malas bergerak. Kau tidur lagi saja, sih."

Shoto menurut. Ia berbaring di sebelah Bakugo, terdiam. Ia menunggu kantuk namun sakit kepalanya membuat kantuk tidak lagi terasa.

"Oy, hanbun-yaro. Kau bau." Keluh Bakugo. "Bau keringat. Bau muntah. Bau om-om."

"Memang kayak apa bau om-om, bocah setan?" balas Shoto pedas.

"Bau rokok campur bau parfum."

Shoto tidak menggubris Bakugo. Ia berusaha bangkit, dan berjalan menuju dapur karena merasa haus. Sambil menyajikan dirinya sendiri segelas air putih, ia melihat tembok apartemen Bakugo dihiasi beberapa foto berbingkai. Ia dan tiga orang anak muda yang salah satunya adalah perempuan berambut merah dengan dada montok. Ia banyak foto dengan perempuan itu. Mungkin pacarnya. Bakugo tidak banyak memasang ekspresi aneh, namun terlihat bahwa ia senang berfoto dengan perempuan itu. Ada foto lagi yang mungkin fotonya dan kedua orangtua. Di dekat televisi ada rak dinding yang dipenuhi buku-buku tebal kedokteran, dan di meja kecil di bawah televisi ada buku yang nampaknya tidak sesuai dengan kepribadian Bakugo: Becoming hoomanly for cats, Authentic Japanese cuisine, Basic introduction of composing music, Guitar Tab Tutorial: Intermediate level, dan beberapa manga shonen. Ada beberapa botol kaca beling berisi aneka bunga kering yang nampaknya pajangan dari penghuni apartemen sebelumnya—bagian itu terlihat berdebu dan tidak terlalu dipedulikan.

Bakugo baru bangun sepuluh menit kemudian. Ia menggaruk rambutnya, dan membuka kulkas. Ia mengeluarkan satu karton telur, lalu tomat merah besar-besar, cabai merah kecil yang nampaknya sangat pedas, daun bawang dan satu bungkus bacon.

"Aku bisa membelikanmu sarapan di cafe." Ungkap Shoto. "Nggak usah repot-repot."

"O raku ni nasette (santai saja)." Bakugo melirih. "Lagian, dimana harga diriku kalau kasih makan satu tamu saja nggak bisa?"

Shoto tersenyum, lalu duduk dengan manis di kursi meja makan. Bakugo dengan cekatan membuat telur mata sapi, bacon yang ditumis dengan potongan tomat dan daun bawang, lengkap dengan dua lembar roti tawar yang dipanggang dalam toaster listrik.

"Jangan minum teh atau kopi. Di kulkasku ada lemon juice botolan. Kau minum itu dengan air dingin biar perut dan kepalamu nggak berhamburan." Tegur Bakugo ketika Shoto hendak menyeduh teh sendiri.

Pemuda bermata jasper itu mengucap ittadakimasu sebelum menyantap sarapannya dengan tenang. Shoto menuruti ucapan Bakugo dengan melarutkan dua sendok air jeruk lemon botolan dengan segelas air. Lalu setelah 10 menit, ia bisa makan dengan tenang. Sarapan sederhana yang cukup menyenangkan dan padat gizi, mengingat tomat yang dimasukkan Bakugo lebih banyak dibandingkan irisan bacon. Tampaknya piring Shoto tidak dibubuhi cabai sama sekali.

"Bakugo." Panggilnya. "Punyaku tidak pedas."

Tampak tak ingin repot, Bakugo mengambilkan dua butir cabai merah kecil untuk Shoto. Pria berambut nyetrik itu terdiam sejenak. Lalu menggerus cabai itu dengan sendoknya dan mulai makan. Rasa pedasnya langsung menghantam, membuatnya langsung tersadar seketika. Ia banyak-banyak memasukkan makanan ke mulutnya dan terus mengunyah agar rasa pedasnya hilang. Keringat deras mengucur dari dahinya, dan Shoto menandaskan air minumnya dengan kalap.

"Yabai!" Shoto merutuk. "Nggak hancur lambungmu setiap pagi makan ini?"

"Surprise, motherfucker." Bakugo tergelak. "Special breakfast from Western Hell."

"Fuzaken ja nee yo... (kau bercanda, hah?)..." Shoto kembali mengambil air minum. "Setelah mandi, aku akan pulang. Terima kasih sudah membiarkan aku numpang."

"Hmm." Bakugo mengangguk. "Ajak aku ke rumahmu juga, ya. Pasti enak, banyak pembantu. Tinggal ongkang-ongkang kaki."

"Sok tahu." Shoto mencibir. "Kau belum kenal aku lama sudah main tebak-tebakan. Kenapa lagamu kayak Tuhan?"

"Jam tanganmu." Bakugo melirik jam tangan yang masih melingkari tangan kiri Shoto. "Itu Patek Philippe Sky Moon Celestial."

Shoto melirik jam tangannya. Itu adalah hadiah ulangtahun dari kakak lelakinya, Natsuo. Ia juga suka karena desainnya yang unik dan rumit—hampir semua orang di Jepang mengira bahwa jam tangannya tersebut custom made mengingat Patek Philippe merupakan salah satu merk jam tangah mewah yang lebih booming di kalangan konglomerat luar Asia. Warnanya yang merupakan perpaduan dari biru tua, platinum dan rose gold dan ukirannya yang super detail sangat mempesona. Meskipun jam tangan bernuansa astronomi ini cukup susah untuk di setting, nyatanya Shoto sangat menyayangi jam tangannya ini.

"Kau tahu barang juga." Shoto memicing curiga. "Seram."

"Damare!" bentak Bakugo tersinggung. "Ayahku tukang servis dan jualan jam. Tentu saja aku tahu dari dia."

Shoto terdiam, merasa tidak enak karena membuat Bakugo tersinggung. Pemuda berambut jabrik itu menghela nafas dan meneguk air minumnya.

"Kalau aku jahat, sudah kurampok kau dari kemarin, bakayaro." Gerutunya. "Aku masih punya harga diri, kok. Dan lagi, aku masih mau punya teman makan."

Shoto terdiam. Ia tersenyum tipis sambil menopang dagu, menatap Bakugo. "Aku baru tahu kalau anak iblis bisa bersikap manis juga."

Bakugo merona. Merah padam hingga telinga dan lehernya. Ia membuang muka dan menggeram kecil. Shoto tidak tahu bahwa pujian berefek sedahsyat itu pada Bakugo. Sarapan sinting barusan membuat semua gejala hangover Shoto perlahan berkurang. Kepalanya tidak lagi pening, meski ia masih sedikit mual dan keringat mengucur deras dari tubuhnya.

"Oh, iya. Kau bilang kau kerja sambilan kan?" tanya Shoto. "Kau kerja dimana?"

Bakugo menoleh. "Bukan urusanmu."

Shoto memicingkan matanya. "Jadi lacur, ya?"

"Mau kusetrika bibirmu kalau ngomong sembarangan lagi, hanbun-yaro?!" sentak Bakugo.

"Kan aku nanya." Balasnya polos.

Bakugo mendengus malas. "Mau ikut?"


NYAN NYAN KAWAII CLUB

Shoto mematung di depan plang sebuah cafe berlambang kucing itu selama dua menit. Mulutnya menganga dan nampak otaknya tengah mencerna kira-kira apa yang Bakugo kerjakan di cafe seperti ini. ngomong-ngomong, si anak iblis itu sudah kabur duluan ke pintu karyawan. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Shoto melangkah masuk.

"Irrashaimasse, nyan~"

Disambut seorang wanita manis dengan pakaian maid, ada aksesoris kucing-kucingan tambahan seperti ekor, kuping dan sarung tangan paw. Roknya pendek dan berenda-renda. Atasannya ketat menjiplak tubuh. Shoto hanya duduk, membaca menunya sekilas dan memesan secangkir latte dan pudding mangga. Seperti namanya, cafe ini bernuansa kucing. Banyak aksesoris dan gimmick bertema kucing. Dan jangan lupa, ada banyak arena bermain kucing dan puluhan kucing aneka jenis yang bisa dipegang dan difoto. Ada larangan untuk tidak memberi makan kucing, dan melepas kalung identitas yang digunakan si kucing. Pelayan cafe aneh ini semua wanita. Wanita-wanita gemas kesukaan lelaki cabul yang biasanya minta foto. Shoto mulai berpikir apa mungkin Bakugo menjadi pramusaji dengan pakaian maid dan aksesoris kucing-kucingan?

Pesanan Shoto datang cukup cepat. Ia tidak menyentuh makanannya, namun takjub melihat seekor kucing berbulu pendek dengan kuping melesak ke dalam lewat melaui kompartemen di sebelah tempat duduk Shoto, dan duduk manis di meja Shoto. Ia berwarna pirang dan putih, belang-belang mirip panda. Kucing itu terbilang besar, dan kepalanya bulat. Bulunya bersih dan ia tampak sehat dan bugar. Benar-benar menggemaskan.

"Hora, Simba! Jangan lompat ke meja tamu!"

Shoto kenal suara itu.

Bakugo, dengan kaos bermotif macan, dan apron berwarna krem menggendong kucing yang dipanggilnya Simba itu dengan lembut dan menimang-nimangnya. Kucing itu nampak diam, tenang berada di pelukan Bakugo. Lelaki jabrik itu melepas kucing tersebut untuk kembali bermain bersama teman-teman kucingnya.

"Kenapa kau tidak pakai seragam maid kucing-kucingan?" tanya Shoto gamblang.

"Mau kubuat masuk neraka betulan?!" geram Katsuki. "Dasar cabul."

"Aku nggak cabul. Aku nanya." Balas Shoto tak mau kalah.

"Aku bekerja di sini sebagai cat ranger." Katsuki membalas, mengelupas segumpal bulu di sarung tangan khusus yang digunakannya dan membuang gumpalan bulu tersebut ke tempat sampah. "Spesialis urus kucing. Perempuan-perempuan itu kan bodoh. Cuma bisa pamer oppai sama kucing-kucingan. Kalau aku jadi kucingnya mereka sudah kucakar-cakar sampai mati. Kimo..."

Shoto terkikik pelan.

"Kau bisa ada disini sepuasnya selama minimum spend di tagihanmu 2000 yen. Pesananmu sekarang bahkan belum sampai 600 yen." Tegur Bakugo. "Kalau tidak mau tambah, sejam lagi kau harus pergi."

"Kau memandikan mereka juga?" tanya Shoto, out of topic.

"Kasih makan. Grooming. Kasih vitamin. Medical check up. Bersihkan pasirnya." Bakugo mengangguk. Ia berjongkok dan memungut seekor kucing berbulu tebal yang motifnya mirip panda. "Yang ini namanya Tsumugi. Dia domestic long hair. Tsumugi adalah host kami disini. Dia pasti senang digendong tamu."

Shoto belum pernah menyentuh kucing sebelumnya. Namun, Bakugo meletakkan kucing itu begitu saja di pangkuannya. Tsumugi mendengkur pelan dan meringkuk tenang di pangkuan Shoto. Bulunya halus, dan mungkin kalau kucing ini kebasahan, ia bisa menyusut. Bakugo tersenyum tipis.

"Bagaimana?"

Shoto berbinar. "Kawaii..." ia menggaruk dagu kucing itu lembut. "Bulunya halus."

"Nggak cuma kucing ras. Kami juga ada kucing biasa. Ada yang cacat. Tapi dia masih hidup sehat."

Bakugo menunjukkan kucing bernama Chitoge—seluruh bulunya berwarna putih. Matanya buta sebelah. Dia mungkin saja kucing kampung. Ada lagi kucing yang seluruh bulunya hitam, dan ia nampak asyik berguling-guling dan melompat-lompat di arena main kucing. Shoto baru menyadari bahwa kaki kucing hitam itu hilang satu.

"Itu Toothless." Bakugo menjelaskan setelah mengikuti arah pandang Shoto. "Aku sempat dimaki-maki managerku, kenapa mau merawat Toothless dan Chitoge yang cacat. Menurutku, semua kucing punya hak yang sama. Tidak berarti karena mereka bukan kucing ras, cacat dan tidak lucu, mereka bisa ditelantarkan begitu saja. Asal pintar merawat, mereka bisa jadi sama lucunya dengan kucing ras."

Shoto menyesap kopinya. "Kau suka kucing, Bakugo?"

"Aku pelihara 7 ekor di rumah. Si kuso baba itu lebih sayang kucing-kucingnya dibanding aku." Rutuk Bakugo. "Yah, sedikit banyak aku tahu cara merawatnya."

"Karena itu kau punya makanan kucing kering di toples atas lemari makananmu?"

Bakugo mengangguk. "Aku bawa sedikit-sedikit setiap hari. Kalau ketemu kucing liar, selalu kukasih makan. Di apartemen tidak boleh bawa peliharaan."

"Kupikir kau punya hobi esentrik nyemil makanan kucing."

"Mau kubuat paru-parumu pindah ke selangkangan?!" Bakugo memamerkan tinjunya.

"Ampun, tuan muda..." Shoto menangkupkan tangannya dengan gestur memohon, walaupun ekspresi datarnya menjadikan aksi tersebut seperti satirisme


Pada akhirnya, Shoto menunggu Bakugo selesai bekerja. Sebenarnya tidak sengaja. Ia keasyikan main dengan kucing-kucing, posting banyak video dan foto hingga instagram story-nya habis dan seorang pramusaji menegurnya karena waktunya sudah habis. Shoto akhirnya memesan satu porsi spaghetti napolitan, dan dua menu eskrim yang ia habiskan pelan-pelan sambil kembali mengamati betapa gemasnya kucing-kucing disana. Jam kerja Bakugo hanya 4 jam, dan ia bahkan kaget melihat Shoto masih disana. Merasa sungkan, ia menawari Shoto untuk mengantarnya sampai stasiun Hosu.

"Kau tampak senang." Bakugo terkekeh. "Bajumu bulu semua."

Shoto tidak menjawab. Memang menyenangkan main dengan kucing. Mungki ia akan kesana lagi dalam waktu dekat. Bakugo dan Shoto berjalan bersebelahan, tidak bicara apa-apa lagi setelahnya. Shoto memantik rokoknya, menyadari bahwa ia sudah 12 jam tidak merokok semenjak bangun pagi hingga saat ini. Kejadian langka, mengingat ia termasuk perokok ulung kelas kakap. Rokoknya habis tepat setelah mereka sampai di stasiun.

"Oy, hanbun-yaro..." Bakugo bergumam.

"Belajar panggil nama orang yang benar." Shoto menoyor kepala Bakugo.

"Lagian kau lebih pantas dipanggil hanbun-yaro." Bakugo membalas dengan meninju lengan Shoto. "Sana pulang."

"Kau tidak mau bilang mata ne sambil lambai-lambai lucu? Biar kayak di dorama."

"Guyon, ih. Laknat. Om-om sinting." Sembur Bakugo muak.

Shoto membungkuk pamit, lalu berjalan ke dalam stasiun. Terbayang di benaknya ia ingin mandi air panas, lalu makan soba dan tidur. Sebelum ia memasuki gerbang dalam stasiun, langkah kaki mengejarnya.

"TODOROKI!"

Pria berambut nyentrik itu nyaris menjatuhkan kartu pass keretanya karena terkejut. Ia menoleh. Bakugo memang menyusulnya.

Dan semuanya nampak terlalu cepat.

Bakugo menjambak kerah jasnya dan mendaratkan ciuman singkat yang terasa nekad namun penuh perasaan, bercampur rasa malu. Shoto terperangah seperti orang dungu. Bakugo merona bahkan sampai pundak. Ia menggigit bibirnya, dengan mata berkaca-kaca ia berlari menjauh secepat mungkin bahkan sebelum Shoto sempat berkata apa-apa.

"Pak? Anda mau masuk, tidak?"

Shoto terperanjat. Ia buru-buru menempelkan kartunya dan masuk ke dalam peron, menunggu kereta ke arah Kitagawa dengan perasaan campur aduk dan pikiran keruh yang berkecamuk.

Bakugo itu kan orang asing.

Bakugo itu kan laki-laki.

Kenapa Bakugo menciumnya?


Chapter 3 done~

Senangnya masih ada yg baca dan menunggu kelanjutan ffn ini. And, yess! Saya buat Bakugo yang sangar itu ternyata memiliki hati hello kitty sebagai pecinta kucing~ keknya pas aja itu biar dia ada sisi unyunya gitu. Dan yah, mungkin bahasa jepangnya bisa jadi disalah artikan sama author. But i try my best biar ga kaku-kaku banget gitu. Yosh, tanpa banyak bacot lagi saya akan lanjut! Silakan tinggalkan review! See you on the next chapter!