The Call

.

Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi

Disclaimer: typos, AU, deskripsi seadanya, multichapter, terinspirasi oleh film campuran antara Korea dan Bollywood | Genre: Romance, School, Fluffy, and Drama | Rate: T | Main Pairing: Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata | This story is mine | Dedicated to all readers

Enjoy Reading!

.o.O.o.

Setelah beberapa hari, aku telah menjadi sahabatmu...

Chapter 3 of 7 : Best Friend

Pertengahan musim gugur benar-benar enak buat menikmati rasa makanan. Gadis berusia dua puluh tahun ini sedang membantu para pelayan untuk membuatkan masakan. Makanan kesukaan ayah gadis dua puluh tahun ini, Hyuuga Hiashi. Pelayan tidak ingin nona muda membantu mereka, tapi karena niat nona muda ini, mereka angkat tangan.

Hinata, namanya. Wajahnya manis seperti namanya. Dia pintar memasak, pintar dalam segala hal. Dia tipe idaman setiap pria, sayang dalam usia dua puluh tahun ini, Hinata tidak berminat mencari pasangan hidupnya. Mungkin dikarenakan dia lebih suka sendiri. Sendiri demi menunggu sang sahabat.

Pernah sekali Hinata memasak buat laki-laki biru langit tersebut. Usia mereka beranjak jadi dua tahun ke atas. Hinata usianya dua belas tahun, sedangkan Naruto tiga belas tahun. Selisih satu tahun tidak memungkinkan buat mereka saling mengenal satu sama lain. Walaupun masakan Hinata terlihat gosong, Naruto mencicipinya sambil tersenyum.

Dua tahun Hinata melihat wajah senyuman itu seperti sinar matahari. Nyaman dan hangat. Selama dua tahun Hinata tahu apa terjadi pada keluarganya. Naruto menceritakan kisah tentang keluarga sebelum dibunuh. Kisah tragis menyayat hati.

Waktu itu, Hinata membawa Naruto ke tebing. Hinata bisa manjat tanpa bantuan Naruto. Usia dua belas tahun tentulah pembelajaran bagi orang mulai mandiri. Mereka berdua duduk dengan menurunkan kedua kaki mereka ke bawah tebing.

"Katanya kak Naruto mau menceritakan kisah sebelum keluarga kak Naruto dibunuh?" tanya Hinata menoleh ke arah anak laki-laki berambut kuning keemasan sambil menggoyangkan kedua kakinya.

"Baiklah. Aku akan menceritakan kisah di mana aku dapat kebahagiaan sebelum keluargaku dibunuh." Anak laki-laki diketahui bernama Naruto menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan perlahan. "Sebelum keluargaku dibunuh yang dulunya bernama keluarga Namikaze. Ayah ibuku adalah seorang walikota dan ibu walikota di kota besar. Mungkin kamu mengenalnya, nama ayah ibuku, Namikaze Minato dan Kushina. Aku juga punya saudara, saudara laki-laki dan perempuan. Nama mereka Namikaze Menma dan Namikaze Naruko."

Hinata kecil mendengar dengan cermat, latar belakang keluarga Naruto. Mulai dari nama keluarga sebenarnya, ayah ibu, dan dua saudaranya. Anak perempuan berusia dua belas tahun ini tersenyum saja dengar cerita dari bibir Naruto.

"Kami keluarga bahagia di kota itu. Bisa dibilang, keluarga harmonis. Tidak ada konflik." Naruto merebahkan dirinya ke atas tebing. Menyangga kepala memakai kedua tangannya. Naruto melihat awan berjalan. "Sejak datang pedagang aneh ke kota kami, ayah yang seorang walikota semakin sibuk mengurusnya. Lebih mementingkan pedagang itu daripada istri dan ketiga anak-anaknya. Lalu, muncullah kejadian di mana semua berubah."

Jantung Hinata berdebar-debar, takut mendengar kisah selanjutnya. Insting perasaan perempuan mengembang ke atas. Buku-buku jarinya mengepal erat, bergetar hebat. Tubuh merinding. Kedua mata ditutup, kedua telinga tidak lagi mendegar suara Naruto. Sayup-sayup dengar suara burung berkicau. Tapi, dia harus mendengar sebagai pendengar baik. Demi perasaan anak laki-laki rambut kuning keemasan di sampingnya.

"Semuanya berubah, banyak terjadi perampokan di sekitar kota kami. Barang-barang dicuri tanpa ada seorang pun melihat. Mereka anggap itu kesalahan penduduk kota kami. Mereka jadi histeris, saling menuduh satu sama lain. Ayahku pun dituduh tidak-tidak sama penduduk kota tersebut. Tidak becus dalam menjalankan kepemimpinan. Ibuku khawatir pada ayahku, kami serba salah. Setelah itu, tibalah di mana ayahku marah pada pedagang tidak diketahui namanya." Naruto menutup matanya, membayangkan dia melihat ayahnya memarahi pedagang tersebut di depan matanya.

"Pedagang itu membunuh ayahku dengan sebuah golok tersimpan di celah-celah barang tanpa ampun. Aku menjerit... dalam diam. Langsung lari mencari ibuku dan dua saudaraku. Namun, itu tidak berhasil. Pedagang itu memiliki anak buah berjumlah sangat banyak. Ibuku diperkosa..." geram Naruto melayangkan tangan kiri dan meninju batu tebing hingga terluka. Dia tidak merasakan sakit amat sangat. "Menma digantung dan... adik perempuanku, Naruko dikubur hidup-hidup. Penduduk kota dibunuh. Dan aku baru tahu kalau pedagang itu adalah tentara bayaran dikirim seseorang untuk membalas dendam kepada ayahku. Mereka sungguh tega tanpa belas kasihan."

Butiran bening jatuh di atas kepalan tangan seputih susu Yah, Hinata menangis dalam diam. Kisahnya menyayat hati. Sampai-sampai dia menangis tapi membelakangi Naruto. Agar Naruto tidak melihat dia menangis. Kalau dia nangis di depannya, pasti dia akan mengatakan sambil bentak, "jangan menangis".

"Aku terus berlari minta pertolongan, mereka mengejarku. Untunglah ada pelayan melindungiku dari serangan musuh. Dia membawaku lari, tapi... dia ditembak. Darah berhembus keluar, mengotori bajuku. Aku mengguncang tubuhnya, tapi tidak ada jawaban. Darah ada di tanganku, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Minta pertolongan saja tidak bisa kulakukan. Lidahku kelu. Aku berdoa semoga Kami-sama mau mendengar doaku," Naruto mengangkat tangan bersimbah darah di buku-buku jarinya sambil tersenyum sedih. Air mata keluar pelupuk mata biru langit. Tetesan air mata keluar adalah pembuktian dia butuh seseorang menolongnya.


"Aduuh..." Darah keluar dari ujung jari telunjuk gadis berambut biru panjang itu. Koki melihat anak majikannya terluka langsung meminta pelayan mengambil obat P3K. Pelayang telah bawa kotak P3K dan memberikan pada kepala pelayan.

"Ya, ampun nona Hinata. 'Kan saya sudah bilang, Anda jangan memasak. Lihatlah tangan Anda jadi korban," kata kepala kepala khawatir pada nonanya sambil meneteskan obat merah ke jari telunjuk yang berdarah. Lalu, dibalut memakai plester. "Biarkan kami melakukannya. Anda istirahat saja. Makanan kesukaan tuan besar, biar kami urus. Sesuai perintah nona, kami siap melayani."

"Terima kasih," sahut Hinata tersenyum. Dilihat jari telunjuk dibalut plester berwarna cokelat mengingatkan pada anak laki-laki terluka di buku-buku jari karena meninju batu di atas tebing. Dia duduk sambil memerintah apa bahan-bahan dimasukkan dalam makanan tersebut. Hinata menyandarkan tubuhnya di tembok, teringat lagi tentang kisah anak tiga belas tahun.

"Akhirnya aku terdiam beberapa saat di hutan. Beda dengan diceritakan ayahmu. Aku duduk diam sambil melihat mayat busuk di depanku, mayat pelayan rumahku. Tiba-tiba ayahmu datang melihatku penuh kesuraman, dia berjalan mendekatiku. Wajahku terpuruk dan aku tidak tahu bagaimana menggunakan wajah minta tolong. Beberapa saat diam karena aku tidak bisa bicara karena trauma, dia membawaku pergi jauh-jauh. Aku masuk dalam gerbong kereta. Kulihat pemandangan tragis di jendela, semua penduduk mati. Kepolisian setempat menegaskan bahwa ini ulah tentara," Naruto tertawa miris. Dahinya berkerut. "Sampai aku bertemu denganmu berlari memeluk ayahmu."

Diam. Mereka diam. Anak perempuan ini tidak bicara, takut jikalau Naruto dengar dia menangis. Jadi, Hinata diam. Naruto tahu Hinata diam karena menangis setelah dengar ceritanya. Naruto bangun dari tidurnya dan menggeser pantatnya menuju Hinata. Tangannya yang berdarah, mengelus rambut Hinata berwarna biru. Rambut Hinata mulai agak panjang dilihat dari usianya. Naruto menyentuh dagu Hinata, mengarahkan kepadanya. Dia sudah tahu kalau Hinata benar menangis.

"Sudah kubilang bukan, jangan menangis." Naruto menghapus air mata Hinata menggunakan ibu jarinya. "Kamu tidak pantas menangis untukku. Air mata ini tidak cocok untukku."

Air mata mulai bercucuran, tidak dibendung lagi. Tidak tahu kenapa, hatinya meminta untuk menggantikan hati Naruto yang sakit. Sakit sekali. Hinata merasa Naruto tahu apa dipikirkannya.

"Seharusnya kamu tidak boleh menangis untukku. Aku tidak pantas ditangisi. Aku ini pengecut. Coba dari dulu aku bisa mengalahkan mereka, tidak seperti ini. Mungkin aku dan keluargaku bahagia sampai sekarang," Naruto menengadahkan ke langit, awan putih berubah hitam. Angin kencang berhembus. Tapi, tidak ada tanda-tanda hujan. Naruto menarik kepala Hinata agar bisa memeluknya. "Mulai sekarang, janganlah kamu nangis jika aku pergi. Aku tidak akan bilang selamat tinggal kepadamu karena kamu adalah orang tepat sejak aku melihatmu keluar dari rumah, berlari menuruni tangga. Cahaya masuk menyinari menandakan kamu adalah malaikat untukku. Inilah panggilan bahwa mungkin kamu adalah sang malaikat."

Wajah Hinata bersemu merah, tapi berubah normal. Dia menarik wajahnya dan menatap Naruto, "aku bersedia menjadi sahabatmu. Sebagai tempat membagi kesedihan."

Anak laki-laki itu tersenyum gembira memperlihatkan giginya sambil kedua mata menyipit. Hinata tersenyum bahagia. Mereka mengancungkan jari kelingking, mengaitkannya sebagai sbeuah janji setia. Dan bersumpah, "kami tetap menjadi sahabat saling menghormati satu sama lain. Jika kami memang berjodoh, izinkanlah kami tetap bersama."


"Nona Hinata, kenapa Anda senyum-senyum sendiri?" tanya kepala pelayan menatap gadis senyum sendiri menghiasi wajahnya yang manis. "Adakah hal menggembiraka, nona?"

"Tidak ada," jawab Hinata sambil menggeleng-geleng pelan. "Eh? Apa makanannya sudah jadi?"

"Sudah. Dari tadi, nona. Makanya saya memanggil Anda, tapi Anda tidak menyahut. Jadi, saya baru panggil Anda keempat kalinya," sahut sang pelayan memperlihatkan makanan ditutup penutup makanan.

"Maaf, aku melamun tadi," Hinata mengucek mata peraknya. Bangkit setelah merapikan roknya yang kusut dan berjalan ke kereta dorong makanan (saya betul-betul lupa). "Biar aku mengantar makanan ini ke ruang makan."

"Baik, nona." Koki, pelayan-pelayan dan kepala pelayan membungkuk badan penuh hormat kepada Hinata. Hinata mendorong kereta makanan tersebut ke ruang makan di samping pintu besar sana.

Setibanya di ruang makan, Hinata menyambut kedatangan ayah, Hyuuga Neji dan Uchiha Sasuke. Hinata membuka penutup makanan, meletakkan di depan Hiashi, Neji dan Sasuke. Lalu, Hinata mengambil piring terakhir di depan.

"Sebelum kita makan, ayah dapat kabar dari dia. Katanya dia belum bisa pulang karena ada mau diurus," kata Hiashi tersenyum. Hinata kaget hampir menjatuhkan gelas di sampingnya. "Mungkin dia pulang sebulan lagi. Sekarang dia belum terdaftar di keluarga kita."

"Dari dulu dia benar-benar memakai nama Hyuuga, ayah," Neji mengelap pisau dan garpu memakai serbet. Neji menoleh ke arah Hinata, " karena dia telah jatuh cinta pada seseorang."

Hinata yang meneguk minuman langsung tersedak, "ohok..."

"Astaga, Hinata. Kalau minum, pelan-pelan dong." Berada di sampingnya, Sasuke memberikan serbet ke Hinata. Air menetes di bibirnya. "Mendengar kata 'dia jatuh cinta', kenapa kamu agak kaget mendengarnya."

"Ti-tidak apa-apa..."

Neji tertawa dalam hati. Ada semburat merah di pipi Hinata. Untuk mengalihkan perhatian, Neji meminta Hiashi memulai acara makan siang, takut makanan-makanan di depan mereka keburu dingin. "Kita mulai makan, ayah."

"Baiklah. Selamat makan."

Hinata mengingat kembali masa-masa dulu di mana dia dan dirinya berjanji akan terus bersama. Pertama-tama menjadi sahabat. Waktu itu awan mendung setelah mengaitkan sebuah janji. Mereka saling pandang satu sama lain tanpa bicara.

"Kami tetap menjadi sahabat saling menghormati satu sama lain. Jika kami memang berjodoh, izinkanlah kami tetap bersama." Awan hitam berubah putih, langit kembali cerah. Ramalan cuaca katanya hujan tidak terjadi. Keberuntungan akan keduanya menjadikan dunia ini berhenti lamban.

Naruto lepaskan pengait jari kelingkingnya, bangkit berdiri. Dia loncat turun dari atas tebing. Lalu, berbalik badan mengangkat kepala menatap Hinata terkejut tiba-tiba. "Ayo, cepat turun."

"A-aku tidak bisa. Aku takut," Hinata mundur ke belakang, tidak mau loncat turun.

Naruto menghela nafas, mengangkat kedua tangan untuk direntangkan. "Kemarilah, biarkan aku menangkapmu. Cepatlah turun. Kamu tidak mau berada di situ sendirian, bukan?"

Hinata meneguk air liur. Takut, Hinata berdiri dan berjalan pelan ke ujung tebing. Menutup mata dan mulai meloncat. Tubuh serasa melayang, jantungnya bergetar hebat. Tapi, kemudian itu sirna karena Naruto menangkap tubuh Hinata. Hinata membuka mata dan melihat kedua mata Naruto berwarna biru langit.

"Lihat, 'kan? Aku bisa menangkap tubuh mungilmu ini," cengiran lebar ditunjukkan kepada Hinata. Wajah Hinata bersembur merah seperti tomat matang. "Sekarang wajahmu berubah merah. Seperti tomat masak."

Naruto cekikikan melihat wajah Hinata berubah lagi merah akhirnya pingsan. Naruto kaget dan membawanya masuk ke rumah. Semua pelayan terdiam, tapi tertawa. Mereka sudah sangka, persahabatan ini mulai menjulur pada cinta pandangan pertama.


Oh, astaga... Hinata waktu itu baru bersahabat dengan dia. Tapi, Hinata belum tahu apa terjadi kemudian di mana dia jatuh cinta kepadanya. Dunia ini serasa berhenti untuknya. Hinata pun senyum sendiri. Penuh keingintahuan, Sasuke menduga Hinata menyukai orang itu dari dulu. Benar-benar deh.

To be continued...

.o.O.o.

A/N: Selesai sudah chapter 3! Terselesaikan juga walaupun tangan sudah pegal. Pegal karena ada pekerjaan menumpuk. Pas pulangnya, buat fic ini. Saya suka juga mumpung beban terangkat. Tinggal empat chapter lagi. Sekalian saya sertakan LONG Distance (ceritanya ke Hinata-Naruto lagi) Seterusnya baru Sasuke-Sakura sampai tamat. Terima kasih sudah baca, ya! ^^

Buat review, saya berterima kasih pada kalian:
- Unnie Soo Shikshin
- Lathifah Amethyts-chan
- Diane Ungu
- Cicikun Syeren

Salam hangat dari saya,

Sunny Blue February

Date: 20 Maret 2013

Thanks to reading!