Kita Dijodohkan

Naruto '-')/ Masashi Kishimoto

.

.

Chap 3

Dan pada akhirnya, kehidupanku sebagai pria yang dijodohkan berjalan mulus. Walau tak semulus dan selicin kertas minyak.

Aku mengatakan sejujurnya. Ku akui terlihat lemah, tapi beginilah susahnya melawan gengsi, dan bila aku tidak bisa melakukannya tentu saja Hinata akan tetap begitu bukan? Penjelasan dalam sebuah hubungan itu penting.

Hinata melepas pelukan.

"Masuklah dulu. Sepertinya mau hujan"

Hinata berujar dan menarik lenganku. Sungguh sungguh rasanya jantungku berdebar. Berdebar yang sesungguhnya.

Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku percaya dia. Entah bagaimana keadaan selanjutnya, yang penting aku sudah mengucapkan. Bukan tentang menjadi yang terbaik, untuk menjadi yang tak terganti. Namun tentang menjadi yang tak terganti, meski bukan yang terbaik.

Saat ini yang memberatkan punggungku bukan beban keedihanmu, namun kecemasan jika tak sempat membahagiakanmu.

Rintik hujan masih terus bersahutan dan akhirnya hujan yang sebenarnya menyusul. Aku tidak bisa berhenti memandang kedua matanya ketika dia mengiris paprika untuk makan malam.

Anak rambutnya yang terselip dibelakang telinga, kulitnya, pipinya, matanya, bulu matanya, alisnya. Semuanya yang membuat aku jatuh cinta.

"Ngapain liat liat"

"Mm.. aku gak liatin kamu. Aku Cuma liatin lampu dapur."

Hinata tersenyum tipis. Lalu melanjutkan semuanya. Aku membantu menyusun piring. Hanya berdua, tidak ada orang tuanya dan kakaknya. Mantab sekali. Hujan diluar juga berangsur angsur reda. Ramalan cuaca di TV memang benar benar melenceng. Kelembapan udara turun dan terkadang tidak hujan.

Makanan di meja habis tanpa ada sepatah kata. Tidak ada yang perlu dibahas dan dibicarakan. Terebih lagi tentang Si Sasuke itu. Kami melanjutkan acara dengan menonton televisi setelah membersihkan meja makan dan piring kotor. Sebenarnya aku juga gak tau harus bahas apa. Semua sedikit tampak canggung walau kami mencoba meluweskan suasana.

"Wanjir itu coba liat ini. Terobosan baru," aku membuka suara.

"Apaan itu"

"Jus Kelapa"

"Mana ada Jus Kelapa."

"Adalah, santan 'kan juga jus kelapa"

Hinata tertawa karena tidak habis fikir.

Tiba-tiba suara telefon berdering.

Sakura.

Kamving! Ngapain ini anak nelfon. Oke santai Naruto. "Aku mau angkat tefon"

"Oke."

Aku berjalan menjauh yang sekiranya jarak yang tidak akan terdengar oleh Hinata.

"Moshi moshi?"

"Moshi, Naruto-kun. Aku minta bantuan."

"Nani?"

"Mobilku mogok dan aku gak tau mesti nelfon siapa. Bisa kesini?"

"Dimana?" Oke. Sial. Ini reflek kebiasaan ku pacaran siap siaga bantu. Aku melirik Hinata yang masih asik lihat tv. "Kenapa bisa?!" ucapku setengah berbisik.

"Di taman kota. Aish, mana ku tahu. Aku salah bawa mobil, sialan."

"Baiklah, tunggu disana."

Sial, satu perkara selesai, datang perkara lain. Gimana cara aku jelasin ke Hinata.

Pepes onta! Gunakan otak udang mu sialan.

Perkara menjelaskan bisa nanti saja. Yang penting saat ini aku tidak bisa membiarkan seorang gadis sendirian ditengah hujan. Aku segera mengambil kunci dimeja dan memungut payung yang ditegakkan dibelakang pintu.

"Naruto! Mau kemana?"

"U..um, e-etto. A-ada urusan! Jaa~"

Maaf Hinata, aku berbohong. Aku bisa jelaskan semuanya, nanti.

"Keh, dasar pemain wanita!" Dewa batin ku berbisik buruk tentang diriku.

Aku hanya ingin menjadi mantannya yang bisa lebih bijaksana daripada harus mengabaikannya sama sekali. Hal terpenting bagiku adalah aku merasa bertanggung jawab untuk mendorong kembali pada hubungan antara aku dan dia sebagai manusia yang bebas bersahabat dengan siapapun.

Mudah-mudahan aku bisa membedakan antara asmara dan persahabatan.

Aku melihat gadis berambut pink mondar-mandir pada sebuah mobil yang mengeluarkan asap. Sepertinya rusak parah.

"Hoi! Gimana?" aku berteriak keluar jendela mobil. Hujan mulai deras kembali. "Masuklah ke mobilku, nanti sakit!"

Sakura mengambil barang berharga nya lalu berlari kecil ke mobilku. "Sial sekali. Gimana apanya?"

"Udahlah. Sekarang aku antar kamu pulang, biar aku yang telfon bengkel."

"Umm.. Arigatou, Naruto. Gommen"

"Untuk?"

"Untuk mengakhiri hubungan tiba-tiba"

"Oh." Tidak ada wanita yang benar-benar akan melupakan masa lalunya. Tak terkecuali gadis disampingku. "Tak apa. Lagian kau 'kan juga punya alasan."

"Aku senang memiliki masa lalu bersamamu. Itu adalah masa lalu yang indah yang kuanggap sebagai hadiah darimu"

Aku tersenyum miring. Lagi-lagi, I hate getting flashback.

"Aku pun begitu."

Samar-samar, aku meliriknya. Entah ini halusinasi atau bukan, nyatanya pipi Sakura memerah.

Biar bagaimanapun tidak ada yang akan baik-baik saja tentang sebuah perpisahan. Semoga kita lebih bijaksana.

Merepotkan. Aku dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Di lain sisi aku mencintai Hinata dan tak rela jika Sakura pergi.

"Sakura?" Kenapa pertemuan malam ini jadi semakin dingin. "Jangan nangis, nanti kamu sakit kepala"

Aku tidak ingin, perpisahan waktu itu menjadi sebuah penyesalan.

.

-Kita Dijodohkan—

.

Aku kembali ke kampus. Sepertinya aku kurang tidur. Ini mimpi atau bukan, sepertinya ada yang memanggilku. Wanita berambut keunguan yang memakai dress putih menuju ke arahku.

"Naruto.."

"Y-ya?"

Aduh. Gimana nih, aku belum jelasin apa-apa ke dia pula. Waduh apes.

"Kamu kenapa gak kabarin?"

"A-anuu.."

"Se-sepertinya.. aku suka rindu"

"Hahaha. Kenapa? Rindu gak salah. Yang salah itu aku yang suka bikin kamu rindu."

Hinata mencubit perutku. "Kamu ini ngomong apa sih"

Kadang aku suka gemes kalo liat dia malu-malu. Ahh, apa aku pura-pura kesakitan aja ya?

"I-ittaii Hinata.. Aargghh! Perutkuu.."

"Narutoo! Kenapa?!"

"A-a-aku—"

"Aku apa?!"

"Aku belum makan."

Buaaghh! "Bakaa..!"

aku tertawa melihatnya seperti itu. Akhirnya aku meminta Hinata untuk menemaniku makan di kantin. Mantab nih, bisa berdua makan di kantin bareng Hinata.

"Naruto.." Sakura memanggilku dari kejauhan, hendak berjalan mendekat kearah kami. "Terima kasih payungnya. Terima kasih juga untuk kemarin."

Aduh! Gawat!

"E-e-eh.. I-iya."

"Kamu kemarin pergi menemui Sakura?" Hinata bertanya.

kamving! Asdfghjkl…..

"Eh, Hinata. Bukannya kamu pacarnya Sasuke, ya?"

Waduh! S-stopp.. Cukup!

"Naruto?!"

"A-anu.. sebenerya.." aku gak kuat buka suara. "S-se.."

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

Mwehehe. Akhirnya UTS selesai. Dan maaf bgt update nya gak beraturan. Tp gue mungkin bakal nerusin sampe ending. Walau gak sesuai prediksi bakalan 4 chapter, dan maaf sebelumnya Naruto itu Kuliah semester 6. Numb Lock nya dah rada error kali yak :'v terima kasih buanget yg udh review ^w^

Inspirated by Pidi-Baiq.

REVIEW PLEASE! GUE RINDU SUARA KOMPLAIN KALIAN