Ryeowook mengerjapkan ke sekeliling dan menemukan Yesung yang menatapnya sambil menopang kepala dengan tangannya. "Sudah bangun?"

Ryeowook mengangguk. Dirinya berusaha bangun. Tetapi, baru saja menekuk kaki, bokongnya langsung terserang rasa sakit dan ia merasakan sesuatu mengalir keluar. Ia mengernyit.

Yesung yang melihat itu, langsung menegakan tubuh. Jemarinya mengelus pipi putih Ryeowook. "Apakah sangat sakit?" ucapnya pelan.

Ryeowook menggeleng lalu menggenggam jemari Yesung yang mengelus pipinya. "Tidak apa-apa. Nanti juga hilang."

Yesung menghela napas. Membungkukkan kepala hingga wajahnya berhadapan dengan wajah Ryeowook. Ryeowook reflek langsung memundurkan kepalanya, yeah meskipun tak terlalu berdampak karena sebuah bantal menahannya.

"Nanti itu kapan, hm?" tanya Yesung dengan nada kesal. Meskipun wajahnya datar dan mata hitamnya terus menatap ke dalam karmel Ryeowook.

Ryeowook hanya terkekeh pelan, tak berniat menjawab pertanyaan Yesung. Dan mereka pun terdiam beberapa saat. Sampai Yesung berdecak dan memajukan wajahnya hingga belahan bibir kissable nya tepat menempel di atas bibir Ryeowook yang sedikit membengkak. Melumat bibir atas dan bawah Ryeowook kemudian menelusupkan lidahnya memasuki rongga mulut Ryeowook.

"Ngh..." lenguhan Ryeowook terdengar. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Yesung dan meremasnya pelan. Ciuman Yesung semakin dalam saja, dan Ryeowook tidak ingin kejadian semalam terulang lagi. Maka ia mengepalkan tangan, lalu memukul pelan bahu sang pangeran.

Bibir keduanya sudah terlepas. Akan tetapi, Yesung -yang dasarnya memiliki sifat kemesuman melebihi bangsawan lainnya- malah memindahkan bibirnya ke leher putih Ryeowook yang bertebaran bercak merah samar. Ryeowook melotot shock. Ciuman tadi saja sudah menjadi alarm bahaya baginya apalagi ini. Apa Yesung berniat melanjutkan yang semalam? Pikirnya.

"Su-sudah, hyung, sudah!"

"Ck, kenapa?" Yesung mengangkat kepala, memberikan tatapan tajamnya pada sang permaisuri.

"Kenapa kau bertanya kenapa, hyung?" seru Ryeowook kesal. "Aku tidak mau melanjutkan yang semalam, aku ingin mandi!" tambahnya membuat Yesung memicingkan mata.

"Aku tidak mengatakan kalau kita akan melanjutkannya kan?"

"Tetapi tingkah lakumu ini sangat menjurus ke 'sana'. Ugh! Menyingkirlah, hyung! Kau berat!"

Pada akhirnya Yesung mengikuti perintah sang permaisuri. Ia bangun, memakai kembali jubah merah kebesarannya, menatap Ryeowook sekilas kemudian barulah ia melangkah meninggalkan namja manis itu keluar kamar.

Ryeowook terdiam bingung. Takut ada kata-katanya yang salah tadi. Bisa bahaya kalau Yesung marah. Tak ingin terlalu larut dalam pikiran, Ryeowook mengusap wajahnya dengan gusar. Lalu mencoba bangun hingga terduduk.

Saat itulah Yesung kembali kedalam kamar. Melotot ke arah Ryeowook yang balas menatapnya bingung. "Apa yang kau lakukan? Kau sedang sakit. Jangan banyak bergerak!"

Ryeowook berdecak malas. "Aku memang merasa sedikit sakit di bawah, tetapi selebihnya aku baik-baik saja. Aku tidak ingin merepotkan siapapun."

"Aish jinjja! Benar-benar keras kepala!"

Ryeowook mengendikkan bahu. Dengan lemas, ia mendudukkan diri. Membiarkan kedua telapak kakinya menapaki lantai kayu di bawah. Ia mencoba berdiri dan langsung terhuyung, hampir jatuh kalau saja Yesung tidak gesit menangkap tubuhnya.

"Lihat? Benar-benar kepala batu!"

Ryeowook meringis kecil. Ia diam saja ketika Yesung mengangkat tubuhnya. Ia menyampirkan satu tangannya untuk memeluk leher Yesung.

"Aku tahu bagaimana cara untuk meredakan sakitnya." ucap Yesung sembari melangkah menuju pintu geser bagian belakang. Yang menghubungkan antara kamarnya dengan kolam air hangat yang hanya untuk sang pangeran dan permaisurinya.

"Hah, kebetulan sekali. Aku benar-benar membutuhkan air hangat."

Yesung tersenyum kecil mendengarnya. Ia menurunkan tubuh Ryeowook. Membiarkan permaisuri manisnya itu memejamkan matanya kala merasakan hangatnya air. Ia pun melepas jubahnya, lalu lekas bergabung bersama Ryeowook.

"Aku sudah menyuruh pelayan untuk memasukan aromateraphy ke dalam air ini. Semoga rasa sakitnya cepat hilang."

Ryeowook membuka matanya, ia tersenyum tulus pada namja di hadapannya. "Kau berlebihan, hyung. Rasa sakitnya tidaklah seberapa. Tapi, terimakasih untuk semuanya." ucapnya sambil mengusap pipi Yesung yang bergeming menatapnya.

"Ryeowookie..."

"Ne? Ada apa, hyung?" Yesung menatap Ryeowook intens lalu ikut melakukan apa yang dilakukan Ryeowook padanya, membelai pipinya.

"Sarang..." itu yang terucap, sebelum mendekatkan wajah dan mencumbu bibir Ryeowook. Meletakkan salah satu tangannya di pinggang ramping Ryeowook, lalu memeluknya protektif. Ryeowook sendiri tidak bisa berpikir apa-apa, ia tidak ingat atau lebih tepatnya tidak tahu bagaimana dan sejak kapan ia berada di pangkuan Yesung.

"Hyung... hha..." ini gawat, buruk, bencana. Jika sudah seintim ini Ryrowook tahu ke mana arahnya. Apalagi tangan Yesung yang mengusap punggungnya sudah turun ke bawah sana.

"Ryeowookie, bagaimana kalau kita menuliskan sejarah di perjalanan cinta kita?" bisikan itu begitu terdengar. Hingga menggema di kepalanya.

"Huh, sejarah apa?"

"Melakukan 'itu' di dalam hangatnya air ini."

Ryeowook melotot tak percaya. Ya ampun. Apakah ia tidak salah dengar? Yesung meminta untuk bercinta lagi? Lalu untuk apa air hangat dengan aromateraphy yang Yesung bilang akan meredakan sakitnya.

"Hyung, bisa tidak jika kau berhenti berpikiran mesum jika kita sedang berdua?" tanya Ryeowook dengan ekspresi jengah.

"Ani, tidak bisa jika itu bersamamu."

Ryeowook menghela napasnya. Tak bisa mengontrol diri, itu yang ada di pikiran Ryeowook.

"Cha, kita mulai!"

"Mwoya?! Aku tidak mau!"

"Hoi, hoi, apa-apaan sikapmu itu? Kau harus mau melayani suamimu ini."

"Aku sudah melakukannya semalam. Tapi, sekarang tidak akan!"

"Begitukah?" Yesung bertanya dengan tampang yang paling tidak disukai Ryeowook, tampang mesum.

"Tentu saja-khh..." kedua mata Ryeowook terpejam erat, dua deretan giginya bersatu. Dan begitu mendengar tawa remeh namja yang memangkunya, Ryeowook tahu, kalau ia tidak akan bisa mengalahkannya, tidak bisa mengalahkan pangeran Kim Yesung.

.

.

_`Evanescence`_

.

by : Denies Kim

.

Disclaimer : Semua anggota dalam fic ini milik Tuhan dan kedua orang tuanya. Saya hanya meminjam nama, dan untuk keseluruhan isi cerita milik saya seutuhnya.

.

Warning : Yaoi, BL, Boys Love, Typo(s), bahasa aneh, alur terlalu lambat/terlalu cepat, membosankan, OOC, dll.

.

Summary : Seorang pangeran yang tengah memasuki usia matang, dipaksa untuk menikah. Sementara pengeran itu sendiri mempunyai prinsip yang aneh. Bagaimana jika akhirnya ia menemukan permaisuri pilihanya? Dan bagimana juga kehidupan yang akan mereka jalani?

.

Chapter 2 : Abeoji

.

.

~Selamat Membaca~

Ryeowook pikir hidupnya tak akan begitu berat. Memang tidak terlalu, tapi malamnya yang berat. Seperti malam kedua ini. Ryeowook sedang merapikan ranjangnya tapi tiba-tiba Yesung datang dan langsung menyerangnya.

Malam ketiga, ia sudah siaga duduk di tepi ranjang dengan tangan yang terlipat di depan dada. Pangeran Kim Yesung masuk ke dalam kamar dan tersentak bingung dengan apa yang dilakukan permaisurinya.

"Sedang apa?" Ryeowook menggeleng sebagai jawaban. Sebenarnya ia cukup mengantuk saat ini.

Yesung tersenyum miring. Melepas jubahnya kemudian mendekati Ryeowook. Sambil terkekeh ia berkata, "Sudah menungguku untuk malam ini ne?"

"Arg! Yesung hyung! Aku tidak mau melakukannya. Aku mengantuk." seru Ryeowook dengan ekspresi kesal kemudian menidurkan diri, menarik satu bantal tidur untuk menutupi wajahnya.

Yesung melirik Ryeowook dengan senyum tipisnya. Tangannya terulur untuk mengambil bantal yang menutupi wajah Ryeowook. Tapi sayang, permaisuri manisnya itu menahannya. "Kalau tidak bersemangat tiap malam, bagaimana bisa punya anak? Kau ingin membuktikan pada mereka semua kalau kita bisa memiliki anak kan?"

Ryeowook mengangguk. Yesung tertawa dalam hati. Ia pun bergerak menindih Ryeowook yang berdiam dengan bantalnya. Akhirnya sudah bisa ditebak kan?

Beda lagi dengan malam keempat, Ryeowook sudah menyudut di sudut ranjangnya sedangkan Yesung perlahan merangkak mendekati Ryeowook sambil tertawa evil. "Aniya! Jangan mendekat! Ya!" Ryeowook bahkan sampai teriak-teriak seperti itu. Seperti seorang gadis yang dipaksa menjadi penghibur.

Yesung tertawa keras. Ryeowook benar-benar lucu di matanya. Ia menarik kaki namja manis miliknya membuat empunya kaki menjerit histeris. "Ya! Kau ini kenapa, eoh? Lucu sekali."

Ryeowook merengut. Kedua alisnya menukik tajam. "Tidak malam ini, hyung." katanya dengan nada tajam.

Yesung tertawa. Ryeowook berusaha mengancamnya, hm. Tidak akan mempan. Yesung meletakkan kedua lengannya di sisi kiri dan kanan kepala Ryeowook. Berusaha mengurung namja manis itu.

"Apa?" kata Ryeowook dengan nada datar. Tapi kemudian wajahnya yang cemberut langsung berubah. Ada rona merah yang samar muncul di wajahnya. Sementara giginya menggigit bibir bawahnya sendiri. "Sialan kau, hyung!" umpat Ryeowook.

Yesung makin menyeringai setan. Tak berhenti menyenggol barang Ryeowook dengan lututnya. Ryeowook melenguh pelan. Ia menatap Yesung dengan tatapan sayu yang membuat Yesung meneguk salivanya.

Pangeran ini mengumpat dalam hati. Wajah di depannya begitu sexy, seperti mencoba menggodanya. Jadi jangan salahkan ia yang akan membuat Ryeowook mendesah semalaman.

Kemudian di malam kelima Ryeowook sudah tidur saat Yesung memasuki kamar. Ryeowook memang sengaja, ia tidak ingin malam-malam yang sama seperti sebelumnya terulang lagi.

Yesung tersenyum tipis. Ia menghela napas ringan. Jemarinya mengusap rambut Ryeowook. Ia mengernyit ketika melihat keringat di leher dan dahi Ryeowook. "Apa kau mimpi buruk?" tapi sepertinya tidak, karena jika dilihat wajah Ryeowook baik-baik saja malahan terlihat damai. Ia pun menyeka keringat Ryeowook kemudian ikut berbaring di samping namja manisnya.

Tapi Yesung tidak tahu, sebenarnya keringat itu berasal dari latihan fisik yang dilakukan Ryeowook beberapa saat sebelum Yesung masuk. Ryeowook memang sengaja, ia melakukan push up, sit up, lari di tempat agar bisa kelelahan dan tidur lebih awal, begitu.

.

.

.

.

Ryeowook sedang meminum tehnya, menghabiskan waktu yang membosankan. Ia pikir jika sudah menjadi permisuri seorang pangeran, hidupnya tak akan sebosan ini. Ia tidak memiliki pekerjaan apapun, tidak seperti dulu. Sebenarnya ada sebuah pertanyaan yang mengganjal pikirannya, apa seorang permaisuri hanya untuk menghasilkan keturunan bangsawan saja?

Ryeowook menghela napas lagi. Pernah ia mencoba membantu di dapur kerajaan, tapi yang ia dapat malah tatapan tajam Yesung yang langsung menyeretnya keluar dan berkata bahwa itu bukan tugasnya.

Biasanya untuk mengusir rasa bosan ia akan bercerita bersama pelayannya, Eunhyuk. Tapi, sekarang entah kemana pelayannya itu, bahkan sudah setengah hari tidak ia lihat.

Srag!

Satu-satunya pintu geser yang ada di kamarnya terbuka, Ryeowook mengerutkan kening saat matanya mendapati Eunhyuk yang datang dengan terengah-engah.

"Eunhyuk-ah, ada apa denganmu? Dan dari mana saja kau? Aku menunggumu sedari tadi." tanya Ryeowook seraya meletakkan cangkir teh ke atas meja.

Eunhyuk tampak menetralkan napasnya, kemudian menatap Ryeowook dengan wajah yang aneh, menurut Ryeowook.

"Yang.. Yang Mulia memanggil anda."

"Huh?" Ryeowook memiringkan kepala. "Kenapa tiba-tiba?"

Eunhyuk menggeleng tak tahu. "Tadi, Ratu memanggilku, lalu saat aku melewati paviliun Raja, aku diberi amanah agar memberi tahumu bahwa Yang Mulia Raja memanggilmu." jelasnya.

Ryeowook menganggukkan kepala. Sebenarnya ia cukup bingung. Kenapa Raja memanggilnya? Ia rasa ia tidak pernah berbuat salah."Di mana aku harus menemui Raja, Hyuk?"

"Taman di sayap kiri kerajaan."

Ryeowook mengangguk paham. Ia cukup hapal letak tempat-tempat di istana. Karena ia pernah berkeliling sebelumnya. Ryeowook pun beranjak berdiri lalu melangkah melewati Eunhyuk yang berdiri di samping pintu.

"Perlu kuantar, Permaisuri Kim?"

Ryeowook berhenti sejenak,menggeleng pelan lalu melanjutkan langkahnya. Entah kenapa Ryeowook merasa tubuhnya melemas tiba-tiba. Pasti karena ini adalah kali kedua ia akan berhadapan dengan Yang Mulia Raja. Semoga saja ia tidak melakukan kesalahan yang memalukan nanti.

Sekitar lima menit berjalan kaki, Ryeowook akhirnya sampai. Ia memasuki taman yang begitu cantik. Rumputnya begitu segar dengan pagar yang dirambati bunga mawar. Ada banyak pohon dan banyak bunga-bunga yang sedang mekar. Seandainya ia bisa, Ryeowook ingin sekali menghabiskan waktu di taman ini bersama Yesung. Huh?

Ryeowook mengerjap, lalu menepuk-nepuk pipinya. "Apa yang barusan kupikirkan? Kenapa aku ingin di sini bersama pangeran?"

Ryeowook mendesah gusar. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Yang Mulia Raja berada di sebuah gazebo. Buru-buru Ryeowook melangkah menghampiri tanpa lupa merapikan penampilannya.

"Yang Mulia." panggil Ryeowook dengan suara pelan disertai dengan tubuh yang membungkuk.

"Duduklah."

Tanpa berucap banyak kata, Ryeowook segera mendudukkan diri, berseberangan dengan Hankyung dengan meja kecil yang membatasi. Hankyung menuangkan teh ke dalam cangkir yang ada di depan Ryeowook.

"Bagaimana keseharianmu." tanya Hankyung sambil menatap Ryeowook dengan senyum tipis. Ryeowook tahu pasti, kalau mertuanya ini tidak menyukainya, akan tetapi masih bisa tersenyum padanya.

"Apa saja yang kau lakukan selama menjadi permaisuri?" tanya Hankyung lagi karena Ryeowook tak kunjung menjawab.

"Eobseo." Ryeowook mengumpat dalam hati. Seharusnya bukan itu yang ia katakan. Kata itu terlontar begitu saja tanpa bisa ia tarik.

"Begitu." mendadak hening lagi. Karena Hankyung yang meminum tehnya setelah itu menatap Ryeowook lama. Ryeowook terlalu takut. Ia tidak bisa menatap wajah namja di depannya ini. "Apa Yesung selalu menggagahimu tiap malam?"

Ryeowook nyaris saja menjatuhkan rahangnya kala mendengar pertanyaan Hankyung barusan. Tapi ia masih ingat etika tentunya.

"Maafkan dia ne, dia memang keterlaluan."

Sontak Ryeowook menegakkan kepala dan menggeleng. "Ani, pangeran Yesung tidak seperti itu. Dia sangat baik."

Hankyung makin menarik kedua sudut bibirnya. "Sebenarnya, aku ingin meminta bantuan padamu."

"N-ne."

Hankyung meletakkan telapak tangannya di atas meja. Kemudian saat menarik tangan lagi, tiga keping koin perak sudah tergeletak di sana. Ryeowook mengerutkan kening.

"Ada seorang nenek di desa. Hidupnya susah ditambah lagi cucunya sedang sakit. Katanya dia ingin bertemu dengan permaisuri Pangeran Kim Yesung. Jadi, maukah kau pergi ke desa dan menemuinya?"

Ryeowook terdiam. Menemui seorang nenek di desa? Hanya dengan membawa tiga keping koin perak yang hanya bisa menghasilkan dua mangkuk gandum? "Saya kan pergi menemui mereka, Yang Mulia."

Hankyung mengangguk. "Baiklah, kau gunakanlah koin perak itu untuk membeli sesuatu untuk mereka. Hanya itu yang ingin kusampaikan padamu."

Setelah mengucapkan beberapa patah kata, mengucapkan salam, dan membungkuk hormat, Ryeowook memutuskan untuk beranjak pergi. Sementara itu, di arah yang berlawanan, Yesung tampak melangkah dengan beberapa pelayan di belakangnya. Mereka bertemu di gerbang taman. Ryeowook hanya tersenyum manis dan membungkuk pada Pangeran. Lalu kembali melangkah ke tujuan awalnya, setelah sang pangeran berlalu terlebih dahulu.

"Anda mau ke mana, Permaisuri?" tanya Eunhyuk ketika berpapasan dengan Ryeowook yang saat itu sedang menuju gerbang utama.

"Aku harus ke desa. Ada keperluan." jawab Ryeowook singkat. Kemudian melangkah lagi. Ia tidak ingin tertalu lama membuang waktu. Kata Raja, sudah ada dua pengawal yang menunggunya di gerbang utama. Dua pengawal itulah yang akan membimbingnya ke rumah sang nenek.

Memang benar. Ada dua orang pengawal yang berdiri di luar gerbang utama lengkap dengan pedangnya. "Apa kau yang akan mengantarku ke desa?" salah seorang pengawal mengangguk.

"Ne, Permaisuri. Kami yang akan mengantarmu."

Ryeowook mengangguk paham, sebenarnya ia sedikit merasa aneh dengan senyuman yang diumbar kedua pengawal ini. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Dua pengawal ini adalah utusan Rajanya, mana berani ia mengeluh.

Akhirnya Ryeowook melangkah di antara dua pengawal. Ryeowook takut, karena ini adalah pertama kalinya ia memasuki perkampungan rakyat dengan status sebagai Permaisuri putra mahkota. Ada yang menatapnya tidak suka, tapi ada juga yang menatapnya suka -minoritas.

Ryeowook sebenarnya masih bingung. Koin perak yang diberikan Raja akan digunakan untuk membeli apa. Gandum? Hanya dua mangkuk? Itu pun tanpa lauk. Ataukah obat?

Di saat yang sama, Ryeowook mengingat sesuatu. "Aku akan meminta bantuan Kyuhyun." gumamnya, kemudian langsung mengubah tujuan ke rumah yang dahulunya pernah ia tinggali.

Begitu sampai, Ryeowook terkejut bukan main. Kedai ramyun yang biasa buka di hari biasa seperti ini, tutup. Mungkin Sungmin bangun kesiangan, tapi berdasarkan pengalamannya Sungmin adalah pribadi yang disiplin, jadi bukan itu alasannya.

"Aku akan mengetuk pintunya." monolognya lagi. Lantas mengetuk pintu kayu di depannya. Bahkan sampai permukaan kulitnya memerah samar, tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.

"Permaisuri, apakah anda mencari pemilik kedai ini?" Ryeowook langsung berbalik, mendapati seorang yeoja paruh baya yang tersenyum padanya.

"Ye. Kenapa pemiliknya menutup kedai? Apa anda tahu?"

"Pemilik kedai ramyun ini sudah pergi dua hari yang lalu. Aku melihatnya keluar dari kedai ini dengan banyak barang bawaan."

Jantung Ryeowook berdetak cepat. Kemudian ia menyempatkan berterima kasih pada yeoja paruh baya tersebut.

"Kenapa kau berikan padaku?"

"Sebagai kenang-kenangan."

"Kenang-kenangan? Untuk apa? A-aku akan sering mengunjungi kalian."

Ryeowook memandang sendu cincin yang menjadi liontin kalung yang dipakainya. "Jadi karena ini, kau memberikanku cincin umma. Tega sekali kalian meninggalkanku." Ryeowook menggigit bibir. Niatnya ingin menangis, tapi mendengar ucapan dua pengawalnya, menangis urung ia lakukan.

"Sebelum hari gelap, kita harus kembali, Permaisuri."

Ryeowook mengangguk. Sekarang ia jadi kepikiran lagi. Makanan atau obat? Tanpa sengaja, tangan Ryeowook mengenai sakunya sendiri. Ia memasukkan tangan lalu bersorak senang. Ia menemukan empat keping koin emas, cukup untuk membeli gandum, lauk, serta obat untuk cucu si nenek.

Setelah itu Ryeowook membeli bahan makanan serta obat kemudian melangkah pasti menuju rumah seorang nenek yang ingin bertemu dengannya.

_`Evanescence`_

"Apa?! Kenapa abeoji melakukan itu?" Yesung berucap dengan nada membentak. Setelah tadi mendiskusikan masalah kerajaan, Yesung bertanya untuk apa abeoji nya itu memanggil permaisurinya. Dan setelah mengetahui, Yesung langsung terpancing emosinya.

"Jaga sikapmu, Kim Yesung." Hankyung menghela napas. "Aku melakukan semua itu untuk mengujinya. Apakah dia memang benar-baik hatinya atau hanya karena tahta."

"Abeoji, bukankah sudah pernah kukatakan? Dia namja baik-baik, karena aku yang memilihnya secara langsung."

"Kau hanya mengenalnya tidak sampai seminggu sebelum memutuskan untuk menikah kan? Kau hanya mengikuti perasanmu."

Yesung terdiam. Tak bisa menjawab karena yang diucapkan abeojinya itu memang benar adanya. Ia mengepalkan tangan. "Tapi dia seorang permaisuri, permaisuriku. Sangat berbahaya baginya berkeliaran di luar istana."

"Dia namja, jika kau lupa."

Yesung menggertakkan gigi. "Tapi, dia seorang permaisuri."

Hankyung menghela napas lagi. "Ada dua pengawal bersamanya, Yesung."

Pangeran tampan itu menggeram tertahan. "Cih, aku akan menyusulnya." Yesung langsung beranjak. Ia melangkah cepat meninggalkan sang abeoji yang kini memijat pelipisnya.

Yesung menuju tempat di mana kudanya berada. Menungganginnya dan siap melecutkan tali yang di pegangnya tapi sebelum itu terjadi, sebuah suara menginterupsi.

"Mau kemana, Pangeran?"

Yesung melirik eomoni nya sekilas kemudian menghadap ke depan lagi. "Tanyakan pada abeoji." jawabnya dengan nada datar kemudian segera pergi menuju pintu gerbang utama.

Di sana, Yesung merasa firasatnya buruk. Tepat setelah ia melewati gerbang, ia menoleh ke belakang lewat samping kirinya. Dan wajahnya langsung mengeras melihat apa yang tertangkap manik hitamnya. Dua orang pengawal duduk di atas tanah bersandarkan dinding benteng. Begitu banyak darah di sekitar mereka, akan tetapi darah itu bersumber dari kedua perut yang sobek.

Yesung menatap jauh ke depan, "Kim Ryeowook..."

.

.

.

Ryeowook tampak keluar dari sebuah rumah kecil yang terbuat dari bambu. Permaisuri dari pangeran Yesung itu tersenyum lebar. Rupa-rupanya nenek yang baru saja ia kunjungi itu mengenal ibunya. Katanya si nenek juga mengenalnya. Hingga berita tentang dirinya sebagai permaisuri tersebar, si nenek ingin bertemu kembali dengannya.

"Sudah selesai, permaisuri?"

"Um." Ryeowok mengangguk. "Kajja, kembali sebelum senja datang." ucapnya sambil melangkah mendahului dua pengawalnya, tetapi tangannya langsung di cekal salah satu pengawal.

"Sebenarnya kami tahu jalan yang lebih dekat untuk menuju istana."

Ryeowook mengerjapkan mata. "Baiklah." ujarnya lalu melangkah dengan diapit oleh dua pengawalnya.

Mereka melangkah berlawanan arah dengan arah mereka datang. Hingga kemudian beberapa kali berbelok dan melewati jalan setapak dengan banyak pohon-pohon di sekitar. Ryeowook merasakan ada yang aneh. Sesuatu mengganjal perasaannya. Dan ketika ia mendengar suara gesekan antara pedang dan pembungkusnya, Ryeowook langsung memicingkan mata.

Ia melihatnya. Salah satu pengawal di sebelah kanannya mengeluarkan pedang dengan hati-hati. Ryeowook meneguk salivanya susah payah. Ia menghentikan langkah, membuat dua pengawalnya -atau bukan- menatapnya bingung. Ryeowook menarik napas panjang, kemudian dengan berani menginjak kaki pengawal yang ada di samping kanannya hingga membuatnya mengaduh kesakitan sambil memengangi kaki. Ia hendak berlari, tapi sepertinya ia melupakan satu pengawal lagi yang kini menahan lengan atasnya.

"Permaisuri sudah tahu, eh?"

Ryeowook menggigit bibir. Sontak ia mengangkat kaki kemudian menendangnya tepat di barang namja itu dengan keras. Ryeowook langsung berlari cepat. Tidak tahu harus kemana.

"Ayolah, Wook! Kau itu namja, kenapa larimu pelan sekali!" makinya pada diri sendiri. Ryeowook menoleh ke belakang, dua orang tadi sedang mengejarnya di belakang dengan pedang di tangan. Tanpa sadar ada akar pohon yang membuatnya tersandung. Ryeowook terkejut, tapi untung saja ia tidak tersandung sampai jatuh.

"Permaisuri! Berhenti!" Ryeowook menjerit dalam hati.

Bruk!

"Ouch!"

Ryeowook masuk ke dalam lubang. Entah lubang apa itu tapi begitu dalam melebihi tinggi badannya hingga ia tidak bisa keluar. Ryeowook meringis sambil memengangi pergelangan kakinya yang sepertinya terkilir.

"Sudah main-mainnya, Permaisuri?"

Ryeowook menengadah. Mendapati pengawal yang tadi ia injak kakinya berjongkok di samping lubang. Namja itu mengulurkan tangan.

"Berikan tanganmu, Permaisuri. Aku akan membantumu keluar."

Ryeowook bergeming. Mereka pikir ia bodoh apa, tidak mungkin ia mau menyerahkan diri.

"He? Kau tidak mau aku menarikmu keluar?" namja itu terkekeh pelan. "Apa tanganku terlalu kotor untuk menyentuhmu, Permaisuri?"

"Hentikan omong kosongmu!" bentak Ryeowook.

"Ck. Permaisuri kesal, hm," namja itu berdecak. Lalu menatap ke arah depan, menatap temannya. "Hoi! Masuk ke dalam lubang, dan angkat permaisuri." titahnya yang langsung disetujui.

Seorang pengawal, yang tadi telah Ryeowook tendang barangnya, masuk ke dalam lubang. Berjalan mendekati Ryeowook dengan tampang datarnya.

"Ya! Turunkan aku, babo!" Ryeowook menggeliat tak nyaman saat namja itu mengangkat tubuhnya. Ia tidak suka di sentuh orang lain. Ryeowook menjerit, namja itu melemparnya ke udara atau lebih tepatnya keluar lubang. Tubuhnya langsung di tangkap oleh pengawal yang tadi bermain kata dengannya.

Kemudian tubuhnya di hempaskan ke atas tanah dengan kasar. "Bukankah, seharusnya mereka sudah ada di sini? Di mana kudanya?" ucap salah satu namja itu sembari menolehkan kepala mengawasi sekitarnya. Lalu mendesah lemas.

Ryeowook hanya mengernyit tak mengerti hingga kemudian kedua maniknya melotot saat ujung pedang yang tajam mengarah pada lehernya, nyaris menyentuh.

"Ya! Apa yang kau lakukan? Kau bisa melukainya!"

"Memang, aku ingin menggores sedikit tubuhnya ini karena telah menendang barangku." ucap si pengawal dengan nada dan wajah yang dingin.

"Haha! Kau benar. Sedikit goresan pasti tak apa. Dia juga sudah menginjak kakiku tadi."

Ryeowook memejamkan mata. Sungguh, ia begitu takut. Tak pernah ia terluka, kecuali terluka karena berhubungan dengan dapur. Jika sudah seperti ini hatinya hanya merapalkan kata Yesung, Yesung, dan Yesung.

Trang!

Bunyi dua besi tipis berbenturan mengejutkan Ryeowook. Ryeowook membuka mata dan sesosok yang namanya ia rapalkan banyak kali sudah berdiri di depannya. Menghalau pedang yang menyerangnya serta menghunuskan pedang ke kedua orang tadi.

Segera setelah dua orang itu terkapar dengan banyak darah, Yesung berbalik dan menatap Ryeowook khawatir. "Ryeowookie, kau baik-baik saja?" tanyanya sambil membantu Ryeowook berdiri.

Ryeowook menarik kedua sudut bibirnya. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit terkilir."

"Eh? Bagaimana bisa? Apa mereka yang melakukannya?"

"Ani, aku terjatuh ke dalam lubang."

Ryeowook menatap ke sekitarnya. Tidak ada pengawal, tidak ada prajurit, dan tidak ada kuda di sekitar. "Um, hyung, kau jalan kaki?"

"Aku membawa kuda. Tapi, tanpa sengaja kuda yang kubawa masuk ke dalam sebuah lubang di tanah. Jadi, aku langsung berlari kesini saat melihatmu." Jawab Yesung seadanya sambil mengedarkan pandangannya. Takut jika masih ada penjahat-penjahat yang bersembunyi di dekatnya.

"Jadi..." Ryeowook mengerjapkan mata. "Sekarang apa?"

Yesung langsung menatap Ryeowook. Ia berbalik kemudian menundukkan tubuh. "Naik ke punggungku. Aku akan menggendongmu." huh? Menggendong? Sampai istana?

"Aniya, aku masih bisa berjalan, hyung."

Yesung berdecak gemas. "Palli, sebelum orang-orang seperti itu datang lagi. Mereka pasti tidak hanya berdua."

Ryeowook menggigit bibir. Ia menatap punggung Yesung kemudian dengan ragu-ragu ia mendekat. Ia hendak naik ke punggung Yesung, saat tiba-tiba muncul beberapa orang dari berbagai arah. Yesung segera berdiri lagi, pada posisi siaga dan mengangkat pedangnya.

"Tetap berdiri di belakangku!"

Ryeowook mengangguk. Ia hanya berdiri diam di belakang Yesung, yang memainkan pedangnya. Mengharuskan pangeran itu untuk bergerak aktif. Yesung maju beberapa langkah, meninggalkan Ryeowook di belakang. Saat itu juga, seseorang berlari ke arahnya. Yesung terlalu fokus ke depan. Sementara Ryeowook terdiam sambil terus menatap Yesung.

Srat

"Akh!" Ryeowook meringis. Telapak tangannya bergerak menekan pusat rasa sakit. Penjahat itu menggores lengan atasnya.

Perhatian Yesung langsung teralihkan. Ia melangkah cepat mendekati Ryeowook. "Ryeo-astaga kau berdarah!"

"Aku baik-baik saja." jawab Ryeowook sambil tersenyum. Mati-matian ia menahan sakit di lengannya. "Di belakangmu!" seru Ryeowook keras. Dan Yesung pun langsung berbalik dan kembali melawan penjahat yang menyerang. Ia tidak bisa fokus. Perhatiannya bercabang menjadi dua.

Sementara Ryeowook kembali terdiam. Perlahan ia menarik telapak tangan kanannya. Tubuhnya bergetar ngeri, ketika melihat begitu banyak darah merah di sana. Memori mengerikan itu datang lagi, saat ia melihat kedua orang tuanya ditusuk berkali-kali dengan pedang. Ia masih ingat, saat itu begitu banyak darah yang menggenang.

"Umph!" Ryeowook menutup mulutnya dengan satu tangannya yang bersih. Mendadak ia merasa mual dan ingin muntah. Kakinya pun seperti kehilangan tenaga, ia jatuh terduduk sambil masih menutup mulutnya. Tatapannya kosong mengarah ke depan.

"Ryeowook!" Yesung langsung berlari. Mengabaikan beberapa orang yang tadi sedang ia lawan. "Ryeowook, astaga. Apa yang terjadi padamu?"

Para penjahat yang masih bertahan tak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka semua berlari mendekat. Yesung tak tahu harus bagaimana lagi. Yang ia lakukan adalah memeluk Ryeowook yang terdiam melamun.

Stab stab

Beberapa anak panah mendadak menancap di dada beberapa penjahat itu. Yesung menatap ke belakang. Ia tersenyum lega. Seorang pemanah jitu berada di atas dahan pohon, Lee Donghae. Bantuan telah datang rupanya. Perlahan, ia pun bangkit dengan Ryeowook yang masih berada di pelukannya.

"Ryeowookie! Ryeowookie! Sadarlah!" ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi sang Permaisuri.

"Pangeran, menunduk!" Yesung langsung terduduk lagi. Untung saja Donghae memberi tahunya kalau tidak ia pasti mati.

Yesung kembali menatap Ryeowook. Kekhawatiran yang besar tercetak jelas di kedua mata dan wajahnya. "Ryeowookie," kembali ia menepuk pipi Ryeowook sambil mengguncang pelan tubuhnya.

"Eh?" usahanya berhasil. Ryeowook sadar. Kemudian menatapnya dengan ekspresi orang linglung.

"Kau baik-baik saja?" Ryeowook tak menjawab. Ia menatap ke sekitar di mana banyak orang yang tergeletak bersama darah mereka dan beberapa yang masih bisa berdiri sambil menyarungkan kembali pedangnya. "Ryeowookie?"

"Hyung." Ryeowook langsung menatap Yesung, dengan ekspresi yang Yesung sendiri tidak mengerti. Yesung menggigit bibir, ada apa dengan permaisurinya ini. Lalu ia merobek pakaiannya yang kemudian diikatkan pada luka Ryeowook. Ia pun menyelipkan tangannya di bawah lutut Ryeowook dan satu tangannya lagi berada di punggung Ryeowook.

Ia melangkah, mendekati seorang prajurit yang sedang memegang tali kuda. Dengan bantuan beberapa pengawalnya, ia menaikkan Ryeowook ke atas punggung kuda. "Bawa pulang kudaku yang berada si lubang itu." ucapnya. Setelah itu barulah dirinya yang naik dan segera melecutkan tali kuda. Ia harus cepat sampai di istana.

_`Evanescence`_

"Bagaimana keadaanmu?" Ryeowook tersenyum sambil mengusap lengan atasnya yang dibalut kain putih, perban.

"Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah datang menolongku."

Yesung membuang napas dengan kasar. "Lain kali, mintalah ijin dariku dahulu sebelum pergi."

"Tapi, itu perintah Raja. Aku tidak bisa menolaknya."

"Paling tidak, kabari aku."

"Tapi, tadi benar-benar mendadak jadi aku-"

"Patuhi kata-kataku!"

Ryeowook langsung terdiam. Matanya yang tadi menatap Yesung beralih menatap ke bawah. "Mianhae." ujarnya lirih.

Yesung membuang napas lagi. Tangannya terulur mengusap pipi Ryeowook dan membawa wajah Ryeowook yang menunduk untuk mendongak. "Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya khawatir jika terjadi sesuatu padamu."

"Ng, aku mengerti, hyung."

Yesung menarik sudut bibirnya. "Baiklah, lebih baik kau istirahat." Ryeowook mengangguk lagi. Ia sudah merebahkan tubuhnya ketika Eunhyuk masuk ke dalam dan mengabarkan sesuatu.

"Pangeran Kim Yesung, Permaisuri Kim, Yang Mulia Raja datang."

Yesung mengernyit, lalu menyuruh Eunhyuk untuk membiarkan sang Raja masuk ke dalam kamar. Dan tanpa menunggu waktu lama, Hankyung masuk ke dalam dengan raut bersalah. Ryeowook hendak bangun agar terduduk tapi sayang Yesung menahan bahunya.

"Yang Mulia."

Hankyung tersenyum tipis. Ryeowook berani mengatakan kalau senyum Raja itu adalah senyum paksaan. Wajahnya yang penuh raut bersalah membuat Ryeowook tak enak hati.

"Jadi, bagaimana dengan lukamu? Sudah merasa lebih baik?" tanya Raja sambil melirik Yesung sekilas yang duduk di tepi Ranjang bersebrangan dengannya. Ia pun mendudukkan diri di tepi ranjang.

"Aku baik-baik saja Yang Mulia."

Hankyung menatap Ryeowook dalam. "Ah, begitu." ucapnya penuh dengan kecanggungan. Tentu saja, ia tidak akan bisa santai bila sang putera terus saja menatapnya tajam.

"Aku datang untuk meminta maaf, karena aku, kau terluka seperti ini."

Ryeowook menggeleng ccepat. "A-Aniya, ini semua bukan kesalahan anda. Akulah yang ceroboh dan kurang berhati-hati." jawabnya yang langsung di sambut dengan decakan kesal dari sang Putera Mahkota.

Hankyung langsung menoleh. "Apa kau membenci abeojimu ini, nak?"

Yesung memicingkan mata. Ia tengah emosi pada sang Raja, bisa saja ia menjawab iya, tapi tatapan Ryeowook yang benar-benar menusuk membuatnya menghela napas dan menarik senyum tipis. "Aku tidak diperbolehkan melakukan itu kan?"

Hankyung tersenyum, kali ini benar-benar tulus. Seperti beban yang menahannya menghilang sedikit. "Kalau begitu, kau istirahatlah, Permaisuri Kim. Sekali lagi aku meminta maaf darimu." Ia mengusap pelan surai Ryeowook, lalu melangkah keluar kamar sebelumnya menyempatkan diri untuk melempar senyum pada Yesung.

"Haah~" Yesung mengusap rambut hitamnya. "Istirahat ne, aku akan keluar sebentar." Sebenarnya mungkin kata sebentar tidak pantas ia ucapkan. Karena sesugguhnya ia akan bermalam di kamar lain karena takut jika tidur bersama Ryeowook, ia akan menyakiti luka permaisurinya itu.

"Andwae." Yesung berhenti melangkah, lalu menatap lengannya yang ditahan Ryeowook. Ia beralih menatap Ryeowook yang menggelengkan kepala. Yesung pun tersenyum. Jika Ryeowook yang meminta, ia akan menurut. Ia naik ke atas ranjang. Mencium kening Ryeowook kemudian memeluk namja itu dengan hati-hati.

"Jalja."

.

.

Bersambung

Yatta! Akhirnya selesai juga untuk chapter tiga. Setelah terhenti selama berbulan-bulan karena kurtilas, akhirnya bisa apdet juga. Bagaimana untuk chapter ini? Apa terlalu membosankan? Kepanjangan nggak? Mianhae, kalo untuk permulaan banyak adegan mesum, maklum efek nonton Junjou Romantica hehe. :'v

Ah ya, sebenernya aku cewe alias perempuan. Maaf di chapter sebelumnya aku manggil 'noona', udah kebiasaan nge-hode. Tapi di dunia per-fanfic-an aku mau jujur aja, nggak mau nipu lagi T^T

Gomawo yang sudah menyempatkan membaca dan yang sudah mereview untuk chapter sebelumnya. Komen kalian benar-benar membantu.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya~ *setengah tahun lagi*

Penuh Cinta,

Denies Kim