Disclaimers: Saint Seiya dan karakter-karakter di dalamnya bukan milikku!
Chapter III: Kematian yang Heroik
Tidak terasa dua hari sudah terlewati sejak Athena dan Abel bertemu dan tinggal bersama-sama di istana ini. Kami dan para satria pelindung Abel berkumpul disekitar kakak Athena di tempat terbuka dimana dewa bermata biru pucat itu tengah memainkan harpanya. Para satria Chorona berlutut dihadapannya sementara aku dan teman-temanku berlutut di samping kirinya. Abel sempat berhenti sejenak memainkan harpanya saat Athena mendekatinya dengan membawa tongkat kekuasaannya di tangan kanannya. Ia berjalan dengan elegan dan berlutut dengan cara elegan saat ia berada di depannya. Ia meletakkan tongkat kekuasaannya dan menunduk dengan hormat.
Ia mengamati Abel yang sedang memainkan harpanya dan tersenyum manis. Senyuman Athena menghilang perlahan-lahan dari bibirnya dan wajahnya yang lembut berubah menjadi tegas. Ia mengambil tongkat kekuasaannya pelan-pelan dan berusaha menyerang Abel. Abel yang lengah tampak terkejut dan segera bereaksi setelah menerima serangan dari Athena yang tak terduga. Ia membalas serangannya dan membuatnya kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Abel berdiri dan mendekati adiknya. Ia bertanya mengapa ia menyerangnya. Abel tampak sedikit terkejut karena adiknya berani menyerang dirinya. Merasa ditentang oleh adiknya sendiri, ia melakukan perbuatan yang benar-benar diluar dugaan. Ia menyerang dewi berambut ungu itu hingga dewi yang masih remaja itu tidak sadarkan diri.
Melihat kejadian itu, aku dan Shura terkejut. Kami tidak pernah menyangka Abel, yang menganggap dirinya kakak Athena, akan berbuat demikian! Akibatnya, aku dan Shura yang semula berlutut di sisi kirinya berdiri dan berlari ke arah Abel.
"Abel, ada apa?"
"Kami menuruti perintahmu hanya karena kesetiaan kami pada Athena!"
"Mundurlah Shura! Camus!"
Ketiga orang Chorona Saint tetap dalam posisi berlutut dihadapan Abel tetapi mereka melihat ke arah kami dengan tatapan mata yang mengancam. Namun, baik aku maupun Shura tidak peduli dengan peringatan mereka karena tuan mereka sudah melukai Athena.
"Walaupun kau adalah kakak Athena kami tidak akan membiarkan kau melukainya!" kataku lantang.
"Aku tidak mengerti," jawab Abel dingin dan berlagak seolah-olah ia tidak tahu apa yang sudah ia lakukan.
Melihat tuan mereka 'diujung tanduk', Atlas dan kedua orang temannya cepat-cepat berlari ke arah Abel dan menghalang-halangi kami.
"Jika kau melangkah satu langkah lagi, aku akan menganggapmu penghianat! ujar Atlas.
Kami tidak lagi peduli dan tidak mau lagi mendengar perkataan Atlas dan teman-temannya. Setelah membangkitkan kami dan berbohong pada kami bahwa mereka akan melindungi Athena, mereka membiarkan Abel melukainya! Kami tidak mau lagi mempercayai mereka! Aku dan Shura berlari kea rah Atlas dan menyerang mereka sebagai bentuk kesetiaan dan balas dendam kami atas dewi kami. Didorong oleh darah yang mendidih di dalam pembuluh darah kami kami menyerang mereka dan mereka menanggapi tantangan kami.
Mereka menyerang kami dan menekan kami hingga kami jatuh dari bukit. Aku dan Shura berdiri berdampingan dan menyerang mereka. Aku melancarkan serangan Aurora Execution ku kea rah Coma Berenike sementara Shura menggunakan teknik Excalibur-nya untuk menyerang Lynx Jao. Namun sayangnya, tampaknya teknik-teknik kami sama sekali tidak mempan pada mereka. Coma Berenike berhasil menjerat tubuhku dengan teknik rambutnya sementara Lynx Jao berhasil melukai Shura secara fatal.
Aku merasa jeratan rambut Berenike mengencang dan mulai mengores Cloth Emas Aquarius dan juga menggores kulitku. Aku merasa nyawaku ada di kerongkonganku saat aku merasakan tinju matahari milik Atlas dan jeratan rambut Berenike menghancurkan Cloth Aquarius-ku. Aku memangil nama Athena sebelum nyawaku benar-benar terlepas dari tubuhku.
TAMAT
