Title: Love is The Strongest Magic

Author: Allotropy Equilibria

Length: multichapter (pengennya sih, ga panjang-panjang)

Genre: romance/fantasy/adventure/supernatural/angst

Rating: T

Pairings: WooGyu feat DraRry. Slight DraWoo juga mungkin hehehhee

Disclaimer: papih woohyun, mamih sunggyu, anak-anak Infinite milik Tuhan, keluarga, dan diri mereka sendiri. Kecuali woogyu yang saling memiliki. Harry, Draco, anak-anak Hogwarts, dan setting Hogwarts milik penulis legendaris sepanjang masa, J.K. Rowling yang super keren—yang menganggap Harry-Ginny itu pasangan terkeren sepanjang masa, daripada merestui Draco-Harry :p. Aku cuma punya momen DraRry dan setting yang kuubah dari kejadian di buku aslinya. Beberapa kondisi terinspirasi oleh fanfic DraRry berjudul Twist of Fate karya OakStone730, Not Through With You by dark0feenix, dan fanmade DraRry berjudul Unspoken karya SciFiNerd92

Warnings: setting di Hogwarts terjadi setelah Perang Dunia Sihir Ke-2 (perang di mana akhirnya Voldemort mati selama-lamanya), dan Harry dkk melanjutkan sekolah di tahun ke-8 untuk mengganti tahun ke-7 mereka.

A/N: Ini kali pertama aku bikin ff Drarry sejujurnya. Jadi kalo ada yang aneh mohon maaf. Hehe

Oiya, video yang ditonton WooGyu itu fanmade Drarry buatan SciFiNerd92 dengan judul Unspoken. Ide ceritanya (baca sinopsis dari video bersangkutan) sedikit kumasukin di ff ini :3 Digabung sama beberapa fact di ff Twist of Fate karya OakStone730, dan Not Through With You by dark0feenix. Dasarnya aku cuma keidean dengan semesta di cerita itu, dan ga semua aku terapin, hanya beberapa.

Well, enjoy the magic guys~

.

.

.

Love Is The Strongest Magic

Spell_3

.

.

.

Tetes air yang mengalir di atas wastafel bergema di ruangan gelap itu. Dari balik tembok yang menyembunyikannya, ia bisa melihat seorang pemuda bersurai pirang berdiri membelakanginya. Tubuh tinggi dengan kemeja putih itu membungkuk di hadapan cermin yang pecah. Bahkan di antara gemericik air yang lolos melewati pipa penyaluran, ia bisa mendengar isakan samar. Isakan putus asa yang begitu menyayat hati...

Ia tahu tempat ini. Ia tahu kejadian ini. Entah sudah berapa kali ia melihatnya di alam bawah sadarnya. Dan ia lebih dari hafal untuk mengetahui apa yang akan terjadi setelah ini.

Meski dalam pikirannya ia meminta untuk berhenti, ia mendapati tubuhnya berbicara pada sosok pucat itu. Tak peduli seberapa keras dalam benaknya ia memerintahkan tubuhnya untuk berhenti menyerang, ia mendapati tongkat sihirnya melancarkan beragam mantra—menangkis, bertahan, menyerang.

"Sectumsempra!"

Tidak! Ia seharusnya tidak meneriakkan kutukan itu!

Ia tidak ingin melangkah untuk melihat apa yang terjadi pada lawan duelnya. Namun, mimpi itu selalu sama... Ia akan selalu menghampiri titik tempat pemuda itu terjatuh. Ia akan selalu menyaksikan tubuh tinggi itu terbaring di atas genangan air dari pipa yang pecah. Ia akan selalu menatap beku sabetan merah yang menodai kemeja putih itu, membawa aliran amis bercampur di lantai yang dingin.

Berapa kalipun ia melihatnya, tubuhnya selalu gemetar dan terasa lemas. Tak mampu melepas pandang dari gelimangan darah. Tak mampu menutup pendengaran atas erangan tertahan di tengah tetes air.

Bukan ini yang ia inginkan! Ia tak pernah ingin melihat pemuda itu dalam kondisi seperti ini. Ia tak pernah bermaksud—

...Tanpa sadar, ia berteriak dalam benaknya yang menggelap.

.

.

Sunggyu tertegun atas ingatan mengenai mimpi yang dilihatnya semalam. Suara Profesor Slughorn di depan kelas dengan cepat tenggelam dan tergantikan oleh teriakan Harry dalam memorinya. Ya, Sunggyu ingat ia terbangun saat menyangka dirinya berteriak. Akan tetapi, alih-alih mendengar suaranya sendiri, pemuda ini sadar bahwa ia terbangun karena mendengar teriakan yang berasal dari tempat tidur di sampingnya. Tempat tidur yang berisi Harry Potter yang terbangun dengan peluh membasahi pakaian.

Seandainya Harry tak meminta maaf padanya karena telah membangunkannya akibat mimpi buruk, Sunggyu akan menyangka ia masih bermimpi.

Melirik laki-laki bersurai hitam berantakan yang duduk satu bangku di sebelahnya, Sunggyu mengerutkan alis samar. Pagi tadi, saat baru terbangun, ia memang tidak terlalu memperhatikan—akibat terlalu kaget tiba-tiba terbangun di sebelah Harry Potter. Tapi, kini Sunggyu yakin dengan pendengarannya. Teriakan yang membuatnya terbangun—yang terlontar dari mulut Harry Potter—bukanlah sebuah teriakan tanpa kata.

...Melainkan sebuah nama.

Dengan kerutan di kening yang semakin lama semakin dalam, Sunggyu mendapati ia bingung dengan ingatannya. Karena... itu bukan sembarang nama, tapi...

...DRACO!

Lewat ekor matanya, Sunggyu bisa melihat bahwa Harry sama sekali tidak mendengarkan pelajaran Profesor Slughorn.

.

.

Ruangan itu hening. Di antara barisan tempat tidur kosong yang berjejer, hanya terdengar hembusan napas dari penghuni satu-satunya tempat tidur pasien hari itu. Madam Pomfrey sepertinya ada di ruangannya di ujung lain Hospital Wing. Meninggalkan Woohyun dalam fase perenungannya.

Pemuda berdarah Korea dengan surai hitam itu bersandar pada pinggir ranjang di samping tempat tidur Draco. Kakinya menyilang santai di atas kursi kayu, sementara iris tajamnya terarah pada pemuda bersurai pirang, dengan tatapan menerawang. Ia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu sejak insiden di aula besar tadi. Sejak memuntahkan bulu babi-bulu babi di awal tadi, Draco masih tertidur. Mungkin terlalu lelah mengeluarkan binatang mengerikan itu dari tubuhnya. Tapi, daripada melihat pemuda itu kembali terbatuk dan memuntahkan bulu babi berlapis darah, Woohyun jauh lebih memilih Draco tetap tidur dengan tenang.

Ia tidak tahu berapa lama kelas berlangsung di sekolah ini. Tapi, Woohyun menduga kelas pertama mereka pagi itu—er, kelas ramuan?—sepertinya sudah selesai.

Di tengah lamunan dan pertimbangannya soal seberapa dibencinya kah pemuda yang berbaring di hadapannya ini, derap langkah dari arah pintu seketika membuat Woohyun menegakkan tubuh. Entah dari mana, refleks pemuda ini bahkan langsung berdiri di hadapan ranjang Draco. Seolah ingin melindungi sosok yang tertidur itu dari siapapun yang akan muncul dari balik pintu—Woohyun mendengus dalam hati, menyadari betapa ia sudah jadi begitu protektif pada pemuda yang baru dikenalnya ini.

Sebuah argumen singkat terdengar samar sebelum pintu Hospital Wing membuka, menampilkan empat orang siswa yang mengenakan dasi berwarna merah-emas.

"What do you want?" (Kalian mau apa?) tanya Woohyun cepat, bahkan ia sedikit terkejut dengan perkataannya sendiri. Bukan saja karena kalimatnya terdengar begitu dingin. Tapi juga karena ia mengatakannya pada Harry Potter!

"How is he?" (Bagaimana dia?) Seolah mengabaikan nada tak bersahabat dari Woohyun, siswa bersurai berantakan dengan kacamata bulat itu melangkah mendekati ranjang Draco.

Lagi, Woohyun tak menyangka ia mendengus atas respon pemuda di hadapannya. "Why do you care?" (Apa pedulimu?) Jika ia tidak salah ingat—tadi juga Sunggyu sudah menegaskan padanya—Draco dan Harry itu... musuh, bukan? Dan Woohyun yakin saat di aula tadi sama sekali tak ada seorang pun diantara murid Hogwarts lain yang datang menolong Draco—tidak juga Harry Potter. Jadi... wajar kan, ia bertanya begitu?

"I told you so, Harry." (Kubilang juga apa, Harry.) Seorang pemuda lain dengan surai merah menyala membuat Woohyun menyadari bahwa Harry Potter tidak datang sendiri. Selain pemuda bersurai merah itu, ia mengenali Sang Gadis dengan surai keriting lebat dan...Kim Sunggyu, berdiri sedikit lebih jauh dari tempat tidur Draco. Seolah ragu antara mengikuti Harry masuk lebih dalam atau mundur dari ruangan itu.

"We don't have to—" (Kita tidak perlu—) Sebelum perkataan pemuda dengan surai merah itu selesai diucapkan, Harry mengibaskan lengannya—memutus perkataan temannya.

"Listen, Nam. I only want—" (Dengar, Nam. Aku hanya ingin—)

Apapun yang ingin dikatakan Harry Potter pun terpaksa terputus oleh suara batuk yang mendadak terdengar. Dengan cepat, Woohyun berputar dan mendapati Draco terbangun. Sosok pirang itu menopang tubuhnya dengan sebelah sikut sementara satu tangannya yang lain menekan tenggorokannya. Batuk keras yang terdengar serak dan menyakitkan itu kemudian diiringi dengan keluarnya gumpalan-gumpalan hitam penuh duri berhias bercak darah.

Woohyun tengah menyodorkan cairan yang diberikan Madam Pomfrey pada Draco—setelah pemuda itu berhenti muntah—saat suara Harry terdengar. "They did it to you?" (Mereka melakukan ini padamu?) tanyanya dengan raut tak percaya. Di antara ekspresi kaget itu, tampak kelebatan amarah.

"You deserve to die, Malfoy!" (Kau pantas mati, Malfoy!)

"RON!" Harry berteriak dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak setuju. Meski masih melempar tatapan membunuh pada Draco, pemuda dengan surai merah bernama Ron itu bungkam.

Sepasang iris keabuan melirik dingin Harry yang masih menatapnya. "I don't need your pity, Potter!" (Aku tidak butuh kau kasihani, Potter!) ujar Draco dengan suara yang teramat serak. Rahangnya terkatup rapat sementara jemari panjangnya meraba meja, mencari tongkat sihirnya.

Menyadari pergerakan Sang Mantan Pelahap Maut, Harry mengibaskan tongkat sihirnya pada sisi kasur dan lantai yang dipenuhi gumpalan berduri—menyebabkan segala kekacauan itu menghilang dalam sekejap. "Why didn't you avoid it, Malfoy?" (Kenapa kau tidak menghindarinya, Malfoy?) tanya pemuda ini lagi. Sama sekali mengabaikan nada sinis yang berusaha diberikan Malfoy sesaat sebelumnya. "You surely can avoid it, or even casted a spell back." (Kau tentu bisa menghindarinya, bahkan melempar serangan balasan.)

Draco memposisikan diri kembali berbaring nyaman di balik selimut dan memberi gestur seolah tak peduli dengan kehadiran Harry di sana. "You can hex me later, Potter." (Kau bisa melempar kutukan padaku nanti, Potter.)

"I don't—" (Aku tidak—) Menyadari tak ada gunanya berargumen dengan seorang Malfoy, Harry menghembuskan napas kesal sebelum meletakkan buku di meja di samping ranjang. "Your notes for potion class this morning." (ini catatan untuk kelas ramuan pagi ini) Setelah mengucapkan itu dalam gumaman, ia pun berbalik pergi dengan langkah kesal yang sangat kentara.

Begitu Harry pergi, secara otomatis Ron dan Sang Gadis bergegas mengejar pemuda itu. Menyisakan Sunggyu yang masih berdiri di ujung ranjang. Iris sipitnya berusaha menghindari tatapan Woohyun. "He's just worried, you know," (Dia hanya khawatir, kau tahu,) ujarnya perlahan setelah tampak ragu beberapa saat.

Setelah mengatakan itu, tanpa menatap Woohyun, pemuda dengan surai coklat dan pipi chubby itu pun berjalan menghampiri pintu. Saat balok kayu mengayun terbuka, potongan pembicaraan Harry dan sahabatnya menyelinap masuk ke dalam ruangan.

"—I will find who hexed him, Hermione! It's too—" (—aku akan menemukan siapa yang mengutuknya, Hermione! Ini terlalu—)

Seruan keras Harry Potter di lorong teredam begitu pintu menutup dan kembali hanya Woohyun yang menemani Draco di ruangan itu. Melirik ke samping, Woohyun menyadari pemuda pirang itu bergetar di bawah selimut yang menutupinya. Surai pucatnya yang halus terjatuh menutupi wajah tirusnya yang setengah tersembunyi oleh bantal. Samar, di tengah keheningan Hospital Wing, ia yakin mendengar sebuah bisikan halus.

"Stupid Griffyndor." (Griffyndor bodoh)

.

.

"And how exactly you tend to find it, Harry?" (Dan bagaimana tepatnya kau berencana untuk menemukannya, Harry?) tanya Sunggyu begitu pintu Hospital Wing menutup, bergabung dalam argumen panas yang tengah berlangsung di lorong.

"I'll ask Profesor McGonagal. I'll ask everyone!" (Aku akan bertanya pada Profesor McGonagal. Aku akan bertanya pada semua orang!) tukas pemuda yang dikenal sebagai Pahlawan Dunia Sihir itu.

Hermione menggelengkan kepalanya. "No one knows who cast the spell, Harry. No one saw it," (Tidak ada yang tahu siapa yang melancarkan serangan itu, Harry. Tak ada yang melihat).

"And WHY, in the first place, you have to find it?" (Dan KENAPA kau harus menemukannya?) Sebelum Harry membantah ucapan Hermione, seruan Ron menyela. Raut tak mengerti terukir di paras pemuda yang lebih tinggi itu.

"It's a horrible curse, Ron," (Itu kutukan yang mengerikan, Ron) ujar Harry dengan alis bertaut—tak paham mengapa sahabatnya masih mempertanyakan hal itu.

"But, it's Malfoy we're talking about!" (Tapi ini Malfoy yang kita bicarakan!) tukas Si Pemuda Bersurai Merah. "I can understand if it's someone else. But that filthy Death Eater deserve it!" (Aku bisa paham jika ini orang lain. Tapi Pelahap Maut hina itu pantas mendapatkannya!)

"No one deserve to get hurt, Ron! NO ONE! Not in front of me! Not because of me!" sentak Harry dengan amarah dan kekecewaan yang tergambar jelas di bening hijau cerahnya. (Tidak seorangpun pantas untuk terluka, Ron! TIDAK SEORANGPUN! Tidak di hadapanku! Tidak gara-gara aku!)

Menatap pemuda yang tampak tegang di hadapannya, Sunggyu berujar pelan, "It's not your fault, Harry." (Ini bukan salahmu, Harry).

"Still, I don't understand why you have to waste your time for that git," (Tetap, aku tidak mengerti kenapa kau membuang waktumu untuk si brengsek itu) ujar Ron menggelengkan kepalanya. "He always insult me and my family, Harry. He called Hermione and Sunggyu a mudblood. He tried to kill Dumbledore! He help Death Eaters came to Hogwarts. He tried to burnt us in Room of Requirement!" (Dia selalu menghinaku dan keluargaku, Harry. Dia memanggil Hermione dan Sunggyu 'Darah Lumpur'. Dia mencoba membunuh Dumbledore! Dia membantu para Pelahap Maut masuk Hogwarts. Dia mencoba menghanguskan kita di Ruang Kebutuhan!)

"It's not him, Ron. It's Goyle who casted the fiendfyre," (Bukan dia, Ron. Goyle yang melemparkan mantra fiendfyre—mantra untuk menciptakan kobaran api berbentuk binatang) koreksi pemuda dengan bekas luka di dahinya itu. "And we know he's forced to kill Dumbledore. I saw it when He lower his wand." (Dan kita tahu dia dipaksa untuk membunuh Dumbledore. Aku melihat sendiri saat ia menurunkan tongkat sihirnya)

Ron menggelengkan kepala tak percaya mendengar sahabatnya membela pemuda pirang itu. "He is a Death Eater, Harry! He's a Malfoy!" (Dia seorang Pelahap Maut, Harry! Dia seorang Malfoy!) serunya sambil merentangkan tangan. Seolah tak ada yang bisa membantah fakta itu sebagai alasan mutlak untuk membenci sosok di balik tembok Hospital Wing.

"We know they forced him to. That matter has been cleared in his trial," (Kita tahu dia dipaksa. Hal itu sudah dibersihkan dalam sidangnya) tukas Harry dengan desah lelah.

Saat Ron kembali membuka mulut untuk menyuarakan bantahan, Harry memutusnya dengan sebuah desisan. "He saved us, Ron. If his mother didn't lie that I was died, we wouldn't have a chance to kill Nagini. And at Malfoy Manor, if he told Bellatrix it was me, I wouldn't have a chance to fight Voldemort. If not because of him, I wouldn't be The Savior of Wizarding World!" (Dia menyelamatkan kita. Jika ibunya tidak berbohong bahwa aku telah mati, kita tidak akan memiliki kesempatan untuk membunuh Nagini. Dan saat di Malfoy Manor, jika dia memberitahu Bellatrix bahwa itu aku, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan Voldemort. Jika bukan karena dia, aku tidak akan menjadi Sang Pahlawan Dunia Sihir!) ujarnya dengan emosi tak suka yang kentara pada gelar yang dipaksa disandangnya itu.

Tanpa sadar Sunggyu tertunduk saat kristal hijau cemerlang itu menyapu pandang pada mereka. Ia ingat kejadian di hutan saat Narcissa Malfoy berbohong pada Voldemort dengan menyatakan Harry sudah mati, juga kejadian di Malfoy Manor saat Draco Malfoy menutupi identitas Harry dari bibinya yang tak waras, sehingga Harry dan yang lain bisa kabur sebelum Voldemort datang. Bila dilihat sekilas, kejadian itu memang hanya kejadian kecil. Tapi, bila direnungkan apa yang akan terjadi jika Malfoy melakukan hal sebaliknya...

"He saved us!" (Dia menyelamatkan kita) ujar Harry lagi, berharap teman-temannya—dan seluruh Dunia Sihir—paham arti kata itu. Sebelum ia menghela napas panjang dan berbalik dengan sebuah gumaman yang sarat akan kekecewaan. "At least, I'm not blind to know he saved me." (Setidaknya, aku tidak buta untuk sadar dia telah menyelamatkanku)

.

.

Draco masih tertidur saat Madam Pomfrey keluar dari kantornya dan menghampiri mereka dengan tabung berisi cairan aneh lain. Woohyun hanya diam memperhatikan saat wanita itu mengayunkan tongkat sihirnya ke arah tubuh Draco. Melakukan pengecekan pada pemuda itu.

"He's okay now. The effects of the curse has been worn out. It's lunch time soon. You can join your friends at Great Hall," (Dia sudah tidak apa-apa sekarang. Efek kutukan itu sudah habis. Sebentar lagi waktu makan siang. Kau bisa bergabung dengan teman-temanmu di Aula Besar) ujar Madam Pomfrey dengan senyum hangat.

Mengangguk sebagai jawaban, Woohyun pun membawa tubuh rampingnya keluar dari Hospital Wing. Setelah mendapat konfirmasi bahwa Draco tak membutuhkan bantuannya untuk tetap di dekatnya, pemuda ini ingin menuju suatu tempat. Bukan, bukan Aula Besar seperti yang disarankan Sang Healer. Tapi...

Perpustakaan.

Konyol eh, betapa satu tempat yang biasanya tak pernah ia datangi selama di Korea, justru jadi tempat yang ia cari di dunia ini? Well, apa boleh buat, jika satu-satunya yang bisa ia tanyai—tanpa menimbulkan keanehan—adalah jendela dunia.

.

.

Keheningan yang khas dimiliki perpustakaan menyambut Woohyun setelah berputar-putar mencari. Proses pencarian yang berakhir dengan ia menyerah pada gengsi dan bertanya pada salah satu lukisan—dia pasti gila karena menanyakan arah pada lukisan! Tapi, lukisan di tempat ini memang dapat bergerak dan berbicara, membimbingnya dengan cara melompati bingkai demi bingkai lukisan lain hingga tiba di perpustakaan. Mencari sendiri sebuah ruangan di tempat ini sama sekali bukan becandaan. Woohyun tidak yakin ia berada di sebuah sekolah, jika melihat betapa tinggi dan luasnya tempat itu. Belum lagi tangga yang tiba-tiba terputus dan berubah arah seenaknya. Mungkin seharusnya ia mengajak Sung—

Menggelengkan kepala untuk menghapus pemikiran refleksnya, pemuda ini menggerutu pelan. Ia tidak mengerti mengapa hatinya terasa berat mengingat sosok bersurai coklat itu. Ia hanya paham, bahwa penyebabnya berbeda dengan yang biasa ia rasakan saat di Infinite High.

Bening kelam yang mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan mendapati ada beberapa orang di sana selain dirinya. Beberapa kelompok kecil tenggelam di tengah serakan buku dan...perkamen? Seumur-umur Woohyun memang tidak biasa masuk perpustakaan, tapi melihat sekilas saja, ia tahu bahwa tempat ini luas dan dipenuhi beragam buku yang luar biasa. Dari mana ia tahu? Buku-buku itu yang memberitahunya, heh! Entahlah, dia hanya menebak karena aura yang ditimbulkan ruangan itu memang memberi perasaan seolah apapun yang dicari akan ditemukan di antara tumpukan rak.

Well, kecuali mungkin jika mencari penjelasan kenapa ia ada di tempat ini—di dunia ini?

Sebenarnya Woohyun sendiri tidak tahu apa yang dicarinya. Ia hanya berpikir, karena sepertinya ia akan berada di tempat ini lebih lama dari satu kali mimpi, maka mungkin ia bisa mempelajari tempat ini. Buku yang berisi 'sejarah sihir' mungkin bisa membantu. Atau... 'sejarah hogwarts'? Atau barangkali ada buku khusus tentang Harry Potter?

Di tengah kekehan keringnya terhadap candaan yang ia lontarkan dalam hati, Woohyun tertegun saat melewati rak dan sebuah buku menarik perhatiannya. Sebuah buku tentang Harry Potter. Meraih buku tebal itu, Woohyun merasa aneh. Tidak menyangka rupanya pemuda yang belum lama mengobrol dengannya tadi memiliki buku biografinya sendiri.

Jemari pemuda bernuansa gelap ini sedang dalam perjalanan meletakkan kembali buku di tangannya, saat kristalnya merefleksikan judul lain. The Youngest Death Eater In History: Draco Malfoy. (Pelahap Maut Termuda Dalam Sejarah: Draco Malfoy)

Tanpa berpikir dua kali, Woohyun meraih buku tersebut. Melirik sekilas pada buku yang baru saja diletakkannya kembali di rak—buku tebal berjudul Harry Potter, The Savior of The Wizarding World, entah kenapa rasanya ironis. Menyingkirkan rasa sakit yang entah dari mana datangnya, pemuda bersurai kelam ini pun mulai membuka halaman buku di tangannya.

[Keluarga Malfoy adalah salah satu keluarga penyihir tertua yang secara turun temurun menjaga kemurnian darahnya.]

Tidak, buku tersebut bukan berisi perjalanan hidup seseorang yang diceritakan seperti kebanyakan buku riwayat pada umumnya. Sebagian besar buku itu berisi...hinaan, hujatan, cemoohan, dan pengungkapan hal-hal buruk lain yang menyangkut Draco Malfoy dan keluarganya. Misalnya pada kutipan,

[Lucius Malfoy, ayah dari Draco Malfoy adalah Pelahap Maut yang pertama kali kembali ke sisi Dark Lord saat Ia kembali. Dengan seorang ayah yang merupakan Pelahap Maut, tidaklah heran bila Draco Malfoy pun menjadi Pelahap Maut di usianya yang ke-16.]

Atau bahkan, terdapat kliping artikel dari suatu koran dengan judul Lolos Dari Azkaban, Pelahap Maut Berkeliaran di Hogwarts. Sebenarnya Woohyun sedikit terpana saat melihat foto Draco Malfoy bergerak di atas lembaran kertas itu—seperti gambar dalam bentuk .gif, tapi isi dari artikel itu lebih menarik fokusnya.

[Tahun ini, Sekolah Sihir Hogwarts kembali membuka tahun ajaran baru dan secara khusus membuka kelas Tahun ke-8 untuk mereka yang tidak sempat menyelesaikan Tahun ke-7 akibat Perang Besar Dunia Sihir Ke-2. Informasi bahwa McGonagal selaku Kepala Sekolah yang baru mengizinkan Draco Malfoy kembali ke Hogwarts menuai berbagai kecaman dari warga dunia sihir.

"Aku tidak akan membiarkan anakku berada satu atap dengan Pelahan Maut itu!"

"Seharusnya dia membusuk saja di Azkaban seperti ayahnya!"

"Potter pasti berada di bawah kutukan Imperius saat memberikan pembelaan untuknya. Kementrian Sihir harus melakukan sidang ulang dan menghukum Pelahap Maut itu seberat-beratnya!"

Kesaksian yang diberikan Harry Potter—The Boy Who Lived Twice—dan meringankan, bahkan menyebabkan Draco Malfoy terbebas dari tuntutan Azkaban tak membuat warga sihir dapat menerima Pelahap Maut itu kembali dalam kehidupan sosial.

"Aku akan membunuhnya jika aku bertemu dengannya!"

...]

"Ige mwoya?" gumam Woohyun tak percaya. Memang, di Infinite High pun ia beberapa kali menemukan artikel yang bernada...ejekan pada salah seorang murid. Tapi... tidak seperti ini. Ia belum pernah menemukan sebuah buku yang terang-terangan menjatuhkan nama seseorang...

"Seluruh dunia sihir membencinya."

Sebuah suara yang mendadak terdengar dari balik punggungnya itu membuat Woohyun menghentikan renungannya dan menoleh. Setengah menduga akan mendapati Sunggyu di sana—karena, siapa lagi yang akan berbicara padanya tidak dalam Bahasa Inggris selain pemuda itu?

"Kini... kau sudah paham kondisinya?" tanya Sunggyu, kembali bersuara setelah terdiam dan tak ada kata yang terucap dari Woohyun. "Tak ada seorang pun di pihaknya. Kau pun...," Sunggyu terlihat ragu dan menundukkan kepalanya, "...kau pun, bergabunglah dengan... Harry."

Woohyun mengerutkan alis atas kalimat itu. Mengapa rasanya seperti berada dalam medan perang? Mengapa seolah ia harus memilih keberpihakan? "Dia tak sendiri. Masih ada rekan-rekan satu asramanya, kan?" ucap pemuda ini, berusaha menyangkal ucapan teman satu dunianya itu.

Gelengan kepala dan sebuah desah pelan diberikan Sunggyu sebelum ia menjawab dengan iris coklat yang berusaha mengunci tatapan Woohyun. "Tak seorang pun, Woohyun-ah. Yang menyerangnya pagi ini bahkan dari asrama Slytherin—asramanya sendiri."

"Mwo?"

"Theodore Nott," sahut Sunggyu cepat, begitu merasakan raut tak percaya dari Woohyun. "Profesor McGonagal memberitahu kami, seorang murid akhirnya mengaku melihat Nott melakukannya, dan ia langsung dikeluarkan."

Woohyun mendengus pelan. "Setidaknya Profesor McGonagal dan Madam Pomfrey masih membelanya," ujar pemuda ini, merasakan kemenangan kecil dalam argumen ini.

Lagi, Sunggyu menggelengkan kepalanya dengan putus asa. "Kau tidak mengerti, keadaan di sini terlalu berbahaya, Woohyun-ah. Mereka bisa mengincarmu juga karena kau bersama Draco Malfoy! Kita berasal dari dunia yang berbeda, kita tak tahu apa akibatnya jika kita merusak semesta dan hukum alam yang terjadi di dunia ini. Malfoy dimusuhi seluruh dunia sihir. Kau pun... kau pun tidak seharusnya bersamanya, Woohyun-ah..."

Keheningan mengikuti perkataan Sunggyu. Sebelum suara halus pemuda berparas bagai hamster itu kembali terdengar. "Bergabunglah dengan... kami," ujarnya, alih-alih mengikuti teriakan hatinya yang sangat ingin menggunakan kata 'denganku' dalam kalimatnya.

Sepasang bening hazel menatap lekat kristal kelam di hadapannya. Mencari jawaban dari berbagai kilatan tak terbaca di sana. Tanpa sadar, jantungnya berdegup lebih kencang karena gugup.

.

.

"You're awake?" (Kau sudah bangun?) sapa Woohyun begitu postur ramping berototnya kembali melangkah ke dalam bangunan Hospital Wing. Sepasang iris keperakan mendongak sebagai jawaban, sebelum sesuatu melayang ke arahnya. Refleks sebagai seorang pemakin basket membuat Woohyun dapat menangkap benda yang dilemparkan Draco. Alisnya sedikit terangkat saat menyadari bahwa itu adalah... ayam goreng?

"Eat," (makanlah,) ucap Draco singkat, sementara sebelah tangannya kembali memasukan potongan bacon ke mulutnya.

Tak berusaha menyembunyikan cengiran, Woohyun berjalan menghampiri dan duduk di kursi kayu yang sejak beberapa jam lalu ditempatinya. "How do you know?" (Bagaimana kau tahu?) tanyanya, mengimplikasikan pada kenyataan bahwa dirinya memang belum makan siang.

Draco Malfoy mendengus di tengah kunyahannya. "It still lunch time, and here you are. Easy guess," (Ini masih waktu makan siang, dan di sinilah kau. Tebakan mudah) sahut pemuda pirang itu.

Terkekeh pelan—Woohyun tak mau memikirkan betapa dia sendiri merasa aneh mengapa ia begitu mudahnya terkekeh bersama pemuda yang, katanya, dibenci seluruh dunia sihir ini—ia pun menyobek daging paha ayam dalam genggamannya. Gelombang lega yang entah dari mana mengalir saat ia sadar suara Draco tak lagi serak menyedihkan seperti saat berbicara pada Harry tadi.

Setelah terdiam selama beberapa saat—sibuk melahap makan siang dalam nampan yang diletakkan di meja di samping ranjang—Woohyun pun kembali bersuara. "So, why is it?" (Jadi, kenapa?)

Draco mengangkat alisnya tinggi, menunjukkan bahwa ia tidak paham dengan maksud pertanyaan Woohyun dan meminta pemuda itu menjelaskan.

"Why you didn't avoid the curse?" ujar Woohyun mengulang pertanyaannya. (Kenapa kau tidak menghindari kutukan itu)

Sebuah erangan terdengar sebagai respon dari pemuda bersurai pirang yang masih dalam posisi setengah berbaring itu. "Not you, too." (Jangan kau juga)

Woohyun mengangkat bahu, menyadari nada tak suka dalam suara Draco. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia memang penasaran dengan pertanyaan yang juga diajukan oleh Harry Potter ini. "I know you're a great wizard, and you're quite good in magic, especially in duel. It's just...weird to see you knocked down this easily." (Aku tahu kau penyihir hebat, dan kau cukup mahir dalam sihir, terutama dalam duel. Rasanya...aneh melihatmu dijatuhkan semudah ini)

"I just didn't see it coming, that's all," (aku hanya tidak melihat serangan ini datang) sahut Draco malas.

Kali ini, Woohyun yang mendengus tak percaya. "You knew they would attack you. You knew all along that you'll be everyone's target. So, why? Why you still want to come here?" tanya pemuda ini. Tanpa sadar mengutarakan pertanyaan yang lebih jauh dari pertanyaan awal. (Kau tahu mereka akan menyerangmu. Kau tau sejak awal bahwa kau akan jadi sasaran semua orang. Jadi, kenapa? Kenapa kau masih ingin datang kemari?)

Lama, tak ada jawaban dari Draco. Menyebabkan desau angin menjadi satu-satunya pengisi ruang di antara mereka. Woohyun menghela napas pelan dan menatap kosong. Sebagian dirinya sangat tahu bahwa ia mungkin takkan pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu. Tak peduli seberapapun penasarannya ia.

Perlahan, begitu samar hingga Woohyun setengah tak percaya dengan pendengarannya, sebuah gumaman terdengar.

"...pathetic..."

Menyaksikan pemuda pirang itu mengucapkannya dengan kepala tertunduk hingga surai halusnya menutupi wajah tirus, entah kenapa Woohyun yakin kata itu bukan ditujukan padanya. Bukan pula ungkapan ejekan atau kekesalan. Hanya... pernyataan... pengakuan.

.

.

TBC

.

.

A/N: Yosh, gimana? Hahahhahaa...

Maafkan kalo ff ini flownya lambat, aku ngerasa harus menjelaskan dulu semuanya sampe gamblang, sampe kerasa kalo sikap woogyu di dunia sihir itu natural dan masuk akal wkwkwkwk. Dan ini pertama kalinya aku bikin crossover lintas semesta (kalo crossover pairing, selama masih kpop mah udah biasa) jadi aku masih ga tau gimana membagi porsinya dan ga tau juga reader setahu apa atau se-gak-tahu apa soal semesta-nya.

Oke deh, mungkin di sini kerasanya yang dominan DraRry banget yak? Yah maafkan, karena konflik utamanya emang di situ. Tapi... coba dalami tiap konfliknya baik-baik guys, konflik drarry itu bersangkut paut dengan konflik woogyu di dunia mereka sendiri. Part-part pembuka di tiap chapter itu clue loh ya, coba dipelajari hahahahhaa...

Anw, ditunggu masukannya ya guys~

Tolong kasih tau aku gimana pendapat kalian buat chapter ini .

Gomawo buat yang udah baca dan komen ^^

Regards,

*Allotropy*