Summary: Cerita Aku no Meshitsukai series alias Servant of Evilnya Vocaloid, tapi dijadiin versi Naruto. Sakura's point of view.

Disclaimer: Naruto sama Vocaloidnya udah jelas bukan punya Saku!

.

Murasaki Sakura Presents:

MIDORI NO MUSUME: TRAGEDY

.


.

~oOo~

.

Machinaka deatta meshitsukai

Jinchou wo fukumu sono egao

Setsuna ni ikiru mono doushi

Shizuka ni kokoro ga hikareau

.

~oOo~

.

Setelah kejadian itu, Sakura dan Sasuke semakin sering bertemu. Kadang Sasuke yang berkunjung ke Green Kingdom, kadang Sakura yang berkunjung ke Blue Kingdom. Tapi justru karena itulah Sakura justru bertemu dengan seseorang.

.

.

Hari itu matahari bersinar cerah awan pun tak begitu banyak, tapi tidak cukup cerah untuk membuat para penduduk Blue Kingdom menghentikan aktifitasnya. Angin yang berhembus pun cukup besar, sehingga membawa kesegaran tersendiri dibalik cerahnya sinar matahari.

Sakura hendak mengunjungi Sasuke saat itu. Dia sedang berjalan di jalan menuju Istana. Angin berhembus sangat kencang, hingga gadis itu harus menahan rok hijaunya agar tidak tertiup angin. Sakuramelayangkan pandangannya ke sekitarnya dan melihat seorang anak laki-laki seusianya celingukan mencari sesuatu. Tiba-tiba sebuah topi berwarna cokelat jatuh di atas kakinya. 'Mungkin ini milik anak itu,'

Sakura menghampiri anak itu, "Hei, apa ini milikmu?"

"Ah, terima kasih! Dari mana kau bisa tahu ini milikku?" tanya anak laki-laki berambut pirang itu

"Kalau kuperhatikan dari tadi, kau ini seperti sedang mencari sesuatu. Lalu tiba-tiba topi ini jatuh di kakiku. Jadi kupikir ini milikmu." jelas Sakura, ditatapnya mata anak laki-laki itu, 'Biru seperti langit. Benar-benar mata yang indah…'

"Hahaha i-iya, ini memang topiku." anak laki-laki itu berkata dengan gugup sebelum memakai topinya kembali

"Kalau begitu lain kali hati-hati ya!" kata Sakura sambil mengedipkan sebelah matanya dan lalu mulai berjalan kembali

"T-tunggu! Siapa namamu?" seru anak laki-laki berambut pirang itu

"Aku? Namaku Sakura," gadis Sakura memperkenalkan dirinya singkat sebelum berjalan lagi

"Aku Deidara." anak laki-laki pirang bernama Deidara itu berkata. Sakura melihatnya sekilas dan tersenyum, senyum yang tulus.

.

~oOo~

.

Hajimete hohoemu kokoro kara

Subete sujigaki ni nai kotoba

Tagai no tachiba shitta toki

Zetsubou suru no wa nani byou ato?

.

~oOo~

.

Beberapa hari kemudian, Sakura tidak bisa berhenti memikirkan anak laki-laki pirang bernama Deidara yang ia temui beberapa hari yang lalu. 'Kurasa dia orang yang baik,' batin Sakura. Semakin lama Sakura semakin larut dalam pikirannya, wajahnya pun memerah. 'Kok wajahku jadi panas sih?'

Tiba-tiba ia teringat janjinya dengan Sasuke, 'Ya ampun! Aku harus pergi ke Blue Kingdom hari ini! Hampir saja aku lupa!' seru Sakura dalam hati. Setelah itu dia melesat ke kamar mandi, dan beberapa menit kemudian gadis berambut pink itu sudah berkuda menuju Blue Kingdom.

.

.

Gadis asal Green Kingdom itu tak langsung menuju Blue Kingdom, melainkan berkuda ke arah hutan yang ada di perbatasan Green Kingdom dan Blue Kingdom. Gadis itu memacu kudanya dengan cepat, meninggalkan debu yang beterbangan di belakangnya. Sakura tidak memedulikan angin yang membuat rambut indahnya jadi kusut serta membuat baju terusan hijaunya terkibar. Dia hanya ingin cepat sampai ke sebuah desa kecil di tengah hutan itu.

Berapa buah pondok kecil beratap rendah berdiri di kedalaman hutan itu. Temboknya ada yang terbuat dari bata dan ada juga yang terbuat dari kayu, sedangkan atapnya terbuat dari kayu. Petak-petak bunga menghiasi halaman-halaman kecil setiap pondok, ada yang ditanami bunga lili putih, bunga anggrek, bunga mawar, begonia berwana pink, atau bunga tulip beraneka warna.

Sakura memelankan laju kudanya dan berkuda ke arah sebuah pondok yang terletak di paling ujung. Pagar kayunya yang rendah dicat putih, petak-petak bunganya ditanami bunga mawar putih dan lavender. Temboknya yang terbuat dari bata dicat putih dan sudah dijalari oleh tanaman rambat di beberapa tempat, kusen jendela-jendela kecilnya pun dicat sewarna dengan pagar dan dindingnya, atapnya yang rendah dinaungi oleh sebatang pohon pinus, menambah kesan teduh darirumah itu. Jalan setapak dari batuan menyambut Sakura yang baru turun dari kudanya. Lalu dengan langkah cepat Sakura berjalan ke arah pintu yang juga dicat putih.

Diketuknya pintu itu. "Siapa?" tanya sebuah suara lembut dari dalam pondok

"Ini aku, Sakura," Sakura menjawab pertanyaan itu

Tak lama kemudian pintu bercat putih itu terbuka dan menampakkan gadis anggun berambut indigo. Mata lavendernya menatap Sakura dengan tatapan senang dan bibir mungilnya pun melengkung membuat senyuman manis. Baju yang dipakainya sangat sederhana, hanya sebuah blus yang sewarna dengan matanya dan rok cokelat di bawah lutut serta sebuah celemek putih berenda.

"Masuklah Sakura, aku sedang membuat makan siang," gadis itu mempersilahkan Sakura masuk dengan senyum yang tersungging di bibirnya

"Terima kasih, Hinata." Sakura membalas senyuman gadis bernama Hinata itu

Hinata mempersilahkan Sakura duduk di sebuah sofa berwarna hijau cerah, "Sebentar, kuambikan minum dulu."

"Tidak usah repot-repot, Hinata. Aku tidak akan lama-lama di sini." cegah Sakura

"Oh begitu," kata Hinata pelan sebelum duduk di sebuah kursi, "Ada apa?" tanya Hinata

"Sebenarnya aku datang ke sini hanya untuk bertemu denganmu saja. Aku ingin memastikan bahwa kau tidak apa-apa. Karena terakhir kali kita bertemu kau cukup terluka kan?"

"Aaa… A-aku tidak apa-apa kok. Sakura tidak usah khawatir." pipi Hinata yang seputih susu mulai dihiasi warna kemerahan

"Baguslah… Aku benar-benar khawatir. Kau kan sudah kuanggap seperti adikku sendiri." Sakura menghela nafas lega

"A-aku juga sudah menganggap Sakura seperti kakakku sendiri… Eee sejak hari itu…" Hinata menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jari telunjuknya. Sakura hanya tersenyum menatap gadis indigo yang sifatnya penggugup itu.

"Terima kasih ya untuk yang waktu itu," kata Sakura

"T-tidak masalah kok. Terima kasih juga karena sudah mau jadi temanku…" bisik Hinata

"Hahahaha jangan terlalu dipikirkan." Sakura kembali menyunggingkan senyumnya pada sang gadis indigo dan Hinata pun membalas senyum Sakura.

Setelah berbincang-bincang sebentar, Sakura pun melanjutkan perjalanannya ke Blue kingdom.

.

.

Sakura tengah berdesakan dengan penduduk Blue Kingdom di jalan utama saat itu. Teriknya matahari tidak menghalangi para penduduk Blue Kingdom untuk tetap bekerja di luar, meskipun memang ada juga yang ingin berteduh dari matahari di tempat-tempat teduh. Gadis berambut pink itu cukup kesulitan bergerak karena banyaknya orang saat itu. Ditambah lagi hawa panas dari sang surya yang membuatnya semakin tak sabar.

Sakura masih berusaha menerobos lautan orang yang membanjiri jalan itu. 'Kenapa sih jalan utama Blue Kingdom selalu penuh sesak?' batinnya kesal.

Seseorang mendaratnya tepukan lembut di bahu Sakura. Dengan otomatis gadis bermata emerald itu menoleh dan mendapati onyx hitam sedang menatapnya. Sakura berusaha tersenyum pada sang pemilik onyx, tapi entah kenapa itu jadi sangat sulit buatnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya sang pemilik onyx

"Bukankah kita ada janji bertemu?" Sakura betanya balik

"Ah, benar," Sasuke tersenyum, "Kalau begitu, ayo!" ajak pemuda berambut emo itu

"T-tunggu dulu! Akh, baju yang benar-benar merepotkan!" keluh Sakura sambil merapikan baju terusan berwarna hijau yang dikenakannya. Tiba-tiba Sasuke menyodorkan tangannya, Sakura yang bingung hanya menatap onyx Sasuke.

"Kemarikan tanganmu, supaya tidak terpisah," kata Sasuke. Dengan ragu Sakura menggenggam tangan Sasuke dan berusaha tersenyum pada pemuda itu. Sasuke membalas senyumnya, dan mereka pun berjalan ke Istana Blue Kingdom sambil bergandengan tangan.

Tanpa disadarinya ada dua pasang mata yang sedari tadi mengawasinya dan Sasuke di balik keramaian orang yang berlalu-lalang.

.

.

Beberapa hari setelah kedatangannya ke Blue Kingdom, Sakura semakin memikirkan Deidara dan semakin menyadari bahwa dia mulai menyukai anak laki-laki bermata sapphire itu. Gadis itu tak jarang menghabiskan waktunya untuk memikirkan Deidara. Sakura duduk melamun di depan jendela kamarnya yang ia buka lebar-lebar. Dagunya ditopangkan ke kedua tangannya, emeraldnya menerawang, rambut pink dan baju terusan hijaunya terkibar oleh angin yang menyapanya dari luar. Bibirnya yang mungil mengeluarkan desahan frustrasi. 'Apa yang harus kulakukan?' tanyanya pada dirinya sendiri. Gadis itu bingung, apakah ia akan memilih Sasuke atau Deidara, biru atau kuning, onyx atau sapphire.

Dia terus menatap langit yang kini memerah. Awan yang terkena cahaya matahari berubah warna menjadi kekuningan, burung-burung berkicau dan bergaok sambil terbang kembali ke sarang mereka masing-masing, angin berhembus lembut. Sakura memejamkan emeraldnya dan berpikir semakin keras. Didengarkannya desiran angin yang berhembus, berharap sang angin akan membisikkan jawabannya. Tapi jawaban dari sang angin tak juga didapatkannya, maka gadis itu harus kembali berpikir. Sakura menghela nafas.

"Kurasa aku lebih menyukai Deidara," ucap gadis bermata emerald itu lirih, "Maaf Sasuke, kurasa aku tidak menyukaimu. Aku hanya berbohong pada diriku sendiri." sambungnya menerawang

Ketukan cepat di pintu kamarnya membuyarkan lamunan Sakura, "Nona, Raja Kakashi sedang dalam kondisi kritis!" seru suara dari balik pintu dengan nada terburu-buru. Sakura mengenalinya sebagai suara Iruka. Perkataan Iruka sukses membuatnya berlari ke pintu dan membukanya dengan kasar. "Kau tidak bercanda kan?"

"Sama sekali tidak, nona. Sekarang ikut saya," kata laki-laki berambut nanas itu. Sakura hanya mengangguk dan mengikuti langkah cepat Iruka.

.

Dua orang itu langsung menerobos pintu kamar Kakashi, dan mendapati dokter kerajaan, Tsunade sedang berusaha menolong sang Raja. Jantung Sakura berdegup kencang begitu melihat keadaan pamannya. Laki-laki berambut silver itu terbaring lemah di tempat tidurnya. Asisten Tsunade, Shizune, sibuk menampar pipi Kakashi dan kadang-kadang mencubit tangannya. Melihat hal itu, air mata Sakura langsung tumpah.

"Apa yang kalian lakukan?" seru Sakura dengan berurai air mata pada kedua paramedis tersebut. Kata-kata Sakura sukses mengalihkan perhatian mereka. Tsunade yang meletakkan tangannya di tempat jantung Kakashi berada dan Shizune yang sedang menampar pipi Kakashi langsung menoleh pada gadis itu.

"Saya sedang mengecek detak jantungnya dan melakukan pertolongan pertama," jawab Tsunade cepat

"Saya hanya membuat kesadaran Yang Mulia tidak hilang. Karena jika kesadaran Yang Mulia Hilang, itu bisa berakibat gawat," Shizune melanjutkan

"Apa tidak ada cara yang lain?" seru Sakura sambil menatap Shizune tajam

"Kalau ada, pasti sudah kami lakukan sejak tadi." Tsunade membalas seruan Sakura dengan tajam, "Shizune, coba kau cek detak jantung Yang Mulia, aku akan mengambil obat sebentar," lanjut wanita pirang itu. Dengan sigap Shizune menggenggam pergelangan tangan Kakashi dan merasakan denyut nadinya. Wanita muda berambut hitam itu terkesiap dan langsung menempelkan telinganya ke dada Kakashi.

"Detak jantungnya cukup lemah dan tidak beraturan, ini sangat gawat," Shizune berseru pada Tsunade

"Apa?" Tsunade menempelkan telinganya ke dada Kakashi

Sakura hanya menatap kedua wanita yang kini sedang sibuk menolong paman angkatnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia berlari ke arah sang paman dan mengguncang lengan pamannya. "Paman Kakashi! Paman! Sadarlah! Paman kuat! Paman pasti bisa!" Sakura berteriak.

Tangan Iruka dengan cepat menarik Sakura menjauhi pamannya. Iruka melingkarkan tangannya di bahu Sakura, mencegahnya kembali berlari ke pamannya.

"Nona, saya rasa sebaiknya kita serahkan pada dokter," Iruka berusaha menenangkan sang putri

"Tidak! Paman Kakashi!" Sakura terus memberontak dan berusaha lepas dari Iruka

"Jangan, Nona!" cegah Iruka sambil berusaha menyeret Sakura ke arah pintu. Sakura terus memberontak, tapi kekuatan Iruka jauh lebih besar darinya. "Pamaaaaaaan!" teriak Sakura sebelum pintu kamar Kakashi tertutup dari dalam.

Iruka berusaha menenangkan gadis itu dengan memeluknya. Sakura mencengkram erat punggung Iruka dan menangis. Iruka menepuk-nepuk punggung Sakura dan sesekali mengusap kepala yang tertutupi rambut pink itu.

Setelah beberapa lama dalam posisi seperti itu, Sakura mulai tenang, air matanya pun sudah tidak mengalir sederas sebelumnya. Namun gadis bermata emerald itu masih terisak. "Tenanglah, Nona. Yang Mulia bukanlah orang yang lemah. Saya yakin Yang Mulia akan bertahan,"

Sakura mengusap air matayang masih tersisa di matanya dan mencoba tersenyum pada Iruka. "Terima kasih, Iruka,"

"Sama-sama, Nona."

Tiba-tiba pintu kamar Kakashi dibuka. Sakura dan Iruka dengan cepat langsung menoleh. Mereka mendapati Tsunade berdiri di ambang pintu dengan wajah tertekuk. Kepalanya sedikit ditundukkan, dan cara berdirinya terlihat lemas.

"Apa yang terjadi pada paman?" tanya Sakura cepat

"Ah, itu…" belum sempat Tsunade menjawab, Sakura sudah berlari menerobosnya masuk ke kamar Kakashi. Iruka menatap mata cokelat terang Tsunade dengan tatapan tidak percaya. Tsunade menundukkan kepalanya, tak mampu menatap mata Iruka. Iruka segera berlari ke kamar sang raja dan melihat pemandangan yang dipenuhi aura kelabu.

Sakura berlutut di samping tempat tidur sang raja, kepalanya ditundukkan. Shizune hanya menatap kedua sosok itu dengan tatapan sendu. Iruka berjalan mendekati Sakura dan terkesiap ketika melihat wajah sang raja. Terlihat jelas bahwa pemuda berambut silver itu sudah tak bernyawa, tapi senyum masih merekah di bibir tipisnya dan wajahnya yang putih sama sekali tak menunjukkan penderitaan. Kakashi terlihat meninggal dalam keadaan bahagia.

Tak terasa air mata mulai meleleh dari sudut mata Iruka. Lelaki berambut nanas itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Iruka menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan sungai air mata yang mengalir deras di pipinya.

"Paman! Paman Kakashi! Bangun… Bangun paman! Lelucon ini sama sekali tidak lucu!" seru Sakura sambil mengguncang-guncang lengan Kakashi. Gadis itu berharap semoga Kakashi langsung bangun dan mengusap kepalanya dengan lembut sambil mengatakan bahwa ini adalah lelucon. Namun Kakashi tak kunjung bangun.

"Paman! Bangun paman! PAMAN KAKASHIIIII!" jerit Sakura berurai air mata. Dahinya ditempelkan pada lengan dingin Kakashi. Air matanya semakin deras mengalir.

Iruka menghampiri gadis berambut pink itu dan mengusap kepalanya pelan. Sakura menangis meraung-raung tanpa mengangkat dahinya dari lengan sang paman yang telah tiada. Iruaka menjatuhkan dirinya di samping Sakura,lalu merangkul pundak Sakura. Gadis berambut pink itu tak memberi respon, ia masih menangisi kepergian paman angkatnya. Akhirnya Iruka memeluk Sakura, "Sakura, tenanglah."

Sakura hanya menangis dan mempererat pelukannya pada lelaki kepercayaan pamannya. "Sakura, berhentilah menangis."

Setelah beberapa saat, akhirnya Sakura bisa menenangkan dirinya. Sakura menghapus air matanya dengan lengan baju terusannya yang berwarna hijau. Gadis itu menatap tubuh pamannya yang tak bernyawa dengan mata emeraldnya. "Lebih baik kita makamkan paman besok. Jangan biarkan ada yang tahu tentang hal ini." kata Sakura dengan suara yang kecil

"Baik," Iruka mengangguk. Lelaki itu menepuk kepala Sakura lembut dan berkata, "Saya rasa Raja Kakashi ingin melihat senyum Nona Sakura. Maka, jangan menangis."

"Ya, mungkin ini yang terbaik untuk paman. Hidup dalam penderitaan pasti berat buatnya," sahut Sakura lirih. Iruka mengangguk dan meninggalkan Sakura sendiri.

.

.

Pagi itu adalah pagi yang mendung di Green Kingdom. Cuaca yang sangat mendukung suasana duka yang tercipta dari kematian Sang Raja. Sebuah pemakaman didatangi oleh serombongan kecil orang yang berpakaian putih. Mereka berjalan beriringan sambil membawa sekeranjang bunga atau beberapa tangkai bunga di tangan mereka. Banyak diantara mereka yang menitikkan air mata, tapi ada seorang gadis yang terlihat sama sekali tak menitikkan air mata. Mata emeraldnya hanya menatap dengan tatapan kosong ke depan, bunga yang dibawanya adalah setangkai mawar putih kesukaan sang raja. Di sebelahnya berdiri seorang lelaki berambut nanas dengan bekas luka melintang di hidungnya. Lelaki itu menggenggam setangkai bunga lili ditangannya dan matanya berkaca-kaca.

Sebuah lubang peristirahatan telah digali untuk Sang Raja. Semua orang berbaju putih yang mengantar kepergiannya telah mengelilingi lubang yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Sang Raja. Peti pun dimasukkan ke dalam lubang dan kemudian ditimbun dengan tanah. Mata emerald Sakura masih menatap peti mati pamannya yang setengah terkubur dengan tatapan kosong, namun dalam hatinya rasa duka yang sangat besar tengah bergejolak. Namun, mata emerald itu tak meneteskan air mata. Lebih tepatnya tidak bisa.

Setelah peti mati Kakashi terkubur sepenuhnya, Sakura meletakkan setangkai bunga mawar putih yang sedari tadi digenggamnya dengan erat. Diikuti oleh Iruka, Tsunade, Shizune, dan yang lainnya. Semua orang pun telah meletakkan bunganya masih-masing di atas pusara Sang Raja. Dengan langkah pelan, satu persatu dari mereka kembali ke Istana yang masih diliputi suasana duka.

Tinggalah seorang gadis berambut pink dan seorang lelaki berambut nanas. Keduanya masih terpaku di tempatnya masing-masing sambil menatap batu nisan kelabu. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

'Aku harus pergi. Saat ini satu-satunya alasanku di sini telah tiada. Sekarang aku akan pergi bersama Hinata,' batin Sakura, 'Biarlah segala kenangan tentang Paman Kakashi terkubur di sini.'

"Kita pulang?" pertanyaan Sakura membuyarkan lamunannya. Lelaki berambut nanas itu mengangguk, "Ayo,"

.

.

Setelah pemakaman Kakashi dilaksanakan, Sakura langsung berkuda meninggalkan Istana dengan sedikit bawaan. Gadis itu berkuda menuju hutan di perbatasan Green Kingdom dan Blue Kingdom untuk menemui Hinata.

"A-apa? Kita akan pindah?" tanya Hinata dengan mata yang membulat

"Ya. Ke Blue Kingdom." jawab Sakura singkat

"K-kapan?"

"Sekarang,"

.

.

Kedua gadis itu pun berkuda ke Blue Kingdom. Mereka menyewa sebuah apartemen kecil. Kedua gadis itu bekerja pada seorang wanita pedagang. Mereka hidup sedikit pas-pasan, tapi mereka bahagia karena masih saling memiliki.

Suatu hari saat Sakura dan Hinata sedang bekerja, seorang pemuda berambut biru tua dengan model emo berpapasan dengan mereka. Hinata mengenal pemuda itu, dialah Pangeran Sasuke yang terkenal.

Pangeran muda itu menatap Sakura dengan mata onyxnya. Onyx dan emerald pun bertemu. Sasuke hanya tersenyum simpul dan beranjak dari tempatnya meninggalkan mereka berdua. Sakura hanya menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh, sedangkan Hinata hanya mengangkat bahunya.

.

Setelah kejadian itu Sasuke dan Sakura bertemu beberapa kali. Maka Hinata menyimpulkan bahwa Sakura dan Sasuke berpacaran. Tapi seringkali gadis indigo itu dibuat bingung oleh ekspresi Sakura yang seringkali menunjukkan ketidaksukaan pada Sasuke. Meskipun begitu, Hinata sama sekali tak peduli jika melihat ekspresi murung Sakura sepulangnya dari bertemu Sasuke.

.

~oOo~

.

Ouji no kokoro wo te ni irete

Yotei chuwa no chabangeki

Oujo ni korosare subete no

Shinario wa shuuen e

.

Aru bankare ga tatte kite

Namida wo korae tsukuri egao

Kidzukanu furishite hohoenda

Saigo wa waratte shinitai na

.

~oOo~

.

Di suatu sore yang cukup cerah, Sakura sedang berjalan-jalan di hutan. Di tangannya terlihat beberapa tangkai bunga-bunga liar yang beraneka warna. Senandung lagu riang mengiringi setiap langkah kaki mungilnya. Tapi, tiba-tiba senandung itu berhenti seiring langkah kakinya yang juga terhenti. Betapa terkejutnya gadis bermata emerald itu saat dia melihat sosok anak laki-laki berambut pirang yang dikenalnya.

"Deidara?" bisik Sakura. Anak laki-laki berambut pirang itu tersenyum. Namun Sakura tidak mengetahui bahwa senyum itu hanyalah senyum palsu untuk mencegah agar air mata tidak tumpah dari mata saphirenya.

Deidara berjalan menuju Sakura dengan langkah kecil, Sakura pun melakukan hal yang sama. Tapi untuk beberapa saat Sakura melihat kilatan di balik jubah cokelat yang dikenakan Deidara. 'Pedang? Apa dia akan membunuhku?' batin Sakura, 'Yah, biarlah. Kurasa dengan begitu aku bisa menemui Paman Kakashi…'

"Apa kabar, Sakura?" tanya Deidara masih dengan senyum mengembang

"Baik. Bagaimana denganmu sendiri?" Sakura membalas senyum Deidara dengan tulus

"Lumayan." jawab Deidara

Kesunyian pun terbentuk. Tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Sakura hanya menatap Deidara masih dengan senyum tersungging di bibirnya, sedangkan Deidara membalas senyum Sakura dengan senyum yang dipaksakan.

"Apa pendapatmu tentang kematian?" Deidara membuka percakapan

"Ah, entahlah. Aku sendiri tidak tahu. Tapi kalaupun aku mati, aku pasti akan bahagia." jawab Sakura dengan senyum

"Bahagia? Kenapa?" Deidara menatapnya dengan bingung

"Karena aku akan bisa bertemu dengan pamanku…"

"Begitu…" gumam Deidara

Kesunyian pun kembali menghampiri mereka. Setelah beberapa saat terdiam, Sakura memecahkan kesunyian itu. "Sepertinya hari sudah mulai malam. Aku harus segera pulang,"

"Baikah," Deidara mengangguk

Mereka berdua pun pergi ke arah yang berlawanan.

.

Kenapa dia tidak membunuhku?

.

TO BE CONTINUED

TO MIDORI NO MUSUME: END OF HER LIFE

.

.


.

Ugyaaaa! GOMEEEEEN kalo bener-bener telat ngupdate… Soalnya entah kenapa Saku ga mood buat ngetik fic ini ditambah juga makin hari makin sibuk ngerjain PR dan belajar (ngaco di bagian belajarnya) maklumlah… sekarang Saku udah kelas 9.. -m-

Makasih ya buat Readers yang udah mau baca fic ini, apalagi kalau mau ngreview…

.

Terus , ini balesan reviewnya…

aka no ai – Makasiih yaa…

Miku - U s a g i – Makasih miku-san… Tapi jangan panggil Saku 'senpai', soalnya Saku sendiri juga baru di FFn. Dan Saku mau minta maaf karena ga bisa cepet-cepet ngupdate chapter… T-T

Deidei Rinnepero – Sebenernya ini satu cerita sama yang Ino dan Deidara, tapi ini tuh beda PVnya. Kalo yang chapter 1 kan Ino sama Deidara, kalo yang ini Sakura sama Sasuke.

Tsukimori Raisa – Aaah maafkan Saku… Mungkin karena Saku masih pemula, jadi masih banyak kesalahan… Makasih ya udah mau mengkritik Saku. Saku coba jadi lebih baik di chapter ini. Semoga Tsukimori-san suka ^^

Akasuna no NiraDei Un – Yak! Akan Saku usahakan. Tapi kemungkinan besar ga akan sebanyak di chapter 1.

fuyugami ryo – Hei kamu! Akhirnya baca fic Saku juga… Senangnya… Oke deh! Di chapter ini dan selanjutnya Saku akan berusaha jadi lebih baik!

It'sMeRyuki – Sip deh!

Ryuuchihame – Maaf, akan Saku perbaiki. Makasih atas sarannya! :D

Kaminari to Mizu – Eeee gomen… Kayanya ga bias, soalnya Kakashi di sini tuh jadi pamannya Sakura. Tapi kalau Mizu-san mau sih, mungkin Saku bisa bikin di fic yang lain :)

MaidoKatoxXnartian – Iya… mungkin Maido-san mau baca fic Vocaloid Saku yang judulnya Behind the Mirror? *digeplak gara-gara seenaknya promosi*… Iya, kalau di happy ver sih ngasihnya kentang goreng, tapi kalau di sini disesuain sama yang biasa, jadi ngasihnya brioche