Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Fate/Stay Night: Type-Moon
.
.
.
Senin, 24 Juli 2017
.
.
.
STEALTHY
By Hikasya
.
.
.
Chapter 3. Bertemu dengan Gilgamesh
.
.
.
Pagi-pagi buta, sekitar 4 pagi. Terdengarlah suara yang sangat memekakkan telinga dari sebuah kamar pelayan yang paling ujung, tepatnya di istana Fuyuki.
"CEPAT, BANGUUUUN! WAKTUNYA UNTUK MANDIIIII!"
Seorang gadis berpakaian maid bersorak keras melalui toa yang dipegangnya. Alhasil, membuat pria berambut pirang jabrik kaget setengah mati karena mendengarnya sehingga pria berambut pirang jabrik itu jatuh tersungkur dari atas tempat tidur.
GUBRAK!
Begitulah bunyi saat pria berambut pirang jabrik itu terjatuh dan terkapar di lantai dalam keadaan tidak elit. Masih berpakaian piyama belang-belang berwarna putih biru dan dibungkus lagi dengan selimut berwarna kuning.
Sedang asyik-asyiknya tidur, Naruto malah dibangunkan dengan cara seperti itu oleh Rin. Rin tertawa geli saat melihat Naruto yang terkapar tak berdaya di samping tempat tidur.
"Hahaha... Kaget ya?" tanya Rin tanpa menggunakan toa lagi.
"Huh... Dasar, ternyata kau, Rin," jawab Naruto yang cemberut sembari bangkit berdiri dari acara terkaparnya."Kenapa kau membangunkan aku tiba-tiba begitu, hah!? Kau tahu aku masih mengantuk, tahu. Hoaaaa..."
Naruto menguap panjang sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Rambut pirang jabriknya tampak berantakan. Penampilannya juga lusuh. Tangan kirinya memegang selimut kuning yang dipakainya. Sehingga memberi kesan malas pada dirinya.
Rin berkacak pinggang dan menunjukkan wajahnya yang tegas.
"Pokoknya kau harus mandi sekarang juga!" perintah Rin langsung.
"Memangnya sekarang jam berapa?" Naruto masih saja menguap saking mengantuknya.
"Jam empat pagi."
"Oh...," Naruto cuek saja lalu membelalakkan kedua matanya."JA-JAM EMPAT PAGI!?"
"Iya. Makanya ayo pergi ke kamar mandi sana!"
Tanpa aba-aba lagi, Rin langsung menarik kerah baju piyama Naruto sehingga Naruto terseret olehnya. Naruto pun kewalahan dan meronta-ronta.
"HEI... HEI... TU-TUNGGU DULU!?"
BLAM!
Pintu kamar Naruto ditutup keras oleh Rin - Rin tadi masuk ke kamar Naruto lewat menggunakan kunci cadangan, padahal Naruto sudah mengunci kamarnya rapat-rapat, semalam itu. Rin terus menyeret Naruto menuju kamar mandi. Naruto terus saja memberontak dan berteriak agar melepaskan diri dari jeratan Rin yang terbilang kuat.
"HEI, LEPASKAN AKU! MEMANGNYA KAU MAU MANDI DENGANKU YA!?"
"A-APA!?" Rin terkejut mendengar perkataan Naruto yang sangat mengejutkan."DASAR, LELAKI MESUM! RASAKAN INI!"
DUAAAAK!
Rin melayangkan tendangan keras tepat di "bagian berharga" milik Naruto. Naruto terdiam dan membeku di tempat. Wajahnya memucat karena menahan kesakitan.
Sedetik kemudian, terdengar suara rintihan Naruto yang sangat menyayat hati dan mengguncang tempat itu.
"GYAAAAAAAA! SAKIIIIIIT!"
Ya, betapa malangnya dirimu di pagi buta seperti ini, Naruto.
.
.
.
Hingga pada akhirnya, Naruto sudah mandi dan berpakaian khusus butler yang diberikan Rin padanya, kemarin itu. Dia juga sudah sarapan karena sarapannya sudah disediakan Rin atas suruhan Arturia. Setelah itu, Naruto segera pergi untuk menemui Arturia.
Tepat pada pukul 5 pagi itu, Naruto tiba juga di tempat Arturia yang menunggunya, tepatnya di kamar Arturia.
Menghentikan langkahnya di depan pintu besar dan berdaun dua, Naruto menghelakan napas beratnya terlebih dahulu. Bergumam pelan.
"Aaaaaah... Kenapa aku harus jadi butler seperti ini sih? Ini semua gara-gara Kakashi-sensei."
Merasa sedikit kesal pada Kakashi sang Hokage Keenam, membuat Naruto mau tidak mau harus melakukan misi ini agar membuat Arturia jatuh cinta padanya. Bukan hanya itu saja, ia bisa terbebas sementara waktu dari kejaran para fansgirl maniak-nya. Bisa dibilang misi ini ada baiknya juga, dia berpikir begitu setelah mulai merasakan kenyamanan saat tinggal di tempat ini. Apalagi dia bisa menyamarkan dirinya menjadi orang lain, dan hidup berbaur dengan orang-orang yang tinggal di tempat ini.
Tidak ingin merasakan kesendirian lagi, Naruto membutuhkan seorang teman yang mampu mengerti dirinya. Teman yang bisa menemaninya sampai tua nanti. Teman yang akan selalu membuatnya bahagia. Teman yang akan memberikan anak buatnya.
Teman yang dimaksud adalah "istri", itulah yang dia inginkan setelah mendengar nasehat dari Shikamaru. Shikamaru yang akan menikah dengan Temari, menyarankannya untuk mencari calon teman hidup yang bisa diajak untuk hidup bersama selamanya.
"Carilah teman hidupmu mulai dari sekarang, Naruto. Aku sarankan carilah teman hidup yang baik, perhatian, penyayang, dan pengertian. Terutama sekali, dia harus pandai memasak..."
Itulah yang dikatakan Shikamaru padanya, tempo dulu itu. Masih diingatnya dengan baik.
Ya. Dia akan berusaha mendapatkan calon teman hidup itu. Mungkin saja Arturia adalah jodohnya, pikirnya.
Maka diketuknya pintu kamar Arturia itu dengan pelan.
TOK! TOK! TOK!
Terdengar suara dari arah dalam kamar tersebut.
"Siapa?"
Naruto menjawabnya dengan suara yang cukup keras.
"Aku Naruto."
"Masuklah, pintu tidak dikunci."
"Ya."
Naruto menggerakkan tangan kanannya untuk meraih gagang pintu yang terbuat dari emas itu. Ditekannya pelan lalu pintu berdaun dua itu terbuka.
KRIEEET!
Naruto masuk ke dalam kamar dengan pelan. Kemudian menemukan pemandangan yang mengagumkan.
Bayangkan saja, kamar Arturia itu sangat luas dan besar. Entah berapa panjang dan lebarnya. Jarak langit-langit dengan lantai, kira-kira 10 meter. Dinding dan lantai yang berwarna putih. Terdapat perabotan yang sangat mahal dan mewah, mengisi di berbagai sudut kamar itu. Juga ada lampu antik yang besar terpasang di tengah langit-langit kamar. Tak ketinggalan frame-frame foto yang terpasang di sepanjang dinding.
Naruto terpaku di tempatnya berdiri, merasa kagum akan keindahan kamar Arturia yang bernuansa putih, emas, dan biru. Pandangan matanya menyapu bersih setiap sudut kamar itu dan berhenti saat menangkap sosok gadis yang sedang berdiri di depan meja rias. Terdapat cermin datar yang cukup besar, bersatu dengan meja rias tersebut.
Naruto membelalakkan kedua matanya saat melihat sosok gadis itu. Pasalnya, gadis itu sedang menyisir rambutnya yang panjang hingga melewati pinggang. Pakaian yang dikenakan gadis itu adalah baju kemeja putih berlengan panjang dengan pita merah yang melingkari kerah baju kemeja putihnya. Bawahannya rok selutut berwarna hitam. Kedua kakinya dibungkus dengan stocking hitam dan sepatu hitam. Memberi kesan santai pada dirinya.
Entah apa yang dipikirkan Naruto. Sepertinya ia terpesona akan keindahan rambut pirang Arturia. Arturia menyadari Naruto yang memperhatikannya, lalu menghentikan kegiatannya.
Masih menggeraikan rambutnya yang panjang, Arturia menoleh ke arah Naruto. Naruto tersentak saat menyadari Arturia yang memberikan deathglare padanya, lantas tertawa malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa kau memperhatikan aku sampai sebegitunya?" tanya Arturia yang melototi Naruto.
"Hehehe... Tidak ada apa-apa kok," jawab Naruto yang masih tertawa malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku tidak percaya."
"Percayalah padaku, Ojou-sama."
"Huh... Ya sudahlah."
Arturia memalingkan wajahnya ke arah lain dan sekaligus menghembuskan napas kekesalannya. Mencoba menenangkan hatinya dulu.
Naruto memperhatikan Arturia. Arturia mengambil sesuatu di atas meja rias lalu berjalan cepat untuk menghampiri Naruto.
Disodorkannya sesuatu itu pada Naruto.
"Ini untukmu," kata Arturia dengan wajah yang datar.
"Ini apa?" Naruto memperhatikan sesuatu yang disodorkan Arturia itu.
"Lihat saja sendiri."
"Baiklah."
Naruto menerima sesuatu yang ternyata lembaran kertas putih yang dilipat. Dibukanya lembaran kertas itu dan...
SYUUUUT!
Lembaran kertas itu memanjang sampai melewati kaki Arturia. Naruto tercengang saat membaca tulisan yang tertera di dalam lembaran kertas itu.
"A-Apa-apaan ini!?" Naruto mendelik ke arah Arturia.
"Kau sudah baca isinya, kan? Itulah daftar pekerjaan yang harus kau selesaikan hari ini!" Arturia menunjuk ke arah lembaran kertas yang memanjang itu.
"Akukan bukan pelayan yang seenaknya kau suruh-suruh, kan? Aku hanya bertugas untuk menjagamu, tahu!"
"Tapi, kau memang butler-ku, seharusnya kau mematuhi apa yang kuperintahkan, kan? Makanya aku memberikan tugas pertamamu untuk hari ini. Aku menulis catatan itu semalaman agar kau tidak melupakan pekerjaanmu itu. Jadi, simpan catatan itu dengan baik ya."
"Seenaknya saja! Huh..."
"Jangan membantah. Aku ini majikanmu sekarang."
"AAAAARGH! YA SUDAHLAH!"
Naruto menggeram kesal dan meremas kuat lembaran kertas yang berada di genggaman kedua tangannya itu. Ingin rasanya memberi pelajaran pada gadis sombong itu, pikirnya. Tapi, apa daya, gadis sombong itu adalah kliennya dalam misi yang dijalaninya sekarang.
Mau tidak mau, dia harus menjalani tugas yang diberikan Arturia itu. Segera saja ia menyelonong pergi dari kamar Arturia. Arturia terperanjat dan memanggilnya.
"NARUTO! TUNGGU!"
Naruto menghentikan langkahnya tepat di luar kamar Arturia, berjarak dua langkah dari pintu kamar Arturia. Naruto pun menoleh dan melihat Arturia yang datang mendekatinya.
"Apa lagi, Ojou-sama?"
Arturia menunjukkan wajahnya yang tegas.
"Kau dilarang menggunakan jurus bunshin-mu itu."
"...!"
Naruto membulatkan kedua matanya karena Arturia mengetahui apa yang akan direncanakannya. Naruto memang akan menggunakan bunshin-bunshin-nya untuk melakukan semua pekerjaan itu agar cepat selesai. Tapi, dia rasa rencananya itu tidak akan bisa digunakannya karena Arturia sudah mengetahuinya. Gagal total semua rencananya. Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi.
Arturia juga menambahkan.
"Aku akan mengawasimu selagi kau bekerja. Jadi, tunggu di sini dulu. Jangan kemana-mana. Aku mau merapikan rambutku dulu."
"..."
Tanpa bisa berkata apapun lagi, Naruto terpaku di tempat, dan menyaksikan Arturia yang kembali masuk ke dalam kamar. Arturia merapikan rambutnya dulu, barulah pergi bersama Naruto.
Tak lama kemudian, Arturia keluar lagi dari kamarnya. Rambutnya sudah dikepang dan disanggul dengan pita berwarna biru.
"Aku sudah siap. Ayo, ikuti aku sekarang!" perintah Arturia yang berjalan santai melewati Naruto.
"Eh? Iya," Naruto buru-buru mengekor Arturia dari belakang.
Mereka berdua berjalan melewati lorong yang masih sepi. Tidak ada seorang pun yang lewat lagi. Cahaya temaram yang didapatkan dari lampu-lampu yang terpasang di sepanjang langit-langit lorong, menemani perjalanan mereka menuju ke tempat tujuan.
.
.
.
Dimulailah tugas pertama Naruto sebagai butler. Naruto bekerja dalam pengawasan ketat Arturia. Betapa tidak, Naruto harus melakukan sejumlah pekerjaan rumah tangga seperti menyapu halaman, menyapu lantai, mencuci piring, mengepel lantai, mencabut rumput, menyiram tanaman, mengelap kaca jendela dan sebagainya. Hal ini sangat membuat Naruto kesal setengah mati. Apalagi Arturia tampak santai-santai saja sembari mengawasinya. Kadang kala Arturia minum dan sengaja menjatuhkan air minumannya ke lantai sehingga membuat Naruto harus membersihkannya dua kali. Itu juga terjadi ketika Naruto menyapu halaman, Arturia sengaja membuang sisa-sisa sampah cemilannya ke halaman sehingga halaman menjadi kotor lagi, mau tidak mau, Naruto harus membersihkannya lagi.
Begitulah yang terjadi tatkala Naruto sedang sibuk bekerja. Lalu Arturia akan sengaja menjahili Naruto agar membuat Naruto merasa kapok. Sehingga Naruto tidak betah dan memilih pergi secepatnya dari sini. Maka Arturia bisa bebas tanpa adanya Naruto yang akan selalu ikut kemanapun dia pergi.
Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Tampak Naruto yang sedang sibuk membersihkan kamar sang Raja. Arturia bersandar di pintu kamar sang Raja yang terbuka lebar, bersama Rin. Dua gadis itu saling berbisik-bisik.
"Hei, apa kau tidak kasihan melihatnya, Ojou-sama?" tanya Rin yang merasa iba ketika melihat Naruto yang masih sibuk membereskan kamar sang Raja.
"Tidak," jawab Arturia enteng.
"Tapi, sekarang sudah jam 12 siang lho. Sebaiknya kau suruh dia beristirahat. Aku sudah menyiapkan makan siang untuknya atas perintahmu."
"Oh iya, benar juga. Sudah tiba waktunya untuk makan siang."
Arturia melihat ke arah jam bulat yang terpasang di dinding kamar sang Raja. Dimana jarum pendek menunjuk ke angka 12, sedangkan jarum panjang menunjuk ke angka 1. Ia pun berpikir akan menghentikan aktifitas Naruto sekarang juga.
Pandangannya tertuju pada Naruto. Naruto tampak lelah sekali dan baru saja menyelesaikan tugasnya itu.
"Aaaaah... Akhirnya selesai juga," ucap Naruto yang menyeka keringat yang perlahan-lahan menetes dari sela-sela rambut pirangnya.
"Sudah selesai ya, Naruto?" Arturia memasang wajah yang datar."Sebaiknya kau beristirahat dulu. Makan siang dan barulah menjalankan tugasmu lagi."
"Ah, tidak, Ojou-sama. Aku harus menyelesaikan semua tugas ini dulu."
"Jangan paksakan dirimu. Kau sudah bekerja dari tadi pagi. Kau juga belum minum dan makan, kan? Makanya istirahat dulu."
"Tidak, Ojou-sama. Aku akan tetap menjalani perintahmu ini. Aku tidak akan pernah berhenti sebelum menyelesaikan tugasku. Karena seorang ninja tidak akan meninggalkan misinya begitu saja dan akan tetap menjalani misinya sampai selesai. Aku anggap semua tugas darimu sebagai misi, maka aku akan menjalaninya sampai selesai. Itulah jalan ninjaku."
Naruto berkata dengan lantang sehingga Arturia dan Rin terpaku mendengarnya. Apalagi Naruto menunjukkan senyumnya yang menawan.
Usai itu, Naruto mengeluarkan catatan dari saku blazer hitamnya dan mengecek pekerjaan selanjutnya.
"Hmmm... Berikutnya... Membersihkan ruang dojo. Lalu..."
Naruto manggut-manggut saat membaca tulisan yang tertera di catatan itu. Arturia dan Rin saling pandang lalu saling berbisik lagi.
"Ternyata dia tidak kapok. Justru malah senang melakukan tugas yang kuberikan padanya...," Arturia merasa kecewa.
"Jadi, rencananya... Kau akan membuatnya tidak betah di sini?" Rin penasaran.
"Iya."
"Sepertinya rencanamu gagal, Ojou-sama."
"Aku rasa begitu."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan lagi?"
"Aku tidak tahu. Akan kupikirkan lagi nanti."
Saat bersamaan, muncullah satu prajurit yang datang menemui Arturia. Arturia menyadarinya ketika prajurit itu membungkuk hormat padanya.
"Ojou-sama..."
"Ya. Ada apa?"
"Ada seseorang yang datang dan ingin bertemu dengan Ojou-sama."
"Siapa?"
"Gilgamesh-sama."
"Gilgamesh?" Arturia menunjukkan wajahnya yang sewot."Kenapa dia datang lagi ke sini? Huh, dasar!"
"Jadi, apa Ojou-sama ingin menemuinya?"
"Ya. Ayo, kawal aku!"
"Baik, Ojou-sama."
Sang prajurit mengangguk patuh. Arturia dengan cepat melangkahkan kakinya menuju keluar istana, dan diikuti prajurit tadi dari belakang. Sementara Rin terpaku ketika melihat mereka pergi.
Karena penasaran, Naruto datang mendekati Rin lalu bertanya.
"Siapa itu Gilgamesh?"
Rin menjawabnya tanpa memandang ke arah Naruto.
"Pangeran dari kerajaan sebelah yang selalu memaksa Ojou-sama supaya menikah dengannya. Tapi, Ojou-sama selalu menolaknya. Bahkan pernah terjadi duel pedang di antara mereka berdua."
"Oh."
Naruto membulatkan mulutnya seperti huruf o. Memegang dagunya dengan tangan kanannya. Berpikir sejenak.
Di luar sana yaitu di beranda istana, tampak Arturia tanpa dikawal lagi dengan prajurit tadi, sedang berhadapan dengan seorang pria berpakaian seperti pangeran kerajaan eropa abad pertengahan. Pria yang berambut pirang keemasan dengan model spike dan bermata ruby merah. Berumur sekitar 20 tahun. Merupakan pangeran yang berasal dari kerajaan sebelah - tepatnya bersebelahan dengan kerajaan Fuyuki.
Itulah yang namanya Gilgamesh, yang selalu datang ke istana Fuyuki, hanya untuk menemui Arturia. Selalu memaksa Arturia agar segera menikah dengannya, tapi Arturia selalu saja menolaknya. Arturia tidak menyukainya dan berharap bisa terbebas dari gangguannya. Tapi, karena ia adalah calon suami yang dipilih ayah Arturia, mau tidak mau, Arturia harus meladeninya dan bahkan pernah mengusirnya dengan cara yang kasar.
Ayah Gilgamesh dan ayah Arturia sudah saling mengenal sejak lama. Lalu berniat menikahkan mereka agar bisa menjadi satu keluarga sehingga dua kerajaan yang bersebelahan bisa menjadi satu kerajaan yang besar. Tapi, Arturia selalu menentang perjodohan ini ketika sang ayah membicarakannya pada Arturia. Arturia mengatakan bahwa ia tidak mau menikah dengan Gilgamesh dan beranggapan kalau Gilgamesh akan merebut kerajaan Fuyuki lewat pernikahan ini. Karena Arturia sudah mengetahui siapa sebenarnya ayah Gilgamesh dan Gilgamesh itu sendiri, lewat mata-mata yang dikirimkannya untuk mencari informasi di kerajaan sebelah.
Namun, sang ayah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arturia. Arturia merasa kecewa karena ayahnya lebih percaya pada Gilgamesh daripada dirinya dan ayahnya tetap akan menikahkannya dengan Gilgamesh. Tapi, Arturia selalu menunda pernikahan itu, malah menantang ayahnya untuk mencari calon suami yang lebih baik daripada Gilgamesh. Ayahnya menyetujui tantangan Arturia lalu mengirim pesan pada Kakashi agar Kakashi bisa mengirim Naruto untuk datang ke kerajaan Fuyuki, tanpa sepengetahuan Arturia. Naruto direncanakan akan dijodohkan dengan Arturia.
Karena Naruto sudah ada di sini, maka rencana ayah Arturia bisa berjalan dengan sukses. Arturia bisa memilih salah satu dari dua pria tersebut. Itulah yang diharapkan ayah Arturia agar Arturia segera cepat menikah.
Arturia sendiri tidak mengetahui bahwa Naruto adalah calon suami yang akan dijodohkan dengannya. Ia hanya menganggap Naruto sebagai butler biasa yang dikirim ayahnya untuk menjaganya. Karena itu, ia berharap bisa mengusir Naruto agar cepat pergi dari sini. Baginya, Naruto adalah serangga pengganggu yang telah membuat hidupnya tidak tenang sekarang.
Kini hidupnya semakin bertambah tidak tenang ketika serangga pengganggu lainnya datang hari ini, yaitu Gilgamesh yang akan selalu bertanya padanya dengan kalimat yang sama.
"Apa kau mau menikah denganku, Ojou-sama?"
Lalu Arturia akan menjawab dengan kalimat yang sama.
"Tidak!"
"Ah, kau keras kepala sekali."
"Dan kau juga keras kepala!"
"Tapi, aku sangat mencintaimu, Ojou-sama."
"Dan aku sangat membencimu!" Arturia berteriak keras dengan wajah yang mengeras."CEPAT PERGI DARI SINI! PENGA..."
GREP!
Tiba-tiba saja, tangan Arturia digenggam kuat oleh Gilgamesh. Arturia terperanjat dan merasa kesakitan. Dilihatnya, wajah Gilgamesh juga mengeras.
"Ayo, ikut aku!" pinta Gilgamesh yang memaksa.
"LE-LEPASKAN AKU!" seru Arturia yang memberontak."KAU AKAN MEMBAWAKU KEMANA, HAH!?"
"HEI, LEPASKAN OJOU-SAMA! JANGAN PAKSA DIA SEPERTI ITU!"
Tiba-tiba lagi, muncul seorang pria yang berteriak keras dan menggema di beranda depan istana tersebut, sehingga Gilgamesh dan Arturia melihat ke asal suara.
JREEENG!
Rupanya Naruto, yang menyusul Arturia sampai kemari. Arturia memandang Naruto dengan ekspresi kesakitan. Sebaliknya Gilgamesh memandang Naruto dengan sinis.
"Naruto...," gumam Arturia yang sedikit senang.
"Siapa kau?" tanya Gilgamesh dengan nada yang juga sinis.
Naruto datang mendekati mereka berdua. Dengan tenang, dia menjawab pertanyaan Gilgamesh.
"Aku Uzumaki Naruto. Ninja yang berasal dari desa Konoha."
"Ternyata kau rupanya, sang pahlawan dunia yang terkenal itu."
"Begitulah."
"Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Ah... Itu bukan urusanmu."
"A-Apa!?"
Gilgamesh menggeram karena merasa tersinggung dengan perkataan Naruto yang terkesan ketus. Rasa kesal mulai muncul di hatinya.
Sebaliknya Naruto, hanya bersikap santai. Saffir birunya mengarah pada Arturia yang meminta pertolongan darinya lewat ekspresi Arturia yang tampak kusut. Mulut Arturia juga bergerak pelan, mengisyaratkan sebuah kalimat.
'Tolong aku, Naruto. Singkirkan orang itu dariku.'
Begitulah. Naruto pun mengerti dengan isyarat dari Arturia tersebut.
Lantas pandangan saffir biru itu menajam ke arah Gilgamesh. Wajahnya mengeras. Tiga guratan di dua pipinya cukup menebal.
"Cepat lepaskan Ojou-sama sekarang juga. Kelihatannya Ojou-sama tidak mau ikut denganmu," ucap Naruto tegas.
"Ojou-sama tidak akan kulepaskan!" Gilgamesh bersikeras dan menguatkan genggaman tangannya pada tangan Arturia sehingga Arturia berteriak keras sekali karena merasa kesakitan.
"KYAAAAAA!" pekik Arturia yang sangat keras menggelegar.
Tidak tega melihat Arturia diperlakukan seperti itu, membuat Naruto merasa marah. Lantas ia membentuk sebuah segel tangan.
POOOOF!
Muncul satu bunshin di samping kanan Naruto, lalu menggerakkan kedua tangannya untuk membentuk putaran bola biru di tangan kanan Naruto asli. Putaran bola biru itu terbentuk dengan cepat.
Itulah jurus ninja yang bernama...
"RASENGAN!"
WHUUUSH!
Naruto berlari secepat kilat sambil melayangkan rasengan ke arah Gilgamesh. Gilgamesh sangat terkejut dengan serangan Naruto yang tiba-tiba itu. Kemudian...
DHUAAAAASH!
Perut Gilgamesh sukses terkena serangan Rasengan milik Naruto. Perutnya terasa tercabik-cabik akibat putaran Rasengan yang begitu tajam hingga Gilgamesh terlempar jauh ke arah halaman depan istana.
WHUUUSH!
Satu bunshin Naruto diutus untuk membawa Gilgamesh yang pingsan usai dihajar dengan Rasengan, pergi jauh dari istana Fuyuki. Sementara Naruto asli dan Arturia terpaku menyaksikan kepergian bunshin Naruto yang menghilang bersama Gilgamesh.
Hening selama satu menit.
Tampak Naruto yang menghelakan napasnya dan merapikan pakaiannya yang sempat berantakan. Sementara Arturia masih terpaku di tempatnya berdiri, terdiam dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Hingga suara Naruto yang memecahkan keheningan di tempat itu.
"Ah, sudah selesai. Orang yang menyusahkan Ojou-sama, sudah kusingkirkan. Ojou-sama tidak usah khawatir lagi karena Ojou-sama sudah aman sekarang. Kupastikan dia tidak akan datang lagi ke sini," ujar Naruto yang memandang Arturia sambil menunjukkan senyumnya."Ada tugas yang harus kukerjakan lagi. Ojou-sama awasi aku lagi ya."
Dengan penuh semangat yang tak pernah ada habis-habisnya, Naruto bergegas pergi menuju ke tempat yang akan dia bersihkan. Arturia tersentak dari keterpakuannya, memanggil Naruto dengan suara yang keras.
"TUNGGU, NARUTO!"
Berjarak beberapa langkah dari Arturia, Naruto menghentikan jalannya dan berbalik untuk melihat Arturia. Arturia tetap berdiri di tempatnya semula.
"Hmm... Ada apa lagi, Ojou-sama?"
Arturia tampak malu-malu begitu. Terbukti semburat merah tipis hinggap di dua pipinya. Ia sedikit menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengatup dan didekapnya di dadanya. Menjadi gugup begitu.
"A-Aku tidak tahu mesti mulai darimana ngomongnya... Hm... Ka-Karena kau sudah menolongku dari Gilgamesh... A-Aku..."
Untuk sejenak saja, sang putri yang terkenal dingin itu berubah menjadi putri pemalu begitu. Memutuskan perkataannya karena merasa malu mengatakan apa yang dirasakannya pada Naruto.
Naruto merasa keheranan.
"Ya, apa? Bilang saja padaku, Ojou-sama."
Arturia semakin menundukkan kepalanya. Menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sebenarnya. Masih gugup.
"Te-Terima kasih."
Naruto tercengang saat mendengarnya.
"Hah!? Apa!? Aku tidak dengar."
Sekali lagi, Arturia mengatakannya dengan gugup.
"Te-Terima kasih."
"Apa sih? Kurang jelas nih."
"...!" muncul sudut perempatan di kening Arturia yang menandakan Arturia kembali ke mode garangnya dan berteriak keras."TERIMA KASIH! SUDAH JELAS, BUKAN!?"
Bahkan sampai Naruto ternganga melihat wajah Arturia yang berubah total menjadi menyeramkan seperti monster. Tampak asap mengepul beberapa kali dari hidung Arturia. Arturia merasa kesal lagi sekarang.
Sedetik kemudian, Naruto tertawa geli sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh, jadi... Ojou-sama mau bilang terima kasih padaku, begitu?"
"Tidak."
Nada suara Arturia tidak meninggi lagi, justru kembali seperti biasa. Wajah Arturia juga kembali terlihat dingin seperti biasa.
"Eh!?" Naruto ternganga."Aku memang mendengar Ojou-sama bilang terima kasih padaku."
"Kalau sudah dengar, kenapa kau bertanya lagi, hah?"
Arturia melototi Naruto. Sekali lagi, Naruto tertawa ngeles sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Habisnya aku pikir Ojou-sama sudah mulai bersikap baik padaku. Ternyata aku salah. Padahal aku suka kalau Ojou-sama bersikap manis seperti tadi. Ojou-sama kelihatan cantik kalau bersikap manis, aku akui itu."
"...?"
Karena perkataan Naruto yang terkesan lembut tadi, cukup menyentuh hati Arturia. Arturia terdiam dan merasakan kedua pipinya memanas. Apalagi melihat senyuman Naruto yang begitu manis. Rasanya membuat waktu seakan-akan berhenti berputar.
DEG! DEG! DEG!
Dipegangnya bagian atas dada kirinya dengan tangan kirinya, merasakan debaran jantungnya yang memuncak. Entah apa yang terjadi padanya. Dia tidak tahu.
"Ng... Ada apa, Ojou-sama?"
Suara Naruto sangat mengagetkannya. Apalagi Naruto sudah berdiri di depan matanya. Ditambah wajah Naruto sangat berdekatan dengan wajahnya.
"...!"
Terjadilah peristiwa yang tidak disangka-sangka.
Terdengar suara teriakan yang sangat keras dan suara tamparan yang juga keras.
"WUAAAAAAH! MENYINGKIRLAH DARIKU, NARUTO!"
PLAAAAK!
Pada akhirnya, bekas tangan Arturia tertempel di wajah Naruto. Naruto terkapar dalam keadaan tidak elit di lantai dan kemudian kerah bajunya ditarik paksa oleh Arturia. Arturia menyeretnya pergi menuju ke ruang makan dimana sang Raja menunggu.
"Ayo, kita makan siang dulu! Baru aku mengawasimu kerja lagi!" titah Arturia tegas.
"Maafkan aku, Ojou-sama~," sahut Naruto yang menangis karena merasa kesakitan pada wajahnya akibat ditampar sekuat tenaga oleh Arturia.
"Iya. Aku memaafkanmu. Lain kali, jangan ulangi lagi."
"Iya. Terima kasih, Ojou-sama."
"Ya."
Arturia mengangguk dengan wajah yang tegas. Tetap menyeret Naruto yang berjalan di belakangnya. Langkahnya semakin mantap menyusuri lorong istana ini.
Tapi, diam-diam, di balik wajah yang dingin itu, samar-samar muncul seulas senyum yang simpul. Semburat merah tipis hinggap di dua pipinya. Karena merasa senang dengan perkataan Naruto tadi.
"Habisnya aku pikir Ojou-sama sudah mulai bersikap baik padaku. Ternyata aku salah. Padahal aku suka kalau Ojou-sama bersikap manis seperti tadi. Ojou-sama kelihatan cantik kalau bersikap manis, aku akui itu."
Itulah yang dikatakan Naruto. Sehingga memberikan kesan yang mendalam di hati Arturia. Baru kali ini, ada pria yang memujinya seperti itu. Ia pun merasa Naruto adalah pria yang sangat baik. Lebih baik daripada Gilgamesh yang kasar itu.
'Terima kasih, Naruto. Karena kau sudah menolongku dari Gilgamesh. Aku berhutang budi padamu,' batin Arturia yang tersenyum simpul.'Mulai dari sekarang, aku akan bersikap baik padamu dan menerimamu sebagai butler-ku dengan senang hati. Aku berharap kita bisa menjadi teman yang baik.'
Arturia ingin mengatakan itu pada Naruto. Tapi, nanti saja setelah selesai makan siang.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
BALASAN REVIEW:
justian: oke, akan saya lanjut sampai tamat.
Fahzi Luchifer: terima kasih banyak. Ini sudah lanjut.
Keith Farron Lucifer: terima kasih ya. Benar juga, Arturia-nya ooc. Emiya Shirou ada kok nanti muncul di chapter depan.
Sang pembunuh renal afra: terima kasih ya.
bbank97: hehehe... Terima kasih. Maaf, lama updatenya.
Fleuris Saya: terima kasih buat Saya.
TOMBHIB12: oke semangat nih.
makotoarisato1: terima kasih. Maaf, kalau upnya malah telat nih :v
Uchiha kirito: oke. Dua fic ini akan segera dalam proses penulisan.
Atarashi890: terima kasih banyak.
AWM SS: saya akan jawab pertanyaan kamu.
1. Belum tahu Arturia punya Excalibur atau nggak.
2. Belum tau juga.
3. Bukan harem. Single pair kok.
Paijo Payah: terima kasih. Amin.
Keren.
huda luciver: maaf, jika upnya lama. Baru up sekarang.
huda luciver: terima kasih. Ini berkat Mahmud Khem.
4A-GE: udah dipanjangin dikit word-nya.
WeedLovers: oke, lanjut nih.
adam muhammad 980: terima kasih. Ini sudah lanjut.
Brebit Julio: terima kasih. Ini lanjut.
Ashuraindra64: ya, silakan fav.
The Spirit Of Wind: hehehe... Terima kasih buat bayu.
Iya. Pada akhirnya naruto kalah juga. Bingung juga sih.
Mengenai permintaanmu, sudah saya kabulkan, kan?
Maaf, jika lama upnya.
dilousfarm: hehehe... Lanjut nih.
arifkarate: oke, lanjut dan semangat juga. Maaf, jika lama updatenya.
Loli Kitsune-chan: terima kasih. Ini sudah lanjut.
Yustinus224: ya, ini sudah diteruskan.
uzumaki Kuro: terima kasih. Hmmm... Kejadiannya belum tau, ntar saya pikirin kejadian apa yang akan membuat Naruto kesal setengah mati sama arturia.
Ya, semangat juga.
ramadi riswanto: terima kasih.
Oh, kuramanya lagi tidur siang di perut naruto. Hehehe...
shinachikuu: iya, terima kasih. Maaf, jika lama upnya. Ntar saya usahain cepat up deh.
Sederhana: oke, ini udah sedikit dipanjangin word-nya. Apa kurang panjang lagi?
Sato KiShi: hehehe... Saya juga gitu, sato.
Potasium Sianida: hehehe... Terima kasih atas reviewmu ya.
.
.
.
A/N:
Hai, ketemu lagi di fic ini.
Saya hadirkan chapter 3 yang kalian tunggu-tunggu nih.
Maaf, lama kelarnya karena dilanda wb. Tapi, pada akhirnya sudah bisa saya lanjutkan. Syukurlah.
Tapi, kayaknya humornya agak kurang di chapter ini. Malah jadi serius kayak begini. Hahaha...
Oke, sekian sampai di sini saja dan sampai jumpa di chapter 4.
Bye.
Selasa, 25 Juli 2017
