Uh Oh.. Ketahuan?
Genre: Romance, Friendship, Humor
Rating: T
Main Characters: The Gosho Boys
Pairing: KaiShin (slight HeiShin and HakuHei XD)
Warning: Semi AU, OOC (kebangetan -,-), gaje, bahasa sedikit santai, typo, and SHONEN-AI ALERT! (Don't like? Don't read!)
.
Disclamer:
Detective Conan © Aoyama Gosho
Uh Oh..Ketahuan? © S4viRa deMSN
.
Summary: Tanpa tak sengaja, Kaito melihat Shinichi dan Heiji sedang 'berduaan' di kamar tidurnya. Uh oh, ketahuan?
"Hattori."
"Ng," keluh seorang pemuda berkulit hitam yang disebut 'Hattori' oleh sahabatnya Shinichi, selagi dia sedang tidur dengan pulasnya di sofa, namun dibangunkan dengan paksa. "Ada apa sih, Kudo?" tanya Heiji dengan sedikit mengantuk.
"Ingin curhatan," jawabnya dengan sedikit polos nan mukanya yang sedikit memerah.
"Jangan bilang, curhatan tentang Kuroba itu lagi?" tanya Heiji lagi sambil memastikan.
Shinichi pun mengangguk dengan sedikit malu, dan Heiji hanya bisa meresponsnya dengan sedikit bosan. "Soalnya, sejak kemarin Kaito merasa aneh terhadapku," gumam Shinichi.
Setiap kali ada masalah atau hal yang tertentu dengan sahabat baiknya (atau kekasihnya) yang bernama Kaito tersebut, Shinichi selalu saja curhatan dengan Heiji sambil berkonsultasi pula. Baginya, Heiji telah menjadi tempat curhatannya sekaligus rahasianya, dan juga tempat untuk memecahkan masalah hubungan mereka. Meskipun begitu, Heiji pula sudah merasa bosan terhadap Shinichi atau yang selalu dia sebut 'Kudo' kalaupun ada masalah dengan 'Kuroba' sialan itu. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga untuk membuat hubungan mereka yang mungkin dia pikir 'sedikit aneh' tambah akur, kan?
"Oke, oke. Get ya poin', Kudo," keluh Heiji dengan aksen berbahasa Inggrisnya.
"Tapi Hattori, jangan disini," saran Shinichi. "Kita curhatnya, di kamar Kaito saja."
"Haaah?" Heiji pun heran. "Kenapa tidak di sini saja, dan kenapa harus di kamar si Kuroba itu?" tanyanya.
"Soalnya.." Shinichi pun tidak bisa melanjutkan pembicaraannya selagi dia melirik ke sisi lainnya dengan curiga. Ya, dia melihat seorang pemuda berambut pirang yang sedang sibuk memandang dan mengerjakan sesuatu oleh laptop Acer-nya dengan serius. Heiji pun ikut memandangnya dengan curiga. Takut kalau sahabat mereka dari Inggris tersebut membocorkan percakapan mereka, dan malah menceritakannya ke Kaito sebelum mereka selesai curhatan atau 'berkonsultasi'.
"Sudahlah, kalian ke kamar Kuroba saja," gumam pemuda berambut pirang tersebut. "Toh, aku juga tidak akan mendengarkan percakapan kalian."
"Tapi, Hakuba," gumam Shinichi dengan sedikit curiga.
"Hm?" Pemuda yang bernama Saguru tersebut heran. "Tenang saja, aku tidak akan 'menguntip' percakapan kalian," ujarnya dengan senyum.
"Awas ya, Hakuba. Kalau kamu nguntip percakapan kami," ancam Heiji. "Aku akan.."
"Akan?" tanya Saguru datar.
"Aku akan mengancam kau untuk mengerjakan semua skripsiku yang sengaja aku tunggakkin gara-gara aku sibuk dengan kasusku," ancam Heiji lebih jelas.
"Fuuh, untung saja ancaman yang ringan," ujar Saguru lega, selagi dia masih fokus ke laptopnya. Tampaknya Saguru merasa lega dengan ancaman yang anggap dia 'begitu ringan' baginya sehingga Heiji hanya bisa cemberut dengannya. Soalnya, Heiji biasanya mengancam Saguru dengan ancaman yang begitu aneh, seperti berkencan dengan Heiji ke Osaka, dan sampai ancaman yang paling aneh lagi, berciuman dengan Heiji atau apalah itu.
"U..untung saja aku tidak mengancammu dengan ciuman," ujar Heiji dengan malu, sampai-sampai wajah berkulit hitamnya tampak ada sedikit berwarna merah dipipinya.
"Kenapa? Kau mau aku menciummu lagi, detektif keras kepala?" goda Saguru.
"A..ahou! Mana mau aku ingin berciuman denganmu untuk kedua kalinya?" pekik Heiji yang masih memerah, dan teringat dengan dirinya yang harus berciuman dengan Saguru karena taruhan bodohnya beberapa waktu yang lalu.
Sementara itu, Shinichi yang masih mempunyai masalah dengan Kaito, malah bisa berdiam diri dan hanya bisa menonton kedua sahabatnya yang sedang main ancam sana-sini. Dia ingin menghentikan pembicaraan mereka yang sedikit tidak masuk akal, dan menarik Heiji ke kamar Kaito untuk bercurhat yang seperti mereka rencanakan sebelumnya.
"Oi Hattori, kau masih ingat rencana kita tadi?" geram Shinichi ke Heiji.
"Umm, oh iya! Ayo kita bergegas, sebelum si Kuroba itu pulang dari acara sulapnya," ujar Heiji.
"Bukannya, kata-kata yang kau ucapkan itu seharusnya akan kubilang kepadamu?" geram Shinichi lagi.
"Oh iya, hahaha. Berarti aku psycho dong?" canda Heiji.
"Very funny, Hattori," gumamnya dengan sedikit bosan, seakan-akan dirinya telah bosan dengan candaannya. Segera, Shinichi dan Heiji bergegas ke kamar Kaito, dan Shinichi pun mengunci pintu kamar tersebut dari dalam. Takutnya Saguru bakal melanggar ancaman bodoh dari Heiji lagi. Tak lama kemudian, Saguru pun melanjutkan skripsi kuliahnya yang tadi tertunda gara-gara percakapan yang 'bodoh' dengan mantan detektif SMA dari barat tersebut.
Sementara itu, Shinichi dan Heiji telah berada di dalam kamar Kaito yang tidak begitu luas, namun tidak begitu sempit. Hanya ada ranjang tidurnya, lemari baju yang berisi baju-baju sulapnya, dan meja belajarnya yang tertata buku-buku tentang sulap, dan hiasan-hiasan tentang sulap. Di sampingnya, ada kotak sulap yang terisi perlengkapan-perlengkapan sulapnya. Dan juga, dinding kamarnya berhias dengan poster-poster pesulap terkenal, khususnya mendiang ayahnya.
Shinichi pun telah berduduk di ranjang Kaito, sedangkan Heiji duduk di kursi yang selalu Kaito pakai untuk belajar. "Jadi, apa masalahmu dengan Kuroba lagi?" tanya Heiji dengan santai.
"Umm…" Shinichi tidak bisa mengucapkan satu kata setelah dia masih teringat dengan Kaito tersebut.
"Ayolah Kudo, bicara saja. Hanya ada aku dan kau, dan tidak ada si pirang sialan itu, kan?" ujar Heiji santai.
"Aku tahu sih, tapi," gumam Shinichi dengan sedikit halus nan malu.
"Atur waktu saja, Kudo. Tidak apa-apa kok," gumam Heiji untuk menenangkan Shinichi.
"Oke, Hattori. Jadi begini, kemarin si Kaito…"
Dan disitulah, Shinichi mengeluarkan semua keluh kesannya…
—–-
Setengah jam kemudian, suasana di kamar apartemen yang mereka tempati masih sepi. Seperti tidak ada penghuni, kecuali Saguru yang masih saja mengerjakan skripsi kuliahnya yang harus dipresentasikan dua hari mendatang. Seperti yang dia tahu, kalau si Hattori sama Kudo masih saja bercakap-cakap di kamar Kuroba. Kayaknya, percakapan yang mereka lakukan itu bakal lama sekali. Saguru hanya bisa berpikir, kalau mereka bakal selesai bercurhat sebelum Kuroba tiba, atau ketika Kuroba tiba. Kalau misalkan mereka selesai saat Kuroba tiba, bakal mati mereka. Pikirnya.
*DRIIING DRIIING*
Tiba-tiba, handphone bermerek iPhone yang tergeletak disampingnya berbunyi. Saguru bergegas mengambil iPhone-nya tersebut, dan melihat panggilan masuk yang masih berdering. Setelah dilihat, ternyata dari si Kuroba itu. Segera, Saguru menyentuh tombol 'call' di layar tersebut, dan tersambung.
"Moshi moshi," sapa Saguru.
"Hakuba-kun?" sapa penelpon tersebut yang tidak begitu asing di telinga Saguru.
"Ooh, Kuroba-kun toh. Ada apa menelponku tiba-tiba?" tanya Saguru.
"Anou, bisa bilang ke Shinichi-kun kalau aku bakal pulang lebih cepat dari jadwal?" gumam Kaito.
"Hah? Lebih cepat dari jadwal?" Saguru pun heran. "Memang kenapa sih?"
"Begini, tadi jadwal pertunjukkan Magic Show-nya lebih cepat dari yang aku kira, karena katanya akan ada acara yang lebih penting setelah pertunjukkan Magic Show nanti di SD Teitan. Dan inilah aku, selesai dengan cepat dan lancar~" terang Kaito.
"Haha.. Begitu toh," gumam Saguru.
"Makanya, aku ingin memintamu untuk memberitahu ke Shinichi-kun kalau aku bakal pulang cepat nanti," ujar Kaito.
Saguru pun mengeluh, dan menjawab, "Memangnya aku burung hantu? Yang selalu mengirimkan surat dengan instan? Terus, kenapa kau tidak telepon ke handphonenya Kudo-kun saja?"
"Sudah sih. Tapi, handphonenya disilent-in ya?" tanya Kaito curiga.
Saguru pun melirik ke arah handphone BB Curve milik Shinichi yang tergeletak di atas meja yang berada di dekat sofa. Mungkin benar apa yang dikatakan Kuroba kalau handphonenya lagi disilent. Soalnya, selama dia lagi mengerjakan skripsinya, handphonenya tidak berbunyi satu suarapun.
"Sepertinya iya sih, Kuroba-kun. Kayaknya dia lupa," gumam Saguru sambil melanjutkan percakapan teleponnya.
"Oh begitu," jawab Kaito dengan suara yang sedikit sendu.
Sementara itu, Saguru yang masih berada si seberang hubungan telepon, sepertinya mengerti apa yang dirasakan oleh wannabe magician itu. Kalau tidak diangkat oleh kekasihnya tersebut, pasti dia akan sedih. Kayaknya, sehari tanpa berbicara dengannya, pasti hidup serasa akan sepi. Namun, Saguru melirik pintu kamar Kuroba yang isinya 'dua penghuni yang masuk tanpa izin dari pemiliknya' yang masih santainya bercurhat tentang Kuroba.
'Heran, sampai kapan mereka bakal bercurhat terus sih? Apa Kudo-kun punya masalah yang lebih ruwet sama Kuroba-kun?' pikirnya.
"Hakuba-kun? Hakuba-kun!"
Saking fokusnya dengan pandangan sinis yang mengarah ke pintu kamar Kaito, Saguru hampir kelupaan kalau Kaito masih terhubung dengan iPhone-nya. "Oh sorry Kuroba-kun, aku kelupaan kalau kau masih terhubung," ujar Saguru sambil meminta maaf kepada Kaito.
"Mou Hakuba-kuun," geram Kaito di seberang sambungan telepon mereka. Saguru hanya bisa membalasnya dengan tawaan kecil. Tiba-tiba, ada seseorang yang memanggil Kaito untuk keperluan setelah Magic Show selesai. Segera, Kaito bergegas berbicara dengan Saguru sebelum dia memutuskan sambungan teleponnya.
"Oh sorry Hakuba-kun, aku harus dipanggil untuk berkumpul pasca Magic Show," gumam Kaito.
"That's okay, Kuroba-kun. Just take your time," balas Saguru dengan aksen Britishnya.
"Tapi Hakuba-kun.."
"Ng?"
"Jangan lupa beritahu pesanku kepada Shinichi-kun juga ya~" ujar Kaito dengan polos. Sampai-sampai, Saguru merasa sedikit geli dengan ucapannya.
"Iya, iya. Akan kuberitahu setelah dia selesai dengan urusannya," balas Saguru dengan keluhan bosan.
"Hah? Urusan apa?" tanya Kaito penasaran.
Saguru hanya bisa cemberut ketika Kaito cuma ingin mengetahui apa-sebenarnya-urusan-Shinichi. "Mau tahu saja kau. Yang penting, akan aku beritahu pesanmu," keluh Saguru.
"Okee Hakuba-kun. Thankies~" jawab Kaito. "Aku bakal tiba di apartemen jam 4 sore nanti."
Saguru pun melirik jam di dekatnya yang masih menunjukkan pukul 15:35, dan menjawab, "Hnn.."
Sebelum Saguru menyentuh tombol 'end call' di layar iPhone-nya, terdapat teriakan yang sangat keras dari sambungan telepon tersebut, "Oh iya hampir lupa, sampaikan salam manisku buat Shinichi-kun yaaa~! Jaa-ne~"
*TUUUT TUUUT*
Saguru hanya bisa kesal dan tersipu malu ketika melihat iPhone-nya yang telah terputus sambungannya, dan mendengar Kaito berteriak polos seperti anak berumur enam tahun, hanya untuk mengucapkan salam kepada kekasihnya. Tapi to the pointnya, sepertinya Kuroba bakal pulang jam 4 sore. Saguru melirik kembali pintu yang telah menjadi 'pandangan fokusnya' sejak tadi, tetapi belum ada gerakan dari pintu kamarnya tersebut. Merasa khawatir, dan curiga pula, segera Saguru meng-standby-kan laptopnya dan meletakannya di tempat yang aman, lalu bergegas menuju ke depan pintu kamar Kaito. Setelah tiba, Saguru menempelkan telinga kirinya ke pintu tersebut, dan menguntip percakapan mereka. Namun, "WOI HAKUBA-TEME, SUDAH KUBILANG JANGAN NGUNTIP DARI LUAR!"
Tapi sia-sia saja, ternyata si Hattori-teme telah mengetahui kalau dia-tidak-sengaja-menguntip-dari-luar. Setelah geram dengan si Heiji yang keras kepala itu, Saguru pun bersantai dengan bersandar di sofa sambil menyalakan TV dengan remote control yang tergeletak di sofa. Dan Saguru pun menyalakan dan menonton TV Series favoritnya, Supernatural. Selagi dia nonton Supernatural, Saguru hanya bisa mengeluh dengan kerasnya, sambil memberikan senyuman yang sedikit licik ke arah pintu kamar Kaito, dan berpikir sambil mengucap dalam hati, 'Awas saja kalau Kuroba-kun datang selagi kalian masih bercurhat ria di kamarnya. Tanpa izin lagi. Aku tidak mau tahu, ya.'
—–-
15 menit telah berlalu, dan 10 menit lagi Kaito bakal pulang ke apartemen dari aktivitasnya.
Sementara itu di kamar Kaito, Heiji dan Shinichi masih saja bercurhat tanpa hentinya. Tampaknya, Shinichi bercurhat tentang kelakuan Kaito terhadapnya selama ini. Seperti, berlagak sepertinya anak kecil ketika sedang bersamanya, atau memberikan sulapan dengan memunculkan bunga mawar merah dan mengasihkannya untuknya. Bagi Heiji, namanya juga wajar sebagai sepasang kekasih. Seorang pasangan kekasih ingin selalu membuat pasangannya senang dan bahagia, dengan memberikan sesuatu yang dia sukai, ataupun berlagak yang tidak biasanya.
Saking enaknya curhatan, Heiji sampai lupa menanyakan kepada Kudo tentang waktu. Takutnya kalau Kuroba bakal pulang disaat mereka berdua curhatan, dan masalah mulai bergejolak lagi.
"Woi Kudo, sudah lebih dari setengah jam kita bercurhat nih. Kapan sih si Kuroba itu bakal pulang?" tanya Heiji.
"Tenang aja Hattori. Berdasarkan schedulenya, aku yakin Kaito bakal pulang jam setengah 5 nanti. Jadi kita bisa selesai curhat sebelum dia pulang," jawab Shinichi santai.
"Benaran nih? Aku takut kalau ada apa-apa," ujar Heiji dengan grogi.
"Ayolaah, masa Kuroba Kaito bakal mengubah jadwal schedulenya? Yang aku tahu ya, dia itu orangnya bakal on-time," gumam Shinichi.
Heiji pun mengangguk-angguk mengerti (atau tidak). "Oh begitu. Kalau ada apa-apa nanti, aku tidak mau tanggung jawab, ya?" gerutu Heiji.
"Hahaha, oke oke deh Hattori," ujar Shinichi. "Nah, sampai dimana tadi?"
"Sampai ketika si Kuroba hampir menggodamu di tempat umum?"
"Oh yang itu.." Shinichi hanya bisa memerah ketika ingin menceritakan masalah yang dia pikir 'sedikit memalukan'. Tapi karena untuk curhatan, ya sudahlah. "Jadi begini.."
—–-
"Aduuh, kenapa juga schedule Magic Shownya dipercepat? Dan kenapa juga harus dilaksanakan pada hari Minggu yang cerah nan bahagia ini? Pasti, skripsiku bakal kutunda lagi deh."
Ketika Kaito melangkah pulang menuju apartemen setelah aktivitas Magic Show di SD Teitan selesai dengan lancarnya. Namun, dia malah pulang dengan rasa jengkel dan ngambek sendirinya karena schedule yang waktunya dipercepat dari waktu yang ditentukan. Alhasil, dia hanya bisa mempersiapkan semua pertunjukkan sulapnya untuk penontonnya dengan beberapa menit saja. Meskipun begitu, dia telah melaksanakannya dengan selesai dan lancar.
'Namun, tidak apa-apa lah pulang dengan cepat. Dengan ini, aku bisa berdua dengan Shinichi-kun selagi aku masih bisa menghabiskan hari Mingguku dengannya,' batin Kaito bahagia selagi dia masih dalam perjalanan.
Setelah dia tiba di apartemen dimana mereka berempat bertempat tinggal bersama ketika mereka pertama kali kuliah di Universitas Tokyo, Kaito segera bergegas menuju lift didalam apartemen tersebut. Setelah Kaito masuk ke dalam lift, Kaito langsung menekan tombol 6 di lift tersebut. Dan pintu lift tersebut tertutup secara otomatis, dan segera meluncur menuju lantai 6.
*TING*
Setelah lift tiba di lantai 6 dan pintu lift terbuka otomatis, Kaito bergegas menuju kamar apartemen mereka. Dan setelah Kaito tiba di kamar nomor 612, Kaito langsung mengetuk pintu tersebut.
*TOK TOK TOK*
Sementara itu, Saguru yang sedang membuat teh hangat untuk tradisi 'Afternoon Tea', mendengar sebuah ketukan pintu. Bukan ketukan pintu yang telah menjadi 'target pandangannya' sejak tadi, melainkan sebuah ketukan pintu dari luar. Dengan rasa malasnya, Saguru bergegas menuju pintu depan dan menguntip dari pintunya. Bukan main, Saguru langsung terbelalak kaget campur rasa panik ketika dia menguntip dan mengetahui siapa yang mengetuk pintu tersebut.
Saguru pun merasa 'Panic to the Max' dan langsung memanggil Shinichi dan Heiji yang masih saja berada di dalam kamar Kaito dan masih saja barcurhat tanpa hentinya. Dengan cepat, Saguru pun mengetuk pintu kamar Kaito dengan keras dan langsung berteriak, "WOI KUDO-KUN, CEPAT BUKA PINTUNYA!"
"Ada apa sih, Hakubaa? Tidaklah kau tahu kalau kita sedang masih enaknya bercurhat?" geram Shinichi dari dalam kamar.
"Aku tahu itu, Kudo-kuun," gerutu Saguru. "Tapi, sepertinya kamu harus menyelesaikan curhatan itu SEKARANG!" saran Saguru dengan paksa.
"Emang ada apa sih, Hakuba-teme?" tanya Heiji dengan suara marah dari dalam kamar pula.
"Percaya atau tidak, kalau Kuroba-kun sudah tiba di sini!" geram Saguru dengan emosinya yang memuncak.
"Aku tidak percaya!" pekik Shinichi selagi dia tidak percaya dengan peringatan Saguru. "Kaito bakal pulang jam setengah 5, dan ini juga mau selesai!"
"Tapi…"
"LEAVE US ALONE, PLEASE!"
"Aduuuh, oh God.." Saguru hanya bisa menepukkan kepalanya ketika mendengar jawaban dari Shinichi yang masih saja tidak percaya sama perkataan dan peringatannya. Saguru ingin mengetuk pintu kamar Kaito sekali lagi, namun..
*KREEK*
Dia tidak menyadari kalau pintu depan telah terbuka sendirinya, dan berdirilah Kaito yang sudah beberapa menit menunggu untuk dibuka pintunya. Untung saja, dia membawa kunci cadangan. Jadi dia bisa membuka kunci pintu, dan langsung membukanya. Saguru hanya bisa tidak berkutik lagi, ketika Kuroba telah memasuki kamar apartemen mereka dan bergegas menuju kamarnya. Segera, Saguru mengetuk pintu itu sekali lagi, namun dengan keras. Keras sekali.
"Tadaimaaa, minna…..san?" Kaito hanya bisa bengong ketika Saguru lagi risuhnya berada di depan pintu kamarnya. Dia heran, ada apa dengan Saguru dan apa yang dia lakukan di depan kamarnya sendiri? Dan lebih parah lagi, dia tidak melihat Shinichi-kun dan Hattori-kun dimana pun. Kaito pun bepikir, dimanakah mereka? Atau pemikiran yang lebih aneh namun bikin dia syok lagi, apa jangan-jangan mereka pergi berdua? Tanpaku?
Kaito pun merasa was-was, dan langsung bertanya kepada Saguru yang masih saja risuh di depan kamarnya. "Hakuba kun!"
Saguru pun menoleh balik badannya, dan hanya bisa sedikit panik ketika Kaito memanggilnya. "Ya, Kuroba-kun?"
"Ngapain kau risuh mengetuk pintu kamarku? Emang, ada sesuatu ya?" tanya Kaito curiga.
"Bu…bukan apa-apa kok, sumpah," jawab Saguru dengan rasa sedikit takut.
Kaito hanya bisa menghenyitkan alisnya ketika Saguru menjawab pertanyaannya. "Oh ya satu lagi, dimana Shinichi-kun dan Hattori-kun? Aku tidak melihatnya ketika aku masuk," tanya Kaito lagi.
"Err itu.."
"Dia itu sangatlah peka.."
'Hah? Suara itu? Bukannya itu suaranya Shinichi-kun? Mengapa dia sedang berada di kamarku?' pikir Kaito
Segera Kaito mengabaikan Saguru, dan menguntip sedikit dengan menempelkan telinga kirinya di pintu kamarnya. Saguru yang telah 'tamat' untuk memperingatkan Shinichi dan Heiji, malah kabur begitu saja dan melakukan aktivitas 'Afternoon Tea'nya yang tertunda selama beberapa menit yang lalu.
"Tenang saja Kudo, kan Kuroba biasanya begitu," gumam Heiji dari dalam kamarnya.
'Hah? Hattori-kun? Mengapa dia sedang berada dengan Shinichi-kun?'
Dengan emosi, Kaito langsung membuka pintu kamarnya. Namun percuma saja, terkunci dari dalam. Segera Kaito mengetuk pintu kamarnya dengan keras. Takut kalau Shinichi-kun ada apa-apa lagi dengan Hattori-kun. Shinichi yang terganggu dengan ketukan pintu itu berkali-kali, malah berteriak ke Saguru yang dia pikir dialah-biang-keroknya. "WOI HAKUBA, SUDAH AKU BILANG BEBERAPA MENIT LAGI!"
Kaito hanya bisa bengong dan langsung mengarah ke arah Saguru yang telah kabur entah kemana. Segera Kaito mengetuk pintu kamarnya sekali lagi. Dan tentu saja, itu membuat Shinichi depresi dan dia langsung membuka pintu tersebut dan ngambek ke 'dia pikir kalau' Saguru untuk memperingatkan-untuk tidak-mengetuk-pintu-lagi.
"KAN SUDAH AKU BILANG, UNTUK TIDAK MENGETUK PINTUNYA LA….gi?" Shinichi pun terdiam ketika dia mengetahui kalau BUKAN Sagurulah yang mengetuk pintu beberapa detik yang lalu, melainkan kekasihnya sendiri yang bertampang cemberut bukan main.
"K…Kaito?"
"Tadaima, Shinichi-kun!" sapa Kaito dengan kesalnya.
—–-
'Waduh, dikiranya si Hakuba-teme itu. Tapi ternyata, si Kuroba?' Heiji hanya bisa speechless dan melihat Shinichi yang sudah tidak bisa berkutik lagi ketika mereka mengetahui kebenarannya.
"O..kaeri, Kai..to." Shinichi hanya bisa terbata-bata mengucapkan salam untuk Kaito.
Kaito sendiri, masih saja bertampang cemberut dan hampir saja tidak mau menoleh wajahnya ke Shinichi. Sedangkan Shinichi sendiri, tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjelaskannya lebih detil, dan kebenarannya. Dan Heiji sendiri, meninggalkan mereka berdua yang masih bertatap muka satu sama lain dan ingin mencari Saguru yang dia pikir kalau dialah-biang-kerok-semua-ini.
'Waduh Kudo, sudah aku bilang aku tidak mau tanggung jawab kalau Kuroba memergok dan mengetahui kita sedang berduaan di kamarnya. Maaf ya Kudo,' batin Heiji sebelum meninggalkan mereka, dan bergegas mencari Saguru yang telah pergi-entah-kemana.
"K..Kaito, aku bisa menjelaskan-"
"Kenapa Shinichi-kun?"
'Eh?' Shinichi pun heran.
"Kenapa kau seenaknya saja berdua dengan Hattori-kun disaat aku pergi ada urusan? Apa kau-"
"Kaito, sudah aku bilang kalau aku bisa menjelaskan semua ini," gumam Shinichi sebelum Kaito salah paham atas semua ini.
Kaito pun terdiam, dan Shinichi pun mulai berbicara dan menjelaskan segalanya.
"Maafkan aku kalau aku berduaan dengan Hattori di kamarmu. Tapi tahukah kau, kalau aku hanya bercurhat dengannya… Tentang hubungan kita."
"Apa?" Kaito pun heran.
"Maksudku, aku pikir hubungan kita yang sudah kita jalani selama 2 tahun ini hampir melenceng dari biasanya. Seperti.. kau yang selalu menggodaku di tempat umum, berlagak layaknya anak kecil kepadaku, memberikan bunga mawar kepadaku setiap paginya atau sebelum kita kuliah, dan…dan.." Shinichi pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa memerah seperti warna tomat ketika mengatakan semua kebenaran dari 'masalah' yang dihadapinya.
Kaito pun masih saja berdiam sambil mendengarkan semua keluh kesan dari Shinichi.
"Makanya, aku selalu bercurhat dengan Hattori tentang masalah itu. Karena aku yakin kalau dia bisa mengatasinya," terang Shinichi.
Setelah Shinichi menerangkan semuanya, Kaito pun hanya tersenyum kepadanya, senyuman yang lembut namun seperti senyuman sang penjahat. Shinichi pun heran dengan senyuman itu. Namun, dia menyadari sesuatu. 'Jangan-jangan, Kaito.. Dia?'
Tanpa aba-aba, Kaito pun memegang salah satu lengan Shinichi, dan langsung menariknya menuju dirinya. Dan tentu saja, jarak mereka yang dekat sekali membuat wajah Shinichi semakin memerah lagi. Lebih merah dari sebelumnya. Dan tanpa aba-aba pula, Kaito pun menekan bibir Shinichi ke bibirnya, dan salah satu lengannya yang bebas langsung menggenggam pinggang Shinichi dengan lemah lembut. Shinichi hanya bisa terbelalak kaget ketika Kaito menciumnya secara langsung dan perlahan dia pun merintih karena ciuman yang sedikit membara. Sekejap, Shinichi membutuhkan nafas untuk ciuman yang membara ini, tapi tidak bisa. Kaito malah bisa menciumnya lebih dalam lagi, sehingga Shinichi terasa semakin merintih. Lebih dari sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, Kaito melepaskan ciuman itu, dan mulai bernafas setelah dia menahan nafasnya. Sementara Shinichi, hanya bisa memerah dan lebih memerah dari sebelumnya. Dia pun menatap bola mata indigo yang indah itu, dan mengerti semuanya. Segalanya tentang Kaito selalu melakukan hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain. Tetapi itu hanya spesial untuknya, untuk seseorang yang dia cintai.
"Ja..jangan-jangan, ka..kau melakukan se..semuanya hal y..yang tak biasa k..kau lakukan untukku?" tanya Shinichi.
"Tentu saja," jawab Kaito halus.
"Tapi, kenapa?"
"Kenapa?" Kaito pun tertawa kecil. "Kau mau tahu kenapa?"
Shinichi pun terdorong lagi oleh Kaito dan tiba menuju pelukan hangatnya. Dengan disandarkan kepalanya ke pundak Shinichi, Kaito pun berbisik ke telinganya, "Karena kau milikku, you're my only Shinichi-kun I have~"
Shinichi hanya terdiam ketika mendengar bisikan itu, bisikan yang manis itu. Dan dia menyadari kalau Kaito sedang mengheluskan rambut rapinya dengan halus dan lembut. Shinichi pun menyandarkan kepalanya ke pundak Kaito dan termenung, mengingat segala perbuatannya yang dia lakukan sehingga membuat Kaito marah ketika dia pulang dari aktivitasnya.
"Maaf, maafkan aku Kaito. Itu semua, hanya ketidaksengajaan. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah karena aku membawa Hattori dan berduaan di kamarmu. Maafkan aku," ucap Shinichi lirih.
Mendengar ucapan itu, Kaito sempat merasakan setetes air yang menetes menuju pundaknya. Dia pun tersenyum dan menenangkan Shinichi.
"That's okay. I forgive you," balas Kaito.
Sekejap, pelukan tersebut dilepas dengan lembut. Dan jemari Kaito yang bebas, bergerak menuju kelopak mata Shinichi, dan membersihan air mata yang mengalir dari bola mata yang berwarna biru laut yang indah itu. Shinichi pun menghentikan perlakuan yang dia anggap 'bodoh sekali' dan mengeluarkan senyumannya ke Kaito. Dan Kaito pun membalas senyumannya dengan senyuman bodohnya.
Sekejap, Kaito pun mengecup dahi Shinichi dengan lembut, dan berkata, "Janji ya Shinichi-kun, kalau tidak mengulang hal itu lagi?"
"Aku janji." Shinichi pun menerima dan menetapi janjinya.
"Kalau begitu, karena hari ini kau telah membuat hari Mingguku berantakan, kau harus menerima konsekuensinya," gumam Kaito dengan senyuman liciknya.
"A..A..Apaa? Padahal tadi kau telah memaafkanku, kan?" tanya Shinichi heran.
"Emang. Tapi kau harus melakukan konsekuensi yang aku berikan untukmu karena semua kejadian hari ini," jawab Kaito.
Shinichi pun menghela nafasnya, "Huff, oke deh Mister Wannabe Magician. Jadi, konsekuensinya apa?"
Kaito pun memberikan telunjuknya ke bibir Shinichi, dan berkata dengan liciknya, "Three days Shinichi-kun, you're mine~"
"A..A…APAAAA?"
Setelah dia mendengar konsekuensi dari Kaito, Kudo Shinichi pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.
THE END
A/N: Anyeoong semuanya, akhirnya aku kembali dari hiatus.. (sebenarnya ga hiatus, cuman jadi silent reader di FDC Inggris doank :))
dan fic ini...sebenarnya fic lama (masa?) yang dibikin gara-gara inspirasi dari fanfic screenplays. jadi yah, abal-abal gaje gini ehehehe~
.
akhir kata, review? last words: see ya on another oneshot! :D
.
Love and Peace, S4viRa deMSN a.k.a MSN1412 XD
